Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading
Apakah Iman itu?
Edisi C3I: e-Konsel 068 - Apakah Iman itu?
Beberapa tahun lalu, setiap hari Kamis, saya mengajar tentang Alkitab di Universitas California Selatan. Suatu waktu, setelah selesai mengajar, seorang wanita muda datang kepada saya. Saya bisa menebak, saat itu ia sedang marah. Ia mengatakan kepada saya bahwa ia dibesarkan dalam keluarga yang saleh dan selama beberapa waktu, ia mengikuti gereja orangtuanya. Kemudian, serangkaian kemalangan menimpanya, sehingga ia "kehilangan imannya". Sekarang, ia tidak lagi bergereja.
Ia mengatakan kepada saya bahwa perpecahan terakhir antara dia dengan imannya yang terdahulu adalah waktu ia melemparkan Kitab Perjanjian Barunya yang sudah ia simpan di laci selama berbulan- bulan. Ini merupakan simbol tentang keputusan terakhirnya.
Ia datang untuk bertanya kepada saya, apakah iman itu? Tetapi saya mengembalikan pertanyaan itu kepadanya.
Ia menjawab, "Iman adalah percaya pada apa yang tidak dapat engkau ketahui."
Saya berkata, "Apakah engkau percaya kepada Bill Bright?"
Ia menjawab, "Aku tidak kenal dia -- bagaimana aku dapat mempercayainya?"
Saya katakan, "Tunggu dulu. Kau baru saja mengatakan bahwa iman adalah percaya pada apa yang tidak dapat kauketahui. Sekarang, engkau mengatakan bahwa engkau tidak dapat percaya pada orang yang tidak engkau kenal. Mana yang benar?"
Penjelasan wanita muda itu benar dalam hal kedua. Pengetahuan harus ada sebelum adanya iman. Iman adalah tanggapan atas kebenaran. Tujuan Alkitab adalah untuk membawa kita kepada kebenaran itu. Jikalau saya menanggapinya dengan iman, saya yakin itu disebabkan karena Roh Kudus sedang bekerja di dalam hidup saya.
Iman bukan sesuatu yang didasarkan pada kekosongan. Iman juga tidak
diperoleh. Dalam
Hal ini pun berlaku waktu kita mengenal Allah. Semakin saya mengalami sesuatu di dalam Dia, bersandar pada-Nya, dan mengetahui bahwa Ia selalu menanggung beban saya -- tidak peduli betapa beratnya beban yang saya serahkan pada-Nya -- semakin saya mempercayai-Nya.
Iman harus selalu mengalami ujian. Beberapa sahabat dekat kami mempunyai anak yang mengidap kanker yang serius. Selama tiga bulan terakhir, mereka telah ditantang dan mengalami ujian yang luar biasa, dan mereka belum juga melampaui masalah mereka. Tetapi, di balik semua pergumulan mereka, ada iman yang besar dan keyakinan yang hebat bahwa Allah sanggup melakukan apa yang Ia katakan. Ia sanggup mendatangkan kebaikan dari keadaan apa pun.
Dalam
Sebaliknya, Alkitab menganjurkan iman kepada Allah yang kita kenal.
Dialah pemimpin kita dan Ia mengajar kita untuk mengikuti-Nya dengan
percaya. Dalam
Dalam usia seperti mereka, hamil benar-benar tidak mungkin. Tetapi, janji Allah melampaui segala keadaan mereka.
Iman tidak pernah menyangkali kenyataan, bagaimanapun buruknya.
Tetapi, iman mengakui fakta yang lebih tinggi dan lebih berkuasa,
yaitu tentang integritas dan janji-janji Allah. Abraham menghadapi
apa yang secara manusiawi merupakan situasi tanpa harapan lagi --
tetapi sebagaimana saya pernah mengingatkan salah seorang profesor
seminari, "Tidak ada harapan bukan perkataan orang Kristen.
Perkataan itu tidak ada dalam kamus kita". Namun, bersama Allah
selalu ada jalan untuk hidup. Paulus mengingatkan kita bahwa hakikat
iman alkitabiah adalah yakin bahwa Allah sanggup melaksanakan apa
yang Ia janjikan (lihat
Kita perlu berpikir tentang iman dalam arti kualitasnya, bukan kuantitasnya. Iman bukan alat untuk jual beli, seperti mata uang, yang dihitung menurut nilainya. Kita cenderung berpikir bahwa bilamana kita mempunyai cukup iman, maka kita bisa "membeli" apa saja yang kita inginkan dari Allah. Tidak! Iman adalah kepercayaan mutlak -- menyerahkan seluruh hidup kita kepada Allah.
Jangan sekali-kali, kita menyalahkan orang lain dengan mengatakan, "Wah, andaikan mereka mempunyai cukup iman ....", maka hal-hal tertentu itu akan tercapai. Beberapa tahun yang lalu, Kathryn Kuhlman yang banyak menyembuhkan orang, dalam satu wawancara televisi ditanya, mengapa tidak setiap orang yang datang kepadanya bisa disembuhkan. Kathryn menjawab dengan cara yang indah sekali, "Allah itu Maha Kuasa untuk menyembuhkan, dan Dialah yang menyembuhkan beberapa orang dan tidak menyembuhkan yang lain. Tidak ada sesuatu yang lebih kejam daripada menyalahkan orang dengan mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai cukup iman untuk dapat disembuhkan. Itu semua tergantung kepada Allah."
Kita bertumbuh dalam iman waktu kita menggemakannya. Ingat, betapa sulitnya dahulu bagi Abraham dan Sara untuk mempercayai janji Allah. Tetapi melalui setiap pengalaman, waktu mereka melihat janji-Nya digenapi, iman mereka bertambah kuat. Kekuatan seperti itu datang hanya jikalau kita menggunakan iman dalam hidup kita.
"Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus." Semakin kita mengetahui Firman, maka semakin kita mengenal Yesus, dan iman kita akan menjadi semakin kuat.
- Login or register to post comments
- Printer-friendly version







