Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bimbingan Konseling Sekolah Dasar

Edisi C3I: e-Konsel 291 - Bimbingan Konseling (BK)

Berdasarkan lampiran Permendiknas RI No.22 Tahun 2006 tentang standar isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kurikulum SD memuat 8 Mata Pelajaran, Muatan Lokal, dan Pengembangan Diri.

Pengembangan diri bertujuan memberi kesempatan kepada peserta didik, untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat siswa sesuai kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling, yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, pelajaran, dan pengembangan pikir anak didik.

Hakikat Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar

M. Surya (1988:12) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian atau layanan bantuan yang terus-menerus dan sistematis, dari pembimbing kepada yang dibimbing, agar tercapai perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan.

Bimbingan ialah penolong individu, agar dapat mengenal dirinya dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi di dalam kehidupannya (Oemar Hamalik, 2000:193).

Bimbingan adalah suatu proses yang terus-menerus, untuk membantu perkembangan individu dalam rangka mengembangkan kemampuannya secara maksimal, untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990:11).

Dari beberapa pendapat di atas, dapat ditarik sebuah intisari bahwa bimbingan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada individu, agar dapat mengembangkan kemampuannya seoptimal mungkin, dan membantu siswa agar memahami dirinya (self-understanding), menerima dirinya (self-acceptance), mengarahkan dirinya (self-direction), dan merealisasikan dirinya (self-realization).

Konseling adalah proses pemberian yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah, yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien (Prayitno, 1997:106).

Konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada seseorang, supaya dia memperoleh konsep diri dan kepercayaan pada diri sendiri, memanfaatkannya untuk memperbaiki tingkah lakunya pada masa yang akan datang (Mungin Eddy Wibowo, 1986:39).

Dari pengertian tersebut, dapat dirangkum ciri-ciri pokok konseling, yaitu:

  1. adanya bantuan dari seorang ahli,
  2. proses pemberian bantuan dilakukan dengan wawancara konseling, dan
  3. bantuan diberikan kepada individu yang mengalami masalah, agar memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri dalam mengatasi masalah, guna memperbaiki tingkah lakunya pada masa yang akan datang.

Perlunya Bimbingan dan Konseling di SD

Jika ditinjau secara mendalam, setidaknya ada tiga hal utama yang melatarbelakangi perlunya bimbingan, yakni tinjauan secara umum, sosiokultural, dan aspek psikologis.

Secara umum, latar belakang perlunya bimbingan berhubungan erat dengan pencapaian tujuan pendidikan nasional, yaitu: meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Mahaesa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka perlu mengintegrasikan seluruh komponen yang ada dalam pendidikan, salah satunya adalah komponen bimbingan. Bila dicermati dari sudut sosiokultural, yang melatarbelakangi perlunya proses bimbingan adalah adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat, sehingga berdampak di setiap dimensi kehidupan. Hal tersebut semakin diperparah dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, sementara laju lapangan pekerjaan relatif menetap.

Menurut Tim MKDK IKIP Semarang (1990:5-9), ada lima hal yang melatarbelakangi perlunya layanan bimbingan di sekolah, yakni:

  1. masalah perkembangan individu,
  2. masalah perbedaan individual,
  3. masalah kebutuhan individu,
  4. masalah penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku, dan
  5. masalah belajar.

Fungsi Bimbingan dan Konseling di SD

Sugiyo, dkk. (1987:14) menyatakan bahwa ada tiga fungsi bimbingan dan konseling, yaitu:

- Fungsi Penyaluran (distributive)

Fungsi penyaluran ialah fungsi bimbingan dalam membantu menyalurkan siswa-siswa dalam memilih program-program pendidikan yang ada di sekolah, memilih jurusan sekolah, memilih jenis sekolah lanjutan/sambungan ataupun lapangan kerja yang sesuai dengan bakat, minat, cita-cita, dan ciri-ciri kepribadiannya. Di samping itu, fungsi ini juga meliputi bantuan untuk memiliki kegiatan-kegiatan di sekolah; misalnya membantu menempatkan anak dalam kelompok belajar.

- Fungsi Penyesuaian (adjustive)

Fungsi penyesuaian ialah fungsi bimbingan dalam membantu siswa untuk memperoleh penyesuaian pribadi yang sehat. Dalam berbagai teknik bimbingan, khususnya dalam teknik konseling, siswa dibantu menghadapi dan memecahkan masalah-masalah dan kesulitan-kesulitannya. Fungsi ini juga membantu siswa dalam usaha mengembangkan dirinya secara optimal.

- Fungsi Adaptasi (adaptive)

Fungsi adaptasi ialah fungsi bimbingan dalam rangka membantu staf sekolah, khususnya guru, dalam mengadaptasikan program pengajaran dengan ciri khusus dan kebutuhan pribadi siswa-siswa. Dalam fungsi ini, pembimbing menyampaikan data tentang ciri-ciri, kebutuhan minat dan kemampuan, serta kesulitan-kesulitan siswa kepada guru. Dengan data ini guru berusaha untuk merencanakan pengalaman belajar bagi para siswa, sehingga para siswa memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan bakat, cita-cita, kebutuhan, dan minat (Sugiyo, 1987:14).

Prinsip-Prinsip Bimbingan Konseling di SD

Prinsip merupakan paduan hasil kegiatan teori dan telaah lapangan, yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan (Prayitno,1997:219). Berikut ini prinsip-prinsip bimbingan konseling yang diramu dari sejumlah sumber.

  1. Sikap dan tingkah laku seseorang sebagai pencerminan dari segala kejiwaannya adalah unik dan khas. Keunikan ini memberikan ciri atau merupakan aspek kepribadian seseorang. Prinsip bimbingan adalah memerhatikan keunikan, sikap, dan tingkah laku seseorang, sehingga dalam memberikan layanan perlu menggunakan cara-cara yang sesuai/tepat.

  2. Tiap individu memunyai berbagai kebutuhan yang berbeda. Oleh karenanya, dalam memberikan bimbingan yang efektif, perlu memilih teknik-teknik yang sesuai dengan perbedaan dan berbagai kebutuhan individu.

  3. Bimbingan pada prinsipnya diarahkan pada suatu bantuan, sehingga pada akhirnya orang yang dibantu mampu menghadapi dan mengatasi kesulitannya sendiri.

  4. Dalam suatu proses bimbingan, orang yang dibimbing harus aktif dan banyak berinisiatif, karena proses bimbingan pada prinsipnya berpusat pada orang yang dibimbing.

  5. Prinsip pelimpahan dalam bimbingan perlu dilakukan. Ini terjadi apabila masalah yang timbul tidak dapat diselesaikan oleh sekolah (guru bimbingan). Untuk menangani masalah tersebut, perlu diserahkan kepada petugas/lembaga lain yang lebih ahli.

  6. Pada tahap awal bimbingan, pada prinsipnya dimulai dengan kegiatan identifikasi kebutuhan dan kesulitan-kesulitan yang dialami individu yang dibimbing.

  7. Proses bimbingan pada prinsipnya dilaksanakan secara fleksibel, sesuai dengan kebutuhan yang dibimbing dan kondisi lingkungan masyarakatnya.

  8. Program bimbingan dan konseling di sekolah harus sejalan dengan program pendidikan pada sekolah yang bersangkutan. Hal ini merupakan keharusan karena usaha bimbingan memunyai peran untuk memperlancar jalannya proses pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan.

  9. Pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah hendaklah dipimpin oleh seorang konselor/guru yang benar-benar memiliki keahlian dalam bidang bimbingan. Selain itu, ia memunyai kesanggupan bekerja sama dengan konselor/guru lain yang terlibat.

  10. Program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya senantiasa dievaluasi secara teratur. Maksud penilaian ini untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan program bimbingan. Sayangnya, tahap evaluasi dalam layanan bimbingan konseling ini tampaknya masih sering dilupakan. Padahal sebenarnya tahap evaluasi sangat penting artinya, di samping untuk menilai tingkat keberhasilan juga untuk menyempurnakan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling (Prayitno, 1997:219).

Kegiatan BK dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi

Berdasarkan Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Bimbingan Konseling (2004) dinyatakan bahwa kerangka kerja layanan BK dikembangkan dalam suatu program BK, antara lain:

a. Layanan dasar bimbingan -- bimbingan yang bertujuan untuk membantu seluruh siswa mengembangkan perilaku efektif dan keterampilan-keterampilan hidup yang mengacu pada tugas-tugas perkembangan siswa SD.

b. Layanan responsif -- layanan bimbingan yang bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh peserta didik saat ini. Layanan ini lebih bersifat preventif atau mungkin kuratif. Strategi yang digunakan adalah konseling individual, konseling kelompok, dan konsultasi.

Isi layanan responsif adalah bidang pendidikan, belajar, sosial, pribadi, karier, tata tertib SD, narkotika dan perjudian, perilaku sosial, serta bidang kehidupan lainnya.

c. Layanan perencanaan individual -- layanan bimbingan yang membantu seluruh peserta didik dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karier, dan kehidupan sosial dan pribadinya. Tujuan utama dari layanan ini adalah untuk membantu siswa, memantau pertumbuhan, dan memahami perkembangan sendiri.

d. Dukungan sistem -- kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan, memelihara, dan meningkatkan progam bimbingan secara menyeluruh. Hal itu dilaksanakan melalui pengembangan profesionalitas, hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/penasihat, masyarakat yang lebih luas, manajemen program, penelitian, dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990).

Kegiatan utama layanan dasar bimbingan yang responsif dan mengandung perencanaan individual serta memiliki dukungan sistem dalam implementasinya didukung oleh beberapa jenis layanan BK, yakni: layanan pengumpulan data, layanan informasi, layanan penempatan, layanan konseling, layanan melimpahkan ke pihak lain, dan layanan penilaian dan tindak lanjut (Nurihsan, 2005:21).

Peran Guru Kelas dalam Kegiatan BK di SD

Implementasi kegiatan BK dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Oleh karena itu, peranan guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan BK sangat penting untuk mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran yang dirumuskan.

Sardiman (2001:142) menyatakan bahwa ada sembilan peran guru dalam kegiatan BK, yaitu:

  1. Informator: Guru berperan sebagai pengajar informatif, laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi kegiatan akademik, maupun umum.

  2. Organisator: Guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran, dll..

  3. Motivator: Guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan, serta penguatan untuk mendinamiskan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas), dan daya cipta (kreativitas), sehingga terjadi dinamika di dalam proses belajar-mengajar.

  4. Direktur: Guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.

  5. Inisiator: Guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-mengajar.

  6. Transmiter: Guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam pendidikan dan pengetahuan.

  7. Fasilitator: Guru memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar.

  8. Mediator: Guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.

  9. Evaluator: Guru memunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana keberhasilan anak didiknya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : Sekolah Ora Et Labora
Alamat URL : http://www.oel.or.id/
Penulis : Thomas
Tanggal akses : 8 Maret 2012

Komentar