Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading
Perumpamaan Tentang Bendahara Yang Cerdik
Edisi C3I: e-Konsel 067 - Mengelola Uang
Salah satu kesamaan dari perumpamaan-perumpamaan yang pernah
diajarkan Yesus adalah selalu mengejutkan, menyentak, dan
menyadarkan. Yang menjadi "tokoh pahlawan" biasanya orang yang
paling tidak diduga. Ciri itu tampak jelas dalam perumpamaan tentang
bendahara yang tidak jujur (
Perumpamaan ini membawa kita memasuki dunia keuangan dan tanggung jawab. Bendahara itu seorang bawahan. Tepatnya, ia hanyalah pegawai yang diserahi kepercayaan oleh tuannya, yang mungkin sedang bepergian, untuk mengawasi usaha dan aset tuannya. Yang jelas, tanggung jawabnya adalah menggunakan kepercayaan itu untuk kepentingan majikannya, bukan dirinya. Namun, godaan untuk menyelewengkan uang bagi tujuan dan kesenangannya sendiri terlalu kuat. Ia menghambur-hamburkan uang itu, melanggar kepercayaan yang diberikan, dan menyalahgunakan harta majikannya. Dan, ketika dituduh lalai, ia tidak bisa menjawab.
Kisah ini hampir sama dengan perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni, dalam Injil Matius pasal 18. Pengulangan situasi yang sama ini menunjukkan bahwa pelanggaran kepercayaan terhadap orang lain, yang umumnya terjadi pada zaman dahulu, terjadi juga pada zaman sekarang. Tentu saja orang itu pantas dipecat. Namun, yang penting untuk diperhatikan adalah posisi si bendahara setelah tuannya berkata, "Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara" (ayat 2).
Perusahaan-perusahaan modern biasanya memerintahkan karyawannya yang dipecat untuk segera mengemasi barang-barang di meja kerjanya, atau jika tidak, orang lain yang disuruh membereskannya. Namun, bendahara dalam Injil Lukas, masih diberi kesempatan. Pemecatan dirinya memang tak mungkin dihindari lagi, tetapi belum merupakan sesuatu yang bersifat final atau segera diumumkan. Sampai laporan keuangannya selesai dibuat, ia masih memiliki kesempatan untuk bertindak. Memang, waktunya amat singkat, karena itu ia harus segera bertindak. Ia tidak boleh membuang-buang waktu.
Di sinilah kecerdikan orang itu akan tampak. Ia tahu, ia tak punya banyak pilihan. Ia terlalu lemah untuk melakukan pekerjaan kasar dan terlalu gengsi untuk mengemis. Jika tidak bertindak cepat, nasib buruk akan menimpanya. Tetapi, ia tahu benar pepatah yang mengatakan, "Bantulah aku, maka aku akan membantumu." Mungkin ia bisa bermurah hati kepada beberapa orang, sehingga mereka akan balas berbaik hati kepada dirinya.
Rencananya sederhana. Ia memanggil orang-orang yang berutang kepada tuannya dan mengubah surat utang mereka. Bagaimanapun juga, ia telah lama mengelola laporan keuangan tuannya dan ia masih memiliki wewenang yang sah untuk bertindak atas nama tuannya.
"Berapakah utangmu kepada tuanku?"; "Seratus tempayan minyak."; "Inilah surat utangmu yang lama. Tuliskanlah lagi surat utang lain, tapi tulis saja lima puluh tempayan dan saya akan menandatanganinya."
"Berapakah utangmu?"; "Seratus pikul gandum."; "Inilah surat utangmu, buatlah surat utang lain, tuliskan saja delapan puluh pikul dan saya akan menandatanganinya."
Kita tidak tahu praktik bisnis pada abad pertama, sehingga sulit memastikan sesuatu yang sedang terjadi. Beberapa ahli yakin bahwa semua transaksi bisnis di masa itu curang dan bendahara ini menggambarkan kecurangan orang-orang pada masa itu. Mungkin hal itu benar, tetapi mengingat orang-orang ini mungkin akan terus melakukan bisnis dengan orang kaya itu, tafsiran ini tampaknya tidak sesuai. Yang lebih mungkin adalah transaksi yang dilakukan keduanya terselubung atau tidak sah.
Menurut hukum Musa, para bisnisman Yahudi dilarang mengambil riba dari sesama orang Yahudi. Namun, hal itu membuat transaksi dagang menjadi sulit. Jadi, mereka mengakalinya. Ketika meminjamkan uang, tidaklah sah mencantumkan besarnya bunga dalam surat tagihan. Oleh karena itu, dalam tagihan biasanya hanya tercantum sejumlah uang: jumlah total yang sudah mencakup pinjaman pokok, ditambah bunga dan imbalan bagi si bendahara. Jumlah ini seringkali dinyatakan dalam bentuk barang (misalnya minyak atau gandum). Dengan cara ini, transaksi itu akan tampak sejalan dengan hukum.
Jika benar demikian, mungkin si bendahara memberi potongan jumlah utang yang tertera dalam tagihan itu dengan menangguhkan bunganya. Karena memungut bunga adalah sesuatu yang melanggar hukum Yahudi, maka tuannya tidak punya dasar apabila ingin memberikan sangsi kepadanya. Bisa jadi, orang-orang yang berutang itu mencurigai alasan di balik "kemurahan hati" si bendahara, meskipun begitu mereka tentu dengan senang hati menerima tawarannya. Karena itu, dengan cerdik ia telah berhasil memperdaya tuannya sekaligus mengambil hati para pengutang itu, sehingga mereka pasti akan mengenangnya sebagai bendahara yang baik hati.
Perumpamaan itu diakhiri dengan pernyataan, "Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik" (ayat 8). Kita perlu tahu apa yang dikatakan dan apa yang tidak dikatakan. Tuan itu tidak berkata ia berkenan pada tindakan bendahara itu, tetapi ia terkesan pada tindakannya. Orang itu berhasil memperdaya tuannya. Si majikan tentu tak bermaksud memuji ketidakjujuran si bendahara, tetapi bagaikan atlit yang kalah, dengan muka masam mengomentari keahlian dan strategi lawannya, ia terpaksa mengakui kecerdikan si bendahara.
Karena kata cerdik adalah kata kunci dalam cerita ini, kita perlu
merenungkan maknanya dengan seksama. Dalam bahasa Yunani, kata ini
berarti "bertindak dengan perhitungan jauh ke depan", dan hal ini
digambarkan dalam perkataan Yesus tentang orang yang bijaksana
(secara harfiah juga berarti cerdik) yang membangun rumahnya di atas
batu untuk siap menghadapi banjir yang datang (
Kisah ini mengusik kesadaran kita. Walaupun bendahara ini tampaknya menjadi pahlawan, sebenarnya tidak. Tetapi melalui tindakan- tindakannya yang menimbulkan keraguan itu, kita dapat melihat suatu kualitas yang diharapkan juga dimiliki oleh murid-murid Tuhan bila mereka ingin hidup secara efektif di dunia ini. Kualitas itu diuraikan dalam pembahasan berikutnya.
TUHAN MEMBICARAKAN PRINSIP-PRINSIP MENJADI MURID YANG CERDIK
(
- Murid yang cerdik menggunakan uang untuk meraih tujuan kekal.
- Murid yang bijaksana menggunakan uang dalam terang kemuliaan kekal.
Murid yang bijaksana mengerti bahwa pengelolaan keuangan mencegah keterikatan pada uang.
Pesan utama Tuhan dalam
Tuhan memanggil kita untuk mengenali batas-batas toleransi
terhadap harta. Ungkapan "supaya jika Mamon itu tidak dapat
menolong lagi" (ayat 9) yang secara harafiah berarti "jika Mamon
itu gagal", mengacu pada saat kematian tiba atau saat tak ada
lagi yang memberikan utang. Paulus berkata, "Kita tidak membawa
sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-
apa ke luar" (
Kebijakan dalam menggunakan uang juga terfokus pada bagaimana uang itu dapat digunakan untuk tujuan-tujuan yang kekal. Yesus berkata, "Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya ... kamu diterima di dalam kemah abadi" (ayat 9). Bila uang kita digunakan untuk memenuhi kebutuhan saudara- saudara seiman dan untuk mewartakan Injil, kita yakin bahwa akan ada sesuatu yang kekal yang akan kita terima. Bapa kita yang Maha Pemurah akan menyingkapkan kepada orang-orang kudus bagaimana kita telah memakai uang untuk menjadi sarana dalam pertobatan mereka atau dalam memenuhi kebutuhan mereka. Bayangkan betapa besar penerimaan di surga!
Tidak banyak pengalaman yang lebih memuaskan daripada pengalaman mengunjungi tempat tinggal dan tempat pelayanan Anda dulu, dan melihat orang-orang berbaris untuk mengatakan betapa Anda telah memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan mereka, sesuatu yang tak terkira dan tak ternilai.
Tuhan memanggil kita untuk menggunakan uang dengan bijak, dengan alasan-alasan yang bersifat kekal. Namun data statistik menyatakan bahwa dari jumlah pendapatan yang ada (sesuai dengan laju inflasi), yang meningkat sebesar 31% di kalangan 31 anggota denominasi Protestan antara tahun 1968 sampai 1985, hanya 2% dari angka tersebut yang diberikan kepada gereja-gereja atau organisasi-organisasi kristiani (Chicago Tribune, 31 Juli 1988). Dengan kata lain, 98% lainnya digunakan untuk membiayai gaya hidup manusia. Bila kita hidup dalam dunia dengan kebutuhan yang terus-menerus meningkat dan banyak peluang yang memikat, maka sepertinya akan sulit bagi kita untuk menggunakan uang dengan bijak.
Orang-orang percaya juga perlu hidup dengan bijak -- menyusun strategi, merencanakan, memimpikan, dan menggunakan akal budi serta kreativitas. Pada saat-saat yang radikal, diperlukan solusi yang radikal pula, sebagaimana dilukiskan dalam perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur. Tuhan tidak memanggil kita untuk sekadar menjalankan bisnis seperti biasa. Murid yang bijak perlu bertanya kepada diri sendiri, "Bagaimana aku dapat menggunakan uangku semaksimal mungkin untuk hal-hal yang bernilai kekal?" Kita harus berhati-hati agar tidak membelanjakan atau menghamburkan uang dengan ceroboh, emosional, atau menuruti kata hati. Tuhan memanggil kita untuk menjadi orang yang tegas, cermat, cerdik, dan memandang jauh ke depan.
Ada tiga pesan utama dalam
Dalam perkara-perkara kecillah kita membuktikan kesetiaan. Utusan Injil ternama Hudson Taylor, mengamati, "Perkara kecil adalah sesuatu yang kecil; tetapi kesetiaan dalam perkara kecil adalah sesuatu yang besar".
Kesetiaan terhadap uang berkaitan dengan karakter. Seorang penulis menerangkan mengapa ia masih bisa menambahkan kisah lain pada buku biografi tentang Duke of Wellington: "Saya lebih beruntung dibandingkan penulis biografi sebelumnya. Saya menemukan laporan keuangan yang mengungkapkan bagaimana Duke membelanjakan uangnya. Cara Duke membelanjakan uang dapat menjadi petunjuk yang lebih baik untuk mengetahui apa yang menurutnya benar-benar penting, daripada hanya membaca surat-surat atau pidato-pidatonya.". Hal ini juga berlaku atas laporan keuangan seorang murid Tuhan.
Kebijaksanaan menyebabkan kita memandang "Mamon" dengan cara
menarik.
Oleh karena itu, orang yang bijaksana akan menggunakan uang dalam terang kemuliaan kekal. Termasuk di dalamnya, kesempatan untuk melayani Tuhan Yesus yang akan mewujudkan kehendak-Nya di bumi dan memberi pelayanan istimewa di surga nanti.
Pesan ketiga dari
Tuhan menggunakan gaya bahasa personifikasi yang amat hidup dalam uraian-Nya agar kita mengerti bahwa tak ada pilihan yang setengah-setengah. Allah menguasai harta kita atau harta itu akan menguasai kita. Henry Fielding pernah menulis, "Jadikan uang sebagai illahmu, maka ia akan menggodamu bagai iblis."
Kita semua melayani sesuatu atau seseorang. Kita tak mungkin menjadi murid Yesus yang setengah-setengah. Kita harus memilih kepada siapa kita harus mengabdi sepenuhnya. Jika kita memilih Tuhan sebagai satu-satunya tuan kita, Dia tidak akan pernah menghabiskan uang kita. Pada kenyataannya, Dia mengambil uang kita dan mengubahnya menjadi suatu persahabatan. Sejumlah uang yang kita gunakan untuk berjudi, membayar WTS, atau membeli narkoba adalah uang yang juga bisa kita gunakan untuk membeli Alkitab, menggali sumur, atau mendukung Pekabaran Injil. Jumlah uang yang sama, yang digunakan oleh bendahara yang cerdik untuk menata jalannya menuju masa depan yang mapan, juga bisa digunakan oleh murid yang bijak untuk diinvestasikan dalam persekutuan yang kekal. Perbedaannya terletak pada pengambilan keputusan kepada siapa ia akan mengabdi.
Bagaimana kita memperoleh uang? Apa yang dapat kita beli dengan uang itu? Kapan dan bagaimana kita mengeluarkan uang? Untuk apakah kita menggunakan sumber pendapatan yang kita miliki? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seorang murid yang bijak ketika berusaha menyamai sosok "tuan" yang dipilihnya ini, seseorang yang bertindak secara meyakinkan dalam penggunaan berbagai sumber pendapatan yang dimilikinya untuk memaksimalkan peluangnya di masa depan.
Ada kisah tentang seorang yang mengalami kapal karam di pulau terpencil tak dikenal. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui bahwa ia tidak sendirian. Sebuah suku yang terdiri dari cukup banyak orang mendiami pulau itu bersamanya. Betapa senangnya ia karena mereka memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Mereka menempatkannya di singgasana dan menyediakan segala keinginannya. Ia amat senang, tetapi juga bingung. Mengapa ia diperlakukan bak seorang raja? Setelah kemampuannya berkomunikasi semakin meningkat, ia pun tahu bahwa ternyata suku itu mempunyai kebiasaan memilih raja setahun sekali. Kemudian, setelah masa kekuasaannya berakhir, raja itu akan dibuang ke sebuah pulau.
Kegembiraannya segera berganti dengan kesedihan. Kemudian, ia memikirkan suatu rencana yang cerdik. Di sepanjang bulan berikutnya, ia mengirim anggota-anggota suku itu untuk membuka dan mengolah tanah di pulau lain. Ia memerintahkan mereka untuk membangun sebuah rumah yang indah, memperlengkapinya dengan perabot rumah, dan menanam tumbuhan. Ia mengirim beberapa sahabat yang dipilihnya untuk tinggal di sana dan menunggunya. Lalu, saat hari pengasingan itu tiba, ia ditempatkan di sebuah tempat yang telah dipersiapkan dengan sangat cermat dan telah dipenuhi dengan sahabat-sahabat yang dengan senang hati menerimanya.
Murid-murid Tuhan tidak sedang menuju pulau yang sunyi. Tujuan kita adalah Rumah Bapa. Namun, persiapan kita di dunia menentukan bagaimana kita di sana kelak. Jika kita bijak, akan ada sahabat dan ganjaran kekal yang menanti. Orang bodoh yang menjadi hamba uang akan kehilangan semua harta. Orang percaya yang cerdik melayani Allah dan memiliki investasi dalam kekekalan.
- Login or register to post comments
- Printer-friendly version







