Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are hereKonseling / Ketika Hati Anda Terluka

Ketika Hati Anda Terluka


Penulis : Floyd Mc Lung

Ia seorang remaja putri yang pemalu, dan agak lebih tinggi dibandingkan kebanyakan remaja lainnya.Saya sangat lelah.Saya enggan berbicara dengan seorang gadis remaja yang pemalu.Saya baru saja selesai mengajar sekelompok orang Afrika Selatan tentang Hati Allah Bapa, dan saya benar-benar ingin istirahat.Namun, saya merasa saya harus mendengarkan baik-baik apa yang gadis ini ingin katakan.

Pertanyaan-pertanyaannya seperti tidak berarti pada awalnya, tetapi kemudian saya mulai bertanya-tanya dalam hati apakah ia sedang berusaha menyampaikan sesuatu yang lain.Saya menunggu.Ketika ia selesai bicara, Saya bertanya apakah ada hal lain yang ingin ia sampaikan.Ia tampak lega.Ia duduk disebelah saya di ruang pertemuan kecil dan sesak itu dan berbisik di telinga saya, bolehkah saya menangis di bahu Anda? Tentu jawab saya, tetapi apakah kamu dapat memberitahu saya mengapa?

Matanya berlinang air mata ketika ia menceritakan kisahnya.Ayahnya telah meninggal ketika ia masih kecil.Sejak itu ia tidak mempunyai bahu siapa pun untuk menangis, tidak ada ayah untuk diajak bicara tentang pertanyaan-pertanyaan yang ada padanya, tentang kekecewaannya, prestasinya di sekolah dan rencana-rencananya.Ada kepedihan di dalam hatinya ketika ia merindukan lengan ayahnya yang besar dan penuh kasih yang dahulu biasa merangkul dan menghiburnya.

Ia menangis di bahu saya tanpa malu-malu, kemudian kami berbicara kepada Bapa kami di surga.Bersama-sama kami meminta kepadaNya untuq menyembuhkan kepedihannya dan mengisi kekosongan dalam hidupnya.

Dan Dia melakukannya.Saya bertemu gadis ini beberapa tahun kemudian ketika saya kembali ke Afrika Selatan.Mula-mula saya tidak mengenalinya, tetapi ketika ia mengingatkan saya akan doa khusus kami, saya kembali ingat kejadian itu.Ia berterima kasih kepada saya untuk saat kebersamaan kami dan menceritakan bagaimana kejadian tersebut membuat segalanya berbeda.Dalam waktu yang singkat itu ia telah mengalami hati Bapa.

Wanita muda ini telah menderita suatu luka emosional yang sangat dalam, yang menghalanginya menikmati sepenuhnya hubungan dengan Bapa.Dunia kita penuh dengan orang-orang yang menyimpan luka-luka yang tidak kelihatan , sebagaian besar berasal dari masa kecil mereka, tetapi juga banyak yang terluka karena tekanan dan persoalan kehidupan modern.Allah Bapa kita ingin menyembuhkan luka-luka tersebut dengan memastikan persekutuan yang manis dan tulus dengan anak-anakNya.

Alkitab berbicara secara khusus mengenai perlunya kesembuhan luka-luka emosional dan menggambarkan ini sebagai bagian dari proses pentahiran.Dalam PL, penulis kitab Yesaya menunjuk kepada masa yang akan datang ketika Allah akan mengutus seorang juruselamat untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan keegoisan .Ia menggambarkan juruselamat sebagai seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan(Yes 53:3).Selanjutnya dikatakan bahwa penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, dan bahwa oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

Kesembuhan ini ialah untuk kesalahan egoisme kita maupun akibat dari sikap kita yang egoisparut dan luka yang kita simpan dalam kepribadian dan perasaan kita.Dalam Yesaya 61 penulis berkata bahwa Juruselamat ini akan menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara(dan) merawat orang-orang yang remuk hatimemberitakan pembebesan kepeada orang-orang tawanan dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara(ayat 1).Mereka yang beruka akan diberi minyak untuk pesta(ayat 3).Dalam Mazmur 34:19 Daud berkata bahwa Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang remuk jiwanya.Dalam Mazmur 147:3 Ia berkata bahwa Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.Ini adalah kabar baik untuk dunia yang hancur.

Walaupun Allah telah menawarkan segalanya kepada kita, banyak orang masih membayangkan Ia duduk di surga, terpisah dari realitas kepedihan dan kekerasan dunia yang jatuh ini.Mengapa Ia menciptakan kita untuk kemudian meninggalkan kita? mereka bertanya dengan getir.

Namun, Allah bukanlah penyebab masalah kita, dan Ia tidak meninggalkan kita sendirian dalam penderitaan kita.Ia datang dan tinggal diantara kita.Ia menjadi manusia.Ia menanggung segala kesengsaraan kita, bahkan lebih lagi .

Ia menciptakan manusia, tetapi manusia menolak Dia.Ia mengirim utusan dan nabi untuk mengingatkan manusia bahwa Dialah pencipta mereka, tetapi mereka merajam nabi-nabi dan membunuh utusan-utusanNya.Maka akhirnya Allah mengutus Yesus untuk menyatakan diriNYa.Sang pencipta melangkah masuk ke dalam ciptaanNya, tetapi ciptannya itu menolak untuk mengakui Dia.Dan sesungguhnya, mereka menyalbikan Kristus di kayu salib.Lalu, apa yang dilakukan Sang Pencipta?Ia mengubah kekejaman manusia yang terbesar itu menjadi sumber pengampunan manusia!Kita membunuh Dia, tetapi Ia memakai tindakan kita yang paling egois untuk menjadi sumber pengampunan kita.

Yesus Kristus adalah penyembuh orang yang terluka .Ia tahu bagaimana perasaan kita dapat terkuka.Benar, Ia telah dicobai dengan setiap pencobaan yang telah kita alami.Ia tahu bagaimana perasaan kita dapat terluka.Benar, Ia telah di cobai dengan setiap pencobaan yang telah kita alami.

Kelahiran-NYa sendiri dipertanyakaan, dan reputasi Ibu-Nya difitnah.Ia lahir dalam kemiskinan.SukuNya terasing dan ditempat asalnya Ia di olok-olok.Ayahnya mati ketika ia masih muda dan pada tahun-tahun kemudian Ia berkelana di jalan-jalan dan kota-kota tanpa tempat tinggal.Ia disalah pahami dalam pelayananNya.Semua itu Ia lakukan untuq Anda dan saya.Ia lakukan itu untuk menyatukan diri dengan kelemahan kelemahan kita:Sebab Imam Besar yang kita punyai, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.Seba itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita mendapat pertolongan kita pada waktunya(Ibr 4:15-16)

Allah Bapa mengutus Yesus Kristus ke dalam dunia untuk menjembatani keterpisahan kita dariNya.Keterpisahan karena keegoisan kita itu merupakan pusat dari banyak luka emosional.Jika dibiarkan tanpa ditangani, seringkali hal itu berkembang menjadi apa yang saya sebut sebagai sindrom Saul, yang menyebabkan keterasingan dari Allah dan orang lain.Yesus datang untuk membawa pendamaian sebagai ganti keterasingan, kesembuhan sebagai ganti luka, dan keutuhan sebagai ganti kepribadian yang terkeping-keping.

SINDROM SAUL..

Ia seorang laki-laki jangkung yang menarik banyak perhatian.Warna rambutnya yang kemerah-merahan dan janggutnya yang dipotong rapi membuatnya semakin gagah.Ia bersikap sebagai seorang raja dan kemanapun ia pergi, mata orang mengikutinya.

Ia mempunyai kemampuan untuk menarik banyak orang kepada dirinya, untuk mengerahkan mereka bagi suatu tujuan dan mengilhami mereka untuk perkara-perkara besar.Orang-orang tidka takut untuk memepercayakan mimpi-mimpi rahasia dan pengharapan mereka kepadanya.Ia seorang pemimpin diantara pemimpin.

Paling tidak itulah yang mereka pikir.

Dibawah bahu yang bidangdari pemimpin yang jangkungdan bertampang hebat ini terdapat hati yang dipenuhi kecemburuan dan ketakutan.Begitu dalam rasa tidak amannya, begitu tidak pasti dasar kepribadiannya,sehingga sedikit gejala kebesaran orang lain yang ada disekitarnya dianggap sebagai ancaman terhadap kedudukannya.

Kebanyakan dari pengikutnya begitu terpesona terhadap kemampuannya memimpin dan berkomunikasi sehingga mereka tidak melihat keinginannya yang fanatik untuk mempunyai kekuasaan yang mutlak.Tetapi, beberapa pria yang tanggap mulai ragu-ragu.

Kecemerlangannya dalam strategi perang dan kemampuannya yang luar biasa untuk melakukan yang tepat pada waktu yang tepat meyakinkan pengikut-pengikutnya yang tidak dekat dengannya akan kehebatannya, tetapi membingungkan mereka yang dekat dengannya.Dia adalah orang yang diurapi Tuhan, pikir mereka.Tampaknya ia selalu benar.Mereka tidak mau memikirkan tentang yang nyata:pelanggaran-pelanggarannya terhadap prinsip, kekurangan pengabdiannya, ketidak relaannya untuk mempromosikan orang lain, kemarahannya dan ketidasabarannya, semua itu membuatnya tidak memenuhi persyratan seorang raja.Sesungguhnya, mereka sangat bingung dan malu terhadap ledakan amarahnya yang tersembunyi dan serangan-serangan kemurungan dan depresi.

Akhirnya ada satu orang yang tidak lagi bingung tentang karakter raja ini: Samuel, yang telah mengurapinya sebagai raja.

Dalam suatu tindakan yang taat, nabi ini telah mengurapi kepala raja dengan minyak, berdoa baginya, dan dengan berbuat demikian meneguhkan laki-laki ini untuk memerintah suatu bangsa.Berbeda dengan orang lain, Samuel tidak terkesan dengan kekuatannya sendiri.Ia telh belajar sejak masa kanak-kanak bahwa hanya ada satu tanggapan yang dapat diterima atas panggilanNya:ketaatan yang tulus seperti anak-anak.

Dan sekarang hatinya gusar.Bukan dengan kemarahan yang tak terkendali, melainkan dengan kemarahan yang sdh selayaknya.Cukup sudah.Ia telh menunggu dengan sabar, mengawasi kehancuran di dalam kerajaan karena ketidakjujuran dan ketidaktaatan sang raja.Ia melihat kegelisahan raja yang amat dalam.Pergumulannya yang menyakitkan untuk mendapatkan penghargaan dan keamanan dalam puji-pujian pengikutnya.Nabi telah bergumul bermalam-malam mengenai raja, dalam doa syafaat dan deraian air mata.Ia telah berpuasa berhari-hari , memohon Allah untuk mengubah sikap raja, dan untuk menolongnya mendapatkan rasa aman itu dalam perkenanAllah.Tetapi semua itu sia-sia.

Lalu datanglah firman Tuhan kepada Samuel:Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul Raja, sebab ia telah berbalik daripada aku dan tidak melaksanakan firmanKu(I Samuel 15:10)

Dalam beberapa detik konfrontasi yang dasyat, segalanya telah berlalu; otoritas raja diambil daripadanya.Ia tetap pada kedudukannya-benar-tetapi itu bukan jaminan akan otoritasnya.Tetapi otoritas datang dari watak, dari ketaatan dan pengurapan Allah.

Penyelidikan yang cermat atas kehidupan Saul menunjukkan suatu polasuatu daur yang mengerikan dan nyata dari perasaan rendah diri dan luka-luka emosionalSindrom Saul

I Samuel 15:17 berkata bahwa Saul kecil dalam pemandangannya sendiri Ini tidka bias disalahartikan sebagi kerendahan hati, sebab jika itu yang dimaksud Samuel, maka tidak perlu mengganti sauls ebagai Raja.Yang dikatakan Samuel ialah bahwa meskipun Saul merasa dirinya kecil dan memandang rendah dirinya sendiri, ia tetap bertanggung jawab atas segala perbuatannya di hadapan Allah.Rasa rendah diri bukanlah alasan untuk tidak taat.

Dalam 1 Samuel 15 ditunjukkan karakteristik Saul berkenaan dengan kompleks rendah diri yng tidak ditangani itu: keras kepala(degil) dan pemberontakpendurhakaan(pemberontakan) adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala(ayat 23), sombong ---Saul telah ke Karmel tadi dan telah didirikannya baginya suatu tanda peringatan(ayat 12), takut kepada manusiaAku telah berdosa tetapi aku takut kepada rakyat(ayat 24), dan tidak taatMengapa engkau tidak mendengarkan suara Tuhan?sesungguhnya mendengarkan(menaaati) lebih baik daripada korban(ayat 22).Digambarkan dengan sederhana, sindrom Saul ialah sebagai berikut:

RENDAH DIRI => BERONTAK => SOMBONG => TAKUT KEPADA MANUSIA => TIDAK TAAT => RENDAH DIRI dst.

Persoalan yang satu menyebabkan persoalan yang lain.Jika kita tidak menangani luka-luka bathin menurut cara Allah, hal itu akan membuat kita memberontak kepada Allah, yang selanjutnya menghasilkan kesombongan.Kesombongan adalah lebih banyak mempedulikan apa kata orang daripada apa kata Tuhan, yang menghasilkan takut akan manusia.Takut kepada manusia pasti akan mengakibatkan ketidaktaatan.Mungkin saja kita masih berbuat banyak untuk Tuhan, tetapi kita menjalankan suatu agama yang terdiri dari pekerjaan yang mati.

Orang-orang yang PALING TERLUKA yang saya kenal juga adalah orang-orang yang PALING SOMBONG DAN PALING MANDIRI.Luka-luka bathin membuat kita sangat rentan terhadap sindrom yang ganas ini dan tak seorangpun yang kebal terhadapnya.Untuk membantu mengenali sindron saul ini, saya telah melukiskan beberapa gejala yang tampak bekerja dalam kehidupan kita sehari-hari:

  • Penarikan diri atau pengucilan diri.Sindrom Saul menyebabkan kita memisahkan diri dari orang lain.Penarikan diri dapat merupakan cara untuk menutupi atau membenarkan penolakan kita untuk mengampuni merek yang menyakiti kita atau berkompromi dengan mereka yang tidak sependapat dengan kita.
  • Sifat ingin memiliki(posesif).Mentalitas pelayananku, kelompokku, pendapatku, pekerjaanku, tempatku di gereja adalah mementingkan diri sendiri dan berasal dari sikap membangkang.Alkitab mengajar bahwa pemberontakan/pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenungitu datangnya dari neraka(I Samuel 15:23).Sikap aku dulu adalah dosa.
  • Mental kami versus mereka.Ketik kita terperangkap dalam sindrom Saul, kita mulai berpikir dalam istilah kami dan merekamereka yang setuju dengan kami versus mereka yang tidak setuju.Pola pikir ini menandai bukan saja kita tidak sepaham, tetapi juga menghakimi orang lain dan menciptakan perpecahan dalam gereja.
  • Manipulasi.Orang yang sombong dan terlalu mandiri dapat bersikap manipulatif dengan menolak bekerja sama, menuntut caranya sendiri, mengritik, atau terus menghakimi apa yang dikerjakan oleh orang lain.Kita me-rohani-kan dalih-dalih kita, dan itulah sebabnya mengapa manipulasi kita dapat lebih berbahaya.
  • Tidak mau diajar.Sindrom Saul menyebabkan kita tertutup bagi orang lain.Kita menolak untuk menerima koreksi dan ajaran dari orang lain.Hati kita menjadi sangat keras.
  • Sikap suka mengritik dan menghakimi.Kita membenarkan hal ini dengan berbagai cara, tetapi semuanya itu dapt disederhanakan menjadi fitnah dan menghakimi motivasi orang lain.
  • Tidak sabar.Kita ppikir cara kita lebih baik, dan menolak untuk menunggu orang lain yang tidak setuju atau tidak mengerti.
  • Curiga/tidak percaya.Sindrom Saul membuahkan kecurigaan.Kita menuduh orang lain tidak mempercayai kita, tetapi seringkali itu hanyalah proyeksi dari ketidakpercayaan kita sendiri, mencerminkan kemandirian kita dan berkaitan lebih banyak dengan kebutuhan kita daripada kebutuhan orang lain.
  • TIdak setia.Memanfaatkan keraguan, luka hati atau kebutuhn orang lain untuk berpihak kepada kita, dan bukan membangun kesatuan, kasih dan pengampunan serta pendamaian.
  • Tidak berterima kasih.Kita berfokus kepada apa yang kita pikir seharusnya dilakukan untuk kita daripada seberapa banyak yang sudah dilakukan untuk kita.
  • Idealisme yang tdiak sehat.Kita memberhalakan suatu cara/metode, standar atau program dan menempatkannya diatas orang, khususnya mereka yang tidak sependapat dgn kita.Hal-hal yang ideal menjadi lebih penting daripada kesatuan atau sikap hati yang benar.

Meskipun sindrom Saul seringkali hanya merupakan suatu gejala dari rasa terluka dan rasa ditolak yang tidak diselesaikan, hal ini tetap egois dan salah, dan harus ditangani dengan tidak tanggung-tanggung.Tidak ada masalah pemberontakan atau rasa rendah diri yang tidak bisa ditangani dengan kerendahan hati dan kehancuran hati yang sungguh-sungguh..

Alkitab menjanjikan bahwa jika kita merendahkan hati, maka Allah akan mengasihani kita(Yak 4:6,7)Kita takut direndahkan, tetapi itu bukan yang dimaksud Allah ketika dikatakan bahwa kita harus merendahkan hati.Kerendadahan hati ialah kerelaan untuk berdiri di pihak Allah menentang dosa kita sendiri.Banyak orang akan lebih menghormati kita, dan bukan sebaliknya, jika kita merendahkan hati dan mengakui kebutuhan kita.Saya percaya Allah senantiasa menghargainya.

Jika Anda terperangkap dalam sindrom Saul ini, Anda tidak akan pernah bebas sebelum Anda menerima tanggung jawab untuk bertobat dari sikap yang salah ini.Tidak ada gunanya menyalahkan orang lain untuk persoalan Anda, atau berdalih untuk dosa Anda, Rendahkanlah hati Anda di hadapan Allah dan orang lain.Berserulah kepadaNya dalam doa yang sungguh-sungguh.

Bertahun-tahun yang lalu saya melihat gejala ini dalam hidups aya sendiri.Saya disakiti oleh rasa tidak aman yang sangat mendalam, namun saya juga amat sombong dan terlalu mandiri.Saya rindu untuk diterima dan diakui tetapi terlalu sombong untuk mengakui kebutuhan saya akan bantuan.Saya dihantui oleh apa pendapat orang lain tentang diri saya, khususnya pemimpin-pemimpin lain.Hanya ketika saya merendahkan hati di hadapan orang lain dan bertobat di hadapan Allah, Dia melepaskan saya dari sindrom Saul ini.Saya membuat perjanjian dengan Allah bahwa saya ingin Dia membereskan hal-hal tersebut dalam hidup saya, lebih daripada saya menginginkan kepemimpinan, perhatian, atau penerimaan dari orang lain.Saya menyebutnya sebagai perjanjian Yusuf.Suatu hari saya berada berdua saja dengan Allah di sebuah hutan di Belanda dan saya berseru kepadaNya.Saya katakana kepada Bapa bahwa berapapun harga yang harus saya bayar, saya ingin supaya Dia mencabut keluar dari hidup saya pemberontakan, kesombongan dan ketakutan saya kepada manusia.

Saya katakana kepada Allah bahwa saya dapat menunggu sepanjang 12 tahun seperti Yusuf di Mesir, tetapi saya tidak mau mengambil jalan pintas untuk membenarkan hidup saya di hadapan-Nya.Itu doa yang sangat mahal, tetapi saya tidak pernah menyesal.Allah mendengar saya pada hari itu dan membuat beberapa perubahan penting dalam hidup saya.

Bebas dari rasa takut kepada manusia.

Kita tidak akan pernah benar-benar bebas untuk mengasihi Allah Bapa jika kita dikuasai oleh takut kepada manusia.Alkitab mengatakan bahwa takut kepada orang mendatangkan jerat, mendatangkan perangkap.Kita menjadi tawanan dari rasa takut, selalu khawatir tentang apa pendapat orang lain, didominasi oleh perbuatan orang lain dan bukan firman Allah.Apakah Anda merasa bahwa Anda selalu menengok ke belakang, berusaha untuk memusingkan apa yang orang-orang katakana tentang Anda?Apakah Anda menentukan tindakan Anda berdasarkan penilaian manusia daripada apa yang berkenan kepada-Nya.Jika iya, Anda terikat oleh takut kepada manusia.

Obat untuk takut kepada manusia ialah takut akan Allah!.Takut akan Allah buknalah suatu ketakutan secara emosional, atau takut akan murka Allah.Alkitab memberi defenisi yang jelas tentang takut akan Allah:

  • Takut akan Allah ialah membenci dosa.Amsl 8:13 berkata,Takut akan Tuhan ialah membenci kejahatan
  • Persahabatan dan keakraban dengan Allah sama dengan takut akan Tuhan.Mazmur 97:10 mengatakan, Hai orang-orang yang mengasihi Tuhan, bencilah kejahatan! dan Mazmur 25:14 mengatakan, Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia.
  • Takut akan Tuhan ialah menghormati-Nya dan takjub kepadaNya.Mazmur 33:8 berkata, biarlah segenap bumi takut kepada Tuhan, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia!
  • Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat dan pengetahuan.Amsal 1:7 mengatakan, Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.

Takut akan Tuhan tidak ditunjukkan dengan semacam tampang suci di wajah Anda, juga bukan dengan semacam suara yang bergetar ketika Anda berdoa.Itu tidak dinyatakan melalui gaya Anda berpakaian atau berapa banyak peraturan yang telah Anda taati.

Secara sederhana, takut akan Allah berarti mengasihi-Nya sedemikian rupa sehingga kita membenci apa yang Dia benci.Kebencian seperti ini tidak lahir dari kefanatikan agamawi, atau refleksi dari kebudayaan kita.Takut akan Tuhan datang dari keakraban dengan-Nya, sehingga selaras dengan karakternya, kita mengasihi apa yang Dia kasihi dan membenci apa yang Ia benci.Takut akan Tuhan bukanlah kemarahan yang membabi buta melainkan kemarahan terhadap dosa yang membinasakan.Takut akan Tuhan adalah melihat kekuatan dosa yang kejam, menipu, menindas dan menghancurkan, dan membencinya karena dosa adalah dosa.

Takut akan Tuhan tidak terjadi secara kebetulan.Hal itu tinggal di dalam kita karena kita memilih untuk takut akan Dia(Amsal1:28, 29, 2:1-5), dan mengutamakan-Nya dalam hidup kita.Takut akan Tuhan datang karena kita muak dan jemu dikuasai dan dimanipulasi oleh takut kepada manusia, oleh dominasi ketakutan kita sendiri dan rasa tidak aman.Takut akan Tuhan datang karena kita berseru dan mencari-Nya, mengejar-Nya dan merindukan-Nya dengan sangat.

Sindrom Saul dapat dipatahkan.Anda dapat dibebaskan, tetapi ada harga yang harus dibayar.Jika Anda menginginkan kesembuhan bathin dan mengenal kasih Bapa, anda harus memilih untuk takut akan Dia.Amsal 14:26 mengatakan, Dalam takut akan Tuhan ada ketentraman yang besar.Adalah kerendahan hati dan takut akan Tuhan yang akan membawa kita kepada hati Allah Bapa, dan membimbing kita kepada keutuhan dan harga diri.

Bagaimana Allah memulihkan hati yang luka..

Dalam tulisan yang lain, saya telah menyusun langkah-langkah menuju kesembuhan dari luka-luka emosional dan psikologis.Saya tidak memasukkan langkah-langkah tersebut sebagai resep ajaib atau jimat untuk dilambai-lambaikan ke hadapan wajah Allah.Kebenaran dari tiap-tiap langkah itu harus diterapkan dalam hidup kita ketika kita siap untuk itu dengan bimbingan Roh Kudus(jika Anda tidak tahu bagaimana cara dibimbing Roh Kudus, mintalah kepadaNya untuk menolong Anda.Dia berjanji akan menolong mereka yang meminta kepadaNya.Ambil tiap langkah dan terapkan secara pribadi ke dalam keadaan Anda.

Jika masalah Anda kompleks, Anda mungkin membutuhkan bantuan dari seorang penasihat yang professional atau seorang psikolog.Pada tulisan lain terlampir pedoman untuk memilih penasihat yang professional atau psikolog.Anda mempunyai hak untuk bertanya kepada mereka sebelum mengijinkan mereka menanyai Anda.Jangan sekali-kali membiarkan diri Anda ditolong atau dinasehati seseorang kecuali Anda merasa aman terhadap orang tersebut dan yakin bahwa ia memang terampil dan cakap.

Kita tidak harus hidup dalam luka emosional yang permanent.Karena kasih bapa Surgawi kita kepada kita dan karena Yesus telah menderita untuk kita, kita tidak perlu terus menanggung luka-luka tersebut seumur hidup kita.Kita dapat dipulihkan dan dibebaskan untuk hidup dalam sukacita kasih-Nya.Namun, kita harus bersedia membayar harganya.

Tinggalkan Komentar