Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Kesadaran Terhadap Lingkungan Hidup

Edisi C3I: e-Konsel 196 - Mengatasi Pengangguran

Melalui pembicaraan lewat telepon dengan seorang dokter di New York, yang menjadi penerima tetap Newsletter mengusulkan agar di dalam Newsletter diketengahkan tentang kepedulian terhadap lingkungan hidup. Kata-kata ini mengingatkan saya untuk memikirkan kembali sikap yang masa bodoh terhadap keadaan di sekeliling kita. Selanjutnya dikatakan bahwa kebanyakan orang Kristen tidak peduli terhadap lingkungan: alam maupun sosial.

Dia benar. Bukankah di gereja banyak didengar ulasan di sekitar penebusan dosa, kasih, persekutuan; yang semuanya memang bagian dari hakiki gereja, tetapi mengenai lingkungan sering dianggap sebagai urusan pemerintah, pakar ilmu lingkungan, atau orang-orang dari kelompok "Greenpeace" yang kurang kerjaan. Bahkan salah-salah bisa dicap sebagai pengikut "New Age" pemuja alam. Sebagian orang kristen memang sudah berbicara mengenai lingkungan, dapat dilihat misalnya dari ucapan Denton Lotz, Sekjen Persekutuan Gereja Baptis Sedunia, yang mengatakan: "Let's not confuse evangelism with ecology, but let's also show that true evangelists are also true ecologists."

Kesadaran dalam masalah ini dapat dimulai dari dua sisi. Pertama, dengan mengerti bahwa lingkungan hidup merupakan untaian lingkaran mata rantai yang saling terkait. Kehidupan satu spesies tergantung dari keberadaan spesies lain, sehingga mudah dimengerti mengapa hilangnya satu jenis mahluk akan mengganggu keharmonisan rantai kehidupan. Kedua, kesadaran akan timbul kalau kita memahami bagaimana sikap dan kecintaan pemilik lingkungan, yaitu Sang Pencipta. Tidak secara kebetulan kalau di dalam Yohanes 3:16, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini ...", maka kata yang diterjemahkan sebagai dunia di dalam bahasa aslinya memakai kata "cosmos", yang di dalam leksikon diterangkan sebagai alam semesta, artinya segala sesuatu yang ada, ya gunung, ya hutan, ya laut, binatang, tanaman, dan tentu manusianya.

Kecintaan Allah terhadap ciptaan-Nya ini diperjelas kembali ketika Tuhan menyampaikan pengajaran mengenai bagaimana menghadapi kekuatiran, dengan menyinggung pemeliharaan Allah terhadap burung-burung dan bunga bakung (Matius 6:26-30). Bahkan lebih awal lagi sejak penciptaan, pada Kejadian 2:15, jelas dikatakan bahwa tugas manusia adalah untuk mengusahakan dan memelihara, bukan untuk menggunduli hutan dengan membakar, atau membuang sampah di sembarang tempat. Sekitar tahun 60-an, dalam sebuah parit kecil di Jawa Tengah, tampak ikan-ikan kecil jenis gurami yang berenang ke sana kemari, juga terlihat batu-batu di dasarnya dengan tanaman ganggang yang melambai dipermainkan arus air yang sangat jernih. Pada kunjungan ke tempat yang sama 20 tahun kemudian, entah kapan mulainya, parit tadi telah berubah menjadi pekat, lebih cocok disebut comberan. Keadaan ini terjadi akibat "kemajuan pembangunan" yang disertai dengan bertambahnya pembuangan air cucian, limbah indu stri, dan segala macam kotoran ke sana.

Sementara itu ikan-ikan kecil masih sanggup hidup dalam air yang gelap, mungkin sekarang tidak ada lagi keturunannya. Keindahan parit kecil sudah hilang. Sebelum dibakar baru-baru ini, hutan Kalimantan telah dikuras besar-besaran. Pada penerbangan dari Pontianak ke Putu Sibau pada tahun 1981, saya melihat kebotakan yang hampir merata. Kata penghuni lokal, dulu air sungai tidak secoklat seperti sekarang, dulu banjir tahunan tidak setinggi kepala orang. Kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi pada dua contoh di atas, tetapi terjadi juga di California, Oregon, Meksiko, Brasil bahkan di belakang rumah, kalau ada yang membuang oli bekas, bahan-bahan pembersih sisa yang mengandung racun dan lainnya.

Di AS, rata-rata seorang membuang sampah sehari seberat 3,5 pon, atau lebih dari 300 triliun pon setahun bagi seluruh penduduk Amerika. Jadi kalau menuding hanya perusahaan penebang kayu atau penambang sebagai sumber perusak, ini belum lengkap, sebab asal-asalnya ya kita semua yang mendorong pengurasan besar-besaran itu, dengan cara memakai kertas semaunya, bikin rumah sebesar-besarnya, buang ini buang itu seenaknya. Pemakaian bahan bakar fosil secara berlebihan menyebabkan kerusakan lapisan pelindung bumi, maka bumi pun bertambah panas, sampai-sampai Presiden Clinton pada tanggal 6 Oktober yang baru lalu mengajak negara-negara lain untuk berbuat sesuatu dalam usaha mendinginkan kembali bumi kita.

Orang-orang Indian berburu untuk mendapat makanan dan mantel musim dingin secukupnya, kalau pada suatu area perburuan hanya ditemukan seekor binatang, mereka tidak akan mengejarnya. Tetapi pendatang-pendatang dari Eropa membunuh bison sebisanya, mengulitinya dan membuang begitu saja dagingnya. Kelakuan mereka ini menyurutkan jumlah bison sampai ke ambang kepunahan. Indian yang disebut primitif ternyata lebih tahu hidup secara harmonis dengan lingkungan. Lingkungan lain yang diabaikan adalah lingkungan sosial. Allah yang menciptakan manusia menurut gambar-Nya, tentu saja sangat mencintai ciptaan-Nya. Jadi kita seharusnya juga memberikan penghargaan kepada Allah dengan menghargai ciptaan-Nya, tetapi yang banyak terjadi adalah sebaliknya, kalau perlu dan kesempatan tersedia, ada saja akalnya untuk memerah manusia lain.

Sebagai contoh, di tempat-tempat tertentu berbagai cara diusahakan untuk mempertahankan pengupahan yang sangat murah dengan kondisi kerja yang tidak memadai, agar diperoleh keuntungan yang besar untuk segelintir orang. Rupanya pengaruh Frederick Taylor (Principles of Scientific Management, 1911) masih dipertahankan sampai sekarang. Mr. Taylor hanya tertarik dengan masalah peningkatan produksi, manusianya dianggap sebagai partnernya mesin, tidak perlu diperhatikan kepuasan dan moralnya.

Memerhatikan lingkungan bukannya tidak ada buahnya. Di tengah peristiwa kerusuhan Ujung Pandang yang belum lama terjadi, terbetik cerita yang perlu direnungkan kembali. Beberapa bangunan calon sasaran kemarahan masa, ternyata selamat, sebab dilindungi pengendara becak yang konon selalu diterima baik dan diizinkan mangkal di depan toko. Mungkin menjadi Kristen agresif, mengajak orang lain untuk berpindah agama akan menyulut kemarahan orang, atau menjadi Kristen yang ikut membakar hutan juga menimbulkan kegeraman. Tetapi kalau mau menjadi orang kristen yang memerhatikan lingkungan, membantu kebutuhan lingkungan dan ikut memelihara lingkungan, siapa sih yang akan membenci? Jangan-jangan melalui cara ini maka orang lain akan melihat bagian dari hakikat kekristenan yang selama ini masih tersembunyi. Siapa tahu cara ini akan membawa orang untuk ikut menghayatinya.

Dengan melihat akibat dari pengrusakan alam, dan memahami bagaimana Allah mencintai ciptaan-Nya, maka sudah seharusnya kalau kita belajar untuk menghargai alam dan segala yang ada, sebab tidak mengacuhkannya akan sama nilainya sebagai penghinaan terhadap Sang Pencipta.

Diambil dari:

Sumber
Situs: 

http://www.gki.org/ (Gereja Kristen Indonesia Monrovia)

Komentar