Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are hereDoktrin / Perjamuan Kudus

Perjamuan Kudus


Oleh: Rudy Lee

Perjamuan Kudus tidak pernah dilakukan sebulan sekali oleh jemaat mula-mula. Perjamuan Kudus juga tidak pernah dilakukan seminggu sekali tetapi setahun sekali.

Memecah roti dalam pemahaman Ibrani (Maaseh Schlihim/ Kisah Rasul 2:42-46)

Saat sebuah keluarga Ibrani hendak memulai makan, ucapan syukur di atas dipanjatkan dan kepala keluarga memecah roti. Ucapan syukur di atas disebut dengan “memecah roti”. Kebiasaan “memecah roti” ini merupakan salah satu ciri khas kehidupan dari sebuah keluarga atau komunitas Ibrani.

Pada zaman Yesus, perjamuan makan dalam sebuah komunitas merupakan kebiasaan yang lazim, terutama di kalangan sekte Yahudi Esseni. Dalam Kisah Para Rasul kita membaca bahwa banyak dari para pengikut Mesias yang mulai menjalankan gaya hidup Esseni, menjual segala kepunyaan mereka, saling berbagi keperluan seperti makanan dan pakaian, dan memecah roti dari rumah ke rumah. Pada abad kedua Masehi, gereja mulai menolak segala hukum dan pola pandang Yahudi, dengan menyatakan bahwa Kristen bukan merupakan bagian daripada Yudaisme. Dan anehnya, ketika di satu sisi gereja meninggalkan akar Ibrani, di sisi lain gereja malah menyerap unsur-unsur paganisme yang populer dalam kerajaan Romawi, Praktek-praktek dan ritual agama Romawi dengan mudah beradaptasi untuk masuk ke dalam kekristenan. Mari kita tengok asal mula ritual “komuni” dalam agama Romawi yang berasal dari Babylonia dan Yunani. Ritual komuni (Perjamuan kudus) merupakan sebuah ritual yang disebut “Omophagia”. Dalam agama Yunani kuno, Dionysus (atau Bacchus dalam agama Babylonia kuno), adalah salah seorang dewa utama. Ia adalah dewa anggur.

Walaupun Gereja Protestan menolak “transubstansiasi”, mereka meneruskan ritual ini, dengan menyatakan bahwa dalam roti dan anggur itu, umat mengambil bagian secara spiritual terhadap daging dan darah Yesus. Ada tiga doktrin ritual Komuni yang terdapat dalam kekristenan:

  1. Gereja Katholik Roma mengajarkan bahwa roti dan anggur dari sakramen tersebut benar-benar menjadi daging dan darah Yesus (Ini disebut Transubstansiasi).

  2. Gereja Lutheran mengajarkan bahwa daging dan darah Yesus dikonsumsi dalam dan bersama dengan roti dan anggur (Ko-substansiasi).

  3. Gereja Kalvinis mengajarkan bahwa roti dan anggur menjadikan setiap orang yang turut di dalamnya, mengambil bagian dalam daging dan darah Yesus.

Sudah merupakan hal umum dalam gereja Protestan untuk menspiritualisasikan ajaran-ajaran Katholik. Walau demikian, kepercayaannya masih serupa, bahwa baik secara harafiah maupun spiritual, dengan mengambil bagian dalam daging dan darah Tuhan, umat percaya bahwa mereka menjadi serupa dengan Tuhan.

Dalam kepercayaan Ibrani, tidak ada sama sekali ritual yang para pengikutnya secara harafiah memakan simbol Tuhan supaya dapat “menerima-Nya”. Kita menerima Roh Kudus hanya dengan memelihara dan mematuhi perintah-perintah-Nya.

Lalu apakah yang dimaksud oleh Yesus ketika Ia menggunakan simbol roti dan anggur sebagai daging dan darah-Nya? Mari kita mulai dengan menengok perkataan Yesus ketika mengambil bagian dalam perjamuan makan terakhir-Nya bersama-sama para murid:

Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Luk 22:19)

Perjamuan makan tersebut adalah Perjamuan Paskah (Seder) yang dilakukan oleh Yesus bersama para murid (Mat 26:17-18; Mrk 14:12-16; Luk 22:13-15). Apakah roti yang diambil-Nya ketika berkata, “inilah tubuh-Ku”? Ia mengambil Afikomen, bukan sembarang roti, tetapi roti yang hanya dimakan dalam Perjamuan Paskah pada malam 14 Nissan. Roti ini merupakan roti tidak beragi yang melambangkan ketidakberdosaan Mesias

Torah dengan jelas mengajarkan bahwa kita harus mengingat penyelamatan kita dengan memakan roti tidak beragi pada saat hari raya Roti Tidak Beragi dan Paskah. Yesus adalah roti tidak beragi itu. Dengan alasan itulah Ia berkata, “Perbuatlah ini (merayakan hari raya Roti Tidak Beragi dan Paskah) menjadi peringatan akan Aku (Penyelamatmu).”

Sering kali dalam ibadah “komuni” gereja memakai roti beragi. Padahal ragi merupakan lambang dosa sedang kita tahu Mesias adalah “tanpa dosa” dan Anti-Mesias adalah “manusia pendosa”. Jadi sebenarnya siapakah yang sedang “diperingati” dalam komuni gereja ?

Dalam 1 Korintus 10:14-22, ada dua hal yang tengah dibicarakan oleh Paulus:

  1. Kekudusan Perjamuan Paskah sebagai perjamuan untuk “orang-orang yang telah diselamatkan” (Tubuh).

  2. Pelarangan untuk mengambil bagian dalam “perjamuan berhala”.

Nampaknya jemaat Korintus menghadiri baik Perjamuan Paskah maupun perjamuan dalam perayaan-perayaan berhala. Rabi Shaul berkata bahwa menggabungkan keduanya adalah tidak dibenarkan di mata Tuhan. Dalam ayat 21 ia menulis: “Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat.” Ini merupakan masalah yang lazim terjadi di antara orang-orang percaya yang bukan Yahudi.

Karena latar belakang mereka adalah penyembah berhala maka tidaklah mudah bagi mereka untuk begitu saja meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama mereka. Rabi Shaul memandang perlu bagi komunitas Tuhan untuk “memisahkan diri”. Ayat 17, “Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.” Tidak boleh ada percampuran di dalamnya.

Keseluruhan 1 Korintus 5 berbicara tentang Perjamuan Paskah. Rabi Shaul berkata bahwa orang-orang berdosa dilarang turut serta dalam perjamuan tersebut. Paskah adalah satu-satunya hari raya Tuhan di mana hanya orang-orang yang berpercaya yang boleh merayakannya (Kel 12:43-49).

Jemaat Korintus mengundang semua orang, termasuk saudara dan kenalan mereka yang belum percaya, untuk datang merayakannya. Rabi Shaul menekankan bahwa mereka yang belum percaya dilarang untuk ikut serta dalam perjamuan itu sebab Perjamuan Paskah harus dirayakan tanpa “ragi” (dosa), ayat 7-8. Tetapi bukan berarti kita harus memisahkan diri dari orang-orang yang belum percaya itu setiap waktu.

Rabi Shaul berkata ini diterapkan hanya dalam konteks Paskah saja, ayat 10: “Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini”…ayat 11: “dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.”

Dalam 1 Korintus 11:26-31, Rabi Shaul sekali lagi menegaskan perintah Taurat bahwa “orang-orang yang tidak percaya tidak boleh makan Paskah” harus benar-benar dicamkan. Kelihatannya perintah satu ini tidak dituruti dengan serius oleh jemaat Korintus dengan membiarkan orang-orang yang belum percaya untuk ikut serta.

Kalau begitu bagaimana ritual seder Pesakh sebenarnya? Mereka melakukan beberapa hal dalam minum anggur dan roti yang intinya adalah:

  1. Cawan berkat pengudusan (Anggurnya bukan fermentasi)

  2. Cawan Tulah (Nama-nama Tulah disebut sambil mencelupkan jari kelingking sebagai simbol berkurangnya sukacita.

  3. Shulen Orekh. Memakan matzah (Roti), Maror (Rempah pahit), Karpas (Selada), Kharoset (Campuran kacang tanah, apel dan madu)

  4. Memakan Afikomen. (Ada 3 roti) yang ditaruh dalam kantung, roti yang di tengah diambil dan dipatahkan, dibungkus dengan kain putih dan disembunyikan. Nama roti yang dipatahkan dan dibungkus kain putih disebut Afikomen yang artinya hidangan penutup. Afikomen inilah yang dilambangkan dengan tubuh dan darah Yesus

  5. Cawan Penebusan. Minum anggur ke-3 melambangkan penebusan Israel dari tulah Allah di Mesir. Yesus memakai anggur dalam cawan penebusan untuk melambangkan darahnya yang tertumpah untuk menyelamatkan manusia.

  6. Cawan pujian. Meminum anggur ke-4 yang merupakan penutup sebagai simbol ucapan syukur kepada Bapa Allah yang telah memberikan hal2 yang baik.

  7. Cawan Elia. Meminum anggur ke-5 sebagai tambahan, dalam tradisi Yahudi yaitu yang belum menerima Yesus, anggur ke-5 ini berisikan pengharapan terhadap Elia yang akan datang untuk meratakan jalan Mesias. (Mal 4:5-6).

Masalah Perjamuan Tuhan yang dilaksanakan di Gereja-gereja Kristen (Katolik, Ortodoks dan Protestantisme dengan ribuan sektenya) haruslah mempertanyakan apakah Roti dan Anggur adalah benar-benar tubuh dan darah Yesus?

Memang dari segi teks kita bisa membaca dalam Yohanes 6. Tapi persoalannya, ajaran - ajaran tentang Roti dan Anggur adalah Tubuh dan Darah Yesus adalah konsep-konsep yang diajarkan setelah semua rasul wafat: Ajaran teori Transubstansiasi adalah teori filosofis metafisika versi Roma Katolik yang direkayasa paskah wafatnya semua para rasul. Dengan demikian, konsep Transubstansiasi bukan ajaran rasuliah tapi formulasi Katolikisme dikemudian hari yang dasar-dasar argumentasi teologis dikutip dari kitab suci agar mendukung pendapat sekte besar ini. Demikian juga teori konsubstansiasi dari Martin Luther adalah konsep pemikiran Luther sendiri BUKAN apa kata Alkitab atau warisan dari rasul, melainkan hasil pemikiran Martin Luther yang kemudian konsep ini dicarikan data pendukung ayat-ayat Kitab Suci.

Gereja Ortodoks Timur dengan konsep ???????? (Metabole) di mana anggur dan roti berubah secara 'misteri' menjadi darah dan tubuh Yesus.

Kemudian, Gereja-gereja Kalvinis dan lainnya berteori sebagai "Simbol" saja, roti dan anggur yang mereka makan adalah simbol tubuh dan darah Yesus.

Semua tata cara perubahan roti dan anggur terjadi setelah diucapkan kata MANTRA UCAPAN YESUS DIUCAPKAN LAGI OLEH PEMIMPIN IBADAH DENGAN MEMBEO: Inilah tubuhKu dan inilah darahKu ...Perjanjian Baru... dan tiba-tiba menjadi tubuh dan darah Yesus. Ajaib super ajaib! Perdukunan dan klenik dalam gereja-gereja Kristen!

Pertanyaan kedua, sejak kapan Yesus mengadakan kontrak perjanjian baru dengan Gereja-gereja Kristen? Adakah orang non-Yahudi hadir saat Yesus mengadakan perjamuan kudus di Yerusalem? Tidak. Lalu kenapa orang Kristen mengaku sebagai umat Perjanjian Baru? Hanya karena Iman? Aneh! Kalau bisa seperti itu, sekarang saya beriman pergi ke Amerika dan mengaku saya warganegara AMerika Serikat saja!

Terkadang saya pusing 7 keliling dengan semua asumsi teologis Kristen yang tak satupun memiliki ketegasan historis dan mata rantai yang jelas terhadap Agama Yahudi/Israel, semuanya hanya klaim-klaim dan inovasi serta formulasi yang berakar dari pola pikir Hellenisme - Latinisme. Kita sungguh-sungguh tercerabut dari cabang pohon zaitun asli karena KESOMBONGAN kita sendiri dan berkhayal hanya dengan motto Sola Fide sudah selamat (Roma 11:17-21),  alangkah naifnya kita beragama yang hanya mengklaim ini dan itu tapi tak punya koneksi keterikatan dari mana Agama Kristen itu lahir.

Para sarjana teologi dicetak bukan untuk menemukan Kebenaran sejati dan menemukan benang merah Agama Kristen kepada asal usul aslinya, melainkan mereka dididik untuk melanjutkan kedegilan hati dan intelektualnya yang menyimpang dari akar Yudaisme!!! Sehingga kesalahan selama 2000 tahun terus diabadikan melalui kesarjanaan teologis yang semakin canggih dan profesional dalam berargumentasi untuk membenarkan KESOMBONGAN yang disebutkan rasul Paulus.

Penulis wacana Perjamuan Tuhan di atas hanya bisa membuat ilustrasi perbandingan-perbandingan dengan agama-agama lain begini dan begitu dan berasumsi ada adopsi praktek keagamaan dalam tradisi Kristen: khususnya Perjamuan Kudus. Jika pun ada pengaruh dan adopsi praktek keagamaan oleh Gereja Ortodoks dan Roma Katolik dan lainnya, apakah itu berarti menyelesaikan masalah dalam Tubuh Kekristenan? Apakah penulis mampu memberi solusi dan juga tahu mana Perjamuan Tuhan yang benar?

Saya meragukan si penulis artikel ini, bahwa penulis ini juga jatuh dalam konsep yang sama dengan menganut sistem perjamuan kudus yang dikembangkan dunia kekristenan selama berabad -abad menjadi "Valid Legalistis" atau sebaliknya membuat inovasi sendiri dengan metode konsep sudah ada dalam pikiran lalu mencari ayat-ayat pendukung dari inovasi konsep yang dibuatnya itu. ini sama saja mengulangi kesalahan yang sama!

Tidak ada satu pun pola Perjamuan Kudus Kristen itu yang sesuai Alkitab, kecuali sesuai konsep yang dikembangkan oleh para Bapa-bapa Gereja Kristen atau teolog Kristen.

Kita harus mengingat bahwa Yesus tidak pernah melantik magisterium pengajar Ajaran-ajaran Tuhan, kecuali Rasul-rasul Yahudi. Oleh karena itu, haruslah ada suksesi pengganti rasul (Kisah 23:14) yang otentik dimana benang merahnya bisa ditelusuri sampai kepada zaman rasul itu sendiri.

Sungguh mudah membuat Gereja seperti saya yang punya uang; saya bisa kuliah teologi dari program S-1 s/d S-3, lalu saya fasilitasi kenderaan dan kumpulkan orang-orang miskin dan saya ajari mereka berdoa dan bernyanyi serta saya kotbahi mereka, maka jadilah komunitas orang percaya yang disebut Gereja. Karena saya punya banyak uang saya bisa bangun Gereja besar di manapun, saya mampu membuat surat ijin dari Bimas Kristen.

Pertanyaannya apakah saya VALID di mata Tuhan?
Adakah saya memiliki Tahbisan Suksesi Rasuliah sebagai perpanjangan magisterium rasuliah yang dilantik Yesus? Ada banyak orang mengaku rohaniawan tanpa tahbisan suksesi rasuliah dan bahkan dengan pongahnya berani melawan fakta Kitab Suci yang menjelaskan Tradisi Suksesi Rasuliah demi ia disebut sebagai rohaniawan atau gembala gereja.

Mereka tak melawan manusia tapi Tuhan dan kelak penghakiman akan lebih berat kepada mereka (*Matius 7:21-23), bagaimana bisa mereka ini mengadakan Perjamuan Kudus sedangkan orang ini tak memiliki otoritas rasuliah?

Ini pertanyaan besar yang harus dijawab bagi mereka yang melakukan Perjamuan Tuhan, sebab Yesus merekomendasikan perihal ini kepada para murid-muridNya ketika itu dan selanjutnya para rasul merekomendasikan ini kepada para pengganti mereka sebagaimana halnya rasul Paulus dibaptis oleh murid 70, yakni Ananias dan ditahbiskan di Antiokhia menjadi Uskup / Rasul, kemudian Paulus mentahbiskan Timotius menjadi uskup di Efesus. Ini adalah fakta Kitab Suci, dan jika ada yang melawannya maka ia melawan Kitab Suci. 

Saya yakin bahwa Perjamuan Tuhan tidak dilakukan seperti yang biasa dilakukan di Gereja-gereja Kristen, itu semua hanya upacara keagamaan saja yang dilegalkan secara institusi gerejawi. Jika kita ingin melihat fakta otentik Perjamuan Kudus yang benar seharusnya kita kembali kepada Gereja Yerusalem Yahudi yang biasa disebut Nasrani yang kebiasaan mereka ada diwarisi Gereja Assyria yang difitnah oleh Gereja-gereja Kristen Barat sebagai Gereja Nestorian yang bida'a.

Sekarang ini dengan keterbukaan media informasi tak mudah lagi lembaga Gereja-gereja membodohi umatnya sebab setiap orang sudah bisa mengakses informasi dan menentukan sendiri apa yang menurut nalar mereka adalah benar, kita bersyukur Tuhan telah memberikan kemampuan intelektual manusia begitu tinggi sehingga arus tehnologi informasi bisa dimanfaatkan setiap orang.

Semua orang percaya masa kini dituntut kritis terhadap iman percaya mereka terhadap dogma dan doktrin gerejawi yang disuguhkan kepada umat, tidak bisa lagi seorang rohaniawan melakukan persuasi dan propaganda iman tanpa dikritisi oleh pendengarnya.

Sekali lagi, mungkinkah roti dan anggur yang kita pegang dan makan-minum itu benar-benar tubuh dan darah Yesus? Jika tata caranya saja salah bagaimana bisa menjadi Tubuh dan Darah Yesus? Jika anda membuat teori salah maka hasilnya juga salah....

Marilah kita berpikir kembali ke masa 2000 tahun lalu, bagaimana Perjamuan Kudus itu dilakukan Yesus!

Semoga tulisan ini memberikan percikan nuansa kritis bagi pembaca dan menemukan pencerahan...

Salam damai Yesus bagi kita semua,


Gregory

Tinggalkan Komentar