Keluarga

Artikel-artikel tentang hubungan keluarga (ayah, ibu, anak, saudara, kerabat), kehidupan keluarga, masalah dalam keluarga Kristen dsb.

(Artikel lain tentang keluarga dapat dibaca di situs TELAGA)

10 Cara Menjadi Ayah yang Hebat

Sumber: Wiempy

Adik Kecilku

Penulis : Paul W.Kleinschmidt

Memang sulit sekali menjalani masa kecil dengan seorang kakak laki- laki yang usianya berbeda tujuh tahun dari saya. Saya sangat mengidolakan Scott, dan sakit hati sekali rasanya kalau saya tidak bisa pergi ke tempat-tempat yang suka didatanginya dan berkumpul dengan teman-temannya. Saya selalu saja memainkan peran adik kecil yang berusaha mati-matian sekedar bisa menyesuaikan diri dengannya. Yang saya inginkan saat itu hanyalah, kakak saya bangga pada saya.

Jadi, ketika Scott mengatakan bahwa dia akan pergi selama musim panas, mengajar anak-anak cacat mental, dan menawari saya apakah saya mau menjadi relawan di sana, saya langsung memanfaatkan peluang yang ada untuk menghabiskan waktu bersamanya.

Saat itu usia saya empat belas tahun dan satu-satunya relawan dalam program itu. Semua orang yang lain berumur dua puluh satu tahun ke atas, dan masing-masing sedang menjalankan usaha memperoleh nilai kredit dalam mata pelajaran khusus, seperti kakak saya, atau sekedar berusaha mencari uang tambahan untuk musim panas. Program itu kira-kira diikuti oleh tiga puluh murid, dengan mayoritas anak-anak sebaya saya. Pengalaman saya berhadapan dengan dunia anak-anak yang cacat mental itu sangat terbatas, dan di hari pertama, saya agak `ketinggalan kereta.´

Satu persatu kursi roda bergulir turun dari bus, masing- masing membawa penumpang spesialnya sendiri, yang memamerkan senyuman yang lebih cerah daripada matahari musim panas. Orang tua mengantar anak-anaknya, yang masing-masing penuh kegembiraan yang juga pernah saya rasakan di hari pertama sekolah saya.

Lalu datang Mikey. Mikey berumur sembilan tahun, tinggi, kurus, dan menderita gangguan emosi yang parah. Dia berdiri sendirian di sudut, maju- mundur, ketakutan. Seakan dia merasa dirinya tidak terlihat oleh murid-murid lain atau para konselernya. Saya berjalan mendekatinya, dan mengulurkan tangan saya, tetapi dia malah mulai menjerit-jerit. Saya ingat tatapan malu di mata kakak saya. Ingin rasanya saya merangkak ke bawah batu dan berhenti saja. Saya langsung mundur dan mendekati murid lain.

Setiap pagi, Ibu Mikey mengantarnya, dia selalu pergi ke sudut yang sama, dan menghabiskan hampir sepanjang harinya di sana sendirian saja. Bahkan murid-murid lain menghindarinya, tidak ingin menimbulkan jeritan atau amukan amarahnya.

Setiap sore, para konseler meminta semua murid untuk berbagi kelompok dua-dua, untuk melakukan berbagai kegiatan. Mikey akan tetap berdiri di sudutnya, memperhatikan semuanya. Setelah merasa lebih nyaman beberapa hari kemudian, saya mendatangi pemimpin konseler dan menanyakan perihal Mikey. Dia menjelaskan bahwa Mikey telah menjadi murid program ini selama beberapa tahun, dan selalu saja menghabiskan hari-harinya di sudut itu. Tidak pernah ada orang yang merasa perlu meluangkan waktu untuk mendekatinya. Lalu saya bertanya, apakah saya boleh mendekatinya. Mulanya, pemimpin konseler tidak menanggapi, dan saya bisa melihat dari tatapan matanya, seakan dia mengatakan "Kau ini baru empat belas tahun! Memangnya apa saja yang bisa kau lakukan?"

"Tentu, silahkan saja. Apa ruginya?" akhirnya, dia menjawab juga.

Maka setiap pagi, saya menunggu kedatangan Mikey. Ketika dia berjalan ke sudutnya, saya membuntutinya, lalu berdiri atau duduk di sebelahnya, berjam-jam lamanya, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia akan menjerit-jerit dan semua orang akan menoleh, tetapi saya hanya balas memandangi mereka, berteguh hati untuk tidak berhenti di tengah jalan. Hal ini berlangsung selama dua minggu. Saya tahu, para konseler itu pasti sudah membicarakan perihal saya kepada kakak saya. Musim panas itu ternyata tidak seindah yang saya impikan; saya berharap bisa mempererat ikatan antara saya dengan kakak saya, bukan malah menjauhkannya begini.

Lalu sesuatu terjadi, yang mengubah hidup saya selamanya. Pada suatu pagi, saya bangun kesiangan, dan kakak saya sudah pergi ke tempat kerjanya itu. Saya bergegas melompat ke sepeda dan ngebut ke sekolah itu, malu karena telah kesiangan dan khawatir kena masalah.

Saya masuk kedalam ruang kelas itu, dan mendadak ruangan jadi sepi. "Oh, tidak," pikir saya.

Lalu saya mendengar seseorang bertepuk tangan. Saya mengabaikannya dengan anggapan paling-paling itu hanya salah seorang murid yang sedang mengungkapkan kegirangannya. Lalu, yang lain mulai bertepuk tangan. Nah, ada lagi murid kegirangan, pikir saya. Tidak, ternyata salah seorang konseler yang bertepuk tangan. Ada apa? Lalu tepukan tangan pun meledak. Setiap orang bertepuk tangan. Apakah mereka semua menyindir keterlambatan saya?

Saat itu, mata saya bertatapan dengan mata kakak saya. Dia sedang tersenyum pada saya, bertepuk tangan paling keras di antara yang lain. Saya hanya berdiri terpaku, tertegun, sampai pimpinan program mendekati saya dan menjelaskan bahwa ini semua ada kaitannya dengan Mikey.

Ternyata, ketika Mikey datang pagi itu, dan tidak menemukan saya, dia pergi ke setiap meja, mendekati konseler, dan menanyakan , "Mana Paul ? Mana Paul?"

Pemimpin konseler memberitahu saya bahwa itulah kata-kata pertama yang diucapkan Mikey selama dua tahun terakhir hidupnya.

Saya tidak tahu harus berkata apa. Mata saya berkaca-kaca. Saya menoleh ke arah Mikey di sudut ruang kelas. Dia sedang tersenyum, menunjuk saya, mengatakan,"Paul! Paul! Paul!"

Saya merasakan sentuhan sebuah lengan di bahu saya. Ternyata Scott. "Inilah adik kecilku," katanya kepada setiap orang dengan nada penuh kebanggaan. Saat itulah saya mulai menangis.

*) Tahun berikutnya, Paul dipekerjakan sebagai konselor. Keluarga Mikey pindah ke wilayah Barat, dan Paul sedih membayangkan tidak akan bisa bertemu dengan Mikey lagi. Di hari terakhir program tahun itu, dia menerima kiriman kartu post dari California berisi kata-kata "Hai Paul" dengan tulisan tangan Mikey yang susah dibaca.

Sumber: Heartwarmers

Allah Sebagai Bapa

Sumber: Gema Sion Ministry

" Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga" [ Efesus 1:3 ].

Banyak orang menyatakan bahwa Allah adalah Tritunggal, dalam arti tiga pribadi namun satu. Sekalipun kata Tritunggal tidak ada didalam Alkitab, tetapi pemahaman sedemikian sepertinya ada. Tetapi kami lebih senang menjelaskan Allah "Tritunggal", menjadi ALLAH ADALAH KELUARGA. Keluarga sejati adalah satu, sekalipun ada bapa, ibu dan anak-anak. Allah adalah keluarga sejati, oleh sebab itu Allah adalah satu. Sekalipun Allah termanifestasi didalam Bapa, Roh dan Anak, namun sesungguhnya Allah adalah satu pribadi.

Didalam Efesus pasal 1, Allah sebagai Bapa terlihat berfungsi sebagai pemberi segala berkat rohani didalam sorga ( ayat 3 ), melakukan pemilihan atas kita sebelum dunia dijadikan ( ayat 4 ), menentukan kita untuk menjadi anak-anakNya ( ayat 5 ), melimpahkan kekayaan kasih karuniaNya dalam hal pengampunan dosa kepada kita ( ayat 7-8 ), memiliki rahasia kehendakNya ( the secret of His will ) atau rencana ( ayat 9 ). Sekalipun semuanya ini dijalankan didalam AnakNya serta melalui kuasa RohNya, tetapi kita lihat disini bahwa Bapa merupakan sumber segala sesuatu, Dia yang mempunyai rencana dan Penyebab utama segala sesuatu.

Bapa-lah yang menciptakan segala sesuatu melalui AnakNya. Perlu kita pahami dengan baik bahwa menciptakan bukanlah berarti mengadakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Terjemahan harafiah dari Ibrani 11:3, adalah sesuatu yang terlihat berasal dari sesuatu yang tidak terlihat, artinya dunia jasmani (terlihat) berasal dari Allah (tidak terlihat). Maksudnya, ketika Allah menciptakan segala sesuatu, Ia menggunakan DiriNya sendiri sebagai "bahan dasarnya". Menciptakan bukanlah seperti seseorang yang membuat meja dari kayu sebagai bahan dasarnya. Ketika Allah Bapa menciptakan segala sesuatu, Ia menggunakan DiriNya sendiri sebagai bahan dasarnya. Itu sebabnya kami lebih senang menggunakan istilah "memperluas diri ", dari pada istilah "menciptakan´. Jadi Bapa "memperluas DiriNya" didalam dan melalui ciptaanNya.

Demikianlah Allah sebagai Bapa, telah memperluas DiriNya. Ia adalah sumber segala sesuatu, penyebab segala sesuatu, dan yang memiliki rencana. Dialah yang menyebabkan adanya keluarga jasmani di muka bumi ini, untuk mengekspresikan keluarga sejati yang di sorga. Kalau Bapa yang di sorga memiliki peran dan fungsi sedemikian, bukankah Ia juga menghendaki bapa di muka bumi ini juga memiliki peran dan fungsi yang kurang lebih sama dengan DiriNya. Dengan segala keterbatasan yang ada, diharapkan, bapa jasmani yang dimuka bumi ini dapat "memperluas dirinya" melalui dan didalam anak-anaknya. Bapa jasmani perlu menanamkan tujuan, misi, dan visinya kepada anak-anaknya, agar perjuangan dan pelayanannya dapat diteruskan turun-temurun. Diharapkan bapa jasmani dapat menjadi "sumber" segala sesuatu bagi keluarganya, yaitu "sumber" urapan, pewahyuan, penghiburan, berkat jasmani dst. Diharapkan, bapa mempunyai rencana bagi keluarganya. Tentu semua ini dilakukannya dengan bantuan seorang penolong yaitu seorang istri. Apabila terjadi sesuatu kepada keluarganya, maka wajarlah apabila bapa dimintai pertanggung-jawaban. Istri dan anak-anak tentu mempunyai kesalahan, tetapi yang bertanggung jawab adalah seorang bapa.

Allah adalah Keluarga

"Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya namaMu di seluruh bumi..." [Mazmur 8:2].

Nama-Nama Allah yang dinyatakan didalam Alkitab mengungkapkan dan mewahyukan siapakah Allah sebenarnya. Nama-Nama Allah ini sangat bermakna, bahkan pemazmur berkata, "betapa mulianya namaMu...". Didalam Perjanjian Lama, ada tiga Nama Allah yang utama, yaitu Elohim (Allah), Yehovah (TUHAN), dan Adonai (Tuhan). Makna dari Nama Elohim adalah Pencipta yang Perkasa. Makna Nama Yehovah adalah Pribadi yang ada dengan sendirinya. Sedangkan makna Nama Adonai adalah Tuan dari seorang hamba. Selain tiga Nama Allah yang utama ini, ada puluhan Nama-Nama gabungan, sebagai contoh Yehovah Elohim (Kejadian 2:4), Adonai Yehovah (Kejadian 15:2), Adonai Elohim (Daniel 9:3).

Didalam Perjanjian baru, ada tiga Nama utama yang digunakan yaitu Theos, Kurios, dan Pater. Nama Theos mempunyai makna yang sama dengan Nama Allah didalam PL, yaitu El, Elohim, dan Elyon. Nama Theos adalah Nama yang umum digunakan bagi Nama Allah. Nama Kurios yang berarti Penguasa Tunggal, dapat disamakan maknanya dengan Nama Adonai. Sedangkan Nama Pater berarti Bapa, dan Nama ini digunakan oleh Tuhan Yesus untuk mengungkapkan hubunganNya dengan Bapa di Sorga.

Pemahaman Allah yang adalah Keluarga terungkap melalui NamaNya. Seperti kita ketahui didalam suatu keluarga ada seorang bapa, ibu dan anak, maka melalui NamaNya juga terungkap Allah sebagai Bapa, sebagai Ibu, dan sebagai Anak. Allah sebagai Bapa dan Allah sebagai Anak, diperkenalkan oleh Yesus kepada para pemimpin agama Yahudi, yang tercatat terutama didalam Injil Yohanes. Bagi para pemimpin Yahudi, pernyataan Yesus yang menegaskan bahwa Allah adalah BapaNya, sama dengan menyatakan bahwa diriNya adalah juga Allah (Yoh. 10:33). Dan Yesus dengan tegas menyatakan bahwa Ia adalah Anak Allah. Jadi, baik Allah sebagai Bapa, maupun Allah sebagai Anak, telah dinyatakan oleh Yesus.

Sementara itu, Allah sebagai Ibu terungkap didalam Nama El Shaddai. Nama El Shaddai adalah Nama gabungan yang terdiri dari El, yang berarti Pencipta yang perkasa, dan Shaddai, yang berarti Maha Kuasa. Tetapi kata Shaddai dan kata Shad, walaupun dua kata yang berbeda namun bermakna sama yaitu buah dada (seperti dalam Kej. 49:25, Ayub 3:12, dan Maz. 22:10). Jadi, El Shaddai adalah Allah yang Maha Kuasa yang menyediakan kebutuhan UmatNya, seperti seorang Ibu yang menyusui anaknya.

Didalam Kej. 1:2 ada tertulis, "...Roh Allah melayang-layang diatas permukaan air". Kata melayang-layang biasanya dipakai untuk melukiskan seekor burung yang sedang mengerami telur atau anak-anaknya yang masih kecil didalam sarangnya. Ini juga berbicara Allah sebagai ibu. Demikian juga dengan lahir dari Roh, suatu istilah yang muncul didalam PB, juga mengungkapkan Allah sebagai Ibu.

Jadi, Allah sebagai Bapa, Allah sebagai Ibu, maupun Allah sebagai Anak, terungkap melalui Nama-NamaNya. Dan Bapa, Ibu serta Anak, adalah suatu Keluarga.

"...Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendakNya kepada kita..." [ Efesus 1:3-14 ].

Didalam renungan keluarga ini, kita akan melihat bagaimana Allah, yang adalah Keluarga Sejati itu, memiliki kehendak dan rencana. Kehendak dan rencanaNya ini dilaksanakan bersama-sama secara Keluarga, sebagaimana yang diuraikan dalam Efesus 1:3-14.

Dalam ayat 5 diuraikan bagaimana Allah Bapa, "...menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya". Bapa yang memiliki Anak TunggalNya, kita lihat disini, menghendaki kita juga agar menjadi anak-anakNya. Karena kehendak Bapa ini, Yesus tidak malu menyebut kita saudaraNya, seperti tertulis dalam Ibrani 2:12, "...Aku akan memberitakan namaMu kepada saudara-saudaraKu...". Namun hubungan Yesus dengan Allah Bapa tetaplah unik dan berbeda. Itu sebabnya Ia tidak berkata tentang Allah sebagai Bapa kita, melainkan Bapamu dan BapaKu.

Tetapi, sebagaimana tertulis pada ayat 5, penentuan dan penetapan kita sebagai anak-anakNya, adalah melalui Yesus Kristus. Artinya, Yesus perlu mengalami kematian di kayu salib dan mencurahkan darahNya untuk pengampunan dosa, serta dibangkitkan dan naik kesorga, sebelum kita dapat dilahirkan oleh Roh dan menjadi anak-anakNya.

Bukan hanya dilahirkan oleh Roh, tetapi kita juga dimeteraikan dengan Roh Kudus. Pemeteraian kita dengan Roh Kudus ini merupakan suatu jaminan / panjar (dp = down payment), bahwa kita akan menerima keseluruhannya yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah [ ayat 14 ].

Kita lihat disini bagaimana Allah yang adalah Keluarga, secara bersama-sama menjalankan kehendakNya, dimana tujuan akhirnya adalah, "...in the dispensation of the fullness of the times He might gather together in one all things in Christ...[ 1:10, The New KJV ]. Jadi, inilah misteri (rahasia) kehendakNya, yaitu pada dispensasi kegenapan waktu, Ia dapat mempersatukan segala sesuatu didalam Kristus.

Tetapi, yang akan kita renungkan disini adalah bagaimana Allah menjalankan rencana dan kehendakNya secara Keluarga. Oleh sebab itu, kita yang melayaniNya, dalam arti menjalankan kehendakNya di muka bumi ini, haruslah melakukannya secara keluarga. Bapa, Ibu dan anak-anak didalam suatu keluarga Kristen, haruslah berfungsi sesuai peranannya dalam keluarga, untuk melayani Tuhan dan menggenapi kehendakNya.

Didalam Efesus 1:3-14, kita lihat bagaimana Bapa merencanakan, Anak melaksanakan dan Roh menolong serta memberi kekuatan, sehingga kehendakNya jadi, demikian juga diharapkan terjadi didalam suatu keluarga Kristen. Apabila didalam suatu keluarga kristen, hanya salah satu anggotanya saja yang melayani Tuhan, maka hal ini belum sejalan dengan rencanaNya. Bahkan, jika bapa, ibu dan anak-anak aktif didalam kegiatan kekristenan, tetapi tidak bekerja sama sebagai tim yang sehati sepikir, maka barangkali ini belum dapat disebut sebagai melakukan kehendakNya. Kita perlu merenungkan hal ini, terutama para bapa sebagai kepala keluarga.

"...Akulah Allah Yang Mahakuasa (El Shaddai), hiduplah dihadapanKu dengan tidak bercela" [ Kej. 17:1 ].

Telah kita ketahui bahwa Allah yang menyatakan Diri sebagai Ibu terungkap didalam Nama El Shaddai. Nama El Shaddai adalah Nama gabungan yang terdiri dari El, yang berarti Pencipta yang perkasa, dan Shaddai, yang berarti Maha Kuasa. Tetapi kata Shaddai dan kata Shad, walaupun dua kata yang berbeda namun bermakna sama yaitu buah dada (seperti dalam Kej. 49:25, Ayub 3:12, dan Maz. 22:10). Jadi, El Shaddai adalah Allah yang Maha Kuasa yang menyediakan kebutuhan UmatNya, seperti seorang Ibu yang menyusui anaknya.

Dalam konteks yang bagaimana El Shaddai pertama kali menyatakan DiriNya ? Kejadian 17:1 adalah pertama kali Allah menyatakan Diri sebagai El Shaddai, dan disini El Shaddai menegur Abram agar hidup dihadapanNya dengan tidak bercela. Memang Abram telah gagal, ketika ia mendengarkan usul Sarai untuk menghampiri Hagar. Sekalipun Ismael diberkati juga, namun perjanjian Allah tetap akan diadakan dengan Ishak yang akan dilahirkan Sarai (17:20-21). Jadi, El Shaddai memenuhi kebutuhan Abram seperti seorang Ibu memenuhi kebutuhan anaknya, namun dengan cara memberi teguran.

Tetapi, teguran El Shaddai adalah teguran yang penuh berkat serta memenuhi kebutuhan UmatNya, seperti seorang Ibu yang menyusui anaknya. Dalam Kejadian 17, teguran El Shaddai memulihkan Abram. Sejak saat itu, Abram berubah menjadi Abraham, dan perjanjian sunat-pun dimulai. Demikian juga dengan Naomi, yang dipulangkan dari daerah Moab oleh teguran El Shaddai (Rut 1:20). Sekalipun Naomi menganggap dirinya mengalami malapetaka, namun justru melalui teguran El Shaddai, maka kehidupannya dipulihkan dan ia mendapat anak melalui Rut, yang pada gilirannya menurunkan raja Daud.

Dari kasus-kasus yang telah disebutkan diatas, El Shaddai memenuhi kebutuhan umatNya dengan cara memberi teguran. Tetapi, El Shaddai juga memenuhi kebutuhan umatNya dengan banyak cara lain sesuai kondisi. Dalam kasus berkat Ishak kepada Yakub, El Shaddai diharapkan memberi keturunan dan membuat Yakub menjadi sekumpulan bangsa-bangsa (Kej. 28:3). Tetapi, yang harus diingat ialah pertama kali El Shaddai menyatakan DiriNya adalah memberi teguran. Pengertian-pengertian selanjutnya haruslah dibangun diatas pengertian pertama kali. Mengapa hal ini perlu ditegaskan ?

Karena fungsi dan peran El Shaddai dalam keluarga Kristen, terutama dijalankan oleh seorang isteri atau ibu. Seorang isteri atau ibu memang diharapkan dapat memberi teguran-teguran yang memenuhi kebutuhan, bukan seperti "teguran" Sarai kepada Abram yang ternyata melahirkan Ismael. Jika seorang isteri Kristen memiliki karakter seperti El Shaddai, maka teguran-tegurannya, baik kepada suami atau kepada anak-anak, akan memulihkan dan memberkati keluarga. Jika sebaliknya yang terjadi, maka teguran seorang isteri atau seorang ibu akan menjadi kritikan-kritikan pedas yang merusak, bahkan mungkin ia digelari "perempuan cerewet".

Seorang suami juga perlu belajar menerima teguran-teguran dari isterinya, begitu juga anak-anak. Karena seorang isteri atau ibu, akan memulihkan dan memberkati keluarga melalui teguran-tegurannya, sepanjang karakternya bertumbuh menjadi seperti El Shaddai. Semoga demikian yang terjadi dalam keluarga-keluarga Kristen.

Sumber: Gema Sion Ministry.

Apakah Menikah Keharusan?

Oleh: Pdp. Jafar Thamrin, S.Th

"tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.." (1 Korintus 7:2)

Dari kutipan ayat di atas, menjadi pertanyaan buat kita orang percaya. Apakah Rasul Paulus menyarankan bahwa pernikahan merupakan keharusan bagi setiap orang? Bagaimana dengan orang yang tidak mau menikah karena alasan tertentu? Apakah ayat di atas menjadi suatu paksaan dari Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus? Ternyata tidak. Rasul Paulus sedang menjelaskan bahwa untuk membujang itu adalah baik. Sekali pun demikian, pernikahan merupakan kewajiban bagi orang-orang yang tidak kuat terhadap pengaruh dan kebiasaan masyarakat sekitar yang jahat waktu itu. Ini bukan memandang rendah pernikahan, melainkan dengan jujur menghadapi kenyataan mengingat bahaya percabulan. Mungkin mengacu kepada banyaknya kasus yang terjadi di Kota Korintus pada waktu itu. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa menikah itu bukan keharusan tetapi pilihan, meskipun mampu atau tidak mampu, kaya ataupun miskin, senang ataupun susah.

Tetapi untuk apa mengatakan kepada orang lain, “Heh, menikah Wajib lho.” Terserah orang lain mau menikah atau tidak bukanlah urusan kita. Berapa banyak manusia di bumi ini yang tidak menikah? Banyak sekali. Lantas, apakah mereka sengsara, kesepian, dan sebagainya seperti yang sering didongengkan orang-orang? Jawabannya adalah tidak, karena begitu banyak manusia yang bahagia walaupun tidak menikah. Apakah orang yang tidak menikah berarti tidak dewasa? Salah. Menikah atau tidak menikah tidak bisa dikatakan sebagai definisi dari dewasa. Atau definisi dewasa tidak bisa dibilang salah satunya adalah menikah. Itu hanya perkataan orang-orang yang melihat dari satu perspektif saja. Dan penilaiannya subyektif banget. Barangkali orang yang sudah menikah sering bilang, “Saya memilih untuk menikah ternyata membuat hidup ini lebih bermakna, ada tempat untuk saling berdiskusi, ada tempat yang saya tuju, ada yang saling mengingatkan, dan ada senyum manis tiap saya terbangun di pagi hari. Namun orang yang melajang pun tidak mau kalah dan berkata seperti lagunya Koes Plus, ”begini nasib jadi bujangan ke mana-mana asal suka tiada orang yang melarang, hati senang walaupun tak punya uang.” Jadi dalam hal ini menikah atau tidak menikah bukanlah keharusan atau kewajiban melainkan pilihan. Walaupun setiap pilihan-pilihan yang ada memiliki resikonya masing-masing.

Sebagai orang percaya, jangan mau ditipu dengan slogan menikah itu kewajiban/keharusan, karena sejatinya menikah adalah pilihan sebagaimana pilihan-pilihan lain yang berjajar dalam hidup kita. Rasul Paulus hanya mengingatkan bahwa kalau tidak kuat hidup bertarak, lebih baik menikah mengingat bahaya percabulan, namun bagi yang bisa hidup bertarak Rasul Paulus memberi pilihan untuk tetap hidup membujang seperti dirinya. Jadi, Anda lah yang menentukan apakah Anda mau menikah atau tidak.

Ayah, Ibu, Ketahuilah

Saya Juga Mencintaimu dengan Segenap Jiwa Ragaku...

Kisah berikut ini sangat menyentuh perasaan, dikutip dari buku "Gifts From The Heart for Women" karangan Karen Kingsbury. Buku ini dapat Anda peroleh di toko buku Gramedia, maupun toko buku lainnya. Kisahnya sbb: Bahkan Seorang Anak Berusia 7 Tahun Melakukan Yang Terbaik Untuk ....... Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki2 berusia tujuh tahun yang bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.

Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari. "Aku tidak akan menikah lagi," kata Sherri kepada ibunya. "Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia". "Kau tidak perlu menyakinkanku," sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman. "Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya."

Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke. Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri. "Pelatih", panggilnya. "Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?" Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras dalam beberapa hari ini.

"Tentu," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke. "Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu." Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan. Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan. "Pertandingan yang sangat mengagumkan," katanya kepada Luke. "Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?"

Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata "Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu lalu,......Ibuku meninggal." Luke kembali menangis. Kemudian Luke menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata "Hari ini,.......hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka.......". Luke kembali menangis terisak-isak.

Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak..... Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya............Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya........ Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya............... Hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah Luke yang HANYA berusia 7 TAHUN : Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik utk membahagiakan ayah & ibu kita. Banyak cara yg bisa kita lakukan utk ayah & ibu, dgn mengisi hari-hari mereka dgn kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk mereka. Raihlah prestasi & hadapi tantangan seberat apapun, melalui cara-cara yang jujur utk membuat mereka bangga dgn kita. Bukannya melakukan perbuatan2 tak terpuji, yang membuat mereka malu. Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaan mereka yang terbesar. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibunya. Bagaimana dengan Anda ? Berapakah usia Anda saat ini ? Apakah Anda masih memiliki kesempatan tersebut ? Atau kesempatan itu sudah hilang untuk selamanya.........? Mohon KEMURAHAN HATI Anda untuk menyebarkan kisah ini kepada sanak keluarga Anda, famili, teman2, rekan2 kerja, rekan2 bisnis, atasan, bawahan, sebuah kelompok organisasi ataupun perusahaan, PELANGGAN, serta siapa saja yang Anda temui. Kisah ini dapat disebarkan melalui internet, ataupun difotocopy per banyak (hanya sekitar Rp. 1,500/10 lbr) untuk dibagi2kan secara gratis kepada orang banyak.

Ada 4 kemungkinan respon dari pihak2 yang telah membaca kisah ini.

PERTAMA, cuek/tidak peduli/tidak mengerti kisah ini.

KEDUA, tersentuh dengan kisah ini, tetapi tidak melakukan apapun.

KETIGA, tersentuh dengan kisah ini, intropeksi diri, tetapi tidak melakukan apapun.

KEEMPAT, tersentuh, intropeksi diri, lalu segera bergerak aktif untuk lebih memperhatikan kedua orangtuanya dan menjadi seorang anak yang lebih berbakti.

Bila di antara sekian banyak orang yang memperoleh kisah ini dari Anda, ada satu saja yang termasuk kategori nomor EMPAT, ini berarti Anda telah berhasil menyadarkan seseorang akan betapa pentingnya orangtuanya. Bayangkan kebahagiaan seorang anak yang bersyukur bahwa ayah dan ibunya masih hidup, lalu berusaha membahagiakan mereka. Lalu orangtuanya yang begitu bahagia mengetahui bahwa anaknya juga begitu mencintainya, seorang anak yang berbakti. Kebahagiaan ini lebih berharga daripada tumpukan emas permata. Mereka sungguh beruntung dengan KEHADIRAN ANDA di dunia ini, yang BERMURAH HATI untuk menyebarkan kisah ini. Ayah, Ibu, Ketahuilah, Saya Juga Mencintaimu Dengan Segenap Jiwa Ragaku....

Sumber: Sahabat Kristen

Ayah, Masihkah Engkau Menjadi Kekasih Hatiku?

Penulis : Saumiman Saud

Ayah kita itu bukan pilihan, ia juga tidak dapat dibeli dengan uang, ia juga tidak dapat diganti yang baru, nah kalaupun terpaksa maka ia akan menjadi ayah tiri, ayah tiri itu bukan yang asli. Itu sebabnya apa yang sudah ditetapkan oleh Tuhan ya terima saja, jangan iri karena ayah kita lebih miskin, jangan membanding-banding ayah kita dengan ayah orang lain. Ayah kita juga tidak dapat disangkal, baik atau brengseknya ia tetap adalah ayah kita. Dalam rangka memperingati hari Ayah, sering kita mendengar orang-orang bersaksi bagaimana kebaikan hati ayahnya, namun pada saat yang sama ada teman-teman yang begitu tersayat hati sebab mereka tidak pernah merasakan sisi-sisi baik dari sang ayah, sehingga tatkala memperingati hari Ayah, mereka merasa tidak ada sesuatu yang istimewa darinya.

Kadang memang ada pembentukan konsep yang salah dari seorang anak terhadap ayahnya, kita inginkan kalau segala sesuatu yang kita minta diberikan oleh ayah, maka ia akan disebut ayah yang baik, namun kalau pas ketemu permintaan kita yang tidak disetujui, maka langsung saja dicap ayah yang jahat. Permisi Tanya, apakah benar ayah yang meberikan segala sesuatu adalah ayah yang baik? Belum tentu bukan? Saya yakin sebagai seorang ayah, ia tahu akan kebutuhan anak-anaknya, ia kenal kita, ia mengerti kita, sehingga ia pasti memberikan yang terbaik buat kita.

Namun kita tidak bisa ingkar, sering juga kita bertemu dengan ayah yang tidak bertanggung jawab, ada ayah yang kerjanya mabuk-mabukkan, berjudi, malas kerja, kadang pulang dari tengah malam sang isteri dan anak-anak dimarahi, kadang juga main pukul atau digebukin. Nah, kondisi demikian, membuat trauma isteri dan anak-anak, bagaimana ayah yang model demikian perlu dikasihi dan dihormati?

Saya bersyukur sekali ada seorang teman mengatakan, bersyukurlah, Tuhan itu tidak pernah salah memberikaan kepada kita ayah ini, walaupun modelnya yang begini, dan itulah yang paling baik. Kepada mereka yang memiliki ayah yang dikategorikan baik, maka kemungkinan besar mereka justru memiliki kelemahan dan tidak kuat menghadapi ayah yang jahat. Itu sebabnya apabila anda memiliki ayah yang tidak masuk kategori baik, anda tetap harus bersyukur, sebab Tuhan ternyata memberikan kekuatan pada anda untuk memiliki ayah yang model begini.

Mengapa kita perlu memperingati hari ayah? Terlepas dari sejarah hari ayah itu sendiri, saya melihat kalau saat ini kita setiap tahun memperingati hari Ayah, maka kita diingatkan kembali akan fakta bahwa kita memiliki seorang ayah, sekalipun modelnya bobrok, tetap kita perlu hormati, sebab bagaimanapun dia adalah ayah kita. Mungkin karakter dan perbuatannya kita tidak bisa terima, tetapi sosok dirinya sebagai ayah kita, tetap adalah ayah kita. Itu sebabnya, mari bedakan antara sosok diri ayah kita dengan perbuatan dan karakternya. Firman Tuhan menegaskan , hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut usiamu di tanah yang diberikan Tuhan Allaahmu kepadamu.

Yang paling paling penting justru terletak pada kita saat ini, kalau kebetulan kita sudah menjadi orang tua yang memiliki anak-anak, maka kita perlu meneladani sikap ayah yang baik, dan mencoba menjadi ayah yang baik pula, kalau memang ayah kita kebetulan berkarakter jelek, kita tidak perlu mencontoh model yang demikian. Saya yakin tidak gampang mengubah diri, tetapi Tuhan Yesus akan menolong kita. Kasih TUhan Yesus kepaad kita, sanggup menembus karakter kita, asal kita suk-rela mau berubah.

Saat ini yang menjadi pertanyaan adalah? Ayahku, masihkah engkau menjadi kekasih hatiku? Kalau masih , bersyukurlah, kalau sudah tidak lagi, mari coba kita selidiki problemnya? Minta Tuhan memberikan kekuatan untuk berdamai kembali. Karena dari Dia ada pengampunan, dari Dia ada Kasih, dari Dia ada perdamaian. Oh Ayah!!

Ayah, Mengapa Engkau Marah Hari Ini?

Setiap ayah itu memiliki kelemahan, kadang kita merasa ia begitu sayang pada kita, ada canda, ada tertawa, ada suka-cita, namun kadang kita melihat ia lagi cembuut, ia lagi sedih, ia lagi marah. Kita tidak tahu apa yang terjadi dengan ayah kita? Mungkin ia merasa tertekan dengan perjuangan hidupnya, usahanya mulai bermasalah, mungkin Mama lagi ngambek padanya, atau ada orang yang menyakiti hatinya? Namun , bagaimanapun keadaannya, ia tetap adalah ayah kita, pernahkah kita coba memahami keadaannya?

Saya ingat sekali kejadian pagi ini, memang tidak seperti biasanya, tetapi pagi ini lumayan agak sibuk, sebab ada beberapa orang yang harus saya hubungi, baik via telepon maupun email. Seperti biasanya, pagi-pagi sekali anak saya yang laki umur 3,5 tahun , ia sudah bangun, biasanya ia langsung menuju ke arah pintu lalu membawa Surat Kabar dan diserahkan kalau tidak ke saya ya ke mamanya, Namun pagi ini dia serahakan ke saya karena mamanya sibuk di dapur. Setelah itu biasanya, ia juga ikut-ikutan baca Surat Kabar itu, padahal ia belum bisa membaca, kecuali abjad dan angka yang empat bulan terakhir ini ia dia belajar sendiri melalui computer mainannya yang diberikan oleh isteri adik saya di Jakarta tahun lalu.

Kemarin pagi hari minggu di gereja memperingati hari Ayah, anak-anak sekolah Mnggu rupanya juga mendapat hadiah berupa alat gambar, baik itu kertas dan juga pe warna. Saya sudah wanti-wanti padanya, saya bilang En, namanya En En, perhatikan ya, yang boleh kamu gambar ini hanya kertas ini, lihat yang lalu kamu melukis dinding, papa dan mama dengan setegah mati sudah menghapusnya, kemudia ia menjawab ya.

Benar, kira-kira lima belas menit kemudian, ia masuk ke ruang kerja saya, dan ia membawa selembar kertas yang dia gambar coret-coretan, dia warnai semua, saya memuji dia bagus, bagus sekali, hebat, good job. Lalu saya menempelkan hasil kerjanya di depan pintu kamarnya, ia merasa senang dan berkali-kali ia memperlihatkan gambarnya pada saya dan mamanya, maksudnya dia sudah pandai menggambar dan bagus, saya juga merasa senang bersama dia; ia merasa bahagia sekali. Kami tertawa bersama, kami.

Kemudian saya menerima telepon dan melanjutkan menghubungi beberapa orang lagi via telepon, sementara saya mendengar suara , En En bernyayi-nyani. Kira-kira sepuluh menit kemudian, saya mengintip dia kembali, aduh celaka, ia melukis lukisan di karpet. Langsung saja saya panggil dia dengan agak keras, En En !!!!, kenapa kamu melukis karpet itu? Bukankah saya sudah beritahu kamu, jangan melukis di karpet, hanya boleh melukis di kertas saja. Waktu itu dia kaget, dan saya sempat memukul tangannya dua kali. Matanya mulai berair mau menangis, tetapi saya tahu ia sengaja menahan terus ngak berani menangis.

Kemudian sambil membawa kain basah, dan sabun, saya sengaja memperlihatkan cara membersihkan karpet, dan sambil ngomel-ngomel padanya. En En , diam seribu bahasa, sekali lagi ia tetap menahan tidak berani menangis. Saya katakan padanya, En En harus mendengar papa, kalau tidak mendengar perintah papa pasti dihukum. Sekaranga ini En En bersalah, makanya papa marah.

Selesai saya mebersihkan semuanya, kemudian saya dengan lembut panggil En En kembali, kali ini dia ragu, sebab tadi saya marah padanya, ia takut tidak berani mendekat. Kemudian saya yakinkan dia, papa ngak marah lagi padamu marilah, En En ngak boleh melukis-lukis karpet lagi. Ketika ia berada dipelukan saya, dia langsung menangis sekuat-kuatnya, tadinya ia menahan sedemikian rupa, ia hanya membiarkan air matanaya menetes, namun saat ini , dipelukan saya yang erat ia seakan-akan bilang ama saya, papa maafkan saya. Saya bilang ama dia, papa tidak marah lagi, papa sayang En En, makanya papa tidak suka En En buat hal yang salah. Beberapa saat kemudian menangisnya pun redah, pagi itu juga kami berdamai kembali, dia kembali bernyanyi dan main mobil-mobilanya, dan dia berjanji tidak berbuat lagi.

Ayah, mengapa engkau marah hari ini? Saya tidak mengerti kondisi anda dan hubungan anda dengan ayah anda? Ada orang mengatakan ayahnya tidak pernah marah, mau berbuat apa saja ia serahkan kebebasan sepenuhnya kepada anaknya. Lalu orang ini berkesimpulan ayahnya adalah ayah yang the best baik. Sebaliknya ada orang yang ayahnya begitu diktator, termasuk memilih sekolah, bergaul, dan semua kehidupannya dipantau dengan ketat. Lalu si anak merasa begitu tertekan, dan merasa tersiksa, kemuadian ia berkesimpulan bahwa di dalam diri ayahnya tidak ada kenangan manis. Ayah kejam dan diktator dan sebagainya.

Bagaimana, dan siapa ayah kita, rasanya semua Ayah memiliki kekurangan dan kelebihannya. Kita tidak berhak mengelak kenyataan bahwa ia adalah ayah kita,. Tanpa dia tentu tidak mungkin ada kita. Apabila engkau pernah mendapat perlakuan yang baik dari ayahmu selama hidup ini, bersyukurlah, dan terapkanlah kembali cara ayah terhadap anak-anakmu. Namun apabila engkau tidak pernah merasakan kesan dan perlakuan baik dari ayah, maka ingatlah jangan menerapkan cara pengajarannya itu pada anak-anaka anda; walaupun mungkin banyak sedikit-banyaknya anda terpengaruh olehnya. Oh , Ayah, masihkah engkau marah saat ini?

Ayahmu dan Ibumu

Penulis : Eka Darmaputera

Tahukah Anda bahwa hukum kelima dari Dasa Titah mempunyai dua versi? Yang pertama termuat dalam Keluaran 20:12, bunyinya: "Hormatilah ayahmu dan ibumu". Yang kedua tertulis dalam Imamat 19:31, bunyinya: "Setiap orang di antara kamu haruslah menyegani ibunya dan ayahnya ." Yang satu menyebut "ayah" terlebih dahulu, baru "ibu". Sementara yang lain, sebaliknya. Besar kemungkinan tidak ada perbedaan substansial yang pantas dibicarakan mengenai perbedaan tersebut. Namun, para rabi Yahudi toh tak urung menangkap juga nuansa yang-menurut mereka-cukup bermakna.

Menurut mereka, perbedaan tersebut pasti bukan kebetulan semata. Tapi ada tujuannya, yaitu merupakan penegasan, bahwa hormat orang kepada "ayah" harus seimbang dan sama besar dengan hormat kepada "ibu".

Bagi kita, penafsiran seperti itu mungkin terasa mengada-ada. Tapi dalam konteks kehidupan masyarakat Timur Tengah yang patriarkhal pada waktu itu-bahkan juga masyarakat kita sampai kini-, kesimpulan tersebut menjadi amat penting.

Salah seorang rabi yang terkemuka mengemukakan bahwa melalui perbedaan yang subtil itu Tuhan ingin menyampaikan sesuatu. "Adalah wajar," begitu tulis sang rabi, "bila seorang anak merasa lebih akrab dengan ibunya. Sebab bukankah sang ibu itulah yang telah mengandung dan melahirkan, kemudian menimang dan mengasuhnya?" Namun justru karena kecenderungan alamiah inilah, Tuhan menitahkan agar orang menghormati ayah terlebih dahulu-baru ibu.

Di pihak lain, juga lumrah semata, bila seorang anak menghormati ayahnya lebih dari pada ibunya. Bukankah dia sang kepala keluarga, dan dari dia pula ia mulai belajar mengenal Allah serta hukum-hukum-Nya? Namun justru karena kecondongan naluriah inilah, Tuhan menitahkan agar orang menghormati ibu terlebih dahulu-baru ayah". "Ayah" seimbang dengan "ibu". Betapa progresifnya!

* * *

PERINTAH untuk menghormati orang tua, bagi umat Israel, sungguh sentral dan vital. Begitu pentingnya, sehingga baik berkat yang dijanjikan Allah bagi mereka yang mematuhinya, maupun hukuman yang diancamkan Allah bagi para pelanggarnya, kedua-duanya sama dahsyatnya.

Berkat yang dijanjikan jelas termuat dalam titah itu sendiri, yakni "supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu" (Keluaran 20:12). Janji yang dahsyat, sebab tak ada berkat lain yang lebih didambakan orang, dari pada terwujudnya masa depan yang diimpikan.

Dan tak ada masa depan yang lebih diimpi-impikan, dari pada diperkenankan menikmati seluruh sisa usia yang panjang di "negeri idaman". Bukankah demikian?

Ya! Namun, jangan kita lupa memperhatikan ancaman kutuk-Nya! Tidak kalah dahsyat! Berbuat durhaka terhadap orang-tua, dalam pranata hukum Israel, ternyata dianggap setara dengan tindak pidana kelas berat. Bahkan disejajarkan dengan dosa yang paling serius: dosa menghujat Allah. "(Orang) yang mengutuki ayahnya dan ibunya, pastilah ia dihukum mati " (Imamat 20:9; 24:15)

Bukan cuma itu. Menurut si Arif Bijaksana, "Siapa mengutuki ayah atau ibunya, pelitanya akan padam pada waktu gelap" (Amsal 20:20). Artinya, berkat tak akan mau singgah dalam hidup seorang anak durhaka, baik dalam hidupnya di dunia ini, terlebih-lebih di akhirat nanti. Kemudian katanya pula, "Mata yang mengolok-olok ayah, dan enggan mendengarkan ibu, akan dipatuk gagak lembah dan dimakan anak rajawali" (Amsal 30:17). Artinya, sekiranya pun dalam hidupnya yang bersangkutan tidak mengalami kekurangan apa-apa, matinya akan amat hina. Tak ada orang mau merawat jasadnya. Bahkan tak ada tanah bersedia menerima jenasahnya. Mayatnya habis menjadi makanan gagak lembah dan anak rajawali.

* * *

SEMANGAT yang sama kita jumpai pula dalam Perjanjian Baru. Tidak kurang dari Yesus sendiri, yang mengecam keras ajaran pemimpin-pemimpin agama Yahudi, bahwa seolah-olah oke-oke saja orang menelantarkan kewajiban terhadap orang-tua, asalkan demi memenuhi kewajibannya terhadap Tuhan (Matius 7:9-13)

"Sama sekali tidak oke!", kata Yesus. "Kewajiban terhadap Tuhan" dan "kewajiban terhadap orang-tua" bukanlah pilihan "ini-atau-itu". Melainkan suatu kewajiban rangkap "baik-ini-maupun-itu". Mustahil orang sanggup memenuhi kewajibannya kepada Tuhan, sementara ia menelantarkan orang-tuanya.

Firman Tuhan amat jelas dan tegas. "Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya" (1 Yohanes 4:20). Sebaliknya, mustahil pula orang mengasihi orang-tuanya-atau siapa saja-tetapi menafikan sang Sumber Kasih itu sendiri, yaitu Allah, yang adalah kasih itu sendiri (1 Yohanes 4:8).

Orang yang mengklaim bahwa ia mengasihi Allah tapi menutup hati terhadap sesamanya, atau sebaliknya berkata mengasihi sesama tapi tidak mengasihi Allah, adalah penipu. Paling sedikit, ia munafik. Kasihnya pura-pura, sebab bersyarat dan berpamrih. Yang dikasihinya, tak ada yang lain, hanyalah dirinya sendiri.

* * *

MELALUI kehidupan pribadi-Nya, Yesus memberi contoh kongkret mengenai apa artinya "menghormati orang-tua". Dari rentang usianya yang pendek-33 tahun -tak kurang dari 30 tahun Ia lalui di Nasaret. Di desa-Nya. Di rumah keluarga-Nya. Bersama orang-tua dan adik-adik-Nya.

Sepuluh-per-sebelas dari seluruh hidup-Nya, Ia manfaatkan untuk "urusan keluarga". "Hanya" satu-per-sebelas Ia pakai untuk "urusan pelayanan". Tapi Ia membuktikan, betapa pelayanan-Nya tak sedikit pun berkurang nilai, makna dan dampaknya, hanya karena "kuantitas" waktu yang tersedia relatif singkat. Yang menentukan adalah "kualitas"nya.

Mengenai apa saja yang terjadi selama 30 tahun itu, Alkitab bungkam seribu bahasa. Namun demikian, toh ada yang dengan bertanggungjawab dapat kita katakan berhubung dengan 30 tahun yang "misterius" itu.

Para penafsir pada umumnya sepakat, bahwa Yesus mempergunakan kurun waktu yang lumayan panjang itu untuk memenuhi "tanggungjawab keluarga". Sebab Yusuf-sang ayah dan kepala keluarga-besar kemungkinan telah meninggal dalam usia muda. Mengenai "dugaan" ini, beberapa alasan dapat dikemukakan.

Misalnya yang mencolok adalah, bahwa Alkitab cukup banyak berbicara mengenai Maria, sang ibu. Tapi tak sepatah kata pun tentang Yusuf. Mengapa ini? Dalam kisah perjamuan kawin di kota Kana (Yohanes 2:1-11), misalnya, Yohanes menyebutkan kehadiran Maria. Padahal sekiranya Yusuf masih hidup, ia-lah yang lebih pantas hadir di pesta, dan namanyalah yang patut disebut.

Bila ayah telah tiada, maka anak lelaki tertualah yang mengambil alih tanggungjawab. Dan itulah yang Yesus lakukan! Selama 30 tahun itu, Yesus bukan hanya seorang "anak tukang kayu". Tapi Ia sendirilah "si tukang kayu" itu, dengan apa Ia menghidupi keluarga-Nya. Berlatar-belakangkan "profesi"-Nya itulah, Ia dapat berkata, "kuk yang Ku-pasang itu enak" (Matius 11:30). Agaknya spesialisasi Yesus adalah membuat "kuk". Dan hasil pekerjaan-Nya prima; "enak" dipakai.

Tidak kurang dari 30 tahun, menunggu sampai adik-adikNya mampu mandiri, Yesus mewujudkan darma-bakti-Nya kepada orang-tua dan keluarga. Darma-bakti yang terus diperlihatkan-Nya sampai ketika Ia sudah berada di batas ajal! (Yohanes 19:26-27).

* * *

MENGHORMATI orang tua, kita tahu, bukan hanya kebajikan yang eksklusif Israel. Kebajikan ini bersifat universal. Legenda-legenda yang kita warisi, seperti si Malin Kundang misalnya, membuktikannya. Konfusianisme, apa lagi. Menurut ajaran ini, tidak ada yang lebih keji dari pada perbuatan seorang anak "put hao"-anak durhaka yang tidak berbakti kepada orang-tua.

Sebab itu, salah besarlah orang yang beranggapan, bahwa -karena Taurat tidak mengikat lagi-maka orang kristen bebas menjadi orang-orang "put hao". Tidak! Kata-kata Paulus begitu tegas dan jelas. "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu - ini adalah perintah yang penting ." (Efesus 6:1-3).

Mengapa penting? Tidak lain karena ini merupakan urat nadi utama peradaban manusia. Ketika orang kehilangan rasa hormat kepada apa pun dan kepada siapa pun, maka hancur lebur pulalah peradaban serta merta. Pasti!

Perintah menghormati orang-tua menegaskan, bahwa ada yang mesti kita hormati di bumi ini. Ada yang mesti kita hormati, bukan karena lolos kualifikasi.

Bukan pula karena dengan melakukannya, kita akan menarik manfaat. Tapi yang kita hormati, semata-mata karena "ia" adalah "ia". Yang kita hormati semata-mata karena mereka adalah ayah dan ibu kita. Ya, betapa pun buruk penampilan mereka! Betapa pun tak membanggakannya prestasi mereka bagi prestise kita!

Bukankah ini adalah bayangan mini dari hormat kita kepada Tuhan? Yang wajib kita hormati, semata-mata karena Ia adalah Tuhan. Titik. Bukan karena Ia begini atau begitu. Bukan pula karena ini akan mengakibatkan ini atau itu.

Ini adalah sikap yang lahir dari cinta yang murni. Cinta yang mengatakan, "Ich liebe dich weil du da bist"? Bukan "Ich liebe dich weil du so bist". Aku mencintaimu karena engkau adalah engkau! Bukan karena engkau begini atau begitu.

Sumber: http://www.glorianet.org/ekadarmaputera/ekadayah.html

Bagaimana Keluarga Dimulai

" Tuhan Allah berfirman :"Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." [ Kejadian 2:18 ].

Keluarga-keluarga yang ada dimuka bumi ini, adalah merupakan rancangan Allah sendiri. Dialah yang berinisiatif menciptakan keluarga di muka bumi ini. Ketika Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah serta menghembuskan nafas hidup kedalam hidungnya, dan menempatkannya dalam taman Eden, maka Tuhan sendirilah yang berfirman, "tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja".

Ia sendiri yang mengambil " salah satu rusuk " dari manusia itu, dan dari " rusuk " itu dibangunNyalah seorang perempuan. Pengertian " rusuk " disini adalah ruang [chamber]. Jadi ketika Tuhan Allah mengambil "ruang" dari manusia itu, maka manusia itu menjadi "tidak lengkap" lagi tanpa seorang perempuan. Tanpa seorang perempuan, manusia itu tidak dapat memultiplikasikan dan memperluas dirinya melalui anak-anak ; karena hanya perempuan [ womb-man = manusia rahim ] yang dapat memberikan anak-anak kepadanya. Tanpa seorang perempuan, maka manusia itu kehilangan "sebagian dirinya", yang membuatnya "tidak utuh". Tetapi semua ini adalah rancangan sang Pencipta.

Demikianlah Tuhan Allah menghadirkan seorang perempuan bagi manusia itu sebagai penolong yang sepadan dengannya. Maka terciptalah apa yang disebut keluarga. Kejadian pasal 2 merupakan kisah bagaimana Tuhan Allah sendiri membangun keluarga pertama di muka bumi ini.

Setelah manusia jatuh dalam dosa, kita lihat ada banyak orang mencoba membangun keluarga. Namun tidak jarang keluarga-keluarga ini hancur berantakan dan tercerai-berai setelah sejangka waktu berjalan. Atau, kalaupun tidak bercerai, kehidupan yang ada di dalamnya sudah tidak seperti keluarga lagi. Masing-masing anggota keluarga sudah berjalan sendiri-sendiri. Suami, istri dan anak-anak mempunyai tujuan hidup masing-masing. Walaupun mereka masih hidup satu rumah, tidak ada lagi kesatuan seperti yang direncanakan Allah semula bagi suatu keluarga. Ini bukan saja terjadi pada keluarga-keluarga pada umumnya, namun seringkali terjadi juga dalam keluarga-keluarga yang menyebut dirinya Kristen. Mengapa ? Supaya genaplah firman Tuhan, "Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang membangunnya;". Jika bukan Tuhan yang membangun keluarga, sia-sialah usaha orang membangunnya, baik itu orang-orang pada umumnya maupun orang Kristen.

Sdr/i, keluarga adalah rancangan dan ciptaan Allah sendiri. Tak ada seorangpun yang dapat membangun keluarga. Marilah kita berserah dan mengizinkan Dia membangun keluarga kita sendiri. Amin.

Sumber: Gema Sion Ministry

Bapa Sebagai Imam

"UmatKu binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imamKu; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu" [Hosea 4:6].

Dari ayat diatas, kita dapat melihat fungsi seorang Imam bagi Umat pilihan Tuhan. Seorang Imam bertanggung jawab memberi pengajaran, agar Umat Tuhan tidak binasa dan dapat mengenal Allah. Tetapi di zaman Hosea, para Imam menolak pengenalan akan Allah, dan karenanya gagal menuntun Umat Tuhan. Akibat kegagalan mereka, bukan saja Allah menolak para Imam tetapi juga melupakan anak-anak mereka.

Seorang Imam berfungsi sebagai perantara. Imam harus menghadap Allah demi kepentingan Umat, dan ia harus mengajar Umat demi kepentingan Allah. Fungsi perantara seperti ini sangat penting, karena jika gagal maka yang terkena akibatnya bukan hanya para Imam tapi juga Umat Tuhan. Dalam ayat diatas kita lihat akibat kegagalan para Imam, yaitu Allah melupakan anak-anak mereka.

Kasus kegagalan para Imam pada ayat diatas, terjadi dalam konteks suatu bangsa. Bila kasus ini kita lihat dalam konteks keluarga, bagaimana akibatnya ? Siapakah "para Imam" dalam satu keluarga ? Tidak diragukan lagi, "para Imam" dalam suatu keluarga adalah seorang Bapa yang dibantu oleh seorang Ibu. Bila seorang Bapa gagal menjalankan fungsi ke-imam-an dalam keluarganya, maka Allah akan melupakan anak-anaknya. Hal ini sangat menyedihkan sekali. Apa jadinya dengan anak-anak kita, jika Allah telah melupakan mereka ?

Rasul Yohanes yang telah lanjut usia itu berkata, "Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran". Sukacita terbesar bagi seorang bapa sejati, ditentukan oleh anak-anaknya. Betapa bahagianya seorang bapa, jika anak-anaknya tidak dilupakan Allah.

Tetapi semuanya ini hanya dapat terjadi jika bapa dapat menjalankan fungsi ke-imam-an dengan benar. Dalam konteks Israel, kekudusan seorang Imam diuraikan dengan jelas didalam Imamat 21. Seseorang yang tidak memenuhi standar kekudusan sesuai dengan yang telah ditetapkan, tidak dapat berfungsi sebagai Imam. Jika seorang bapa tidak memenuhi standar kekudusan yang Tuhan minta, bagaimana ia dapat berfungsi sebagai Imam bagi keluarganya ? Seorang bapa harus belajar menjadi pendoa syafaat yang tangguh bagi anak-anaknya. Seorang bapa harus belajar menjadi pengajar yang diurapi bagi anak-anaknya. Seorang bapa harus belajar menjadi teladan dalam kekudusan hidup bagi anak- anaknya. Dan semuanya ini tidak mudah dijalankan. Tetapi tidak ada pilihan lain. Tuhanlah yang telah menetapkan para Bapa agar berfungsi sebagai Imam. Semoga para Bapa menyadari semua perkara ini.

Sumber: Gema Sion Ministry

Bapa Sebagai Nabi

"tidak ada satupun dari firmanNya itu yang dibiarkanNya gugur. Maka tahulah seluruh Israel,bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi Tuhan" [I Samuel 3:19-20].

Nabi adalah seorang yang dipercayakan dan diberikan firman Tuhan untuk disampaikannya kepada Umat Tuhan. Firman yang disampaikan seorang nabi tidak harus selalu berbentuk nubuat (sesuatu yang akan Tuhan lakukan di masa depan). Bahkan yang terutama, seorang nabi dipercayakan firman yang baru dan segar yang berlaku saat ini. Apa yang akan Tuhan kerjakan dan yang Tuhan kehendaki bagi UmatNya saat ini, dinyatakanNya pada seorang nabi, agar firmanNya diteruskan pada UmatNya. Nabi adalah penyambung lidah Tuhan.

Pada ayat diatas ditegaskan bahwa tidak ada satupun dari firmanNya itu yang dibiarkanNya gugur, dalam arti Tuhan selalu bertindak sesuai dengan firman yang telah disampaikan Samuel. Karena kepada Samuel dipercayakan firman Tuhan, maka seluruh Israel tahu bahwa Samuel adalah seorang nabi.

Sekarang, apakah yang dimaksud dengan Bapa sebagai Nabi ? Artinya seorang bapa, dengan bantuan seorang ibu, dipercayakan firman Tuhan yang baru dan segar, agar diteruskan kepada anak-anaknya. Dengan demikian, anak-anak dituntun oleh firman Tuhan, sehingga anak-anak memiliki visi serta pengertian yang tepat, yang sesuai dengan situasi saat ini, agar anak-anak dapat melayani Tuhan dan meneruskan perjuangan serta visi orang tua.

Karenanya, seorang bapa perlu membangun hubungan yang akrab dengan Tuhan, agar ia dapat mendengar suaraNya dan dipercayakan firmanNya, yang pada gilirannya dapat menuntun anak-anak sehingga anak-anak mengerti kehendak Tuhan bagi diri mereka sendiri saat ini. Seorang bapa perlu memiliki firman, visi dan ministry yang jelas. Inilah warisan terbaik dari seorang bapa bagi anak-anaknya. Bapa bukan saja harus mengumpulkan harta bagi anak-anaknya ( II Korintus 12:14 ), tetapi yang terutama, seorang bapa harus mewariskan firman, visi dan ministry kepada anak-anaknya. Bukan pendeta atau guru sekolah minggu, yang harus mewarisi firman kepada anak-anak kita, walaupun mereka dapat membantu. Tetapi tugas bapalah, untuk mewariskan firman Tuhan kepada anak-anaknya.

Didalam kekristenan, umumnya para bapa berpikir bahwa tugasnya adalah mengumpulkan uang bagi anak-anaknya, sedangkan tugas pendeta dan guru sekolah minggu adalah memberi firman bagi anak-anaknya. Kalau mau ditelusuri, penyakit ini disebabkan kejatuhan gereja yang telah berlangsung berabad-abad, dimana gereja dibelah menjadi golongan imam / pendeta, dan golongan Umat / jemaat. Perlu pewahyuan radikal untuk menyembuhkan penyakit yang sudah berabad-abad ini. Tetapi bagaimanapun juga seorang bapa bertanggung jawab memenuhi kebutuhan utama anak-anaknya, yaitu kebutuhan akan firman Tuhan. Anak-anak tidak hidup dari roti saja, melainkan juga firman Tuhan. Untuk itu seorang bapa haruslah berfungsi sebagai nabi bagi anak-anaknya.

Sumber: Gema Sion Ministry

Bapa Sebagai Pendidik

"Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya Tuhan memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikanNya kepadanya" [ Kejadian 18:19 ].

Latar belakang ayat ini adalah suatu kejadian dimana Allah memiliki rencana hendak memusnahkan Sodom dan Gomorah disebabkan dosa-dosa yang terjadi dikedua kota tersebut. Tetapi Allah berpikir apakah Ia akan menyembunyikan rencanaNya kepada Abraham, atau tidak. Mengapa Allah berpikir demikian, adalah karena Ia telah memilih Abraham agar ia menjadi bangsa yang besar dan melalui dia, seluruh kaum di muka bumi mendapat berkat. Demikianlah kejadian yang menjadi latar-belakang ayat diatas.

Ayat diatas [ Kejadian 18:19] mengungkapkan bagaimana tindakan Abraham sebagai orang yang dipilih Tuhan, terhadap anak-anaknya serta keturunannya. Dengan tegas Abraham memerintahkan anak-anaknya serta keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan. Tindakan Abraham ini sama seperti tindakan Yosua ketika ia berkata pada orang Israel bahwa, "aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan !" [ Yosua 24:15 ].

Didalam salah satu terjemahan harafiah dari ayat diatas, tertulis demikian, "for I have known him, that he commandeth his children" Dari terjemahan harafiah ini ( yang lebih tepat ), kita dapat menarik kesimpulan ( dari sisi manusia ) bahwa salah satu alasan mengapa Allah memilih Abraham, adalah karena Ia telah mengetahui bahwa Abraham akan memerintahkan anak-anaknya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan. Kalau memang benar demikian, betapa pentingnya bagi seorang bapa untuk memerintahkan anak-anaknya agar mengikuti jalan yang ditunjukkan Tuhan. Didalam suatu keluarga, bapa mempunyai tanggung jawab menjalankan otoritas yang diberikan Tuhan padanya, yaitu dalam hal memerintahkan anak-anaknya agar mengikut Tuhan. Disini kita lihat fungsi bapa didalam keluarga sebagai seorang pendidik, tentunya dengan pertolongan seorang istri.

Tetapi kita harus jelas melihat bahwa tanggung jawab mendidik ( memerintahkan ) anak-anak, terletak dipundak seorang bapa. Tentu saja istri sebagai seorang penolong, akan membantu, demikian juga guru-guru disekolah, serta pelayan-pelayan Tuhan didalam gereja ikut serta mendidik anak-anak. Tetapi tanggung jawab itu ada pada sang bapa. Apabila anak-anak memberontak dan tidak menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, maka pertanggung-jawaban terakhir harus didapat dari seorang bapa.

Apabila fungsi bapa sebagai pendidik dijalankan dengan baik, maka ada tindakan Tuhan yang indah ( sesuai ayat diatas ), yaitu Tuhan akan menepati janjiNya kepada seorang bapa. Tentu saja janji Tuhan semuanya baik dan indah. Amin.

Sumber: Gema Sion Ministry

Bapa Sebagai Raja

"Ketika saat kematian Daud mendekat, ia berpesan (charged / commanded) kepada Salomo, anaknya" [ I Raja-Raja 2:1 ].

Kata yang perlu diperhatikan dari ayat diatas adalah berpesan. Terjemahan harafiahnya lebih tepat adalah charged atau commanded, yaitu memberi perintah. Setiap perkataan Daud sebagai Raja Israel memang bersifat memerintah, dalam arti mengandung otoritas dan harus ditaati oleh seluruh Israel. Tetapi kita akan melihat ayat ini dari sudut yang lain, yaitu dari sudut hubungan Daud dan Salomo sebagai bapa dengan anaknya. Daud sebagai bapa juga mempunyai otoritas untuk memberi perintah kepada Salomo sebagai anaknya. Pada ayat selanjutnya, kita lihat perintah pertama Daud untuk anaknya yaitu agar Salomo melakukan kewajibannya dengan setia kepada Tuhan.

Disini kita lihat bagaimana Daud sebagai bapa menjalankan otoritasnya kepada Salomo dengan memberi perintah. Demikian telah kita lihat juga bahwa Abraham memberi perintah kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya, agar tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan [ Kej. 18:19 ]. Yosua juga menggunakan otoritas atas anak-anak dan seisi rumahnya, dengan membuat pernyataan yang tegas [ Yosua 24:15 ]. Semua ini menunjukkan bahwa seorang bapa harus menjalankan otoritas yang didelegasikan Tuhan padanya, atas anak-anak yang dipercayakan kepadanya.

Tetapi perlu diingat disini bahwa otoritas seorang bapa adalah terhadap anak-anaknya, bukan terhadap pasangannya. Perintah agar seorang isteri tunduk pada suaminya, bukanlah karena suami memiliki otoritas untuk mendidik isterinya, sebagaimana seharusnya ia mendidik anak-anaknya. Seorang isteri tunduk pada suami, semata-mata karena peran isteri adalah sebagai penolong suaminya. Kalau kita menggunakan istilah Raja dan Ratu, maka bapa adalah raja sedangkan ibu adalah ratu, dan secara bersama-sama, mereka didelegasikan otoritas untuk mendidik anak-anaknya.

Bagaimana caranya seorang bapa, dengan bantuan seorang ibu, menjalankan otoritas terhadap anak-anaknya ? Amsal 13:24 menjelaskannya demikian, "Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya,…" Kapan tongkat didikan ini harus dikenakan pada seorang anak ? Umumnya, pada usia 3 sampai 6 tahun, seorang anak harus mengalami tongkat didikan berulang-ulang, agar ia mengenal dan mengakui otoritas orang tua, sehingga ia menjadi anak yang penurut. Bapa yang tidak menggunakan tongkat didikan, benci pada anaknya, dalam arti ia membiarkan kebodohan melekat pada anaknya [ Amsal 22:15 ]. Bukan hanya itu, seorang bapa yang tidak menggunakan tongkat, akan menciptakan anak-anak yang tidak mengenal otoritas yang ada pada gurunya di sekolah, pada pemerintahannya mulai dari polisi di jalan sampai presiden, dan yang paling parah adalah pada para pembimbing rohani di gereja yang telah ditetapkan Tuhan baginya. Dapat dipastikan, anak pemberontak ini tidak akan berguna dalam pekerjaan Tuhan.

Tongkat melambangkan otoritas. Anak-anak harus mulai belajar apa itu otoritas sejak masa kecilnya, dan ini dimulai melalui tongkat didikan seorang bapa di rumah. Seorang bapa perlu belajar tegas terhadap anak-anak, bahkan sampai hal-hal yang kecil nampaknya, misalnya film apa saja yang boleh ditonton anak-anak.

Semoga para bapa menyadari bahwa ia adalah raja, dan pasangannya adalah ratu, bagi anak-anaknya.

Sumber: Gema Sion Ministry

Bapa atau Bapa-Bapa-An

Hari Minggu kita memperingati Fathers Day, saya ucapkan selamat kepada para Bapa, supaya melalaui peringatan ini para Bapa lebih mengasihi Tuhan, mengasihi istri dan mengasihi anak-anak. Tahukah saudara dari mana sesungguhnya asal mula Fathers Day ini?

Fathers Day berasal dari Amerika, lahir dari satu ide seorang bernama Henry Jackson yang ingin menyatakan penghargaan atau appraciation terhadap bapa-bapa. Ide itu dimulai dari tempat dimana Henry tinggal dan menjadi suatu kebiasaan didaerah mereka yang kemudian berkembang ke daerah-daerah yang lain. Pada tahun 1972 pemerintah Amerika menjadikan tradisi itu menjadi hari nasional. Sampai hari ini setiap awal bulan September kita merayakan Fathers Day.Itulah sedikit latar belakang dari Fathers Day.

Perumpamaan tentang "Anak yang hilang" ini menggambarkan tentang kasih dan sikap Bapa yang di Sorga terhadap anak-anakNya. Hal ini disebabkan sikap orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang tidak bisa menerima pelayanan Yesus terhadap pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Mereka memandang rendah dan risih kepada orang banyak yang tidak mengenal Taurat Allah, mereka juga menghindari untuk bergaual dengan mereka.` Dalam hal ini Yesus ingin membenarkan tindakan-Nya dengan menggambarkan bagaimana sikap Allah terhadap orang-orang berdosa.

Coba kita lihat bagaimana sikap Bapa kita yang di Sorga terhadap anak-anakNya:

A. BAPA DI SORGA MENGHARGAI HAK ANAK-ANAKNYA

Tatkala anak bungsu menuntut pembagian harta warisan kepada bapanya, sebenarnya sang bapa cukup banyak alasan untuk tidak membagikannya. sebab pada waktu itu bapanya masih hidup, tentunya segala harta benda itu masih menjadi milik si bapa. Tetapi sang bapa tidak menerapkan prinsip ini terhadap si bungsu, ia tidak mempertahankan kuasanya; namun ia justru menghargai kebebasan dan hak anaknya. Dengan suka rela ia membagikan harta warisan tersebut pada si bungsu. Hal ini dapat kita lihat dalam ayat 12 "Ia membagi-bagikan harta kekayaan itu kepada kedua anaknya." Demikian juga pada waktu anak bungsu ini hendak menjual seluruh harta kekayaannya dan hendak merantau ke negeri yang jauh, bapanya tidak memaksakan anaknya untuk taat kepadanya. Sekali lagi ia memberikan kebebasan yang penuh kepada anaknya. Ini berarti bahwa sang bapa tidak diktator atau otoriter yang memaksa anaknya untuk tunduk pada kehendaknya.

Demikian juga dengan Allah Bapa di Sorga, Ia tidak pernah memaksakan kehendak-Nya supaya kita taat. Ia menghargai hak kita, oleh sebab itu Ia memberikan kebebasan kepada kita. Allah kita juga bukan Allah yang selalu menerapkan peraturan-Nya sehingga manusia mau tidak mau harus tunduk. Oleh sebab itu jangan salah paham, semua dosa yang kita pikul bukan merupakan kehendak Allah tetapi kehendak kita yang senantiasa melawan Tuhan. Dosa kita juga muncul dari ketidaktaatan kita pada-Nya.

Ada seorang bapa yang mempunyai seorang anak laki-laki, sejak kecil bapanya membiayai dia di sekolah yang terkenal dan setelah tamat SMA anaknya ini ingin menjadi insinyur, tetapi bapanya melarangnya, sang bapa ingin anaknya menjadi dokter. Ia tidak memberikan kebebasan kepada anaknya, tetapi ia memaksakan kehendaknya, ia tidak mau tahu yang penting anaknya harus menjadi dokter. Sang anak dengan terpaksa masuk ke Fakultas Kedokteran, namun karena dengan terpaksa maka anaknya itu tidak begitu serius untuk menekuninya dan akhirnya ia gagal. Ia gagal bukan karena ia bodoh, tetapi karena ia memang tidak menyukai bidang ini. Ini merupakan gambaran tentang bapa yang di dunia, tetapi tidaklah demikian dengan Bapa kita yang di Sorga, IA memberikan hak kepada kita untuk memilih, IA tidak pernah mengikat kita, IA tidak pernah memaksa kita. IA bahkan selalu memberikan yang terbaik bagi kita, namun sering kali manusia menyalahgunakan haknya.

Di dalam hidup kita, Allah menghargai hak kita untuk melakukan segala sesuatu. Janganlah kita memakai hak yang diberikan oleh Allah kepada kita untuk berbuat dosa. Jikalau Allah sudah begitu baik kepada kita, IA menghargai hak kita untuk melakukan segala sesuatu, marilah kita memakai waktu, kesehatan, dan kekuatan yang diberikan Tuhan kepada kita untuk melakukan hal-hal yang baik juga, sebab apabila sudah tiba waktu penghukuman maka Allah Yang Maha Adil akan menetapkan keputusan-Nya berdasarkan kesalahan manusia di dalam mempergunakan kebebasan mereka. Nah pada waktu itu kesempatan telah tidak ada, menyesalpun tidak ada gunanya.

B. BAPA DI SORGA MENANTI ANAK-ANAKNYA DENGAN SETIA

Tindakan anak bungsu membuat sang bapa sangat sedih hati dan kecewa. Anak bungsu menjual seluruh hartanya lalu pergi ke negeri yang jauh dan di sana ia menghabiskan semua harta milik ayahnya dengan hidup berfoya-foya dan bersenang-senang, hidup di dalam dosa dan percabulan akhirnya ia menjadi miskin. Sewaktu miskin, maka semua teman-teman pestanya satu persatu pun meninggalkannya. Keahlian si anak bungsu tidak ada sama sekali, ia hanya bisa memberi makan babi, dan inilah satu-satunya pekerjaan yang dapat dikerjakan selama di kampong halaman. Menjaga babi merupakan pekerjaan sangat menjijikkan bagi orang Yahudi; karena mereka memandang babi sebagai binatang yang paling najis. Tatkala si bungsu memberi makan babi, ia baru sadar bahwa sebenarnya ia telah berbuat salah pada bapanya, ia lapar tetapi tidak ada makanan yang boleh dia makan. Ia kemudian bernostalgia; tatkala ia berada di rumah bapanya, tidak akan begitu susah; makanan tersedia berlimpah. Akhirnya ia tidak dapat lagi menahan kelaparannya maka ia makan makanan babi itu juga. Semantara itu sang bapa setia menanti anaknya pulang. Lihat ayat 20a "Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya, ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya." Penulis yakin bahwa bapanya tentu tidak berdiri menunggu pada hari itu saja, ia saban hari berdiri di sana, menanti dan menanti anaknya.

Bapa kita di Sorga juga demikian, Ia senantiasa menanti anak-anak-Nya yang tidak setia dengan setia, walaupun anak-anak-Nya itu telah jauh dari-Nya, walaupun anak-anak-Nya tidak setia. Bapa yang di Sorga selalu dengan tangan terbuka menanti kita datang kembali kepada-Nya dengan setia.

Di dalam hidup kita, apabila kita merasakan sudah lama meninggalkan Tuhan, kita sudah lama hidup berkecimpung dalam dosa dan kenajisan, kita merasa begitu terikat dan sengsara, ingatlah bahwa Allah Bapa sedang menanti kita dengan setia agar kita pulang kembali kepada-Nya. Kalau kita merasa sudah lama meninggalkan Tuhan dan ingin kembali kepadaNya, mulailah saat ini juga, jangan tunda lagi.Tuhan senantiasa menanti kedatangan kita dengan setia.

C. BAPA DI SORGA MEMBERIKAN PENGAMPUNAN KEPADA ANAK-ANAK-NYA

Ketika anak yang bungsu ini menyesal, bertobat dan pulang ke rumah bapanya; maka bapanya mendapatkan dia, lalu memeluk dan mencium anaknya sebagai tanda pengampunan sebelum anaknya itu sendiri mengatakan sesuatu. Tatkala si bungsu berkata "Bapa, aku telah berdosa terhadap Sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa." Bapanya segera memanggil para pelayannya dan berkata : "Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersuka-cita."

Semua ini menunjukkan bahwa sang bapa menyambut dengan hangat kedatangan anaknya dan memperlakukannya dengan sikap yang menghargai. Lalu dikenakan jubah kepadanya yang melambangkan kebenaran, perangai yang suci. Tangannya diberi cincin yang melambangkan hak atau kuasa menjadi anak Allah. Kakinya dipakaikan sepatu yang baru melambangkan seseorang yang kembali kepada Tuhan dan Yesus Krisrus telah memberilkan kepada kita darah-Nya yang mulia untuk pengampunan dosa kita. Saudara, Bapa yang di Sorga memberikan pengampunan kepada anak-anakNya yang mau bertobat dan datang kepada-Nya karena Tuhan Yesus Kristus telah menebus dosa kita dengan darah-Nya yang mulia.

Sering kali di Surat Kabar kita membaca berita yang berbunyinya demikian: "Mulai hari ini, tanggal, bulan dan tahun, anak kami yang bernama, alamat, pekerjaan, tidak lagi kami akui sebagai anak. Oleh sebab itu segala tindak-tanduknya sudah berada di luar tanggung jawab kami. Tanda tangan, orang tua, nama jelas." Ini adalah suatu gambaran tentang orang tua yang tidak bisa mengampuni anaknya, tetapi Bapa yang di Sorga tidak demikian. Bapa kita yang di Sorga senantiasa memberikan pengampunan kepada anak-anak-Nya walaupun dosa mereka merah seperti Kirmizi, apabila kita bertobat dan meminta pengampunan dari-Nya, Tuhan akan memutihkannya seperti salju. Luar biasa.

Demikianlah dalam hidup kita ini, apabila kita menyesal atas segala perbuatan dosa kita yang sudah terlanjur dilakukan; kemudian kita bertobat maka Tuhan pasti menerima kita kembali dan memberikan pengampunan kepada kita melalui darah-Nya yang Kudus. Di dalam 1 Yohanes 1:9 di situ dikatakan "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."

Marilah kita mengaku dosa-dosa kita karena Bapa yang di sorga memberikan pengampunan kepada kita anak-anak-Nya. Sekarang juga telah tersedia Anugerah bagi siapa saja yang mau mengakui dan menyatakan kesalahannya dan minta pengampunan pada Tuhan. Kita telah melihat bagaimana sikap Bapa kita yang di Sorga terhadap anak-anak-Nya, Ia menghargai hak mereka, Ia menantikan mereka dengan setia dan Ia memberikan pengampunan bagi mereka. Sekarang biarlah kita datang pada Tuhan, kembali pada-Nya, minta supaya hidup kita diperbaharui. Amin.

JANGAN KIRIMI AKU BUNGA . . .

Aku mendapat bunga hari ini meski hari ini bukan hari istimewa dan bukan hari ulangtahunku. Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar dan ia melontarkan kata-kata menyakitkan. Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena hari ini ia mengirim aku bunga.

Aku mendapat bunga hari ini. Ini bukan ulangtahun perkawinan kami atau hari istimewa kami. Semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai mencekikku Aku bangun dengan memar dan rasa sakit sekujur tubuhku. Aku tahu ia menyesali (perbuatannya) karena ia mengirim bunga padaku hari ini.

Aku mendapat bunga hari ini, padahal hari ini bukanlah hari Ibu atau hari istimewa lain. Semalam ia memukul aku lagi, lebih keras dibanding waktu-waktu yang lalu. Aku takut padanya tetapi aku takut meningggalkannya. Aku tidak punya uang. Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?

Namun, aku tahu ia menyesali (perbuatannya)semalam, karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga. Ada bunga untukku hari ini. Hari ini adalah hari istimewa : inilah hari pemakamanku. Ia menganiayaku sampai mati tadi malam. Kalau saja aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk meninggalkannya, aku tidak akan mendapat bunga lagi hari ini . . .

PESAN MORAL:

Sekedar untuk perenungan kita bahwa sebaiknya wanita jangan berpangku sepenuhnya pada laki-laki tanpa memiliki ketrampilan apa-apa dan janganlah laki-laki menganiaya wanita, Lelaki yang terhormat dan beradab adalah lelaki yang bisa memperlakukan wanita/istrinya secara baik. Kiranya kita selalu di lindungi oleh Tuhan Yesus Kristus.

Berkat Tertinggi

"Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan pada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus" [ I Yohanes 1:3 ].

Rasul Yohanes menyatakan bahwa tujuan pemberitaan Injil oleh para rasul adalah agar umat Tuhan memperoleh persekutuan ( koinonia ), baik dengan para rasul itu sendiri maupun dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus. Apakah makna dari kata persekutuan, yang dalam bahasa Yunaninya adalah koinonia ? Kata koinonia bukan hanya berarti suatu persahabatan antara seseorang dengan yang lainnya. Makna kata koinonia lebih dalam dari pada itu. Koinonia adalah suatu kesatuan antara seseorang dengan yang lainnya. Konsep koinonia dalam Perjanjian Baru adalah suatu kesatuan atau suatu pertalian diantara orang percaya, yang tercipta karena penebusan dalam Kristus Yesus. Koinonia adalah kesatuan dalam Kristus.

Kisah Para Rasul mencatat bahwa karena memperoleh koinonia, jemaat mula-mula "tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama" [ 2:44 ]. Ini adalah berkat yang luar biasa yang Tuhan curahkan pada umatnya, yaitu kesatuan. Tetapi lambat laun kedagingan manusia menyusup kedalam sehingga berkat kesatuan ini hancur. Kita semua menyadari bagaimana saat ini kondisi umat Tuhan yang terpecah-belah.

Yang menarik dari ayat diatas adalah persekutuan itu merupakan persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya. Bapa dan Anak adalah sesuatu yang berhubungan dengan keluarga. Jadi koinonia itu adalah sesuatu yang seharusnya ada didalam keluarga. Apabila suatu keluarga Kristen memperoleh koinonia yang sesungguhnya, maka keluarga itu adalah satu. Ini sesungguhnya adalah berkat tertinggi yang mungkin diperoleh dalam suatu keluarga.

Kebanyakan keluarga Kristen tidak mengejar berkat kesatuan ini. Salah satu sebabnya adalah karena banyak keluarga tidak menyadari bahwa sesungguhnya Allah adalah keluarga, dan bahwa Allah adalah satu. Allah ingin mengekspresikan diriNya didalam keluarga-keluarga di muka bumi ini. Inilah alasan utama Allah menciptakan keluarga dimuka bumi ini. Jika kita sebagai keluarga Kristen dapat melihat perkara ini dengan jelas, maka kita akan sungguh-sungguh mengejar berkat kesatuan ini.

Tetapi kesatuan keluarga ini tidak mudah dicapai, karena kesatuan yang dimaksud disini adalah kesatuan seperti yang ada pada Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kesatuan ini adalah satu dalam pikiran, perasaan, dan kehendak. Anak-anak bukan saja tidak memberontak pada orang tua, tetapi mereka mempunyai pikiran, perasaan dan keinginan yang sama dengan orang tua. Isteri bukan mengalah dan mematahkan keinginannya sendiri agar dapat tunduk pada suami, tetapi isteri mempunyai keinginan yang sama dengan suaminya. Kesatuan dalam Kristus yang seperti ini, dapat dicapai walaupun tidak mudah. Karena kesatuan keluarga ini adalah berkat, bahkan kami percaya ini adalah berkat tertinggi yang dicurahkan Tuhan bagi umat pilihanNya. Semoga kita mengejar berkat ini dengan sepenuh hati.

Sumber: Gema Sion Ministry

Berkat bagi Keluarga

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

Khotbah Minggu Pagi di GBAP El Shaddai Palangka Raya 28 Oktober 2012

“TUHAN memberkati Abraham, Abraham memberkati Ishak, Ishak Memberkati Yakub, Yakub memberkati Yusuf dan anak-anaknya; demikianlah kita melihat penghargaan para Patriakh terhadap berkat. Sesungguhnya ada kuasa dan kehidupan di dalam berkat!” - Samuel T. Gunawan -

Pendahuluan

Alkitab sangat banyak membicarakan tentang berkat. Kata “berkat” adalah kata yang sangat penting khsususnya dalam Perjanjian Lama. Kata “berkat” diterjemahkan dari kata Ibrani "???? - berakhah", berasal dari verba "??? - barakh", yang bermakna memberkati, memberikan salam, bahkan terkadang berarti berlutut. Kata “berkat” ini digunakan lebih dari 640 kali dalam Perjanjian Lama. Kepada Abraham Tuhan berfirman, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan (Aku akan) memberkati engkau (va'avârekhkha) serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi (vehyêh) berkat (berâkhâh) (Kejadian 12:2).

Berkat secara ultimat berasal dari Tuhan. (Ulangan 8:17-8; Amsal 10:22). Pencarian agar memperoleh suatu keadaan yang diberkati merupakan kerinduan manusia yang universal. Jeritan kepedihan hati dan tangisan esau menggambarkan keadaan banyak orang saat ini yang hidup tanpa berkat, Kata Esau kepada ayahnya: "Hanya berkat yang satu itukah ada padamu, ya bapa? Berkatilah aku ini juga, ya bapa!" Dan dengan suara keras menangislah Esau” (Kejadian 27:38). Manusia sering mengutarakan suatu harapan untuk kehidupan yang diberkati baik kepada dirinya, keturunanya dan berkat kepada sesamanya.

Orang-orang yang hidup di dalam Perjanjian Lama tampaknya dengan jelas mengerti kuasa berkat. Saat kepala keluarga mendekati kematiannya, para putra tertua berkumpul di sisi ayah mereka. Sang ayah kemudian akan meletakkan tangannya di kepala masing-masing putra serta mengucapkan kata-kata yang meramalkan kehidupan dan masa depan mereka. Kata-kata ini berisi apa yang kemudian dikenal sebagai "berkat". Keluarga menyadari bahwa saat-saat seperti ini lebih dari sekedar pesan-pesan terkahir sebelum kematian sang ayah; kata-kata ini membawa otoritas rohani, mempunyai kuasa untuk mendatangkan keberhasilan, kemakmuran, dan kesehatan di masa depan mereka.
Perjanjian Lama memberikan contoh pentingnya berkat, sehingga untuk mendapatkannya harus diperebutkan. Esau dan Yakub “bertengkar” memperebutkan berkat dari ayah mereka, Ishak (Kejadian 27:1-41). Mereka tidak bertengkar karena uang atau warisan keluarga lainnya yang mungkin bisa mereka warisi. Esau dan Yakub, sama-sama menyadari bahwa jika mereka menerima berkat ayahnya, maka kekayaan dan keberhasilan merupakan sesuatu yang nyata di masa depan.

Gambaran Alkitab Tentang Berkat

Gambaran Alkitab tentang berkat orang percaya dihubungkan dengan penciptaan, patriak (para bapa leluhur Israel), kovenan (perjanjian), dan berkat yang dihubungkan dengan Perjanjian Baru. Pertama, berkat dihubungkan dengan penciptaan. Ketika Tuhan memciptakan langit, bumi, manusia dan segenap mahluk yang tinggal didalamnya, Ia memberkati ciptaanNya itu (Kejadian 1:22,28; 2;3). Berkat dalam penciptaan dan alam semesta ini adalah berkat yang bersifat umum, universal dan bagi semua manusia (Bandingkan Matius 5:45).

Kedua, berkat yang dihubungkan para Patriakh. TUHAN memberkati Abraham, Abraham memberkati Ishak, Ishak memberkati Yakub, Yakub memberkati Yusuf dan anak-anaknya; demikianlah kita melihat penghargaan para Patriakh terhadap berkat (Kejadian 12:1-4; 24:1; 25:5; 27:27-30; 48; 49). Sesungguhnya ada kuasa dan kehidupan di dalam berkat! Berkat-berkat lebih dari sekedar harapan yang baik, dalam hal-hal tertentu berkat berdampak bagi kehidupan dan masa depan para Patriakh dan keturunannya.

Ketiga, berkat yang dihubungkan dengan perjanjian (kovenan). Tuhan berjanji untuk memberkati Abraham, dan oleh Abraham semua kaum dimuka bumi akan mendapat berkat (Kejadian 12:3). Paulus mengatakan bahwa orang-orang percaya adalah anak-anak Abraham (Galatia 3:7); dan bahwa mereka adalah keturunan Abraham yang berhak menerima janji Allah (Galatia 3:29). Orang-orang percaya disebut anak-anak Abraham hanya karena mereka mengikuti jejak iman Abraham (Galatia 3:9). Kepada orang percaya berkat perjanjian terutama dihubungkan dengan karya Kristus bagi orang percaya (Galatia 3:26,27) dan ketaatan dimana Tuhan memberi upah karena ketaatan. Tetapi, walaupun Tuhan memberi berkat karena ketaatan, yang menyebabkan Ia melakukannya adalah anugerahNya (Bandingkan Ulangan 7:6-16; Mazmur 5:9).
Keempat, berkat dalam Perjanjian Baru. Sementara berkat dalam Perjanjian Lama dikaitkan dengan kemakmuran fisik, maka berkat dalam Perjanjian Baru lebih menekankan pada warisan rohani yang disediakan di sorga (Efesus 1:3). Walaupun demikian, Perjanjian Baru juga memberikan tempat bagi kemakmuran materi (2 Korintus 8:9). Berkat yang kita bicarakan dalam kesempatan ini adalah berkat yang dihubungkan dengan patriakh dan kovenan, seperti yang disebutkan diatas.

Pentingnya Berkat

Alkitab memberikan alasan pentingnya berkat dalam kehidupan kita.  Pertama, berkat menggambarkan kehendak Tuhan dari sejak penciptaan dan itu adalah rancanganNya dari semula (Efesus 1:3-4). Setelah Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, Ia memberkati mereka. Alkitab mencatat bahwa “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”. (Kejadian 1:28). Kebenaran ini sungguh luar biasa, karena kita mengetahu bahwa kita diciptakan supaya diberkati!

Kedua, berkat adalah cara untuk memohon perlindungan Tuhan (bandingkan Bilangan 6:24-26). Bagi mereka yang hidup pada masa Patriakh berkat adalah saat untuk memohon perlindungan Tuhan bagi yang dikasihi. Begitu pentingnya berkat ini, sehingga bila ada anggota keluarga yang akan bepergian jauh, mereka akan menerima berkat sebelum berangkat. Misalnya, Ishak memberkati Yakub sebelum Yakub pergi mencari seorang istri (Kejadian 28:1). Atau, Laban dan Betual, yang memberkati Ribka, saudara mereka yang akan pergi meninggalkan mereka untuk menjumpai Ishak dan menjadi istrinya (Kejadian 24:60).

Ketiga, berkat digunakan untuk menandai peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan. Ketika orang tua mendekati saat kematian, ia memanggil anak-anak untuk memberkati (Kejadian 27:1; 48:1). Berkat juga diberikan pada peristiwa perkawinan (Kejadian 24:60) dan peristiwa kelahiran (Rut 4:14-15). Simeon memberkati Keluarga Yusuf dan Maria saat mereka membawa Yesus ke Yerusalem untuk diserahkan kepada Allah (Lukas 2:25-34). Tradisi Yahudi yang masih ada sampai sekarang yaitu “bar mitsva” untuk upacara ulang tahun anak lelaki, dan “bat mitsva” untuk upacara ulng tahun anak perempuan. Masa akil balig (tradisi Yahudi untuk menyatakan seorang anak telah dewasa) adalah saat berkat khusus yang diberikan oleh orang tua kepada anak mereka (Galatia 4:1-2).

Keempat, berkat menunjukkan penerimaan dan penghargaan. Berkat yang diberikan pada seseorang merupakan bentuk pengakuan yang dipahami bahwa orang tersebut diterima dan dihargai. Demikian kita melihat Abraham memberkati Ishak, Ishak memberkati Yakub, Yakub memberkati keduabelas anaknya, serta dua cucunya. Bahkan Kata-kata berkat berkat Yakub bagi Efraim dan Manasye hingga saat ini masih diucapkan oleh orang tua Yahudi untuk memberkati anak-anak mereka. Alkitab mencatat “Lalu diberkatinyalah mereka pada waktu itu, katanya: "Dengan menyebutkan namamulah orang Israel akan memberkati, demikian: Allah kiranya membuat engkau seperti Efraim dan seperti Manasye” (Kejadian 48:20).
Kelima, berkat memberikan arah dan tujuan bagi masa depan (Kejadian 49:1). Berkat yang diberikan oleh Patriakh meramalkan kehidupan dan masa depan khusus bagi orang yang diberkati. Hal ini berkaitan dengan berkat khusus yang diberikan Tuhan kepada para Patriakh sebagai bapa bangsa Israel yang dipilih Tuhan. Perhatikanlah bagaimana Ishak menggambarkan  masa depan Yakub saat ia mengucapkan perkataan berkat kepada Yakub  dalam Kejadian 27:27-29. Juga perhatikan bagaimana Yakub menggambarkan masa depan Yusuf, anaknya dan dua cucunya melalui kata-kata berkat (Kejadian 48:15-22).

Cara Pemberian Berkat

Dalam Alkitab, secara umum ada dua cara pemberian berkat, yaitu dengan kata-kata dan sentuhan. Kata-kata adalah berkat yang diucapkan; sedangkan sentuhan adalah berkat yang dinyatakan. Seringkali berkat diucapkan disertai dengan sentuhan (Kejadian 27:27-29; 48:15-22). Dalam Alkitab kita memperhatikan bahwa Tuhan mengucapkan kata-kata berkat kepada Abraham (Kejadian 12:1-4); Abraham mengucapkan berkat kepada anaknya, Ishak (Kejadian 24:1; 25:5); Ishak mengucapkan kata-kata berkat kepada anaknya, Yakub (Kejadian 27:27-19); Yakub mengucapkan kata-kata berkat kepada anaknya Yusuf, juga kepada kedua cucunya, Efraim dan Manasye (Kejadian 48:15-22). Berkat hanya menjadi berkat bila diucapakan melalui perkataan berkat! Berkat yang diucapkan harus disertai pengakuan bahwa  orang tersebut berharga. Berkat yang diucapkan akan memberi keyakinan kepada yang menerimanya bahwa mereka diterima (diperkenan) dan dihargai. Demikian juga sentuhan pada saat memberkati merupakan hal yang sangat penting dalam berkat di Perjanjian Lama. Sentuhan ini berupa pelukan, ciuman atau meletakkan tangan pada kepala (Kejadian 27:26; Kejadian 48:14). Banyak kali berkat diberikan dalam Alkitab, disertai dengan sentuhan yang memperlihatkan perhatian, penghargaan, dan penerimaan sebelum berkat itu diucapkan.

Kata-kata berkat kita akan mempengaruhi masa depan anak-anak kita. Kita perlu mengucapkan kata-kata penuh kasih, persetujuan dan penerimaan, kata-kata yang mendorong, memberi memotivasi bagi anggota-anggota keluarga kita untuk mencapai tujuan dan mendapatkan masa depan mereka. Saat kita melakukannya, kita sedang mengucapkan berkat-berkat ke dalam kehidupan mereka dan mereka akan sungguh-sungguh diberkati. Walaupun berkat yang kita diberikan pada saat ini tidak dapat meramalkan secara tepat masa depan seperti yang dilakukan Patriakh, tetapi kita dapat mendorong dan menolong anak-anak  dan orang lainnya untuk menetapkan dan  mencapai tujuan yang berarti dalam hidup mereka. Berkat akan membuat anak-anak merasa aman dan membantu mereka bertumbuh dengan percaya diri dimasa yang akan datang.

Orang Kristen dan Berkat di dalam Kristus

Berkat dalam Perjanjian Lama dikaitkan dengan kemakmuran fisik, maka berkat dalam Perjanjian Baru lebih menekankan pada warisan rohani yang disediakan di sorga (Efesus 1:3). Walaupun demikian, Perjanjian Baru juga memberikan tempat bagi kemakmuran materi (2 Korintus 8:9).  Orang Kristen menerima berkat-berkat karena keberadaannya “di dalam Kristus”. Paulus mengatakan “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus (en Christo) telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga” (Efesus 1:3). Kesatuan dengan Kristus (union with Christ) merupakan alasan utama kita menerima berkat. Kesatuan dengan Kristus ini pertama kali terjadi saat kita mengalami regenerasi (lahir baru) oleh Roh Kudus. Regenerasi merupakan perubahan yang terjadi secara seketika. Paulus mengatakan, “ telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita - oleh kasih karunia kamu diselamatkan -” (Efesus 2:5). Disini, kata kerja yang diterjemahkan “menghidupkan” adalah “synezoopoiesen”, memakai bentuk aorist tense yang berarti tindakan yang seketika atau sekejap. Jadi, disaat regenerasi kesatuan antara Kristus dan orang percaya secara aktual diterjadi.

Pertama, pemilihan Allah yang berdaulat atas kita di dalam Kristus (Efesus 1:3-4). Paulus menegaskan bahwa Allah telah memberkati kita dengan semua berkat rohani di dalam Kristus (en Christo), bukan berdasarkan kelayakan kita melainkan karena Allah telah memilih di dalam Kristus sebelum dunia diciptakan (pro kataboles kosmou). Ketika Bapa memilih Kristus; Dia juga memilih kita (1 Petrus 1:20; Efesus 1:4).

Kedua, karya penebusan Kristus yang memberikan keselamatan dan berkat-berkat lainnya bagi kita. Paulus menegaskan “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia (en auto) berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu” (Galatia 3:14). Kata Yunani yang digunakan untuk istilah keselamatan adalah  Soteria yang merupakan terjemahan dari kata Ibrani Yasha dimana kata tersebut mengandung arti pembebasan dan penyelamatan dari kesukaran, penderitaan, kesakitan dan ikatan, juga di dalamnya terkandung makna pemeliharaan, keamanan dan keutuhan.

Ketiga, berkat-berkat diterima oleh orang percaya melalui iman. Berkat yang dihubungkan dengan perjanjian (kovenan). Paulus mengatakan bahwa orang-orang percaya adalah anak-anak Allah karena iman (Galatia 3:26); dan bahwa mereka adalah keturunan Abraham yang berhak menerima janji Allah (Galatia 3:29). Orang-orang percaya disebut juga anak-anak Abraham hanya karena mereka mengikuti jejak iman Abraham (Galatia 3:7,9). Kepada orang percaya berkat perjanjian terutama dihubungkan dengan karya Kristus bagi orang percaya yang diterima melalui iman  (Galatia 3:26,27).

Penutup

Kita tak pernah tahu keadaan di depan kita, tetapi kita dapat mempercayakan kehidupan kita dan masa depan anak-anak kita kepada Tuhan karena Dia menginginkan hidup kita diberkati dan berhasil. Kita dapat mempercayai dan mengandalkan Tuhan dan janjiNya. Pertama, Tuhan menjanjikan masa depan yang penuh harapan, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11). Kedua, Tuhan memberikan kekuatan untuk berhasil. Tuhan tidak memberikan kita harta, tetapi kekuatan untuk memperoleh harta kekayaan, “Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini” (Ulangan 8:18).  Paulus mengingatkan bahwa “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Korintus 8:9).

Sama seperti Ishak memberkati anaknya, kita juga bisa memberkati anak-anak kita. Walaupun berkat yang kita diberikan pada saat ini tidak dapat meramalkan secara tepat masa depan seperti yang dilakukan Patriakh, tetapi kita dapat mendorong dan menolong anak-anak  dan orang lainnya untuk menetapkan dan  mencapai tujuan yang berarti dalam hidup mereka. Berkat akan membuat anak-anak merasa aman dan membantu mereka bertumbuh dengan percaya diri dimasa yang akan datang. Jika Anda ingin anak-anak kita menjadi produktif dan berhasil, kita perlu mulai menyatakan kata-kata berkat kepada mereka. Berdoalah dan berkatilah mereka. Letakkanlah tangan atas mereka dan berdoalah untuk perjalanan hidupnya, studinya, pekerjaannya kelak, perjodohannya, keluarga yang kelak akan dibentuknya, pelayanan serta pertumbuhan rohaninya.Berkatilah anak-anakmu dan biarlah mereka menerima janji-janji Allah dalam hidup Anda.


* Pdt. Samuel T. Gunawan adalah seorang Protestan-Kharismatik, Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat  El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT Lainnya. Menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE) dari Universitas Palangka Raya; Sarjana Theology (S.Th) dan Magister Theology (M.Th) dari STT Trinity.

Betapa Berartinya Keluarga

Sumber: Oliver N

Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh.(Lukas 11 : 17).

Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. "Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya. Ia berkata, "Maafkan saya juga, saya tidak melihat Anda." Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cer! ita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.

Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. "Minggir," kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.

Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku, "Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi,sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu. Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu, merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu."

Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, "Bangun, nak, bangun," kataku.

"Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?" Ia tersenyum, " Aku menemukannya jatuh dari pohon. Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru."

Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi."

Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu."

Aku pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru." Renungan : Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitunga! n hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.

Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan? Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?

FAMILY = (F)ather (A)nd (M)other, (I), (L)ove, (Y)ou

Bolehkah Kumpul Kebo?

Oleh: Pdp. Jafar Thamrin, S.Th

Tetapi sekarang Aku berkata kepadamu: barangsiapa memandang seorang wanita dengan nafsu berahi, orang itu sudah berzinah dengan wanita itu di dalam hatinya. (BIS) (Matius 5:28)

Kumpul kebo dalam bahasa Belandanya disebut Samenleven dan dalam bahasa trendinya adalah Living Together tetapi yang dimaksud adalah Kumpul Kebo. Istilah kumpul kebo berasal dari masyarakat Jawa tradisional (generasi tua). Secara gamblangnya pasangan yang belum menikah, tapi sudah tinggal di bawah satu atap. Perilakunya itu dianggap sama seperti kebo.

Pada umumnya kumpul kebo dilakukan karena tidak tahan, sudah ingin cepat-cepat menikah, tetapi sikon tidak mengijinkan, umpamanya sekolah/kuliah belum selesai, orang tua tidak mengijinkan, belum punya gawean, usia masih terlalu muda, tetapi di lain pihak dorongan kebutuhan biologis atau naluri seks selalu mendapat rangsangan dan godaan dari luar. Inilah penyebab utama, kesukaran, problem dan godaan yang makin serius bagi orang-orang muda, sehingga akhirnya kaum remaja berjatuhan, tak tahan godaan untuk melakukan hubungan bebas atau pun kumpul kebo.

Bagaimana tanggapan gereja terhadap kasus kumpul kebo ini? Bolehkah kumpul kebo, karena kasus-kasus yang di atas tadi? Apakah ini juga menyangkut masalah dosa? Kalau melihat ungkapan Matius bahwa melihat wanita saja sudah dianggap berzinah, apalagi kumpul kebo. Berarti bisa ditarik kesimpulan bahwa kumpul kebopun adalah perzinahan. Karena tidak mungkin dua orang yang berlainan jenis tinggal dalam satu atap, terus tidak melakukan hubungan badan. Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa kumpul kebo adalah dosa zinah (Kejadian 20:14). Selain itu kumpul kebo adalah HTS (Hubungan Tanpa Status atau bisa juga HTPG hubungan Tanpa Pemberkatan Gereja).

Hukum ketujuh dalam 10 hukum Allah yang melarang perzinaan (bd. Imamat 20:10; Ulangan 22:22) meliputi semua tindakan percabulan dan dosa seksual (Matius 5:27-32; 1 Korintus 6:13-20). Perzinaan (yaitu, ketidaksetiaan kepada pasangan hidup) demikian keji di hadapan Allah sehingga seluruh Alkitab mengutuknya. Hanya sayangnya di mimbar gereja jarang ada khotbah mengenai kumpul kebo. Maklum, di sana tidak ada kebo, yang ada hanya domba-domba saja. Sebenarnya ini harus menjadi tanggungjawab gereja kepada jemaatnya untuk menyatakan bahwa kumpul kebo adalah dosa dan orang yang yang melakukan kumpul kebo, hidup dalam dosa perzinahan, selama kumpul kebo itu berlangsung. Apapun alasannya, kumpul kebo tidak dibenarkan oleh Alkitab. Jadi disarankan bagi yang kumpul kebo cepatlah menikah dan meminta peneguhan dari Tuhan sehingga tidak hidup dalam dosa. Kumpul kebo... ogah!

Candanya, Hilang

Penulis : Walsinur Silalahi

Saya butuh suami yang mau duduk dan menemani saya.Bukan hanya membiayai pengobatan yg mahal,makanan yg enak dan perawatan di rumah sakit yang paling utama,"keluh seorang isteri yang sedang sakit berat.

Anaknya yg melihat penderitaan ibunya berkata,"Mam,tatkala kita masih dirumah kecil,hubungan kita terasa hangat.Ada nada2 nyanyi bersama sebelum tidur.Ada canda dan tawa ria saat menonton acara TV."Tetapi setelah rumah kita menjadi besar,dan pangkat ayah semakin tinggi,hubungan kita semakin mengecil dan dingin,semakin jauh saja. Kita kehilangan ayah".Kebahagiaan yang tadinya dimiliki keluarga ini hilang ditelan oleh kegiatan2 suami yg mempunyai jabatan yang semakin tinggi.Ada apa dengan suamimu? tanyaku balik."Dia memang pekerja keras,karirnya cemerlang sehingga sampai kedudukan seperti ini. Rumah kami besar,dan segala kebutuhan material kami dipenuhi,"desahnya sambil berhenti sejenak menyeka airmatanya.Sejak dia menjadi Pres.Direktur di perusahaannya,hubungan kami semakin renggang.Kami jarang berkomunikasi. Kelelahan fisiknya karena kerja keras setiap hari membuatnya ingin istirahat dan tdk mau diganggu tatkala tiba dirumah. Kami hanya bicara seperlunya dan kehilangan kehangatan seperti saat ia masih pimpinan tingkat menengah.Kami pun tertegun lesu mendengar penuturannya.

Sebuah harapan yang sangat sederhana.Sang isteri tdk banyak menuntut dari laki-laki yg dulu menjadi idolanya.Materi yg cukup dan kehormatan kekuasaan tdk mampu mengobati rasa sakitnya.Ia masih ingat tatkala laki-laki itu mengucapkan kalimat:"Saya akan menerimamu sebagai isteri yang sah dan satu-satunya.Saya akan selalu setia,dalam suka dan duka,dalam susah dan senang...sampai maut memisahkan kita."

Kini,ucapan itu hanya terbukti pada saat senang dan suka.dalam keadaan susah dan duka,kehangatan dan kehadiran serta perhatian itu hilang karena sebuah pertemuan dengan rekan bisnisnya/pelanggan,atau negosiasi proyek2 atau menemani rekan2nya main golf.

Menjadi suami yg baik adalah sebuah keharusan yg seringkali diabaikan.Peran sebagai seorang ayah/suami hanya dijalani sambil lalu saja. Padahal menjadi suami berarti melepaskan diri dari pangkat yg ada dikantor dalam berhubungan dengan isteri.Isteri adalah satu2nya pelanggan yg harus dilayani.Harus dipuaskan dan menjadi sumber inspirasi bagi kebahagiaan keluarga.

Kalau sdh mulai mencampur adukkan tindak-tanduk sebagai pipmpinan dikantor dengan perilaku suami,maka ikatan keluarga akan berantakan.Ini dua peran yang terpisah tapi saling berhubungan.Jangan biarkan kasih emosional meluntur.Bila kasih rasional berkuasa,maka tak heran banyak pernikahan kristen yang sebenarnya sdh runtuh dan parah tapi terbingkai rapi oleh kemunafikan karena alasan tdk bisa cerai.Secara fisik mereka bersama,tetapi secara hati sebenarnya sdh terpisah jauh sekali.Kelihatannya bersatu sebagai suami/isteri diluar.tapi didalam rumah mereka adalah seteru yg sudah tidak saling menghormati.

Menjadi ayah yang mau membimbing yg kata2nya penuh hikmat adalah harapan murni seorang anak.Anak butuh kehangatan pelukan sang ayah,bukan tebalnya selimut sutra.Anak butuh pengertian dan bukan saja peraturan yg mesti dilakukan.Anak butuh diskusi bukan perintah yg harus ditaati.Itu berarti butuh waktu yang harus dialokasikan dengan tepat,

Laki-laki itu harus bisa memainkan perannya sebagai seorang SUPERMAN

Ini bukan pilihan,tetapi kewajiban mutlak yg tak boleh didebat bila seorang laki-laki berani mengambil langkah hidup berkeluarga.

Apakah hal diatas dapat dicapai? Ya..Bila kita selalu melibatkan Tuhan dalam perjalanan keluarga kita masing-masing dan Tidak..Bila kita menjauh dari Dia yang menciptakan kita dan mengandalkan superioritas kita sendiri.

Rekan2 pria yg belum menikah,pertimbangkanlah hal2 diatas agar memiliki keluarga yg harmonis.

Cinta Sejati Seorang Ibu

Oleh: Oliver N

"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang kearah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga.

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak sambil berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."

Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Iapun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan,"Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku, ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya." Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah... bahwa sang ibu tidak memiliki telinga.

"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?" Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati.

Renungan: Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.

Cinta dan Seks dalam Keluarga

Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu. Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita [Kidung Agung 1:15-16 ] Kitab Kidung Agung, yang ditulis oleh Salomo, mengungkapkan bagaimana mempelai pria dan mempelai wanita saling memuji satu dengan yang lain. Saling memuji diantara mereka terjadi karena cinta dan ketertarikan fisik.

Kitab Kidung Agung dapat dipahami dari berbagai sudut pandang. Dari sudut pandang historis, kitab ini menceritakan bagaimana Salomo, sekalipun memiliki 60 permaisuri dan 80 selir serta dara-dara tak terbilang banyaknya, tetap mencintai gadis Sulam sebagai satu-satunya merpatinya [ Kidung Agung 6:8-9,13 ]. Secara kiasan, kitab ini dapat dipahami sebagai ungkapan kasih antara Allah sebagai suami dan Israel sebagai isteri, atau Tuhan Yesus sebagai mempelai pria dan gereja sebagai mempelai wanita. Semua pendekatan yang telah dijelaskan diatas, dapat dibenarkan. Tetapi dalam renungan ini, kita akan melihat kitab Kidung Agung sebagai ungkapan cinta antara seorang gadis dan seorang pria.

Alkitab memberi tempat bagi cinta jasmani antara pria dan wanita. Cinta yang terjadi antara pria dan wanita, karena ketertarikan fisik bukanlah hal yang terlarang. Kalau kita membaca dua pasal pertama Kitab Kejadian, maka kita dapat melihat bahwa sex adalah sesuatu yang merupakan rancangan Allah sebelum Kejatuhan. Jadi, persetubuhan dalam hubungan suami-isteri adalah sesuatu yang kudus, dan cinta jasmani yang terlibat didalamnya juga kudus. Tetapi, setelah manusia jatuh dalam dosa, maka cinta jasmani dan sex telah menjadi hawa nafsu yang menjerumuskan.

Kita dapat melihat dalam kisah Amnon dan Tamar, bagaimana sex dan cinta jasmani telah dipakai Iblis [ II Samuel 13 ]. Didalam kisah ini, Amnon bin Daud jatuh cinta kepada Tamar, a2dik perempuan dari Absalom bin Daud ( ayat 1 ). Cinta didalam diri Amnon demikian kuat sampai ia jatuh sakit karenanya. Selanjutnya diceritakan bagaimana Amnon memperkosa Tamar, dan bagaimana dalam sekejab saja tiba-tiba Amnon membenci Tamar ( ayat 14,15 ). Amnon, yang pada mulanya sangat mencintai Tamar, tetapi tiba-tiba dapat sangat membencinya. Tentu peristiwa ini terjadi karena Iblis telah memakai cinta jasmani untuk mendatangkan malapetaka atas keluarga Daud. Dan memang, jika kita melihat pada pasal-pasal sebelumnya, Allah telah mengizinkan Iblis mendatangkan malapetaka atas keluarganya, karena peristiwa Batsyeba. Jadi kita lihat setelah Kejatuhan, bahwa Iblis dapat memakai cinta jasmani dan sex menjadi hawa nafsu yang merusak. Tetapi, cinta jasmani dan sex itu sendiri berasal dari Allah, sama seperti selera makan dan minum.

Bagi pria dan wanita kristen yang belum menikah dan sedang dalam proses memilih teman hidup, haruslah sangat berhati-hati terhadap cinta jasmani. Sebab, Iblis dapat "menimbulkan" cinta jasmani didalam pria atau wanita, sehingga dapat merusak rencana Allah dalam hal memilih jodoh. Pria atau wanita yang akan menikah, perlu sungguh-sungguh menguji cinta jasmaninya, apakah telah ditunggangi Iblis atau tidak.

Bagi mereka yang telah menikah, maka cinta jasmani dan sex haruslah mendapat tempat yang selayaknya. Suami dan isteri yang penuh Roh Kudus, akan dapat menikmati cinta jasmani dan sex sebagaimana yang direncanakan Allah. Perlu kita ingat bahwa cinta jasmani dan sex yang dinikmati dalam Roh Kudus, akan menjadi alat ditangan Tuhan untuk mempersatukan keluarga.

Sumber: Gema Sion Ministry

Esensi Pernikahan Kristen

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

Khotbah Ibadah Raya GBAP El Shaddai Palangka Raya
Minggu, 10 Maret 2013

“Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”  (Matius 19:4-6)

Pendahuluan

Ini adalah sesi pertama khotbah saya dari seri bimbingan pernikahan dan pembinaan  keluarga. Hari ini, saya akan menyampaikan sesi: ESENSI PERNIKAHAN KRISTEN. Untuk selanjutnya saya akan menyampaikan Sesi: TUJUH PERUBAHAN PENTING SETELAH PERNIKAHAN; sesi: PERCERAIAN DAN PERNIKAHAN KEMBALI; sesi: MEMILIH PASANGAN HIDUP; dan sesi: HIDUP BERSAMA DALAM KELUARGA.

Saat ini, banyak orang kurang menghargai pernikahan. Hal ini terlihat dari banyaknya kasus hidup bersama tanpa status pernikahan, kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan dan tingginya angka perceraian. Apakah yang menjadi penyebab kekacauan ini ? Saya memperhatikan ada dua penyebab utama mengapa kekacauan dalam keluarga ini terjadi. Pertama, pengertian yang dangkal tentang cinta. Kedua, Ketidakmengertian tentang esensi pernikahan Kristen. Karena itu pada kesempatan ini kita akan melihat kedua hal tersebut.

Apakah Cinta Sejati Itu?

Kita mengenal istilah “cinta” dan “kasih” yang dalam bahasa Yunani dibedakan menjadi empat macam, yaitu: (1) Eros, adalah cinta yang mementingkan diri sendiri; cinta yang berpusat pada diri sendiri; cinta yang berdasarkan daya tarik sensual dan romatisme; kasih yang egois dan bersyarat (2) Storge, adalah kasih alami dalam keluarga; kasih karena hubungan darah atau kekerabatan, seperti hubungan kasih orang tua dan anaknya. (3) Philia,   adalah bentuk kasih persaudaraan; kasih sayang antar sahabat atau teman; kasih karena kesetiakawanan. (4) Agape, yaitu kasih tanpa pamrih; kasih yang tidak mementingkan diri; kasih dari hati yang peduli pada orang lain; kasih yang sanggup bertahan, bahkan ketika pihak lain tidak layak untuk dikasihi; kasih yang tanpa syarat. Kasih agape ini adalah kasih sejati. Kristus dalam Matius 22:34-40 meringkas tugas orang Kristen dengan hukum kasih, yaitu kasih kepada Tuhan, kepada diri sendiri dan kepada sesama. “Agapê” perlu memenuhi hidup kita dan mengontrol kasih yang lainnya (philia, eros, storge). Semua kasih yang lain hanya dapat diperbaiki dan berfungsi dengan benar dalam proporsi yang tepat bila “agapê ” mengontrolnya. Kasih ini mengatur relasi kita dalam keluarga, sesama, ditempat kerja (Yohanes 13:34), dan bagi mereka yang membutuhkan bahkan mereka yang memusuhi (Lukas 10:25-37).

“Agapê” dapat diaktulisasikan kepada Allah dan kepada sesama. Secara khusus, dalam konteks 1 Korintus pasal 13, Paulus menggunakan kata “agapê ” dalam hubungan dengan sesama. Paulus dalam 1 Korintus 13:4-8a, tidak berusaha mendefinisikan apa itu kasih, tetapi memperlihatkan sifat-sifat dan tindakan moral dari kasih. Tercatat enam belas sifat dan tindakan moral kasih yang disebutkan Paulus,  yaitu: (1) kasih itu sabar (bersabar, memberi kesempatan), hê agapê makrothumei ; (2) kasih itu murah hati (bermurah hati atau baik hati), hê agapê chrêsteuetai ; (3) kasih itu tidak cemburu (tidak iri hati), hê agapê ou zêloi; (4) kasih itu tidak memegahkan diri, hê agapê ou perpereuetai; (5) kasih itu tidak (menjadi) sombong, hê agapê ou phusioutai; (6) kasih itu tidak melakukan yang tidak sopan, hê agapê ouk askhêmonei; (7) kasih itu tidak mencari keuntungan-keuntungan diri sendiri, hê agapê ou zêtei ta heautês; (8) kasih itu tidak pemarah (tidak mudah tersinggung, hê agapê ou paroxunetai; (9) kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang lain (tidak mengingat hal yang jelek), hê agapê ou logizetai to kakon; (10) kasih itu tidak bersukacita karena ketidakadilan (tidak bersukacita atas perbuatan yang tidak benar), hê agapê ou khairei epi tê adikia; (11) kasih itu bersukacita bersama kebenaran, hê agapê sugkhairei tê alêtheia; (12) kasih itu menutupi segala sesuatu,  hê agapê panta stegei; (13) kasih itu percaya segala sesuatu,  hê agapê panta pisteuei; (14) kasih itu mengharapkan segala sesuatu,  hê agapê panta elpizei; (15) kasih itu sabar menanggung segala sesuatu,  hê agapê panta hupomenei; (16) kasih itu tak berkesudahan,   hê agapê oudepote ekpiptei

Saat ini, banyak orang memahami cinta dengan cara seperti berikut ini: “Aku cinta engkau karena engkau cantik”. Atau “aku suka kamu karena kamu mengerti dan perhatian padaku”. Atau “aku cinta kamu karena kamu mampu memuaskan keinginanku”. Atau “aku suka kamu karena masakanmu enak”. Pengertian semacam di atas sama dengan ini “Aku suka anjingku karena ia menggonggong” atau “aku suka coklat karena coklat enak”, dan lain sebagainya. Jika pengertian kita tentang cinta sejauh atau seperti diatas maka cinta kita begitu dangkalnya. Ini sama dengan cara duniawi bukan maksud Tuhan dalam pernikahan. Bagaimana jika tidak cantik lagi, bagaimana jika suatu saat tidak perhatian lagi, bagaimana jika suatu saat masakan kurang enak? atau bagaimana jika anjingmu tidak menggonggong lagi, atau coklatmu menjadi tidak enak? Dimaki-makikah, dibuangkah atau dicampakkan? Tragis, tapi inilah pengertian banyak orang tentang arti cinta dalam pernikahan.

Sebenarnya, cinta sejati adalah mencintai yang dicintai tanpa menuntut kesenangan dan kebahagiaan diri sendiri tetapi kesenangan dan kebahagiaan yang dicintai. Jika kita hanya menuntut untuk disayangi, dihargai, diperhatikan, maka kita egois. Jangan biarkan hal itu terjadi terus menerus. Jadilah suami atau istri yang memberi perhatian, menyanyangi, menghormati, menghargai pasangan anda, dan menjadikan kebahagian keluarga sebagai hal yang utama (Efesus 5:22-33).

Apakah Esensi Pernikahan Kristen?

Memahami esensi dari pernikahan seperti yang dirancang dan ditetapkan Allah sangatlah penting bagi kelanggengan hubungan pernikahan. Karena itu kita akan memperhatikan pengajaran Tuhan Yesus mengenai pernikahan dalam Matius 19:4-10 dan pasal-pasal pararel lainnya. Pertama-tama kita akan melihat definisi Pernikahan dan kemudian memperhatikan esensi dari pernikahan itu.

Pernikahan dapat didefisinisikan sebagai berikut: “pernikahan merupakan hubungan eksklusif antara satu laki-laki dan satu perempuan, dimana keduanya menjadi “satu daging”, disatukan secara fisik, emosional, intelektual, dan spiritual; dijamin melalui sumpah sakral dan ikatan perjanjian serta dimaksudkan untuk seumur hidup”. Definisi ini didasarkan pada pernyataan Alkitab dalam Kejadian 1:24; Matius 19:5; Markus 10:7; Efesus 5:31. Berdasarkan definisi tersebut, berikut ini lima esensi pernikahan Kristen.

1. Pernikahan merupakan suatu lembaga yang dibuat dan ditetapkan Allah bagi manusia sesuai kebutuhan (Matius 19:4,8).

Pernikahan adalah suatu lembaga yang ditetapkan Allah bagi manusia sesuai dengan kebutuhannya. Perhatikan Frase dalam “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:18).  Saat laki-laki (ha adam) “seorang diri saja” maka Allah menyatakan bahwa keadaan ini “tidak baik”. Jadi Allah memutuskan untuk menciptakan “ezer kenegdo” atau “seorang penolong”.  Kata Ibrani “ezer” yang diterjemahkan dengan “penolong” berarti “sesuai dengan” atau “sama dengan”. Jadi secara harfiah “seorang penolong” berarti “penolong yang sepadan atau seorang yang sepadan dengannya”. Dengan demikian jelaslah bahwa Allah sendiri yang menetapkan lembaga Pernikahan dan memberkatinya (Baca Kejadian 1:28).

Ketetapan Tuhan ini tidak pernah berubah dan ini berlaku “sejak semula” bagi semua orang, bukan hanya bagi orang-orang Kristen saja.  Matius mencatat perkataan Kristus demikian, “Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula (ap’arches) menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?” (Matius 19:4). Kata Yunani “ap’arches” atau “sejak semula” yang disebutkan Yesus dalam Matius 19:4, pastilah merujuk pada Kejadian Pasal 2, karena kalimat selanjutnya “Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging”, yang diucapkan Yesus dalam ayat 5 adalah kutipan dari Kejadian 2:24.

Pernikahan adalah satu-satunya lembaga sosial yang ditetapkan Allah sebelum kejatuhan manusia dalam dosa (Kejadian 2:24; Banding Kejadian 1:28). Karena itu pernikahan wajib dihormati oleh semua orang (Ibrani 13:4). Allah telah menetapkan pernikahan dari sejak semula, baik untuk orang-orang Kristen maupun untuk orang-orang bukan Kristen. Dan Allah adalah saksi dari seluruh pernikahan, baik diundang maupun tidak. Meskipun bentuk dan tatacara bervariasi dalam setiap budaya dan setiap generasi tetapi esensinya tetap sama dari “sejak semula” bahwa pernikahan merupakan satu peristiwa sakral tidak peduli pasangan tersebut mengakuinya ataupun tidak. Sebuah keluarga dimulai ketika seorang pria dan seorang wanita memutuskan untuk menikah dan hidup bersama (Kejadian 2:24).

2. Pernikahan merupakan hubungan yang eksklusif antara seorang pria dan seorang wanita (Matius 19:5,6).

Melalui pernikahan Allah menyatukan dua orang menjadi satu. Dalam rancangan Allah sejak semula, pernikahan adalah antara satu orang pria dengan satu orang wanita yang menjadi satu.  Sejak semula Allah hanya menciptakan dua gender manusia, yaitu laki-laki dan perempuan, yang walaupun berbeda dalam fungsi dan reproduksi, tetapi sama dalam  derajat, harkat dan martabat. Sebab itu, bersyukurlah jika anda dilahirkan sebagai pria atau pun sebagai seorang wanita. Dalam Kejadiam 1:27 dikatakan “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki (ish) dan perempuan (ishsha) diciptakan-Nya mereka”. Kristus menegaskan kembali hal ini dalam Matius 19:4, dikatakan, “Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia (antrophos) sejak semula (ap’arches) menjadikan mereka laki-laki (aner) dan perempuan (gyne)?”

Jadi yang dimaksud dengan pernikahan Alkitabiah adalah antara seorang pria biologis dengan seorangan wanita biologis. Karena itu, pernikahan dengan sesama jenis (homoseksual) atau pun pernikahan dengan hewan bukanlah pernikahan, melainkan penyimpangan dari ketetapan Tuhan. Karena itu karakteristik paling mendasar dari pernikahan adalah bahwa pernikahan merupakan satu kesatuan antara seorang pria dan seorang wanita.

Pernikahan itu juga bersifat monogami, yaitu untuk satu suami dan satu istri. Paulus berkata “baiklah setiap laki-laki (bentuk tunggal) mempunyai isterinya sendiri (bentuk tunggal) dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri” (1 Korintus 7:2). Monogami bukan hanya ajaran Perjanjian Baru, tetapi merupakan ajaran Perjanjian Lama. Monogami adalah sejak dari mulanya ketika Allah menciptakan satu laki-laki (Adam) dan memberi dia hanya satu istri (Hawa). Fakta bahwa Allah mengijinkan poligami dalam Perjanjian Lama tidaklah membuktikan bahwa Dia memerintahkannya. Poligami, sebagaimana perceraian itu diijinkan bukan diperintahkan, hal ini terjadi karena ketegaran (kekerasan) hati. Tetapi sejak semula tidaklah demikian (Matius 19:8).

3. Pernikahan merupakan pertemuan dan hubungan antar pribadi yang paling intim. (Matius 19:5,6)

Pernikahan adalah hal yang paling misterius tetapi serius. Karena, “keduanya akan menjadi satu”. Artinya, secara praktis keduanya akan beralih “dari aku dan kau menjadi kita” dan “dari saya dan dia menjadi kami”. Persatuan ini mencakup segalanya “disatukan secara fisik, emosional, intelektual, dan spiritual”.

Perhatikanlah saat Alkitab mengatakan “seorang pria akan meninggalkan ayat dan ibunya dan bersatu dengan istrinya. (Kejadian 2:24). Kata “meninggalkan” dan “bersatu” adalah dua kata yang penting untuk dipahami. Kata Ibrani untuk “meninggalkan” adalah “azab” yang berarti “melonggarkan, melepaskan, meninggalkan, meninggalkan sepenuhnya, secara total”. Kata Ibrani untuk “bersatu” adalah “dabaq” yang artinya “mengikat, lem, melekat, menempel, bergabung berdekatan dengan atau mengikat bersama”. Artinya jelas, bahwa dalam pernikahan seorang pria melekatkan diri kepada istrinya sendiri, sehingga “apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:6).

Secara khusus, pernikahan juga melibatkan kesatuan seksual antara pria dan wanita. Perhatikan frase “satu daging” dalam ayat-ayat Kejadian 1:24; Matius 19:5; Markus 10:7; Efesus 5:31. Ada tiga tujuan relasi seksual dalam pernikahan, yaitu: penyatuan (Kejadian 2:24), perkembang biakan (Kejadian 1:28), dan rekreasi (Amsal 5:18-19). Tetapi, hubungan seksual sebelum pernikahan disebut percabulan (Kisah Para Rasul 15:20; 1 Korintus 6:18) dan hubungan seksual diluar pernikahan disebut perzinahan (Keluaran 20:14; Matius 19:9). Percabulan maupun perzinahan, sangat dilarang di dalam Alkitab. Dalam Perjanjian Lama, dibawah Hukum Taurat, mereka yang melakukan persetubuhan sebelum menikah diwajibkan untuk menikah (Ulangan 22:28-29). Hal ini penting sebab, seks dikuduskan oleh Allah hanya untuk pernikahan bukan sebelum pernikahan. Karena itu setiap orang wajib menghormati pernikahan (1 Korintus 7:2; Ibrani 13:4).

4. Pernikahan merupakan suatu kovenan yang bersifat mengikat (Matius 19:5).

Pernikahan merupakan suatu kesatuan yang dilahirkan dari satu perjanjian dari janji-janji yang timbal balik. Kovenan pernikahan ini dinyatakan dengan gamblang oleh nabi Maleakhi ketika ia menulis “TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu” (Maleakhi 2:14). Kitab Amsal juga berbicara tentang penikahan sebagai suatu “kovenan” atau “perjanjian” satu sama lain. Kitab ini mengutuk seorang yang berzinah “yang meninggalkan teman hidup masa mudanya dan melupakan perjanjian Allahnya” (Amsal 2:17).

Sebuah kovenan menurut Alkitab, adalah sebuah hubungan yang sakral  antara dua pihak, disaksikan oleh Allah, sanagat mengikat, dan tidak dapat dibatalkan. Kedua belah pihak bersedia berjanji untuk menjalani kehidupan sesuai dengan butir-butir perjanjian itu. Kata Ibrani yang digunakan untuk “kovenan” adalah “berit” dan kata Yunaninya adalah “diathêkê”. Istilah kovenan yang seperti inilah yang digunakan Alkitab untuk melukiskan sifat hubungan pernikahan.

Jadi jelaslah bahwa pernikahan adalah suatu perjanjian pada satu peristiwa dimana Allah menjadi saksi. Allahlah yang mengadakan pernikahan dan Dialah yang menyaksikan janji-janji tersebut benar-benar dibuat “dihadapan Allah”. Kristus menegaskan bahwa Allahlah yang benar-benar menyatukan dua manusia bersama-sama di dalam pernikahan dengan mengatakan, “Apa yang telah disatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia” (Markus 10:19).

Bagaimana dengan perceraian, bukankan Kristus mengatakan bahwa “apa yang telah disatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia”?  Pertama-tama, perceraian dapat terjadi hanya karena satu alasan yaitu “zinah” (Matius 19:9). Frasa “kecuali karena zinah” adalah satu-satunya alasan dalam Alkitab di mana Tuhan memberikan izin untuk perceraian. Satu alasan ini perlu ditegaskan karena orang farisi datang kepada Yesus dengan pertanyaan “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” Frase Yunani “kata pasan aitian” sebuah frase yang lebih tepat bila diterjemahkan “untuk alasan apa saja” (Matius 19:3). Banyak penafsir Alkitab yang memahami “klausa pengecualian” ini sebagai merujuk pada “perzinahan” yang terjadi pada masa “pertunangan”. Dalam tradisi Yahudi, laki-laki dan perempuan dianggap sudah menikah walaupun mereka masih “bertunangan.” Percabulan dalam masa “pertunangan” ini dapat merupakan satu-satunya alasan untuk bercerai. Disini, Matius menggunakan kata Yunani “porneia” atau “percabulan”, yang pada dasarnya berarti ketidaksetiaan secara seksual atau ketidaksetiaan sebelum pernikahan yang mencakup segala macam hubungan seksual yang bertentangan dengan hukum. Jika perzinahan yang dimaksud terjadi setelah pernikahan maka kata Yunani yang biasanya digunakan adalah “moikeia”. Kata “moikeia” adalah perzinahan atau seks haram yang melibatkan seseorang yang sudah menikah.

Kedua, fakta bahwa Allah “mengijinkan” perceraian dalam Perjanjian Lama tidaklah membuktikan bahwa Dia memerintahkannya (baca Ulangan 24:1-4). Perceraian itu diijinkan bukan diperintahkan, hal ini terjadi karena “sklerokardia” atau “kekerasan hati” (Matius 19:8). Ini berarti perceraian adalah konsensi ilahi bukan konstitusi ilahi. Kata Ibrani “tidak senonoh” dalam ulangan 24:1, adalah “erwath dabar”, sebuah frase yang secara harafiah berarti “ketelanjangan suatu benda”. Kata ini dapat diartikan sebagai “keadaan telanjang atau pamer aurat yang dikaitkan dengan perilaku yang tidak suci”, tetapi bukan perzinahan setelah pernikahan. Karena hukuman bagi perzinahan setelah pernikahan dalam hukum Taurat  adalah hukuman mati, sebagaimana yang disebutkan dalam Imamat  20:10 “Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu”. (Bandingkan Yohanes 8:5). 

Tampaknya ada kesalahpahaman diantara pria Yahudi dalam menafsirkan tujuan dari ijin perceraian dengan memberikan surat cerai tersebut. Sebenarnya, surat cerai diberikan bukan untuk membenarkan perceraian, tetapi untuk melindungi hak-hak perempuan (istri), agar ia jangan diusir begitu saja atau diperlakukan seenaknya. Tetapi ayat ini justru digunakan oleh para lelaki untuk mengajukan perceraian terhadap istri mereka. Suatu interpretasi yang keliru, sehingga tepat jika Yesus menuding keras dengan mengatakannya “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian” (Matius 19:8).    

5. Pernikahan bersifat permanen dan merupakan suatu komitmen kesetiaan untuk seumur hidup (Matius 19:6)

Menurut Alkitab, kehendak Allah bahwa pernikahan sebagai komitmen seumur hidup. Permanennya suatu pernikahan, dengan jelas dan tegas dikatakan Kristus, “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:6). Jadi Allah dari sejak semula menetapkan bahwa pernikahan sebagai ikatan yang permanen, yang berakhir hanya ketika salah satu pasangannya meninggal (bandingkan Roma 7:1-3; 1 Korintus 7:10-11). Paulus juga menegaskan hal ini ketika ia berkata “Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain” (Roma 7:2-3).

Walaupun pernikahan berlaku seumur hidup, tetapi tidak bersifat kekal. Artinya, hubungan pernikahan hanya terjadi selama hidup di bumi, tetapi tidak berlanjut dalam kekekalan. Hal ini jelas dari apa yang Yesus katakan, “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga” (Matius 22:30). Meskipun kita pasti dapat mengenali orang-orang yang kita cintai di sorga nanti, tetapi jelaslah tidak ada pernikahan di sorga. Karena itu, Paulus menuliskan bahwa para janda dapat menikah lagi (1 Korintus 7:8-9), menunjukkan bahwa komitemen mereka hanya berakhir sampai kematian pasangan mereka.

Penutup

Pernikahan adalah hal mulia, yang dikaruniakan Tuhan, sejak manusia belum jatuh ke dalam dosa, yaitu suatu bayangan yang melukiskan persekutuan antara Kristus dan gerejaNya (Efesus 5:22-33). Dalam pernikahan suami dan istri mengikat diri dalam suatu tujuan yang kudus, untuk membangun rumah tangga bahagia dan harmonis. Karena itu, janganlah pernikahan ditempuh atau dimasuki dengan sembarangan, dirusak oleh karena kurang bijaksana, dinista atau dinajiskan; melainkan hendaklah hal itu dihormati dan dijunjung tinggi dengan takut akan Tuhan serta mengingat maksud Allah dalam pernikahan itu.

Allah telah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama. Pernikahan mempersatukan kedua hati, mempersatukan kasih dan pengharapan dalam suatu kehidupan bersama. Dengan demikian Allah memberi kesempatan kepada laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama. Kehidupan bersama laki-laki dan perempuan harus didasarkan atas kasih karunia. Sebagaimana Yesus Kristus mengasihi satu gereja dan gereja itu mengasihi satu Tuhan, demikian laki-laki dipanggil mengasihi satu perempuan dan perempuan mengasihi satu laki-laki. Karena itu hendaklah pernikahan ditempuh dengan rukun, sehati, setujuan, penuh kasih sayang, percaya seorang akan yang lain, dan bersandar kepada kasih karuniaTuhan. Hanya dengan cara yang demikian kehidupan bersama ini dapat bertahan dan menjadi berkat. Amin

REFERENSI

Burke, Dale., 2000. Dua Perbedaan dalam Satu Tujuan. Terjemahan Indonesia (2007), Penerbit  Metanoia Publising : Jakarta.
Clinton, Tim., 2010. Sex and Relationship. Baker Book, Grand Rapids. Terjemahan Indonesia (2012), Penerbit  ANDI : Yogyakarta.
Douglas,  J.D., ed, 1988. The New Bible Dictionary. Universities and Colleges Christian Fellowship, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, 2 Jilid, diterjemahkan (1993), Yayasan Komunikasi Bina Kasih : Jakarta.
Drewes, B.F, Wilfrid Haubech & Heinrich Vin Siebenthal., 2008. Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru. Jilid 1 & 2. Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta.
Ferguson, B. Sinclair, David F. Wright, J.I. Packer., 1988. New Dictionary Of Theology. Inter-Varsity Press, Leicester. Edisi Indonesia, jilid 1, diterjemahkan (2008), Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Geisler, Norman L., 2000. Christian Ethics: Options and Issues. Edisi Indonesia dengan judul Etika Kristen: Pilihan dan Isu, Terjemahan, Penerbit  Literatur SAAT : Jakarta.
Gutrie, Donald., ed, 1976. The New Bible Commentary. Intervarsity Press, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Tafsiran Alkitab Masa Kini, Jilid 3, diterjemahkan (1981), Yayasan Komunikasi Bina Kasih : Jakarta.
Gutrie, Donald., 1981 New Tastament Theology, . Intervarsity Press, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Teologi Perjanjian Baru, 3 Jilid, diterjemahkan (1991), BPK Gunung Mulia : Jakarta.
Ladd, George Eldon., 1974. A Theology of the New Tastament, Grand Rapids. Edisi Indonesia dengan Judul  Teologi Perjanjian Baru. 2 Jilid, diterjemahkan (1999), Penerbit Kalam Hidup :   Bandung.
Lewis, C.S.,  2006. Mere Christianity. Terjemahan, Penerbit  Pionir Jaya : Bandung
Morris, Leon., 2006. New Testamant Theology. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
Newman, Barclay M., 1993. Kamus Yunani – Indonesia Untuk Perjanjian Baru, terjemahkan, BPK Gunung Mulia : Jakarta.
Pfeiffer, Charles F & Eferett F. Herrison., ed, 1962. The Wycliffe Bible Commentary. Edisi Indonesia dengan judul Tafsiran Alkitab Wycliffe Perjanjian Baru, volume 3, diterjemahkan (2004), Penerbit Gandum Mas : Malang.
Piper, John & Justin Taylor, ed., 2005. Kingdom Sex and the Supremacy of Christ. Edisi Indonesia dengan judul Seks dan Supremasi Kristus, Terjemahan (2011), Penerbit  Momentum : Jakarta.
Prokopchak, Stave and Mary., 2009. Called Together. Destiny image, USA,. Terjemahan Indonesia (2011), Penerbit  ANDI : Yogyakarta.
Schafer, Ruth., 2004. Belajar Bahasa Yunani Koine: Panduan Memahami dan Menerjemahkan Teks Perjanjian Baru.  Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta.
Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. diterjemahkan, Penerbit Literatur SAAT : Malang. 
Stassen, Glen & David Gushee., 2003. Kingdom Ethics: Following Jesus in Contemporary Contex. Edisi Indonesia dengan judul Etika Kerajaan: Mengikut Yesus dalam Konteks Masa Kini, Terjemahan (2008), Penerbit  Momentum : Jakarta.
Stamps, Donald C., ed, 1995. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan. Terj, Penerbit Gandum Mas : Malang.
Susanto, Hasan., 2003.Perjanjian Baru Interlinier Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, jilid 1 dan 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Tong. Stephen., 1991. Keluarga Bahagia. Cetakan kesebelas (2010), Penerbit  Momentum : Jakarta.


* Penulis, seorang Protestan-Kharismatik, Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat  El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT Lainnya. Menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE) dari Universitas Palangka Raya; S.Th in Christian Education;  M.Th in Christian Leadership (2007) dan M.Th in Systematic Theology (2009) dari STT-ITC Trinity.

Setelah mempelajari Alkitab selama ± 15 tahun  menyimpulkan tiga keyakinannya terhadap Alkitab yaitu : 1) Alkitab berasal dari Allah. Ini mengkonfirmasikan kembali bahwa Alkitab adalah wahyu Allah yang tanpa kesalahan dan Alkitab diinspirasikan Allah; 2) Alkitab dapat dimengerti dan dapat dipahami oleh pikiran manusia dengan cara yang rasional melalui iluminasi Roh Kudus; dan  3) Alkitab dapat dijelaskan dengan cara yang teratur dan sistematis.

Harga Diri

Oleh:Sion Antonius

Manusia sering salah dalam menilai harga dirinya, kadangkala terlampau tinggi, kadangkala terlalu rendah. Sangat jarang seseorang dapat dengan tepat menilai harga dirinya. Sebagai sebuah contoh perenungan mari kita lihat kesalahan orang dalam menilai harga dirinya, yaitu dalam keluarga.

Seorang suami cenderung merasa bahwa dia lebih bernilai dari istrinya, sebab suami merasa dia adalah orang yang mencari uang. Jadi karena suami merasa semua kebutuhan keluarga baru bisa dipenuhi karena uang yang diperolehnya maka dia berpikir dirinya lebih berharga daripada istrinya. Perasaan lebih berharga ini kemudian diwujudkan dalam bentuk tindakan-tindakan yang menempatkan istrinya lebih rendah dari suami. Ketika makan harus dilayani istri, jika tidak dilakukan suami marah. Ketika istri minta uang, dengan gaya interogasi menanyakan untuk keperluan apa uang yang diminta tersebut. Bahkan tidak jarang ada suami yang tidak mengijinkan istrinya mengambil putusan apapun dalam keluarga, semua harus suami yang memutuskan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Hal ini dianggap wajar dalam sebuah hubungan suami istri, padahal ini adalah wujud dari penilaian suami yang terlampau tinggi pada dirinya. Suami merasa wajar kalau harga dirinya lebih utama dari istrinya.

Situasi ini dalam kasus tertentu bisa berganti posisi yaitu istri yang merasa dirinya lebih bernilai dibandingkan suaminya. Coba kita pikirkan secara mendalam, benarkah jika orang yang bekerja lalu menghasilkan uang, dia lebih berharga dibandingkan orang yang tidak bekerja? Jika perbandingan ini dilakukan diantara orang bekerja dan pengangguran, maka jawabannya, ya. Namun apabila perbandingan ini dilakukan dalam hubungan suami istri, maka telah terjadi kesalahan yang fatal. Suami dan istri dalam sebuah keluarga tidak ada yang lebih utama, mereka sejajar. Jika hubungan ini tidak sejajar maka keluarga ini tidak beres. Suami yang bekerja dan mendapatkan uang tidak berhak mengklaim dia lebih berharga dibanding si istri. Suami bekerja dan punya uang itu sudah menjadi kewajibannya. Apa yang merupakan kewajiban tidak bisa kita tuntut sebagai sebuah keunggulan.

Sebagai ilustrasi: tukang becak kita bayar lalu dia antar kita ke tujuan, sesampai di tujuan apakah boleh tukang becak tersebut berkata saya berjasa sudah mengantar penumpang. Tukang becak tidak dapat mengatakan dia sudah berjasa, karena dia wajib mengantar penumpang yang sudah membayarnya. Sebuah pelaksanaan kewajiban tidak bisa dikatakan perbuatan yang hebat. Orang tua wajib mengurus anaknya, maka ketika orang tua mengurus anak dengan baik itu bukanlah hal-hal yang harus mendapat penghargaan, hal itu sudah seharusnya dan biasa saja. Jadi boleh saja suami minta dilayani istrinya, namun dalam sudut pandang bahwa suami merasa perlu adanya orang yang menolong dia. Sebaliknya istri mau melayani suami karena mau menjadi penolong suami.

Kegagalan dalam menilai harga diri secara tepat ini menjadi sumber dari kehancuran dalam banyak rumah tangga. Ketika seseorang merasa harga dirinya lebih tinggi dari orang lain maka cenderung orang tersebut akan mendominasi orang lainnya. Setelah kita melihat fakta bahwa di dalam hubungan suami-istri persoalan harga diri seringkali salah tempat, tapi untuk selanjutnya pembahasan tidak akan mengenai persoalan harga diri dalam keluarga. Namun kami ingin mencari akar dari salahnya persepsi manusia akan harga diri dan bagaimana Tuhan memperbaiki kesalahan manusia ini.

Sejarah penyimpangan manusia sehingga gagal untuk bisa menilai harga dirinya dengan tepat adalah saat manusia ingin seperti Allah (waktu kamu memakannya.kamu akan menjadi seperti Allah Kejadian 3:5). Pada saat Allah menciptakan manusia, maka terjadi suatu hubungan yang istimewa antara pencipta dan ciptaan. Namun hubungan istimewa ini tidaklah berarti bahwa terjadi kesetaraan antara pencipta dan ciptaan. Pencipta adalah otonom, Dia tidak tergantung kepada ciptaan. Keberadaannya mandiri, bebas dari intervensi siapapun karena Dia yang berdaulat.

Pencipta tidak bisa diatur karena Dia adalah aturan itu sendiri. Sedangkan ciptaan adalah makhluk yang bergantung kepada pencipta. Ciptaan tidak mandiri namun tunduk pada pencipta dan diatur oleh pencipta. Keberadaan manusia dalam taman eden adalah wujud daripada kesempurnaan Allah dalam menempatkan ciptaan. Namun kesempurnaan rancangan Allah di hancurkan oleh ambisi manusia. Ciptaan yang sempurna menjadi gagal dihadapan Allah yaitu ketika menerima tawaran iblis supaya harga dirinya meningkat menjadi sama dengan pencipta.

Manusia yang dijadikan dari tidak ada menjadi ada ingin supaya menjadi setara dengan Allah yang maha ada. Ketika pikiran ingin menjadi seperti Allah ini diwujudkan maka bukan keberhasilan yang diperolehnya namun sebuah kegagalan yang didapatkan. Ketika manusia gagal dan dinyatakan sudah berdosa, maka ukuran harga dirinyapun menjadi kacau. Ambisi manusia untuk menjadi seperti Allah terus tertanam menjadi sifat egois, mau menang sendiri, merasa dirinya lebih utama dari yang lain dan ini terus diturunkan dari generasi ke generasi. Oleh karena persoalan harga diri, bangsa dengan bangsa berperang. Karena harga diri Hitler menjadi pembantai 6 juta orang Yahudi. Demi harga diri terjadi pembantaian suku suku dan etnis diberbagai belahan dunia. Oleh karena harga diri banyak orang rela membunuh orang lain demi membela iman kepercayaannya.

Harga diri manusia harus dikembalikan pada posisi yang tepat, untuk hal ini Allah sangat mengerti. Harga diri manusia oleh Allah mau dikembalikan pada posisi yang sebenarnya yaitu sebagai ciptaan yang berharga di mata Allah. Apa tindakan Allah yang maha mulia dan kudus, untuk mengembalikan posisi manusia? Dia datang pada malam natal menjadi manusia. Ini bukan peristiwa biasa, tetapi ini adalah tindakan Allah yang mau menurunkan harga dirinya sehingga sama dengan manusia. Ketika Allah menurunkan harga dirinya ini, Dia sangat mengerti konsekuensinya yaitu ciptaannya itu bahkan akan menghinanya dan menyalibkannya.

Seseorang yang di salib adalah orang yang dipandang sangat hina dari segi kualitas kejahatannya, maka hukumannya pun haruslah yang paling menghinakan. Apakah Yesus telah memenuhi kriteria ini untuk menerima hukuman sehina itu? Jawabnya adalah tidak, karena Pontius Pilatus dengan jelas mengatakan bahwa ia tidak mendapati kesalahan pada Yesus. Akan tetapi mengapa Yesus harus di salib? Yesus harus disalibkan karena Allah Maha Suci. Kesucian Allah tidak dapat berkompromi dengan keberdosaan manusia. Dosa adalah tindakan yang sangat hina di hadapan Allah, oleh karenanya harus ada hukuman yang sepadan dengan hinanya dosa tersebut.

Pilihan Allah untuk mengembalikan harga diri manusia hingga dapat kembali seperti pada saat diciptakan membawa sebuah konsekuensi, Allah harus beinkarnasi menjadi manusia dan mati menanggung hukuman dosa dengan cara yang paling hina. Allah tetap mengerjakan rencananya tidak bergantung kepada reaksi dari ciptaannya, sebab ketika ciptaan itu mengerti maksud dari tindakan Allah, maka akan ada orang-orang yang bisa dikembalikan harga dirinya menjadi ciptaan yang baru. Ciptaan baru adalah orang-orang yang bisa kembali berhubungan dengan Allah sama seperti ketika manusia pertama kali diciptakan. Menikmati sorga, dan tahu harga diri yang sebenarnya yaitu makhluk yang berharga di mata Tuhan. Inilah esensi paling penting dari peristiwa penebusan dosa oleh Yesus di atas kayu salib.

Setelah kita tahu bahwa Yesus telah bertindak untuk mengembalikan harga diri manusia yang paling penting yaitu menjadi makhluk yang berharga di mata Tuhan, bagi yang menerimanya menjadi Juru Selamat maka berhak berada di sorga bersama dengan Allah. Maka masih perlukah kita menginginkan harga diri yang lain? Menginginkan orang-orang di gereja menghormati karena posisi pelayanan yang melekat pada diri kita? Mengejar popularitas tertentu supaya harga diri kita menonjol? Mengejar kekayaan sehingga orang lain terkagum-kagum atas apa yang kita miliki?

Sadarilah, ketika harga diri kita sudah dipulihkan oleh Tuhan, maka yang diperlukan adalah sikap rendah hati karena kita yang tidak layak dijadikan layak oleh Allah yang menciptakan alam semesta ini Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendakMu semuanya itu ada dan diciptakan.(Wahyu 4:11). Pekerjaan kita yang utama di bumi ini adalah menjadi rekan sekerja Allah (karena kami adalah kawan sekerja Allah I Korintus 3:8-9), mau meneladani kerendahan hati Allah yang meninggalkan sorga demi umat manusia. Maka menjadi rekan sekerja Allah adalah menjadi PELAYAN (Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya Markus 9:35) dan HAMBA (..dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.. Markus 10:44), bukan menjadi tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang sombong. Jadikan orang lain lebih utama daripada diri sendiri. Bangsiapa meninggikan diri, dia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (Matius 23:12, Lukas 14:11).

Home & House

Oleh: Jafar Thamrin

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. (Matius 7:24-25)

Bagi sebagian orang yang telah belajar bahasa Inggris mungkin masalah ini tidak masalah, tapi bagi yang baru belajar mungkin akan sedikit bingung. Karena kedua kata itu sama-sama artinya "rumah" dalam bahasa Indonesia. Sebelum lanjut, coba lihat contoh-contoh berikut. ”Where is your house?” [Mana rumahmu?] ”That’s the green one” [Itu yang warnanya hijau] ”When do you go home?” [Kapan kamu pulang (ke rumah)] ”Tomorrow..” [Besok] ”Where are you doing?” [Kamu ngapain?] ”I’m cleaning my house!” [Aku membersihkan rumah] ”Where are you going? [Kamu mau kemana?] ”I’m going home!” [Aku mau pulang ke rumah]. Mudah-mudahan dari contoh di atas kita sudah bisa tahu perbedannya. Kalau pun belum, ini penjelasannya.

Kata HOUSE lebih merujuk kepada pengertian rumah secara FISIK. Coba perhatikan contoh:
”That’s the green one” [Itu yang warnanya hijau]
”I’m cleaning my house!” [Aku membersihkan rumah]

Sedangkan untuk HOME lebih merujuk kepada pengertian rumah secara EMOSI/PERASAAN. Coba lihat contoh.
”I’m going home!” [Aku mau pulang ke rumah]

Kata-kata di atas ada hubungannya dengan keluarga, komunitas dan gereja. Mungkin kita akan bertanya-tanya apa hubungannya kata Home dan House dengan keluarga, komunitas, dan gereja. Bagi penulis sangat besar hubungannya. Kita pernah mendengar ada kalimat yang berkata: “Broken Home”, namun kita tidak pernah mendengar kalimat "Broken House", atau "House Sweet House" tapi yang benar adalah "Home Sweet Home". Kenapa demikian, seperti penjelasan di atas tadi bahwa house lebih merujuk kepada pengertian rumah secara fisik sedangkan home lebih merujuk kepada pengertian rumah secara emosi/perasaan.

Keluarga yang menjadikan Yesus Kristus sebagai pondasi dalam di rumah tangga, maka di situ ada perasaan sukacita, ada damai, ada kasih, dan ada ketentraman sehingga rumah itu disebut Home, karena di dalamnya ada perasaan yang membuat orang ingin tinggal di dalamnya. Home bukan kos-kosan, di mana orang datang dan pergi tanpa ada interaksi. Tak heran kalau keluarga hanya menjadikan rumah itu sebagai house, maka yang terjadi adalah kekacauan. Suami lari dari tanggungjawab, istri yang selalu ingin ribut dan anak-anak lari pada narkoba. Home bukan bicara fisik aja tapi di dalamnya kita menemukan apa yang nama kebahagiaan ada interaksi dan kita terikat di dalamnya.

Gereja juga seharusnya menjadi home bukan house. Ada banyak pengerja dan jemaat menjadikan gereja itu sebagai house, ia hanya datang dan pergi, tidak mau kenal siapa-siapa dan gereja hanya tempat pelarian atau hanya ingin nebeng ngetop dalam gereja. Mereka menganggap gereja kayak hotel atau bioskop. Padahal kita pernah mendengar sebuah lagu sekolah minggu: gereja bukanlah gedungnya dan juga bukan menaranya, bukalah pintunya, lihat di dalamnya gereja adalah orangnya. Kalau gereja dijadikankan home, tidak akan ada pengerja atau jemaat yang sakit hati atau kepahitan, dan keluar dari gereja. Sebab kalau gereja dijadikan home maka apa yang kita rindu-rindukan pasti terjadi, seperti penuaian jiwa, gereja diberkati luar biasa, ada tali kasih didalamnya, saling menghormati, saling membutuhkan, saling memperhatikan dan banyak lagi yang Tuhan akan buat kalau kita menjadikan gereja sebagai home, dan orang-orang yang terhisap di dalamnya akan berkata: “My Church, My Home.” Tak heran World Prayer Assembly kemarin mengambil tema A New Wave is Coming dengan sub tema MY Home.

Mari jadikan keluarga, komunitas dan gereja sebagai home dan bukan house.

I Love You Forever

Oleh: Ev. Sudiana

Kalimat “I love you” adalah kalimat yang sangat universal, singkat tapi memiliki power yang sangat kuat. Hanya dengan mengucapkan kalimat ini, kita bisa membuat hati dari pasangan kita bergetar dan tiba-tiba ada perasaan yang sulit dilukiskan oleh ribuan kata-kata sekalipun memenuhi seluruh hatinya. Ketika orang tua berkata, “I love you” atau “Aku sayang kamu nak”, hal yang sama juga terjadi kepada mereka. Hati mereka mendapatkan ketentraman dan perlindungan yang sulit dilukiskan oleh pujangga hebat sekalipun.

Jadi, kalimat “I love you” adalah seperti tetesan air segar di musim kering, seperti harum bunga mawar di tengah kesesakan, seperti terang bulan purnama di tengah kegelapan. Semua orang rindu untuk mendapatkan hal ini.

Suami istri, apalagi yang baru menikah pasti mendengar dan mendapatkan kalimat ini hampir setiap saat. Orang tua yang baru mendapatkan bayi juga pasti membisikkan kalimat ini di telinga sang bayi berkali-kali sambil mencium gemas sang buah hati. Kalimat “I love you” sanggup membawa suasana kebahagiaan bagi segala usia.

Namun, pada saat rumah tangga mulai dihadang badai, perahu rumah tangga terombang-ambing di tengah samudera masalah, adakah kalimat “I love you” sesekali terdengar ? Ketika sang buah hati mulai pandai membantah, sang bayi yang dulu menggemaskan telah tumbuh menjadi anak yang lihai dalam melawan orang tua, pandai berbohong, juara dalam menjadi anak yang malas serta menghindar dari pekerjaan yang ditugaskan, adakah kalimat “I love you” ini tetap memiliki power ? Rasanya kalimat ini tiba-tiba hilang begitu saja seperti melarikan diri dari rumah tangga !!! Hilang tanpa meninggalkan jejaknya.

Untuk itu, alangkah baiknya jika setiap orang menambahkan satu kata lagi di belakang kalimat yang powerful ini menjadi “I LOVE YOU FOREVER” !!!. Karena kata FOREVER berarti selamanya kita akan mencintai orang tersebut. Selamanya sang suami akan mencintai istrinya sekalipun ada gunung masalah yang harus dilaluinya. Selamanya sang istri akan mencintai suaminya, sekalipun harus melewati lembah kekelaman yang sangat dalam. Selamanya orang tua akan mengasihi anak-anaknya sekalipun sang anak rasanya tidak tahu lagi cara berterima kasih kepada orang tuanya.

Kiranya kalimat “I LOVE YOU FOREVER” ini mampu membantu bahtera-bahtera keluarga yang sedang berjuang keras di tengah-tengah hantaman gelombang masalah dan tiupan angin badai yang sangat kencang. Sekalipun di tengah gelora masalah ucapan ini hilang terbawa badai, tetapi kalimat ini telah diukir dalam hati setiap kita oleh tangan Tuhan yang penuh kasih ... I LOVE YOU FOREVER !!!

Jalan Alkitabiah Menuju Berkat

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th *

(Khotbah Minggu Pagi di GBAP El Shaddai Palangka Raya 21 Oktober 2012)

"Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!" (Mazmur 128:1)

Pendahuluan

Alkitab adalah buku panduan utama bagi iman dan praktek hidup Kristen. Alkitab berisi rencana dan kehendak Tuhan bagi hidup kita (Mazmur 1:1-3). Alkitab ibarat peta yang menunjukkan kepada kita jalan yang harus kita lewati hingga sampai ke tujuan. Contoh: Alkitab tidak dapat menyelamatkan kita, tetapi berisi petunjuk supaya kita selamat. Bandingkan dengan perkataan Yesus kepada orang Yahudi di dalam Yohanes5:39-40 “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu”. Hal yang sama dijelaskan rasul Paulus kepada Timotius, “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus” (2 Timotius 3:15). Jadi apa yang saya bagikan kepada saudara ini adalah peta jalan. Peta inilah yang akan menuntun Saudara pada jalan Alkitabiah menuju berkat.

Titik Awal yang Penting

1. Tuhan Menginginkan Kita Hidup dalam Berkatnya. Mulailah dengan langkah awal ini, yaitu mengetahui bahwa Tuhan menginginkan kita diberkati! Ia benar-benar menginginkan kehidupan kita berhasil (Yosua 1:8). Dua hal yang menyakinkan kita bahwa Tuhan menginginkan hidup kita diberkati dan berhasil, yaitu: Pertama, Tuhan menjanjikan masa depan yang penuh harapan, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11). Kedua, Tuhan memberikan kekuatan untuk berhasil. Tuhan tidak memberikan kita harta, tetapi kekuatan untuk memperoleh harta kekayaan, “Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini” (Ulangan 8:18). Paulus mengingatkan bahwa “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Korintus 8:9).

2. Tuhan Memberikan Prinsip-Prinsip Untuk Hidup dalam Berkatnya. Alkitab mencatat di dalam Mazmur 103:7 bahwa “Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel”. Allah menunjukkan jalan-jalanNya, yaitu kehendakNya kepada Musa, tetapi kepada orang Israel Dia hanya menunjukkan perbuatan-perbuatanNya. Banyak orang ingin melihat mujizat-mujizat yang spektakuler, tetapi tidak rindu mengetahui isi hatiNya. Itulah sebabnya walaupun bangsa Israel telah melihat perbuatan Tuhan yang ajaib dan berkat-berkatNya, mereka masih sempat memberontak kepadaNya. Mereka tidak mengenal kehendak Tuhan. Pengenalan akan Tuhan dan kehendakNya tidak terjadi dalam satu hari. Ini merupakan proses dan semuanya diawali dengan penyerahan dan ketaatan kepada Tuhan. Harus disadari bahwa hidup kita bergantung kepada Tuhan bukan pada harta dan kekayaaan (Lukas 12:15). Karena itu, jangan sampaikan kita meragukan firman Tuhan dengan menginjikan kekuatiran, tipu daya kekayaan, dan keinginan-keinginan menghimpit firman itu (Markus 4:18-19)

3. Kita harus melibatkan Tuhan dalam segala apa yang kita kerjakan(Yeremia 17:7-8; Yakobus 4:13-15) . Keberhasilan yang tidak mengikutsertakan Tuhan merupakan suatu penghinaan terhadap Tuhan. Tuhan adalah pencipta dari semua. Tuhan adalah pemilik segalanya. Alkitab menyatakan “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya” (Mazmur 24:1 bandingkan Mazmur 50:10, 12). Dengan demikian keberhasilanbukan semata-mata masalah sekuler tetapi menyangkut masalah spiritual yang berdampak kekal. Kekayaan tidak bisa disebut sekuler karena pemilik segala sesuatu adalah Tuhan. Kita tidak bisa membicarakan kekayaan, tanpa menaruh perspektif Tuhan lebih dulu. Keberhasilan dalam hidup yang dari Tuhan itu bernilai kekal. Tuhan memberikan berkat-berkatNya bagi kita supaya digunakan untuk memenuhi tujuan-tujuanNya. Jika kita bisa menunjukkan bagaimana berkat-berkat Tuhan dalam kehidupan kita mengalir kepada orang lain dan memenuhi tujuan Tuhan, maka Tuhan punya alasan untuk memberi kita keberhasilan.

Jalan Alkitabiah Menuju Berkat

1. Membayar kepada Tuhan Apa yang Menjadi milikNya (Amsal 3:9-10; Maleakhi 3:6-10). Hal yang paling bijaksana yang harus kita lakukan adalah membayar kepada Tuhan terlabih dahulu. Tuhan sangat ingin memberkati kita sampai berkelimpahan. Tetapi kita akan kehilangan kelimpahanNya jika kita tidak mengungkapkan kasih kita kepadaNya melalui ketaatan. Ketaatan dalam membayar kepada Tuhan menunjukkan keadaan hati kita dan kasih kita kepada Allah (Matius 6:21; Lukas 12:34). Allah ingin kita memberi kepada terlabih dahulu dan memberikan yang terbaik, yaitu yang pertama dari penghasilan kita. Pembayaran kepada Allah itu adalah buah sulung dan persepuluhan. Buah sulung ialah yang pertama dari penghasilan kita (Amsal 3:9-10; bandingkan Bilangan 18:12-13). Sedangkan persepuluhan adalah 10 persen dari pendapatan kita yang dibayar (dikembalikan) kepada Tuhan (Maleakhi 3:6-10; bandingkan Imamat 27:30, 32; Ulangan 14:22). Kata Ibrani untuk “persepuluhan adalah “ma’ser” yang berarti “sepersepuluh bagian”. Mengapa kita perlu membayar buah sulung dan persepuhan? Karena itu adalah milik Tuhan yang harus dikembalikan kepadaNya. Selain itu, buah sulung dan persepuluhan adalah pagar yang akan melindungi benih-benih yang kita tabur dalam hidup kita hingga menghasilkan buah. Kita membayar buah sulung dan persepuluhan dengan kasih dan harapan kepada Tuhan yang sangat ingin memberkati kita secara melimpah dan selalu siap menolong kita jauh lebih banyak dari apa yang kita doakan dan pikirkan (Efesus 3:20). Ada orang Kristen yang berpendapat bahwa keharusan membayar persepuluhan itu adalah bagi orang Israel saja karena hal itu berkaitan dengan hukum Taurat. Ini adalah pemikiran yang keliru. Kira-kira empat ratus tahun sebelum hukum Taurat ada, Alkitab mencatat bahwa Abraham telah mempersembahkan sepersepuluhnya kepada Milkisedek (Kejadian 14:18-20). Orang Kristen membayar persepuluhan karena mengakui keimaman Melkisedek, dimana Kristus menjadi imam menurut peraturan Melkisedek (Ibrani 6:19-20; 7:1-17).

2. Bekerjalah dengan Rajin (Amsal 10:4; 13:4; 22:29; Ulangan 28:8). Dunia mengajarkan bahwa cara memperoleh harta yang terbaik adalah dengan cara bekerja sesedikit mungkin dan mendapatkan hasil sebanyak mungkin. ada pula yang mengajarkan bahwa bekerja adalah segala-galanya. Apakah konsep Allah tentang bekerja ? Bagaimanakah seharusnya kita bekerja ? Ada dua prinsip dalam bekerja dengan rajin, yaitu prinsip bekerja dengan iman dan prinsip bekerja dengan etika Alkitab. Prinsip pertama, bekerja dengan iman. Kita harus bekerja dengan iman karena bekerja adalah bagian dari perjanjian (kovenan) Allah (Kej 2:3;15,19; Ulangan 28:1-8). Jadi kita bukan hanya perlu bekerja, melainkan bekerja dengan iman. Mengapa ? Orang yang rajin bekerja dengan iman, hidup di dalam hukum Perjanjian. Mereka pasti diberkati oleh Allah Karena Allah terikat dengan janjiNya. Semakin kita setia bekerja dengan keras di dalam perjanjian Allah, maka semakin besarlah kekuatan kita untuk menarik berkat Allah. Prinsip kedua, bekerja dengan etika Alkitab. Paulus dalam Kolose 3:22-25 memberikan prinsip dan etika dalam bekerja, yaitu : 1) Bekerja dengan segenap hati seperti untuk Tuhan yaitu: segenap akal pikiran, segenap kreativitas, segenap keterampilan, dan segenap kesungguhan; 2) Bekerja dengan prinsip ketaatan, yaitu : taat pada peraturan, taat pada kebenaran, taat pada pimpinan, taat pada tata krama, taat pada janji, dan taat pada kelompok. 3) Bekerja dengan takut akan Tuhan karena kita ingat bahwa dari Tuhanlah kita akan menerima bagian upah kita melalui pimpinan atau kantor tempat kita bekerja.

3. Buat Rencana dan Anggaran Belanja (Amsal 21:5). Saat kita mulai memahami kasih Tuhan bagi kita dan berserah pada kasih Tuhan itu, kita mulai mendapatkan kepercayaan diri dan keberanian dalam kehidupan. Namun, kita tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga kebijaksanaan. Keberanian kita wujudkan dalam penyerahan kepada Tuhan, kebijaksanaan kita wujudkan dalam merencanakan keuangan dan kekayaan kita. Jadi, berdasarkam Amsal 21:5, kita melihat bahwa membuat rencana dan anggaran belanja adalah membentuk dan mengikuti rencana kelimpahan. Dalam bentuk yang sederhana, sebuah anggaran belanja adalah cara untuk melacak uang yang masuk dan keluar. Berikut ini prinsip-prinsip dan cara-cara mengatur keuangan kita.

Pertama, prinsip-prinsip pengaturan keuangan, yaitu:
1) Pahami kondisi keuangan kita: berapa besar/banyak pendapatan kita dan berapa pengeluaran kita yaitu : kewajiban dan kebutuhan kita. Hal ini akan menempatkan kita pada gaya hidup yang tepat, sehingga menghindari ”lebih besar pasak dari pada tiangnya”.
2) Buat anggaran yaitu catatan penerimaan dan catatan pengeluaran. Tujuannya adalah untuk mengetahui dari mana datangnya pendapatan / penerimaan keuangan kita, dan mengetahui kemana atau untuk keperluan apa pengeluaran keuangan kita. ini bertujuan sebagai bahan evaluasi untuk selanjutnya.
3) Bedakan pengeluaran menurut kepentingannya, yaitu: (a) kewajiban-kewajiban, yaitu kewajiban kepada Allah seperti buah sulung, persepuluhan dan persembahan lainnya; kewajiban kepada pemerintah dan kewajiban lainnya seperti pajak, listrik, PDAM, telpon, pembayaran utang atau cicilaan kredit, iuran, dll. (b) Kebutuhan pokok yaitu kebutuhan yang harus terpenuhi sepert: pangan atau makanan; sandang atau pakaian; papan atau rumah tempat tinggal; biaya transport; biaya pendidikan; biaya kesehatan. (c) Keinginan yaitu sesuatu yang tidak begitu penting, yang tidak akan mempengaruhi apapun jika tidak dipenuhi. Keinginan lebih banyak berkenaan dengan gaya hidup seseorang, bukan kebutuhan mendasar, yaitu: rekreasi; vcd player; jajan; handphone, dll. (d) Kemewahan yaitu pengeluaran yang jauh di atas normal karena didalamnya ada kualitas tertentu yang harus dibayar, misalnya: motor gede; mobil sport; villa; makan direstoran mahal; menginap dihotel berbintang, dll.
4) Biasakan hidup sederhana. Hemat berbeda dengan pelit. Hemat adalah sikap yang penuh pertimbangan di dalam melakukan pengeluaran agar tidak terjadi hal yang tidak perlu. Pelit adalah sikap susah untuk melakukan pengeluaran sekalipun untuk hal-hal yang perlu. Contoh hemat : hemat di dalam pemakai listrik, telpon; tidak perlu membeli barang-barang mewah yang tidak bermanfaat; hemat dengan cara membeli barang-barang yang awet dan tahan lama sekalipun sedikit lebih mahal.

Kedua, cara-cara pengaturan keuangan, yaitu:
1) Hitung keperluan bulanan. Biasakan menghitung keperluan bulanan, yaitu yang wajib dan kebutuhan/keperluan seperti: listrik, telpon, transport, makan, kosmetik, shampo/sabun, dll.
2) Tidak menggunakan kartu kredit. Tidak usah punya kartu kredit, kartu debit, dsb. kalau pun perlu hanya punya satu saja. Ini cara terbaik menghindari pemborosan.
3) Kurangi makan di luar rumah /di restoran /mentraktir orang. Tidak masalah mau dibilang pelit, medit, tidak bisa bergaul. Keterbatasan keuangan kita hanya kita yang tahu.
4) Hemat biaya transportasi. Hilangkan kebiasaan jalan-jalan yang tidak ada gunanya. Bepergian untuk hal-hal yang perlu saja.
5) Hilangkan kebiasaan jajan. Seperti: jajan siomay/bakso/batagor, es krim soft drink, aneka kus/snack, dll. Ini adalah kebocoran-kebocoran kecil dengan efek besar.
6) Paksakan untuk menabung. Usahakan minimal menabung 10 persen dari penghasilan setiap bulannya. Menabung dalam Alkitab sama dengan membangun lumbung. (ini akan saya jelaskan minggu depan). Begitu gajian, paksakan menabung, hal ini dilakukan setelah menyisihkan untuk persepuluhan dan biaya hidup secukupnya.
7) Hindari belanja yang impilsif. Tutup Mata, Tutup Telinga. "Tidak peduli mau diskon sampai 90%. Pakaian saya masih banyak di lemari dan masih layak dipakai semuanya". Hati-hati dengan belanja yang impulsif (menurut dorongan hati). Karena itu, lebih baik buat daftar belanja sebelum bepergian berbelanja atau ke pasar.

4. Bertanggung Jawab Untuk Mencukupkan Kebutuhan Keluarga Sendiri (1 Timotius 5:8; Titus 3:14; Kisah Para rasul 18:1-3). Suami Istri yang bekerja wajib menikmati hasilnya dan bertanggung jawab untuk keluarga dan anak-anaknya. Anak-anak yang orang tuanya sudah tua dan tidak mampu bekerja berkewajiban untuk menopang kebutuhan keluarga mereka. Jika kita hidup di bawah tuntunan Tuhan, maka keluarga kita adalah tanggung jawab kita. Jika kita memunyai tanggungan anak, lakukan tanggunan itu, jangan menagabaikannya. Jika kita belum belum mendapatkan pekerjaan, carilah pekerjaan itu; jika kita di PHK, cari pekerjaan yang lain; jika kita harus pindah untuk melakukan pekerjaan, pindahlah dan bekerjalah. Ingat, keluarga kita adalah tanggung jawab kita. Jika kita sungguh-sungguh bertanggung jawab dengan keluarga untuk mencukupi kebutuhan mereka, maka Tuhan akan membuka jalan. Tanggung jawab ini memang berat apalagi dalam suatuasi ekonomi moderen saat ini. Tetapi bagi kita kebenaran firman Tuhan ini masih berlaku, “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat. Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya” (Mazmur 37:25-27).

5. Belajarlah Memberi dan Menabur Benih (Amsal 11:24, 2 Korintus 9:6). Dunia mengajarkan bahwa kekuatan untuk memperoleh harta adalah dengan menghemat dan mengambil. Sebaliknya prinsip Allah adalah justru kebalikannya, kekuatan kita terletak pada menyebar dan menabur (Amsal 11:24). Berikut ini prinsip penting dalam memberi, yaitu: Pertama,memberi harus dilakukan dengan benar (2 Korintus 9:6). Memberi secara yang terbaik dengan rela dan sukacita. Pemberian adalah suatu bentuk penyembahan. Karena itu, harus dilakukan dengan memberi yang terbaik, dengan rela, dan sukacita. Pemberian yang menyenangkan Tuhan akan diterima dan diberkati Tuhan. Kedua, memberi dengan iman dan ketekunan (Roma 14:23; Galatia 6:9). Memberi tanpa iman adalah pemberian yang sia-sia (benih yang mati). Walaupun pemberian dilakukan dengan iman (benih yang hidup) tetapi diperlukan waktu untuk menuai (seperti benih alamiah). Ketiga, memberi sama dengan menabur benih. Ada delapan macam benih yang dapat ditabur, yaitu:
1) Pemberian untuk pekerjaan misi / penginjilan (Roma 10:14-15; Yohanes 1:5-8; 2 Korintus 8:1-5).
2) Pemberian kepada Penatua (Gembala Sidang atau Pendeta) yang baik dalam mengajar dan memimpin (1 Timotius 5:17-18).
3) Pemberian kepada yang mengajarkan Firman (hamba Tuhan) kepada kita (Galatia 6:6-7).
4) Pemberian kepada hamba-hamba Tuhan atau pelayan Tuhan (Matius 10:41-42).
5) Pemberian untuk fasilitas rumah Tuhan – gedung, sarana, prasarana, dan lain-lain (Hagai 1:4-11).
6) Pemberian untuk orang miskin atau kesusahan, janda-janda atau yatim piatu (Amsal 28:8,27; 19:17; Yakobus 2:1).
7) Pemberian untuk membalas kasih orang tua dan kakek nenek (1 Timotius 5:4; Efesus 6:2-3).
8) Pemberian yang adil kepada orang-orang yang telah bekerja untuk kita (Kolose 3:23-24; 4:1).

Penutup

Semua orang ingin sukses dan diberkati! Diberkati dalam karier dan usaha, memiliki keuangan mapan, kekayaan berlimpah dan keluarga bahagia adalah impian setiap orang. Tetapi kita tahu bahwa sukses lebih dari sekedar impian. Memimpikan sukses tidak akan membuat seseorang menjadi sukses. Sebuah pepatah mengatakan “knowledge is power but action gets things done”. Diantara impian dan kenyataan ada suatu proses yaitu suatu tindakan dan usaha nyata berdasarkan jalan-jalan Tuhan, untuk merealisasikan impian tersebut.

Tidak ada masalah dengan kata “sukses”, melainkan bagaimana cara meraih sukses itulah masalahnya. Ratusan buku berisi teori sukses dan cara meraih sukses telah ditulis. Tidak sedikit dari buku tersebut menawarkan cara sukses yang instan, cepat dan praktis, menghalalkan segala cara yang keliru dan merugikan orang lain. Ironisnya, banyak orang Kristen yang tergoda dengan tawaran tersebut.

Seperti yang saya jelaskan di atas, Alkitab ibarat peta yang menunjukkan kepada kita jalan yang harus kita lewati hingga sampai ke tujuan. Saya telah memberikan “peta” yang akan menunjukkan jalan Alkitabiah menuju berkat! Marilah kita mengikuti petunjuk dalam peta tersebut dan mulai berjalan dalam jalan-jalan Tuhan menuju berkat yang telah dijanjikanNya dalam PERJANJIAN BERKATNYA.
 
* Penulis adalah seorang Protestan-Kharismatik, Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT Lainnya. Menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE) dari Universitas Palangka Raya; Sarjana Theology (S.Th) dan Magister Theology (M.Th) dari STT Trinity.

Jodoh: Pilihan atau Takdir?

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” (2 Korintus 6:14)

Pendahuluan

Berbicara tentang jodoh, secara umum ada ada dua pandangan yang berbeda, yaitu pandangan bahwa jodoh adalah takdir dan pandangan bahwa jodoh adalah pilihan. Pandangan takdir atau disebut juga determinisme, mengakui bahwa jodoh seseorang itu telah ditentukan oleh Tuhan, sehingga tidak perlu berusaha atau melakukan upaya apapun untuk mendapatkan jodoh. Pandangan seperti ini pada akhirnya menggiring seseorang pada determinisme fatalistik yaitu pandangan yang beranggapan bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, dan manusia hanya bisa menerima apa yang sudah ditentukan tanpa bisa berbuat apa-apa. Menurut pandangan ini, manusia hanyalah “wayang” yang melakoni apa saja yang dikehendaki oleh “sang dalang”. Orang-orang yang begitu saja menerima segala sesuatu yang terjadi sebagai nasib (takdir) yang ditentukan, bersikap pasrah pada nasib dan tak ingin merubahnya, disebut fatalistik. Sebaliknya, pandangan pilihan mengakui bahwa jodoh semata-mata adalah pilihan yang melibatkan keputusan dan kehendak manusia tanpa melibatkan Tuhan. Pilihan diartikan sebagai penentuan atau pengambilan sesuatu berdasarkan keputusan atau kehendak sendiri. Pandangan ini lebih menakankan pada kehendak bebas (free will) manusia. Kehendak bebas adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk membuat pilihan secara sukarela, bebas, dari segala kendala ataupun tekanan yang ada. Lalu, bagaimana pandangan Alkitab mengenai hal ini?

Manusia dan Kehendak Bebas

Manusia adalah mahluk ciptaan yang berpribadi, yang diciptakan menurut rupa dan gambar Allah (Kejadian 1:26). Kata Ibrani “gambar” adalah “tselem” yang berarti gambar yang dihias, suatu bentuk dan figur yang representatif yaitu suatu gambar dalam pengertian yang konkret atau nyata. Kata Ibrani “rupa” adalah “demuth” yang mengacu pada arti kesamaan tapi lebih bersifat abstrak atau ideal. Jadi, menyatakan bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah berarti menjelaskan bahwa manusia dalam hal tertentu merupakan refleksi yang nyata dari Allah yang hidup, yang cerdas dan bermoral. Dengan kata lain, manusia memiliki “citra” Allah. Sebagai mahluk ciptaan, manusia bergantung pada Tuhan, Sang penciptaNya, bagi keberlangsungan hidupnya; ia tidak bisa berdiri sendiri; hidupnya bergantung pada Allah pencipta. Di dalam Allah manusia hidup, bergerak, dan bernafas (Kejadian 1:26; 2:7; Kisah Para Rasul 17:28). Sebagai mahluk berpribadi, manusia memiliki kemandirian yang relatif (tidak mutlak), dalam pengertian bahwa ia memiliki kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan dan membuat pilihan-pilihannya sendiri. Hal baik yang diciptakan Tuhan adalah bahwa mahkluk ciptaanNya memiliki kebebasan untuk memilih. Dengan kehendak bebas itu manusia dapat melayani Allah. Fakta bahwa manusia menggunakan pilihan bebas yang diberikan Allah untuk memberontak terhadap Tuhan tidak mengejutkanNya, karena Tuhan Mahatahu. Tetapi, akibat dari dosa pertama Adam dan Hawa tersebut “citra” Allah dalam diri manusia telah tercorereng dan mengakibatkan dosa masuk dan menjalar kepada setiap manusia (Roma 3:10-12, 23; 5:12). Manusia telah rusak total (total depravity). Adam dan Hawa telah membuat dosa menjadi aktual pada saat pertama kalinya di Taman Eden, sejak saat itu natur dosa telah diwariskan kepada semua manusia (Roma 5:12; 1 Korintus 15:22).

Kerusakan total bukanlah berarti (1) bahwa setiap orang telah menunjukkan kerusakannya secara keseluruhan dalam perbuatan, (2) bahwa orang berdosa tidak lagi memiliki hati nurani dan dorongan alamiah untuk berhubungan dengan Allah, (3) bahwa orang berdosa akan selalu menuruti setiap bentuk dosa, dan (4) bahwa orang berdosa tidak lagi mampu melakukan hal-hal yang baik dalam pandangan Allah maupun manusia. Yang dimaksud dengan kerusakan total adalah (1) kerusakan akibat dosa asal menjangkau setiap aspek natur dan kemampuan manusia: termasuk rasio, hati nurani, kehendak, hati, emosinya dan keberadaannya secara menyeluruh (2 Korintus 4:4, 1Timotius 4:2; Roma 1:28; Efesus 4:18; Titus 1:15), dan (2) secara natur, tidak ada sesuatu dalam diri manusia yang membuatnya layak untuk berhadapan dengan Allah yang benar (Roma 3:10-12).

Akibat natur dosa itulah kita sekarang ini terus menggunakan kehendak bebas itu untuk membuat kejahatan itu menjadi aktual (Markus 7:20-23). Bahkan kejahatan natural seperti gempa bumi, badai, banjir dan hal-hal lainnya yang serupa, berakar dari penyalahgunaan kehendak bebas manusia. Saat ini kita hidup dalam dunia yang telah jatuh dan karena itu, rentan terhadap bencana alam yang tidak akan terjadi jika manusia tidak memberontak melawan Allah pada mulanya (Roma 8:20-22). Walaupun demikian, Allah tetap menghargai “kehendak bebas” yang diberikanNya kepada manusia termasuk dalam hal memilih dan menentukan jodoh dalam hidup pernikahannya.

Jodoh dan Ketetapan Tuhan

Di atas telah disebutkan bahwa Tuhan menghargai kehendak bebas manusia termasuk dalam hal memilih jodoh. Apakah ini berarti jodoh semata-mata pilihan dan tidak ditentukan Tuhan? Orang Kristen mengakui bahwa dunia dan alam semesta tidak bekerja secara kebetulan. Mereka menyakini bahwa Tuhan memiliki suatu rencana yang mencakup segala sesuatu yang terjadi, dan bahwa Dia saat ini sedang berkarya mewujudkan rencananya tersebut. Rencana atau Ketetapan Tuhan (Devine Decree) itu menurut Millard J. Erickson adalah “keputusan kekalNya yang membuat pasti segala sesuatu yang akan terjadi”. Sedangkan menurut Henry C. Thiessen rencana atau ketetapan Tuhan adalah “rencana atau rencana-rencana kekal Allah yang dilandaskan pada pertimbangan ilahi yang bijaksana dan kudus. Dengan jalan ini maka Allah secara bebas dan tidak berubah, demi kemuliaanNya sendiri, telah menetapkan baik secara efektif maupun secara permisif segala sesuatu yang akan terjadi”.

Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan telah menetapkan sebelumnya (predestinasi) segala hal yang akan terjadi. Dengan kata lain, tidak ada satu hal pun di dunia ini yang terjadi dengan sendirinya atau terjadi secara kebetulan (Efesus 1:4,11). Ketetapan itu meliputi segala sesuatu di masa lampau, masa kini, dan masa depan; ketetapan itu meliputi juga hal-hal yang diadakannya secara efektif dan hal-hal sekedar yang diizinkannya (Yesaya 46:10-11), dengan kata lain, dengan kuasa dan kebijaksanan yang tidak terbatas, sejak segenap kekekalan yang silam, Allah telah memutuskan dan memilih serta menentukan jalannya semua peristiwa tanpa kecuali bagi segenap kekekalan yang akan datang.

Perlu dipahami, ada dua aspek ketetapan Allah yaitu: ketetapan efektif, yaitu kehendak Allah yang mengarahkan dan ketetapan permisif, yaitu kehendak Allah yang mengizinkan. Ada hal-hal yang direncanakan Allah dan yang ditetapkan-Nya harus terjadi secara efektif dan ada hal-hal lainnya yang sekadar diizinkan Allah untuk terjadi (Roma 8:28). Beberapa hal di mana Allah terlihat sebagai penggerak yang secara aktif menjadikan semua peristiwa, yaitu : menciptakan (Yesaya 45:18); mengontrol alam semesta (Daniel 4:35); menetapkan penguasa (Daniel 2:21); memilih orang untuk diselamatkan (Efesus 1:4). Beberapa hal menunjukkan kehendak Allah yang permisif, yaitu: Allah mengizinkan kejatuhan, dosa, kejahatan dan penderitaan, tetapi Ia bukan pencipta dosa, kejahatan ataupun penderitaan manusia. Akan tetapi, dalam hal ketetapan-ketetapan yang permisif itu pun, Allah mengarahkan semuanya bagi kemuliaan-Nya (Matius 18:7; Kisah Para Rasul 2:23). Demikian juga dalam hal jodoh, manusia diberi kebebasan untuk memilih, tetapi semuanya sesuai dengan kehendak Tuhan yang mengijinkan. Jadi, dapat dikatakan bahwa dalam hal jodoh ada peran manusia dan ada peran Tuhan. Tuhan telah menetapkan syarat-syarat dalam memilih jodoh; manusia berupaya menemukan jodoh dengan memperhatikan syarat-syarat yang Tuhan telah tetapkan.

Pernikahan bukanlah hal yang boleh diremehkan! Pernikahan adalah hal mulia, yang dikaruniakan Tuhan, sejak manusia belum jatuh ke dalam dosa. Kejadian 1:28 mencatat bagaimana Tuhan memberkati Adam dan Hawa sebelum mereka diperintahkan untuk beranak cucu. Lembaga pernikahan ini ditetapkan oleh Allah sendiri (Kejadian 2:24), dan melukiskan persekutuan antara Kristus dan gerejaNya (Efesus 5:31-32). Dalam pernikahan suami dan istri mengikat diri dalam suatu tujuan yang kudus, untuk membangun rumah tangga bahagia dan harmonis. Pernikahan tidak boleh ditempuh atau dimasuki dengan sembarangan, dirusak oleh karena kurang bijaksana, dinista atau dinajiskan; melainkan hendaklah hal itu dihormati dan dijunjung tinggi dengan takut akan Tuhan serta mengingat maksud Allah dalam pernikahan itu.

Karena itu, dalam hal mencari dan memilih jodoh, Kekristenan mengajarkan bahwa Tuhan tidak membiarkan manusia bertindak sendiri. Tuhan telah memberikan prinsip-prinsip absolut dalam membangun sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia. Siapapun orangnya, apabila sungguh-sungguh menaati prinsip firman Tuhan tersebut, keluarganya akan bahagia.

Kekeliruan Ajaran bahwa Jodoh adalah Takdir

Tuhan telah menciptakan pria dan wanita untuk hidup bersama. Dengan demikian Tuhan memberi kesempatan kepada pria dan wanita untuk hidup bersama dalam suatu pernikahan. Kehidupan bersama ini harus didasarkan atas kasih karunia. Sebagaimana Yesus Kristus mengasihi satu gereja dan gereja itu mengasihi satu Tuhan, demikian laki-laki dipanggil mengasihi satu perempuan dan perempuan mengasihi satu laki-laki (Efesus 5:22-33). Pernikahan mempersatukan kedua hati, mempersatukan kasih dan pengharapan dalam suatu kehidupan bersama; karena itu hendaklah pernikahan ditempuh dengan rukun, sehati, setujuan, penuh kasih sayang, percaya seorang akan yang lain, dan bersandar kepada kasih karunia Tuhan. Hanya dengan cara yang demikian kehidupan bersama ini dapat bertahan dan menjadi berkat. Namun, hal yang sangat memprihatinkan, ada orang yang gagal dalam pernikahannya memakai konsep “jodoh ditentukan Tuhan” sebgai “senjata” untuk membenarkan dirinya dan untuk mengambil keputusan bercerai. Perhatikan contoh berikut:

Bambang yang sudah menikah dua tahun merasakan hubungannya dengan istrinya, tidak harmonis. Hampir setiap hari keluarganya diwarnai dengan percekcokan yang membuatnya stres, frustasi dan putus asa. Istrinya, Wati yang merasakan hal yang sama berkata kepada suaminya: “melihat keadaan keluarga kita, saya pikir kayanya engkau bukan jodohku yang ditentukan (ditakdirkan) Tuhan.”

“oh ya? Kok saya juga berpikir hal yang sama. Engkau pasti bukan “tulang rusukku” yang sejati. Makanya tidak pernah pas,” sahut Bambang tersenyum setuju dengan istrinya. “Kalau begitu seharusnya kita bercerai dan masing-masing mencari jodoh kita yang sesungguhnya, yang terbaik, yang pas, yang ditentukan dari sejak semula (takdir),” lanjut Bambangi dengan penuh semangat sambil menganggukkan kepalanya kepada Wati seolah meminta persetujuan. “Saya setuju! Besok kita ke pengadilan bersama pak pendeta,” jawab Wati mantap.

Perhatikanlah, konsep bahwa jodoh ditentukan oleh Tuhan adalah konsep “takdir” yang salah, tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Pandangan takdir atau disebut juga determinisme, mengakui bahwa jodoh seseorang itu telah ditentukan oleh Tuhan, sehingga tidak perlu berusaha atau melakukan upaya apapun untuk mendapatkan jodoh. Pandangan seperti ini pada akhirnya menggiring seseorang pada determinisme fatalistik yaitu pandangan yang beranggapan bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, dan manusia hanya bisa menerima apa yang sudah ditentukan tanpa bisa berbuat apa-apa. Dengan kata lain, manusia hanyalah “wayang” yang melakoni apa saja yang dikehendaki oleh “sang dalang”. Orang-orang yang begitu saja menerima segala sesuatu yang terjadi sebagai nasib (takdir) yang ditentukan, bersikap pasrah pada nasib dan tak ingin merubahnya disebut fatalistik.

Pandangan bahwa jodoh ditentukan oleh Tuhan memiliki beberapa kesalahan fatal, antara lain:

1. Membuka “pintu” perceraian dengan mudah dan seenaknya jika sebuah pernikahan tidak berjalan harmonis dan bahagia sesuai yang diharapkan.

2. Manusia akan melarikan diri dari tanggung jawabnya dan “mengkambinghitamkan” Tuhan jika keluarganya tidak bahagia; seolah-olah Tuhanlah yang memberikan jodoh yang tidak baik dan menakdirkan keluarga yang tidak harmonis baginya.

3. Kalau Allah menentukan setiap manusia sudah ada jodohnya masing-masing, maka sampai saat ini sudah berapa juta pasang pernikahan yang salah dan tertukar jodohnya, karena perceraian yang terjadi? Hal ini sangat spekulatif sifatnya.

4. Setiap pasangan yang merasa kurang cocok dan yang suka cekcok, akan mencurigai pasangannya sebagai “jodohnya” orang lain, dan hidup dalam ketidakpastian.

“Teologi takdir” ini, sesungguhnya adalah pandangan yang menghasilkan sikap hidup yang melarikan diri dari tanggung jawab, yang pasif, malas, dan diperalat oleh Iblis untuk memfitnah dan menuduh Tuhan.

Ketetapan Tuhan dalam Memilih Jodoh

Dalam hal jodoh, manusia diberi kebebasan untuk memilih, tetapi semuanya harus sesuai dengan ketetapan Tuhan yang permisif (mengijinkan). Kekristenan mengajarkan bahwa Tuhan tidak membiarkan manusia bertindak sendiri, dalam memilih jodoh. Tuhan telah memberikan prinsip-prinsip absolut (mutlak) dalam membangun sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia. Siapapun orangnya, apabila sungguh-sungguh menaati prinsip-prinsip firman Tuhan tersebut, keluarganya akan bahagia. Jadi kebahagiaan pernikahan tidak bergantung kepada “takdir" tetapi pada ketaatan terhadap prinsip-prinsip yang ditentukan Tuhan, di dalam kepada Alkitab. Prinsip-prinsip itu adalah:

1. Pernikahan harus bersifat monogami antara pria dan wanita (berlawanan jenis kelamin). Dengan demikian, Kekristenan menolak pernikahan sesama jenis kelamin karena bertentangan dengan ketetapan Tuhan (Kejadian 2:18-25).
2. Keduanya (pria dan wanita) haruslah orang yang beriman kepada Yesus Kristus (2 Korintus 6:14-18).
3. Keduanya (pria dan wanita) bertekad mengikat perjanjian seumur hidup di hadapan Tuhan (Matius 19:4-9).
4. Keduanya (pria dan wanita) memelihara dan kekudusan dan kesetiaan apa pun yang terjadi (Ibrani 13:4).
5. Suami harus mengasihi istri, dan istri tunduk kepada suami seperti kepada Kristus yang artinya manjadikan Kristus sebagai kepala keluarga yang sebenarnya (Efesus. 5:22-23).
6. Keduanya (pria dan wanita) bertekad untuk mendidik anak-anak sesuai dengan ajaran dan nasihat Tuhan (Ulangan 6:5-9; Efesus 6:4).
7. Semua persoalan diselesaikan berdasarkan kebenaran firman Tuhan (2 Timotius 3:16-17).

Semua prinsip di atas adalah absolut (mutlak). Artinya, siapapun calon pasangan hidup, baik pria maupun wanita, yang telah memenuhi prinsip-prinsip mutlak firman Tuhan di atas, Tuhan pasti menjamin kebahagiaan hidup dalam pernikahan dan keluarga nya. Jadi, kebahagiaan tidak ditentukan oleh “jodoh yang pas” – tulang rusuk atau tempat tulang rusuk yang sudah ditakdirkan Tuhan, karena Tuhan memberi kepada kita kebebasan untuk memilih jodoh yang sesuai dengan prinsip-prinsip firmanNya yang absolut.
 
Bila prinsip absolut sudah dipenuhi, hal-hal lainnya adalah bersifat relatif. Misalnya: umur, suku, pendidikan, kekayaan, status sosial, kecantikan, kecakapan, dan penampilan lainnya. Semua itu tidak menentukan kebahagiaan seseorang. Hanya soal selera saudara yang sangat pribadi dan relatif sifatnya. Walaupun hal diatas bersifat relatif, tetapi Tuhan memberikan kita pikiran yang sehat dan jernih untuk mempertimbangkan juga semua hal yang bersifat relatif tersebut. Karena itu perlu dipertimbangkan dalam pimpinan Roh Kudus, agar “kebebasan” yang kita gunakan dalam memilih calon pasangan hidup kita itu bukan asal-asalan saja; melainkan dipergumulkan dalam pimpinan Roh Kudus melalui doa yang serius. Karena memang Roh Kudus diberikan kepada kita untuk memimpin kita dalam aspek hidup kita sesuai kebenaran firman. Tuhan Yesus berkata: “Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”(Yohanes 14:26).

Semoga memberkati! Salam sejahtera.

Kegagalan Keluarga Daud

"...I have sinned against the Lord...you shall not die" II Samuel 12:13.

Daud adalah seorang yang hatinya berkenan kepada Tuhan. Ini bukan berarti Daud seorang yang sempurna, tanpa suatu kegagalan. Tetapi ini berarti Daud adalah orang yang hatinya condong kepada Tuhan dan tunduk pada firmanNya.

Ketika Natan diutus Tuhan untuk menegur Daud,maka Daud berkata, "Aku telah berdosa kepada Tuhan". Karena Daud tunduk pada firmanNya dan mengaku bersalah, maka Tuhan mengampuninya dan ia tidak akan mati. Namun karena perbuatannya, Daud dan keluarganya harus menerima disiplin Tuhan, sebab apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

Apakah yang telah dilakukan Daud ? Kegagalan apa yang menyebabkan keluarganya menerima disiplin Tuhan ? Dari II Samuel 12:7-9, kita dapat lihat bahwa kepada Daud telah diserahkan ini dan itu, agar dijaga dan dipelihara. Kepada Daud, telah diberikan Tuhan, keluarganya, Umat Israel dan Yehuda, pengurapan untuk menjadi raja, rumah tangga tuannya ( Saul ), kebebasan dari tangan Saul yang hendak membunuhnya. Semua ini diserahkan Tuhan kepada Daud agar dijaga dan dipelihara. Dan Tuhan juga berkata bahwa jika pemberianNya ini terlalu kecil, maka Ia akan memberikannya lebih lagi. Tetapi Daud telah mengambil sesuatu bagi dirinya, yaitu istri Uria, dengan cara yang tidak berkenan dihadapanNya. Dihadapan Tuhan, perbuatan ini merupakan tindakan yang meremehkan perintah Tuhan, karena melakukan yang jahat dimataNya ( ayat 9 ).

Perbuatan Daud ini juga berarti bahwa ia kurang puas dengan apa yang telah diberikan Tuhan, kurang bersyukur, dan juga berarti kurang menjaga dan memelihara apa yang telah diserahkan Tuhan. Penambahan istri Uria, yang Daud lakukan dengan cara yang salah, kedalam genggamannya, ternyata mendatangkan masalah terhadap apa yang sudah menjadi milik Daud. Tuhan mendatangkan 4 perkara yang harus ditanggung Daud dan keluarganya ( miliknya ).

Pertama, pedang tidak akan menyingkir dari keluarganya, Kedua, akan ada permusuhan terhadap Daud yang datang dari keluarganya sendiri. Ketiga, Tuhan akan mengambil isrti-istri Daud untuk ditiduri, dihadapan banyak orang. Keempat, anak yang diberikan istri Uria kepadanya, akan mati. Tepat seperti yang Daud katakan sendiri sebagai respon atas cerita Natan ( II Samuel 12:1-6 ),bahwa orang yang merampas harta milik orang lain, harus menggantinya 4 kali lipat, maka demikianlah yang dilakukan Tuhan kepadanya.

Kita tahu cerita selanjutnya mengenai Absalom, Amnon, dan Tamar, yang mana semuanya ini merupakan cara Tuhan mengenapi keempat perkara yang telah diucapkanNya.

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari kegagalan Daud ini ? Yang perlu diperhatikan disini adalah, kepada seorang bapa, dipercayakan Tuhan keluarganyaserta ini dan itu pemberian Tuhan. Semua ini harus dijaga dan dipelihara oleh seorang bapa ( tentu dengan penolong seorang ibu ). Apabila seorang bapa kurang puas dan tidak bersyukur, serta tidak menjaga apa yang telah Tuhan percayakan, dan bahkan menambahkan sesuatu kepada miliknya dengan cara yang salah, maka tindakannya ini akan mendatangkan disiplin Tuhan atas keluarganya. Semoga para bapa memelihara dan merawat pemberian Tuhan dan tidak meremehkan perintah Tuhan, serta belajar menguasai diri untuk tidak menambah sesuatu dengan cara yang salah kedalam miliknya.

Sumber: Gema Sion Ministry

Kegagalan Keluarga Salomo

"Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asingisteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya" [ I Raja-Raja 11:1,4 ].

Salomo adalah seorang yang sangat dikasihi Tuhan, bahkan melalui nabi Natan, Tuhan menamakannya Yedija. Tuhan menampakkan DiriNya kepada Salomo 2 kali. Pertama, ketika Salomo meminta hikmat, yaitu hati yang faham menimbang perkara agar dapat menghakimi Umat Israel ( I Raja-Raja 3:5 ). Kedua, ketika Salomo mendirikan Bait Suci ( I Raja-Raja 6:11-13 ). Pada dua kali penampakkan DiriNya kepada Salomo itu, Ia berfirman, "jika engkau hidup menurut segala ketetapanKu", maka Tuhan menjanjikan ini dan itu kepadanya. Jadi, sekalipun Salomo sangat dikasihi Tuhan dan Tuhan telah dua kali menampakkan DiriNya kepada Salomo, namun jika Salomo menyimpang dan tidak hidup menurut ketetapanNya, maka akan ada akibat yang harus ditanggungnya ( dan keluarganya / keturunannya ) sebagai disiplin Tuhan.

Ayat diatas menegaskan bahwa Salomo mencintai banyak perempuan asing, padahal Tuhan telah berfirman, "Janganlah kamu bergaul dengan merekasesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka" ( I Raja-Raja 11:2 ). Salomo gagal memperhatikan peringatan Tuhan ini, sehingga ketika ia telah menjadi tua, isteri-isterinya meminta agar dibangun bukit-bukit pengorbanan bagi allah-allah mereka, dan Salomo mengizinkannya. Karena tindakannya ini, maka Tuhan membangkitkan lawan-lawan Salomo sehingga tidak ada lagi damai sebagaimana sebelumnya, dan yang sangat menyedihkan bahwa Tuhan akan memecah kerajaannya.

Apa yang menyebabkan Salomo jatuh kedalam penyembahan berhala ? Mengapa hikmatnya tidak dapat mencegah dia dari penyembahan berhala ? Penyebab kejatuhan Salomo jelas karena hatinya mencintai banyak perempuan asing, sedemikian sehingga ia mengabaikan peringatan Tuhan, bahkan sampai masa tuanya. Hatinya benar-benar telah terpaut kepada sesuatu yang lain dan bukan kepada Tuhan. Hikmat yang diperolehnya dari Tuhan, ternyata lebih banyak bersangkut paut dengan pikirannya, dan bukan hatinya. Dalam kehidupan ini, ternyata hati lebih menentukan masa depan seseorang daripada pikirannya. Pikiran ada tempatnya, tetapi hati menentukan jalan hidup seseorang. Itu sebabnya Tuhan berfirman, "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan".

Ketika hatinya telah terpaut kepada yang lain, Salomo tidak lagi mengikut Tuhan dengan sepenuh hati, seperti Daud, ayahnya. Daud adalah seorang yang hatinya berkenan kepada Tuhan, walaupun Daud juga memiliki kegagalan-kegagalannya. Namun hati Daud melekat kepada Tuhan. Salah satu mazmurnya adalah, "Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah". Salomo memiliki hikmat, kekayaan, keterkenalan, dan ia juga memiliki pewahyuan karena Tuhan telah menyatakan Diri dua kali kepadanya, namun yang menentukan jalan hidup seseorang adalah hatinya. Bagaimana dengan hati kita, khususnya para bapa ? Apakah para bapa mencintai Tuhan atau dunia ini ? Boleh jadi seorang bapa memiliki hikmat, kekayaan, keterkenalan, pewahyuan, dan mungkin pelayanan yang luas. Tetapi, pelajaran diatas menegaskan bahwa, pada akhirnya, yang menentukan hidup seseorang adalah hatinya. Apakah ia mencintai Tuhan dan terpaut kepadaNya, atau terpaut kepada yang lain.

Sumber: Gema Sion Ministry.

Keluarga

Oleh : Walsinur Silalahi

Pada umumnya kita menginginkan suasana damai,ceria dalam kehidupan keluarga. Suasana demikian perlu diupayakan oleh orangtua sebagai motivator terhadap perilaku anggota keluarga dhi anak-anak.Kebiasaan komunikasi yang tdk sehat dapat mengakibatkan kedamaian tdk akan pernah dicapai seperti mengeluarkan nada suara yang kasar,mata melotot dan jawaban kasar yg tdk pantas. Untuk mencapai kehidupan keluarga yang damai,ceria, maka kebiasaan2 sbb perlu dilakukan.

  1. Setiap anggota keluarga berupaya menciptakan suasana gembira ketika memasuki rumah/ruangan.(menyanyi,bersiul dll)
  2. Setiap anggota keluarga baik tua ataupun muda harus mengucapkan salam bila memasuki rumah atau permisi bila meninggalkan rumah.
  3. Anak-anak dibiasakan mencium pipi ibunya bila mau kesekolah atau sepulangnya dari sekolah
  4. Biasakan bercerita kepada anggota keluarga tentang pengalaman2 yang diperoleh di sekolah,ditempat kerja dll.
  5. Bila anak-anak menanyakan sesuatu,orangtua harus mendengar,jangan pura2 mendengar.Anak dapat melihat dari sorot mata ,apakah orangtua serius menanggapi atau tdk.Dibutuhkan kejujuran dan kesabaran mendengar cerita anak-anak.Berikan respon sehingga dia akan terus bercerita.

Dibawah adalah contoh kebiasaan keluarga yang menggunakan bentuk2 komunikasi negatif.

  1. Keluarga kompetitif. Anak-anak bersaing mendapatkan perhatian dengan tingkah laku dengan cara2 negatif seperti melempar piring,berteriak,marah2 dll.
  2. Keluarga hening. Disini anggota keluarga jarang berbicara,makan bersama atau berinteraksi dengan cara lain.Anggota keluarga tdk mau membagi pengalaman untuk didiskusikan bersama.Masing2 sibuk dengan masalah2 sendiri.Terkadang mereka marah,muka cemberut,kelihatan lelah tdk semangat dll. Orangtua tdk mengetahui cara mencairkan suasana yang serba hening.
  3. Keluarga yang kasar. Anggota keluarga jenis ini menggunakan rumah sebagai tempat pelampiasan perasaan buruk.Bukan berarti keluarga ini kejam,melainkan karena keluarga ini penuh dengan perasaan marah.Anggota keluarga saling mengucapkan kata2 kasar dan jarang mengucapkan kata2 yang menggembirakan.Ayah dperlakukan dengan dingin oleh anggota keluarga laki2 atau perempuan.Adakalanya salahsatu anggota keluarga menjadi sasaran kemarahan di rumah ini.
  4. Keluarga yang tegang. Bila salah satu anggota keluarga yg lebih dewasa sering mengeluarkan geraman menegangkan atau ekspresi yg tdk menyenangkan,sehingga anggota keluarga yg lain ikut tegang dan menganggapnya penyakit syaraf(gila). Pertanyaan sederhana saja dapat membuatnya geram seperti:"Bagaimana keadaannmu?" dijawab dengan kecurigaan:"Ngapain nanya2 segala?"Setiap orang takut,gerakan keliru sekecil apapun akan memicu ledakan.Keluarga semacam ini disebut juga keluarga berperasaan halus,alias mudah tersinggung dengan hal2 sepele.
Anda memiliki keluarga yang mana?

Keluarga dan Alkitab

Sumber : Gema Sion Ministry

"Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus" [ II Timotius 3:15 ].

Ayat diatas menegaskan bahwa Kitab Suci dapat memberi hikmat dan menuntun orang kepada keselamatan. Membangun keluarga yang dapat mengekspresikan Allah yang adalah Keluarga Sejati, tidak mungkin terlepas dari peran Kitab Suci (Alkitab). Keluarga yang mengekspresikan Allah, tentu harus berlimpah dalam hikmat serta keselamatan Kristus. Disinilah Alkitab mendapatkan perannya yang sangat penting. Tetapi, apakah Alkitab itu, dan bagaimana Alkitab dapat memberi hikmat serta menuntun seseorang kepada keselamatan? Apakah setiap orang yang membaca Alkitab, sudah pasti memperoleh hikmat Kristus?

Alkitab adalah tulisan yang diilhamkan Allah dan karenanya tidak terdapat kesalahan didalamnya. Yang mungkin terjadi adalah orang memiliki sikap yang salah dalam membaca Alkitab. Tidak setiap orang yang membaca Alkitab, pasti memperoleh hikmat Kristus dan mengalami keselamatan. Injil Yohanes mencatat kesalahan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dalam mendekati Kitab Suci. Yohanes 5:39-40 menyatakan, "â€Ã‚¦walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepadaKu untuk memperoleh hidup itu". Jadi, mungkin saja terjadi bahwa seseorang membaca Alkitab, namun tidak bertemu dengan Firman Yang Hidup itu yaitu Kristus Yesus.

Tetapi kita lihat bahwa peranan Alkitab dalam kehidupan Timotius, sangat efektif. Mengapa demikian? Kami percaya bahwa salah satu sebabnya adalah karena neneknya, Lois dan ibunya, Eunike adalah orang-orang yang memiliki iman yang tulus ikhlas (II Timotius 1:5). Sejak masa kecilnya, Timotius sudah diperkenalkan dengan Kitab Suci. Keluarga Timotius adalah keluarga yang mencintai Alkitab. Keluarga yang mencintai Alkitab adalah keluarga yang bertumbuh didalam hikmat Kristus, dimana pada waktunya keluarga ini dapat mengekspresikan Allah. Tetapi kita lihat disini kuncinya bahwa baik nenek, ibu atau orang tua haruslah seorang yang beriman.

Bagaimana dengan keluarga-keluarga Kristen ? Apakah para orang tua adalah orang-orang yang beriman dan mencintai Alkitab? Sudahkah anak-anak sejak masa kecilnya diperkenalkan dengan Alkitab? Perlu ditegaskan lagi disini bahwa suasana keluarga yang cinta Alkitab, harus diciptakan oleh para orang tua. Karena bapa berfungsi sebagai imam bagi keluarganya, maka kecintaan keluarga pada Alkitab menjadi tanggung jawabnya. Ini bukan berarti seorang bapa harus menjadi ahli teologi. Membaca Alkitab dan bertemu dengan berbagai aliran teologi, sangatlah disayangkan. Seorang bapa harus memiliki sikap sedemikian sehingga ketika ia mendekati Alkitab, maka ia bertemu dengan Firman Yang Hidup itu. Sikap yang benar dari seorang bapa terhadap Alkitab ini, akan menular pada seluruh anggota keluarga. Dengan demikian keluarga ini dibangun dalam hikmat Kristus, serta bertumbuh dalam keselamatanNya.

Keluarga: Arti dan Kebutuhannya

Oleh: Pdm. Abigail I. Fatmalita, S.Th


“... Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yosua 24:15b)

PROLOG

Kata keluarga terlalu banyak dipakai oleh berbagai orang dari berbagai kelompok sehingga menjadi hilang makna yang sesungguhnya. Sebuah film yang berjudul “The Godfather”, Vito Corleone menggambarkan kelompok pembunuh berdarah dingin yang ia pimpin sebagai keluarga. Begitu juga dengan kelompok-kelompok yang lain, entah bertujuan baik atau buruk, menamakan para pengikut mereka sebagai keluarga. Bahkan dibanyak gereja kita sering mendengar atau menyanyikan nyanyian tentang persekutuan umat Allah sebagai “keluarga Allah”.

ARTI KELUARGA

Lalu, apakah keluarga itu? Keluarga merupakan lembaga yang fenomenal dan universal. Di dalamnya terdapat anak-anak yang dipersiapkan untuk bertumbuh. Keluarga adalah lembaga masyarakat paling kecil tetapi paling penting. Dr. Kenneth Chafin dalam bukunya Is There a Family in the House? memberi gambaran tentang maksud keluarga dalam lima identifikasi, yaitu:

Pertama, keluarga merupakan tempat untuk bertumbuh, menyangkut tubuh, akal budi, hubungan sosial, kasih dan rohani. Manusia diciptakan menurut gambar Allah sehingga mempunyai potensi untuk bertumbuh. Keluarga merupakan tempat memberi energi, perhatian, komitmen, kasih dan lingkungan yang kondusif untuk bertumbuh dalam segala hal ke arah Yesus Kristus.

Kedua, Keluarga merupakan pusat pengembangan semua aktivitas. Dalam keluarga setiap orang bebas mengembangkan setiap karunianya masing-masing. Di dalam keluarga landasan kehidupan anak dibangun dan dikembangkan.

Ketiga, keluarga merupakan tempat yang aman untuk berteduh saat ada badai kehidupan. Barangkali orang lain sering tidak memahami kesulitan hidup yang kita rasakan tetapi di dalam keluarga kita mendapat perhatian dan perlindungan.

Keempat, keluarga merupakan tempat untuk mentransfer nilai-nilai, laboratorium hidup bagi setiap anggota keluarga dan saling belajar hal yang baik.

Kelima, keluarga merupakan tempat munculnya permasalahan dan penyelesaiannya. Tidak ada keluarga yang tidak menghadapi permasalahan hidup. Seringkali permasalahan muncul secara tidak terduga. Misalnya, hubungan suami istri, masalah yang dihadapi anak belasan tahun, dan masalah ekonomi. Namun, keluarga yang membiarkan Kristus memerintah sebagai Tuhan atas hidup mereka pasti dapat menyelesaikan semua permasalahan.

KEBUTUHAN KELUARGA SAAT INI

Mengutip apa yang disampaikan oleh Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th dalam Artikel berjudul Integritas (Majalah TAHETA edisi Oktober 2010, hal 6-7), di mana disebutkan bahwa Dr. Tim La Haye dalam bukunya yang berjudul You and Your Family, memberikan diagram silsilah dua orang yang hidup pada abad 18. Yang pertama adalah Max Jukes, seorang penyelundup alkohol yang tidak bermoral. Yang kedua adalah Dr. Jonathan Edwards, seorang pendeta yang saleh dan pengkhotbah kebangunan rohani. Jonathan Edwards ini menikah dengan seorang wanita yang mempunyai iman dan filsafat hidup yang baik. Melalui silsilah kedua orang ini ditemukan bahwa dari Max Jukes terdapat 1.026 keturunan: 300 orang mati muda, 100 orang dipenjara, 190 orang pelacur, 100 orang peminum berat. Dari Dr. Edwards terdapat 729 keturunan : 300 orang pengkhotbah, 65 orang profesor di universitas, 13 orang penulis, 3 orang pejabat pemerintah, dan 1 orang wakil presiden Amerika.

Dari diagram tersebut kita bisa melihat bahwa kebiasaan, keputusan dan nilai-nilai dari generasi terdahulu sangat mempengaruhi kehidupan generasi berikutnya. Hal ini sesuai dengan pendapat para ahli psikologi dan pendidikan pada umumnya yang menyatakan bahwa lingkungan dan agen yang banyak mempengaruhi pembentukan watak, iman, dan tata nilai seseorang adalah keluarga asal (the family of origin). Dengan kata lain, keluarga asal dianggap paling berperan dan berharga dengan berbagai dinamika dan kondisi apapun.

Memperhatikan penting dan strategisnya peranan keluarga, Paul Meier seorang psikiater Kristen Amerika mengusulkan lima aspek yang harus terus bertumbuh dalam kehidupan sebuah keluarga, yaitu:

Pertama, kasih di antara suami istri dan di antara orang tua terhadap anak harus terus meningkat (1 Korintus 13:4-7). Apakah kasih itu? Menurut Meier, kasih mencakup komitmen, perhatian, perlindungan, pemeliharaan, pertanggungjawaban, dan kesetiaan. Kasih yang seharusnya berlanjut dalam relasi suami istri tidak lagi sebatas ketertarikan secara fisik. Kasih itu harus diungkapkan dalam perbuatan nyata, saling berkomunikasi dan berelasi. Kasih itu juga diaktualisasikan ketika menghadapi masalah, memikiul tugas dan tanggung jawab hidup. Ketiadaan kasih diantara orang tua dapat dirasakan oleh anak, akibat selanjutnya adalah menggangu pertumbuhan watak mereka.

Kedua, harus ada disiplin yakni tegaknya keseimbangan hukuman dan pujian yang dinyatakan orang tua bagi anak mereka. Disiplin itu sendiri merupakan kebutuhan dasar anak pada masa pembentukannya. Disiplin tidaklah identik dengan hukuman saja. Disiplin sebenarnya berarti pemberitahuan, penjelasan, dan pelatihan dalam hal-hal kebajikan. Melalui disiplin anak dimampukan mengenali dan memilih serta mewujudkan pilihannya dalam kebaikan itu. Disiplin orang tua bagi anak-anaknya juga berkaitan dengan pembentukan iman anak melalui pengajaran, percakapan, komunikasi formal, dan non formal. Alkitab mengajarkan bahwa orang tualah yang paling bertanggung jawab mengajari anak-anaknya dalam iman dan moral secara berulang-ulang dengan berbagai cara kreatif supaya mereka bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan (Baca: Ulangan 6:6-9; Matius 18:5-14).

Ketiga, pentingnya konsistensi yaitu aturan yang dianggap benar, terus menerus dinyatakan dan diterapkan orang tua. Aturan tersebut tidak boleh hanya penuh semangat diterapkan satu minggu atau beberapa hari saja kemudian tidak dilaksanakan lagi, melain terus menerus dan konsisten. Penetapan aturan yang harus diikuti anak semestinya mempertimbangkan keadaan dan kebutuhan anak. Perlu dipahami bahwa cara anak menanggapi aturan berbeda-beda sesuai tingkat usia dan tahap perkembangan mereka.

Keempat, mendesaknya keteladanan orang tua dihadapan anak-anak, termasuk dalam segi perkataan, sikap, penampilan dan perbuatan (Baca: Efesus 6:4; Kolose 3:20-21). Para ahli psikologi dan pendidikan menyatakan bahwa anak kecil belajar dengan melihat, mendengar, merasakan dan meniru. Selanjutnya mereka mengolah dalam pikirannya apa yang didengar dan dilihat, seiring dengan perkembangan kognitifnya. Jika anak mendapatkan contoh sikap dan perilaku yang buruk, ia memandang itu sebagai yang “benar” untuk diteladani. Yesus sendiri memang telah mengingatkan para orang tua supaya menjaga anggota tubuhnya sedemikian rupa agar tidak membawa anak-anak mereka bertumbuh dengan kekecewaan, lalu pada akhirnya jauh dari atau menolak kasih dan rahmat Tuhan (Matius 18:6-9).

Kelima, peran suami sebagai kepala rumah tangga harus dilaksanakan. Ini merupakan ketetapan Allah bagi setiap keluarga di dunia. Supaya keluarga bertumbuh sesuai dengan kehendak Tuhan, maka istri harus memberi kesempatan dan dukungan agar. Inilah perannya sebagai penolong yang sepadan bagi suaminya. Suami yang takut akan Tuhan dan menjadi pimpinan yang melayani di dalam keluarganya dinyatakan akan berbahagia; berkat Tuhan akan hadir dan nyata dalam kehidupan istri, anak-anak dan pekerjaannya. Inilah yang dilakukan oleh Yosua terhadap keluarganya. Ia mendemonstrasikan peran ini ketika berkata “… Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yosua 24:12b).

Peranan orang tua terutama, seorang suami untuk membawa seluruh keluarga beribadah kepada Tuhan berlaku dalam Perjanjian Lama dan tidak dibatalkan dalam Perjanjian Baru. Dari sekian banyak peranan suami dalam Alkitab, dua hal yang paling menonjol, yaitu :

1. Peranan suami sebagai kepala rumah tangga. (Efesus 5:22-29). Sebagai kepala rumah tangga suami adalah pemimpin keluarga dan pengambil keputusan; pengayom bagi semua anggota keluarga; pelindung yang melindungi dan bertanggung jawab; mendidik, menegor dan menasihati. (Efesus 6:4); memberi contoh dan teladan yang baik bagi keluarga.

2. Peranan suami sebagai imam. Sebagai imam Ia harus memimpin dan mengatur ibadah dalam keluarga; berdoa setiap waktu kepada Allah bagi seluruh anggota keluarganya dan juga bagi dirinya sendiri.

EPILOG

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa karakter, tata nilai, dan cara beriman kita muncul dan berkembang dari keluarga tempat di mana kita dibesarkan dan bertumbuh. Selain itu betapa pentingnya kehidupan keluarga yang baik, yang sesuai dengan prinsip Alkitab (2 Timotius 3:16-17) Syarat ini diperlukan untuk membentuk generasi yang berkarakter mulia sesuai dengan kehendak Allah.

Kemurnian Suami dan Isteri

"Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu" [ Kejadian 2:25 ].

Alkitab menceritakan bahwa manusia dan istrinya itu dalam kondisi telanjang. Ketelanjangan didalam Alkitab selalu menunjukkan sesuatu yang memalukan dan suatu kondisi seseorang yang menyedihkan. Namun kita lihat disini bahwa manusia dan istrinya itu tidak merasa malu dengan kondisi mereka. Mengapa ketelanjangan manusia dan istrinya itu tidak menimbulkan rasa malu diantara keduanya ? Hal ini disebabkan mereka "diselimuti" oleh kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah telah membuat mereka saling memandang dengan "mata" yang berbeda dan mereka tidak tahu bahwa mereka telanjang. Mereka dapat menerima keadaan diri mereka sendiri dan juga keadaan pasangan mereka. Ketelanjangan mereka malah merupakan sesuatu hal yang positif dimana ini berarti diantara mereka ada keterbukaan dan kesatuan, yang memang mutlak diperlukan dalam hubungan suami-istri.

Tetapi setelah dosa masuk, maka manusia kehilangan kemuliaan Allah [ Roma 3:23 ]. Hilangnya kemuliaan Allah ini membuat manusia memiliki mata jasmani yang memandang ketelanjangan sebagai sesuatu yang memalukan, dan ketelanjangan memang merupakan sesuatu yang memalukan. Manusia telah sadar dan tahu bahwa dirinya telanjang. Selama manusia diselimuti kemuliaan Allah, ia tidak tahu bahwa dirinya telanjang. Kemuliaan Allah membuat manusia hanya memandang Allah dan tidak memandang dirinya sendiri.

Sekarang, bagaimana hubungan suami-istri ini setelah mereka melihat ketelanjangan mereka ? Alkitab menyatakan bahwa, "mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat". Manusia dan istrinya itu sekarang sibuk menutupi rasa malu yang diakibatkan kondisi mereka. Tidak ada lagi keterbukaan dan kesatuan diantara mereka. Tidak ada lagi saling menerima keadaan masing-masing. Tidak ada lagi kemurnian diantara mereka. Masing-masing telah menjadi egois dan memikirkan diri mereka sendiri. Dosa dan hilangnya kemuliaan Allah telah membuat hubungan suami-istri rusak berat.

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari ayat diatas ? Pertama, "ketelanjangan yang diselimuti kemuliaan Allah" merupakan suatu hal yang mutlak didalam hubungan suami-istri. Adanya keterbukaan total dan saling menerima diantara suami istri, merupakan syarat mutlak menuju kesatuan yang direncanakan Allah. Suami dan istri tidak memiliki "simpanan" apapun yang tidak diketahui pasangannya. Kedua, dosa dan hilangnya kemuliaan Allah perlu diselesaikan dengan tuntas diantara suami-istri. Perlu adanya saling mengaku dosa dan saling mengampuni diantara suami-istri. Suami-istri harus belajar bagaimana membiarkan Allah bekerja menempa kemuliaanNya sedikit demi sedikit didalam kehidupan mereka. Suami-istri perlu belajar memandang Allah saja didalam kehidupan rumah tangga mereka. Melalui ketekunan suami-istri, maka kemurnian hubungan itu akan tercapai. Amin.

Sumber: Gema Sion Ministry

Kereta Waktu

Penulis : Pdt. Dr. Paul Gunadi

Dulu saya berpikir bahwa saya mempunyai sekurang-kurangnya 18 tahun untuk membagi hidup bersama dengan anak-anak kami. Sekarang baru saya menyadari bahwa sesungguhnya saya hanya memiliki 12 tahun.

Dua di antara tiga anak kami sudah menginjak remaja dan mulai menampakkan perilaku remaja, bukan kanak-kanak lagi. Mereka enggan diajak pergi bersama jika tidak ada teman sebaya dan di rumah, telepon telah berubah menjadi alat komunikasi yang SANGAT vital bagi mereka (begitu vitalnya sehingga saya kesulitan memakainya). Dulu saya dapat memeluk putri kami dengan bebas, sekarang saya perlu berhati-hati memeluknya. Dulu saya bisa bercanda dengan putra saya dan mendapatkan respons apa adanya darinya, namun sekarang tanggapannya seolah-olah berbentuk pertanyaan, "Papa, mengapa engkau bertingkah laku aneh?"

Saya mengibaratkan waktu bak kereta yang sedang melaju. Betapa inginnya saya menghentikan laju lokomotif itu tetapi sayang, saya tak kuasa menahannya. Kadang dengan bercanda (dan setengah berharap) saya meminta kepada putra-putri kami untuk berhenti bertumbuh. Saya merindukan dan berkhayal agar mereka tetap berusia 5, 7, dan 9 tahun terus-menerus. Mendengar itu, biasanya mereka menertawakan saya (mungkin saudara juga) sebab mereka sadar bahwa itu adalah permintaan yang tak mungkin mereka luluskan.

Saya sungguh berharap bahwa saya dapat memperlambat laju kereta waktu dan menikmati mereka sebagai anak-anak kembali. Dulu saya beranggapan bahwa saya masih mempunyai waktu yang panjang untuk hidup dengan mereka sebagai kanak-kanak. Ternyata perhitungan saya meleset; setelah usia 12, anak-anak berubah mandiri dan mulai melepaskan diri dari orangtua. Saya masih membutuhkan mereka namun mereka tidak lagi membutuhkan saya. Sisa waktu bersama mereka menjadi begitu sedikit dan begitu berharga!

Kita tidak dapat mempercepat atau memperlambat waktu; kita hanya bisa melaluinya. Ada hal-hal yang dapat kita lalui berulang-kali, tetapi ada sebagian hal yang hanya dapat kita lalui sekali. Waktu bersama anak termasuk dalam kategori yang kedua itu. Kita hanya dapat menikmati anak pada masa kanak-kanaknya sebagai kanak-kanak sekali, tidak bisa dua atau tiga kali. Celotehnya sebagai bayi hanya terdengar pada masa bayi; tangisnya sebagai balita hanya terjadi pada masa ia duduk di taman kanak-kanak; main sepeda, kelereng, atau petak lari hanya dilakukannya pada masa sekolah dasar; perilakunya yang berlagak seperti orang dewasa namun masih seperti anak-anak hanya terlihat pada masa remaja. Setelah semua itu berlalu, kita hanya dapat menatap gambar-gambar hidup itu melalui sesuatu yang kita sebut, memori. Kita tidak bisa melalui waktu itu lagi secara langsung; kita hanya dapat mengenangnya.

Salomo, si pengkhotbah, meringkasnya dengan tepat, "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya" (3:1). Kesimpulannya adalah, hiduplah pada masa sekarang, bukan pada masa lampau atau masa datang. Waktu yang sudah lewat tersisa dalam kenangan, sedangkan waktu yang akan datang menyembul dalam khayalan. Hiduplah pada masa sekarang, dalam kenyataan, bukan dalam kenangan yang membuahkan penyesalan atau khayalan yang merupakan pelarian semata-mata. Jadilah ayah dan ibu untuk anak-anak kita sesuai usianya sekarang! Nikmati setiap tetesan kehadiran mereka dan jangan sampai mereka hanya hidup dalam kenangan atau khayalan kita. Ingat, kereta waktu terus berjalan ..... dan anak-anak kita berada di dalamnya!

Ketika Aku Sudah Tua

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula. Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku. Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku. Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku. Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku. Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap "mengapa" darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku. Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat. Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka. Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan. Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku. Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.

Kisah Batin Seorang Ibu Menjaga "Hasil Tenunan"

Penulis : Job Palar

Jakarta - Jika sebuah kisah dituturkan dengan menggunakan kata ganti orang pertama "saya", pastilah kisah yang mengalir adalah pengalaman batin dari si pencerita itu sendiri. Kisah-kisah yang hadir dalam buku Tangan yang Menenun ini adalah juga sebuah kisah batin dari seorang ibu yang berstatus orang tua tunggal tapi berperan ganda-ayah sekaligus ibu dari anak-anaknya.

Tulisan "Mengapa Kita Tidak Kaya?" telah dihadirkan harian ini di halaman 11 pada Sabtu, 17 Juli 2004. Namun, versi koran dengan versi tulisan di buku ini tentu berbeda, baik dari segi kedalaman maupun panjang-pendeknya tulisan.

"Allah menenun sejak anak-anak berada dalam kandungan" (Mazmur 139:13), inilah dasar dari segala perkara, prahara, dan suka cita yang tertuang dalam buku. Tampak jelas, benang merah dari isi buku ini adalah bagaimana seorang ibu berusaha mempertanggungjawabkan dan menjaga "hasil tenunan" Allah agar menjadi seperti yang Allah inginkan. Kali ini, "hasil tenunan" itu berwujud dalam bentuk seorang anak bernama Dika.

Ada tawa bahagia, ada duka nestapa, ada air mata dalam kisah-kisah interaksi "saya" dan Dika dalam buku ini. Pembaca juga akan disuguhkan beberapa fragmen rumah tangga yang tak sepenuhnya terang. Namun bahasa yang disajikan penuh kelugasan dan jauh dari kesan dirumit-rumitkan.

Tentu pembaca akan bertanya, "Apa peran si ayah atau suami?", "Mengapa di kisah ini ada, lalu di kisah lain lagi seperti lenyap tersedot pusat bumi alias hilang?" Ada kesamaran alur yang mungkin dapat direka-reka oleh pembaca, bagaimana sebenarnya "jalan cerita" yang terjadi sehingga tokoh " saya" dalam kisah-kisahnya akhirnya memilih menjadi orang tua tunggal. Setidaknya, status "orang tua tunggal" dipatrikan sendiri oleh pengarang, Lesminingtyas, yang akrab dipanggil Ning atau Mbak Ning.

Dalam beberapa fragmen interaksi ibu-anak memang terselip peran seorang suami, namun peran itu muncul lebih banyak sebagai tokoh antagonis. Setidaknya tokoh suami atau ayah hadir di situ sebagai orang yang justru menjadi katalis hubungan batin antara ibu dan anak, namun bukan dalam sisinya yang positif. Lengkaplah sebuah drama keluarga.

Menurut pengakuan pengarang dalam bukunya, dia memiliki tiga anak, tapi dalam buku ini hanya "jagoan" pertamanya saja yang muncul, si Dika. Entah kalau "jagoan-jagoan"-nya yang lain akan muncul juga dalam buku-buku Ning selanjutnya.

Bagi para orang tua, buku ini pasti bisa menjadi salah satu acuan dalam mendidik anak. Buku ini seperti memberikan trik bagaimana menerapkan makna-makna yang abstrak bagi seorang anak kecil berumur sekitar 4 tahunan. Makna-makna abstrak itu bahkan terkadang tak bisa dipahami oleh seorang dewasa sekali pun.

Makna mengampuni, menang tanpa harus mengalah, dosa, cabul, dan berbagai makna yang rasanya cukup berat untuk dipahami oleh seorang anak, dicoba diterapkan oleh sang ibu dengan segala kelembutan, jauh dari kesan penyesalan dan luapan kemarahan. Pedoman semua itu adalah Alkitab, padahal untuk banyak orang Alkitab itu pun adalah buku yang begitu sulit untuk dipahami. Namun, kiat-kiat memahami isi Alkitab di sini bisa hadir secara begitu aplikatif.

Emosi kemarahan bercampur kasih yang makin dalam bisa terpancar begitu kuat dalam fragmen kehidupan "Astaga, Anakku Mencuri!" atau "Astaga, Anakku Bicara Kotor!". Kelucuan bisa muncul dengan begitu polosnya dalam "Donat Ayu". Pencarian makna kehidupan akan sangat kentara dalam fragmen "Mengapa Kita Tidak Kaya?".

Pada fragmen "Astaga, Anakku Mencuri!" malah terasa sekali interaksi tiga pihak beroposisi-ayah, ibu, anak-, namun bisa selesai dengan solusi yang sangat cair dan berujung pada makin indahnya hubungan ibu-anak. Ke mana sang ayah? Ya itu, tadi. Sang ayah hanyalah katalis yang makin memperat hubungan batin ibu dan anaknya.

Namun, memang terasa membingungkan untuk memahami suasana batin si anak saat si ibu selalu memperhadapkan fakta bahwa "Tuhan akan marah." atau "Tuhan menginginkan.", atau "Tuhan merencanakan.". Setidaknya, sebagai pembaca, letupan-letupan kejutan yang terjadi karena perkembangan setiap tokohnya-terutama Dika-akan menjadi kurang terasa karena kalimat-kalimat seperti di atas akan selalu muncul di permukaan untuk diperhadapkan pada kejutan-kejutan itu.

Pernyataan ini bukan hendak merendahkan makna kehadiran Tuhan yang mewarnai hubungan batin ibu-anak, atau yang melingkupi seisi buku. Hanya saja, model penulisannya bisa dipertimbangkan agar arah pemikiran pengarang tidak mudah terbaca.

Sebuah buku yang telah menjadi milik publik tentu dipertimbangkan untuk bisa dibaca oleh semua khalayak. Untuk pembaca yang belum punya anak atau belum menikah sekali pun, buku ini sangat bisa menjadi referensi karena menjabarkan makna kehidupan nan bersahaja, dan hubungan emosional yang naik-turun dari ibu dan anak ini begitu patut untuk direnungkan.

Sumber: Resensi Buku TANGAN YANG MENENUN* di Sinar Harapan

Memilih Pasangan Hidup

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

Khotbah Ibadah Raya GBAP El Shaddai Palangka Raya
Minggu, 31 Maret 2013

“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap” (1 Korintus 6:14)

PENDAHULUAN

Pernikahan merupakan ide Tuhan untuk mempersatukan seorang pria dan wanita. Melalui pernikahan Allah memberi kesempatan kepada pria dan wanita untuk hidup bersama. Kehidupan bersama pria dan wanita ini harus didasarkan atas kasih karunia. Pernikahan sebagai sebuah lembaga, ditetapkan oleh Allah sendiri (Kejadian 2:24), dan melukiskan persekutuan antara Kristus dan gerejaNya (Efesus 5:31-32). Dalam pernikahan suami dan istri mengikat diri dalam suatu tujuan yang kudus, untuk membangun rumah tangga bahagia dan harmonis. Sebagaimana Yesus Kristus mengasihi satu gereja dan gereja itu mengasihi satu Tuhan, demikian seorang pria dipanggil mengasihi satu wanita dan wanita mengasihi satu pria.

Pernikahan adalah hal mulia, yang dikaruniakan Tuhan, sejak manusia belum jatuh ke dalam dosa. Kejadian 1:28 mencatat bagaimana Tuhan memberkati Adam dan Hawa sebelum mereka diperintahkan untuk beranak cucu. Karena itu, pernikahan harus ditempuh dengan rukun, sehati, setujuan, penuh kasih sayang, percaya seorang akan yang lain, dan bersandar kepada kasih karunia Tuhan. Pernikahan tidak boleh ditempuh atau dimasuki dengan sembarangan, dirusak oleh karena kurang bijaksana, dinista atau dinajiskan; melainkan hendaklah hal itu dihormati dan dijunjung tinggi dengan takut akan Tuhan serta mengingat maksud Allah dalam pernikahan itu.

Memilih jodoh atau pasangan hidup bukanlah hal remeh dan mudah. Ada banyak kasus orang yang sudah menikah dan berpikir bahwa pasangannya adalah pasangan hidupnya yang tepat, tetapi pada akhirnya bercerai dengan alasan tidak cocok. Mengapa tidak cocok, bahkan bercerai? Karena mereka tidak saling mengenal sungguh-sungguh? Sebelum menikah, kebiasaan negatif atau kebiasaan buruk tidak ditunjukkan oleh pria dan wanita tersebut. Setelah menikah dan hidup bersamalah, semua kebiasaan negatif tersebut diketahui dan tampak dengan jelas. Seringkali, impian dan harapan tidak sesuai dengan kenyataan! Karena itu, dalam hal mencari dan memilih pasangan hidup, Kekristenan mengajarkan bahwa Tuhan tidak membiarkan manusia bertindak sendiri. Tuhan telah memberikan prinsip-prinsip absolut dalam memilih pasangan hidup dan membangun sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia.

JODOH: PILIHAN ATAUKAH TAKDIR?

Pada khotbah dalam ibadah bersama (fellowship) GBAP Palangka Raya dan “Weekend Celebration” El Shaddai Youth Ministry, Sabtu, 13 Oktober 2012, saya telah menjelaskan masalah ini melalui khotbah yang berjudul “Jodoh: Pilihan ataukah Takdir?” Tetapi disini, saya perlu mengulangi kembali secara ringkas tentang masalah ini.

Berbicara tentang jodoh, secara umum ada dua pandangan yang berbeda, yaitu pandangan bahwa jodoh adalah takdir dan pandangan bahwa jodoh adalah pilihan. Pandangan takdir atau disebut juga determinisme, mengakui bahwa jodoh seseorang itu telah ditentukan oleh Tuhan, sehingga tidak perlu berusaha atau melakukan upaya apapun untuk mendapatkan jodoh. Pandangan seperti ini pada akhirnya menggiring seseorang pada determinisme fatalistik yaitu pandangan yang beranggapan bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, dan manusia hanya bisa menerima apa yang sudah ditentukan tanpa bisa berbuat apa-apa. Menurut pandangan ini, manusia hanyalah “wayang” yang melakoni apa saja yang dikehendaki oleh “sang dalang”. Orang-orang yang begitu saja menerima segala sesuatu yang terjadi sebagai nasib (takdir) yang ditentukan, bersikap pasrah pada nasib dan tak ingin merubahnya, disebut fatalistik. Dalam teologi Kristen, calvinisme ekstrim yang disebut dengan Hiper-Calvinik berpegang pada pandangan determinisme ini.

Sebaliknya, pandangan pilihan mengakui bahwa jodoh semata-mata adalah pilihan yang melibatkan keputusan dan kehendak manusia tanpa melibatkan Tuhan. Pilihan diartikan sebagai penentuan atau pengambilan sesuatu berdasarkan keputusan atau kehendak sendiri. Pandangan ini lebih menekankan pada kehendak bebas (free will) manusia. Kehendak bebas adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk membuat pilihan secara sukarela, bebas, dari segala kendala ataupun tekanan yang ada. Disini, Allah hanya sebagai Pribadi yang merestuai dan melegitimasi apa yang menjadi pilihan manusia. Dalam teologi Kristen, konsep pandangan tentang kebebasan ini berasal dari Arminianisme.

Kedua pandangan di atas, biasa dikontraskan dengan kalimat “jodoh di tangan Tuhan vs jodoh di tangan manusia”. Penganut garis keras dari kedua pandangan ini tidak pernah mencapai titik temu, karena keduanya berasa pada titik yang berlawanan. Lalu, bagaimana pandangan Alkitab mengenai hal ini?

Pertama, Kehendak Allah yang Berdaulat dan Kebebasan Manusia

Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan telah menetapkan sebelumnya (predestinasi) segala hal yang akan terjadi. Dengan kata lain, tidak ada satu hal pun di dunia ini yang terjadi dengan sendirinya atau terjadi secara kebetulan (Efesus 1:4,11). Alkitab menyatakan bahwa Allah berdaulat dalam melaksanakan kehendakNya. Kedaulatan Allah dinyatakan bukan saja dalam kehendakNya tetapi juga di dalam kemahakuasaanNya, atau dalam kuasa untuk melakukan kehendakNya. Allah Mahakuasa sehingga sanggup melakukan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya (Daniel 4-35). Ketetapan itu meliputi segala sesuatu di masa lampau, masa kini, dan masa depan; ketetapan itu meliputi juga hal-hal yang diadakannya secara efektif dan hal-hal sekedar yang diizinkannya (Yesaya 46:10-11), dengan kata lain, dengan kuasa dan kebijaksanaan yang tidak terbatas, sejak segenap kekekalan yang silam, Allah telah memutuskan dan memilih serta menentukan jalannya semua peristiwa tanpa kecuali bagi segenap kekekalan yang akan datang.

Adanya fakta tentang kehendak Allah yang berdaulat ini tidaklah menghancurkan kebebasan (freedom) ataupun kehendak bebas (freewill) manusia. Manusia tetap bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Mengapa? Kerena, manusia adalah mahluk ciptaan yang berpribadi, yang diciptakan menurut rupa dan gambar Allah (Kejadian 1:26). Dengan kata lain, manusia memiliki “citra” Allah. Sebagai mahluk ciptaan, manusia bergantung pada Tuhan, Sang penciptaNya, bagi keberlangsungan hidupnya; ia tidak bisa berdiri sendiri; hidupnya bergantung pada Allah pencipta. Di dalam Allah manusia hidup, bergerak, dan bernafas (Kejadian 1:26; 2:7; Kisah Para Rasul 17:28). Sebagai mahluk berpribadi, manusia memiliki kemandirian yang relatif (tidak mutlak), dalam pengertian bahwa ia memiliki kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan dan membuat pilihan-pilihannya sendiri.

Tetapi, akibat dari dosa pertama Adam dan Hawa tersebut “citra” Allah dalam diri manusia telah tercoreng dan mengakibatkan dosa masuk dan menjalar kepada setiap manusia (Roma 3:10-12, 23; 5:12). Manusia telah rusak total (total depravity). Adam dan Hawa telah membuat dosa menjadi aktual pada saat pertama kalinya di Taman Eden, sejak saat itu natur dosa telah diwariskan kepada semua manusia (Roma 5:12; 1 Korintus 15:22). Akibat natur dosa itulah kita sekarang ini terus menggunakan kehendak bebas itu untuk membuat kejahatan itu menjadi aktual (Markus 7:20-23). Walaupun demikian, Allah tetap menghargai “kehendak bebas” yang diberikanNya kepada manusia termasuk dalam hal memilih dan menentukan jodoh dalam hidup pernikahannya.

Kedua, Kehendak Tuhan Bagi Orang Kristen dalam Memilih Jodoh

Perlu dipahami, ada dua aspek ketetapan Allah yaitu: ketetapan efektif dan ketetapan permisif. Ketetapan Allah yang efektif disebut juga kehendak Allah yang mengarahkan, sedangkan ketetapan Allah yang permisif adalah kehendak Allah yang mengizinkan. Ada hal-hal yang direncanakan Allah dan yang ditetapkan-Nya harus terjadi secara efektif dan ada hal-hal lainnya yang sekadar diizinkan Allah untuk terjadi (Roma 8:28). Beberapa hal dimana Allah terlihat sebagai penggerak yang secara aktif menjadikan semua peristiwa, yaitu : menciptakan (Yesaya 45:18); mengontrol alam semesta (Daniel 4:35); menetapkan penguasa (Daniel 2:21); memilih orang untuk diselamatkan (Efesus 1:4). Beberapa hal menunjukkan kehendak Allah yang permisif, yaitu: Allah mengizinkan kejatuhan, dosa, kejahatan dan penderitaan, tetapi Ia bukan pencipta dosa, kejahatan ataupun penderitaan manusia. Akan tetapi, dalam hal ketetapan-ketetapan yang permisif itu pun, Allah mengarahkan semuanya bagi kemuliaan-Nya (Matius 18:7; Kisah Para Rasul 2:23).

Demikian juga dalam hal jodoh, manusia diberi kebebasan untuk memilih, tetapi semuanya sesuai dengan kehendak Tuhan yang mengijinkan. Jadi, dapat dikatakan bahwa dalam hal jodoh ada peran manusia dan ada peran Tuhan. Tuhan telah menetapkan syarat-syarat dalam memilih jodoh; manusia berupaya menemukan jodoh dengan memperhatikan syarat-syarat yang Tuhan telah tetapkan. Karena itu, sebagaimana disebutkan diatas bahwa dalam hal mencari dan memilih jodoh, Tuhan tidak membiarkan manusia bertindak sendiri. Tuhan telah memberikan prinsip-prinsip absolut (mutlak) dalam membangun sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia.

PRINSIP-PRINSIP ABSOLUT DALAM MEMILIH JODOH

Jadi, dalam hal jodoh, manusia diberi kebebasan untuk memilih, tetapi semuanya itu berada dalam atau sesuai dengan ketetapan Tuhan yang permisif (mengijinkan). Tuhan telah memberikan prinsip-prinsip absolut (mutlak) dalam memilih pasangan hidup dan membangun sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia. Siapapun orangnya, apabila sungguh-sungguh menaati prinsip-prinsip firman Tuhan tersebut, keluarganya akan bahagia. Kebahagiaan pernikahan tidak bergantung kepada “teologi takdir” ataupun “teologi kebebasan” dalam memilih jodoh, tetapi pada ketaatan terhadap prinsip-prinsip yang ditentukan Tuhan sebagaimana yang tertulis di dalam Alkitab. Prinsip-prinsip absolut yang dimaksud bagi pernikahan Kristen adalah sebagai berikut :

Prinsip 1: Pernikahan Harus Bersifat Monogami.

Pernikahan, khususnya pernikahan Kristen itu bersifat monogami. Dalam Kejadian 1:27 dikatakan “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki (ish) dan perempuan (ishsha) diciptakan-Nya mereka”. Kristus menegaskan kembali hal ini dalam Matius 19:4, dikatakan, “Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia (antrophos) sejak semula (ap’arches) menjadikan mereka laki-laki (aner) dan perempuan (gyne)?” Jadi, pernikahan Alkitabiah adalah antara seorang pria biologis dengan seorangan wanita biologis. Karena itu, pernikahan dengan sesama jenis (homosexual) atau pun pernikahan dengan hewan bukanlah pernikahan, melainkan penyimpangan dari ketetapan Tuhan.

Karakteristik paling mendasar dari pernikahan adalah bahwa pernikahan merupakan satu kesatuan antara seorang pria dan seorang wanita. Rasul Paulus berkata “baiklah setiap laki-laki (bentuk tunggal) mempunyai isterinya sendiri (bentuk tunggal) dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri” (1 Korintus 7:2). Monogami bukan hanya ajaran Perjanjian Baru, tetapi merupakan ajaran Perjanjian Lama. Monogami adalah rancangan Tuhan “sejak semula”, yaitu ketika Allah menciptakan satu laki-laki (Adam) dan memberi dia hanya satu istri (Hawa). Fakta bahwa Allah mengijinkan poligami dalam Perjanjian Lama tidaklah membuktikan bahwa Dia memerintahkannya. Poligami, sebagaimana perceraian itu diijinkan bukan diperintahkan, hal ini terjadi karena ketegaran (kekerasan) hati, tetapi sejak semula tidaklah demikian (Matius 19:8).

Prinsip 2: Pernikahan Harus Antara yang Seiman

Rasul Paulus menasehati, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?” (2 Korintus 6: 14-15). Ketika Rasul Paulus menuliskan kata-kata tersebut, ia memang tidak secara khusus berbicara tentang pernikahan, tetapi prinsip yang terkandung di dalamnya tepat dan dapat diterapkan dalam hal pernikahan. Seseorang yang menaruh imannya dalam Kristus sudah dilahirkan kembali (Yohanes 3:3-16), dan “siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru” (2 Korintus 5: 17). Perubahan yang demikian mendasar dalam kehidupan rohani kita seharusnya berdampak sangat kuat terhadap prioritas, tujuan, gaya hidup dan hubungan antar pribadi kita, termasuk dalam hal memilih pasangan hidup.

Meskipun Rasul Paulus dan Petrus membicarakan kemungkinan memenangkan pasangan yang tidak seiman sehingga percaya pada Tuhan, lebih baik menganggap hal tersebut sebagai kekecualiaan dan bukan medus (1 Korintus 7:12-16; 1 Petrus 3:1-2). Tidaklah bijak untuk memutuskan menikah dengan seseorang yang tidak seiman, karena hal ini akan lebih rumit dan membawa banyak masalah. Seorang Kristen yang menikah dengan orang yang bukan Kristen, mungkin akan menghadapi masalah rohani seumur hidup dan pergumulan bagi kesejahteraan rohani anak-anak mereka. Karena itu, orang yang akan dipilih sebagai pasangan hidup haruslah: (1) Percaya dan menyembah Kristus serta memiliki komitmen pada iman tersebut (Baca: 2 Korintus 6:14-18; Efesus 4:17 - 5:20; Filipi 3:7 -16; I Yohanes 2: 15-17). (2) Memiliki keyakinan yang benar. Jangan menikah dengan seorang penganut bidat atau ajaran sesat! Anda tidak harus sepaham dalam hal-hal yang tidak pokok (esensi), tetapi pastikan bahwa Anda memegang doktrin yang Alkitabiah (1 Yohanes 4: 1-6). (3) Komitmen untuk bergereja. Allah tidak memaksudkan hidup Kekristenan sebagai cara untuk hidup menyendiri. Dia merancang gereja untuk memenuhi kebutuhan dan sebagai wadah kita melayani sesama. Anda harus setuju dalam masalah ini dengan pasangan Anda (Efesus 4: 1-16; Ibrani 10:24-25).

Prinsip 3: Bertekad Mengikat Perjanjian di Hadapan Tuhan

Sebuah kovenan menurut Alkitab, adalah sebuah hubungan yang sakral antara dua pihak, disaksikan oleh Allah, sanagat mengikat, dan tidak dapat dibatalkan. Kedua belah pihak bersedia berjanji untuk menjalani kehidupan sesuai dengan butir-butir perjanjian itu. Kata Ibrani yang digunakan untuk “kovenan” adalah “berit” dan kata Yunaninya adalah “diathêkê”. Istilah kovenan yang seperti inilah yang digunakan Alkitab untuk melukiskan sifat hubungan pernikahan. Jelas bahwa pernikahan merupakan suatu kesatuan yang dilahirkan dari satu perjanjian dari janji-janji yang timbal balik. Kovenan pernikahan ini dinyatakan dengan gamblang oleh nabi Maleakhi ketika ia menulis “TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu” (Maleakhi 2:14). Kitab Amsal juga berbicara tentang penikahan sebagai suatu “kovenan” atau “perjanjian” satu sama lain. Kitab ini mengutuk seorang yang berzinah “yang meninggalkan teman hidup masa mudanya dan melupakan perjanjian Allahnya” (Amsal 2:17).

Jadi, pernikahan adalah suatu perjanjian pada satu peristiwa dimana Allah menjadi saksi. Allahlah yang mengadakan pernikahan dan Dialah yang menyaksikan janji-janji tersebut benar-benar dibuat “dihadapan Allah”. Kristus menegaskan bahwa Allahlah yang benar-benar menyatukan dua manusia bersama-sama di dalam pernikahan dengan mengatakan, “Apa yang telah disatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia” (Markus 10:19).

Prinsip 4: Bertekad Memelihara Kekudusan dan Kesetiaan Seumur Hidup Apa Pun yang Terjadi

Menurut Alkitab, merupakan kehendak Allah bahwa pernikahan sebagai komitmen seumur hidup. Permanennya suatu pernikahan, dengan jelas dan tegas dikatakan Kristus, “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:6). Jadi Allah dari sejak semula menetapkan bahwa pernikahan sebagai ikatan yang permanen, yang berakhir hanya ketika salah satu pasangannya meninggal (bandingkan Roma 7:1-3; 1 Korintus 7:10-11). Paulus juga menegaskan hal ini ketika ia berkata “Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain” (Roma 7:2-3).

Allah telah menetapkan pernikahan dari sejak semula, dan Allah adalah saksi dari seluruh pernikahan, baik diundang maupun tidak. Karena itu pernikahan wajib dihormati oleh semua orang (Ibrani 13:4). Pernikahan bukanlah hal yang boleh diremehkan! Pernikahan tidak boleh ditempuh atau dimasuki dengan sembarangan, dirusak oleh karena kurang bijaksana, dinista atau dinajiskan; melainkan hendaklah hal itu dihormati dan dijunjung tinggi dengan takut akan Tuhan serta mengingat maksud Allah dalam pernikahan itu.

Prinsip 5: Suami Harus Mengasihi Istri, dan Istri Tunduk kepada Suami

Sebelum upacara pernikahan, seorang pria dan seorang wanita berada di bawah otoritas orang tua atau walinya. Setelah upacara pernikahan, seorang pria sebagai suami diperintahkan untuk memiliki otoritas yang lain atas seorang wanita, yaitu istrinya sendiri. Rasul Paulus menjelaskan, “Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah” (1 Korintus 11:3). Jadi, pertama-tama suami harus tunduk kepada Kristus karena kepala dari pria adalah Kristus. Kemudian, sebagaimana suami tunduk kepada Kristus demikian juga hendaknya istri tunduk kepada suaminya, dan mengizinkan suami bertanggung jawab bagi dirinya.

Selanjutnya, rasul Paulus dalam Efesus 5:22-25 menjelaskan bentuk relasi suami dan istri, “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” . Mengapa Paulus memberi perintah “istri tunduk kepada suami” dan “suami mengasihi Istri”, dan hal ini diulangi lagi dalam Kolose 3:18-19, “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia”?

Berdasarkan relasi di atas, suami dan istri memiliki tanggung jawab masing-masing yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Tanggung jawab suami terhadap istri yang berhubungan dengan mengasihinya ialah: Memberi perhatian dan menyayangi istrinya; memelihara dan melindungi istri; menerima dan menghargai istri; peduli dan penuh penegretian; memimpin istri dan berkorban baginya. Tanggung jawab istri terhadap suami yang berhubungan dengan tunduk kepadanya ialah: mendukung dan menolong suami; menerima dan mengagumi suami; mempercayai dan menaati suami ; menghormati dan lebih menghormati suami. Selanjutnya relasi ini dapat dikembangkan oleh suami dan istri dengan cara: menjadi teman dan sahabat; saling melayani dan merawat; dan mengatur seisi rumah; rendah hati dan murah hati; memperhatikan pertumbuhan pribadi lebih dari hal lahiriah; dan sebagainya (bandingkan 1 Korintus 13:1-8; 1 Petrus 3:1-7).

Prinsip 6: Bertekad Untuk Mendidik Anak-Anak Sesuai dengan Ajaran dan Nasihat Tuhan

Secara khusus, dengan hadirnya anak sebagai karunia dari Tuhan, relasi suami istri dalam pernikahan akan bertambah. Kehadiran anak akan membentuk relasi orang tua dengan anak. Suami dan istri yang telah mempunyai anak, kini menjadi orang tua. Relasi ini disertai suatu tanggung jawab, yaitu tanggung jawab orang tua terhadap anak dan tanggung jawab anak-anak terhadap orang tua. Rasul Paulus mengingatkan, “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu -- ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. (Efesus 6:1-4; Bandingkan Ulangan 6:5-9). Hal yang sama disampaikan rasul Paulus dalam Kolose 3:20-21, “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya”.

Tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya antara lain: merencanakan masa depan mereka; merawat dan memelihara mereka; mengasuh dan mencukupi kebutuhan mereka; mengasihi mereka; mengajar, mendidik, dan membimbing mereka; memberi teladan dan bersaksi bagi mereka. Tanggung jawab anak terhadap orang tua antara lain: menghormati dan menaati orang tua, membantu orang tua dalam memelihara seisi rumah; mengerjakan tugas-tugas yang diberikan orang tua; dan belajar dibawah bimbingan orang tua.

Prinsip 7: Semua Persoalan Diselesaikan Berdasarkan Kebenaran Firman Tuhan

Keluarga bahagia bukan keluarga yang tanpa masalah tetapi keluarga yang dapat menyelesaikan masalah berdasarkan prinsip firman Tuhan. Karena itu, suami dan istri serta seluruh anggota keluarga harus berpusat pada Allah (theocentric family) dan menjadikan firman Tuhan (Alkitab) sebagai prinsip utama dalam mengatur dan menjalankan rumah tangga (bible oriented family). Jika suami dan istri, serta semua anggota keluarga taat kepada Kristus dan menjalankan prinsip firman Tuhan, maka hasilnya Tuhan akan menganugerahkan kebahagiaan sejati (Bandingkan 2 Timotius 3:14-17).

Manusia yang mencoba membangun rumah tangga tanpa mengandalkan Tuhan dan firmanNya, akan mengalami kehancuran. Karena semua yang menjadi idaman manusia dan diingikan ada dalam rumah tangga, seperti: keharmonisan,kesetiaan, cinta kasih, sukacita, damai sejahtera, anak-anak yang taat, kesehatan jasmani, berkat materi; sesungguhnya terletak dalam tangan Tuhan. Siapa yang bersandar dan berharap kepadaNya akan dikaruniakan semuanya itu.

Ringkasnya, semua prinsip di atas adalah absolut (mutlak). Artinya, siapapun calon pasangan hidup, baik pria maupun wanita, yang telah memenuhi prinsip-prinsip mutlak firman Tuhan di atas, Tuhan pasti menjamin kebahagiaan hidup dalam pernikahan dan keluarganya. Tuhan memberi kepada kita kebebasan untuk memilih jodoh yang sesuai dengan prinsip-prinsip firmanNya yang absolut.

PERTIMBANGAN PENTING LAINNYA DALAM MEMILIH JODOH

Bila prinsip absolut sudah dipenuhi, hal-hal lainnya adalah bersifat relatif. Misalnya: umur, suku, pendidikan, kekayaan, status sosial, kecantikan, kecakapan, dan penampilan lainnya. Semua itu tidak menentukan kebahagiaan seseorang. Hanya soal selera saudara yang sangat pribadi dan relatif sifatnya. Tetapi jangan salah kaprah! Walaupun hal yang disebut diatas bersifat relatif, tetapi Tuhan memberikan kita pikiran yang sehat dan jernih untuk mempertimbangkan juga semua hal yang bersifat relatif tersebut, karena hal tersebut juga sangat berpengaruh.

Langkah Pertama: Berdoa dan Minta Pimpinan Roh Kudus

Mengingat memilih pasangan hidup bukanlah hal yang remeh dan mudah, maka perlu dibawa dalam doa dan dipertimbangkan dalam pimpinan Roh Kudus. Hal ini untuk menjaga agar “kebebasan” yang kita gunakan dalam memilih calon pasangan hidup kita itu bukan asal-asalan saja; melainkan dipergumulkan dalam pimpinan Roh Kudus melalui doa yang serius dan pertimbangan yang cukup. Karena itu berdoalah supaya Allah memimpin kita menemukan pasangan hidup kita? Sesering mungkin dan jangan bosan! Allah sangat ingin mendengar permintaan kita sehubungan dengan hal ini. Saat kita membawa permintaan ini kehadapanNya, dan menyerahkan diri ke dalam pimpinanNya, yakinlah bahwa Dia akan menyatakan kehendak-Nya (Mazmur 37:4; Matius 7:7-12).

Selain itu, kita harus peka terhadap pimpinan Roh Kudus, karena Roh Kudus diberikan kepada kita untuk memimpin kita dalam setiap aspek hidup kita. Tuhan Yesus berkata: “Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”(Yohanes 14:26). Tetapi, bagaimana kita mengetahui bahwa Roh Kudus membimbing pillihan pikiran dan perasaan kita? Ini masalah yang cukup rumit karena kita berbicara tentang informasi yang kurang objektif. Meskipun Perjanjian Baru memuat beberapa contoh tentang bagaimana Roh Kudus dapat memimpin melalui kesan di dalam diri (Kisah Para Rasul 8:29; 11 :28; 13:2; 21 :11; 1 Korintus 14:30), ternyata memisahkan perasaan yang subjektif atau dorongan hati kita dari suara Roh Kudus tidak selalu mudah untuk dilakukan. Kita dapat meyakini bahwa Roh Kudus tidak akan pernah melanggar perintah-perintah yang tercantum dalam Alkitab. Roh Kudus tidak akan pernah meemerintahkan kita menikah dengan orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus, juga Dia tidak pernah membimbing kita untuk menikah demi uang, atau menuntun kita menikah dengan konflik yang masih terjadi. Roh Kudus akan membimbing saat kita mempelajari Alkitab, dan Dia akan memberi kepekaan akan apa yang baik atau salah dalam suatu hubungan antarpribadi. Tanda di dalam diri kita yang diberikan Roh Kudus pasti akan sejalan dengan kebenaran dan kebijaksanaan yang saleh.

Langkah Kedua: Pertimbangkan Karakter dan Kepribadian Seseorang Sebelum Memutuskan untuk Menikahinya

Pernikahan bukanlah tempat untuk memperbaiki diri! Seseorang yang menikah dengan tujuan memperbaiki masalah-masalah dalam kepribadiannya, sedang merayu masa depan yang penuh malapetaka. Apa yang tidak dapat diubah sebelum menikah, tak mungkin pula akan berubah dalam pernikahan. Karena itu, bila tersangkut masalah- masalah alkohol, narkoba, judi atau pelanggaran susila dan moral, harus dipertimbangkan secara serius sekali. Jangan memilih orang dengan harapan bahwa Anda mampu mengubah karakter atau kepribadiannya setelah menikah. Apalagi mengharapkan perubahan itu terjadi secara drastis setelah upacara pernikahan. Jika Anda memaksa dan memutuskan menikah dengan kondisi tersebut, bersiaplah dengan kemungkinan untuk hidup dengan orang tidak pernah berubah!

Berikut ini beberapa ciri karakteristik yang sebaiknya dicari pada diri orang lain dan juga kembangkan dalam diri kita sendiri, yaitu:

1. Kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani (Yohanes 13:1-7; Roma 12:16). Kita membutuhkan seseorang yang dapat hidup secara harmonis dengan orang lain, mau bergaul dengan orang tanpa meremehkannya. Di atas semua itu, pilihlah seseorang yang mau melayani kita, seperti kita juga berkeinginan untuk melayaninya dengan tulus iklas.

2. Murni dalam hal seksual (Roma 13:13-14; Ibrani 13:4). Seks diciptakan hanya untuk pernikahan. Karen itu kita harus menjaga diri kita bagi seseorang yang juga telah menjaga dirinya bagi kita. Ingat selalu hukum emas “jika ingin mendapatkan pasangan yang asli dan baik” harus menjaga diri agar tetap asli dan baik. Dan harus saling mengingatkan satu sama lain untuk tetap memelihara “asli dan baik”. Alkitab menasehatkan “jagalah kemurnian dirimu” (1 Timotius 5:22).

3. Sikap mengasihi, karena inilah karakter paling penting yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya (Yohanes 13:35; Galatia 5:22; 1 Yohanes 3: 11-20). Jangan menikah dengan seorang penggerutu dan suka bertengkar! Hikmat Amsal memperingatkan kita bahwa menikah dengan orang yang lekas marah dan suka bertengkar dapat menyiksa hidup kita (Amsal 19: 13; 21:9,19). Ujilah hubungan Anda dan lihatlah bagaimana hasilnya. Apakah Anda selalu cekcok? Apakah Anda merasa diperlakukan sewenang-wenang, baik dengan perkataan maupun secara emosional? Alkitab mengajarkan bahwa “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap” (1 Korintus 13:4-8). Jika seseorang tida memiliki sikap kasih, berhentilah berpikir untuk menikahinya dan hidup bersamanya.

4. Penguasaan diri (Amsal 23:20-21; 25:28; Galatia 5:22-23; Efesus5:15-18). Apakah calon yang akan kita pilih menunjukkan penguasaan emosi yang baik ketika marah? Apakah ia kecanduan alkohol, obat-obat penenang, makanan, seks, kerja, olah-raga atau keinginan membeli barang yang timbul secara tiba-tiba dan tidak dapat dikendalikan?

5. Kejujuran (Amsal 24:26). Penulis Amsal berkata bahwa “siapa memberi jawaban yang tepat mengecup bibir”. Jika seseorang sungguh-sungguh mencintai kita, maka ia akan memperlihatkan perasaan itu dengan kata-kata yang jujur.

6. Kualitas batiniah (1 Samuel 16:7; Amsal 11:22; 31:13; 1 Petrus 3:2-5). Tuhan mencari kualitas yang menarik di dalam diri seorang pria atau wanita. Haruskah kita membuang kriteria Tuhan ini? Keelokan paras, kecantikan atau ketampanan hanya sedalam kulit, tetapi karakter masuk sampai ke dalam tulang. Sebaiknya temukan sesuatu yang menarik pada bentuk fisik pihan Anda kita, tetapi hal itu tidaklah sepenting kualitas yang terdapat di dalam diri.

7. Tanggung jawab (1 Timotius 5:8). Jangan menikah dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan malas, yang kehilangan keinginan atau kehabisan cara untuk memenuhi tanggung jawab tertentu. Perhatikanlah contoh Alkitab berikut ini. Ribka dan ayahnya dapat melihat dari pemberian Eliezer dan gambarannya tentang Ishak bahwa ia mampu memenuhi kebutuhan Ribka (Kejadian 24:22,35,53). Kedengarannya tidak praktis, bukan? Tetapi berbeda dengan beberapa pendapat yang kebanyakan dianut orang, kita tidak dapat membayar tagihan utang hanya dengan janji kasih. Dalam 1 Timotius 5:8, rasul Paulus berkata, “Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dan orang yang tidak beriman”. Dalam ayat ini, Paulus tidak memotong-motong kalimatnya dengan tanda koma tau tanda baca titik sebelum selesai Jika kita tidak diperkenankan menikah dengan orang yang seiman, tentu saja kita juga tidak boleh menikah dengan orang yang tidak bertanggung jawab dan pemalas, sekalipun seiman. Paulus mengatakan bahwa hal ini membuatnya “lebih buruk dari orang yang tidak beriman” “Orang pemalas” yang begitu sering disebutkan dalam kitab Amsal adalah orang yang harus dihindari untuk dijadikan pasangan hidup (Amsal 24:30-34).

8. Hubungan yang baik dengan orangtua. Bagaimana seseorang berhubungan dengan orangtuanya akan memperlihatkan kepada kita banyak hal tentang karakternya. Allah menempatkan standar yang tinggi untuk penghargaan dan hormat kepada orangtua (Efesus 6:1-3). Orang yang tidak menghormati orang tuanya, bagaimana mungkin bisa menghormati kita yang setara dengannya? Pikirkanlah baik-baik hal ini!

Apakah kriteria dan harapan kita terlalu tinggi atau terlalu rendah dari yang disebutkan diatas? Sebagian orang mungkin mengharapkan kesempurnaan sementara orang lain tidak. Masalah yang timbul dari daftar seperti yang disebutkan di atas, adalah tuntutan yang sama diberlakukan kepada kita. Kita tidak dapat berharap seseorang menjadi sempurna, sama seperti kita juga tidak sempurna. Jadi, berpijaklah pada kenyataan dan hiduplah dalam realitas. Walaupun demikian, jangan pernah membuang syarat-syarat mutlak (absolut), tetapi beri keleluasaan bagi pertumbuhan karakter. Hal yang penting adalah apakah orang yang kita nikahi menyembah Kristus dan mengijinkan Allah bekerja melalui hidupnya untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Bukankah penting untuk mengingat ini, “bahwa kita adalah orang-orang yang tidak sempurna, yaitu orang-orang yang mengakui bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang telah diperbaharui (ditebus), ingin bertumbuh dan butuh kasih karunia Tuhan?”

Langkah Ketiga: Pertimbangkanlah untuk Menikahi Orang yang Memiliki Banyak Kesamaan

Pernikahan yang pasangannya memiliki berbagai kesamaan, memiliki kesempatan lebih banyak untuk berhasil. Kesamaan yang dimaksud seperti: Kesamaan kepercayaan, kesamaan latar belakang budaya dan sosial; tingkat ekonomi sebanding; kesempatan pendidikan yang setaraf; dan latar belakang situasi rumah tangga yang mantap.

Bagaimana dengan pernikahan beda ras atau suku? Peraturan dalam Perjanjian Lama bahwa orang Yahudi harus menikah dengan sesama orang Yahudi dimaksudkan untuk menjaga bangsa Israel dari hubungan akrab dengan sekeliling mereka yang menyembah berhala, yang sebenarnya ingin dihancurkan Allah. Kemurnian suku atau ras juga penting karena rencana Allah untuk bangsa Israel sebagai bangsa yang unik. Melalui ras inilah Penebus yang dijanjikan akan datang. Karena itu pembedaan ras mendahului pembedaan kerohanian.

Perjanjian Baru tidak menganjurkan pemisahan ras. Jadi, tidak ada alasan Alkitabiah yang melarang pernikahan antar ras pada zaman sekarang. Meskipun demikian, dari sudut pandangan praktis, kita harus mempertimbangkan perbedaan-perbedaan yang lebih dalam dari sekadar perbedaan warna kulit, seperti latar belakang budaya dan bahkan penerimaan sosial. Pastikan bahwa kita dapat mengatasi apapun penghalang budaya yang mungkin timbul, dan pastikan bahwa Anda siap dan akan terus bertahan terhadap setiap stigma sosial yang akan kita maupun anak-anak hadapi.

BOLEHKAH BERPACARAN SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK MENIKAH?

Satu pertanyaan yang sering ditanyakan dalam pergaulan muda-mudi Kristen adalah “bolehkah orang Kristen berpacaran?” ada orang tua yang melarang anaknya berpacaran, sementara yang lain memperbolehkan. Sebenarnya, jika pacaran diartikan sebagai “pacaran terikat antara pria dan wanita” yang identik dengan “berduaan, bercumbu dan ciuman (petting), dan seks sebelum pernikahan”, maka orang Kristen dilarang berpacaran. Tetapi jika yang dimaksud dengan berpacaran adalah “pacaran tidak terikat” dan dipahami sebagai pertemanan atau persahabatan khusus antara seorang pria dan seorang wanita untuk belajar dan saling mengenal; mengetahui lebih banyak informasi tentang yang bersangkutan; mengenal yang bersangkutan dan keluarganya; maka pacaran diperbolehkan.

Muncul pertanyaan lainnya, “Kapan seseorang boleh berpacaran? Seseorang boleh berpacaran bila memenuhi syarat berikut ini: Pertama, sudah dewasa dalam umur, pikiran, dan iman; Kedua, sudah bisa mengendalikan, mengasai dan memimpin dirinya sendiri (Amsal 16:32; 2 Timotius 4:5); Ketiga, sudah mempunyai pekerjaan yang dijadikan “jaminan” untuk masa depan; Keempat, sudah siap berumah tangga. Ingat tujuan dari berpacaran adalah persiapan menuju pernikahan atau berumah tangga bukan untuk “bersenang-senang”. Bila seseorang belum siap untuk berumah tangga, sebaiknya jangan mengambil keputusan untuk berpacaran.

Saat pria atau wanita Kristen memutuskan untuk berpacaran maka ada tiga komitmen yang harus dipegang teguh, yaitu: Pertama, berpacaranlah dengan seorang yang seiman dan beribadah (2 Korintus 6:14); Kedua, mengendalikan diri dan menjaga kekedudusan selama berpacaran (1 Petrus 1:15-16); Ketiga, jadilah orang yang setia dan menepati janji.

PENUTUP

Pertanyaannya, “apakah saudara sedang memilih pasangan hidup, atau sedang jatuh cinta (istilah sekarang “falling in love”)? Ataukah baru mulai menjalin cinta? Atau bingung bagaimana menguji cinta sejati? Ujilah dengan ujian kesabaran, yang tentunya meminta proses waktu, energi, keseriusan, dan kesetiaan. Alkitab mencatat bahwa Yakub jatuh cinta (fall in love) kepada Rahel, sebab itu ia bersedia dan rela bekerja pada labar dengan sabar selama tujuh tahun. Yang menarik ialah cara Alkitab menggambarkan keadaan Yakub sebagai berikut: “Yakub cinta kepada Rahel, sebab itu ia berkata: "Aku mau bekerja padamu tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel, anakmu yang lebih muda itu." Sahut Laban: "Lebih baiklah ia kuberikan kepadamu dari pada kepada orang lain; maka tinggallah padaku." Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel. Sesudah itu berkatalah Yakub kepada Laban: "Berikanlah kepadaku bakal isteriku itu, sebab jangka waktuku telah genap, supaya aku akan kawin dengan dia" (Kejadian 29:18-21).

Cinta sejati pastilah tahan uji, karena memang cinta itu perlu bersabar dan tidak terburu-buru. Raja Salomo memberi peringan serius “Milik yang diperoleh dengan cepat pada mulanya, akhirnya tidak diberkati” (Amsal 20:21). Alkitab mengajarkan bahwa “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap” (1 Korintus 13:4-8).

Karena itu, perlu berdoa dan mintalah tuntunan Tuhan dalam memilih pasangan hidup yang tepat, agar tidak terjebak dan salah dalam menentukan pilihan! Perhatikanlah nasihat Firman Tuhan, agar kebebasan untuk memilih pasangan hidup berada dalam kehendak Tuhan atau sesuai dengan prinsip-prinsip absolut (mutlak) dalam firman Tuhan. Tuhan telah menetapkan syarat-syarat dalam memilih jodoh; dan kita berupaya menemukan jodoh dengan memperhatikan syarat-syarat yang Tuhan telah tetapkan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip absolut (mutlak) dan mempertimbangkan hal-hal relatif tetapi penting tersebut diatas. Kiranya kita dapat memilih pasangan hidup dan dalam membangun sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia.

Tuhan memberkati, dan salam sejahtera!

REFERENSI
Burke, Dale., 2000. Dua Perbedaan dalam Satu Tujuan. Terjemahan Indonesia (2007), Penerbit Metanoia Publising : Jakarta.
Clinton, Tim., 2010. Sex and Relationship. Baker Book, Grand Rapids. Terjemahan Indonesia (2012), Penerbit ANDI : Yogyakarta.
Douglas, J.D., ed, 1988. The New Bible Dictionary. Universities and Colleges Christian Fellowship, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, 2 Jilid, diterjemahkan (1993), Yayasan Komunikasi Bina Kasih : Jakarta.
Drewes, B.F, Wilfrid Haubech & Heinrich Vin Siebenthal., 2008. Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru. Jilid 1 & 2. Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta.
Ferguson, B. Sinclair, David F. Wright, J.I. Packer., 1988. New Dictionary Of Theology. Inter-Varsity Press, Leicester. Edisi Indonesia, jilid 1, diterjemahkan (2008), Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Geisler, Norman L., 2000. Christian Ethics: Options and Issues. Edisi Indonesia dengan judul Etika Kristen: Pilihan dan Isu, Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Jakarta.
Gutrie, Donald., ed, 1976. The New Bible Commentary. Intervarsity Press, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Tafsiran Alkitab Masa Kini, Jilid 3, diterjemahkan (1981), Yayasan Komunikasi Bina Kasih : Jakarta.
Gutrie, Donald., 1981 New Tastament Theology, . Intervarsity Press, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Teologi Perjanjian Baru, 3 Jilid, diterjemahkan (1991), BPK Gunung Mulia : Jakarta.
Ladd, George Eldon., 1974. A Theology of the New Tastament, Grand Rapids. Edisi Indonesia dengan Judul Teologi Perjanjian Baru. 2 Jilid, diterjemahkan (1999), Penerbit Kalam Hidup : Bandung.
Lewis, C.S., 2006. Mere Christianity. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya : Bandung
Morris, Leon., 2006. New Testamant Theology. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
Newman, Barclay M., 1993. Kamus Yunani – Indonesia Untuk Perjanjian Baru, terjemahkan, BPK Gunung Mulia : Jakarta.
Pfeiffer, Charles F & Eferett F. Herrison., ed, 1962. The Wycliffe Bible Commentary. Edisi Indonesia dengan judul Tafsiran Alkitab Wycliffe Perjanjian Baru, volume 3, diterjemahkan (2004), Penerbit Gandum Mas : Malang.
Piper, John & Justin Taylor, ed., 2005. Kingdom Sex and the Supremacy of Christ. Edisi Indonesia dengan judul Seks dan Supremasi Kristus, Terjemahan (2011), Penerbit Momentum : Jakarta.
Prokopchak, Stave and Mary., 2009. Called Together. Destiny image, USA,. Terjemahan Indonesia (2011), Penerbit ANDI : Yogyakarta.
Schafer, Ruth., 2004. Belajar Bahasa Yunani Koine: Panduan Memahami dan Menerjemahkan Teks Perjanjian Baru. Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta.
Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. diterjemahkan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Stassen, Glen & David Gushee., 2003. Kingdom Ethics: Following Jesus in Contemporary Contex. Edisi Indonesia dengan judul Etika Kerajaan: Mengikut Yesus dalam Konteks Masa Kini, Terjemahan (2008), Penerbit Momentum : Jakarta.
Stamps, Donald C., ed, 1995. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan. Terj, Penerbit Gandum Mas : Malang.
Susanto, Hasan., 2003.Perjanjian Baru Interlinier Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, jilid 1 dan 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Tong. Stephen., 1991. Keluarga Bahagia. Cetakan kesebelas (2010), Penerbit Momentum : Jakarta.

(Pdt. Samuel T. Gunawan, seorang Protestan-Kharismatik, Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT Lainnya. Menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE) dari Universitas Palangka Raya; S.Th in Christian Education; M.Th in Christian Leadership (2007) dan M.Th in Systematic Theology (2009) dari STT-ITC Trinity. Setelah mempelajari Alkitab selama ± 15 tahun menyimpulkan tiga keyakinannya terhadap Alkitab yaitu : 1) Alkitab berasal dari Allah. Ini mengkonfirmasikan kembali bahwa Alkitab adalah wahyu Allah yang tanpa kesalahan dan Alkitab diinspirasikan Allah; 2) Alkitab dapat dimengerti dan dapat dipahami oleh pikiran manusia dengan cara yang rasional melalui iluminasi oh Kudus; dan 3) Alkitab dapat dijelaskan dengan cara yang teratur dan sistematis)

Menghormati Orang Tua

Oleh : Walsinur Silalahi

Ketika kita mempelajari perintah mengenai menghormati orangtua,kita akan melihat bahwa ini adalah ringkasan bagaimana Allah menginginkan kita bersikap terhadap semua orang,bukan hanya orangtua kita.(Roma 13:6-10).Selama kita bertumbuh,kita menemukan beberapa jenis otoritas lain yang juga harus kita hormati.Pada mulanya,semua manusia dimaksudkan untuk gentar kepada Allah.Dia adalah Pencipta dan Raja atas segala sesuatu dan kita harus memberi hormat dan taat secara penuh kepadaNya.Para orangtua memelihara dan melindungi anak-anak mereka.Para suami memelihara dan melindungi isteri mereka.Para raja atau penguasa memelihara dan melindungi rakyat,dan juga para pendeta dan penatua memelihara dan melindungi gereja.Orang-orang ini tdk dapat melaksanakan tugas yang diberikan Allah kepada mereka apabila mereka terus-menerus berdebat dengan orang2 yang berada dibawah otoritas mereka untuk menentukan apa yg terbaik.Jadi Allah telah memberikan otoritas kepada mereka.Orang2 yang mereka pimpin harus menghormati dan mentaati mereka.Memang orang-orang yg berkuasa tdk selalu benar.Namun selama mereka tdk memerintahkan kita untuk tidak taat kepada Allah,kita harus menghargai dan menaati mereka.Apabila kita tdk menunjukkan rasa hormat kepada pemimpin,itu berarti kita tdk menghormati Allah,yang telah menetapkan mereka menjadi pemimpin kita.(Roma 13:1-2)

Allah telah menetapkan otoritas dalam keluarga yaitu Suami mengepalai isterinya.Ia harus memelihara kehidupan sang isteri ,melindunginya,dan melakukan semua yg dapat ia lakukan untuk menolongnya bertumbuh semakin menyerupai Kristus dan mempergunakan karunia2 yg telah Allah berikan kepadanya.Isteri harus tunduk kepada suaminya.Ia harus menghormati suaminya dan melakukan apa yang diinginkan suaminya.Orangtua berkuasa atas anak-anaknya.Orangtua harus menyediakan semua yg diperlukan anak2nya untuk bertumbuh dengan tubuh,pikiran ,dan jiwa yang sehat.Mereka harus melindungi anak-anak dan melatih mereka.Anak-anak harus menghormati orangtua dan mematuhi mereka dengan segera.(Kolose 3:18-21).Didalam gereja Allah telah menetapkan para pendeta dan penatua untuk melindungi gereja dari ajaran2 sesat,guru2 palsu. Mereka mendorong umat Allah untuk mengikuti Kristus.Orang Kristen harus tunduk kepada keputusan para pendeta dan penatua gereja mereka. (Ibrani 13:17).Orang muda berada dibawah orang yg lebih tua.Anak-anak berada dibawah orangtua mereka.Orang2 yang berkuasa tdk boleh menyalahgunakan kekuasaannya.Mereka harus dengan setia melaksanakan semua tanggungjawab yg telah Allah berikan.(1 Tim 5:8 ) Perintah ini memanggil kita untuk menghormati orangtua kita,termasuk memperlakukan orang2 yang berada dibawah kita sebagaimana yang Allah kehendaki(Roma 12:10 dan Filip 2:3-4)

Menjaga Kemurnian Pacaran dan Pernikahan

Oleh: Walsinur Silalahi

Banyak manusia masa kini tidak lagi menganggap bahwa pernikahan sebagai hal yang istimewa,sehingga mereka saling memadu kasih dengan mempergunakan tubuh mereka. Mereka tidak perlu lagi menunggu sampai mereka menikah untuk melakukan intercourse. Pria dan wanita mempergunakan tubuh mereka untuk saling mendekatkan diri. Tidak masalah apakah mereka sudah menikah atau belum.

Mereka mempergunakan tubuh mereka dengan cara yang mereka inginkan, dan melakukan perbuatan yang memberikan kesenangan bagi mereka. Mereka sudah lupa tujuan utama manusia diciptakan yaitu untuk memuliakan Tuhan dan menikmati kehadiranNya. Menunjukkan kasih atau cinta kepada lawan jenis tdk harus menyerahkan tubuh untuk saling mengenal. Mempergunakan tubuh untuk menunjukkan kasih kepada seseorang bukanlah cara untuk mengenal orang itu. Dua orang itu harus saling mengenal dengan baik,jika mereka melihat karakter yang menyerepuai Kristus di dalam diri masing-masing, lalu mereka dapat bersahabat dan mulai saling mengasihi. Kemudian mereka membuat komitmen untuk selalu hidup bersama sebagai suami-isteri. Bila mereka sdh mendapat pemberkatan nikah,maka mereka boleh menggunakan tubuh mereka untuk saling menunjukkan kasih mereka. Ketika seorang pria dan wanita menikah,mereka saling mengucapkan janji nikah dihadapan Tuhan. Mereka ber-ikrar untuk menjadi suami/isteri satu sama lain dan tdk dengan orang lain seumur hidup mereka berdua.

Seekor binatang bisa memiliki pasangan yang berbeda-beda,tetapi manusia bukanlah binatang,dan sungguh menyedihkan apabila manusia tdk menyadarinya. Manusia diciptakan menurut gambar Allah. Hubungan suami- isteri harus menjadi gambaran hubungan Allah dengan umat-Nya untuk selamanya. Menjadi murni secara seksual bermakna lebih dari sekedar bersikap hati-hati dalam penggunaan tubuh kita. Kita harus menjaga kemurnian hati dan perkataan seperti juga dalam perbuatan. Yesus berkata jika seorang pria tdk berbuat salah dengan tubuhnya,tetapi membayangkan didalam hatinya untuk melakukan hal2 yang tdk boleh dilakukan dengan seorang wanita yang bukan isterinya, maka pria itu telah berjinah didalam hatinya(mat 5:28). Allah tdk berkenan dengan apa yang kita lakukan secara lahiriah.

Allah menghendaki kita memiliki hati yang murni. Cara terbaik untuk tetap menjaga kemurnian seksual didalam perbuatan kita adalah dengan tetap menjaga kemurnian dalam segala hal yang kita pikirkan. Apa yang kita lakukan berasal dari dalam hati kita. Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan.(Amsal 4;23)

Mezbah Keluarga

Sumber: Gema Sion Ministry

"Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan; Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya" [Kejadian 8:20 dan 9:1].

Menurut arti kata-nya, mezbah adalah tempat korban dipersembahkan. Mezbah pertama yang dicatat Alkitab adalah mezbah yang didirikan oleh Nuh. Melalui mezbah inilah Nuh mempersembahkan korban yang merupakan suatu penyembahan kepada Tuhan. Yang menarik untuk kita perhatikan disini adalah mezbah ini didirikan oleh Nuh, tetapi sebagai respon atas perbuatan Nuh, Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya. Jadi mezbah yang didirikan Nuh bukanlah mezbah pribadi tetapi mezbah keluarga.

Apakah artinya mezbah keluarga? Bagaimana kita saat ini memahami dan menerapkan mezbah keluarga ini? Secara sederhana, mezbah keluarga adalah suatu tindakan yang diambil oleh seorang bapa untuk memimpin seluruh anggota keluarga agar menyembah Tuhan bersama-sama. Yang perlu digarisbawahi adalah pengertian menyembah Tuhan bersama-sama. Menyembah Tuhan bersama-sama bukanlah berarti masing-masing anggota keluarga melayani Tuhan secara pribadi, mengadakan saat teduh dan meditasi firman sendiri-sendiri. Kalau demikian, ini berarti masing-masing anggota keluarga mendirikan mezbah pribadi.

Mezbah keluarga haruslah didirikan oleh seorang bapa, karena dialah yang harus memimpin seluruh anggota keluarga menyembah dan melayani Tuhan secara bersama-sama. Memang tidak mudah bagi seorang bapa untuk mendirikan mezbah keluarga. Sebelum Nuh mendirikan mezbah keluarga, ia telah lebih dahulu mendapat kasih karunia dimata Tuhan [ Kej. 6:8 ]. Nuh dan seluruh keluarganya juga telah melihat perbuatan Tuhan yang besar dengan menyelamatkan mereka dari air bah. Setelah melalui semua perkara ini, barulah Nuh dapat mendirikan mezbah keluarga.

Seorang bapa haruslah benar-benar pemimpin rohani bagi keluarganya. Bapa haruslah memiliki dan menanamkan tujuan, misi dan visi yang jelas, agar seluruh anggota keluarga dapat menyembah dan melayani Tuhan bersama-sama sebagai suatu tim. Yang umumnya kita lihat pada keluarga-keluarga Kristen adalah masing-masing anggota melayani Tuhan secara sendiri-sendiri, atau kalaupun mereka melayani Tuhan ditempat yang sama, kepemimpinan seorang ayah tidak terlihat didalam keluarga itu. Keluarga itu bukan merupakan suatu tim pelayan. Sebenarnya, keluarga adalah tim pelayan dengan kepemimpinan seorang bapa. Keluarga seperti ini benar-benar satu, dalam arti hanya memiliki satu mezbah yaitu mezbah keluarga. Kebanyakan keluarga Kristen memiliki banyak mezbah pribadi, ya…ini memang lebih baik dari pada tidak ada mezbah sama-sekali. Tetapi yang kita bicarakan adalah mezbah keluarga yang didirikan oleh seorang bapa, dimana sebagai responnya Tuhan memberkati dan mempersatukan seluruh anggota keluarga. Semoga keluarga-keluarga Kristen memiliki hanya satu mezbah yaitu mezbah keluarga.

Pacaran: Cinta Ataukah Nafsu?

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

*Khotbah dalam ibadah “Weekend Celebration” El Shaddai Youth Ministry Sabtu, 06 Oktober 2012


“Sesudah itu terjadilah yang berikut. Absalom bin Daud mempunyai seorang adik perempuan yang cantik, namanya Tamar; dan Amnon bin Daud jatuh cinta kepadanya” (2 Samuel 13:1)

“Tetapi Amnon tidak mau mendengarkan perkataannya, dan sebab ia lebih kuat dari padanya, diperkosanyalah dia, lalu tidur dengan dia. Kemudian timbullah kebencian yang sangat besar pada Amnon terhadap gadis itu, bahkan lebih besar benci yang dirasanya kepada gadis itu dari pada cinta yang dirasanya sebelumnya. Lalu Amnon berkata kepadanya: "Bangunlah, enyahlah!" (2 Samuel 13:14-15)

Pendahuluan

Membedakan cinta dan nafsu merupakan hal yang sangat perlu, tetapi ini tidaklah mudah, apalagi bila nafsu bersembunyi dibalik “topeng” atau berkedok cinta. Pengalaman kepahitan yang dialami tamar akibat perbuatan Amnon terhadapnya dengan berkedok cinta menjadi pelajaran berharga bagi pria dan wanita saat ini. Hal ini sangat penting dipelajari terutama oleh para wanita, yang paling sering dirugikan dalam hal percintaan. Melalui pelajaran dari pengalaman Tamar ini, semoga pria dan wanita, nantinya bisa memilih pasangan cinta masing-masing secara tepat tanpa terjebak ke dalam cinta palsu, lebih tepatnya nafsu yang berkedok cinta yang hanya menginginkan gairah dan hubungan seks.

Sebenarnya, perasaan apa yang dialami oleh Amnon terhadap Tamar bukanlah “fall in love” yang sejati, melainkan perasaan suka yang didorong oleh nafsu. Nafsu didefinisikan sebagai “dorongan yang kuat  dari dalam diri untuk melakukan sesuatu; kecenderungan, keinginan, atau gairah yang tidak baik”. Nafsu berkonotasi negatif karena itu Alkitab memerintahkan orang Kristen “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni”. (2 Timotius 2:22). Nafsu yang berkedok cinta baru akan puas apabila yang diinginkannya telah didapat. Jika keinginan itu sudah dipenuhi, biasanya wanitalah yang paling dirugikan, tetapi dampaknya bisa lebih luas lagi, sebagai contoh dalam hal ini kasus Amnon dan Tamar (2 Samuel 13:1-39). 

Berdasarkan hal di atas, perlu bagi kita untuk bisa membedakan antara cinta sejati dan cinta palsu (nafsu). Dari sini muncul dua pertanyaan konstan: “Apa perbedaan antara cinta dan nafsu? Bagaimana membedakan antara cinta dan nafsu?” Sebenarnya, cinta dan nafsu itu berbeda. Alkitab juga membedakannya antara cinta dan nafsu. Contoh, orang Kristen diperintahkan untuk menjauhi nafsu, tetapi justru diperintahkan untuk mengejar kasih (2 Timotius 2:22. Paulus juga dengan tegas menyatakan bahwa hawa nafsu berasal dari keinginan daging (Galatia 5:19). Karena itu, berikut ini kita akan melihat perbedaan cinta dan nafsu? Dan menunjukkan apa yang bukan cinta dan apa itu cinta yang sebenarnya.

Apakah Cinta Itu?

Kamus mendefinisikan cinta sebagai “rasa suka, rasa tertarik atau perasaan sangat sayang”. Cinta adalah suatu proses; cinta tidak terjadi begitu saja. Cinta juga bukan proses dari mata langsung turun ke hati; bukan juga terjadi pada pandangan pertama. Munculnya cinta merupakan suatu proses. Cinta adalah perasaan sayang yang terjadi melalui proses kimia yang dihasilkan oleh hormon-hormon yang ada di dalam tubuh manusia. Proses cinta melibatkan panca indera seperti penglihatan, pendengaran, penciuman dan perabaan yang diproses dalam pikiran dan perasaan mulai dari ketertarikan, rasa suka atau senang, ingin memiliki, dan jatuh cinta (fall in love). Sampai pada titik fall love ini, proses cinta sejati dan cinta palsu berbeda berbeda arah. Cinta palsu menginginkan pacaran terikat, berduaan, bercumbuan, dan berorientasi pada seks, bersenang-senang yang berakibat pada kutuk. Sedangkan cinta sejati menjalin pertemanan khusus (pacaran), komitmen menjaga kekudusan, hubungan lebih jauh melalui bertunangan dan mengikat diri dalam pernikahan yang berkenan dihadapan Tuhan.

Ujian Cinta

Berdasarkan definisi dan gambaran diatas, dapat dilihat bahwa cinta dan nafsu memiliki proses yang sama tetapi tujuan akhir yang berbeda. Cinta dan nafsu sama-sama dimulai dari daya tarik (fisik), hal ini sering kali menjadi satu sinyal awal dari tumbuhnya cinta sejati, tetapi nafsu juga muncul dari rasa tertarik ini. Hal inilah yang menyebabkan  sulitnya bagi seseorang pria atau wanita membedakan antara cinta dan nafsu. Karena itu diperlukan suatu ujian untuk membedakannya, yaitu ujian kesabaran. Sabar berarti tahan menghadapi godaan, tidak egois, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati, tenang menjalani dan tidak tergesa-gesa.

Jatuh cinta pada pandangan pertama adalah mitos, karena cinta merupakan suatu proses yang membutuhkan waktu. Cinta sejati perlu diuji oleh waktu yang panjang bukan seketika. Sebab itu cinta perlu bersabar. Dan sabar itu menuntut proses waktu, energi, kesetiaan, dan kesungguhan hati yang tidak bisa dihitung secara matematis, bahkan terkadang tidak logis. Alkitab mengajarkan bahwa “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap” (1 Korintus 13:4-8).

Cinta lebih dari sekedar .... dan bukanlah ....

1. Cinta lebih dari sekedar perasaan suka. Suka berkaitan dengan perasaan senang karena ketertarikan tertentu. Menyukai tidaklah sama dengan mencintai. Walaupun perasaan suka dapat menjadi awal dari proses menuju cinta sejati, tetapi cinta lebih dari sekedar suka. 


2. Cinta bukanlah romantistik. Perasaan romantis biasanya dikaitkan dengan kemesraan dan kegairahan yang menyenangkan dalam hubungan dekat antara seorang pria dan wanita. Tuhan memang mendesain setiap orang agar mengalami perasaan seperti ini dalam hubungan istimewa dengan lawan jenis. Namun gairah dan kemesraan tidak dapat disamakan dengan cinta. Keromantisan merupakan suatu perasaan; sedangkan cinta sejati masih memiliki makna yang jauh lebih dalam lagi.


3. Cinta bukanlah rasa “tergila-gila”. Perasaan tergila-gila adalah daya tarik dan gairah yang kuat dalam diri seseorang terhadap lawan jenisnya. Memang gejala-gejala  jatuh cinta dan tergila-gila terkadang hampir sama. Sebutan lain dari perasaan tergila-gila ialah puppy love, cinta monyet, cinta kekanak-kanakan, dan lain sebagainya. Mereka yang pertama kali jatuh cinta biasanya cenderung berbicara tentang perasaan “tergila-gila” ini, memikirkan hal itu siang dan malam; pikiran dan energi mereka tersita dan tidak dapat berkonsentrasi pada hal yang lain, kecuali perasaan “tergila-gila tersebut.


4. Cinta bukan Seks. Seks adalah pemberian Tuhan, sama seperti cinta juga adalah perasaan yang diberikan oleh Tuhan dalam diri manusia. Cinta lebih dari sekedar menginginkan seks. Cinta merupakan proses sebagaimana yang telah disebutkan di atas; sedangkan seks merupakan suatu aktivitas atau tindakan. Cinta bisa dipelajari; seks merupakan naluri. Cinta membutuhkan perhatian terus menerus; seks tidak perlu seperti itu. Cinta membutuhkan waktu untuk bertumbuh, berkembang dan menjadi dewasa; seks tidak perlu waktu untuk berkembang. Cinta membutuhkan interaksi emosional dan spiritual; seks hanya membutuhkan interaksi fisik. Cinta membuat hubungan dan pengenalan semakin dalam; sedangkan seks dapat terjadi tanpa hubungan atau pun pengenalan.


5. Cinta berbeda dari Nafsu. Cinta dan nafsu sering kali dianggap sama dan membingungkan bagi beberapa orang. Kamus mendefinikan cinta sebagai “rasa suka, rasa tertarik atau perasaan sangat sayang”. Sedangkan nafsu didefiniskan sebagai “dorongan yang kuat  dari dalam diri untuk melakukan sesuatu; kecenderungan, keinginan, atau gairah yang tidak baik”. Cinta berkonotasi positif, sedangkan nafsu berkonotasi negatif. Bagaimana membedakan cinta dan nafsu? Sebagaimna dijelaskan diatas tidak mudah membedakan cinta dan nafsu, tetapi seiring berjalannya waktu cinta dan nafsu akan teruji. Cinta itu tahan uji, nafsu itu mudah pudar. Karena itu disini kata kunci yang diperlukan adalah SABAR. Alkitab mengatakan “kasih itu sabar” (2 Korintus 13:4).

Beda Cinta dan Nafsu

Untuk mendapatkan gambaran perbedaan antara cinta dan nafsu, kita dapat melihat dalam kasus Amnon dan Tamar dalam 2 Samuel 13:1-19. Kisah ini berawal dari Amnon yang merasa “jatuh cinta” dengan adiknya, Tamar. Amnon dan Tamar adalah anak Daud tetapi beda ibu. Dari cerita Amnon dan Tamr ini terlihat beda antara cinta dan nafsu, yaitu:


1. Cinta membawa kebahagiaan; nafsu membawa malapetaka. Cinta yang sebenarnya selalu menunjukkan jalan atau arah menuju kebahagiaan bagi orang-orang yang menjalaninya. Seorang pecinta yang sudah menemukan dan memahami makna cinta sejati dalam dirinya akan berada pada kondisi yang membahagiakan. Sebaliknya, orang-orang yang terkecoh dengan nafsu dan menganggap nafsu adalah cinta akan berada dalam kondisi yang membahayakan. Seseorang yang mencintai pasangannya dengan sebenar-benarnya cinta akan mengarahkan hubungannya menuju kebahagiaan sejati dengan cara menjaga dan menyayangi pasangannya. Tanpa bermaksud untuk merusak dan menyakiti. Lain halnya dengan orang-orang yang menjalin hubungan dengan landasan nafsu, mereka akan membawa hubungannya kearah kebahagiaan yang semu dan hanya berorientasi pada fisik, dalam hal ini seks. Yang justru akan menjerumuskan mereka ke dalam situasi yang membahayakan. Perhatikan apa yang dilakukan Amnon terhadap Tamar berikut ini “Ketika gadis itu menghidangkannya kepadanya supaya ia makan, dipegangnyalah gadis itu dan berkata kepadanya: "Marilah tidur dengan aku, adikku." Tetapi gadis itu berkata kepadanya: "Tidak kakakku, jangan perkosa aku, sebab orang tidak berlaku seperti itu di Israel. Janganlah berbuat noda seperti itu. Dan aku, ke manakah kubawa kecemaranku? Dan engkau ini, engkau akan dianggap sebagai orang yang bebal di Israel. Oleh sebab itu, berbicaralah dengan raja, sebab ia tidak akan menolak memberikan aku kepadamu." Tetapi Amnon tidak mau mendengarkan perkataannya, dan sebab ia lebih kuat dari padanya, diperkosanyalah dia, lalu tidur dengan dia”. (2 Samuel 11-14).


2. Cinta itu membawa keceriaan; sedangkan nafsu membawa pada kecewaan dan berakhir dengan penderitaan. Cinta sejati dalam suatu hubungan antara seorang pria dan wanita seharusnya membawa keceriaan bagi keduanya. Apa yang dirasakan oleh Amnon bukan cinta sejati melainkan rasa tertarik yang berorientasi pada kegairahan seksual karena kecantikan fisik dari Tamar. Bila dalam suatu hubungan “falling in love” yang dirasa dan didapat hanyalah perasaan kecewa berulang-ulang, ada baiknya untuk bertanya, “apakah apakah hubungan yang kita jalani berlandaskan cinta atau nafsu? Perhatikanlah akibat perbuatan Amnon terhadap Tamar berikut ini: “Kemudian timbullah kebencian yang sangat besar pada Amnon terhadap gadis itu, bahkan lebih besar benci yang dirasanya kepada gadis itu dari pada cinta yang dirasanya sebelumnya. Lalu Amnon berkata kepadanya: "Bangunlah, enyahlah!" Lalu berkatalah gadis itu kepadanya: "Tidak kakakku, sebab menyuruh aku pergi adalah lebih jahat dari pada apa yang telah kaulakukan kepadaku tadi." Tetapi Amnon tidak mau mendengarkan dia. Dipanggilnya orang muda yang melayani dia, katanya: "Suruhlah perempuan ini pergi dari padaku dan kuncilah pintu di belakangnya." Gadis itu memakai baju kurung yang maha indah; sebab demikianlah puteri-puteri raja yang masih perawan berpakaikan baju kurung panjang. Kemudian pelayan itu menyuruh dia keluar, lalu mengunci pintu di belakangnya. Lalu Tamar menaruh abu di atas kepalanya, mengoyakkan baju kurung yang maha indah yang dipakainya, meletakkan tangannya di atas kepalanya dan pergilah ia sambil meratap dengan nyaring” (2 Samuel 13:14-19).


3. Cinta selalu ingin memberi; nafsu itu merampas. Ketika seseorang menjalin hubungan atas dasar cinta maka hal pertama yang dilakukannya adalah memberikan yang terbaik kepada pasangannya, bukan karena paksaan. Sementara Tamar melayani dengan tulus dan iklas, Amnon merampas keperawanan Tamar dengan cara paksa.“Tetapi gadis itu berkata kepadanya: "Tidak kakakku, jangan perkosa aku, sebab orang tidak berlaku seperti itu di Israel. Janganlah berbuat noda seperti itu. Dan aku, ke manakah kubawa kecemaranku? Dan engkau ini, engkau akan dianggap sebagai orang yang bebal di Israel. Oleh sebab itu, berbicaralah dengan raja, sebab ia tidak akan menolak memberikan aku kepadamu." Tetapi Amnon tidak mau mendengarkan perkataannya, dan sebab ia lebih kuat dari padanya, diperkosanyalah dia, lalu tidur dengan dia” (2 Samuel 13:12-14).


4. Cinta tak pernah berhenti menyayangi, sedangkan nafsu berakhir dengan kebencian. Bagaimana cara kamu memperlakukan pasanganmu? Dan bagaimana cara pasanganmu memperlakukan kamu? Ini adalah cara termudah untuk membedakan mana cinta, mana nafsu.? Setelah merenggut keperawanan Tamar dengan cara paksaa, Amnon kemudian membenci Tamar. “Kemudian timbullah kebencian yang sangat besar pada Amnon terhadap gadis itu, bahkan lebih besar benci yang dirasanya kepada gadis itu dari pada cinta yang dirasanya sebelumnya. Lalu Amnon berkata kepadanya: "Bangunlah, enyahlah!" (2 Samuel 13:15). Landasan seseorang dalam menjalin hubungan akan sangat menentukan pada bagaimana cara orang tersebut memperlakukan pasangannya. Orang yang menjalin hubungan dengan landasan cinta akan senantiasa memperlakukan pasangannya dengan cara-cara yang baik. Menjaga, menyayangi, memperhatikan dan selalu memberikan yang terbaik.


5. Cinta membangun sedangkan nafsu itu menghancurkan. Cinta selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik, berusaha memberikan yang terbaik untuk pasangan dan selalu memperlakukan pasangan dengan cara-cara yang baik. Bagaimana dengan nafsu? Sebaliknya, orang orang yang menjalin hubungan karena nafsu cenderung memperlakukan pasangan ke arah fisik. Setiap kali bertemu, hanya ingin bermesraan, setiap kali berdua hanya ingin bercumbu, dan mengarah kehubungan seks. 

Pacaran: Boleh atau Tidak?

Satu pertanyaan yang sering ditanyakan dalam pergaulan muda-mudi Kristen adalah “bolehkah orang Kristen berpacaran?” ada orang tua yang melarang anaknya berpacaran, sementara yang lain memperbolehkan. Sebenarnya, jika pacaran diartikan sebagai “pacaran terikat antara pria dan wanita” yang identik dengan “berduaan, bercumbu dan ciuman (petting), dan seks sebelum pernikahan, maka orang Kristen dilarang berpacaran. Tetapi jika yang dimaksud dengan berpacaran adalah “pacaran tidak terikat” dan dipahami sebagai pertemanan atau persahabatan khusus antara seorang pria dan seorang wanita untuk belajar dan saling mengenal; mengetahui lebih banyak informasi tentang yang bersangkutan; mengenal yang bersangkutan dan keluarganya; maka pacaran diperbolehkan.

Muncul pertanyaan lainnya, “kapan seseorang boleh berpacaran? Seseorang boleh berpacaran bila memenuhi syarat berikut ini: Pertama, sudah dewasa dalam umur, pikiran, dan iman; Kedua, sudah bisa mengendalikan, mengasai dan memimpin dirinya sendiri (Amsal 16:32; 2 Timotius 4:5); Ketiga, sudah mempunyai pekerjaan yang dijadikan “jaminan” untuk masa depan; Keempat, sudah siap berumah tangga. Ingat tujuan dari berpacaran adalah persiapan menuju pernikahan atau berumah tangga bukan untuk “bersenang-senang”. Bila seseorang belum siap untuk berumah tangga, sebaiknya jangan mengambil keputusan untuk berpacaran.

Saat pria atau wanita Kristen memutuskan untuk berpacaran maka ada tiga komitmen yang harus dipegang teguh, yaitu: Pertama, berpacaranlah  dengan seorang yang seiman dan beribadah (2 Korintus 6:14); Kedua, mengendalikan diri dan menjaga kekedudusan selama berpacaran (1 Petrus 1:15-16); Ketiga, jadilah orang yang setia dan menepati janji.

Penutup

Jatuh cinta pada pandangan pertama adalah mitos, karena cinta merupakan suatu proses yang membutuhkan waktu. Cinta sejati perlu diuji oleh waktu yang panjang bukan seketika. Sebab itu cinta perlu bersabar. Dan sabar itu menuntut proses waktu, energi, kesetiaan, dan kesungguhan hati yang tidak bisa dihitung secara matematis. Alkitab mengajarkan bahwa “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap” (1 Korintus 13:4-8).

Alkitab mencatat bahwa Yakub jatuh cinta (fall in love) kepada Rahel, sebab itu ia bersedia dan rela bekerja pada labar dengan sabar selama tujuh tahun. Yang menarik ialah cara Alkitab menggambarkan keadaan Yakub sebagai berikut: “Yakub cinta kepada Rahel, sebab itu ia berkata: "Aku mau bekerja padamu tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel, anakmu yang lebih muda itu." Sahut Laban: "Lebih baiklah ia kuberikan kepadamu dari pada kepada orang lain; maka tinggallah padaku." Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel. Sesudah itu berkatalah Yakub kepada Laban: "Berikanlah kepadaku bakal isteriku itu, sebab jangka waktuku telah genap, supaya aku akan kawin dengan dia" (Kejadian 29:18-21).

Pertanyaannya, “apakah saudara sedang jatuh cinta atau istilah sekarang “falling in love”? Ataukah baru mulai menjalin cinta? Atau bingung bagaimana menguji cinta sejati? Ujilah dengan ujian kesabaran, yang tentunya meminta proses waktu, energi, keseriusan, dan kesetiaan. Cinta sejati pastilah tahan uji, karena memang cinta itu perlu bersabar dan tidak terburu-buru. Raja Salomo memberi peringan serius “Milik yang diperoleh dengan cepat pada mulanya, akhirnya tidak diberkati” (Amsal 20:21). Karena itu, perlu berdoa dan mintalah tuntunan Tuhan dalam memilih pasangan hidup yang tepat, agar tidak terjebak dan salah dalam menentukan pilihan! Dan, perhatikanlah nasihat Firman Tuhan!


Tuhan memberkati dan salam sejahtera!

Pengabdian Hidup Berpasangan

Sumber: PD Immanuel Jakarta

Pengabdian Total
Bukan hanya sebagian, tetapi semuanya. Bukan untuk waktu yang pendek, melainkan selama hidup itu masih diberikan Tuhan.

Pengabdian untuk mengasihi
Setelah berbagai macam peristiwa yang terjadi, seringkali perasaan dan emosi untuk mengasihi menjadi lenyap. Saat itulah keduanya seharusnya tetap mengasihi, bukan lagi dengan emosi atau perasaan, melainkan dengan kehendak dan komitmen, sampai emosi dan perasaan itu muncul kembali. Begitulah keduanya belajar untuk setia mengasihi

Pengabdian untuk bebas dari masa lalu
Banyak kehidupan berpasangan hancur oleh karena kenangan pahit masa lalu yang tersimpan menjadi sakit hati. Berbuat kesalahan, beda pendapat, salah paham, dan perselisihan adalah bagian dari kehidupan berpasangan. Setiap kali hal itu terjadi, keduanya harus dapat menyelesaikan dan kemudian tidak mengingatnya lagi.

Pengabdian untuk berubah
Ingin menang sendiri adalah bentuk kesombongan dan awal dari kehancuran. Diri kita belum sempura begitu pula pandangan kita. Jika keduanya melakukan kesalahan dan kemudian menyadarinya, maka kerelaan untuk berubah adalah bentuk nyata kasih.

Pengabdian untuk menyelesaikan konflik
Konflik yang tidak diselesaikan atau tidak tuntas membuat banyak masalah dikemudian hari. Di dalam kehidupan berpasangan sesekali terjadi konflik, disinilah keduanya harus belajar untuk menyelesaikan konflik yang ada secara tuntas dan ini membutuhkan itikad baik dari keduanya.

Pengabdian untuk menguasai kemarahan
Janganlah keduanya hancur oleh karena kemarahan, apapun yang terjadi, keduanya harus menguasai dan mengendalikan kemarahan. Alkitab memberi batasan sampai matahari terbenam.

Pengabdian untuk mengampuni dan berdoa bersama
Pengampunan adalah prinsip hidup orang percaya, makin banyak waktu yang diberikan untuk bergaul dengan seseorang makin besarlah kemungkinan terjadi perselisihan. Demikian juga dalam berpasangan saling mengampuni dan berdoa bersama adalah kunci hidup berpasangan yang langgeng.

Pengabdian untuk bersekutu
Akan berjalankah dua orang bersama-sama jika mereka belum bersehati?
Bersekutu bersama adalah kunci dari kesehatian dan juga merupakan tindakan nyata untuk melibatkan Tuhan di dalam kehidupan berpasangan sehari-hari. Bersekutu bersama juga memberikan contoh nyata kehidupan kristiani bagi orang lain.

Pengabdian untuk mengerti
Mengerti orang lain adalah perkara sulit, namun lebih sulit untuk mengerti diri sendiri masuk dalam kehidupan berpasangan akan membuat kesadaran bahwa ada banyak hal yang belum dimengerti dari diri sendiri. Kehidupan berpasangan juga adalah kehidupan saling membantu mengerti diri.

Pengabdian untuk berkomunikasi
Setiap permasalahan yang terjadi adalah bersama dan harus dihadapi bersama. Tidak dapat dikatakan bahwa itu adalah persoalan paanganku atau bukan persoalan pasanganku. Itu sebabnya komunikasi yang baik adalah kunci keharmonisan dalam kehidupan berpasangan.

Pengabdian untuk mengambil keputusan bijaksana
Banyak kali suatu keputusan yang diambil dalam keadaan emosi justru berakibat menghancurkan, oleh sebab itu dalam menghadapi berbagai macam persoalan harus mengambil keputusan bijaksana dengan hati yang dingin dan dengan bantuan pasangan.

Pengabdian untuk mengevaluasi
Pengharapan-pengharapan dalam hidup berpasangan seringkali kenyataan yang ada tidak sesuai dengan pengharapan. Tanpa menyesali segala sesuatu yang telah terjadi dibutuhkan kedewasaan sikap untuk dapat mengevaluasi pengharapan-pengharapan yang pernah dibuat dan diperbaiki bersama.

Pengabdian untuk mengembangkan sasaran
Sejalan dengan hidup berpasangan, menghadapi perubahan dari segala sesuatu yang ada di sekitar, oleh sebab itu keduanya perlu untuk mengembangkan sasaran hidup bersama seturut firman Tuhan.

Pengabdian untuk saling melayani
Melalui kehidupan berpasangan, keduanya belajar untuk hidup bagi orang lain, bukan lagi hanya bagi diri sendiri dan ini bukanlah hal yang mudah, oleh sebab itu perlu untuk membuat suatu pengabdian saling melayani. Kasih akan menolong untuk mengerti kebutuhan orang yang dicntai.

Pengabdian untuk membina hubungan baik dengan keluarga pasangan
Membina hubungan baik tidak hanya perlu dengan pasangan saja, namun juga dengan keluarga pasangan dan dengan berbuat begitu merupakan pernyataan kasih serta pengucapan syukur kepada Tuhan.

Di atas semua hal di atas adalah Pengabdian bersama untuk melayani TUHAN Inilah tujuan utama Tuhan di dalam hidup berpasangan ialah agar dapat bersama-sama melayani Tuhan, saling tolong menolong dan bekerja sama menyelesaikan panggilan dan tanggung jawab yang sudah Allah berikan.

Pengakuan Seorang Bapa

"Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan !" [ Yosua 24:15 ].

Ketika Yosua telah menjadi tua dan lanjut umur, ia memanggil seluruh orang Israel yakni para tua-tuanya, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya. Dihadapan seluruh Israel, Yosua membuat suatu pengakuan yang sangat penting, yaitu bahwa ia dan seisi rumahnya akan beribadah kepada Tuhan. Pengakuan Yosua sebagai seorang bapa, memberi dampak bukan saja bagi seisi rumahnya tetapi juga bagi bangsa Israel. Bukan saja seisi rumahnya beribadah kepada Tuhan, tetapi seperti ditegaskan dalam Yosua 24:31 bahwa, "Orang Israel beribadah kepada Tuhan sepanjang zaman Yosua " Mengapa demikian? Mengapa Orang Israel beribadah kepada Tuhan hanya sepanjang zaman Yosua ? Kami percaya penyebabnya adalah karena ada kuasa didalam pengakuan seorang bapa. Yosua bukan hanya bapa bagi seisi rumahnya, tetapi juga bapa bagi bangsa Israel.

Mengapa ada kuasa didalam pengakuan seorang bapa? Kita perlu menyadari sdr/i, kedudukan bapa itu menurut pandangan Tuhan. Dihadapan Tuhan, hanya ada dua bapa atau kepala bagi ras manusia, yang pertama Adam dan yang kedua Kristus Yesus. Didalam surat Roma 5:19 ada tertulis, "Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar" Bukankah sudah jelas disini bahwa Tuhan hanya melihat perbuatan bapa / kepala ras manusia? Banyak orang Kristen hanya bisa menerima bahwa karena Adam berbuat dosa maka seluruh manusia menjadi orang berdosa, tetapi tidak bisa menerima bahwa karena Kristus berbuat benar maka seluruh umat manusia menjadi orang benar. Orang Kristen yang sedemikian ini belum memahami kedudukan bapa / kepala menurut pandangan Tuhan.

Sekarang kita kembali bertanya, mengapa ada kuasa didalam pengakuan seorang bapa? Jawabnya , karena Tuhan hanya melihat seorang bapa? Ketika mulut seorang bapa mengucapkan suatu pengakuan, maka Tuhan memandangnya sebagai pengakuan seisi rumahnya. Walaupun mungkin ada anak-anak didalam rumahnya yang memberontak dan tidak mengikut Tuhan, maka cepat atau lambat, karena kuasa pengakuan itu, anak-anak yang memberontak akan ditaklukkan oleh kuasa Tuhan.

Alkitab menegaskan bahwa keselamatan itu, separuhnya adalah soal mulut mengaku, dan separuhnya lagi soal hati percaya [ Roma 10:9 ]. Memang jika mulut mengaku tapi hati tidak percaya, itu tidak ada artinya. Tetapi yang kita bicarakan adalah pengakuan seorang bapa yang lahir dari hati yang beribadah kepada Tuhan.

Saat ini, keluarga-keluarga Kristen memerlukan pengakuan seorang bapa secara terbuka. Didalam kebanyakan keluarga Kristen, nampaknya seorang ibu lebih rohani dari pada bapa, sehingga kelihatannya lebih pantas pengakuan itu diucapkan seorang ibu. Tetapi bagaimanapun juga Alkitab menegaskan bahwa pengakuan seorang bapa sebagai kepala, akan membawa dampak positif bagi seisi rumahnya.

Sumber: Gema Sion Ministry

Penolong yang Sepadan

"Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." [ Kejadian 2:18].

Janji Firman Tuhan ini tidak hanya diuntukkan bagi Adam saja. Artinya, Tuhan tidak hanya menjadikan seorang penolong bagi Adam, tetapi juga bagi setiap laki-laki yang melayaniNya, sebagaimana Adam melayaniNya. Kecuali bagi laki-laki yang mendapat karunia tidak menikah. Jadi, janji Tuhan ini perlu direnungkan oleh setiap laki-laki yang melayaniNya, baik ia sudah menikah maupun belum.

Seringkali seorang suami yang melayani Tuhan, memandang dan menganggap istrinya bukan sebagai penolong yang sepadan bagi dirinya. Sering terjadi bahwa seorang suami menganggap istrinya sebagai "penghambat" pelayanannya. Suami yang seperti ini telah kehilangan janji Tuhan yang sangat indah didalam hidupnya. Bukan karena Tuhan mengingkari janjiNya [ dalam ayat diatas ] melainkan karena sang suami tidak meresponi janji Tuhan dengan iman.

Suami yang seperti ini belum memahami respon Adam ketika Tuhan membawa Hawa kepadanya yaitu, "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku". Adam tidak menganggap Hawa sebagai orang asing atau penghambat dalam kehidupan dan pelayanannya. Adam menyadari penuh bahwa Hawa adalah sebagian dari dirinya. Adam merasa dirinya "utuh" atau "lengkap" ketika Tuhan memberikan Hawa kepadanya.

Tentu saja akibat manusia telah jatuh dalam dosa, maka seorang suami tidak dapat langsung memberi respon seperti Adam. Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, dan hal ini membuat persekutuan antara suami dan istri mengalami hambatan. Sebab hidup sang suami berpusat pada dirinya sendiri, demikian juga dengan istrinya. Bila dua orang memiliki jenis hidup yang berpusat pada diri sendiri, maka tidaklah mudah bagi mereka untuk berfellowship, bersehati dan saling berbagi. Tetapi seorang suami yang telah dijamah Tuhan, perlu belajar percaya akan janji Tuhan bahwa, "Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia". Bila seorang suami dengan tekun dan setia memegang janji Tuhan ini, maka ia akan melihat istrinya semakin hari semakin menjadi penolong yang sepadan dengan dia. Suami yang sedemikian ini akan sangat berbahagia. Tidak ada terlintas sedikitpun pikiran bahwa istrinya adalah seorang penghambat suami, atau berpikir bahwa ia telah salah memilih teman hidup. Bahkan sekarang, ia dapat berkata seperti Adam, "Inilah dia, tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku".

Jadi, dalam satu pengertian tertentu, semuanya tergantung pada iman sang suami; apakah ia akan mendapat penolong yang sepadan dengannya atau tidak. Tentu saja ada bagian yang harus dilakukan oleh seorang istri agar ia dapat menjadi penolong yang sepadan bagi suaminya, tetapi yang kita bicarakan diatas adalah dari sudut pandang suami. Semoga semua suami yang melayani Tuhan, memperoleh penolong yang sepadan dengannya. Amin.

Sumber: Gema Sion Ministry

Peran Ayah dalam Mendidik Anak

Penulis : Pdt. Paul Gunadi, Ph.D.

Peran ayah dalam pendidikan, dalam bahasa Inggris, ialah "to father". Di dalam bahasa Inggris terdapat tiga istilah yang berhubungan dengan tugas mendidik anak, yaitu "mothering", "fathering", dan "parenting". Meskipun semuanya membicarakan tentang tugas mendidik anak, namun ada keunikan masing-masing dalam konteks sumbangsih ayah dan ibu dalam mendidik anak. Salah satu tugas ayah kristiani ialah:

"Kamu harus mengajarkannya (perintah Tuhan) kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun;" (Ulangan 11:19) Dengan jelas Tuhan menghendaki agar kita mengajarkan perintah Tuhan dengan cara membicarakannya. Apabila Anda seperti saya, mungkin Anda juga mengalami kesulitan membicarakan, apalagi mengajarkan perintah Tuhan kepada anak-anak Anda. Saya kira membicarakan dan mengajarkan bukanlah perkara yang terlalu sulit, yang terlebih sukar adalah membicarakan dan mengajarkan secara tepat dan pada waktu yang tepat sehingga dapat dicerna oleh anak kita. Ada satu peristiwa yang Tuhan berikan kepada isteri dan saya dimana kami berkesempatan mengajarkan dan membicarakan Firman Tuhan kepada salah satu anak kami. Pelajaran yang kami sampaikan berasal dari Matius 7:12 dan wahana penyampaiannya, tak lain tak bukan, bola basket.

Saya percaya bahwa salah satu alasan mengapa Matius 7:12 mendapat julukan "Hukum Emas" (The Golden Rule) adalah karena nilai yang terkandung di dalamnya bak emas yang sangat berharga. Hukum ini mengatur relasi kita dengan sesama secara agung sekaligus praktis. Perhatikan apa yang Tuhan Yesus katakan, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Berbahagialah orang yang mampu menerapkan Firman Tuhan. Apabila seseorang memperlakukan orang lain sama seperti ia ingin diperlakukan, ia sudah memiliki "emas" yang tak ternilai. Sebagai orang tua kami pun rindu agar anak-anak kami mempunyai "emas" yang tak ternilai itu dan Tuhan telah menyediakan sarananya.

Suatu hari ibu guru salah seorang anak kami yang berumur hampir 9 tahun menelepon isteri saya untuk memberitahukan bahwa tadi anak kami menangis di sekolah. Menurut ibu guru tersebut, anak kami ingin bermain bola basket dengan kawan-kawannya namun mereka tidak mengizinkannya bermain dengan mereka. Ia merasa perlu memberitahukan kami sebab ia merasa prihatin melihat kesedihan anak kami yang mendalam itu. Pada sore harinya isteri saya menceritakan kepada saya perihal anak kami itu. Sebelumnya isteri saya sudah menanyakan anak kami dan ia bercerita bahwa memang benar ia menangis karena tidak diajak bermain bola basket. Reaksi alamiah kami adalah rasa iba sebab kami menyadari bahwa anak kami itu memang senang bermain basket. Penolakan teman-temannya sudah tentu mendukakan hatinya.

Mendengar peristiwa tersebut, dengan didorong oleh rasa iba dan hasrat untuk menghiburnya, saya bergegas memanggil anak kami itu dan mengajaknya bermain bola basket di halaman rumah. Melalui permainan itulah akhirnya Tuhan menyadarkan saya akan salah satu tugas mendidik selain dari menghibur anak, yakni mengajarkan Firman Tuhan. Tuhan membukakan mata saya terhadap hal-hal tersembunyi yang jauh lebih hakiki daripada sekadar menghibur anak. Pada saat bermain itulah baru saya memahami mengapa teman-temannya enggan mengajaknya bermain. Alasannya tidak lain tidak bukan adalah ia bermain curang! Naluri keayahan saya mendorong saya bertindak sebagai pahlawan yang ingin membela anak kami, seolah-olah dengan mengajaknya bermain saya berkata, "Biar semua orang tidak mau bermain denganmu, saya akan selalu siap bermain denganmu." Namun, ternyata dia jugalah pemicu perlakuan teman-temannya.

Pada waktu kami sedang bermain, kakaknya juga turut melempar-lempar bola ke basket. Adakalanya bola yang sedang dilemparnya bersentuhan dengan bola basket kakaknya dan ia pun dengan segera meminta mengulang ... dengan bola di tangannya lagi. Namun pada suatu ketika, bola itu bertabrakan dengan bola yang dilempar kakaknya, tetapi kebetulan saat itu, sayalah yang sedang melempar bola. Dengan serta merta ia mengambil bola dari tangan saya dan "menghukum" saya dengan cara memberinya hak untuk melempar bola ke basket dua kali. Saya berusaha menerangkannya bahwa keputusannya itu keliru namun ia tidak peduli dan malah mogok bermain. Dengan bersimpuh di tanah sambil menduduki bola itu ia bersikeras bahwa sayalah yang salah dan selayaknya menerima hukuman.

Saya mencoba untuk menjelaskan bahwa ia telah bertindak tidak adil sebab pada waktu hal yang sama terjadi pada dirinya bukan saja ia tidak menghukum dirinya, ia malah menghadiahi dirinya. Ia tetap tidak menerima penjelasan saya dan menolak untuk mengakui ketidakkonsistenannya. Di dalam ketidakkonsistenannya itu saya jelaskan padanya bahwa jika ia tetap berbuat demikian maka tidak akan ada orang yang ingin bermain lagi dengannya dan saya tidak ingin melihat ia menjadi orang yang tidak mempunyai teman. Setelah mengatakan hal itu, saya lalu memeluknya dan ia pun mulai meneteskan air mata. Kemudian saya menanyakan kembali, dan sekarang ia siap mengakui ketidakadilannya itu. Sesudah itu saya mengajaknya bermain lagi dan ia pun bermain jujur dan adil.

Saya berterima kasih kepada Tuhan yang tidak membiarkan saya melewati kesempatan emas yang tak ternilai itu. Betapa mudahnya bagi saya melakukan tugas keayahan saya dengan cara menghibur anak kami namun kehilangan pelajaran yang sangat berharga. Melalui peristiwa tersebut ada empat hal yang saya pelajari yang berfaedah bagi tugas keayahan:

Sudah tentu keinginan atau kerinduan menjadi ayah yang baik adalah penting, namun tekad tersebut haruslah diwujudkan dalam bentuk waktu yang diberikan bagi anak kita. Tanpa waktu, tidak akan ada kesempatan "mengajarkan dengan cara membicarakan" pedoman hidup yang berasal dari Firman Tuhan. Jika saya tidak menyediakan waktu untuk bermain basket dengan anak kami, tidak akan ada peluang untuk menyaksikan kelakuannya dan sekaligus mengoreksi sikapnya.

  • Tugas mendidik membutuhkan kesediaan untuk melihat kelemahan anak kita.
  • Kita perlu terbuka untuk menerima kenyataan bahwa anak kita bukan saja tidak sempurna, namun akibat dosa, ia pun berpotensi merugikan orang lain. Adakalanya sulit bagi kita untuk mengakui kelemahan anak kita karena kelemahannya sedikit banyak merefleksikan kekurangan kita pula.

  • Tugas mendidik lebih mendahulukan pendekatan kasih daripada konfrontasi.
  • Kadang kita perlu memperhadapkan anak kita dengan perbuatannya secara tegas; sekali-sekali kita perlu menghukumnya. Namun yang harus lebih sering dan diutamakan adalah menegurnya dengan kasih. Makin keras saya menegurnya, makin bersikeras ia menyangkalnya. Sebaliknya, tatkala dengan lemah lembut saya menegurnya, ia pun luluh dan bersedia menerima perkataan saya.

  • Tugas mendidik yang kristiani menuntut kita menjadi ayah yang mengenal Firman Tuhan.
  • Tanpa pengenalan akan Firman Tuhan, kita tidak bisa mendidiknya seturut dengan Firman Tuhan. Hukum Emas dari Matius 7:12 sangatlah penting, tetapi masih banyak kebenaran Firman-Nya yang perlu kita sampaikan kepada anak kita.

    Sumber: Parakaleo IV/2 April - Juni 1997

    Peran Orang Tua

    Sumber: Gema Sion Ministry

    "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan" [ Efesus 6:4 ].

    Didalam ayat ini jelas terlihat peran orang tua, khususnya bapa-bapa, yaitu agar mendidik anak-anaknya didalam ajaran dan nasihat Tuhan. Perintah untuk mendidik anak-anak terutama ditujukan kepada bapa-bapa, walaupun tentunya para ibu memberi pertolongan dan dukungannya. Suami dan isteri perlu melihat peran orang tua ini dengan jelas, sehingga dapat sehati sepikir dalam mendidik anak-anak. Didalam ayat ini jelas terlihat bahwa suami harus mengambil peran sebagai pemimpin dan penentu kebijaksanaan dalam mendidik anak, sedangkan isteri menjalankan peranannya dalam mendidik anak pada jalur-jalur kebijaksanaan yang telah ditetapkan suami. Salah satu sebab kegagalan dalam mendidik anak adalah karena sang isteri menjalankan kebijaksanaannya sendiri dalam mendidik anak. Jika ketidak-sesuaian dan pemberontakan telah terjadi pada orang tua, maka tidaklah mengherankan apabila anak-anak memberontak.

    Ada dua hal disini yang harus diperhatikan oleh bapa-bapa dalam mendidik anak. Pertama, jangan membangkitkan amarah didalam hati anak-anak. Kedua, harus mendidik mereka sesuai dengan ajaran dan nasihat Tuhan.

    Pada umumnya, anak-anak dapat dengan mudah menyimpan kemarahan pada orang tua mereka, khususnya terhadap bapanya. Ini terjadi apabila sang bapa tidak bijaksana dalam menjalankan perubahan dari kepemimpinan otoritatif pada masa anak-anak masih kecil, kepada kepemimpinan partisipatif ketika anak-anak menginjak remaja. Karena kekuatiran dan kekurangan iman, seorang bapa tetap menjalankan kepemimpinan otoritatif padahal anak-anaknya telah menjadi remaja atau dewasa. Tindakan seperti ini menimbulkan kemarahan pada anak-anak. Selanjutnya, kemarahan dapat timbul pada diri anak, apabila seorang bapa tidak menjadi teladan bagi anaknya. Bapa yang suka memerintahkan anaknya agar rajin belajar, berdoa dan membaca Alkitab, padahal ia tidak menjadi teladan dalam bidang-bidang ini, sangat menimbulkan kekecewaan dan kemarahan pada si-anak.

    Perkara selanjutnya yang harus dilakukan seorang bapa adalah mendidik anak-anaknya didalam nasihat dan ajaran Tuhan. Ini berarti seorang bapa haruslah memiliki dan menanamkan tujuan, misi, visi serta nilai-nilai luhur kepada anak-anaknya. Karena anak-anak diberikan Tuhan pada orang tua agar kelak mereka dapat meneruskan pelayanan dan perjuangannya. Sesungguhnya, anak-anak adalah karunia Tuhan bagi orang tua sehingga orang tua dapat memperpanjang hari-harinya di muka bumi ini. Para orang tua dapat mencapai banyak hal bagi kemuliaan Tuhan, melalui anak-anak mereka. Itulah sebabnya tugas seorang bapa dengan bantuan seorang ibu tentunya, dalam mendidik anak-anaknya menjadi begitu penting. Tugas ini tidak dapat didelegasikan pada para guru di sekolah atau para pelayan Tuhan di gereja. Mereka semua hanyalah bersifat membantu, tetapi seorang bapalah yang memikul tanggung jawab ini.

    Peran Seorang Anak

    "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak" [Yohanes 5:19].

    Peristiwa penyembuhan pada hari Sabat di kolam Betesda, menjadi latar belakang perkataan Yesus pada ayat diatas. Orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, bukan saja karena Ia melakukan penyembuhan itu pada hari Sabat, namun karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya, dengan demikian menyamakan diriNya dengan Allah. Sebagai penjelasan atas keberatan orang Yahudi, Yesus mengungkapkan bagaimana hubungan Anak dengan Bapanya itu. Dengan tegas dikatakan bahwa apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Disini Yesus mengungkapkan ketaatan mutlak seorang Anak, dan sekaligus Ia menjelaskan bagaimana peran seorang anak itu seharusnya.

    Secara sederhana, peran seorang anak seharusnya adalah mencontoh. Seorang anak harus dapat belajar, mencontoh dan mengikuti apa yang dikerjakan bapanya. Didalam dunia jasmani, sering kita temui kasus-kasus dimana profesi anak tepat sama dengan bapanya. Bila bapanya seniman, anaknya juga demikian; bila bapanya bertekun dalam dunia pendidikan, anaknya juga demikian; bahkan bila bapanya presiden, anaknya juga menjadi presiden. Ini sesuatu yang wajar, dan memang seharusnya demikian, karena anak adalah "perluasan diri" seorang bapa.

    Tetapi yang saat ini kita bicarakan adalah sesuatu yang bersifat rohani. Maksudnya, seorang anak seharusnya mencontoh bapanya dalam perkara-perkara rohani. Seorang anak harus belajar memahami apa yang menjadi tujuan, misi dan visi bapanya. Seorang anak bukan saja mengikuti apa yang dikerjakan bapanya, tetapi juga harus meneruskan perjuangan dan pelayanan bapanya.

    Tetapi disinilah persoalannya bagi kebanyakan keluarga-keluarga Kristen. Banyak bapa-bapa Kristen yang tidak menjadi bapa rohani bagi anaknya. Bahkan banyak juga kita temui kasus-kasus dimana seorang anak terluka / dilukai oleh bapanya ( yang telah aktif didalam kekristenan ). Sangat sulit bagi seorang anak untuk mencontoh atau menjadi seperti bapanya, apabila ia terluka. Bahkan mungkin ia memutuskan untuk tidak menjadi seperti bapanya. Sangat disayangkan apabila ini terjadi, karena seorang anak harus memulai perjuangan dan pelayanannya dari nol lagi. Kita tahu bahwa penyelamatan dunia ini adalah merupakan perjuangan dan pelayanan yang berkesinambungan, dimana pekerjaan penyelamatan ini dimulai dari seorang bapa yaitu Abraham. Pekerjaan penyelamatan dunia ini tidak dimulai pada saat Yesus memulai pelayananNya. Tetapi Allah telah bekerja ribuan tahun sebelumnya, dan dimulai pada diri Abraham.

    Jadi, seorang anak haruslah mencontoh bapanya, dan haruslah ia meneruskan perjuangan serta pelayanan bapanya. Itulah yang menjadi peran seorang anak. Juga kita perlu berdoa agar para bapa Kristen dapat menjadi bapa rohani bagi anaknya.

    Sumber: Gema Sion Ministry

    Peran Seorang Isteri

    "Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya" [ 1 Petrus 3:1 ].

    Setelah keluarga pertama jatuh dalam dosa, Tuhan Allah memberi pengaturan mengenai hubungan suami-isteri sebagai berikut, "ia ( suami ) akan berkuasa atasmu ( isteri )" [ Kejadian 3:16 ]. Terjemahan Young´s Literal menyatakan, "he doth rule over thee", maksudnya suami akan memerintah isterinya. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana hubungan suami-isteri sebelum kejatuhan. Apakah Adam ditetapkan dari semula untuk memerintah Hawa ? Atau, perihal memerintah ini terjadi karena adanya kejatuhan manusia kedalam dosa ?

    Kalau kita perhatikan hubungan Adam dan Hawa di Taman Eden, dapat disimpulkan bahwa hubungan mereka bukanlah yang satu memerintah yang lainnya. Jenis hubungan mereka adalah seperti apa yang kami istilahkan, yaitu jenis "hubungan saling". Hubungan saling adalah suatu hubungan suami-isteri, dimana diantara mereka terdapat saling melengkapi, saling mengasihi, saling menundukkan diri, saling menasihati dst. Hubungan sedemikian ini dimungkinkan karena adanya kesehatian dan kesatuan sejati diantara keduanya.

    Tetapi setelah kejatuhan, terjadi kerusakan hubungan antara manusia dengan Allah, dan antara manusia dengan sesamanya. Dalam kondisi seperti inilah, datang perintah Allah agar para isteri tunduk kepada suaminya. Tetapi kami percaya bahwa apabila segala kerusakan akibat dosa telah dipulihkan sepenuhnya, maka "hubungan saling" diantara suami-isteri akan dikembalikan. Suami dan isteri akan saling melengkapi, saling menasihati dan saling menundukkan diri. Dan kami percaya juga bahwa "hubungan saling" yang terjadi diantara suami-isteri ini, dapat terjadi didalam keluarga-keluarga Kristen yang telah dewasa dan matang. Tetapi, bagaimanapun juga, diawal pernikahan kristen, seorang isteri haruslah tunduk pada suaminya.

    Ini bukan berarti bahwa suatu pernikahan yang telah matang dan dewasa, tidak menggenapi lagi firman Tuhan dalam 1 Petrus 3:1, melainkan mereka menggenapinya didalam dimensi iman yang berbeda.

    Didalam 1 Petrus 3:1, terdapat janji Tuhan yang indah bagi seorang isteri yang tunduk pada suaminya, yaitu tanpa perkataan, tindakan penundukkan diri seorang isteri, dapat memenangkan seorang suami yang tidak taat pada Firman. Artinya, seorang suami yang tidak taat Firman, akan bertobat dan mentaati Firman, tanpa dikhotbahi oleh isterinya.

    Tetapi yang sering terjadi, kita lihat, adalah seorang isteri yang telah aktif puluhan tahun dalam kekristenan, namun sang suami tetap tidak mengikut Tuhan dan tidak taat Firman. Mengapa demikian ? Mungkin salah satu sebabnya adalah isteri tidak tunduk pada suaminya, dan hanya "tunduk" pada program-program serta aktifitas kekristenan. Kalau memang benar demikian, betapa ruginya bagi sorang isteri, karena ia kehilangan janji Tuhan untuk menyelamatkan suaminya. Mungkin sang isteri berpikir ia mendahulukan kerajaan sorga dengan mengikuti segala aktifitas kekristenan, dimana tanpa sadar ia telah mengabaikan suaminya. Apabila sang suami menghendaki isterinya untuk tinggal dirumah menemaninya serta mengurus anak-anak, barangkali lebih baik sang isteri meninggalkan segala program-programnya diluar rumah, dan mengambil tindakan penundukkan diri, melayani suami dan anak-anaknya. Tindakan sedemikian ini akan mengundang kuasa Allah bekerja dan menjamah sang suami, sehingga tanpa perkataan ia akan bertobat dan menuruti Firman. Semoga para isteri, khususnya yang aktif dalam program-program kekristenan namun suaminya belum mentaati Firman, memutuskan dan mengambil prioritas dengan benar sehingga tidak kehilangan janji Tuhan dalam 1 Petrus 3:1. Amin

    Sumber: Gema Sion Ministry

    Peran Seorang Suami

    "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan DiriNya baginya" [ Efesus 5:25 ]
    "Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah ! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang" [ 1 Petrus 3:7 ].

    Perintah agar suami mengasihi isteri, dikaitkan dengan perihal Kristus mengasihi Jemaat. Ini berarti suami harus mengasihi isterinya dengan kasih yang dimiliki Kristus. Tuhan mengetahui bahwa di dalam dirinya sendiri, suami tidak memiliki jenis kasih yang mana sanggup untuk mengasihi dan menyerahkan dirinya bagi isterinya sebagaimana Kristus. Mungkin waktu masih berpacaran dulu, sang pemuda merasa ia akan sanggup mengasihi gadis yang akan menjadi isterinya kelak, sampai mereka mencapai usia lanjut, bahkan sampai mati. Tetapi harus diakui, walaupun sang pemuda telah menjadi Kristen dan mengalami lahir baru, namun jenis kasih yang dimilikinya kepada sang kekasih adalah jenis kasih manusiawi. Kasih manusiawi ini, tidak akan tahan menghadapi rintangan dan masalah-masalah didalam pernikahan. Telah terbukti di dunia ini, bahwa banyak orang menikah "atas dasar cinta" namun berakhir dengan perceraian. Itulah sebabnya, datang perintah agar suami mengasihi isterinya, bukan dengan kasih manusiawi, namun dengan kasih yang dimiliki Kristus kepada Jemaat.

    Karena itu, apabila seorang suami rindu mentaati perintah Tuhan untuk mengasihi isterinya, maka ia harus bertumbuh sedemikian sehingga kasih Kristus didalam dirinya semakin bertambah. Pertumbuhan dalam kasih Kristus ini, tidak boleh kita samakan dengan pertumbuhan dalam iman, pengharapan atau pertumbuhan dalam urapan. Seorang suami mungkin bertumbuh dalam iman , pengharapan dan urapan, sehingga ia semakin dipakai Tuhan dan menjadi semakin terkenal didalam pelayanan. Tetapi seringkali konflik yang kita alami didalam rumah tangga kita, membuktikan bahwa kita belum cukup bertumbuh dalam kasih Kristus sebagaimana mestinya. Bagaimana agar pertumbuhan kita sebagai suami, adalah pertumbuhan didalam kasih Kristus ?

    Pertama, karena perintah agar mengasihi isteri ini, disertai janji bagi sang suami, yaitu doanya tidak terhalang, maka seorang suami yang ingin bertumbuh dalam kasih Kristus haruslah seorang yang sangat memperhatikan kehidupan doanya. Seorang suami perlu belajar bagaimana menjaga hubungan dengan isterinya sedemikian sehingga doanya tidak terhalang. Seorang suami haruslah bertumbuh menjadi pahlawan doa, jika ia ingin bertumbuh dalam mengasihi isterinya dengan kasih Kristus. Pahlawan doa disini bukan hanya berarti banyak berdoa, tetapi doanya banyak yang dijawab Tuhan serta berdampak besar bagi pekerjaanNya di muka bumi ini. Seandainya kehidupan doa sang suami dapat diukur, maka kasih sang suami terhadap isterinya juga dapat diukur, karena kehidupan doa suami dan kasihnya kepada isteri adalah dua hal yang mempunyai hubungan langsung.

    Kedua, agar seorang suami bertumbuh dalam kasih Kristus, maka ia harus tinggal bersama isterinya. Terjemahan literal dari hiduplah bijaksana dengan isterimu, adalah tinggal bersama (dwelling with). Ini berarti, kebersamaan antara suami dan isteri harus bertumbuh baik di dalam kualitas maupun kuantitas. Komunikasi, kontak fisik, keterbukaan sudah termasuk didalamnya.

    Sumber: Gema Sion Ministry

    Peran Suami Dalam Pernikahan dan Proses Penyatuan.

    "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging" [ Kej. 2:24 ].

    Ayat diatas mengungkapkan apa yang disebut hukum universal pernikahan. Ada dua poin didalam hukum universal ini. Pertama, tanggung jawab suatu pernikahan ada diatas pundak laki-laki. Mengapa ? Karena tertulis. "seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya", ini berarti inisiatif dan tindakan untuk menikah dijalankan oleh seorang laki-laki. Ini juga berarti bahwa segala hal yang terjadi didalam suatu pernikahan merupakan tanggung jawab laki-laki. Itulah sebabnya mengapa laki-laki [ suami ] disebut kepala rumah tangga. Kepala rumah tangga tentu bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi didalam rumah tangganya. Kesalahan-kesalahan bisa saja dilakukan oleh seorang istri atau anak-anak didalam keluarga, tetapi tanggung jawab tetap berada dipundak suami sebagai kepala. Itu sebabnya Allah memanggil manusia ( Adam ) dan bukan Hawa, ketika keluarga pertama dimuka bumi ini jatuh dalam dosa [ Kejadian 3:9 ].

    Kedua, tanggung jawab untuk memelihara dan mengusahakan kesatuan ada di pundak laki-laki. Hal ini ditegaskan oleh ayat diatas, "dan bersatu dengan istrinya". Disini juga terlihat bahwa pernikahan adalah merupakan suatu proses penyatuan antara suami dengan istrinya, tetapi tanggung jawabnya berada dipundak sang suami.

    Bagaimana seorang suami dapat bersatu dengan istrinya ? Sesuai ayat diatas yaitu, "meninggalkan ayahnya dan ibunya". Artinya, sejak seorang laki-laki menikah, maka ia telah meninggalkan unit keluarga yang dibangun bapanya karena ia telah membangun suatu unit keluarga yang baru. Ia telah menjadi kepala dari suatu unit keluarga yang baru. Ia tidak lagi berada dibawah ke-kepala-an bapanya. Ini tidak berarti ia tidak perlu lagi mendengarkan nasihat bapanya, tetapi sekarang ia telah menjadi seorang kepala rumah tangga yang "independent" dimana ia harus menentukan sendiri keputusan-keputusan bagi keluarganya. Meninggalkan ayahnya, juga berarti ia harus mengutamakan kesatuan dengan istrinya, diatas segala hal yang berkaitan dengan ayahnya. Bukan berarti ia tidak menghormati ayahnya lagi, tetapi ia harus terfokus pada usaha bagaimana ia dapat bersatu dengan istrinya.

    Selanjutnya, seorang laki-laki juga harus meninggalkan ibunya, agar ia dapat bersatu dengan istrinya. Hal ini berarti bahwa perempuan nomor satu bagi seorang laki-laki adalah istrinya, dan bukan ibunya. Bagi seorang laki-laki yang tidak terlalu dekat dengan ibunya, mungkin hal ini tidak menjadi masalah. Tetapi bagi seorang "anak mami", ini merupakan masalah besar. Proses penyatuan seorang laki-laki dengan istrinya terhambat karena adanya "orang ketiga",yaitu ibunya sendiri. Apalagi jika ibunya adalah seorang yang suka mencampuri dan mengatur rumah tangga anaknya, maka kesatuan suami-istri tidak mungkin tercapai. Jadi, seorang laki-laki harus mengambil keputusan tegas untuk me-nomor satu-kan istrinya demi proses penyatuan, dan tidak me-nomor satu-kan ibunya. Apabila kata "meninggalkan" ini kita perluas artinya, maka seorang laki-laki harus meninggalkan segala sesuatu, yang menghambat proses penyatuan dengan istrinya. Artinya ia harus mengutamakan penyatuan dengan istrinya, daripada apa yang disebut pelayanan, pekerjaan, hobby, dst.

    Memang ada harga yang harus dibayar untuk bersatu dengan istri kita. Tetapi suami yang memperoleh hikmat Tuhan, akan mengetahui kehendakNya serta menentukan prioritas dengan benar.

    Sumber: Gema Sion Ministry

    Perceraian dan Pernikahan Kembali

    Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

    Khotbah Ibadah Raya GBAP El Shaddai Palangka Raya
    Minggu, 24 Maret 2013

    “Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:4-6)

    PENDAHULUAN

    Ini adalah sesi ketiga khotbah saya dari seri bimbingan pernikahan dan pembinaan keluarga. Sebelumnya saya telah menyampaikan sesi: ESENSI PERNIKAHAN KRISTEN dan sesi: PERUBAHAN PENTING SETELAH PERNIKAHAN. Hari ini saya menyampaikan sesi: PERCERAIAN DAN PERNIKAHAN KEMBALI.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA menuliskan, “Angka perceraian pasangan di Indonesia terus meningkat drastis. Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) mencatat selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70 persen. Dirjen Badilag MA, Wahyu Widiana, mengatakan tingkat perceraian sejak 2005 terus meningkat di atas 10 persen setiap tahunnya. Data jumlah perceraian tahun 2011 belum bisa dipastikan sebab masih menunggu proses rekapitulasi dari 33 pengadilan tinggi agama se-Indonesia. Meski begitu, pihaknya tidak menyangkal terjadi kenaikan perceraian di atas 10 persen dibanding angka tahun 2010. “Perceraian naiknya terus-terusan, begitu juga pada 2011,” ujar Wahyu kepada Republika, Selasa (24/1). Pada tahun 2010, terjadi 285.184 perceraian di seluruh Indonesia. Penyebab pisahnya pasangan jika diurutkan tiga besar paling banyak akibat faktor ketidakharmonisan sebanyak 91.841 perkara, tidak ada tanggungjawab 78.407 perkara, dan masalah ekonomi 67.891 perkara. Sedangkan tahun sebelumnya, tingkat perceraian nasional masih di angka 216.286 perkara. Angka faktor penyebabnya terdiri atas ketidakharmonisan 72.274 perkara, tidak ada tanggungjawab 61.128 perkara, dan faktor ekonomi 43.309 perkara”.
     
    Data perceraian di atas membuat kita prihatin dan bertanya, mengapa begitu banyak pasangan suami-isteri yang mengakhiri hubungan mereka dengan perceraian? Bagaimana masalah perceraian ditinjau dari perspektif iman Kristen?

    PEMIKIRAN DASAR

    Sebelum lebih jauh membahas perceraian dan pernikahan kembali menurut persepektif iman Kristen dan ajaran Alkitab, perlu diperhatikan tiga pemikiran mendasar mengenai perceraian sebagai berikut:

    Pertama, perceraian bukanlah ideal Tuhan. Jelaslah bahwa Tuhan tidak merancang perceraian. Apapun pandangan mengenai perceraian, adalah penting untuk mengingat kata-kata Alkitab dalam Maleakhi 2:16a: “Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel.” Menurut Alkitab, kehendak Allah adalah pernikahan sebagai komitmen seumur hidup. “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Matius 19:6). Yesus mengatakan bahwa Allah mengizinkan perceraian tetapi tidak memerintahkan (Matius 19:8). Perceraian itu diijinkan bukan diperintahkan, hal ini terjadi karena “sklerokardia” atau “kekerasan hati” manusia (Matius 19:8; Markus 10:5). Dosa membuat hati manusia menjadi keras. Kekerasan hati manusia mengakibatkan manusia sulit mengampuni, menganggap diri benar, meremehkan firman Tuhan, menutup diri terhadap koreksi, menolak untuk berubah, menyebabkan hubungan suami istri rusak, dan keluarga berantakan, bahkan perceraian. Jadi perceraian adalah konsensi ilahi bukan konstitusi ilahi; merupakan kelonggaran bukan norma atau standar Allah. Dengan kata lain, perceraian bukanlah yang ideal atau yang terbaik bagi pernikahan.

    Kedua, perceraian tidak diperbolehkan karena setiap alasan. Kristus menegaskan bahwa perceraian dapat terjadi hanya karena satu alasan yaitu “zinah” (Matius 19:9). Frasa “kecuali karena zinah” adalah satu-satunya alasan dalam Alkitab di mana Tuhan memberikan izin untuk perceraian. Satu alasan ini perlu ditegaskan karena orang farisi datang kepada Yesus dengan pertanyaan “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” Frase Yunani “kata pasan aitian” sebuah frase yang lebih tepat bila diterjemahkan “untuk alasan apa saja” (Matius 19:3). Disini Kristus menegaskan bahwa seseorang tidak boleh bercerai berdasarkan alasan apa saja.

    Ketiga, perceraian mengakibatkan masalah-masalah. Apabila rancangan Tuhan diabaikan oleh manusia, pastilah timbul masalah-masalah. Bagi orang-orang tertentu perceraiansepertinya adalah penyelesaian masalah, tetapi bagi orang lainnya adalah adalah masalah. Karena akan ada pihak yang terluka, tertekan, tersakiti dan dirugikan. Pasangan yang bercerai, anak-anak, pihak keluarga, serta masyarakat yang lebih luas bisa jadi terkena dampaknya. Lagu “Butiran Debu” yang dinyanyikan Rumor nampaknya mengekspresikan dengan tepat kebahagiaan cinta yang dirusak oleh pengkhiataan dan betapa dalam luka yang diakibatkannya. Ada harga mahal yang dibayar bagi sebuah pilihan untuk bercerai karena perceraian mengakibatkan luka yang tidak mudah untuk disembuhkan. Dan mungkin, bila luka tersebut disembuhkan tetap akan menyisakan goresan bekas luka tersebut.

    PERNIKAHAN MENURUT PERSEPEKTIF ALKITAB

    Menurut Alkitab, pernikahan merupakan suatu kovenan dan komiteman yang mengikat, bersifat permanen dan seumur hidup (Matius 19:5-6). Kovenan pernikahan ini dinyatakan dengan gamblang oleh nabi Maleakhi ketika ia menulis “TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu” (Maleakhi 2:14). Kitab Amsal juga berbicara tentang penikahan sebagai suatu “kovenan” atau “perjanjian” satu sama lain. Kitab ini mengutuk seorang yang berzinah “yang meninggalkan teman hidup masa mudanya dan melupakan perjanjian Allahnya” (Amsal 2:17).

    Sebuah kovenan menurut Alkitab, adalah sebuah hubungan yang sakral antara dua pihak, disaksikan oleh Allah, sangat mengikat, dan tidak dapat dibatalkan. Kedua belah pihak bersedia berjanji untuk menjalani kehidupan sesuai dengan butir-butir perjanjian itu. Kata Ibrani yang digunakan untuk “kovenan” adalah “berit” dan kata Yunaninya adalah “diathêkê”. Istilah kovenan yang seperti inilah yang digunakan Alkitab untuk melukiskan sifat hubungan pernikahan.

    Allah juga menghendaki bahwa pernikahan sebagai komitmen seumur hidup. Dengan demikian, pernikahan itu bersifat permanen. Sifat permanennya suatu pernikahan dengan jelas dan tegas dikatakan Kristus, “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:6). Jadi Allah dari sejak semula menetapkan bahwa pernikahan sebagai ikatan yang permanen, yang berakhir hanya ketika salah satu pasangannya meninggal (bandingkan Roma 7:1-3; 1 Korintus 7:10-11). Paulus juga menegaskan hal ini ketika ia berkata “Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain” (Roma 7:2-3).

    ALASAN DIIJINKANNYA PERCERAIAN

    Pertanyaan penting untuk dipertimbangkan adalah “Apakah alasan diijinkannya perceraian?” Bukankan Kristus mengatakan bahwa “apa yang telah disatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia”? Bagaimanakah pandangan Alkitab mengenai alasan diijinkannya perceraian?

    Pertama, kita hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa dan kita lahir dengan sifat dasar yang berdosa. Konsekuensinya, banyak landasan yang tidak Alkitabiah bagi perceraian, bahkan di gereja. Seandainya tidak ada dosa di dunia, tentunya tidak akan ada perceraian. Perceraian adalah hasil dosa.

    Kedua, fakta bahwa Allah “mengijinkan” perceraian dalam Perjanjian Lama tidaklah membuktikan bahwa Dia memerintahkannya (Ulangan 24:1-4). Perceraian itu diijinkan bukan diperintahkan (Matius 19:8). Artinya, perceraian adalah konsensi ilahi bukan konstitusi ilahi. Perceraian merupakan kelonggaran bukan norma atau standar Allah. Kehendak Tuhan untuk pernikahan tidak pernah diubah ataupun dibatalkan. Karena manusia tidak menaati kehendak Tuhan, maka hukum diperkenalkan dan hukum ini tidak membenarkan perceraian atau mengatakan bahwa perceraian kini sudah menjadi kehendak Tuhan, tetapi hukum ini mengaturnya.

    Ketiga, Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa rekonsiliasi adalah pilihan pertama yang disodorkan Tuhan dan bukan perceraian (1 Korintus 7:12-14). Sebaiknya, selama memungkinkan maka perceraian dihindari dan mengusahakan rekonsiliasi bagi pernikahan. Dengan mengikuti contoh nabi Hosea, perlu untuk mengampuni dan menerima kembali pasangan yang telah berzinah (Hosea 3). Walaupun demikian, ada dua konsensi dalam Alkitab dimana perceraian diijinkan, tetapi tidak dianjurkan. Konsensi pertama adalah ketidaksetiaan dalam pernikahan (Matius 5:31-32; 19:9). Konsensi kedua ditemukan dalam kasus dimana orang yang tidak percaya meninggalkan pasangannya yang percaya kepada Yesus (1 Korintus 7:15-16).

    Konsensi pertama, perceraian dapat terjadi karena alasan “perzinahan” (Matius 19:9). Frasa “kecuali karena zinah” adalah alasan pertama dalam Alkitab di mana Tuhan memberikan ijin untuk perceraian. Satu alasan ini perlu ditegaskan karena orang farisi datang kepada Yesus dengan pertanyaan “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” (Matius 19:3). Banyak penafsir Alkitab yang memahami klausa “pengecualian” ini sebagai merujuk pada “perzinahan” yang terjadi pada masa “pertunangan”. Dalam tradisi Yahudi, laki-laki dan perempuan dianggap sudah menikah walaupun mereka masih “bertunangan”. Percabulan dalam masa “pertunangan” ini dapat merupakan satu-satunya alasan untuk bercerai. Disini, Matius menggunakan kata Yunani “porneia” atau “percabulan”, yang pada dasarnya berarti ketidaksetiaan secara seksual atau ketidaksetiaan sebelum pernikahan yang mencakup segala macam hubungan seksual yang bertentangan dengan hukum. Jika perzinahan yang dimaksud terjadi setelah pernikahan maka kata Yunani yang biasanya digunakan adalah “moikeia”. Kata “moikeia” adalah perzinahan atau seks haram yang melibatkan seseorang yang sudah menikah. Penting diketahui, hukuman bagi perzinahan setelah pernikahan dalam hukum Taurat Yahudi adalah hukuman mati, sebagaimana yang disebutkan dalam Imamat 20:10 “Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu” (Bandingkan Yohanes 8:5).

    Konsensi kedua, perceraian diijinkan dalam kasus dimana orang yang tidak percaya meninggalkan pasangannya yang percaya kepada Yesus (1 Korintus 7:15-16). Ketika perceraian terjadi karena pasangan yang tidak percaya kepada Kristus meninggalkan pernikahan, pihak yang ditinggalkan atau yang tidak berdosa bebas untuk menikah lagi (1 Korintus 7:15). Tentu saja, dalam hal kematian pasangan, pasangan yang ditinggalkan bebas untuk menikah lagi. Kebiasan orang Yahudi dalam Perjanjian Lama menetapkan bahwa jika ada hak untuk bercerai, ada hak untuk menikah lagi. Pengajaran Paulus dalam Perjanjian Baru tidak bertentangan dengan keyakinan ini. Tetapi sekali lagi, sebagaimana Musa hanya mengijinkan bukan memerintahkan, Paulus juga menyatakan bahwa “Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah” (1 Korintus 7:6). Walau demikian Apa yang yang diinstruksi Paulus dalam 1 Korintus 7:11-16 ini disampaikannya dengan penuh wibawa dan otoritas kerasulannya yang ditetapkannya sebagai peraturan bagi jemaat (baca 1 Korintus 7:17).

    Gambaran perceraian karena perzinahan dapat kita lihat dalam hubungan Allah dengan Israel. Ketika Israel mengikuti berhala-berhala, Allah berfirman melalui nabi Yeremia, “oleh karena zinahnya Aku telah menceraikan Israel, perempuan murtad itu, dan memberikan kepadanya surat cerai” (Yeremia 3:8). Yesaya juga menulis tentang Allah yang menceraikan Israel karena Israel tidak setia, “Beginilah firman TUHAN: "Di manakah gerangan surat cerai ibumu tanda Aku telah mengusir dia? Atau kepada siapakah di antara penagih hutang-Ku Aku pernah menjual engkau? Sesungguhnya, oleh karena kesalahanmu sendiri kamu terjual dan oleh karena pelanggaranmu sendiri ibumu diusir” (Yesaya 50:11). Betapa besar kasih Tuhan kepada Israel, Dia berulang kali menyodorkan rahmat dan kemurahanNya. Namun, perzinahan dan ketidaksetiaan Israel telah melewati ambang batas. Tuhan berfirman kepada Israel, “Kembalilah, hai Israel, perempuan murtad, demikianlah firman TUHAN. Muka-Ku tidak akan muram terhadap kamu, sebab Aku ini murah hati, demikianlah firman TUHAN, tidak akan murka untuk selama-lamanya. Hanya akuilah kesalahanmu, bahwa engkau telah mendurhaka terhadap TUHAN, Allahmu, telah melampiaskan cinta berahimu kepada orang-orang asing di bawah setiap pohon yang rimbun, dan tidak mendengarkan suara-Ku, demikianlah firman TUHAN." Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, demikianlah firman TUHAN, karena Aku telah menjadi tuan atas kamu! Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Sion” (Yeremia 3:12-14).

    Kadang-kadang hal yang dilupakan dalam diskusi mengenai klausa “pengecualian” adalah kenyataan bahwa apapun jenis penyelewengan dalam pernikahan, itu hanyalah merupakan ijin untuk bercerai dan bukan keharusan untuk bercerai. Bahkan ketika terjadi perzinahan, dengan anugerah Tuhan, pasangan yang satu dapat mengampuni dan membangun kembali pernikahan mereka. Dengan mengikuti contoh nabi Hosea, perlu untuk mengampuni dan menerima kembali pasangan yang telah berzinah (Hosea 3). Tuhan telah terlebih dahulu mengampuni banyak dosa-dosa kita. Kita tentu dapat mengikuti teladanNya dan mengampuni dosa perzinahan (Efesus 4:32). Namun, dalam banyak kasus, pasangan yang bersalah tidak bertobat dan terus hidup dalam percabulan. Di sinilah kemungkinanan Matius 19:9 dapat diterapkan. Demikian pula banyak yang terlalu cepat menikah kembali setelah bercerai padahal Tuhan mungkin menghendaki mereka untuk tetap melajang. Kadang-kadang Tuhan memanggil orang untuk melajang supaya perhatian mereka tidak terbagi-bagi (1 Korintus 7:32-35).
     
    MEMAHAMI MAKSUD DARI TEKS ULANGAN 24:1-4

    Teks dalam Ulangan 24:1-4 penting untuk dipahami, sebab bagian inilah yang menjelaskan alasan dan prosedur perceraian. Teks itu berbunyi demikian, “Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya, dan jika perempuan itu keluar dari rumahnya dan pergi dari sana, lalu menjadi isteri orang lain, dan jika laki-laki yang kemudian ini tidak cinta lagi kepadanya, lalu menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu serta menyuruh dia pergi dari rumahnya, atau jika laki-laki yang kemudian mengambil dia menjadi isterinya itu mati, maka suaminya yang pertama, yang telah menyuruh dia pergi itu, tidak boleh mengambil dia kembali menjadi isterinya, setelah perempuan itu dicemari; sebab hal itu adalah kekejian di hadapan TUHAN. Janganlah engkau mendatangkan dosa atas negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu”. Berdasarkan teks ini ada beberapa hal yang perlu diperjelas, yaitu:

    Pertama, yang wajib dalam hukum ini bukanlah perceraian melainkan proses hukumnya jika terpaksa harus bercerai. Proses hukum itu mencakup empat unsur, yaitu: (1) Adanya alasan yang serius untuk bercerai dan bukan sembarang alasan; (2) sebuah dokumen perceraian harus diberikan kepada perempuan untuk perlindungannya sesuah ia diceraikan; (3) dokumen itu ditulis dengan melibatkan seorang pejabat resmi yang memiliki hak untuk menentukan apakah alasan perceraian itu diterima atau tidak; (4) setelah memberikan dokumen cerai itu, pihak laki-laki secara resmi mengusir sang istri dari rumahnya.

    Kedua, peraturan dalam teks ini diberikan bukan untuk menyetujui perceraian tetapi bertujuan untuk melarang laki-laki mengawini ulang mantan istrinya, kalau ia sudah pernah menceraikannya, dan mantan istrinya itu sudah pernah menikah dengan laki-laki lain setelah ia diceraikan. Perhatikanlah klausa “jika...” dalam ayat 1-3 tidak lebih dari sekedar anak kalimat yang disebut klausa syarat. Sedangkan klausa akibatnya baru muncul dalam ayat 4 dengan klausa “maka...”.

    Ketiga, alasan perceraian ini adalah apabila didapat hal-hal yang tidak senonoh. Kata Ibrani “tidak senonoh” dalam ulangan 24:1, adalah “erwath dabar”, sebuah frase yang secara harafiah berarti “ketelanjangan suatu benda”. Kata ini dapat diartikan sebagai “keadaan telanjang atau pamer aurat yang dikaitkan dengan perilaku yang tidak suci”, tetapi bukan perzinahan setelah pernikahan. Karena hukuman bagi perzinahan setelah pernikahan dalam hukum Taurat adalah hukuman mati, sebagaimana yang disebutkan dalam Imamat 20:10 “Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu”. (Bandingkan Yohanes 8:5).

    Keempat surat perceraian ini wajib diberikan untuk melindungi hak-hak perempuan (istri), agar ia jangan diusir begitu saja atau diperlakukan seenaknya. Karena itu setiap penyalahgunaan ijin tersebut dicegah dengan cara membatasinya dengan berbagai alasan teknis dan pembatsan lainnya. Tampaknya ada kesalahpahaman diantara pria Yahudi dalam menafsirkan tujuan dari ijin perceraian dengan memberikan surat cerai tersebut. Jadi, pengaturan dalam ayat ini justru digunakan oleh para lelaki untuk mengajukan perceraian terhadap istri mereka. Suatu interpretasi yang keliru, sehingga tepat jika Yesus menuding keras dengan mengatakannya “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian” (Matius 19:8).

    Dengan demikian, perceraian sebagaimana diijinkan Musa dalam ulangan 24:1-4 (bandingkan Imamat 27:7-14; 22:13; Bilangan 30:9) adalah akibat dari kekerasan hati orang Israel (Matius 19:8; Markus 10:5). Tetapi, ketidaknormalan situasi ini yang ditolerir dalam Perjanjian Lama melalui hukum Musa dibatalkan oleh Tuhan Yesus kita dengan menempatkan kembali ideal Allah, yaitu ketetapanNya semula mengenai pernikahan, “Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:5-6; dan Markus 10:6-9; Kejadian 2:23-24).

    MENIKAH LAGI SETELAH PERCERAIAN

    Tuhan menciptakan pernikahan! Jadi, ketika dua orang disatukan, baik orang Kristen atau bukan, penyatuan ini terjadi dihadapan Tuhan. Ketika orang non Kristen menikah kemudian bercerai, mereka melanggar firman Tuhan seperti pelanggaran yang dilakukan orang Kristen. Mengapa? Karena pernikahan adalah satu-satunya lembaga sosial yang ditetapkan Allah sebelum kejatuhan manusia dalam dosa (Kejadian 2:24; Banding Kejadian 1:28). Ketetapan Tuhan ini tidak pernah berubah dan ini berlaku “sejak semula” bagi semua orang, bukan hanya bagi orang-orang Kristen saja. Matius mencatat perkataan Kristus demikian, “Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula (ap’arches) menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?” (Matius 19:4). Kata Yunani “ap’arches” atau “sejak semula” yang disebutkan Yesus dalam Matius 19:4, pastilah merujuk pada Kejadian Pasal 2, karena kalimat selanjutnya “Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging”, yang diucapkan Yesus dalam ayat 5 adalah kutipan dari Kejadian 2:24.

    Allah telah menetapkan pernikahan dari sejak semula, baik untuk orang-orang Kristen maupun untuk orang-orang bukan Kristen. Dan Allah adalah saksi dari seluruh pernikahan, baik diundang maupun tidak. Meskipun bentuk dan tatacara bervariasi dalam setiap budaya dan setiap generasi tetapi esensinya tetap sama dari “sejak semula” bahwa pernikahan merupakan satu peristiwa sakral tidak peduli pasangan tersebut mengakuinya ataupun tidak. Karena itu pernikahan wajib dihormati oleh semua orang (Ibrani 13:4).

    Jika orang non Kristen bercerai kemudian menikah lagi dalam kondisi sudah menjadi Kristen, ia masih bertanggung jawab atas segala konsekuensi pernikahan pertamanya. Menurut 2 Korintus 5:17, Kita tidak boleh lagi hidup dalam penghukuman atas dosa (hidup) kita terdahulu, tetapi ayat ini, yang sering dikutip oleh orang yang bercerai, sama sekali tidak memberikan orang yang bersangkutan izin untuk menikah lagi. Makna yang dikandung disini adalah bahwa ketika orang yang sudah melakukan perceraian menjadi manusia baru melalui iman yang dimilikinya, ia tetap bertanggung jawa atas kehidupan dosanya “yang terdahulu” walaupun ia sudah diampuni.

    Kapan menikah lagi diijinkan setelah perceraian? Pertama, sederhananya, ketika ada perceraian yang tidak Alkitabiah, menikah lagi dilarang. Konsekuensinya, berdasarkan pemahaman terhadap firman Tuhan jika ada pihak yang melakukan perzinahan dan pernikahan berakhir dengan perceraian, pelaku perzinahan, sebagai pihak yang berdosa, harus memilih untuk tetap melajang (lihat Matius 5:31-32), sebab jika tidak, ia hidup dalam dosa. Penting untuk diperhatikan bahwa hanya pasangan yang tidak bersalah yang diizinkan untuk menikah kembali. Meskipun tidak disebutkan dalam ayat tersebut, izin untuk menikah kembali setelah perceraian adalah kemurahan Tuhan kepada pasangan yang tidak bersalah, bukan kepada pasangan yang berbuat zinah. Paulus menegaskan hal ini dalam 1 Korintus 7:10-11, dimana Paulus mengutip ajaran Yesus. Jika orang memilih untuk meninggalkan pernikahan tanpa landasan Alkitabiah untuk bercerai, dan hal itu bertentangan dengan keinginan pasangannya, ia sedang memilih untuk melajang.

    Kedua, pernikahan kembali juga diijinkan ketika perceraian terjadi karena pasangan yang tidak percaya kepada Kristus meninggalkan pernikahan, pihak yang ditinggalkan atau yang tidak berdosa bebas untuk menikah lagi. Paulus dalam 1 Korintus 7:15 mengatakan, “Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera”. Memang konteks ayat ini tidak menyinggung soal pernikahan kembali dan hanya mengatakan bahwa orang percaya tidak terikat dalam pernikahan kalau pasangan yang belum percaya mau bercerai, tetapi kebiasaan orang Yahudi dalam Perjanjian Lama menetapkan bahwa jika ada hak untuk bercerai, ada hak untuk menikah lagi. Pengajaran Paulus dalam Perjanjian Baru tidak bertentangan dengan keyakinan ini.

    Ketiga, tentu saja, dalam hal kematian pasangan, pasangan yang ditinggalkan bebas untuk menikah lagi. Paulus mengatakan, “Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain” (Roma 7:2-3). Hal yang sama disampaikan Paulus kepada jemaat di Korintus, “Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya” (1 Korintus 7:39)

    Menikah kembali setelah bercerai mungkin merupakan pilihan dalam keadaan-keadaan tertentu, namun tidak selalu merupakan satu-satunya pilihan. Adalah menyedihkan bahwa tingkat perceraian di kalangan orang-orang yang mengaku Kristen hampir sama tingginya dengan orang-orang yang tidak percaya. Alkitab sangat jelas bahwa Allah membenci perceraian (Maleakhi 2:16) dan bahwa pengampunan dan rekonsiliasi seharusnya menjadi tanda-tanda kehidupan orang percaya (Lukas 11:4; Efesus 4:32).

    PENUTUP

    Perceraian dalam ideal Allah tidak pernah dibenarkan, bahkan sekalipun oleh karena perzinahan. Perzinahan adalah dosa dan Allah tidak menyetujui dosa maupun terputusnya pernikahan. Apa yang disatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia (matius 19:6). Pengampunan melalui pengakuan dosa membatalkan status keadaan yang berdosa dari orang yang diceraikan (Bandingkan Yeremia 1,14). Satu-satunya alasan mereka masih hidup dalam dosa setelah perceraian adalah bahwa perceraian itu merupakan suatu dosa. Dan selama mereka tidak mengakui dosa perceraian, mereka masih hidup dalam dosa. Tetapi jika mereka mengakui dosa mereka, Allah akan mengampuni seperti dosa yang lainnya (1 Yohenes 1:9).

    Sekalipun perceraian tidak pernah dibenarkan, kadang-kadang hal itu diijinkan dan selalu ada pengampunan untuk itu. Karena itu, mereka yang mengakui dosa perceraian dan bertanggung jawab untuk itu, harus diperbolehkan untuk menikah kembali. Tetapi pernikahan kembali mereka lakukan haruslah untuk seumur hidup. Jika mereka gagal lagi, tidaklah bijaksana memperbolehkan mereka untuk terus mengulangi kesalahan ini. Hanya mereka yang condong untuk memelihara komitmen seumur hidup yang boleh menikah dan tidak merencanakan pernikahan kembali.

    Pernikahan adalah lembaga yang sakral dan tidak boleh dicemarkan oleh perceraian, kususnya oleh perceraian yang terjadi berulang kali (bandingkan Ibrani 13:4). Dan orang Kristen harus melakukan segala sesuatu dengan sekuat tenaga untuk mengangungkan standar Allah mengenai pernikahan monogami seumur hidup, karena ini adalah idealnya Allah (Matius 19:5-6).

    Akhirnya, orang percaya yang bercerai dan atau menikah kembali jangan merasa kurang dikasihi oleh Tuhan bahkan sekalipun perceraian dan pernikahan kembali tidak tercakup dalam kemungkinan klausa pengecualian dari Matius 19:9. Tuhan sering kali menggunakan bahwa ketidaktaatan orang-orang Kristen untuk mencapai hal-hal yang baik.

    DAFTAR PUSTAKA

    Burke, Dale., 2000. Dua Perbedaan dalam Satu Tujuan. Terjemahan Indonesia (2007), Penerbit Metanoia Publising : Jakarta.
    Clinton, Tim., 2010. Sex and Relationship. Baker Book, Grand Rapids. Terjemahan Indonesia (2012), Penerbit ANDI : Yogyakarta.
    Douglas, J.D., ed, 1988. The New Bible Dictionary. Universities and Colleges Christian Fellowship, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, 2 Jilid, diterjemahkan (1993), Yayasan Komunikasi Bina Kasih : Jakarta.
    Drewes, B.F, Wilfrid Haubech & Heinrich Vin Siebenthal., 2008. Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru. Jilid 1 & 2. Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta.
    Ferguson, B. Sinclair, David F. Wright, J.I. Packer., 1988. New Dictionary Of Theology. Inter-Varsity Press, Leicester. Edisi Indonesia, jilid 1, diterjemahkan (2008), Penerbit Literatur SAAT : Malang.
    Geisler, Norman L., 2000. Christian Ethics: Options and Issues. Edisi Indonesia dengan judul Etika Kristen: Pilihan dan Isu, Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Jakarta.
    Gutrie, Donald., ed, 1976. The New Bible Commentary. Intervarsity Press, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Tafsiran Alkitab Masa Kini, Jilid 3, diterjemahkan (1981), Yayasan Komunikasi Bina Kasih : Jakarta.
    Gutrie, Donald., 1981 New Tastament Theology, . Intervarsity Press, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Teologi Perjanjian Baru, 3 Jilid, diterjemahkan (1991), BPK Gunung Mulia : Jakarta.
    Ladd, George Eldon., 1974. A Theology of the New Tastament, Grand Rapids. Edisi Indonesia dengan Judul Teologi Perjanjian Baru. 2 Jilid, diterjemahkan (1999), Penerbit Kalam Hidup : Bandung.
    Lewis, C.S., 2006. Mere Christianity. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya : Bandung
    Morris, Leon., 2006. New Testamant Theology. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
    Newman, Barclay M., 1993. Kamus Yunani – Indonesia Untuk Perjanjian Baru, terjemahkan, BPK Gunung Mulia : Jakarta.
    Pfeiffer, Charles F & Eferett F. Herrison., ed, 1962. The Wycliffe Bible Commentary. Edisi Indonesia dengan judul Tafsiran Alkitab Wycliffe Perjanjian Baru, volume 3, diterjemahkan (2004), Penerbit Gandum Mas : Malang.
    Piper, John & Justin Taylor, ed., 2005. Kingdom Sex and the Supremacy of Christ. Edisi Indonesia dengan judul Seks dan Supremasi Kristus, Terjemahan (2011), Penerbit Momentum : Jakarta.
    Prokopchak, Stave and Mary., 2009. Called Together. Destiny image, USA,. Terjemahan Indonesia (2011), Penerbit ANDI : Yogyakarta.
    Schafer, Ruth., 2004. Belajar Bahasa Yunani Koine: Panduan Memahami dan Menerjemahkan Teks Perjanjian Baru. Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta.
    Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. diterjemahkan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
    Stassen, Glen & David Gushee., 2003. Kingdom Ethics: Following Jesus in Contemporary Contex. Edisi Indonesia dengan judul Etika Kerajaan: Mengikut Yesus dalam Konteks Masa Kini, Terjemahan (2008), Penerbit Momentum : Jakarta.
    Stamps, Donald C., ed, 1995. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan. Terj, Penerbit Gandum Mas : Malang.
    Stott, John., 1984. Issues Facing Chistianis Today. Edisi Indonesia dengan judul Isu-Isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani. Terjemahan (1996), Penerbit Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF : Jakarta.
    Susanto, Hasan., 2003.Perjanjian Baru Interlinier Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, jilid 1 dan 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
    Tong. Stephen., 1991. Keluarga Bahagia. Cetakan kesebelas (2010), Penerbit Momentum : Jakarta.

    Penulis, seorang Protestan-Kharismatik, Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT Lainnya. Menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE) dari Universitas Palangka Raya; S.Th in Christian Education; M.Th in Christian Leadership (2007) dan M.Th in Systematic Theology (2009) dari STT-ITC Trinity.
    Setelah mempelajari Alkitab selama ± 15 tahun menyimpulkan tiga keyakinannya terhadap Alkitab yaitu: 1) Alkitab berasal dari Allah. Ini mengkonfirmasikan kembali bahwa Alkitab adalah wahyu Allah yang tanpa kesalahan dan Alkitab diinspirasikan Allah; 2) Alkitab dapat dimengerti dan dapat dipahami oleh pikiran manusia dengan cara yang rasional melalui iluminasi Roh Kudus; dan 3) Alkitab dapat dijelaskan dengan cara yang teratur dan sistematis.

    Perkawinan Kristen yang Alkitabiah

    Oleh: Andreas Jonathans

    Sebuah keluarga yang dipakai oleh Tuhan sebagai percontohan adalah pada manusia pertama. Adam dan Hawa yang diciptakan Allah sebagai sepasang suami isteri yang tidak mengenal poligami dan poliandri (dicatat baik di Alkitab dan tidak menyatakan pasangan suami istri tersebut pernah bercerai).

    Kejadian 1:27 "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka."

    Kejadian 2:24b "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging."

    Kejadian 5:4 tertulis "Umur Adam setelah memperanakkan Set, delapan ratus tahun, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan."

    Ditekankan lagi pada Efesus 5:22-23 "Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh."

    Perempuan diibaratkan hormat dan setia kepada suaminya seperti menghormati Tuhan dan tidak mungkin ada dua Tuhan atau dua suami (artinya di sini wanita tidak boleh berpoliandri).

    Dan semua pasangan dilarang berkhianat: Maleaki 2:16 Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel -- juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!

    Hal yang paling jelas adalah di 1 Timotius 3:2 "Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang,"

    Ayat 1 Timotius 3:2 ini menyatakan syarat sebagai pemimpin jemaat yang harus menjadi contoh bagi jemaatnya haruslah: "suami dari satu isteri". Dan di ayat berikutnya dijelaskan syarat seorang pemimpin jemaat harus menjadi contoh jemaatnya: 1 Timotius 3:3-5 "bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?"

    Matius 5:32 "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah."

    Kata kecuali karena zinah maksudnya adalah jika seorang terlanjur menceraikan istri atau suaminya yang pertama dan statusnya sedang berzinah maka cerai itu diperbolehkan agar suami atau istri harus kembali kepada pasangan pertamanya.

    Ayat di bawah ini bahwa Rasul Paulus mengungkapkan:

    Jadi kesimpulan saya setelah mengerti atas ayat-ayat Alkitab di atas:

    1. Pasangan tidak mengenal perceraian

    2. Pasangan tidak boleh berpoligami ataupun berpoliandri

    3. Pasangan tidak boleh berkhianat

    4. Pasangan boleh bercerai jika pasangan yang sedang berlangsung tersebut adalah hasil perkawinan kedua (karena statusnya dalam perzinahan dan tidak sah)

    5. Apapun kesalahan pasangan kita harusnya kedua pasangan saling berlomba mengatakan kata maaf, bukan malah menceraikan, sekalipun parahnya kesalahan pasangan kita. Karena jika kita meceraikan pasangan kita, misal karena alasan pasangan kita berselingkuh, maka kita membatalkan hukum kasih yang sudah diajarkan oleh Yesus Kristus.

    6. Perceraian karena kematian/maut dianggap sah dan perkawinan kedua boleh berlangsung dengan batas-batas kewajaran.

    7. Para pendeta adalah orang-orang yang sangat berperan dalam perkawinan Kristen. Saya masih sering mendapati mereka tetap mengawinkan pasangan yang bercerai atau memberkati pasangan yang pernah bercerai. Hal ini sungguh mengerikan, karena mereka memberkati pasangan yang berzinah.

    Pribadi Yang Dewasa !

    Oleh: Richard L. Strauss

    Banyak konselor pernikahan yakin bahwa salah satu halangan terbesar untuk berhasilnya pernikahan adalah keegoisan. Untuk jadi egois adalah dengan terlalu memperhatikan kesenangan, keuntungan atau kemakmuran sendiri tanpa memikirkan orang lain. Bayi sangat egois. Mereka hanya memperhatikan kepentingan mereka saja. Saat mereka tidak nyaman, mereka berteriak sampai seseorang melegakan ketidaknyamanan mereka. Sifat mereka ditentukan oleh apa yang diperlakukan terhadap mereka.

    Kita berharap bayi terus menjadi dewasa secara fisik, intelektual, dan emosi. Sayangnya, walau banyak orang yang secara fisik dan intelektual dewasa, emosi mereka sangat tertinggal. Mereka tetap melihat dunia seperti mereka bayi. Mereka melihatnya seperti semuanya mengelilingi mereka, ada hanya untuk kesenangan mereka. Mereka tidak pernah benar-benar bertumbuh dari keegoisan diri kepada memperhatikan orang lain. Saat hal tidak berjalan seperti keinginan mereka, mereka bereaksi seperti anak kecil, seperti menangis, merengut, mengasihani diri, marah-marah atau melempar barang disekitarnya. Mereka ingin menarik perhatian melalui menyombongkan keberhasilan mereka atau menjelekan orang lain.

    Jika kita menempatkan 2 bayi bersama tanpa diawasi, mereka biasanya langsung mendapat masalah! Demikian juga dengan, seorang pria dan wanita yang emosinya belum dewasa bersatu dalam perkawinan pasti mendapatkan masalah. Emosi yang seperti bayi tidak bisa menjadi pasangan yang baik! Salah satu kebutuhan terbesar dalam membangun pernikahan yang kuat dan berhasil adalah kedewasaan.
    Kedewasaan biasanya tidak egois. Tentu saja, tidak ada manusia yang sepenuhnya tidak egois; ada sedikit ketidakdewasaan dalam diri kita. Seseorang pernah berkata “Cakar seorang dewasa dan anda akan menemukan seorang anak Seorang lain berpendapat bahwa satu-satunya perbedaan antara pria dan anak laki-laki adalah mainan pria lebih banyak! Karena tidak ada yang dewasa sempurna, jelas bahwa kedewasaan merupakan istilah relative daripada absolute. Kenyataannya, kedewasaan merupakan proses daripada kondisi yang tetap.

    Suatu tingkatan kedewasaan emosi tertentu bisa terjadi bahkan pada orang belum percaya, karena nature dosa juga memiliki kekuatan selain kelemahan. Anda mungkin mengenal orang non Kristen yang sedikit tidak egois dalam wilayah tertentu hidup mereka, seperti dengan pasangan mereka, anak, rekan bisnis, atau mertua mereka. Mereka mungkin sangat murah hati terhadap tetangga, rekan bisnis, atau orang dikomunitas. Mereka mungkin menunjukan belas kasih yang besar kepada orang yang membutuhkan. Tapi saat anda mengenal mereka lebih baik, anda akan menemukan bahwa mereka juga ada wilayah egoisnya.

    Saat seseorang menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya, satu faktor diperkenalkan dalam hidupnya. Selain ego berdosanya, dengan kekuatan dan kelemahannya, Tuhan Yesus Kristus memberikan Roh Kudus berdiam dalam dirinya. Sifat keseluruhan seseorang sekarang tergantung atas apakah diri atau Roh yang memegang kendali. Karena Roh Kudus satu-satunya Pribadi yang bisa menjaga control diri,hubungan kita dengan Dia menjadi hal yang paling penting dalam perkembangan kita. Kita menyebutnya kedewasaan rohani daripada hanya kedewasaan emosi. Keduanya mirip, kecuali kedewasaan emosi berhubungan erat denan perkembangan kepribadian manusia kita, kedewasaan rohani juga mengenali kehadiran Roh Kudus dalam hidup dan berkaitan dengan pertumbuhan hubungan kita denganNya.

    Kita telah belajar bahwa seorang Kristen bisa rohani atau duniawi dalam tingkatan kontrol Roh Kudus atau kedagingan dalam hidupnya. Menarik untuk diperhatikan bahwa Paulus membandingkan kedagingan dengan bayi. Dia menulis kepada jemaat Korintus “sebagai Kristen dunia, bahkan seperti bayi.
    1. Alasan beberapa orang Kristen bertindak tidak dewasa adalah karena nature daging mereka mengontrol hidup mereka. Dengan kata lain, mereka jasmani. Karena ada paralel antara kedagingan dan ketidakdewasaan, kita bisa berasumsi bahwa ada juga paralel antara rohani dan kedewasaan. Orang Kristen rohani menunjukan tanda pertumbuhan, kedewasaan rohani.

    Bahkan seorang yang baru percaya bisa kelihatan dewasa. Kita kadang mengatakan kalau anak itu sudah dewasa diumurnya. Maksud kita adalah dia menunjukan tanda perkembangan yang tidak biasa. Kedewasaan melibatkan pertumbuhan, dan kita terus bertumbuh secara rohani selama kehidupan sebagai orang Kristen.

    2. Tidak ada kesempurnaan dalam hidup ini hanya ada pertumbuhan yang terus menerus.Pertumbuhan rohani terjadi saat Roh Kudus mengontrol hidup kita. Saat kita berserah padaNya, Dia mengubah terus wilayah hidup kita; kemudian kita menjadi mampu membangun hubungan pernikahan yang bahagia. Mari kita bahas beberapa karakteristik kedewasaan.

    (a) Pribadi yang dewasa menerima dirinya sebagaimana Tuhan menciptakannya.
    Dia tidak merasa rendah diri dengan kekurangannya atau egosi terhadap kelebihannya. Dia mengenal tubuh, otak, dan kemampuannya diberikan kepadanya oleh Tuhan hanya untuk melakukan tujuanNya. Karena itu dia tidak sombong atau terpuruk oleh kegagalannya. Suatu rendah diri yang kompleks bisa menyebabkan ketegangan serius dalam pernikahan. Seorang yang terus menuntut kepastian untuk meningkatkan egonya bisa membuat pasangannya terganggu. Demikian juga, seorang yang egois yang terus merendahkan pasangannya untuk meningkatkan dirinya bisa menghasilkan tragedi yang sama. Keduanya reaksi anak-anak, tapi Tuhan mau menolong seorang mengatasinya jika dia mau bergantung pada Roh yang ada dalam dirinya. Saat orang Kristen belajar menerima diri apa adanya, dia akan belajar menerima orang lain sebagaimana mereka dicipta, dan itu akan membuat langkah maju yang besar kearah keluarga bahagia.

    (b) Seorang pribadi yang dewasa diuntungkan dari kesalahannya dan usulan orang lain. Pribadi yang tidak dewasa mencoba mencari alasan kegagalan mereka. Mereka menyalahkan orang lain atau Tuhan. Saat mereka dikritik, mereka melihatnya sebagai serangan terhadap pribadi, menyerang balik dengan kemarahan seperti, “Baik, kamu juga tidak sehebat itu! Emosi yang masih bayi lebih mementingkan mempertahankan ego sendiri daripada bertumbuh. Dipihak lain, pribadi yang dewasa dengan baik menerima kritik, jujur menilai hidupnya dalam terang Firman Tuhan dan bergantung pada Roh Kudus untuk membawa perubahan yang diinginkan. Dia melihat usulan orang lain sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk mendewasakan dia.
    Sifat seperti itu akan menolong mengatasi ketegangan dalam penikahan. Daripada bereaksi seperti, “Kamu tidak pernah menghargai apa yang saya lakukan, pribadi yang dewasa akan berkata, “terima kasih atas usulan anda. Dengan pertolongan Tuhan saya akan mencoba mengembangkannya. Jelas, pribadi dewasa juga hati-hati dalam mengusulkan sesuatu. Dia akan menunggu sebentar untuk saat yang tepat, menjaga sikap kasih dan menghargai, dan usulannya ditemani dengan pujian dan dorongan.

    (c) Pribadi yang dewasa menyesuaikan diri terhadap hal yang tidak bisa diubah.
    Salah satu doa yang paing sering dinaikkan adalah, “Tuhan, berikan aku kekuatan untuk mengubah apa yang bisa diubah, dan anugrah untuk menerima apa yang tidak bisa diubah, dan hikmat untuk mengetahui perbedaannya! Merupakan kenyataan yang tidak baik bahwa walau kebanyakan pasangan saling mengasihi, banyak pasangan pernikahan tidak tahan terhadap kebiasaan kecil yang mereka lihat dalam diri pasangannya; mereka terus mencoba mengubah pasangannya. Kebiasaan yang mengganggu itu kelihatannya menjauhkan mereka, dan saat mereka mengijinkan kesalahan memangsa pikiran mereka, mereka kehilangan pandangan terhadap kualitas yang baik yang menarik mereka pertama kali. Hasilnya adalah kepahitan yang mendalam yang tidak hanya menghancurkan pernikahan mereka tapi hidup pribadi mereka juga. Keduanya kekanak-kanakan dan berdosa. Buah Roh adalah tahan menderita; yaitu kemauan untuk dengan sabar menanggung kebiasaan mengganggu dari yang lain. Roh Kudus menghasilkan kasih karunia dalam kita jika kita mengijinkanNya.

    Beberapa orang tidak bisa menerima kenyataan lagi kealam imajinasi. Saat kenyataan menunjukan bahwa orang yang mereka nikahi bukan apa yang mereka harapkan, mereka akan masuk kedalam dunia mimpi, dan menghancurkan semua harapan meningkatkan hubungan. Orang Kristen yang dewasa, sebaliknya, menemukan kepuasan terdalam didalam Tuhan. Mereka mampu menerima dunia nyata sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk menolong mereka bertumbuh.

    (d) Pribadi yang dewasa menerima hal buruk, kekecewaan, atau tekanan dengan tenang dan stabil. Dia tahu hidupnya didalam tangan Tuhan apapun yang Tuhan ijinkan adalah baik. Pribadi yang dewasa menjaga control diri saat keadaan tidak seperti yang diinginkan. Ada ketenangan saat seorang suami menerima kabar dipindahkan kekota yang jauh atau saat istrinya menelepon kekantor dan berkata dia telah menabrak mobil orang lain!

    Kadang, hal yang terkecil mengganggu kita dan menyebabkan kita bertindak egois dan tidak dewasa. Salah satu survei menunjukkan bahwa keluhan paling umum dari suami dan istri terhadap pasangannya adalah sifat yang mengganggu. Kita membiarkan hal yang remeh “mengganggu kita dan mengesalkan kita; saat itu kita bereaksi dengan marah-marah atau merengut. Selama perjalanan konseling pernikahan saya, saya telah mendengar banyak sifat kekanak-kanakan diantara orang Kristen, seperti suami yang melempar barang dalam rumah atau memukul istrinya. Saya pernah menemui pria yang tidur dilantai dan menggelepar seperti bayi, dan yang memukul tangannya kedinding karena marah terhadap apa yang dilakukan istrinya! Jika pernikahan kita ingin memuliakan Tuhan, kita perlu bertumbuh dengan mengijinkan Roh Kudus mengambil alih hidup kita. Dia akan menunjukkan kepada kita buah pengendalian diriNya.

    Walau contoh sebelumnya hanya suami, istri tidak berarti tidak bersalah. Saya pernah mendengar suami menggambarkan istrinya menendang dan berteriak atau lebih umum pasangan yang tidak bisa diperkirakan. Tidak ada yang lebih mematahkan semangat bagi suami daripada saat pulang rumah menemukan istri ngomel tentang hal kecil dan meracuni suasana keluarga selama malam hari. Salomo pasti pernah mengalaminya. “Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, dari pada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan. “Lebih baik tinggal di padang gurun dari pada tinggal dengan perempuan yang suka bertengkar dan pemarah pertengkaran seorang isteri adalah seperti tiris yang tidak henti-hentinya menitik.Tiris air yang tidak berhenti merupakan bentuk penyiksaan masa lalu bukan perumpamaan yang memuji! Siksaan menjadi cara hidup, kebiasaan. Kita perlu berserah pada Roh Kudus untuk dewasa.

    (e) Pribadi yang dewasa menerima dan memenuhi tanggung jawabnya.
    Kedewasaan melibatkan kemandirian. Pekerjaan yang tidak selesai, janji yang tidak dipenuhi, dan maksud baik yang tidak dilakukan merupakan contoh ketidakmandirian. Pribadi yang tidak dewasa tidak bisa melakukan tugas dengan bahagia yang merupakan tanggung jawabnya. Dia mengeluh, tidak puas atau tidak menikmati pekerjaannya. Istri mengeluh karena hidup suatu rutinitas. Ibu yang bekerja ingin jadi ibu rumah tangga. Beberapa pria mengabaikan kesempatan menelepon istrinya saat mereka tidak bisa pulang diwaktu biasanya. Buah roh adalah kesetiaan (faithful), artinya “percaya atau “mandiri. Kita perlu menyerahkan diri pada Roh Kudus untuk menjadi setia!

    (f) Pribadi yang dewasa kepuasan terbesarnya adalah membuat orang lain bahagia.
    Kita tidak pernah menemukan kebahagiaan dengan mencarinya. Makin kita mencari, makin kita frustrasi dan kecewa. Mencari kesenangan sendiri hanya menghasilkan ketidakbahagiaan. Hidup untuk kepentingan orang lain membawa kebahagiaan, pelajaran yang tetap harus dipelajari banyak pasangan dalam pernikahan. Saat kita percaya Roh Tuhan bisa membuat kita tidak egois untuk pasangan kita, tidak minta balasan, kebahagiaan yang kita dapatkan sangat besar. Setiap kali anda memicu konflik dalam hubungan pernikahan anda, tanyakan pada diri anda, “Sekarang kenapa saya melakukan itu? Anda mungkin haru mengakui bahwa anda melakukan itu untuk kesenangan anda sendiri. Minta maaf dan arahkan kembali tindakan dan perkataan untuk pasangan anda. Jangan menyarankan pasangan anda melakukan hal yang sama. Anda akan menemukan istri anda berespon dengan pengertian baru juga!
    Hal ini butuh harga. Sebenarnya, hal ini mengorbankan semuanya. Tapi pribadi yang dewasa mau memberikan semuanya, kemudian menunggu dengan sabar Tuhan berkarya. Hanya bayi dan anak kecil yang menuntut apa yang mereka inginkan disaat itu juga. Mereka hidup untuk saat itu, menuntut cara mereka dalam setiap keadaan. Pribadi yang dewasa sering mengorbankan kesenangan pribadi agar bisa mendatangkan kesenangan bagi orang lain. Secara paradoks, ini juga akan membawa kebahagiaan bagi yang memberi!

    Pelajaran penting ini butuh waktu untuk dipelajari. Kita semua kadang merasa memiliki hak untuk memuaskan keegoisan kita. Kita sudah lama melakukan itu, jadi kenapa mengubahnya sekarang! Tapi semakin sering kita berespon terhadap situasi itu dalam control Roh Kudus, makin mudah praktek itu dan semakin cepat kita dewasa. “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu .


    1 1 Corinthians 3: 1, KJV.
    2 2 Peter 3:18.
    3 Psalm 139:13-16; Romans 9:20; 1 Corinthians 4:7.
    4 Ephesians 4:31.
    5 Psalm 73:25.
    6 Psalm 18:30a; 31:15; 37:23; Romans 8:28.
    7 Proverbs 17:1, TLB
    8 Proverbs 21:19, TLB.
    9 Proverbs 19:13, TLB.
    10 l Corinthians 13:11, KJV.

    Prinsip-Prinsip Ideal (Absolut) Bagi Pernikahan KristenPRINSIP-PRINSIP IDEAL (ABSOLUT) BAGI PERNIKAHAN KRISTEN

    Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, SE M.Th

    Khotbah Ibadah Raya GBAP El Shaddai Palangka Raya
    Minggu, 04 Agustus 2013

    “Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan
    mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”
    (Matius 19:4-6)

    “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya.
    Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah
    terang dapat bersatu dengan gelap”
    (2 Korintus 6:14)


    PENDAHULUAN

    Pernikahan merupakan ide Tuhan untuk mempersatukan seorang pria dan wanita. Pernikahan adalah suatu lembaga yang ditetapkan Allah bagi manusia sesuai dengan kebutuhannya. Perhatikan Frase dalam “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:18). Saat laki-laki (ha adam) “seorang diri saja” maka Allah menyatakan bahwa keadaan ini “tidak baik”. Jadi Allah memutuskan untuk menciptakan “ezer kenegdo” atau “seorang penolong”. Kata Ibrani “ezer” yang diterjemahkan dengan “penolong” berarti “sesuai dengan” atau “sama dengan”. Jadi secara harfiah “seorang penolong” berarti “penolong yang sepadan atau seorang yang sepadan dengannya”. Dengan demikian jelaslah bahwa Allah sendiri yang menetapkan lembaga Pernikahan dan memberkatinya (Baca Kejadian 1:28).

    Pernikahan adalah hal mulia, yang dikaruniakan Tuhan, sejak manusia belum jatuh ke dalam dosa. Kejadian 1:28 mencatat bagaimana Tuhan memberkati Adam dan Hawa sebelum mereka diperintahkan untuk beranak cucu. Karena itu, pernikahan harus ditempuh dengan rukun, sehati, setujuan, penuh kasih sayang, percaya seorang akan yang lain, dan bersandar kepada kasih karunia Tuhan. Pernikahan tidak boleh ditempuh atau dimasuki dengan sembarangan, dirusak oleh karena kurang bijaksana, dinista atau dinajiskan; melainkan hendaklah hal itu dihormati dan dijunjung tinggi dengan takut akan Tuhan serta mengingat maksud Allah dalam pernikahan itu.

    Kita seharusnya prihatin dengan tingginya angka perceraian seperti dilansir REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA yang menuliskan, “Angka perceraian pasangan di Indonesia terus meningkat drastis. Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) mencatat selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70 persen. Dirjen Badilag MA, Wahyu Widiana, mengatakan tingkat perceraian sejak 2005 terus meningkat di atas 10 persen setiap tahunnya. Data jumlah perceraian tahun 2011 belum bisa dipastikan sebab masih menunggu proses rekapitulasi dari 33 pengadilan tinggi agama se-Indonesia. Meski begitu, pihaknya tidak menyangkal terjadi kenaikan perceraian di atas 10 persen dibanding angka tahun 2010. “Perceraian naiknya terus-terusan, begitu juga pada 2011,” ujar Wahyu kepada Republika, Selasa (24/1). Pada tahun 2010, terjadi 285.184 perceraian di seluruh Indonesia. Penyebab pisahnya pasangan jika diurutkan tiga besar paling banyak akibat faktor ketidakharmonisan sebanyak 91.841 perkara, tidak ada tanggungjawab 78.407 perkara, dan masalah ekonomi 67.891 perkara. Sedangkan tahun sebelumnya, tingkat perceraian nasional masih di angka 216.286 perkara. Angka faktor penyebabnya terdiri atas ketidakharmonisan 72.274 perkara, tidak ada tanggungjawab 61.128 perkara, dan faktor ekonomi 43.309 perkara”.

    Tingginya angka perceraian di atas membuat kita bertanya, mengapa begitu banyak pasangan suami-isteri yang mengakhiri hubungan mereka dengan perceraian? Karena itu memahami prinsip-prisip ideal tentang pernikahan seperti yang dirancang dan ditetapkan Allah sangatlah penting bagi kelanggengan hubungan pernikahan. Karena itu kita akan memperhatikan pengajaran Tuhan Yesus mengenai pernikahan dalam Matius 19:4-10 dan pasal-pasal pararel lainnya. Tetapi, pertama-tama kita akan melihat definisi Pernikahan dan kemudian memperhatikan prinsip-prisip ideal dari pernikahan itu. Pernikahan dapat didefisinisikan sebagai berikut: “pernikahan merupakan hubungan eksklusif antara satu laki-laki dan satu perempuan, dimana keduanya menjadi “satu daging”, disatukan secara fisik, emosional, intelektual, dan spiritual; dijamin melalui sumpah sakral dan ikatan perjanjian serta dimaksudkan untuk seumur hidup”. Definisi ini didasarkan pada pernyataan Alkitab dalam Kejadian 1:24; Matius 19:5; Markus 10:7; Efesus 5:31.

    TUJUH PRINSIP IDEAL (ABSOLUT) BAGI PERNIKAHAN KRISTEN

    Walau pun dalam hal jodoh, manusia diberi kebebasan untuk memilih, tetapi semuanya itu berada dalam atau sesuai dengan ketetapan Tuhan yang permisif (mengijinkan). Tuhan telah memberikan prinsip-prinsip ideal (absolut) dalam memilih pasangan hidup dan membangun sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia. Siapapun orangnya, apabila sungguh-sungguh menaati prinsip-prinsip firman Tuhan tersebut, keluarganya akan bahagia. Kebahagiaan pernikahan tidak bergantung kepada “teologi takdir” ataupun “teologi kebebasan” dalam memilih jodoh, tetapi pada ketaatan terhadap prinsip-prinsip yang ditentukan Tuhan sebagaimana yang tertulis di dalam Alkitab. Prinsip-prinsip absolut yang dimaksud bagi pernikahan Kristen adalah sebagai berikut :

    Prinsip 1: Pernikahan Harus Bersifat Monogami.

    Pernikahan, khususnya pernikahan Kristen itu bersifat monogami. Dalam Kejadian 1:27 dikatakan “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki (ish) dan perempuan (ishsha) diciptakan-Nya mereka”. Kristus menegaskan kembali hal ini dalam Matius 19:4, dikatakan, “Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia (antrophos) sejak semula (ap’arches) menjadikan mereka laki-laki (aner) dan perempuan (gyne)?”. Kata Yunani “ap’arches” atau “sejak semula” yang disebutkan Yesus dalam Matius 19:4, pastilah merujuk pada Kejadian Pasal 2, karena kalimat selanjutnya “Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging”, yang diucapkan Yesus dalam ayat 5 adalah kutipan dari Kejadian 2:24. Jadi, pernikahan Alkitabiah adalah antara seorang pria biologis dengan seorangan wanita biologis. Karena itu, pernikahan dengan sesama jenis (homosexual) atau pun pernikahan dengan hewan bukanlah pernikahan, melainkan penyimpangan dari ketetapan Tuhan.

    Karakteristik paling mendasar dari pernikahan adalah bahwa pernikahan merupakan satu kesatuan antara seorang pria dan seorang wanita. Rasul Paulus berkata “baiklah setiap laki-laki (bentuk tunggal) mempunyai isterinya sendiri (bentuk tunggal) dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri” (1 Korintus 7:2). Monogami bukan hanya ajaran Perjanjian Baru, tetapi merupakan ajaran Perjanjian Lama. Monogami adalah rancangan Tuhan “sejak semula”, yaitu ketika Allah menciptakan satu laki-laki (Adam) dan memberi dia hanya satu istri (Hawa). Fakta bahwa Allah mengijinkan poligami dalam Perjanjian Lama tidaklah membuktikan bahwa Dia memerintahkannya. Poligami, sebagaimana perceraian bukanlah ideal (rancangan) Allah. Poligami adalah konsensi bukan konstitusi; diijinkan bukan diperintahkan. Hal ini terjadi karena ketegaran (kekerasan) hati, tetapi sejak semula tidaklah demikian (Matius 19:8).

    Prinsip 2: Pernikahan Harus Antara yang Seiman

    Rasul Paulus menasehati, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?” (2 Korintus 6: 14-15). Ketika Rasul Paulus menuliskan kata-kata tersebut, ia memang tidak secara khusus berbicara tentang pernikahan, tetapi prinsip yang terkandung di dalamnya tepat dan dapat diterapkan dalam hal pernikahan. Seseorang yang menaruh imannya dalam Kristus sudah dilahirkan kembali (Yohanes 3:3-16), dan “siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru” (2 Korintus 5: 17). Perubahan yang demikian mendasar dalam kehidupan rohani kita seharusnya berdampak sangat kuat terhadap prioritas, tujuan, gaya hidup dan hubungan antar pribadi kita, termasuk dalam hal memilih pasangan hidup.

    Meskipun Rasul Paulus dan Petrus membicarakan kemungkinan memenangkan pasangan yang tidak seiman sehingga percaya pada Tuhan, lebih baik menganggap hal tersebut sebagai kekecualiaan dan bukan medus (1 Korintus 7:12-16; 1 Petrus 3:1-2). Tidaklah bijak untuk memutuskan menikah dengan seseorang yang tidak seiman, karena hal ini akan lebih rumit dan membawa banyak masalah. Seorang Kristen yang menikah dengan orang yang bukan Kristen, mungkin akan menghadapi masalah rohani seumur hidup dan pergumulan bagi kesejahteraan rohani anak-anak mereka. Karena itu, orang yang akan dipilih sebagai pasangan hidup haruslah: (1) Percaya dan menyembah Kristus serta memiliki komitmen pada iman tersebut (Baca: 2 Korintus 6:14-18; Efesus 4:17 - 5:20; Filipi 3:7 -16; I Yohanes 2: 15-17); (2) Memiliki keyakinan yang benar. Jangan menikah dengan seorang penganut bidat atau ajaran sesat! Anda tidak harus sepaham dalam hal-hal yang tidak pokok (esensi), tetapi pastikan bahwa Anda memegang doktrin yang Alkitabiah (1 Yohanes 4: 1-6); (3) Komitmen untuk bergereja. Allah tidak memaksudkan hidup Kekristenan sebagai cara untuk hidup menyendiri. Dia merancang gereja untuk memenuhi kebutuhan dan sebagai wadah kita melayani sesama. Anda harus setuju dalam masalah ini dengan pasangan Anda (Efesus 4: 1-16; Ibrani 10:24-25).

    Prinsip 3: Bertekad Mengikat Perjanjian Dihadapan Tuhan

    Sebuah kovenan menurut Alkitab, adalah sebuah hubungan yang sakral antara dua pihak, disaksikan oleh Allah, sanagat mengikat, dan tidak dapat dibatalkan. Kedua belah pihak bersedia berjanji untuk menjalani kehidupan sesuai dengan butir-butir perjanjian itu. Kata Ibrani yang digunakan untuk “kovenan” adalah “berit” dan kata Yunaninya adalah “diathêkê”. Istilah kovenan yang seperti inilah yang digunakan Alkitab untuk melukiskan sifat hubungan pernikahan. Jelas bahwa pernikahan merupakan suatu kesatuan yang dilahirkan dari satu perjanjian dari janji-janji yang timbal balik. Kovenan pernikahan ini dinyatakan dengan gamblang oleh nabi Maleakhi ketika ia menulis “TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu” (Maleakhi 2:14). Kitab Amsal juga berbicara tentang penikahan sebagai suatu “kovenan” atau “perjanjian” satu sama lain. Kitab ini mengutuk seorang yang berzinah “yang meninggalkan teman hidup masa mudanya dan melupakan perjanjian Allahnya” (Amsal 2:17).

    Perhatikanlah saat Alkitab mengatakan “seorang pria akan meninggalkan ayat dan ibunya dan bersatu dengan istrinya. (Kejadian 2:24). Kata “meninggalkan” dan “bersatu” adalah dua kata yang penting untuk dipahami. Kata Ibrani untuk “meninggalkan” adalah “azab” yang berarti “melonggarkan, melepaskan, meninggalkan, meninggalkan sepenuhnya, secara total”. Kata Ibrani untuk “bersatu” adalah “dabaq” yang artinya “mengikat, lem, melekat, menempel, bergabung berdekatan dengan atau mengikat bersama”. Artinya jelas, bahwa dalam pernikahan seorang pria melekatkan diri kepada istrinya sendiri, sehingga “apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:6).

    Jadi, pernikahan adalah suatu perjanjian pada satu peristiwa dimana Allah menjadi saksi. Allahlah yang mengadakan pernikahan dan Dialah yang menyaksikan janji-janji tersebut benar-benar dibuat “dihadapan Allah”. Kristus menegaskan bahwa Allahlah yang benar-benar menyatukan dua manusia bersama-sama di dalam pernikahan dengan mengatakan, “Apa yang telah disatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia” (Markus 10:19).

    Prinsip 4: Bertekad Memelihara Kekudusan dan Kesetiaan Seumur Hidup
    Apa Pun Yang Terjadi

    Menurut Alkitab, merupakan kehendak Allah bahwa pernikahan sebagai komitmen seumur hidup. Permanennya suatu pernikahan, dengan jelas dan tegas dikatakan Kristus, “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:6). Jadi Allah dari sejak semula menetapkan bahwa pernikahan sebagai ikatan yang permanen, yang berakhir hanya ketika salah satu pasangannya meninggal (bandingkan Roma 7:1-3; 1 Korintus 7:10-11). Paulus juga menegaskan hal ini ketika ia berkata “Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain” (Roma 7:2-3).

    Allah telah menetapkan pernikahan dari sejak semula, dan Allah adalah saksi dari seluruh pernikahan, baik diundang maupun tidak. Karena itu pernikahan wajib dihormati oleh semua orang (Ibrani 13:4). Pernikahan bukanlah hal yang boleh diremehkan! Pernikahan tidak boleh ditempuh atau dimasuki dengan sembarangan, dirusak oleh karena kurang bijaksana, dinista atau dinajiskan; melainkan hendaklah hal itu dihormati dan dijunjung tinggi dengan takut akan Tuhan serta mengingat maksud Allah dalam pernikahan itu.

    Pernikahan adalah hal yang paling misterius tetapi serius. Karena, “keduanya akan menjadi satu”. Artinya, secara praktis keduanya akan beralih “dari aku dan kau menjadi kita” dan “dari saya dan dia menjadi kami”. Persatuan ini mencakup segalanya “disatukan secara fisik, emosional, intelektual, dan spiritual”. Perhatikanlah saat Alkitab mengatakan “seorang pria akan meninggalkan ayat dan ibunya dan bersatu dengan istrinya. (Kejadian 2:24). Kata “meninggalkan” dan “bersatu” adalah dua kata yang penting untuk dipahami. Kata Ibrani untuk “meninggalkan” adalah “azab” yang berarti “melonggarkan, melepaskan, meninggalkan, meninggalkan sepenuhnya, secara total”. Kata Ibrani untuk “bersatu” adalah “dabaq” yang artinya “mengikat, lem, melekat, menempel, bergabung berdekatan dengan atau mengikat bersama”. Artinya jelas, bahwa dalam pernikahan seorang pria melekatkan diri kepada istrinya sendiri, sehingga “apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:6).

    Secara khusus, pernikahan juga melibatkan kesatuan seksual antara pria dan wanita. Perhatikan frase “satu daging” dalam ayat-ayat Kejadian 1:24; Matius 19:5; Markus 10:7; Efesus 5:31. Ada tiga tujuan relasi seksual dalam pernikahan, yaitu: penyatuan (Kejadian 2:24), perkembang biakan (Kejadian 1:28), dan rekreasi (Amsal 5:18-19). Tetapi, hubungan seksual sebelum pernikahan disebut percabulan (Kisah Para Rasul 15:20; 1 Korintus 6:18) dan hubungan seksual diluar pernikahan disebut perzinahan (Keluaran 20:14; Matius 19:9). Percabulan maupun perzinahan, sangat dilarang di dalam Alkitab. Dalam Perjanjian Lama, dibawah Hukum Taurat, mereka yang melakukan persetubuhan sebelum menikah diwajibkan untuk menikah (Ulangan 22:28-29). Hal ini penting sebab, seks dikuduskan oleh Allah hanya untuk pernikahan bukan sebelum pernikahan. Karena itu setiap orang wajib menghormati pernikahan (1 Korintus 7:2; Ibrani 13:4).

    Prinsip 5: Suami Harus Mengasihi Istri, Dan Istri Tunduk Kepada Suami

    Sebelum upacara pernikahan, seorang pria dan seorang wanita berada di bawah otoritas orang tua atau walinya. Setelah upacara pernikahan, seorang pria sebagai suami diperintahkan untuk memiliki otoritas yang lain atas seorang wanita, yaitu istrinya sendiri. Rasul Paulus mengingatkan, “Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah” (1 Korintus 11:3). Jadi, pertama-tama suami harus tunduk kepada Kristus karena kepala dari pria adalah Kristus. Kemudian, sebagaimana suami tunduk kepada Kristus demikian juga hendaknya istri tunduk kepada suaminya, dan mengizinkan suami bertanggung jawab bagi dirinya.

    Selanjutnya, rasul Paulus dalam Efesus 5:22-25 menjelaskan bentuk relasi suami dan istri, “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” . Mengapa Paulus memberi perintah “istri tunduk kepada suami” dan “suami mengasihi Istri”, dan hal ini diulangi lagi dalam Kolose 3:18-19, “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia”?

    Suami yang dihormati oleh istrinya akan merasa hidupnya lebih berarti. Sebaliknya, jika suami kurang dihormati oleh istrinya, maka ia merasa hidup kurang berarti. Tetapi, perkataan “istri tunduk pada suami” bukan berarti suami boleh sewenang-wenang dan berbuat sembarang terhadap istrinya melainkan disini keistimewaan yang diberikan Tuhan, yaitu kedudukannya sebagai kepala. Kata Yunani untuk untuk “kepala” adalah “kephale” yang berarti “memerintah” dan “otoritas” yang bermakna “tanggung jawab”. Tunduk pada suami adalah pengaturan yang ditetapkan Tuhan agar istri dapat memberi rasa hormat pada suaminya. Inilah yang dibutuhkan pria (Efesus 5:33).

    Istri lebih mementingkan cinta kasih, itu sebabnya dieprintahkan agar “suami mengasihi istri”. Cinta adalah segala-galanya bagi istri, melebihi apapun; tetapi bukan berarti ia tidak memerlukan hormat atau penghargaan. Seorang wanita merasa dihargai, apabila suaminya mencintainya. Dapat dikatakan bahwa cinta kasih merupakan seluruh hidup dari istri, tetapi hanya sebagian dari hidup pria. Ini bukan berarti pria tidak memerlukan cinta, atau bukan berarti cinta seorang pria (suami) boleh dibagi kepada beberapa orang, tetapi justru seutuhnya dari yang sebagian ini hanya diberikan kepada istrinya.

    Jadi kita melihat, bahwa yang dibutuhkan pria adalah dihormati, sedang bagi wanita yang dibutuhkan adalah diperhatikan dan disayangi. Dan kebutuhan ini bisa di berikan oleh pasangan masing-masing. Sebab itu suami dan istri masing-masing bisa mengoreksi diri. Istri perlu bertanya “apakah aku telah memngormati suamiku dalam segala hal?” dan suami perlu bertanya “apakah aku telah menyayangi istriku dengan sepenuhnya? “

    Karena pria lebih mementingkan otoritas atau wibawa, sedang wanita lebih mementingkan cinta kasih maka masing-masing ini menjadi kelebihan, ciri khas, dan juga menjadi kelemahannya. Suami yang tidak dihormati oleh istrinya cenderung “menyalahgunaan otoritas” atau bahkan “membagi” cintanya pada wanita yang lain. Istri yang tidak dicintai suaminya cenderung berusaha mengambil “kendali”. Atau, jika ia tidak mendapatkan cinta dari suaminya, maka ia berusaha mendapatkan perhatian dari pria lain. Disinilah bahayanya jika suami-istri tidak memahami dan tidak mengerti hal ini!

    Berdasarkan relasi di atas, suami dan istri memiliki tanggung jawab masing-masing yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Tanggung jawab suami terhadap istri yang berhubungan dengan mengasihinya ialah: Memberi perhatian dan menyayangi istrinya; memelihara dan melindungi istri; menerima dan menghargai istri; peduli dan penuh penegretian; memimpin istri dan berkorban baginya. Tanggung jawab istri terhadap suami yang berhubungan dengan tunduk kepadanya ialah: mendukung dan menolong suami; menerima dan mengagumi suami; mempercayai dan menaati suami ; menghormati dan lebih menghormati suami. Selanjutnya relasi ini dapat dikembangkan oleh suami dan istri dengan cara: menjadi teman dan sahabat; saling melayani dan merawat; dan mengatur seisi rumah; rendah hati dan murah hati; memperhatikan pertumbuhan pribadi lebih dari hal lahiriah; dan sebagainya (bandingkan 1 Korintus 13:1-8; 1 Petrus 3:1-7).

    Prinsip 6: Bertekad Untuk Mendidik Anak-Anak Sesuai Dengan Ajaran Dan Nasihat Tuhan

    Secara khusus, dengan hadirnya anak sebagai karunia dari Tuhan, relasi suami istri dalam pernikahan akan bertambah. Kehadiran anak akan membentuk relasi orang tua dengan anak. Suami dan istri yang telah mempunyai anak, kini menjadi orang tua. Relasi ini disertai suatu tanggung jawab, yaitu tanggung jawab orang tua terhadap anak dan tanggung jawab anak-anak terhadap orang tua. Rasul Paulus mengingatkan, “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu -- ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. (Efesus 6:1-4; Bandingkan Ulangan 6:5-9). Hal yang sama disampaikan rasul Paulus dalam Kolose 3:20-21, “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya”.

    Tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya antara lain: merencanakan masa depan mereka; merawat dan memelihara mereka; mengasuh dan mencukupi kebutuhan mereka; mengasihi mereka; mengajar, mendidik, dan membimbing mereka; memberi teladan dan bersaksi bagi mereka. Tanggung jawab anak terhadap orang tua antara lain: menghormati dan menaati orang tua, membantu orang tua dalam memelihara seisi rumah; mengerjakan tugas-tugas yang diberikan orang tua; dan belajar dibawah bimbingan orang tua.

    Prinsip 7: Semua Persoalan Diselesaikan Berdasarkan Kebenaran Firman Tuhan

    Keluarga bahagia bukan keluarga yang tanpa masalah tetapi keluarga yang dapat menyelesaikan masalah berdasarkan prinsip firman Tuhan. Karena itu, suami dan istri serta seluruh anggota keluarga harus berpusat pada Allah (theocentric family) dan menjadikan firman Tuhan (Alkitab) sebagai prinsip utama dalam mengatur dan menjalankan rumah tangga (bible oriented family). Jika suami dan istri, serta semua anggota keluarga taat kepada Kristus dan menjalankan prinsip firman Tuhan, maka hasilnya Tuhan akan menganugerahkan kebahagiaan sejati (Bandingkan 2 Timotius 3:14-17).

    Setiap keputusan dan tindakan yang diambil bukan merupakan keputusan emosional tetapi berdasarkan pertimbangan yang cukup berdasarkan kebenaran firman Tuhan. Mengapa demikian? Karena pikiran kita berperan penting dalam menentukan apa yang benar. Manusia merasa dan berpikir, karena Allah merancangnya demikian. Perasaan atau emosi kita diekspresikan dalam sukacita, kemarahan, penyesalan, dan perasaan-perasaan lainnya. Emosi merupakan sesuatu yang baik, kita marah terhadap kejahatan, kita sedih terhadap kemiskinan dan penderitaan, serta lain sebagainya. Tetapi, emosi harus tetap dijaga dalam konteks dan ekspresi yang benar. Yang harus diingat, emosi tidak dapat menentukan kebenaran atau memutuskan kebenaran dari kesalahan. Merasa baik misalnya, tidak mengindikasikan bahwa sesuatu itu benar, dan merasa buruk tidak mengindikasikan kesalahannya. Emosi adalah bagian dari jiwa yang menghargai dan merespon kepada hidup. Menghargai emosi untuk mengidentifikasi kebenaran adalah seperti meminta telinga kita untuk mencium sebuah bunga. Telinga itu tidak dapat melakukannya karena telinga tidak diciptakan untuk mencium. Emosi tidak memiliki muatan dan informasi dimana kita dapat mengevaluasi kebenaran atau kesalahan. Kapasitas pikiran kitalah yang melakukan fungsi ini.

    Kekristenan yang benar mengajarkan kita untuk tidak membuat keputusan atau mengambil tindakan berdasarkan perasaan. Mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan bagaimana kita merasa bisa membawa kepada bahaya, karena emosi tidak dapat mengenali benar atau salah lebih daripada kemampuan pikiran untuk mengenalinya. Emosi memang mempengaruhi pikiran, tetapi seharusnya tidak menjadi faktor penentu. Ketika kebenaran dan kesalahan diidentifikasi, perasaan dapat dan harus menemani keputusan. Kemampuan atau kapasitas pikiran kita harus digunakan untuk membuat keputusan-keputusan mengenai kebenaran dan moral. Pikiran yang terlatih dalam firman Allah memimpin kita dalam jalan Allah “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105).

    Manusia yang mencoba membangun rumah tangga tanpa mengandalkan Tuhan dan firmanNya, akan mengalami kehancuran. Karena semua yang menjadi idaman manusia dan diinginkan ada dalam rumah tangga, seperti: keharmonisan, kesetiaan, cinta kasih, sukacita, damai sejahtera, anak-anak yang taat, kesehatan jasmani, berkat materi; sesungguhnya terletak dalam tangan Tuhan. Siapa yang bersandar dan berharap kepadaNya akan dikaruniakan semuanya itu.

    Ringkasnya: Semua prinsip di atas adalah absolut (mutlak). Artinya, siapapun, baik pria maupun wanita, yang telah memenuhi prinsip-prinsip mutlak firman Tuhan di atas, Tuhan pasti menjamin kebahagiaan hidup dalam pernikahan dan keluarganya.

    PENTINGNYA KEBERSAMAAN

    Seorang pria dan wanita yang memutuskan untuk menikah akan mengalami perubahan besar yang terjadi khususnya dalam lingkungan dan jadwal. Mereka harus membiasakan diri untuk hidup bersama. Ini berarti baik suami maupun istri, mereka harus memangkas dari jadwal mereka hal-hal yang kurang bermanfaat yang dapat menghilangkan kebersamaan mereka. Ini berarti suami dan istri perlu memberi batasan terhadap pergaulan, hobi, dan kesenangannya sendiri. Mereka harus meluangkan waktu lebih banyak untuk saling memahami, memberi dan memerima satu dengan yang lain. Hal ini perlu mengingat, pernikahan menyatukan dua pribadi yang berbeda. Pria dan wanita memiliki kodrat yang tidak sama baik secara fisik, perasaan, maupun perilaku. Ditambah lagi perbedaan dalam kebiasaan, adat istiadat, budaya, pendidikan, sikap dan pembawaan.

    Jadi pernikahan adalah kesempatan yang diberikan Allah kepada kepada laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama. Keluarga adalah suatu lembaga atau unit yang paling kecil dalam masyarakat. Sebuah keluarga adalah suatu tim dalam persekutuan hidup bersama antara ayah, ibu, dan anak-anak. Persekutuan bersama dalam keluarga bersifat dinamis dan harus dijaga keharmonisannya. Karena itu, untuk menjaga kebersamaan dalam keluarga maka perlu memperhatikan dan mengembangakan hal-hal sebagai berikut: 1) Menyembah dan melayani Tuhan bersama-sama di gereja lokal; 2) Berdoa bersama-sama atau mezbah keluarga dalam ketekunan; 3) Mengatur keuangan bersama-sama; 4) Mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan rumah bersama; 5) membuat dan menetapkan rencana untuk masa depan bersama-sama; 6) Membiasakan makan bersama-sama; 7) Melaksanakan peran dan tanggung jawab masing-masing dengan sebaik-baiknya; 8) Komunikasi yang baik dengan tegur sapa; 9) Kejujuran dengan menceritakan apa adanya; Rasa saling mempercayai dengan tidak mengatakan kebohongan; 10) Senyum dan tertawa dalam kebersamaan; 11) Menjalin persahabatan dengan semua anggota keluarga; 12) Saling memaafkan kesalahan; 13) Menyatakan cinta dan kasih sayang dengan perkataan dan perbuatan yang baik; 14) Saling menghargai ketika ada yang telah melakukan sesuatu untuk kebaikan; 15) Lembut dan tidak kasar terhadap semua anggota keluarga.

    Secara khusus waktu yang disediakan untuk mezbah keluarga sangat penting dan indah. Karena pada saat itu semua anggota keluarga berkumpul bersama. Hal ini merupakan sarana untuk membangun iman, kerohanian, pengetahuan dan pengenalan akan Tuhan dan firmanNya, mengembangkan kasih dan komunikasi dengan Tuhan dan sesama anggota keluarga. Karena Tuhan dan keluarga kita penting, mengapa kita tidak memulai mezbah keluarga di dalam keluarga kita segera mungkin? Jadi, bertekad dan komitmenlah seperti Yosus yang berkata, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15b).

    PENUTUP

    Pernikahan adalah hal mulia, yang dikaruniakan Tuhan, sejak manusia belum jatuh ke dalam dosa, yaitu suatu bayangan yang melukiskan persekutuan antara Kristus dan gerejaNya (Efesus 5:22-33). Melalui pernikahan Allah memberi kesempatan kepada pria dan wanita untuk hidup bersama. Kehidupan bersama pria dan wanita ini harus didasarkan atas kasih karunia. Pernikahan sebagai sebuah lembaga, ditetapkan oleh Allah sendiri (Kejadian 2:24), dan melukiskan persekutuan antara Kristus dan gerejaNya (Efesus 5:31-32). Dalam pernikahan suami dan istri mengikat diri dalam suatu tujuan yang kudus, untuk membangun rumah tangga bahagia dan harmonis. Sebagaimana Yesus Kristus mengasihi satu gereja dan gereja itu mengasihi satu Tuhan, demikian seorang pria dipanggil mengasihi satu wanita dan wanita mengasihi satu pria.

    Dalam pernikahan suami dan istri mengikat diri dalam suatu tujuan yang kudus, untuk membangun rumah tangga bahagia dan harmonis. Pernikahan mempersatukan kedua hati, mempersatukan kasih dan pengharapan dalam suatu kehidupan bersama. Karena itu, janganlah pernikahan ditempuh atau dimasuki dengan sembarangan, dirusak oleh karena kurang bijaksana, dinista atau dinajiskan; melainkan hendaklah hal itu dihormati dan dijunjung tinggi dengan takut akan Tuhan serta mengingat maksud Allah dalam pernikahan itu. Karena itu hendaklah pernikahan ditempuh dengan rukun, sehati, setujuan, penuh kasih sayang, percaya seorang akan yang lain, dan bersandar kepada kasih karuniaTuhan. Hanya dengan cara yang demikian kehidupan bersama ini dapat bertahan dan menjadi berkat. Amin

    Profil : Pdt. Samuel T. Gunawan, memposisikan diri sebagai teolog Protestan-Kharismatik,
    Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat El Shaddai; mengajar Filsafat dan Apologetika Kharismatik di STT AIMI, Solo, dan Pengajar di beberapa STT Lainnya. Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (SE) dari Universitas Negeri Palangka Raya; S.Th (Christian Education); M.Th in Christian Leadership (2007) dan M.Th in Systematic Theology (2009) dari STT-ITC Trinity, Tangerang. Setelah mempelajari Alkitab lebih dari 15 tahun menyimpulkan tiga keyakinannya terhadap Alkitab yaitu : (1) Alkitab berasal dari Allah. Ini mengkonfirmasikan kembali bahwa Alkitab adalah wahyu Allah yang tanpa kesalahan dan Alkitab diinspirasikan Allah; (2) Alkitab dapat dimengerti dan dapat dipahami oleh pikiran manusia dengan cara yang rasional melalui iluminasi Roh Kudus; dan (3) Alkitab dapat dijelaskan dengan cara yang teratur dan sistematis.


    REFERENSI

    Burke, Dale., 2000. Dua Perbedaan dalam Satu Tujuan. Terjemahan Indonesia (2007), Penerbit Metanoia Publising : Jakarta.
    Clinton, Tim., 2010. Sex and Relationship. Baker Book, Grand Rapids. Terjemahan Indonesia (2012), Penerbit ANDI : Yogyakarta.
    Cornish, Rick., 2007. Five Minute Apologist. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya : Bandung.
    Douglas, J.D., ed, 1988. The New Bible Dictionary. Terjemahan Indonesia: Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, 2 Jilid, diterjemahkan (1993), Yayasan Komunikasi Bina Kasih : Jakarta.
    Ferguson, B. Sinclair, David F. Wright, J.I. Packer., 1988. New Dictionary Of Theology. Inter-Varsity Press, Leicester. Edisi Indonesia, jilid 1, diterjemahkan (2008), Penerbit Literatur SAAT : Malang.
    Geisler, Norman L., 2000. Christian Ethics: Options and Issues. Edisi Indonesia dengan judul Etika Kristen: Pilihan dan Isu, Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Jakarta.
    Gutrie, Donald., ed, 1976. The New Bible Commentary. Intervarsity Press, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Tafsiran Alkitab Masa Kini, Jilid 3, diterjemahkan (1981), Yayasan Komunikasi Bina Kasih : Jakarta.
    Gutrie, Donald., 1981 New Tastament Theology, . Intervarsity Press, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Teologi Perjanjian Baru, 3 Jilid, diterjemahkan (1991), BPK Gunung Mulia : Jakarta.
    G.P, Harianto, Pendidikan Agama Kristen Dalam Alkitab dan Dunia Pendidikan Masa Kini. Penerbit, Andi Offset, Yokyakarta bekerjasana dengan STT Bethany, Surabaya, 2012.
    Homrighausen, E.G dan Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, Cetakan ke IV, Penerbit BPK Gunung Mulia, Jakarta 2001.
    Kristianto, Paulus L, Prinsip dan Praktik Pendidikan Agama Kristen. Penerbit Andi Offset, Yokyakarta, 2006.
    Ladd, George Eldon., 1974. A Theology of the New Tastament, Grand Rapids. Edisi Indonesia dengan Judul Teologi Perjanjian Baru. 2 Jilid, diterjemahkan (1999), Penerbit Kalam Hidup : Bandung.
    Lewis, C.S., 2006. Mere Christianity. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya : Bandung
    Morris, Leon., 2006. New Testamant Theology. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
    Newman, Barclay M., 1993. Kamus Yunani – Indonesia Untuk Perjanjian Baru, terjemahkan, BPK Gunung Mulia : Jakarta.
    Pfeiffer, Charles F & Eferett F. Herrison., ed, 1962. The Wycliffe Bible Commentary. Edisi Indonesia dengan judul Tafsiran Alkitab Wycliffe Perjanjian Baru, volume 3, diterjemahkan (2004), Penerbit Gandum Mas : Malang.
    Piper, John & Justin Taylor, ed., 2005. Kingdom Sex and the Supremacy of Christ. Edisi Indonesia dengan judul Seks dan Supremasi Kristus, Terjemahan (2011), Penerbit Momentum : Jakarta.
    Prokopchak, Stave and Mary., 2009. Called Together. Destiny image, USA,. Terjemahan Indonesia (2011), Penerbit ANDI : Yogyakarta.
    Sijabat, B. Samuel, Membesarkan Anak Dengan Kreatif, Penerbit Yayasan ANDI, Yogyakarta, 2008.
    Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. diterjemahkan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
    Stassen, Glen & David Gushee., 2003. Kingdom Ethics: Following Jesus in Contemporary Contex. Edisi Indonesia dengan judul Etika Kerajaan: Mengikut Yesus dalam Konteks Masa Kini, Terjemahan (2008), Penerbit Momentum : Jakarta.
    Stamps, Donald C., ed, 1995. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan. Terj, Penerbit Gandum Mas : Malang.
    Susanto, Hasan., 2003.Perjanjian Baru Interlinier Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, jilid 1 dan 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
    Tong. Stephen., 1991. Keluarga Bahagia. Cetakan kesebelas (2010), Penerbit Momentum: Jakarta.

    Renungan Keluarga: Imamat ( 11)

    "…Akulah TUHAN Allahmu. Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir…juga janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan…Kamu harus lakukan peraturanKu…" [Imamat 18:2-4]. "Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah [Ibrani 13:4].

    Imamat pasal 18 penuh dengan peraturan-peraturan mengenai perkawinan. Semua peraturan ini diberikan Allah kepada keluarga Yakub agar ditaati. Allah melarang keluarga Yakub berbuat seperti kebiasaan orang-orang di Mesir dan Kanaan dalam hal-hal yang berkaitan dengan soal perkawinan. Jadi, keluarga Yakub memiliki tolok ukur dan peraturan yang berbeda dari bangsa-bangsa sekitarnya.

    Alasan mengapa Allah memberikan semua peraturan perkawinan ini ialah karena bangsa Israel terikat oleh suatu perjanjian dengan Allah. "Akulah TUHAN Allahmu", demikianlah pembukaan isi perjanjian antara Allah dengan keluarga Yakub di Gunung Sinai (Keluaran 20). TUHAN berhak mengatur kehidupan perkawinan bangsa Israel, karena Ia adalah Allahnya Israel.

    Demikianlah juga dengan keluarga-keluarga Kristen saat ini. Kita terikat oleh suatu perjanjian baru dengan Allah pencipta langit dan bumi, yang menyatakan diri-Nya oleh Yesus Kristus. Karenanya, Allah berhak mengatur kehidupan perkawinan kita. Salah satu peraturannya adalah, “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan…”. Penuh hormat disini berarti tidak mempermainkan atau menganggap enteng hal-hal yang berkaitan dengan perkawinan. Perkawinan Kristen merupakan perkara serius dihadapan Allah. Setiap orang yang melanggar peraturannya, akan terkena akibatnya. Secara khusus, ayat kita diatas berbicara mengenai kesucian perkawinan Kristen dengan menegaskan agar, “janganlah kamu mencemarkan tempat tidur“. Suami, dan juga isteri, dapat mencemarkan “tempat tidur”, jika “tempat tidur” sudah dikuasai hawa nafsu dan pikiran-pikiran kotor. Allah berkehendak agar kasih agape dan kasih eros yang ada diantara suami-isteri, dinyatakan dan terekspresi di “tempat tidur”.

    Ayat kita selanjutnya berkata bahwa Allah akan menghakimi, dalam arti memberikan ganjaran kepada tiap-tiap orang, baik yang menjaga kesucian “tempat tidur” maupun yang tidak. Kita melihat contoh yang menyedihkan bagaimana Ruben kehilangan hak kesulungannya karena telah melanggar kesucian tempat tidur ayahnya (Kej. 49:4). Sebaliknya, Yusuf menerima hak kesulungan, juga karena ia telah menjaga kesucian tempat tidur Potifar (I Tawarikh 5:1). Disepanjang Alkitab, maupun sejarah kekristenan, kita dapat melihat contoh-contoh bagaimana Allah menghakimi Umat-Nya berkaitan dengan kesucian “tempat tidur”. Allah akan memberi upah kepada setiap anak-anak-Nya yang menjaga kesucian tempat tidur mereka.

    Satu hal lagi yang dapat kita lihat dari ayat diatas. Kehidupan perkawinan dekat dengan kesucian tempat tidur, karena setelah Rasul berbicara mengenai menaruh hormat terhadap perkawinan, ia langsung masuk kepada perihal kesucian tempat tidur. Memang kehidupan perkawinan bukan soal tempat tidur saja, tetapi kesucian tempat tidur merupakan faktor penting dalam perkawinan Kristen.

    Renungan Keluarga: Imamat (12)

    "…Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu kudus" [Imamat 19:2]. "Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus “ [I Korintus 7:14]

    Imamat pasal 19 dimulai dengan suatu perintah agar keluarga Yakub menjadi kudus, sebab Allah yang memanggil mereka adalah kudus. Kudus artinya dipisahkan untuk suatu maksud-maksud tertentu. Jika sesuatu itu kudus, maka ia tidak dapat lagi digunakan untuk sesuatu hal yang biasa dan umum. Keluarga yang kudus bagi Allah mempunyai arti bahwa keluarga ini tidak dapat lagi dipakai untuk sesuatu yang bukan merupakan maksud-maksud Allah sendiri. Keluarga ini telah dipisahkan untuk segala sesuatu yang bersifat biasa dan umum, serta dikhususkan hanya bagi rencana Allah saja.

    Kekudusan keluarga Yakub dihadapan Allah berarti bahwa keluarga Yakub haruslah melakukan semua perintah Tuhan, baik yang bersifat ritual (upacara-upacara korban dsb), maupun yang bersifat moral ( memiliki karakter Allah ). Pada Imamat pasal 19 ini, perintah Tuhan bagi keluarga Yakub agar menjadi kudus, lebih bersifat moral dari pada ritual. Keluarga Yakub dituntut untuk menyegani ayah dan ibunya (ay. 3), menjauhi penyembahan berhala (ay. 4), memperhatikan orang miskin dan orang asing (ay. 9-10, 13), bersikap adil dalam peradilan (ay. 15), serta perintah-perintah lain yang bersifat moral. Tuhan tidak berkenan jika umatNya hanya memperhatikan aspek ritualnya saja dalam menjaga kekudusan sebagai umat pilihanNya. Orang Farisi dan ahli-ahli Taurat di zaman Tuhan Yesus gagal dalam memiliki karakter Allah, dan terjebak dalam kekudusan secara ritual saja.

    Tetapi ini bukan berarti Tuhan hanya memperhatikan aspek moral saja dalam mengungkapkan kekudusan. Bagi keluarga Yakub, mengungkapkan kekudusan baik aspek ritual maupun aspek moral, sama-sama penting. Bagaimana dengan keluarga-keluarga Kristen ? Jelas, bahwa yang terutama, keluarga Kristen haruslah bertumbuh dalam karakter Allah untuk mengungkapkan kekudusannya. Aspek ritualnya bukan diabaikan sama sekali, karena surat Korintus banyak menyinggung aspek ritual dalam ibadah Kristen, seperti peraturan dalam pertemuan ibadah, baptisan, penudungan kepala, dsb. Namun, kita harus berhati-hati jangan sampai menekankan aspek ritualnya, sehingga menghasilkan keluarga-keluarga yang tekun menjalankan ritual ibadah, tetapi tidak bertumbuh dalam karakter Allah. Aspek ritual dalam ibadah Kristen harus ditempatkan pada proporsi yang tepat.

    Ada hal menarik yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan kekudusan suatu keluarga Kristen. Dalam I Korintus 7:14 yang telah kita kutip diatas, ditegaskan bahwa seorang suami dapat menguduskan isterinya yang tidak beriman, dan sebaliknya. Bahkan, jika mereka mempunyai anak, maka anak-anak mereka adalah anak-anak yang kudus. Disini kita lihat suatu prinsip dalam keluarga, yaitu bahwa suami atau isteri sekalipun tidak beriman, namun ia dikhususkan bagi pasangannya. Dan, karena pasangannya kudus, maka suami atau isteri yang tidak beriman itu juga menjadi kudus. Jika prinsip ini dipahami dengan baik, maka wajarlah jika isteri atau suami yang beriman itu dapat dengan mudah menyelamatkan pasangannya dan membawanya mengikut Tuhan. Sangat ganjil, jika suami atau isteri hidup bersama selama puluhan tahun, namun salah satu dari mereka tetap tidak beriman. Semoga keganjilan seperti ini tidak terjadi dalam keluarga-keluarga Kristen.

    Renungan Keluarga: Imamat (13)

    “Kuduslah kamu bagiKu, sebab Aku ini, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku “[Imamat 20:26]. “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib“ [I Petrus 2:9].

    Telah kita ketahui bahwa Kudus artinya dipisahkan untuk suatu maksud-maksud tertentu. Jika sesuatu itu kudus, maka ia tidak dapat lagi digunakan untuk sesuatu hal yang biasa dan umum. Keluarga yang kudus bagi Allah mempunyai arti bahwa keluarga ini tidak dapat lagi dipakai untuk sesuatu yang bukan merupakan maksud-maksud Allah sendiri. Keluarga ini telah dipisahkan untuk segala sesuatu yang bersifat biasa dan umum, serta dikhususkan hanya bagi rencana Allah saja.

    Pada renungan yang lalu telah kita tegaskan bahwa kekudusan keluarga Yakub dihadapan Allah berarti bahwa keluarga Yakub haruslah mentaati segala perintah Allah, baik yang bersifat moral maupun yang bersifat ritual. Saat ini kita akan merenungkan sisi lain dari kekudusan keluarga Yakub, yang bermakna suatu hubungan. Artinya, keluarga Yakub disebut kudus karena ia mempunyai hubungan khusus dengan Allah. Hubungan khusus dengan Allah ini disebut hubungan perjanjian ( covenant relationship ). Allah sendiri yang telah memilih keluarga Yakub, serta memisahkannya dari bangsa-bangsa lain untuk memasuki suatu hubungan, yaitu hubungan perjanjian. Karena keluarga Yakub memasuki suatu hubungan perjanjian dengan Allah, maka keluarga Yakub sepenuhnya dimiliki Allah, seperti tertulis dalam Imamat 20:26 diatas.

    Sebagai respon atas panggilan dan pilihan Allah, maka keluarga Yakub diminta untuk mentaati segala perintah Allah. Jadi, alasan mengapa keluarga Yakub dituntut mentaati segala perintah Allah adalah karena keluarga Yakub telah memasuki suatu hubungan perjanjian dengan Allah. Keluarga Yakub diminta untuk mengabdi sepenuhnya kepada Allah semata-mata karena suatu hubungan perjanjian.

    Keluarga-keluarga Kristen saat ini juga telah memasuki suatu hubungan perjanjian dengan Allah Israel melalui darah Kristus yang tertumpah di kayu salib. Itu sebabnya keluarga Kristen juga diminta untuk mentaati dan mengabdikan dirinya hanya bagi Allah saja. Tingkat kekudusan keluarga Kristen tergantung dari sejauh mana ia mengabdikan dirinya bagi Allah.

    Secara khusus, dalam I Petrus 2:9, pengabdian keluarga Kristen bagi Allah dinyatakan melalui ketaatan dalam hal memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kita dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib. Memberitakan perbuatan-perbuatan Allah bagi keluarga kristen merupakan suatu keharusan. Kita tidak diperintahkan untuk memberitakan, ataupun mempromosikan pelayanan keluarga kita bagi Allah, tetapi fokus pemberitaan kita adalah perbuatan Allah. Pengabdian kepada Allah berarti memberitakan perbuatan Allah. Semua ini kita lakukan dengan kesadaran bahwa kita telah memiliki hubungan perjanjian dengan Allah, kita dimiliki oleh Allah, kita telah dipisahkan oleh Allah dari keluarga-keluarga lainnya. Jika kita melakukannya dengan setia, berarti kita telah mentaati firman, “Kuduslah kamu bagiKu, sebab Aku ini, TUHAN, kudus…”.

    Renungan Keluarga: Imamat (14)

    “…Berbicaralah kepada para imam, anak-anak Harun… Mereka itu harus kudus bagi Allahnya dan janganlah mereka melanggar kekudusan nama Allahnya, karena merekalah yang mempersembahkan segala korban api-apian TUHAN, santapan Allah mereka, dan karena itu haruslah mereka kudus “ [Imamat 21:1,6]. “karena setiap orang yang bercacat badannya tidak boleh datang mendekat: orang buta, orang timpang, …atau yang rusak buah pelirnya “[Imamat 21:18-20]. “Mengenai santapan Allahnya… boleh dimakannya “[Imamat 21:22].

    Keluarga Harun, dalam arti Harun dan keturunannya, telah dipilih Tuhan menjadi imam-imam. Keluarga Harun haruslah kudus, karena merekalah yang mempersembahkan segala korban api-apian Tuhan, yang adalah santapan Allah mereka.

    Pemilihan Allah atas keluarga Harun terjadi semata-mata karena kehendakNya. Bukan karena keluarga Harun telah kudus, maka Allah memilih mereka menjadi imam-imam. Tetapi, karena Allah telah memilih mereka menjadi imamNya, maka mereka diminta untuk menjadi kudus sama seperti Dia yang adalah Kudus.

    Tidak ada harga yang dibayar oleh keluarga Harun, ketika Allah memilihnya. Namun, ketika pilihan itu datang, maka ada harga yang harus dibayar untuk mendekat kepada Allah dan berfungsi sebagai imam bagiNya. Ada standard tertentu untuk datang mendekat kepada Allah. Seorang imam keturunan Harun tidak boleh bercacat badannya, tidak boleh buta, timpang, ataupun cacat lainnya. Memang mereka yang bercacat, tetap boleh memakan santapan Allahnya, tetapi mereka tidak boleh datang mendekat kepada Allah.

    Kita lihat disini bahwa ada perbedaan antara terpilih menjadi imam serta menikmati santapan Allah, dengan mendekat kepada Allah dan berfungsi sebagai imam-imam. Terpilih menjadi imam dan menikmati santapan Allah, tidak memerlukan kedewasaan apapun. Tetapi untuk berfungsi sebagai imam-imam, memerlukan kedewasaan.

    Seorang yang berfungsi sebagai imam haruslah memiliki penglihatan rohani (“tidak buta”), berjalan di jalan Tuhan ( “tidak timpang” ), berbuah banyak (“tidak rusak buah pelirnya”), dan persyaratan-persyaratan lainnya. Diperlukan disiplin Tuhan agar dapat berfungsi sebagai imam-imam Allah. Diperlukan pertumbuhan iman dan karakter Allah, agar dapat mendekat kepadaNya.

    Keluarga-keluarga Kristen perlu bertumbuh dalam penglihatan rohani agar berfungsi sebagai imam bagi Allah. Pertumbuhan dalam firman dan pewahyuan haruslah terjadi dalam setiap keluarga Kristen, yang ingin mendekat kepada Allah dan melayani-Nya sebagai imam-imam. Keluarga Kristen perlu belajar berjalan di jalan Tuhan, dan menghasilkan keluarga-keluarga lain yang juga dapat berfungsi sebagai imam.

    Seharusnya, keluarga Kristen, janganlah “bercacat badannya” sehingga hanya dapat menikmati berkat santapan Allah mereka, tetapi tidak dapat berfungsi sebagai imam-imam bagi Allah. Keluarga-keluarga Kristen yang hanya dapat menikmati “santapan Allah” yang disajikan oleh para pengkhotbah setiap minggunya, namun tidak mampu memiliki tanggung jawab pelayanan, adalah keluarga Kristen yang “bercacat badannya”. Semoga keluarga kita dapat mendekat kepada Allah, dan berfungsi sebagai imam-imam bagi kepentingan Allah.

    Renungan Keluarga: Imamat (15)

    “Katakanlah kepada Harun dan anak-anaknya, supaya mereka berlaku hati-hati terhadap persembahan-persembahan kudus yang dikuduskan orang Israel bagi-Ku, agar jangan mereka melanggar kekudusan namaKu yang kudus; Akulah Tuhan “ [ Imamat 22:2 ]. “…supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup…”[Roma 12:1]. “…marilah kita…senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namaNya “ [ Ibrani 13:15 ].

    Didalam Imamat 22:2 diatas, keluarga Harun diperintahkan agar berlaku hati-hati terhadap persembahan-persembahan kudus yang dikuduskan orang Israel bagi Tuhan. Yang dimaksud dengan berlaku hati-hati adalah agar keluarga Harun tidak memakan persembahan-persembahan yang dikuduskan orang Israel bagi Tuhan, sementara mereka dalam keadaan najis.

    Keadaan najis keluarga Harun dapat disebabkan oleh berbagai hal, misalnya, sakit kusta, mengeluarkan lelehan, kena kepada sesuatu yang najis, dan yang lainnya. Jadi, keluarga Harun haruslah dalam keadaan tahir, kemudian dapatlah mereka memakan persembahan-persembahan kudus.

    Bukan saja keluarga Harun yang dituntut untuk tahir, tetapi juga persembahan itu sendiri haruslah sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan, agar persembahan itu dapat diterima Allah. Segala sesuatu yang berkaitan dengan persembahan, haruslah memenuhi peraturan yang ada. Semuanya ini terjadi agar umat pilihanNya tidak melanggar kekudusan Nama Tuhan.

    Bagaimana dengan keluarga-keluarga Kristen saat ini ? Allah berkehendak agar keluarga kristen saat ini juga berlaku hati-hati terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan persembahan-persembahan. Berlaku hati-hati disini berarti keluarga Kristen haruslah dalam “kondisi tahir“. Keluarga Kristen haruslah dalam kondisi penuh dengan Roh Kudus. Keluarga Kristen haruslah juga dalam kondisi bertumbuh dalam karakter Kristus hari lepas hari. Keluarga Kristen haruslah berada didalam kehendak dan rencana-Nya.

    Jika keluarga Kristen berada dalam “kondisi tahir”, maka ia dapat mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup dan yang berkenan kepadaNya ( Roma 12:1 ). Inilah keluarga yang beribadah dengan sesungguhnya.

    Keluarga ini juga dapat senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namaNya. Dalam percakapan sehari-hari, nama Tuhan dipermuliakan. Tidak ada kata-kata tajam, pedas, dan yang saling melukai. Tidak ada sungut-sungut. Keluarga ini dipenuhi oleh kata-kata pujian, dan saling membangun.

    Demikian juga keluarga ini dapat mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah ( I Petrus 2:5 ). Semua ini dimungkinkan karena keluarga ini dalam “kondisi tahir”, yaitu kondisi penuh dengan Roh Kudus. Semoga keluarga kita berada dalam kondisi sedemikian.

    Sayangilah Orang Tua Kita

    Penulis : Conan

    Ada sebatang pohon mangga. Daunnya rimbun, sarat berbuah sepanjang tahun. Seorang anak kecil sangat senang bermain di pohon mangga setiap harinya. Memanjat ke puncak pohon, merayap ke dahan, dan memetik buahnya. Kemudian meluncur turun bersandar di batang pohon dan terlelap dalam kesejukan naungan daun yang rimbun. Ia mencintai pohon mangga itu dan demikian pula pohon mangga itu kepadanya.

    Waktu berlalu dengan cepatnya. Anak kecil itu tumbuh menjadi remaja. Dia tidak lagi suka bermain-main dan tentunya jarang mendatangi pohon mangga itu.

    Sampai suatu hari si remaja menghampiri pohon mangga dengan wajah muram. Pohon mangga menyambutnya dengan gembira:
    "Mari bermain seperti dahulu".
    "Saya bukan anak-anak lagi, saya sudah remaja, sudah tidak senang bermain".
    "Lalu apa masalahmu. Katakanlah, mungkin saya dapat menolongmu," pohon mangga membujuk.
    "Begini, saya ingin mempunyai kecapi yang merdu untuk menghibur kekasihku," si remaja ini mengutarakan kemusykilannya.
    "Oh, itu mudah, petiklah buahku, kemudian juallah untuk memperoleh uang. Maka engkau dapat membeli kecapi yang merdu".

    Si remaja itu bangkit semangatnya. Dipetiknya buah mangga itu sampai tak bersisa. Pohon mangga tampak gembira, karena telah mengeluarkan si remaja itu dari kesusahannya.

    Suatu hari remaja itu datang lagi ke pohon mangga. Bergembiralah pohon mangga memanggilnya untuk bermain.
    "Saya tidak punya waktu untuk bermain, saya telah dewasa, telah beristeri,"
    ujar remaja yang telah dewasa itu.
    "Lalu kesulitan apa pula, boleh jadi saya dapat menolongmu lagi," kata pohon mangga. "Begini, saya membutuhkan rumah tempat tinggal". Belum sempat pemuda dewasa itu mengakhiri kalimatnya, pohon mangga menyela:
    "O, mudah pangkaslah semua dahan, dan cabang batangku, cukuplah itu untuk mendirikan rumah. Pemuda itu lalu memangkas. Maka tinggallah pohon mangga seperti tonggak, hanya batang tanpa dahan, cabang, ranting bahkan daun. Tumbuh tidak, matipun tidak.

    Waktu berlalu, datanglah si pemuda itu ke pohon mangga yang sudah menjadi tonggak.
    "Boleh jadi inilah yang terakhir saya minta nasihat kepadamu. Saya sudah menjelang manula. Aku ingin menikmati hari tua, berlayar di danau. Bagaimana mungkin saya mendapatkan perahu,?"
    "Tebanglah batangku pada pangkalnya, buatlah perahu", kata akhir pohon mangga.

    Kini pohon mangga yang dahulu berdaun rimbun, berbuah lebat, hanya tinggal akar-akarnya saja yang tersembul sedikit di atas tanah.
    Musim dan tahun berganti. Laki-laki yang sudah tua renta itupun datang kembali. Yang diinginkannya hanya sekedar melabuhkan dirinya berbantalkan akar pohon mangga.

    Pohon mangga ibarat kedua orang tua kita. Ketika kecil kita senang bermain dengan mereka. Tatkala dewasa, kita tinggalkan beliau berdua, hanya datang bila dianggap perlu. Padahal bagaimanapun keadaan mereka, orang tua tetap akan memberikan segalanya kepada kita. Selayaknyalah kita mendoakan kedua orang tua kita

    Senyum Ibu Terakhir

    Karena merasa sangat kehilangan, saya hampir tidak merasakan kerasnya bangku gereja yang saya duduki. Saya berada di pemakaman dari sahabat terbaik saya
    ibu saya.

    Dia akhirnya mengalami kekalahan dari peperangan yang lama yaitu penyakit kanker yang dideritanya. Penderitaannya sangatlah besar, saya sering menemukannya kesulitan bernafas beberapa kali.

    Ibu selalu memberikan dukungan, ia memberikan tepuk tangan saat aku berlomba di sekolah, menyediakan tissue sambil mendengarkan saat aku patah hati, membuat aku tenang saat kematian ayah, membesarkan hati saya saat di kampus, dan selalu berdoa untuk saya sepanjang hidupku. Ketika sakit ibu didiagnosa kanker, kakak perempuan saya baru memiliki bayi dan saudara laki-laki saya baru saja melangsungkan pernikahan dengan kekasih yang merupakan teman mainnya sejak kecil. Maka saya lah yang sebagai anak tengah berumur 27 tahun yang tidak memiliki ikatan, untuk menjaganya. Saya melakukannya dengan perasaan bangga.

    "Apalagi Tuhan ?" Saya bertanya saat duduk di dalam gereja. Hidup saya seperti didalam jurang yang kosong. Saudara laki-laki saya duduk dengan memandang ke salib sambil memeluk istrinya. Saudara perempuan saya duduk sambil memangku anaknya bersama suaminya. Semua sangat sedih secara mendalam, tidak seorangpun yang memperdulikan saya duduk sendiri. Tempat saya bersama ibu, memberikan dia makan, membantu jalan, mengantar ke dokter, melihat dia berobat dan membaca alkitab bersama. Sekarang dia bersama Tuhan. Pekerjaan saya sudah selesai dan saya sendirian.

    Saya mendengar suara pintu dibuka dan kemudian tertutup dibelakang gereja. Langkah yang cepat dan tergesa-gesa melewati lantai gereja yang berkarpet. Seorang anak muda melihat sekeliling ruangan dan kemudian duduk didepan saya. Dia melipat kedua tangan dan menempatkan diatas pangkuannya. Matanya penuh dengan air mata. Kemudian dia mulai menangis tersedu-sedu.

    "Saya terlambat," dia menjelaskan, tanpa penjelasan yang penting. Setelah beberapa pujian, dia bertanya, "Mengapa mereka memanggil Mary sebagai `Margaret´ ?". "Oh", karena memang namanya Margaret, bukan Mary. Tidak ada yang memanggilnya Mary," saya berbisik. Saya ingin tahu mengapa orang ini tidak duduk di sisi lain dari gereja. Dia menghentikan waktu duka cita saya dengan air mata dan rasa gelisah. Siapa sih orang asing ini ?

    "Bukan, ini tidak benar, " dia bersikeras, beberapa pelayat yang
    lain melihat ke arah kami.
    "Namanya adalah Mary, Mary Peters."
    "Itu bukan dia, saya menjawab;"
    "Apakah ini gereja Luther ?"
    "Bukan, gereja Luther ada di seberang jalan."
    "Oh."
    "Saya rasa anda ada di pemakaman yang salah, Tuan."

    Membayangkan orang yang salah menghadiri pemakaman itu membuat saya ketawa geli, dan membuat permen karet saya keluar dari mulut. Segera saya menutup mulut dengan kedua tangan saya, supaya orang yang melihat menyangka sebagai ungkapan kesedihan saya. Kursi yang saya duduki berbunyi berderit. Pandangan yang tajam dari pelayat lain membuat situasi menjadi agak ramai. Saya mengintip orang itu sepertinya kebingungan dan ketawa kecil. Dia memutuskan untuk mengikuti acara tersebut sampai akhir, karena acara pemakaman hampir selesai.

    Saya membayangkan ibu saat ini sedang ketawa.

    Akhirnya "Amen", kami keluar dan menuju ke tempat parkir. "Saya percaya kita akan bicara lagi," dia ketawa. Dia berkata bahwa namanya Rick dan karena dia terlambat datang ke pemakaman tantenya, dia mengajak saya keluar untuk minum kopi. Malam itu menjadi sebuah perjalanan yang panjang untuk saya dan pria itu, yang datang ke pemakaman yang salah, tetapi datang ke tempat yang tepat.

    Setahun setelah pertemuan itu, kita melangsungkan pernikahan di sebuah kota, dimana dia menjadi asisten pendeta di gereja itu. Saat itu kami datang bersama di gereja yang sama dan pada waktu yang tepat.

    Pada dukacitaku, Tuhan memberikan penghiburan. Pada saat kesepian, Tuhan memberikan kasih. Bulan Juni kemarin kami merayakan ulang tahun pernikahan ke dua puluh dua. Saat orang menanyakan kepada kami bagaimana kami bertemu, Rick mengatakan kepada mereka, "Ibunya dan Tanteku Mary, mengenalkan kami berdua, dan itu sungguh terjadi di surga."

    Sumber: email ministry

    Trilogi Perkawinan Kristiani

    Penulis : Eka Darmaputera

    PEMBICARAAN mengenai Hukum ke-7 Dasa Titah, "JANGAN BERZINAH", membawa kita pada masalah PERKAWINAN. Tidak dapat tidak! Pemahaman orang tentang apa itu "berzinah", sangat tergantung pada pemahaman yang bersangkutan tentang apa itu "perkawinan". Tidak ada perkawinan, tidak ada perzinahan. Contohnya, ayam. Ayam biasa bertukar-tukar pasangan. Entah berapa kali sehari. Tapi berzinahkah ia?

    Menurut ajaran Reformasi, lembaga "perkawinan" terletak pada ranah (= realm) "Orde Penciptaan" (= Order of Creation). Apa artinya? Artinya, pertama, ialah, bahwa "perkawinan" itu diciptakan dan dikehendaki Allah, sejak awalnya Ia sudah ada dalam rancang-bangun penciptaan Allah, sejak "dari sono-nya".

    Ini berbeda dengan, misalnya, lembaga manusiawi lain yang disebut "negara". Menurut Alkitab, "negara" baru direstui Allah setelah dosa dan karena dosa ( Bnd. 1 Samuel 8:1-9). Mengatakan bahwa "perkawinan" termasuk dalam "orde penciptaan", berarti mengatakan bahwa - apa pun yang kemudian terjadi -- perkawinan itu pada hakikatnya baik, suci, diberkati.

    Kedua, mengatakan bahwa "perkawinan" termasuk dalam "orde penciptaan" , juga berarti mengatakan, bahwa ia diciptakan dan dikehendaki Allah bagi semua. Semua orang ciptaan-Nya. Tidak hanya bagi sekelompok orang tertentu.

    Implikasi teologisnya adalah, tidak hanya pernikahan orang-orang Protestan, dan yang dilakukan di gereja-gereja Protestan saja, yang bisa disebut sebagai "perkawinan". Ghozali tidak boleh dicap "berzinah" dengan Chotimah, hanya karena perkawinan mereka dilangsungkan di KUA. Ong Bun Teng tidak boleh dianggap "kumpul kebo" dengan Tjhie Sam Sioe, hanya sebab mereka menikah di kelenteng, tidak di gereja.

    * * *

    SEBUAH perkawinan adalah "sah", bila ia "sah" menurut hukum. Gereja tidak mengesahkan perkawinan. Gereja hanya "sekadar" memberkati serta meneguhkan pernikahan warganya, yang terlebih dahulu telah disahkan oleh negara.

    Konon, untuk menyungguhkan ajarannya yang terkesan "menentang arus" ini, Martin Luther dengan sengaja. hanya menikah di depan pejabat negara. Dengan itu, ia seolah-olah ingin mempermaklumkan, " Dengan ini, pernikahanku toh tidak jadi berkurang keabsahannya. Baik di hadapan Tuhan, maupun di depan manusia".

    Untuk pengetahuan Anda, keyakinan itulah yang membuat gereja-gereja Protestan di Indonesia sebenarnya mengalami kesulitan mendasar, sehubungan dengan ketentuan UU Perkawinan yang berlaku di negara kita, -- yang nota bene memang sudah kontroversial sejak awal kelahirannya. Mengapa?

    Sebab, di satu pihak, UU Perkawinan menetapkan, bahwa perkawinan harus "sah" terlebih dahulu secara agama, baru kemudian bisa "dicatat" oleh negara. Di lain pihak, ajaran Protestan mengatakan yang sebaliknya: bahwa perkawinan mesti "sah" dulu di depan negara, baru gereja dapat merestui serta meneguhkannya.

    Sebab bagaimana mungkin gereja "memberkati" sebuah perkawinan yang belum sah? Atau "meneguhkan" sebuah perkawinan yang secara resmi belum ada?

    Sedang mengabsahkannya? Ini lebih mustahil lagi! Sebab "gereja" bukanlah sebuah lembaga hukum. "Gereja" juga bukan sebuah lembaga negara. "Gereja" adalah sebuah lembaga keagamaan. Mengesahkan sebuah perkawinan, berarti merampas apa-apa yang merupakan "hak" dan "otoritas" lembaga lain, d.h.i. "negara". Dan urusan pun akan jadi lebih pelik, bila sebagai konsekuensinya, "gereja" yang harus mengabsahkan "perkawinan", harus juga menentukan keabsahan "perceraian".

    * * *

    TETAPI walaupun, seperti diuraikan di atas, "perkawinan" bersifat universal, ini sama sekali tidak berarti bahwa yang disebut "perkawinan kristiani" itu tidak ada. Perkawinan Yohanes dengan Maria bisa saja sama sahnya dengan perkawinan antara Wayan dan Ketut. Tapi juga amat berbeda!

    Perbedaan itu terletak pada asas-asasnya. Sebuah "perkawinan kristiani" bukanlah sekadar perkawinan antara dua orang kristen. Melainkan sebuah perkawinan yang dilandasi oleh prinsip-prinsip kristen. Perkawinan Yohanes dan Maria tidak serta merta adalah sebuah "perkawinan kristen". Baru bisa disebut begitu, apabila Yohanes dan Maria benar-benar menjalankan hidup bersama mereka berdasarkan "asas-asas perkawinan kristen". Karena itu penting sekali kita mengetahui karakteristik asas-asas tersebut.

    Mengenai ini, perkenankanlah saya hanya berbicara mengenai apa-apa yang saya anggap paling pokok saja. Yaitu bahwa, ibarat bemo atau bajaj yang memiliki tiga roda, sebuah perkawinan kristen juga punya tiga (= trilogi) asas pokok. Tiga asas tersebut adalah: (a) asas monogami; (b) asas kesetiaan ( = fidelitas); dan (c) asas seumur hidup (= indisolubilitas). Sebuah perkawinan kristen adalah perkawinan antara seorang suami dengan seorang istri, yang untuk seumur hidup mereka, saling mengikatkan diri dalam ikatan kasih-setia.

    Yang perlu saya tekankan adalah, bahwa yang terpenting dari karakteristik ini bukanlah masing-masing asas itu secara individual, melainkan bahwa tiga asas tersebut merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

    Ini penting saya kemukakan, karena ada orang yang dengan "licik"nya membenarkan diri dengan memanfaatkan asas-asas itu, sekali pun perbuatannya jelas-jelas merupakan pelanggaran.

    Misalnya, kasus pak Sastro Kempul. Dengan bangganya ia selalu mengatakan, betapa dengan segenap hati ia menjunjung tinggi asas monogami. "Saya tidak pernah punya istri lebih dari satu orang", katanya.

    Tapi apa yang ia lakukan? Setiap kali ia jatuh hati kepada perempuan lain, maka diceraikannyalah istri yang "satu-satu"nya itu, untuk digantikan kedudukannya oleh istri yang baru, yang juga "satu-satu"nya. Pak Kempul menjalankan asas "monogami" tapi melanggar asas "kesetiaan" dan "asas seumur hidup".

    Pak Joni Kemplu lain lagi. Ia mengklaim diri sebagai penganut prinsip "monogami" dan juga pembela asas "seumur hidup". Karena itu, katanya, "Seumur hidup saya, saya tidak akan pernah menceraikan istri saya yang satu-satunya! Swear!". Tapi ia bermain "gelap-gelapan" dengan entah berapa banyak perempuan lain.. Pak Kemplu tidak lulus tes asas yang kedua, yaitu asas "kesetiaan".

    * * *

    ADA lagi tiga komponen yang juga amat erat saling terkait, di mana "perkawinan" adalah salah satu komponennya. Inilah TRILOGI yang kedua: saling keterkaitan antara CINTA, SEKS, dan PERKAWINAN.

    Asas ini, saya akui, kini telah dianggap usang. Tak sesuai lagi dengan gaya hidup moderen. Sebab orang moderen justru cenderung memisahkan ketiganya. "Seks", misalnya, dianggap sebagai sebuah entitas yang berdiri sendiri. Boleh dinikmati sebagai "seks".

    Tanpa perlu dikait-kaitkan dengan "cinta". Dan tanpa perlu harus dihubung-hubungkan dengan "perkawinan". "Seks untuk seks".

    Di mata orang moderen, "perkawinan" juga begitu. Tidak hina, ganjil atau nista, bila seorang Hasoloan "menikah" dengan Tarida, tapi "cinta"nya untuk Kemala, sedang "seks"nya dinikmati bersama dengan Tuti dan Rini dan Evi dan Sandra.

    Lalu "cinta"? "Cinta" tentu masih ada. Lihat saja sinetron-sinetron kita - entah berapa banyak yang bertemakan "cinta"! Tapi tunggu dulu. Bila orang-orang muda sekarang berbicara tentang "cinta" - apa sebenarnya maksud mereka? Menurut kesan saya, sekarang ini padanan kata untuk "cinta" adalah: "tertarik" atau "terpikat" atau "timbul berahi", atau macam-macam lagi. Tapi yang pasti, tidak perlu terarah ke "perkawinan". Mungkin terarah ke "seks", tapi "seks" tak selalu mesti ekspresi "cinta".

    * * *

    DALAM perspektif kristiani, tiga komponen tersebut tidak boleh dipisah-pisah atau dipiliah-pilah. "Seks" dalam pandangan kristen bukanlah sesuatu yang tabu, hina dan kotor.

    Kenikmatan seksual adalah anugerah Tuhan - bahkan salah satu anugerah Tuhan yang terbesar, yang - meniru bunyi sebuah iklan -- "membuat hidup benar-benar hidup"!

    Ya! Tapi di mana letak kenikmatan seksual yang paling puncak, dan daya tarik seksual yang paling indah? Jawabnya: ketika kegiatan seksual merupakan ekspresi "cinta" dan dilaksanakan oleh suami - istri dalam konteks "perkawinan" yang berbahagia. Ini, saudara, yang benar-benar ruaaarr biasa!

    "Seks" tanpa "cinta" tentu saja bisa tetap menyenangkan dan memberi kenikmatan tersendiri.. Tapi kesenangan dan kenikmatan yang cuma menyentuh permukaan. Tidak memberi kepuasan yang mendalam.

    "Seks" di luar konteks "perkawinan" amat boleh jadi mampu memberikan suasana petualangan yang nikmat dan menegangkan. Tapi percayalah, ia pasti tidak memberi ketentraman jiwa.

    Bahkan yang lebih sering, ia melahirkan rasa bersalah yang mengganggu serta penyesalan yang panjang.

    Karena trilogi tersebut, kita menolak ide "hidup bersama" di luar pernikahan. Gaya hidup ini memisahkan "seks" dan "cinta" dari "perkawinan". Dan sebaliknya, juga karena trilogi tersebut, kita menolak dilaksanakannya "perkawinan" dengan motivasi-motivasi lain di luar cinta yang murni dan "seksualitas" yang benar. Misalnya memaksakan perkawinan untuk menutup aib atau untuk memperoleh keuntungan.

    Sumber: http://www.glorianet.org/ekadarmaputera/ekadtril.html

    Waktu Berumur

    Waktu kamu berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu ... sebagai balasannya ... kau menangis sepanjang malam.

    Waktu kamu berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan ..sebagai balasannya ... kamu kabur waktu dia memanggilmu

    Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang ... sebagai balasannya ... kamu buang piring berisi makananmu ke lantai

    Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna ... sebagai balasannya ... kamu corat coret tembokrumah dan meja makan

    Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah..sebagai balasannya ... kamu memakainya bermain di kubangan lumpur

    Waktu berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah ... sebagai balasannya ... kamu berteriak "NGGAK MAU ...!"

    Waktu berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola ... sebagai balasannya ..kamu melemparkan bola ke jendela tetangga

    Waktu berumur 8 tahun, dia memberimu es krim ... sebagai dalasannya ..kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu

    Waktu kamu berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu ..sebagai balasannya ... kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar

    Waktu kamu berumur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun ... sebagai balasannya ... kamu melompat keluar mobil tanpa memberi salam

    Waktu kamu berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan temen-temen kamu kebioskop ... sebagai balasannya ... kamu minta dia duduk di barisan lain

    Waktu kamu berumur 12 tahun, dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa ... sebagai balasannya ... kamu tunggu sampai dia keluar rumah

    Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya ..sebagai balasannya.. kamu bilang dia tidak tahu mode

    Waktu kamu berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan ... sebagai balasannya ... kamu nggak pernah menelponnya.

    Waktu kamu berumur 15 tahun, pulang kerja dia ingin memelukmu ...sebagai balasannya ... kamu kunci pintu kamarmu

    Waktu kamu berumur 16 tahun, dia mengajari kamu mengemudi mobil ...sebagai balasannya ... kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa mempedulikan kepentingannya

    Waktu kamu berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telpon yang penting .. sebagai balasannya ... kamu pakai telpon nonstop semalaman,

    waktu kamu berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA.. sebagai balasannya ... kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi

    Waktu kamu berumur 19 tahun, dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama ... sebagai balasannya ... kamu minta diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen.

    Waktu kamu berumur 20 tahun, dia bertanya "Darimana saja seharian ini?".. sebagai balasannya ... kamu menjawab "Ah, cerewet amat sih, pengen tahu urusan orang."

    Waktu kamu berumur 21 tahun, dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu ... sebagai balasannya ... kamu bilang "Aku nggak mau seperti kamu."

    Waktu kamu berumur 22 tahun, dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus perguruan tinggi ... sebagai balasanmu ... kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri

    Waktu kamu berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu ... sebagai balasannya ... kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu

    Waktu kamu berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencana di masa depan ... sebagai balasannya ... kamu mengeluh "Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu."

    Waktu kamu berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu .. sebagai balasannya ... kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

    Waktu kamu berumur 30 tahun, dia memberimu nasehat bagaimana merawat bayimu ... sebagai balasannya ... kamu katakan "Sekarang jamannya sudah beda."

    Waktu kamu berumur 40 tahun, dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah satu saudara dekatmu ... sebagai balasannya kamu jawab "Aku sibuk sekali, nggak ada waktu."

    Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu ... sebagai balasannya ... kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya

    dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang ... dan tiba-tiba kamu teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, ... dan itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan godam

    MAKA .. JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA .. BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI JIKA ORANG TUAMU SUDAH TIADA ... INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU

    Warisan yang Tuhan Haruskan

    Oleh: Sion Antonius

    Dua hari berturut-turut saya harus pergi ke sekolah anak kami. Undangan hari pertama untuk si sulung karena ada penjelasan tentang visi, misi, dan kurikulum dari sekolah. Undangan hari kedua untuk si bungsu, seminar mengenai "sex education". Untuk seminar mengenai "sex education" inilah saya ingin sedikit "share".

    Mengapa saya ingin "share" tentang seminar ini? karena dalam seminar tentang sex untuk anak, biasanya yang dibahas adalah tentang bagaimana mendidik atau mengenalkan sex kepada anak kita. Tapi pagi hari ini (31 juli 2009) pembicara tidak membawa kita ke arah tersebut, dia beralasan pembicaraan seperti itu lebih banyak hanya membahas persoalan anatomi manusia. Pembicara seminar membawa kita melihat hal yang lain ketika kita mendidik persoalan sex pada anak kita yaitu pentingnya "kehidupan yang kudus". Lebih spesial lagi sorotan utamanya adalah untuk para ayah/suami. Jadi lebih tepat yang harusnya hadir mendengarkan seminar ini adalah para ayah, sayangnya (memang pada umunnya seperti demikian) yang hadir mayoritas adalah para ibu.

    Saya menjadi beruntung karena ketidaksengajaan, istri harus pergi ke Solo karena ada acara keluarga, maka "ayah" harus hadir menggantikan ibu. Ini sebuah keberuntungan karena saya belajar beberapa hal yang penting. Apa yang saya tulis hanyalah berdasarkan dari ingatan saja, sebab pada saat seminar berlangsung sungguh saya tidak mempersiapkan diri dengan baik, sehingga tidak membawa alat tulis untuk mencatat. Namun ada hal penting yang saya ingat dengan jelas, jadi meskipun tidak lengkap saya tetap mencoba "share" hal ini, semoga yang membaca mendapat "pengertian baru" dalam membina kehidupan berkeluarga.

    PERTAMA, pembicara menekankan tentang apa yang akan diwariskan kepada anak kita. Pada umumnya yang menjadi fokus adalah mewariskan harta/kekayaan. Mayoritas orang tua ketika ditanya mengapa bekerja keras dalam mencari uang? Maka jawabnya adalah supaya ada harta yang cukup untuk diwariskan. Pemikiran seperti ini tidak salah, namun tidak cukup, karena anak bisa salah mengelola harta warisan. Hal penting yang harus diwariskan pada anak adalah kehidupan yang mengasihi Tuhan. Sebab ketika hubungan dengan Tuhan beres, maka apapun yang dilakukan oleh anak tersebut akan baik dan benar. Warisan ini perlu, sebab dengan demikian kita yakin bahwa hidupnya ada dalam pimpinan Tuhan. Supaya bisa terjadi warisan seperti ini, maka hidup kita sebagai orang tua harus menjadi teladan. Caranya menjadi teladan adalah dengan menjaga kekudusan hidup dalam perkawinan. Ketika masyarakat pada umumnya mulai menganggap normal jika suami punya "wil" dan istri punya "pil", maka soal menjaga kekudusan perkawinan menjadi masalah yang tidak mudah untuk dilakukan. Dibutuhkan sebuah komitmen yang serius untuk menjaga kekudusan ini, sebab jika orang tua tidak kudus dalam perkawinannya, kemungkinan besar anaknya mempunyai masalah dalam hal sex.

    KEDUA, pembicara menyoroti masalah seksual dari sudut kehidupan ayah, karena laki-laki lebih banyak mengalami "godaan" seksual. Laki-laki lebih mudah untuk gagal dalam masalah menjaga kekudusan hidup. Tidak berarti ibu kebal terhadap godaan seksual, namun pada umumnya ayah yang lebih banyak di luar rumah, berhubungan dengan banyak orang, maka mereka lebih rentan menghadapi godaan ini. Dengan kondisi ini pula maka ibu harus memperhatikan persoalan ini dengan bijaksana, jangan menjadi beban bagi suami tapi menjadi pendamping yang bisa mengelola rumah tangga dengan baik.

    KETIGA, di dalam keluarga untuk urusan pendidikan cenderung dilakukan oleh ibu, padahal seharusnya kendali pendidikan (dalam hal karakter dan moral) dalam keluarga adalah dalam tangan ayah. Pembicara mengungkapkan sebuah fakta yang mengerikan yaitu para pelaku kejahatan seksual 100% tidak memiliki figur ayah yang baik dalam kehidupannya. Ayah yang harus turun tangan langsung dalam mendidik, mengajarkan nilai-nilai moral tentang kebenaran dan dibantu oleh ibu. Pembicara mengilustrasikan ayah sebagai kepala sekolah dan ibu sebagai wakil kepala sekolah, ayah sering kali "keenakan" karena ada wakil jadi terus saja ibu yang mengurus pendidikan anak. Hal mendidik secara diwakilkan ini tidak boleh terjadi, sebab dalam banyak kasus bukan hanya diwakilkan oleh ibu tapi cenderung juga masalah pendidikan diserahkan kepada pihak lain yang tidak jelas kompetensinya. Ingat, anak adalah peniru yang baik, jika mereka meniru yang salah akan sulit untuk memperbaikinya.

    KEEMPAT, sebagai orang tua selalu berharap anaknya memiliki kehidupan yang benar, tapi kita lupa bahwa tuntutan hidup yang benar itu harusnya terlebih dahulu dilakukan terhadap diri sendiri. Ketika anak tidak boleh salah dalam hal seksual, maka ayah harus terlebih dahulu tidak boleh salah dalam hal seksual. Anak kita adalah peniru yang baik, ketika ayah melakukan kekerasan terhadap ibu, maka ketika besar mereka cenderung berperilaku seperti itu. Pembicara banyak mengungkapkan contoh perilaku seksual yang jelek dari ayah, langsung berdampak pada anaknya, salah satu contohnya adalah seorang ayah yang terlihat sempurna namun akhirnya diketahui oleh si istri bahwa suaminya sudah tidak menjaga kekudusan dalam perkawinannya. Ketika masalah ini diselesaikan, maka si ayah mencoba bertanya kepada anaknya tentang masalah pornografi, pada mulanya si anak mengelak tapi akhirnya mengakui dia ada masalah dalam hal pornografi. Ayahnya cukup heran karena akses internet tidak ada dalam rumah mereka, setelah ditanya lebih lanjut, anaknya mengatakan pertama kali melihat gambar porno adalah dalam komputer di kantor ayahnya. Kita lihat di sini, hidup kudus adalah di mulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

    KELIMA, soal bagaimana kita menata waktu untuk anak-anak kita. Banyak ayah lebih suka hidup dengan "dunianya". Para ayah lupa untuk membuat komunikasi yang baik dengan anak-anaknya. Padahal fokus ayah harus lebih banyak untuk berkomunikasi dengan keluarga. Jelas mencari uang itu penting untuk jaman sekarang. Hanya saja, komunikasi dan memperhatikan anak kita harus mendapat porsi yang utama dibandingkan hal-hal lainnya. Anak tidak cukup hanya ditanya keberadaannya di mana, karena sudah dibekali "handphone", tapi kita harus senantiasa berdialog secara konservatif dengan mereka, mata dengan mata, hati dengan hati, berbicara langsung untuk mengetahui perasaan, keingintahuan, apa pikiran anak. Sehingga dalam mendidik mereka kita bisa bersikap "pro aktif" bukan "reaktif". Sikap proaktif adalah sikap kita dalam menangani anak, dengan terlebih dahulu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan tindakan negatif dari anak. Kita bisa bertindak demikian jika banyak berkomunikasi dengan anak, sehingga orang tua menjadi peka dengan apa yang terjadi pada anaknya. Sedangkan sikap reaktif hanyalah sebuah sikap yang timbul karena sebuah tindakan sudah terjadi. Jika tindakan negatif yang dilakukan maka sudah terlambat untuk mencegahnya. Di sisi lainnya sikap reaktif, jika dilakukan dalam rangka mencegah sebuah tindakan maka bisa jadi itu merupakan pelarangan tanpa dasar yang kuat. Dengan kata lain sikap reaktif tidak akan menyelesaikan sebuah persoalan secara mendasar, hanya akan menyentuh bagian luar dari permasalahan.

    Demikianlah hal-hal penting yang saya ingat, sekali lagi mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya. Sebab saya tidak ingin menjadi ayah yang baik sendirian di dunia ini, namun saya ingin ada jutaan atau milyaran ayah yang baik di dunia ini sehingga masyarakat bisa diubahkan ke arah yang lebih baik.

    Yang tak Tergantikan

    Penulis : Pdt. Dr. Paul Gunadi

    Di Amerika Serikat, setiap tahunnya sekitar 28% penduduknya mengalami gangguan mental, termasuk di antaranya tujuh juta anak-anak serta remaja dan 15% hingga 25% di antaranya adalah orang tua yang berusia 65 tahun ke atas. Lebih lanjut, kira-kira 30.000 orang mengakhiri hidup mereka setiap tahunnya. berita yang dipublikasikan oleh majalah Nurse Week, Vol. 13, No.12 ini sudah tentu mencengangkan kita semua dan membuat kita bertanya, apa gerangan yang membuat begitu banyak orang di sana hidup merana.

    Saya kira jawabannya multidimensional dan kompleks; namun demikian saya berpendapat salah satu penyebabnya adalah retaknya institusi keluarga. Sebagaimana dikutip oleh David Blankenhorn dalam majalah Christianity Today pada Desember 1999, Amerika Serikat memegang angka perceraian tertinggi di dunia dan satu dari tiga anak yang lahir di sana dilahirkan oleh ibu yang tidak menikah. Pribadi yang retak berasal dari keluarga yang retak dan sebaliknya, pribadi yang retak menciptakan keluarga yang retak pula. Pada akhirnya, pribadi yang retaklah yang menjadi bagian dari statistik yang saya kutip di atas.

    Keretakan keluarga bisa bersumber dari suami, istri, atau keduanya, namun fakta yang terungkap di sana ialah 40% anak-anak tinggal di rumah di mana tidak ada ayah mereka lagi. Penyebab keretakan pernikahan pasti beragam tetapi hasilnya tetap sama yaitu hilangnya figur ayah dari keluarga. Saya mengamati di Indonesia pun masalah keluarga acap kali berhulu pada kurangnya peranan ayah dalam membesarkan anak. Terlalu lama kita-para ayah-dirantai oleh "budaya" yang mengatakan bahwa pria yang jantan adalah pria yang tidak mengurus anak. Kita menganggap memperhatikan anak merupakan tugas dan kewajiban istri sedangkan mencari nafkah adalah tugas dan kewajiban kita.

    Saya tidak berkeberatan dengan hal prioritas dan pembagian tugas di antara suami dan istri. Seyogianyalah pria bekerja untuk menghidupi keluarganya dan oleh karenanya waktu yang dapat ia bagikan dengan keluarga menjadi terbatasi pula. Akibatnya, untuk mengkompensasikan kekurangan waktu itu, ibu akan lebih berperan serta terlibat dalam membesarkan anak. Bukan ini yang menjadi keprihatinan saya. Yang menjadi keprihatinan saya adalah, bagi sebagian pria, masalah ini bukan lagi menjadi hal prioritas-yang mana harus didahulukan-melainkan sudah menjadi masalah pembagian tugas yang diyakini secara kaku. Begitu kakunya sampai-sampai kita menjadi takut dibebani "tugas" kewanitaan ini dan seakan-akan untuk menambah bukti kejantanan, kita semakin dipacu untuk lebih menjauh dari tugas membesarkan anak. Betapa kelirunya dan betapa besar dampak negatifnya pada anak-anak kita!

    Sebagian dari kita-para ayah-merasa tidak mampu menjadi ayah yang baik. Mungkin kita berdalih, "Saya tidak pernah menerima perlakuan seperti itu dari ayah saya. Dia juga jarang bercengkerama dengan saya dan dia tidak tahu apa-apa tentang saya." Saya memahami bahwa ketidaktahuan akan apa yang harus dilakukan memang merupakan perintang bagi sebagian dari kita. Kepada merekalah saya menulis artikel ini dan saya berharap, beberapa saran yang akan saya ajukan tidaklah terlalu sulit untuk diterapkan.

    Tidak Sempurna, Namun bersedia belajar

    Pertama, menjadi ayah yang baik tidak berarti menjadi ayah yang sempurna. Ayah yang baik tetap melakukan kesalahan, sama seperti ayah lainnya. Bedanya ialah, ayah yang baik mengakui kesalahannya dan mencoba memperbaikinya. Sebaliknya, ayah yang tidak baik sukar mengakui kesalahannya dan tidak peduli untuk memperbaikinya. Ada satu prinsip berkeluarga yang saya pelajari: Ternyata bukan saja anak belajar dari orangtua, orangtua pun belajar dari anak. Sebetulnya tidak terlalu susah untuk belajar dari anak. Jikalau kita bersikap terbuka kepada anak, ia pun akan merasa bebas untuk memberitahukan kita hal-hal yang perlu kita koreksi.

    Amatilah reaksinya terhadap tindakan kita. Adakalanya kemarahan kita berubah menjadi penghinaan dan teguran kita sarat dengan tuduhan yang berat sebelah. Kadang kekhawatiran kita yang berlebihan terlalu membelenggunya sehingga menghambat pertumbuhannya. Dengarlah tangisannya, kemarahannya, dan keluhannya. Semua sinyal ini membunyikan pesan yang penting untuk kita perhatikan. Evaluasilah dengan kepala dingin dan hati terbuka; jika kita keliru, akui dan kalau perlu, mintalah maaf kepada anak. Perbaiki agar kita tidak mengulang tindakan kita yang keliru itu.

    Terutama, sadarlah bahwa sebagai orangtua kita tetaplah manusia berdosa yang sama dan sangat berpotensi berbuat kesalahan. Jika kita mengakui bahwa kita tidak sempurna dalam hal-hal yang lain, mengapa justru dalam menghadapi anak, tiba-tiba kita berpikir bahwa kita tidak pernah salah? Dalih bahwa kita melakukan segalanya untuk kebaikan anak, tidak menutup kemungkinan bahwa dalam pelaksanaannya kita telah mengambil langkah yang keliru. Ayah yang baik adalah ayah yang tidak sempurna namun mau mengakui ketidaksempurnaannya dan bersedia mengubah dirinya.

    Tegas Namun Menghargai

    Kedua, ayah yang baik adalah ayah yang tegas namun menghargai perasaan anak. Firman Tuhan memberi tugas sekaligus peringatan kepada kita kaum ayah, "Dan kamu bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." (Efesus 6:4) Sebagaimana kita bisa lihat, ternyata "membangkitkan amarah anak" dikaitkan dengan "memberikan didikan kepada anak." Saya kira alasannya jelas; mendidik anak menyediakan peluang yang besar munculnya amarah di pihak anak.

    Kita mungkin masih dapat mengingat betapa tidak nyamannya menerima teguran atau bahkan pukulan dari orangtua sewaktu kita masih kecil. Apalagi jika kita merasa bahwa orangtua telah memperlakukan kita secara tidak adil. Itu sebabnya sebagai ayah kita mesti berhati-hati dengan didikan yang kita berikan kepada anak. Adakalanya kita gagal mengerti perasaan anak sehingga terlalu memaksakan kehendak dan kita tahu betapa mudahnya kita, sebagai ayah, memaksakan kehendak pada anak. Janganlah lupa untuk menempatkan diri pada posisinya dan menyelami perasaannya sebagai anak. Ayah yang gagal mengingat perasaan anak pada saat memberi didikan akan dengan mudah membangkitkan amarah anak.

    Yang menarik di sini adalah, Tuhan memberikan tugas mendidik anak bukan kepada para ibu melainkan kepada ayah. Dengan kata lain, ayah seharusnyalah terlibat dalam urusan membesarkan anak. Firman Tuhan menambahkan agar ayah mendidik anak dalam "ajaran dan nasihat Tuhan." Kata "ajaran" yang digunakan di sini berarti disiplin yang tinggi sedangkan kata "nasihat" mengacu kepada nasihat yang diberikan melalui ucapan. Dengan kata lain, ayah memang harus tegas namun tegas tidak berarti kasar atau selalu menggunakan tangan untuk memukul anak. Tuhan meminta ayah untuk mendidik anak melalui perkataan pula dan semua itu dilakukan dalam kerangka yang jelas yakni di dalam Tuhan.

    Menyediakan Waktu

    Ketiga, ayah yang baik adalah ayah mempunyai waktu untuk anak. Andaikan Anda bertanya kepada saya, bagaimanakah kita dapat mengetahui berapa besarnya kasih kita kepada seseorang, jawaban saya ialah, tanyalah, berapa banyaknya waktu yang kita berikan untuk orang itu. Dengan kata lain, kita dapat mengukur kasih kita kepada anak dengan cara mengevaluasi berapa banyak waktu yang telah kita berikan kepada anak.

    Ada hal-hal yang harus kita kerjakan dalam hidup, misalnya mencari nafkah, beribadah, atau menjalin relasi, dan semua itu menuntut waktu namun wajar. Yang tidak wajar adalah bekerja berlebihan melewati batas kebutuhan mencari nafkah; terlalu repot beraktivitas di gereja, atau terlalu sering keluar dengan teman-teman. Semua itu tidak wajar dan sudah tentu akan menyita waktu yang seyogianya kita dapat berikan untuk anak.

    Ayah yang baik adalah ayah yang memberikan waktunya untuk anak pada saat anak membutuhkannya. Adakalanya kita, sebagai ayah, baru mau mendekati anak sewaktu anak sudah beranjak dewasa. Sering kali tindakan kita ini disambut dengan dingin karena pada dasarnya api jalinan antara ayah-anak tidak pernah menyala sedikit pun. Pada masa anak membutuhkan kita untuk mengantarnya membeli keperluan sekolahnya, kita terlalu sibuk-atau letih-untuk melakukannya. Pada saat ia ingin berbicara dengan kita, wajah kita terlalu serius dan membuatnya enggan mengganggu kita. Pada waktu ia ingin bercanda dengan kita, bahasa tubuh kita mengkomunikasikan kepadanya bahwa kita sedang tidak bersenda gurau.

    Ingatlah, tidak selamanya anak membutuhkan kita dan tidak untuk seterusnya ia meminta waktu kita. Akan ada saatnya di mana ia berhenti berharap dan pada momen itu, apa pun yang kita lakukan untuk menyentuhnya tidak akan membuahkan hasil. Ikatan itu telah putus.

    Tunjukkan Minat pada Aktivitasnya

    Terakhir, ayah yang baik adalah ayah yang mempunyai minat terhadap apa yang dikerjakan oleh anak. Saya mengerti betapa mudahnya kita menjadi egois; saya kira ini merupakan salah satu kelemahan pria. Kita tidak lagi berminat pada apa yang dikerjakan oleh anak karena kita lebih terserap oleh apa yang kita kerjakan. Kadang kita berpikir bahwa dunia berputar di sekeliling kita da406etiap orang-terutama istri dan anak-harus menyesuaikan hidup mereka agar pas dengan kehidupan dan jadwal aktivitas kita.

    Bertanyalah kepada anak sejak ia kecil tentang apa yang dilakukannya. Terlibatlah dalam permainannya, perlihatkan bahwa kita tertarik dengan cerita atau permainannya. Anak akan merasa senang jika ia dapat bercerita kepada kita mengenai mainannya. bukankah kita pun merasa senang jika orang tertarik pada apa yang sedang kita kerjakan? Dan, ingatlah bahwa semua ini merupakan modal untuk kita berkomunikasi dengannya sewaktu ia memasuki masa remaja. Ia akan membuka pintu komunikasi karena sejak dahulu kita telah menjalin komunikasi dengannya. Anak tidak akan membuka pintu komunikasi kalau ia menganggap bahwa kita hanya ingin "mengecek" perbuatannya. Ia rindu agar kita sungguh-sungguh tertarik pada dirinya-apa yang disukainya dan apa yang dikerjakannya.

    Kesimpulan

    Amsal 18:19a berkata, "Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri daripada kota yang kuat." Jika saudara sendiri yang telah kita khianati sulit untuk kita menangkan, apalagi anak. Anak akan merasa dikhianati bila ia tidak memperoleh apa yang seharusnya kita berikan kepadanya yakni perhatian, didikan, kasih, dan waktu-hal-hal yang tak tergantikan. Tak tergantikan dalam pengertian tidak bisa digantikan lagi setelah lewat waktunya dan tak tergantikan dalam pengertian tidak bisa digantikan oleh benda lainnya. Diri si ayahlah yang dibutuhkan oleh anak; tidak lebih, tidak kurang.

    Sumber: Eunike