|   |
Keluar Dari Jerat "Workaholic"
| Judul Buku/Buletin |
: |
GetLife!, Tahun III/Edisi no.27 |
| Penulis/Narasumber |
: |
-- |
| Penerbit |
: |
GetmeDia (Yayasan Pelita Indonesia), Bandung. |
| Halaman |
: |
63 -- 64 |
KELUAR DARI JERAT "WORKAHOLIC"
Bagi sebagian pria, pekerjaan mungkin merupakan atribut utama dalam
hidupnya sehingga mereka rela meluangkan waktu dan energinya begitu
rupa. Ada juga yang senang sekali bekerja asalkan mendapatkan uang,
status tertentu, atau sebenarnya hanya karena kewajiban semata, dan
lain sebagainya. Apa pun alasannya, kita tidak boleh menjadikan
pekerjaan sebagai hal yang terutama dan mengabaikan aspek lainnya
dalam hidup. Rajin bekerja adalah baik, tapi bekerja tanpa tahu
waktu adalah gaya hidup yang tidak sehat. Lebih gawatnya lagi kalau
tanpa disadari bekerja telah menjadi "berhala" bagi kita. Simak
penuturan dua pria berikut ini seputar bekerja.
Apa kata mereka tentang pria yang "workaholic"?
Tan Yosef Handoko, 35 thn., wirausaha bidang tekstil
Orang yang "workaholic" adalah orang yang gila bekerja melebihi
batas-batas normal. Orang seperti ini tidak memandang siang atau
malam, pokoknya yang ada dalam pikirannya hanya bekerja saja.
Kecenderungan ini pasti kurang bagus karena dengan begitu ada hal
lain yang dikorbankan dan telantar, baik dirinya sendiri maupun
orang lain.
Kalau ada yang berpandangan kecenderungan "workaholic" itu lebih
banyak dialami para pria daripada wanita mungkin karena secara fisik
pria lebih kuat. Kedua, pria umumnya mempunyai ego dan ingin
membuktikan diri bahwa kami bisa memberikan yang terbaik untuk
keluarga dan teman-temannya. Pria "workaholic" biasanya tidak merasa
dituntut, tapi ada kalanya dia seperti itu karena membutuhkan
pengakuan.
Pengalaman pribadi
Saya dulu lebih cenderung digerakkan oleh uang. Dalam pikiran saya
yang ada hanyalah uang, uang, dan uang. Saya begitu karena saya
bukan berasal dari keluarga yang berada sehingga berpandangan bahwa
saya harus berhasil supaya bisa menyenangkan orang tua, baru
menyenangkan diri sendiri. Saya terdorong untuk membuktikan bahwa
dari keluarga saya pun ada yang bisa mapan. Memang ada sisi
positifnya, misalnya dalam pekerjaan yang baru, saya tidak perlu
waktu lama untuk bisa mengambil peluang yang baik supaya jadi uang.
Tetapi saya bukan hanya mengerjakan yang halal saja karena saya juga
suka judi bola. Pokoknya, selama menghasilkan uang, saya akan
lakukan walau tidak halal. Lebih lanjut, kalau saya bekerja sampai
malam dan saya letih, saya minta dipijat. Di situ, saya jatuh dalam
dosa main perempuan, apalagi kalau di luar kota. Efek lainnya adalah
saya tidak dekat dengan anak-anak karena saya berpikir tugas saya
adalah mencari uang.
Titik balik perubahan
Suatu waktu, ada banyak aral melintang dalam bisnis saya. Di saat
seperti itu, kakak mengajak saya mengikuti kamp Pria Sejati. Awalnya
saya menolak karena merasa sudah cukup sejati dengan mempunyai dua
anak, istri, dan uang. Saya juga merasa takut pada Tuhan. Tetapi
setelah istri saya mengatakan bahwa tidak ada salahnya untuk ikut,
saya ikut juga dan saya hanya anggap itu sebagai "main". Rupanya, di
sanalah saya terjamah melalui apa yang disampaikan para pembicara.
Salah satunya adalah bahwa semua yang ada pada kita adalah titipan
Tuhan. Artinya, Dia bisa ambil kapan saja. Saya juga dibukakan,
bahwa saya tidak pernah menyenangkan anak-anak. Bagaimana sekolah
mereka pun saya tidak tahu. Dari situ saya berkomitmen untuk mulai
mengantar anak-anak ke sekolah, berhenti main perempuan, dan judi.
Melepas judi adalah yang paling sulit, tetapi dengan adanya dukungan
dari teman-teman komunitas dan saya meninggalkan pergaulan yang
lama, saya bisa melepaskannya.
Paulus Ruddy Saswono, 44 thn., kontraktor
Seorang "workaholic" adalah orang yang bekerja terus-menerus tanpa
ada waktu sisa. Waktunya didominasi untuk bekerja, bahkan mungkin
bukan lagi 24 jam, melainkan kalau bisa 36 jam sehari. Alasan pria
cenderung seperti itu karena berpikir bahwa kami berkewajiban untuk
menghidupi keluarga. Jadi, harus mencari uang.
Sebenarnya dalam firman Tuhan, kita seharusnya bekerja untuk Tuhan
dan bukan untuk manusia sehingga kita akan melakukan yang terbaik.
Tetapi kita juga perlu menyadari bahwa harus ada keseimbangan dalam
hidup. Kalau kita bekerja dengan alasan demi kebahagiaan keluarga,
itu berarti ada waktu juga yang harus diberikan. Mengapa? Karena
kasih identik dengan waktu, bukan hanya uang. Tuhan pun tidak mau
kita bekerja terus dan keluarga ditinggalkan.
Pengalaman Pribadi
Kalau bekerja saya memulainya dari pagi sampai sore di kantor.
Setelah mandi dan makan, saya masuk ruang kerja lagi di rumah dan
terus bekerja sampai dini hari. Pagi-paginya saya bangun dan segera
ke kantor lagi. Begitulah seterusnya aktivitas saya. Bahkan hari
Minggu setelah pulang gereja saya biasanya bekerja. Saya sendiri
melakukannya dalam ketidaktahuan bahwa itu salah karena saya
berpikir kalau saya bekerja, hasilnya pun untuk keluarga saya.
Akibatnya, saya tidak merasa bersalah dan saya pribadi menikmati
kehidupan seperti itu. Di sisi lain, saya juga merasa dihargai
sekali bila dalam pekerjaan. Dalam arti, apa pun yang saya katakan
pasti akan dilakukan. Tetapi istri saya mulai mengeluh dan protes
akan hal ini. Dia mengatakan bahwa saya sudah tidak mempunyai waktu
lagi dan juga tidak mengurus anak kami yang masih kecil. Padahal
peran seorang ayah sangat penting bagi pembentukan karakter anak.
Titik balik perubahan
Saya mulai terbuka ketika istri saya mengeluh. Di situ saya pikir,
benar juga bahwa pekerjaan memang tidak ada akhirnya. Jadi, saya
mulai "kompromi" untuk tidak bekerja pada hari Minggu dan memilih
bersama keluarga. Di hari-hari lainnya saya juga berbagi waktu
dengan keluarga besar, misalnya bila ada adik atau kakak yang
berulang tahun, saya tinggalkan pekerjaan untuk berkumpul. Semakin
lama, saya semakin dibukakan dan memang untuk mengubahnya
membutuhkan waktu yang lama. Di awal perubahan, rasanya saya bingung
sekali kalau liburan karena tidak tahu harus mengerjakan apa dan
otak saya pun masih ke pekerjaan. Tetapi saya terus berkomitmen
untuk membagi waktu, bahkan terkadang saya mematikan HP di hari
Minggu agar tidak terganggu. Setelah mengikuti kamp, saya lebih
mengerti lagi bahwa saya juga harus jadi imam. Karenanya, saya juga
mulai mengantar anak ke sekolah dan mendoakannya.
Bahan diambil dari sumber:
| Majalah | : | GetLife! |
| Edisi | : | Tahun III/Edisi no.27 |
| Penerbit | : | GetmeDia (Yayasan Pelita Indonesia), Bandung. |
Halaman | : | 63 -- 64 |
http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/132/
|
  |