Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are here


Kebahagiaan Sejati sticky icon

Apakah arti "bahagia" menurut Anda? Bagi sebagian orang, bahagia adalah suatu keadaan di mana segala kebutuhan kita dapat terpenuhi. Di mata dunia, orang yang berbahagia pasti memunyai harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, nama yang termahsyur, dan sebagainya. Namun, Firman Tuhan memberikan "resep" sederhana untuk mencapai kebahagiaan. Dengan bersyukur senantiasa. Ya! Memang terkesan mudah, namun ternyata sulit untuk dilakukan.

Karena itu, marilah kita belajar menjadi pribadi yang bisa lebih bersyukur. Bersyukurlah untuk segala anugerah-Nya, juga untuk cobaan dan ujian yang kita alami. Terlebih pada momen kenaikan Juruselamat kita pada akhir bulan ini. Mari jadikan hari-hari kita bermakna dengan terus mengucap syukur.

Syndicate content

Adakah Makna Paskah Telah Kehilangan Arah?

Oleh: Yon Maryono

Perayaan Paskah telah berlalu bersama waktu. Sederetan acara dalam liturgi dan perayaan Paskah, dimulai dari Penderitaan, Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus, kelihatan sedemikian pentingnya. Liturgy didasarkan bacaan Alkitab yang bersumber dari leksionary telah dipersiapkan 5 pekan berturut-turut. Rangkaian proses liturgi disertai drama tentang jalan salib, dan kotbah tentang pengalaman Maria telah melihat Tuhan, adalah bagian dari prosesi yang diharapkan mampu menggugah jemaat terhadap peristiwa kurang lebih 2000 tahun yang lalu. Demikian pula kotbah dan perayaan di bebeapa denominasi Gereja tidak kalah meriahnya. Kotbah Paskah selalu mengingatkan anak-anak Allah tentang penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus serta menerima tubuh dan darah-Nya, sehingga mereka kembali pada cara hidup yang kudus dan selalu siap diutus berbagi hidup bagi dunia.

Untuk Kamu Ketika Kamu Tak Mampu Lagi Bersyukur

Oleh: Kenia Oktavianie

Malam itu, di tengah gerimis dan senyapnya malam Jakarta, ketika sebagian orang sedang beristirahat atau menikmati malam minggu yang begitu panjang, kulihat seorang anak kecil yang tidak biasa. Usianya mungkin seumur dengan salah seorang saudaraku yang duduk di bangku kelas 6, ia sedikit kurus, berambut cepak dan menggunakan kaos warna merah.

Ketaatan yang Tak Bertangguh

Oleh: Kenia Oktavianie

Bacaan: 1 Raja-Raja 13:1-34

"Sebab beginilah diperintahkan kepadaku atas firman TUHAN: Jangan makan roti atau minum air dan jangan kembali melalui jalan yang telah kautempuh itu."

Alkisah seorang abdi Allah dari Yehuda datang menemui raja Yerobeam untuk menyampaikan pesan Tuhan. Singkatnya Ia berhasil membuat sang Raja tertegur, bahkan mengadakan banyak mukjizat. Tetapi ada satu hal yang Tuhan perintahkan kepada abdi Allah ini, yaitu untuk jangan minum roti atau minum air, dan jangan kembali melalui jalan yang telah ia tempuh. Awalnya, abdi Allah ini taat tanpa pertangguhan.

Kekuatan Seorang Wanita, Pribadi yang Allah Inginkan

Oleh: Kenia Oktavianie

"Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan." (Amsal 31:25)

Pagi itu di kelas "Teaching Children with Diverse Ability" ada sesuatu yang berbeda, sedikit mengusik hati saya, dan membuat saya tersentuh. Ya, seorang dosen tamu, Ms. Suzane membawakan kuliah pagi itu. Ia bukan seorang wanita biasa, ia wanita luar biasa. Bagi seorang pengidap "celebral palsy" atau "lumpuh otak" (suatu kondisi terganggunya fungsi otak dan jaringan saraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaran, penglihatan, kemampuan berpikir) adalah suatu hal terlihat begitu sulit untuk menjadi seorang dosen, bahkan untuk sekedar menempuh pendidikan seperti layaknya orang pada umumnya.

Melayani Tuhan vs Melayani Pekerjaan Tuhan

Oleh: Kenia Oktaviani

Semester ini hidup saya diwarnai dengan list pelayanan yang begitu panjang. Ada begitu banyak hal yang terjadi di luar prediksi saya, ketika menerima tanggung jawab pelayanan. Deretan list yang harus saya kerjakan setiap harinya membuat saya begitu lelah.

Inilah awalnya mengapa saya begitu bergumul tentang apa makna pelayanan yang sebenarnya. Siang itu, saya membaca artikel yang berisi pertanyaan : "Apakah saya melayani Tuhan atau melayani pekerjaan Tuhan?" Pertanyaan ini mengusik hati saya, membuat saya bergumul dan terus memeriksa hati saya. Sebenarnya apa yang selama ini saya kerjakan? Benarkah yang saya kerjakan pada hakikatnya adalah untuk menyenangkan Tuhan?

Dimensi Iman

Oleh: Kenia Oktavianie

Sharing dengan beberapa teman sesama orang percaya sering kali menghantarkan saya pada pertanyaan-pertanyaan menggelitik tentang kekristenan. Di satu sisi saya bersyukur, karena dengan pertanyaan- pertanyaan inilah saya menjadi semakin memikirkan iman saya di hadapan Tuhan karena hanya dengan cara inilah saya bisa mempertanggungjawabkan iman saya. Satu pertanyaan yang mulai membuat saya berpikir adalah mengenai dimensi iman.

Syndicate content