You are hereKasih

Kasih


Semangat Berkasih Sayang sticky icon

Shalom,

Mana yang lebih penting menurut Anda: Menyayangi atau Disayangi? Tentunya akan sangat indah bila kita disayangi dengan tulus dan apa adanya, bukan? Namun, menyayangi juga adalah hal yang penting dan merupakan kewajiban. Dengan menyayangi dan bahkan mencintai, kita dapat membagikan "bukti" cinta kasih Allah yang terlebih dahulu mengorbankan Anak-Nya yang tunggal bagi kita para pendosa.

Karena itu, menginjak bulan yang diidentikkan dengan Bulan Kasih Sayang ini, mari bersama-sama membagikan cinta kasih kita. Kepada siapapun itu: keluarga, pasangan, sahabat, bahkan orang yang kita benci sekalipun.

Namun perlu diingat, menyayangi butuh suatu tindakan. Menyayangi hanya dengan ucapan tidak berarti banyak. Jadi, mari kita buat bulan ini sebagai momen kita membagikan kasih Tuhan. Namun tidak hanya berhenti pada bulan ini, sampai bulan-bulan yang akan datang, semangat "valentine" harus selalu hadir dalam hati kita. Selamat berkasih sayang!

Kasih Seorang Ibu

Oleh: Sidiq Prasetyo

Jalannya sudah tertatih-tatih, karena usianya sudah lebih dari 70 tahun, sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar rumah. Walaupun ia memunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal di rumah jompo, karena kehadirannya tidak diinginkan. Masih teringat olehnya, betapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya tersebut. Ayah dari anak tersebut minggat setelah menghamilinya tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya.

Di samping itu keluarganya menuntut agar ia menggugurkan bayi yang belum dilahirkan, karena keluarganya merasa malu memunyai seorang putri yang hamil sebelum nikah, tetapi ia tetap mempertahakannya, oleh sebab itu ia diusir dari rumah orang tuanya. Selain aib yang harus ditanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yang mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yang ia dapatkan hanya cemoohan, karena telah melahirkan seorang bayi haram tanpa bapa.

Mengasihi Allah dengan Segenap Hati

Oleh: Ev. Sudiana

Matius 22:37-40 “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu..” Hukum pertama dan terutama ini bukan saja disampaikan oleh Yesus, tetapi pesan ini sudah dituliskan dalam Perjanjian Lama.

Ulangan 6:4-5 “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Bahkan dalam kitab Ulangan lebih ditekankan lagi “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (Ulangan 6:7-9).

Surat Kasih dari Sang Bapa

Oleh: Kristian Ari Prabowo

Anak-Ku, mungkin engkau tidak mengenal-Ku, tetapi Aku mengenal segala sesuatu tentang dirimu. Aku tahu waktu engkau duduk atau berdiri. Aku mengerti segala jalanmu. (Mazmur 139:1-3)

Bahkan setiap helai rambut kepalamu terhitung semuanya. (Matius 10:29-31)

Karena engkau diciptakan menurut gambar-Ku. (Kejadian 1:27)

Di dalam-Ku engkau hidup, engkau bergerak dan engkau ada, sebab engkau adalah keturunan-Ku (Kisah Para Rasul 17:28)

Aku mengenalmu bahkan sebelum engkau ada dalam kandungan. (Yeremia 1:5)

Kontraktor

Oleh: Herwin

Bagaimana perasaan kita jika kita baru saja kita memasuki rumah yang baru direnovasi, akan tetapi ternyata banyak yang retak-retak dan rusak? Apakah kita akan memanggil kontraktor yang merenovasi rumah kita tersebut, ataukah kita akan mencari saja kontraktor yang lain untuk memperbaiki rumah kita? Tentu kita akan mengambil opsi yang pertama, bukan? Kita akan memanggil kontraktor yang telah merenovasi rumah kita dan meminta pertanggungjawabannya atas kerusakan rumah yang baru direnovasinya itu. Apakah pola berpikir seperti ini masuk akal bagi kita? Apakah kita sendiri mau bila diminta untuk mempertanggungjawabkan sesuatu yang bukan kita perbuat?

Ketika Allah Melangkah Keluar

Baca: Kolose 1:15-20

Kita tidak perlu bertanya-tanya seperti apakah Allah itu. Kita juga tidak perlu bertingkah seperti anak kecil yang menatap ke langit dan bertanya kepada ibunya, "Apakah Allah ada di atas sana?" Ketika ibunya meyakinkan anak itu bahwa Allah ada di atas sana, si anak menanggapi, "Bukankah lebih baik bila Ia memperlihatkan wajah-Nya supaya kita dapat melihat-Nya?"

Apa yang tidak dimengerti anak tersebut ialah bahwa Allah telah mengizinkan kita untuk melihat-Nya. Dengan mengutus Anak-Nya, Yesus, ke dunia, Bapa di surga benar-benar memperlihatkan diri-Nya sendiri. Yesus adalah Allah "yang menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia" (1 Tim. 3:16). Ia mengatakan dengan jelas kepada Filipus, "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yoh. 14:9). Para ahli teologi menyebut kebenaran ini sebagai inkarnasi.

Kasihilah Musuhmu

Oleh: Imelda Seloadji

Dia mendapat cuti sampai empat bulan. Tiga bulan cuti melahirkan, satu bulan cuti liburan. Dia suka datang terlambat, dan di jam kerja kadang-kadang menghilang untuk berenang di club atau minum kopi. Dia membuat anak buahnya menangis karena tertekan. Dia dinilai tidak punya kemampuan oleh koleganya. Masih banyak lagi alasan untuk tidak menyukai orang ini.

Seberapa dalam Kita Mengasihi-Nya?

Oleh: Denny Teguh Sutandio

Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Matius 22:37)

Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. (1Yoh. 5:2-4)

Mengasihi Hingga Sakit, Memberi Hingga Tak Tersisa

Penulis : Lesminingtyas

Beberapa minggu yang lalu hidup saya dibuat pontang-panting oleh Uwa; pembantu yang mengasuh si bungsu Mika. Nenek tua itu kembali sakit. Saya pun membawa Uwa ke dokter praktek yang berjarak kurang lebih 50 meter dari rumah. Menurut dokter, tekanan darah Uwa cukup tinggi, yaitu 180/110. Namun saya cukup tenang karena dokter berjanji akan memberikan obat penurun tekanan darah.

Kasih

Seekor anak anjing yang kecil mungil sedang berjalan-jalan di ladang pemiliknya. Ketika dia mendekati kandang kuda, dia mendengar binatang besar itu memanggilnya. Kata kuda itu : "Kamu pasti masih baru di sini, cepat atau lambat kamu akan mengetahui kalau pemilik ladang ini mencintai saya lebih dari binatang lainnya, sebab saya bisa mengangkut banyak barang untuknya, saya kira binatang sekecil kamu tidak akan bernilai sama sekali baginya." ujarnya dengan sinis.