Doktrin

Artikel-artikel tentang doktrin kekristenan, termasuk di dalamnya khotbah dan pengajaran yang sesuai dengan Firman Tuhan

(Artikel lain tentang doktrin dapat dibaca di situs SOTERI)

Ajaran Alkitabiah Tentang Neraka (Biblical Doctrine About Hell)

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

“Bagaimana mungkin Tuhan penuh kasih mengirim seseorang ke neraka? Jika Tuhan itu baik, bagaimana mungkin Dia bisa begitu kejamnya menyiksa manusia di neraka? Bagaimana mungkin Tuhan yang kasih dan baik itu membuat neraka yang mengerikan itu? Tuhan tidak adil apabila menghukum dosa yang sementara itu dengan hukuman kekal?” Inilah empat pertanyaan dari banyak pertanyaan yang telah mengusik banyak orang untuk memberi tanggapan." - Samuel T. Gunawan -

PROLOG

Sebuah statistik hasil Neraka dan Surgasurvey di Amerika menampilkan persentase dari responden yang menjawab pertanyaan “apakah neraka itu ada?” sebagai berikut: 52% orang dewasa yakin bahwa neraka ada; 27% berpikir mungkin neraka itu ada. Kemudian jawaban responden untuk pertanyaan “seperti apakah neraka itu?” 48% percaya bahwa neraka adalah tempat yang benar-benar ada di mana orang-orang menderita siksaan; 46% berkata bahwa neraka lebih merupakan eksistensi dalam keadaan dukacita ketimbang tempat yang benar-benar nyata; dan 6% tidak tahu. Survey lainnya mencatat 76% orang percaya tentang adanya surga, dan hanya 6% percaya adanya neraka. Sebuah pemungutan suara oleh organisasi Gallup pada tahun 1990 melaporkan bahwa 66% dari orang-orang Protestan Amerika dan 57% orang-orang Katolik percaya akan keberadaan neraka. Sementara itu, Grant R. Jeffrey menyatakan “terlepas dari fakta bahwa kebanyakan kaum awam di banyak denominasi masih percaya akan neraka, kebanyakan teolog menunjukkan bahwa ini tidak lagi merupakan sesuatu yang benar bagi mereka. Dari para teolog yang dijajaki, 66% dari teolog Protestan dan 39 dari Katolik mengungkapkan ketidakpercayaan mereka tentang doktrin neraka”.

Memang, neraka adalah sebuah topik pembicaraan yang paradoks! Di satu pihak tidak disukai karena sifatnya yang menakutkan, mengerikan, dan dibesar-besarkan secara berlebihan. Namun di pihak lain manusia mencoba menyangkal, menolak dan rasionalisasikannya. Sementara itu, ada juga yang berpendapat bahwa neraka hanya menunjukkan sebuah keadaan pikiran dan hati manusia saja; sedangkan yang lainnya menyamakan neraka dengan kuburan di mana semua orang harus melaluinya.

Munculnya keraguan dan ketidakpercayaan tentang adanya neraka disebabkan oleh berbagai faktor. Pertama, tidak adanya cukup bukti yang mendukung adanya tempat yang disebut dengan “neraka”. Tidak seorang pun dari manusia pernah mengalami mati, pergi ke neraka dan kemudian hidup lagi dan menulis tentang pengalaman tersebut. Pemahaman seperti ini tentu saja merupakan pemahaman yang berbeda dari apa yang dikatakan oleh Alkitab, yang dengan jelas menunjukkan adanya neraka. Kedua, pengaruh abad pencerahan dan pasca pencerahan. Anthony Hoekema menjelaskan bahwa “doktrin tentang penghukuman kekal bagi orang fasik telah diajarkan dalam gereja dari sejak semula. Harry Buis, dalam Doctrine of Eternal Punisment, mengutip tulisan sejumlah bapa-bapa gereja awal untuk menunjukkan bahwa doktrin ini telah diajarkan kepada mereka. Buis menujukkan bahwa teolog-teolog abad pertengahan maupun reformasi juga percaya dan mengajarkan tentang penghukuman kekal bagi orang-orang fasik. Namun demikian, menurut Buis, sejak abad delapan belas sejumlah teolog Kristen mulai menolak doktrin penghukuman kekal. Penolakan terhadap doktrin penghukuman kekal tersebut lebih dipertegas lagi pada abad sembilan belas dan terus berlanjut hingga hari ini”. Ketiga, kesalahan dalam memahami natur (sifat) Allah yang maha pengasih dan mahabaik. Orang-orang ini berkata “jika Tuhan itu pengasih dan baik, Ia tidak akan menciptakan neraka untuk menghukum manusia”. Tampaknya, ini sangat rasional dan logis menurut pemikiran orang-orang skeptis. Hal ini disebabkan ketidaktahuan tentang satu-satunya Allah yang benar itu.

BERBAGAI PANDANGAN TENTANG NERAKA

Berbicara tentang kasih, kebaikan dan keadilan Allah dalam hubungannya dengan dosa dan kejahatan manusia, yang berakibat pada hukuman kekal di neraka, membawa manusia ke dalam percarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan klasik yang paling banyak ditanyakan dan dikomentari. Beberapa dari pertanyaan itu adalah sebagai berikut: “Bagaimana mungkin Tuhan penuh kasih mengirim seseorang ke neraka? Jika Tuhan itu baik, bagaimana mungkin Dia bisa begitu kejamnya menyiksa manusia di neraka? Bagaimana mungkin Tuhan yang kasih dan baik itu membuat neraka yang mengerikan itu? Tuhan tidak adil apabila menghukum dosa yang sementara itu dengan hukuman kekal?” Inilah adalah empat pertanyaan dari banyak pertanyaan yang telah mengusik banyak orang untuk memberi tanggapan.

Sifat manusia yang ingin mendapatkan jawaban yang pasti dari pertanyaan-pertanyaan di atas, telah menggiring manusia menerima satu atau lebih dari beberapa pandangan berikut ini:

Pertama, pandangan dari Ateisme dan Agnotisme. Ini adalah pandangan yang menolak adanya neraka dengan lebih dulu menolak eksistensi Allah. Pemazmur di zaman dahulu menuliskan “orang bebal berkata dalam hatinya: tidak ada Allah”. Selanjutnya Pemazmur mengatakan “busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik” (Mazmur 14:1). Inilah alasan mengapa manusia menolak eksistensi Allah, manusia ingin melarikan diri dari tanggung jawabnya kepada Allah dengan cara menolak keberadaan Allah yang kepadaNya mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.

Kedua, pandangan Universalisme. Pandangan ini mengajarkan neraka dan penghukuman kekal tidak sesuai dengan sifat kasih dan kemahakuasaan Tuhan. Pandangan ini mengajarkan bahwa pada akhirnya semua orang akan diselamatkan. Pandangan dari universalisme klasik mengajarkan bahwa orang-orang yang telah hidup dengan tidak bertanggung jawab akan dihukum segera setelah kematian, tetapi tidak seorang pun akan dihukum secara kekal. Dengan kata lain, penghukuman tersebut bersifat sementara sambil menanti datangnya keselamatan. Sedangkan Neo Universalisme mengajarkan bawa semua orang saat ini diselamatkan, meskipun semuanya tidak menyadari hal itu.

Ketiga, pandangan Anihilisme. Pandangan ini mengajarkan bahwa hukuman kekal sebagai pemusnahan akhir. Pandangan ini muncul dalam dua bentuk yaitu imortalisme dan mortalisme. Pandangan imortalisme mengajarkan bahwa manusia pada hakikatnya diciptakan sebagai mahluk yang tidak dapat binasa atau abadi (imortalitas), akan tetapi mereka yang yang terus hidup di dalam dosa akan menjadi tidak kekal dan karena itu akan dianihilisasi atau ditiadakan. Pandangan mortalisme mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya diciptakan sebagai mahluk yang tidak kekal atau fana (mortalitas). Mereka yang percaya menerima kekekalan sebagai anugerah dan karenanya akan terus ada secara kekal di dalam kondisi yang penuh berkat setelah kematiannya; sedangkan mereka yang tidak percaya tidak akan menerima anugerah tersebut dan kerenanya akan tetap dalam kondisi tidak kekal (fana), atau dengan kata lain kematian akan menjadikan mereka tidak ada (anihilisasi). Imortalisme dan mortalisme sama-sama mengajarkan anihilisasi (keadaan tidak ada), karenannya menyangkali ajaran tentang hukuman kekal atau neraka.

Keempat, pandangan Konservatif. Pandangan ini mengajarkan bahwa upah dosa karena keberadaan kita sekarang adalah maut (Roma 6:23). Hukuman terakhir yang akan diberikan kepada orang yang tidak selamat yang mengalami kematian pertama adalah kematian kedua (Wahyu 20:14). Pelaksanaan hukuman bagi orang yang tidak percaya sebagai hasil penghakiman di tahta Putih adalah dilemparkannya mereka ke dalam lautan api atau neraka (Wahyu 20:11-15). Lamanya hukuman itu akan selama-lamanya (kekal). Inilah pandangan Alkitabiah dari kaum Injili.

PEMIKIRAN DASAR MENGENAI NERAKA

Sebelum lebih jauh membahas perspektif Alkitab tentang neraka, perlu diperhatikan pemikiran-pemikiran mendasar sebagai berikut:

Pertama, neraka dapat didefinisikan sebagai tempat orang-orang yang hidup tanpa Tuhan dan yang matinya terpisah dari Tuhan untuk selama-lamanya.

Kedua, neraka bukanlah sebuah ilusi melainkan suatu tempat yang nyata. Walaupun tidak ada yang tahu persis letak neraka, hal ini tidak menjadikan neraka sebagai sesuatu yang abstrak, tidak nyata, atau khayalan belaka.

Ketiga, satu-satunya sumber informasi yang benar tentang neraka adalah Tuhan sendiri. Karena Ia adalah satu-satunya Pribadi yang benar secara absolut dan dapat dipercaya. Ia telah menyatakannya melalui Alkitab, dan dengan demikian Alkitab dipandang sebagai kebenaran yang mutlak (absolut). Alkitab memberikan pandangan Tuhan tentang neraka, walau pun Ia tidak memberikan deskripsinya secara lengkap, tetapi fakta-fakta yang ada di Alkitab sudah cukup bagi kita untuk mengerti betapa mengerikannya neraka.

Keempat, pada waktu Tuhan mencipta, semua yang diciptakannya itu baik, bahkan sungguh amat baik (Kejadian 1:12, Kejadian 18,Kejadian 21, Kejadian 25, Kejadian 31). Tidak ada dosa, tidak ada kejahatan, tidak ada rasa sakit, tidak ada kematian, dan tidak ada neraka. Salah satu hal baik yang diciptakan Tuhan adalah bahwa mahkluk ciptaanNya memiliki kebebasan untuk memilih yang baik. Agar mereka benar-benar memiliki pilihan, Allah harus mengijinkan sesuatu yang berbeda dengan yang baik supaya bisa ada pilihan. Karena itu Tuhan mengijinkan para malaikat dan manusia untuk memilih yang baik atau yang tidak baik (jahat). Manusia dan malaikat yang jatuh menggunakan pilihan bebas yang diberikan Allah itu untuk memberontak terhadap Tuhan dan menginginkah hidup yang terpisah dari Tuhan. Dan, satu-satunya tempat yang sudah Tuhan sediakan untuk terpisah dari Dia selama-lamanya adalah neraka.

Kelima, dalam relasi antara Tuhan, manusia, dan neraka, Alkitab menyajikan dua fakta berikut ini. Fakta pertama, bahwa Allah sepenuhnya benar. Paulus menegaskan “...Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis: "Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi." (Roma 3:4). Fakta kedua, bahwa natur (sifat) manusia itu berdosa dan patut mendapatkan hukuman Allah. Paulus menegaskan “seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak” (Roma 3:10-12). Selanjutnya Paulus menegaskan “Sebab upah dosa ialah maut” (Roma 6:23).

RINGKASAN PANDANGAN ALKITABIAH TENTANG NERAKA

Sekedar mengingatkan kembali, bahwa kita perlu berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan dengan cara menafsirkan bagian-bagian tertentu dari Alkitab dengan metode hermeneutik yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Juga tidaklah bijaksana memasukan atau memaksakan pendapat dari luar Alkitab dengan bukti Alkitabiah yang tidak dapat dijamin kebenarannya. Kadang-kadang hal ini didorong oleh keinginan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dijawab oleh Alkitab.

Alkitab memberikan pandangan Tuhan tentang neraka, walau pun Ia tidak memberikan deskripsinya secara lengkap, tetapi fakta-fakta yang ada di Alkitab sudah cukup bagi kita untuk mengerti betapa mengerikannya neraka. Karena itu saat mempelajari pandangan Alkitab tentang neraka (biblical view about hell) ini, kita perlu memperhatikan fakta-fakta sebagai berikut.

Fakta 1. Neraka adalah suatu tempat yang benar-benar ada. Neraka bukanlah sebuah ilusi melainkan suatu tempat yang nyata. Walaupun tidak ada yang tahu persis letak neraka, hal ini tidak menjadikan neraka sebagai sesuatu yang abstrak, tidak nyata, atau khayalan belaka. Dua bukti yang mendukung fakta adanya neraka adalah: Pertama, Yesus berbicara dan mengajar tentang neraka. Tony Evans mengatakan, “bahkan Yesus sendiri lebih banyak berbicara tentang neraka ketimbang sorga atau kasih”. Sebelas dari dua belas kali kata gehenna (neraka) diucapkan oleh Yesus dan dicatat dalam Perjanjian Baru. Bahwa Kristus berbicara lebih banyak tentang neraka lebih dari semua tokoh lainnya dalam Alkitab menunjukkan kepada kita betapa penting dan seriusnya hal neraka ini. Kedua, adanya kematian manusia menunjukkan bahwa neraka itu ada. Penulis kitab Ibrani mengatakan “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi” (Ibrani 9:27). Kematian ada sebagai akibat dari dosa (Roma 6:23). Upah yang pantas bagi manusia yang berdosa adalah neraka. Kematian itu nyata, dan setiap orang pasti mati. Tony Evans meringkaskan “kematian jasmani yang dapat dilihat dan bersifat sementara itu adalah suatu kesaksian bagi kita mengenai hal-hal yang tak terlihat kenyataan kekal dari apa yang Alkitab sebut sebagai kematian kedua (Wahyu 20:14), atau neraka”.

Fakta 2. Neraka adalah tempat penghukuman akhir. Sebelum menuju ke neraka atau surga orang-orang yang mati berada ditempat penampungan atau masa antara (intermediate state). Semua orang mati pada masa Perjanjian Lama, baik orang-orang percaya maupun yang tidak percaya, akan pergi ke tempat yang disebut sheol atau hades. Contohnya, Kejadian 37:35; Ayub 14:13; Ayub 17:13; Mazmur 88:4; Yesaya 38:10 menunjukk pada orang-orang percaya yang hidup di masa Perjanjian Lama yang saat mati pergi (turun) menuju hades atau sheol. Sedangkan contoh untuk orang fasik yang tidak percaya yang juga masuk ke hades atau sheol dapat dilihat dari ayat-ayat di dalam Ayub 17:13, Mazmur 31:8; Mazmur 49:15. Sheol atau hades ini bukanlah surga dan bukan juga neraka, tetapi tempat penampungan sementara orang-orang yang telah meninggal. Lokasi dari sheol atau hades ini berada di pusat atau inti bumi (Bilangan 16:33; Efesus 4:9).

Bagaimana dengan Lazarus (yang di pangkuan Abraham) dan orang kaya yang disiksa dalam Lukas 16:22-31 Ada yang beranggapan bahwa “Pangkuan Abraham” adalah surga, sedangkan tempat siksaan orang kaya itu adalah neraka. Hal ini tidak benar! Lazarus dan Abraham bukan berada disurga tetapi di hades atau sheol. Lokasi yang sama dengan orang kaya tersebut. Tetapi mereka dipisahkan oleh “jurang yang dalam” yang mustahil dapat diseberangi (ayat 26). Yang satu disebut “Pangkuan Abraham”, yang lainnya disebut “tempat siksaan atau alam maut” (Ayat 24, 25, 28). Pangkuan Abraham ini disebut juga firdaus. Ketika Yesus mati Ia menuju firdaus bersama-sama dengan pencuri yang disalibkan disebelah kananNya, yang percaya kepadaNya. (Lukas 23:43; Efesus 4:8; 1 Petrus 3:19-20). Setelah kebangkitanNya Ia membawa mereka dan firdaus itu ke surga (di atas).

Lalu, bagaimana keadaan orang-orang mati yang hidup pada masa Perjanjian Baru, yaitu masa setelah kebangkitan Kristus dan masa Gereja? Alkitab menunjukkan bahwa orang-orang percaya pergi ke firdaus dan langsung naik diangkat ke surga (2 Korintus 5:8; 2 Korintus 12:2-4; Filipi 12:30). Sedangkan orang-orang yang tidak percaya tetap pergi ke sheol atau hades, untuk disiksa sambil menunggu kebangkitan kedua, yaitu penghukuman kekal (neraka/gehenna).

Fakta 3. Neraka itu bersifat kekal. Fakta penting berikutnya tentang neraka menurut Alkitab adalah sifat neraka yang kekal atau abadi (Matius 25:26). Kata Yunani untuk “kekal” adalah aionios. Kata aionios ini disebutkan sebanyak 66 kali dalam Perjanjian Baru. 51 kali kata ini digunakan dalam hubungannya dengan kebahagiaan mereka yang selamat di sorga. Kata ini digunakan baik untuk kualitas dan kuantitas kehidupan yang akan dialami orang-orang percaya bersama Tuhan. Kata ini digunakan 2 kali dalam hubungan dengan durasi Tuhan dalam kemuliaanNya. 6 kali kata ini digunakan dalam suatu cara yang demikian sehingga tak seorang pun ragu bahwa itu bermakna selamanya. 7 kali lainnya kata ini disebutkan dalam hubungan dengan nasib orang-orang fasik atau disebutkan berkaitan langsung dengan neraka. Hal ini menunjukkan bahwa neraka akan ada selama-lamanya, tanpa akhir atau kekal. Salah satu rujukan paling jelas dalam Perjanjian Baru pada kekekalan hukuman di neraka adalah Wahyu 14:10-11: “maka ia akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba. Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya”. Jadi, neraka adalah satu-satunya tempat selain surga untuk menghabiskan kekekalan, dengan kata lain, hanya ada dua tempat yang dituju setelah kematian, yaitu surga atau neraka. Tidak ada pilihan alternatif! Saat ini keduanya masih merupakan satu-satunya pilihan.

Fakta 4. Neraka pada mulanya disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikat yang jatuh. Neraka pada mulanya diciptakan bukan untuk manusia, tetapi merupakan tempat pembuangan dan hukuman kekal bagi Iblis dan malaikat-malaikat pengikutnya yang bergabung dalam pemberontakan terhadap Tuhan di surga. Yesaya 14:12 menyingkapkan rencana kudeta dan pemberontakan Iblis terhadap Tuhan Sang Pencipta. Iblis memilih untuk menempatkan dirinya sebagai musuh Allah dalam pemberontakannya melawan Allah.

Bagaimana mungkin mahluk ciptaan dapat melawan PenciptaNya? Buktinya, Iblis dan malaikat-malaikat yang menjadi setan-setan gagal dalam pemberontakan melawan Tuhan. Sebagai konsekuensinya, maka Allah menyediakan suatu tempat hukuman yang akan mengingatkan mereka selama-lamanya akan akibat dari pemberontakan rohani mereka. Alkitab mengatakan “Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya” (Matius 25:41).

Walau tujuan neraka diciptakan bukan untuk manusia, namun orang-orang yang memiliki pilihan yang sama dengan Iblis akan menderita hukuman yang sama. Sebagaimana kita harus memilih Kristus dan surga, orang-orang berdosa yang tidak mau bertobat juga akan masuk ke neraka atas pilihannya sendiri bukan karena kebetulan.

Fakta 5. Neraka adalah tempat siksaan dan penderitaan. Kengerian dari keberadaan neraka ini dijelasakan oleh Alkitab sebagai berikut: Pertama, di neraka akan ada kesadaran dan ingatan. Dalam Lukas 16:19-21, si orang kaya segera tahu di mana ia berada. Juga ia ingat akan identitasnya dulu sewaktu ia masih hidup di dunia, dan juga ingatan akan Lazarus, dan lima saudaranya yang lain. Kedua, bagian terburuk dari neraka adalah bahwa di sana akan ada siksaan dan penderitaan. Orang kaya itu berkata “saya menderita dalam nyala api ini” (Lukas 16:24) karena nyala api ini ia meresa dahaga hebat yang tak terpuaskan. Selanjutnya, si orang kaya ini mendeskripsikan hades sebagai “tempat siksaan ini” (Lukas 16:28; bandingkan Wahyu 14:10-11). Ketiga, bentuk kengerian lain di neraka adalah adanya ulat (belatung) yang tidak akan mati dan api yang tak terpadamkan (Matius 13:41-42; Markus 9:47-48). Keempat, di neraka akan ada kesengsaraan, amarah dan frustasi sebagaimana diungkapkan dengan kalimat “Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi” (Matius 13:42). Kelima, Alkitab mengajarkan adanya tingkat-tingkat hukuman di neraka, berdasarkan banyaknya dan sifat dosa yang mereka lakukan dan penolakan terhadap Tuhan dan karyaNya. (Matius 10:15; 11:21-23). Semua ini menggambarkan betapa ngerinya neraka!

Fakta 6. Neraka adalah tempat yang tertutup tanpa ada jalan keluar. Tidak ada yang dapat mengubah nasib seseorang setelah kematian. Tidak ada seorangpun yang bisa kabur dari neraka, dengan alasan apapun. Tidak ada purgatory, tidak ada kesempatan kedua, tidak ada keringanan hukuman karena kelakuan baik, dan tidak ada kelulusan. Seperti kata pepatah “seperti kematian menemukan kita, kekekalan menahan kita”. Neraka adalah kenyataan (kebenaran) yang terlambat dilihat. Begitu seseorang melihat dan masuk kedalamnya setelah kematian jasmani, ia tidak akan dapat kembali lagi. Alkitab mengajarkan kita kenyataan bahwa, yang terhilang tidak akan pernah pergi ke surga, dan yang selamat tidak akan pernah pergi ke neraka (Matius 25:42: Bandingkan Lukas 16:26).

Fakta 7. Neraka adalah terpisah dari Allah untuk selama-lamanya. Sebagaimana telah disebutkan di dalam pemikiran dasar diatas, pada waktu Tuhan mencipta, semua yang diciptakannya itu baik, bahkan sungguh amat baik (Kejadian 1:12,18,21,25,31). Tidak ada dosa, tidak ada kejahatan, tidak ada rasa sakit, tidak ada kematian, dan tidak ada neraka. Salah satu hal baik yang diciptakan Tuhan adalah bahwa mahkluk ciptaanNya memiliki kebebasan untuk memilih yang baik. Agar mereka benar-benar memiliki pilihan, Allah harus mengijinkan sesuatu yang berbeda dengan yang baik supaya bisa ada pilihan. Karena itu Allah mengijinkan para malaikat dan manusia untuk memilih yang baik atau yang tidak baik (jahat). Manusia dan malaikat yang jatuh menggunakan pilihan bebas yang diberikan Allah itu untuk memberontak terhadap Tuhan dan menginginkah hidup yang terpisah dari Tuhan. Dengan kata lain sebagaimana yang ditegaskan oleh Norman I. Gleiser dan Jeff Y. Amanu “Allah menciptkan fakta kebebasan, manusia melakukan tindakan bebas tersebut; ciptaan membuatnya menjadi aktual”. Manusia bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya (baca Kejadian pasal 1-3). Satu-satunya tempat yang sudah Tuhan sediakan untuk pilihan manusia yang ingin terpisah dari Dia adalah neraka, yaitu tempat terpisah dari Allah selama-lanmanya. Ini adalah tindakan keadilan dari Allah yang penuh kasih.

Pertanyaannya: siapakah yang akan masuk neraka atau gehenna? Alkitab menyebutkan berikut ini urut-urutan mereka yang akan dilemparkan ke dalam gehenna, yaitu: Binatang dan Nabi Palsu (Wahyu 19:20); Iblis (Wahyu 20:10); Maut dan Kerajaan Maut (Wahyu 20:14); Orang-orang fasik yang namanya tidak tercatat dalam Kitab Kehidupan (Wahyu 20:15), yaitu orang berdosa dalam 8 kategori umum dalam Wahyu 21:8 “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua”.

EPILOG

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan dan diberikan saran sebagai berikut: Pertama, pemikiran dasar dan fakta-fakta Alkitab di atas menegaskan kepada kita bahwa sesungguhnya tidak ada alasan bagi seseorang untuk menyalahkan Tuhan sebagai pribadi yang kejam, tidak adil, apalagi jahat. Lee Strobel mengatakan ”Neraka bukanlah tempat di mana orang-orang ditempatkan karena mereka orang-orang bodoh, tetapi karena mereka tidak mau mempercayai hal-hal yang benar. Mereka ditempatkan disana karena, pertama dan terutama menentang Pencipta mereka.... ingin menjadi pusat dari alam semesta, dan yang bersikeras mempertahankan sikap memberontak dan mNerakaenentang Allah.

Kedua, Tuhan menghadapkan kepada manusia dua macam kekekalan yaitu surga atau neraka. Demikian pula ada dua pribadi yang disembah oleh manusia yaitu Yesus Kristus atau iblis. Tidak ada alternatif, tempat netral atau pilihan ketiga. Setiap orang harus memilih salah satu, Kristus atau iblis, surga atau neraka. Jikalau seseorang memilih Kristus maka pasti ia akan masuk surga, Karena Yesus berkata “Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup, tidak seorangpun sampai kepada Bapa jikalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6-7) Dan lagi “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum” (Markus 16:15-16). Jika seseorang memilih Iblis maka pasti ia akan masuk neraka. Setiap orang yang menolak Tuhan Yesus Kristus berarti memilih iblis, entah disadarinya atau tidak.

Ketiga, kita tidak dapat memprediksi kapan kita mati. Masalah kematian merupakan misteri yang penuh dengan berbagai teka-teki yang membingungkan. Tidak ada seorangpun yang tahu kapan kematian itu akan datang menjemputnya. Tidak ada seorang pun yang tahu pasti berapa panjang usianya di dunia ini. Bila kita melakukan riset singkat ke kuburan, dan mencatat usia mereka yang meniggal, pastilah kita akan menemukan berbagai jenis usia, mulai dari bayi, anak kecil, remaja, pemuda, dewasa, dan orang tua yang usianya mungkin mencapai 100 tahun sesungguhnya kita tidak bisa mengukur atau menebak berapa usia seseorang. Statistik dunia memberitahukan kita bahwa setiap dua setengah detik, ada seorang manusia yang meninggal dunia. Sekali lagi, semua fakta memberikan kita teka-teki tentang misteri kematian, sekaligus memberikan tanda peringatan agar kita bersiap-siap menghadapi kematian bila datang menjemput. Pilihan-pilihan dalam hidup kita sekarang ini akan menentukan kemana kita akan pergi setelah kematian.

Keempat, ajaran tentang neraka ini seharusnya mendorong kita untuk lebih meyakinkan orang supaya datang kepada Kristus Sang Juruselamat untuk menerima hidup kekal. Kematian Kristus adalah untuk kebaikan umat manusia dan Allah tidak membatasi siapapun dalam penyediaan kematianNya. Merupakan belas kasih Tuhan agar semua orang diselamatkan (2 Petrus 2:9). Dalam penyediaanNya, Allah memberikan kesempatan yang sama untuk semua manusia (Yohanes 3:16; Roma 10:34; 2 Kor 5:15; 1 Timotius 2:4; Ibrani 2:9). Tuhan telah menyediakan keselamatan untuk semua orang dan Roh Kudus meyakinkan manusia agar menerima keselamatan. Walaupun demikian, Alkitab juga mengajarkan bahwa tidak semua orang akan diselamatkan. Hal ini terjadi karena penolakan dan ketidakpercayaan kepada Kristus (Yohanes 5:10; 2 Korintus 5:18-20; Titus 2:11).

Jelaslah bahwa keputusan untuk menerima atau menolak Kristus adalah tanggung jawab manusia. Menolak Kristus berarti tidak diselamatkan. Jadi apabila seseorang tidak menerima keselamatan, dalam hal ini Allah tidak dapat dipersalahkan. Persediaan keselamatan cukup untuk semua manusia. Sebagimana mana yang ditegaskan oleh Kevin J. Conner “Allah tidak meluputkan seorang pun dalam penentuan belas kasihanNya. Allah tidak ingin semua orang binasa. Tidak seorang pun akan dilemparkan ke neraka karena kristus tidak mati bagi mereka, tetapi karena mereka menolak tawaran Allah akan keselamatan di dalam Kristus”.

DAFTAR REFERENSI

Daftar berikut ini adalah buku terpilih oleh penulis dengan pertimbangan bahwa buku-buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kecuali buku Wayne Grudem, Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Berdasarkan pertimbangan di atas tidaklah sulit untuk mendapatkan buku-buku tersebut di toko buku Kristen atau penerbit buku. Selanjutnya, di dalam buku-buku tersebut terdapat referensi lanjutan sesuai dengan rujukan para penulis buku tersebut.

Conner, Kevin J, 2004. A Practical Guide To Christian Belief, terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.

Cornish, Rick., 2007. Five Minute Theologian. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya : Bandung.

_______________., 2007. Five Minute Apologist. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya : Bandung.

Enns, Paul., 2004.The Moody Handbook of Theology, jilid 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.

Evans, Tony., 2002. The Best Is Yet To Come. Terjemahan, Penerbit Gospel Press : Batam.

Erickson, Millard J., 2003. Christian theology. Jilid 3. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.

Fances, Eddy., 2005. Murid Yesus. Jilid 1. Terjemahan, Penerbit Yayasan Sinar Nusantara: Jakarta.

Ferguson, B. Sinclair, David F. Wright, J.I. Packer., 2009. New Dictionary Of Theology. jilid 2, terjemahkan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.

Grudem, Wayne., 1994. Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Zodervan Publising House : Grand Rapids, Michigan.

Hitchcock, Mark., 2002. Bible Prophecy. Terjemahkan, Penerbit Gospel Press : Batam.

Hoekema, Anthony A., 2009. The Bible and The Future. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.

Jeffrey, Grant. R., 2001. Journey Into Eternity. Terjemahan, Penerbit Yayasan Pekabaran Injil Immanuel : Jakarta.

Pandensolang, Welly., 2004. Eskatologi Biblika. Penerbit Andi Offset: Yoyakarta.

Ryrie, Charles C., 1991. Basic Theology. Jilid 2, Terjemahan, Penerbit Andi Offset : Yoyakarta.

Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.

Strobel, Lee., 2005. The Case For Faith. Terjemahan, Penerbit Gospel Press : Batam.

Tabb, Mark, ed., 2011. Theology. Terjemahan, Penerbit Yayasan Gloria : Yogyakarta.

Thiessen, Henry C., 1992. Lectures in Systematic Theology, direvisi Vernon D. Doerksen. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.

Wiese, Bill., 2009. Hell. Terjemahan, Penerbit Light Publising : Jakarta.

Willmington, H.L., 2003. The King Is Coming. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.

Ajaran Tentang Pemilihan (The Doctrine Of Election)

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya”  - Efesus 1:4 -

PENDAHULUAN

Teolog Charles C. Ryrie mengatakan “ajaran tentang pemilihan merupakan salah satu dasar dalam keselamatan, meskipun bukan satu-satunya. Ajaran-ajaran lainnya seperti kematian Kristus, iman, kelahiran kembali, dan anugerah yang menyelamatkan juga disebut dasar-dasar. Semua hal itu adalah perlu untuk melaksanakan rencana Allah bagi keselamatan manusia”.1 Jadi, menurut Ryrie ajaran ini juga penting seperti ajaran-ajaran dasar lainnya.

Saat mempelajari doktrin tentang pemilihan ini kita perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut. Pertama,  ajaran tentang pemilihan sebagaimana beberapa ajaran dasar lainnya (misalnya, seperti doktrin trinitas) mengandung misteri. Rick Cornish menyatakan “kita tidak mengetahui mengapa Ia memilih siapa yang dipilihnya atau mengapa Ia memilih sebagian dan bukan semuanya... Pengajaran itu meninggalkan cukup misteri...”.2  Sementara itu Millard J. Erickson menyatatakan bahwa “Dari semua pokok doktrinal iman Kristen, pastilah yang termasuk paling memusingkan dan paling tidak dimengerti adalah doktrin predistinasi ini”. 3

Kedua, ajaran tentang pemilihan ini bagaimana pun rumitnya adalah ajaran Alkitab. Perhatikanlah ayat-ayat berikut ini. Rasul Yohanes menulis “tidak ada seorang pun yang dapat datang kepadaku jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa” (Yohanes 6:44). Selanjutnya Yohanes mencatat perkataan Yesus “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yohanes 15:16). Rasul Paulus mengatakan  “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Roma 8:29-20). Dan kepada jemaat di Efesus Paulus menulis “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya” (Efesus 1:4-6). Dari ayat-ayat di tersebut terlihat bahwa pemilihan memang jelaslah diajarkan oleh Alkitab.

Ketiga, ajaran tentang pemilihan walaupun sulit dan mengandung misteri tidak membebaskan kita untuk mempelajari dan menelitinya. Karena ajaran ini merupakan ajaran alkitabiah kita tidak boleh menghindarinya; tetapi sebagaimana yang dikatakan oleh R.C. Sproul perlu “penanganan dengan sangat hati-hati dan teliti”.4 Apa yang dinyatakan sproul tersebut sesuai dengan Wesminster Confession yang menyatakan bahwa “Doktrin misteri predestinasi yang agung ini haruslah ditangani dengan kebijaksanaan dan ketelitian khusus, sehingga orang-orang, yang memperhatikan khenedak Allah yang dinyatakan di dalam firmanNya ini, dan yang menatinya, bisa beroleh keyakinan mengenai pilihan kekal atas mereka dari panggilan efektif ini”.5

HUBUNGAN KETETAPAN TUHAN DENGAN PEMILIHAN

Istilah “pemilihan” kadangkala disamakan atau dipertukartempatkan dengan istilah “predestinasi”. Karena itu perlu bagi kita untuk memahami dengan jelas perbedaan dan hubungan antara keduanya dengan ketetapan Tuhan.

Sebagaimana telah saya jelas dalam artikel “Ajaran Tentang Ketetapan Tuhan” bahwa, para teolog membagi ketetapan Allah (Devine decree) ke dalam empat ketetapan besar (four decrees of God), yaitu: ketetapan mencipta, ketetapan mengijinkan dosa, ketetapan menyediakan keselamatan, dan ketetapan memilih.

Perhatikan istilah berikut ini: Prothesis, diterjemahkan dengan kata rencana, ketetapan, dan maksud (Roma 8:28; 9:11; Efesus 1:9,11; 3:11; 2 Timotius 1:9). Proorizo, diterjemahkan dengan menentukan dari semula, menetapkan sebelumnya, dan predestinasi (Roma 8:29-30; Efesus 1:5,11; KPR 4:28; 1 Korintus 2:7). Tasso, diterjemahkan dengan tentukan atau tetapkan (Roma 13:1; Efesus 1:11). Proginosko dan Prognosis, diterjemahkan dengan rencana, pilih, atau  mengetahui sebelumnya dan pengetahuan sebelumnya (KPR 2:23; Roma 8:29; 11:2; 1 Petrus 1:2,20). Boule, diterjemahkan dengan rencana, kehendak, maksud, keputusan (KPR 2:23; 4:28;  20:27; Ibrani 6:17).6

Istilah-istilah dan ayat-ayat di atas memiliki ide merencanakan, menentukan sebelumnya, mengetahui sebelumnya, membatasi, dan menghendaki. Ini semua menunjukkan bahwa menurut Alkitab tidak ada apa pun yang terjadi begitu saja, tetapi bahwa semua itu merupakan bagian dari ketetapan Tuhan (Devine degree) yang kekal. Ketetapan Tuhan adalah rencana-rencana-Nya bagi segala sesuatu. Menetapkan atau menentukan sebelumnya adalah konsep-konsep teologis yang searti. Dengan demikian predistinasi dan pemilihan adalah bagian dari ketetapan Tuhan. Predestinasi adalah  ketetapan atau penentuan sejak kekekalan yang berhubungan dengan keselamatan atau kebinasaan kekal; sedangkan pemilihan adalah ketetapan atau penentuan sejak kekekalan sebagian orang untuk diselamatkan. Millard J. Erickson meringkasnya demikian, “Predestinasi merujuk kepada pemilihan Allah terhadap orang-orang tertentu untuk mengalami kehidupan kekal atau kematian kekal. Pemilihan adalah seleksi beberapa beberapa orang tertentu untuk hidup kekal, yaitu sisi positif dari predestinasi”. 7

DEFINISI PEMILIHAN

Louis Berkhof mendefinisikan pemilihan sebagai “tindakan kekal Allah dimana Ia dalam kesukaan kedaulatanNya dan tanpa memperhitungkan jasa atau kebaikan manusia memilih sejumlah orang untuk menjadi penerima dari anugerah khusus dan keselamatan kekal”. 8

Charles F. Beker, mendefinisikan pemilihan mengikuti August H. Strong sebagai berikut, “Pemilihan adalah tindakan kekal Allah, yang melaluinya dalam kuasa kehendakNya, tanpa sebelumnya melihat jasa dalam diri orang berdosa, Ia memilih jumlah tertentu dari antara mereka untuk menjadi penerima anugerah khusus RohNya, dan dengan begitu menjadikan mereka pengambil bagian secara sengaja dalam keselamatan di dalam Kristus”.9

Wayne A. Grudem mendefinisikan pemilihan sebagai “tindakan Allah sebelum penciptaan dimana Dia memilih beberapa orang untuk diselamatkan, bukan karena perbuatan baik mereka, tetapi hanya karena kedaulatanNya”.10

Menurut Millard J. Erickson pemilihan adalah “seleksi beberapa beberapa orang tertentu untuk hidup kekal, yaitu sisi positif dari predestinasi”. 11

Tony Evans mengatakan “Allah memilih sebagian orang untuk diselamatkan untuk maksud-maksud berdaulatNya sendiri dan karena Ia penuh kasih karunia”. 12

Westminster Confession menyatakan “... Allah, sebelum dasar dunia ini diletakkan, seturut tujuanNya yang kekal dan tidak berubah, dan keputusan dan perkenan kehendakNya yang merupakan rahasia,  telah memilih mereka di dalam Kristus untuk kemuliaan kekal.  Pemilihan ini hanya dikarenakan anugerah dan kasihNya yang bebas, bukan karena telah melihat sebelumnya adanya iman, atau perbuatan-perbuatan baik, atau ketekunan di dalam diri mereka, atau suatu hal lain apapun di dalam ciptaan sebagai syarat-syarat atau penyebab-penyebab yang menggerakkan Dia; dan segalanya adalah untuk memuji anugerahNya yang mulia”. 13

RINGKASAN AJARAN TENTANG PEMILIHAN

Berdasarkan definisi-definisi diatas yang telah maka dapat diringkas ajaran tentang pemilihan sebagai berikut:


1. Bahwa kita harus mengingat beberapa fakta tertentu dari Alkitab. Pertama, adalah bahwa Allah sepenuhnya benar. Paulus menegaskan “...Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis: "Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi." (Roma 3:4) Kedua, keadaan natur manusia yang berdosa dan patut mendapatkan hukuman Allah. Paulus menegaskan “seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak” (Roma 3:10-12). Keadaan ini disebut dengan kerusakan total (total depravity).  Ketiga, bahwa tidak ada seorang pun yang atas prakarsanya sendiri mencari Allah. Dengan kata lain, Alkitab mengajarkan bahwa walaupun Allah menyediakan keselamatan bagi seluruh dunia tidak ada seorang pun yang akan menerimanya dan diselamatkan kecuali Allah sendiri yang berinisiatif mencari manusia.

2. Bahwa pemilihan adalah tindakan memilih dari pihak Allah yang memasukkan sejumlah orang, bukan semua orang. Fakta ini didukung oleh tiga alasan. Pertama, fakta bahwa sebagian orang terhilang adalah bukti bahwa tidak semua yang dipilih. Kedua, kata “memilih” akan kehilangan makna jika ternyata semuanya diselamatkan. Ketika diadakan pemilihan, seperti nyata pada penggunaan kata itu, hanya ada orang-orang tertentu saja yang ditunjuk menduduki suatu posisi. Ketiga, Alkitab berbicara berulang-ulang mengenai mereka yang terhilang, jadi pastilah mereka bukan termasuk di antara orang yang dipilih.

3. Bahwa pemilihan itu  adalah tindakan Allah yang berdaulat dan seturut dengan kehendakNya yang berdaulat (Roma 9:11; 2 Timotius 1:9). Allah berdaulat dan bebas secara mutlak. Berdaulat berarti tertinggi, dan Allah selalu yang berdaulat yang dengan bebas memutuskan rencanaNya terlebih dahulu sekarang dan yang akan datang.

4. Bahwa pemilihan adalah tindakan memilih yang dibuat Allah sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4). Kadang-kadang berguna mengingat fakta bahwa Allah itu pribadi tidak berwaktu, bahwa ia hidup dalam masa kini yang kekal. Karenanya, Ia bukan seakan-akan membuat pilihan miliaran tahun sebelum benar-benar mengetahui hal akan dilakukan, tetapi Ia mengenal kita sejak dahulu sebagaimana kita adanya sekarang.

5. Bahwa pemilihan adalah tindakan memilih yang didasarkan atas hal yang ada dalam diri Allah, bukan atas hal yang ada dalam diri manusia. Paulus mengatakan pemilihan itu menurut anugerah (Roma 11:5), dan ia juga jelas mengatakan hal itu bukan berdasarkan perbuatan (Roma 9:11). Pemilihan, seperti keselamatan, semata-mata karena anugerah dan bukan karena perbuatan. Jadi jelas Allah tidak menyelamatkan orang tertentu karena sebelumnya telah melihat ada hal yang baik atau berguna dalam diri orang itu.

6. Bahwa pemilihan adalah tindakan memilih yang didasarkan pada kemahatahuan (omnisciense) Allah, yang pada gilirannya didasarkan pada ketetapan dan maksud Allah yang sudah pasti. Ini berarti bahwa Allah mempunyai pengetahuan dasar tentang segala sesuatu yang benar-benar ada maupun yang mungkin ada. Dengan demikian, pemilihan Allah dilakukan dengan pengetahuan yang sebesar-besarnya. Ada sejumlah kata yang perlu diperhatikan sehubungan dengan pemilihan. Perhatikan kata-kata dalam KJV: Predestinate (menentukan sebelumnya, Roma 8:29, 30; Efesus 1:5, 11, TB: tentukan) foreordain (menentukan sebelumnya, 1 Petrus 1:20, TB:pilih); foreknow (mengetahui sebelumnya, Roma 8:29; 11:2; Kisah Para Rasul 2:23; TB:pilih, rencana ); purpose (maksud, rencana, Yesaya 14:26; 23:9; 46:11; Yeremia 4:28; 51:29; Roma 8:28; 9:11, 17; Efesus 1:9,11; 3:11; 2 Timotius 1:9; TB: rancangan, putusan, rencana, maksud). Jelas bahwa Allah telah menetapkan semua yang telah dibuatNya, dan alasan mengapa Allah mengetahui hal yang akan terjadi adalah karena Ia telah merencanakan atau menetapkannya.

7. Bahwa pemilihan adalah tindakan memilih yang sepenuhnya pasti digenapi; tidak ada kuasa apapun yang sanggup menggagalkannya. Roma 8:28-30 menunjukkan bahwa setiap orang yang telah  dipilih (KJV:forknown) oleh Allah akan dipanggil, dibenarkan dan dimuliakan. Ayat 33 mengemukakan bahwa tidak ada seorang pun yang sanggup  menggugat orang pilihan Allah, dan pasal ini diakhiri dengan jaminan bahwa tidak ada hal apapun yang sanggup memisahkan orang pilihan dari Allah yang ada di dalam Yesus Kristus. Kisah Para Rasul 13:48 berkata: “dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup kekal, menjadi percaya.”

8. Bahwa pemilihan adalah tindakan memilih yang selaras dengan kebebasan manusia. Pemilihan tidak memaksa orang yang dipilih untuk percaya. Tidak ada orang yang dalam mempercayai injil merasa telah dipaksa melawan kehendaknya sehingga ia menjadi percaya. Barangkali pada titik ini justru  manusia paling tak menyadari caranya Allah bekerja dalam kehendak seseorang tanpa merusak kebebasannya. Bahkan rasul Paulus, setelah membicarakan maksud pemilihan Allah atas Israel, harus mengakui, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”(Roma 11:33-36). Harus diperhatikan bahwa ada perbedaan antara pihak yang bebas dan kebebasan kehendak. Semua makhluk yang memiliki tanggung jawab moral adalah pihak yang bebas, baik malaikat atau malaikat yang jatuh maupun manusia. Allah adalah pihak yang bebas dari tanggung jawab moral; sekalipun demikian Allah tidak bebas berkehendak untuk berdosa. Tidak mungkin bagi Allah untuk berdosa. Ada perbedaan juga antara pihak yang bebas  atau kebebasan pribadi dan kemampuan. Seseorang bisa merupakan pihak yang bebas dari tanggung jawab moral, bertanggung jawab terhadap diri sendiri atas hal yang dilakukannya, namun kebebasan ini tidak memberi  ia kemampuan mengubah naturnya sehingga memiliki kesanggupan berkenan kepada Allah. Dengan kata-kata Alkitab, “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?” (Yeremia 13:23).

9. Bahwa tujuan akhir dari pemilihan sebagaimana sebagaimana semua  ketetapan ilahi lainnya ialah kemuliaan Allah (Roma 11:36). Tindakan Allah yang berdaulat dimana Ia menetapkan orang percaya untuk diselamatkan adalah untuk memuji kemuliaan anugerahNya (Efesus 1:4-6,11-12). Allah dimuliakan dalam pernyataan dari anugerah yang tidak bersyarat (unconditional grace) seperti yang tertulis dalam Roma 9:23; Wahyu 4:11. Itulah sebabnya tidak keliru untuk beranggapan bahwa kesatuan tema dari Kitab suci adalah kemuliaan Allah. Bersama dengan rasul Paulus kita dapat berkata “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36).

HAL-HAL YANG BUKAN PENGERTIAN PEMILIHAN

Setelah mengerti apa itu pemilihan, perlu bagi kita untuk menegaskan hal-hal yang bukan merupakan pemilihan.

1. Pemilihan bukan tindakan sewenang-wenang atau pun asal-asalan dari Allah. Pemilihan itu sesuai dengan ketetapan kekal dan kehamatahuan Allah (Roma 8:28, 29, 9:11; Efesus 1:4-11; 1 Petrus 1:2).

2. Pemilihan bukan tindakan untuk memilih sebagian orang supaya terhilang atau ketetapan penolakan. Pemilihan dilakukan untuk penyelamatan, bukan untuk penghukuman (1 Tesalonika 1:4; 2 Tesalonika 2:13). Perhatikan kembali perbedaan antara predestinasi dan pemilihan di atas.

3. Pemilihan bukan tindakan memilih yang dilakukan manusia, walaupun manusia harus membuat pilihan jika ingin diselamatkan. Pemilihan adalah tindakan memilih dari Allah. Kristus berkata kepada para rasulNya, “Bukan kamu yang memilih aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yohanes 15:16).

4. Pemilihan bukan hanya dilakukan untuk suatu posisi atau untuk pelayanan, walaupun Allah memilih orang-orang untuk tugas khusus. Pemilihan juga dilakukan untuk keselamatan (2 Tesalonika 2:13).

5. Pemilihan saja bukan mengakibatkan keselamatan orang. Charles C. Ryrie menyatakan “memang, pemilihan tentu saja menegaskan bahwa orang-orang yang dipilih akan diselamatkan, tetapi pemilihan itu sendiri tidak menyelamatkan mereka. Orang diselamatkan karena anugerah oleh iman pada kematian pengganti yang dialami Kristus. Dan tentu saja, mereka harus belajar tentang kematian Kristus untuk mengisi iman mereka. Dengan demikian, pemilihan kematian Kristus, kesaksian tentang kematianNa, dan iman orang itu sendiri, semuanya perlu agar orang itu dapat diselamatkan”. 14

ANALOGI DAN ILUSTRASI

Tiga keberatan yang keliru telah ditujukan terhadap ajaran tentang pemilihan ini. Pertama, kerena Allah telah menetapkan segala sesuatu termasuk menetapkan untuk memilih orang-orang tertentu berarti Allah itu tidak adil. Kedua, ajaran tentang pemilihan ini menjadikan Allah sebagai pembuat dosa. Ketiga, dengan penetapan pemilihan ini berarti melanggar kehendak bebas (freewell) manusia sehingga hidup manusia di dunia ini hanya sandiwara.

Untuk menjelaskan kebenaran ini sekaligus menjawab keberatan-keberatan diatas, Charles C. Ryrie, telah memikirkan sebuah kata yang lain dari decree (ketetapan) Tuhan ini yang tentunya berhubungan erat dengan pemilihan, yaitu design (rencana). Kata rencana (design) ini mengingatkan kita pada kata “arsitek”.  Dan ini merupakan konsep yang dangat membantu dalam ajaran ini.  Allah adalah arsitek dari suatu rencana yang sungguh-sungguh memasukkan segala sesuatu, tetapi memasukkan segala sesuatu dalam hubungan yang berbeda. Rencana-rencana arsitek ini sangat terperinci. Demikian juga rencana Allah. Dalam proses pembangunan suatu gedung, para pakar dapat memprediksi bahwa banyak sekali pekerja yang akan cedera dan kadang-kadang beberapa diantara mereka akan meninggal. Statistik yang mengerikan itu dimasukkan dalam rencana pembangunan, namun demikian kita tidak akan menganggap bahwa arsitek tersebut bertanggung jawab terhadap terjadinya kecelakaaan atau cedera dan kematian, asalkan telah diadakan pengamanan yang standar dan benar. Tindakan ceroboh, tidak menaati peraturan,  dan melanggar pembatas keselamatan biasanya menyebabkan terjadinya kecelakaan. Tetapi kesalahan siapakah itu?  Itu adalah kesalahan mereka yang bertindak ceroboh dan tidak menaati peraturan keselamatan. Demikian pula rencana Allah (termasuk rencana pemilihan) telah dibuat sedemikian rupa sempurnanya sehingga tanggung jawab atas dosa terletak pada manusia, meskipun Allah secara sengaja memasukkan dosa dalam rencanaNya.15

Sementara itu Tony Evans memberikan ilustrasi yang menghubungkan penyediaan kasih karunia, pemilihan dan respon manusia dalam keselamatan. Perlu disadari, bahwa tidak ada ilustrasi yang sempurna yang mampu menyingkapkan misteri pemilihan secara tuntas, walau demikian ilustrasi Evans berikut sangat membantu menjelaskan konsep tersebut. Evans berkata “Bayangkan bahwa saya sudah mengundang 500 orang ke sebuah aula untuk sebuah peristiwa tertentu. Di luar panas dan AC tidak berjalan dengan baik sehingga untuk bertindak ramah sekali saya membeli untuk setiap orang yang hadir di aula minuman dingin karena saya mau supaya mereka mempunyai sesuatu untuk menghilangkan rasa haus mereka. Saya pesan 500 minuman dengan harga satu dolar masing-masing. Semua uang yang saya miliki terpakai untuk membeli minuman itu, tetapi saya begitu mengasihi orang-orang di aula sehingga saya tidak mau membiarkan mereka haus. Tidak ada keran air dan tidak ada orang yang mempunyai uang untuk membayar minuman sehingga kalau saya tidak membayar harga itu tidak ada orang yang akan mendapat minuman. Oleh karena itu, saya tempatkan minuman dingin itu di depan ke 500 ratus orang dan mengundang: “siapa yang ingin minum, datanglah dan minum minuman gratis. Saya sudah membayarnya.”

Namun, andaikata ada beberapa orang yang mengatakan, “saya mau minuman diet,” “saya tidak terlalu haus,” “itu bukan minuman favorit saya,” dan mereka semua member alasan untuk menolak undangan saya untuk mengambil minuman dingin yang sudah saya beli dengan segala yang saya miliki, maka semua orang berdiri dan keluar ruangan tanpa minuman dingin mereka. Masalahnya bukan karena minuman itu belum dibayar. Saya tidak perlu membelinya, tetapi saya membayar semuanya karena kasih dan karunia karena saya peduli terhadap orang-orang yang kepanasan dan haus itu. Karena harga yang saya bayar, saya tidak akan membiarkan minuman dingin sebanyak 500 buah ini terbuang. Jadi saya keluar aula dan “memilih” 24 orang dan saya katakan kepada mereka, “Boleh saya bicara sebentar kepada anda? Anda tahu, minuman dingin ini saya beli mahal sekali sehingga saya tidak mau minuman itu terbuang begitu saja. Saya bayar mahal sekali untuk memberi anda minuman segar. Maukah anda masuk kembali dan menikmati apa yang sudah saya beli untuk anda? Saya masih mempunyai minuman dingin di dalam untuk setiap orang yang mau menghilangkan rasa hausnya, dan minuman itu masih tetap gratis.” Kemudian, 24 orang itu memutuskan untuk menerima tawaran saya, dan anda salah satu dari mereka, dan anda menyadari bahwa anda memang haus. Anda mengakui saya benar-benar murah hati sehingga dengan bertindak atas kemauan sendiri anda menerima tawaran saya, kembali ke aula, dan menikmati minuman dingin itu. Saya memilih anda untuk kesempatan ini, dan jika saya tidak memilih anda, anda tidak akan mendapat minuman dingin itu. Namun, anda memutuskan untuk minum karena saya tidak memaksa anda. Jadi, anda masuk lagi, menikmati minuman anda, dan memuji saya karena saya membeli minuman itu untuk anda.

Bagaimana dengan 476 orang lain di luar yang tidak saya hubungi dengan cara khusus itu? Saya tidak bertindak tidak adil terhadap mereka karena saya sudah menawarkan minuman kepada mereka. Bukan hanya itu sebab mereka masih dapat kembali dan datang minum kalau mereka berubah pikiran karena pintu masih terbuka, minuman dingin masih tersedia, dan harga sudah dibayar. Pada hakikatnya, mereka yang memutuskan untuk menerima tawaran saya dan kembali sekarang memperlihatkan bahwa mereka anggota dari kelompok orang-orang terpilih tanpa mengurangi pentingnya bahwa mereka telah membuat pilihan. Yang lain yang pergi dengan rasa haus pergi dalam keadaan itu karena mereka menolak tawaran saya, bukan karena saya tidak keluar untuk memanggil mereka kembali. Mereka yang tidak menikmati minuman itu tidak dapat mempersalahkan saya, dan mereka yang mendapat minuman tidak dapat berterima kasih kepada siapapun kecuali saya karena mereka tidak berbuat apa-apa untuk diberikan minuman itu.

Pada akhirnya, banyak diantara 500 orang itu mungkin menolak tawaran saya, tetapi dalam pilihan itu saya menjamin bahwa paling sedikit 24 orang akan menikmati tawaran saya yang murah hati. Kalvari terlalu mahal bagi Allah dan tidak pantas tawaran-Nya akan keselamatan ditolak semua orang. Jadi, Ia memastikan supaya beberapa orang akan diselamatkan, dan Ia melakukannya sedemikian rupa sehingga siapa yang masih mau boleh datang juga. Kalau mereka tidak datang, itu adalah karena mereka tidak mau datang, bukan karena Allah yang menutup pintu. Ia mendapat kemuliaan dan puji-pujian dalam segala sesuatu”. 16

PENUTUP

Pengajaran tentang pemilihan ini (the doctrine of election) memiliki implikasi praktis bagi orang-orang Kristen, yaitu:

1. Membuat kita takjub akan kebesaran Allah yang bijak, berkuasa dan penuh kasih. Kita semakin memahami kasih Allah yang luar biasa. Ia mengasihi kita ketika kita masih berdosa (Rm. 5:6). Allah juga tidak berhenti mengasihi kita ketika kita nanti melakukan dosa yang sebesar apa pun, karena pada dasarnya Ia memang memilih kita bukan karena kebaikan kita (1Yoh. 1:9).

2. Memotivasi kita untuk mempercayakan seluruh hidup kita kepada Tuhan yang Mahakuasa. Kita meyakini bahwa keselamatan kita tidak bisa hilang, karena rencana Allah tidak bisa gagal.

3. Memberi semangat bagi kita dalam memberitakan Injil supaya orang dapat selamat. Dan  gigih memberitakan Injil kepada setiap orang bahkan orang yang keras hati, karena kalau orang itu ditetapkan Allah untuk selamat, orang itu suatu ketika pasti akan selamat.

4. Memberi kepastian karena mengatahui bahwa Allah dengan kedaulatanNya menetapkan dan mengontrol segala sesuatu. Pengetahuan ini bagi kita memberi sukacita dan penghiburan dalam keselamatan yang besar yang telah Tuhan sediakan bagi kita yang dipilih Allah dalam kekekalan.

5. Membawa untuk merendahkan diri dihadapan Tuhan, karena ajaran pemilihan ini menunjukkan bahwa Allah mengasihi kita, bukan karena siapa kita atau apa yang kita perbuat, melainkan kerena Dia memutuskan untuk mengasihi kita. Dengan demikian respon yang tepat kepada Allah adalah dengan memujiNya selama-lamanya.

6. Ajaran ini dengan keras menentang kesombongan manusia yang ingin menjalankan kehidupannya sendiri tanpa kesadaran akan kedaulatan Tuhan yang mengontrol segala sesuatu dan yang kepadaNya setiap manusia harus memberikan pertanggungjawaban atas kehidupan dan perbuatannya.

Roma 11:33-36
(33) O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! (34) Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? (35) Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? (36) Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

FOOTNOTE
1. Ryrie, Charles C, 1992. Basic Teologi, Jilid 2, terjemahan, Penerbit Yayasan Andi: Yokyakarta, hal 62.
2. Rick Cornish, 2004. Five Minute Teologian, terjemahan, Penerbit Pionir Jaya: Bandung, hal 205.
3. Erickson J. Millard., 2003. Christian theology, Jilid 3. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang, hal 99.
4. Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang, hal 215.
5. Williamson, G.I., 2006. Westminster Confession of Faith. Terjemahan, Penerbit  Momentum: Jakarta, hal 58.
6. Beker, Charles. F, 1994. A Dispensasional Theology, terjemahan, Penerbit Alkitab Anugerah: Jakarta, hal 202-206.
7. Erickson J. Millard., 2003. Christian theology, hal 100.
8. Berkhof, Louis, 1993. Teologi Sistematika 1: Doktrin Allah, terjemahan LRII & Penerbit Momentum: Jakarta, hal 207.
9. Beker,  A Dispensasional Theology,  hal 511.
10. Grudem, Wayne A., 2005. Christian Beliefs, terjemahan, Penerbit Metanoia: Jakarta, hal 113.
11. Erickson, Christian theology, hal 100.
12. Evans, Tony, 2005. Sungguh-sungguh Diselamatkan, terjemahan, Penerbit Gospel Press: Batam, hal 119.
13. Williamson, Westminster Confession of Faith, hal 50.
14. Ryrie, Basic Teologi, hal 69.
15. Ibid, hal 65.
16. Evans, Tony, Sungguh-sungguh Diselamatkan, hal 120-122.
 
REFERENSI UNTUK STUDI LANJUT

Daftar berikut ini adalah buku terpilih oleh penulis dengan pertimbangan bahwa buku-buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kecuali buku Wayne Grudem, Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Berdasarkan pertimbangan di atas tidaklah sulit untuk mendapatkan buku-buku tersebut di toko buku Kristen atau penerbit buku. Selanjutnya, di dalam buku-buku tersebut terdapat referensi lanjutan sesuai dengan rujukan para penulis buku tersebut.


Berkhof, Louis., 2011. Systematic Theology. 6 Jilid, Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta.
Boice, James M.,  2011. Fondations Of The Christian Faith: A Comprehensive And Readable Theology. Terjemahan, Penerbit  Momentum: Jakarta.
Conner, Kevin J., 2004. The Fondation of Christian Doctrine. Terjemahan, Pernerbit Gandum Mas: Malang.
Cornish, Rick.,  2007. Five Minute Theologian. Terjemahan, Penerbit  Pionir Jaya : Bandung.
Enns, Paul., 2004.The Moody Handbook of Theology, 2 jilid. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang.
_________., 2000. Approaching God, 2 jilid. Terjemahan, Penerbit Interaksara : Batam.
Evans, Tony, 2005. Sungguh-sungguh Diselamatkan, terjemahan, Penerbit Gospel Press: Batam.
Erickson J. Millard., 2003. Christian theology. 3 Jilid. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.
Grudem, Wayne., 1994. Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Zodervan Publising House: Grand Rapids, Michigan.
____________., 2009. Christian Beliefs. Terjemahan, Penerbit Metanonia Publising: Jakarta.
Ryrie, Charles C., 1991. Basic Theology.   2 Jilid, Terjemahan, Penerbit Andi Offset: Yoyakarta.
Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang.
Thiessen, Henry C., 1992. Lectures in Systematic Theology, direvisi Vernon D. Doerksen. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.
Williamson, G.I., 2012. Westminster Confession Of Faith. Terjemahan, Penerbit  Momentum: Jakarta.

Ajaran Tentang Penebusan Tak Terbatas (The Doctrine of Unlimited Atonement)

Oleh: Samuel T. Gunawan

“Allah tidak meluputkan seorang pun dalam penentuan belas kasihanNya. Allah tidak ingin semua orang binasa. Tidak seorang pun akan dilemparkan ke neraka karena kristus tidak mati bagi mereka, tetapi karena mereka menolak tawaran Allah akan keselamatan di dalam Kristus” - Kevin J. Conner -

PENDAHULUAN

Ajaran tentang penebusan tidak terbatas (unlimited atonement) telah banyak disalah pahami dan oleh beberapa orang secara sepihak langsung dianggap sama dengan universalisme. Ketika membahas tentang luasnya penebusan melalui karya Kristus maka kita tidak dapat menghindari pertanyaan klasik “untuk siapakah Kristus mati?”. Apakah Kristus mati untuk dosa seluruh umat manusia, ataukah hanya untuk sekelompok orang pilihan saja yang dipilih oleh Allah untuk menerima anugerahNya yang menyelamatkan?

Millard J. Erikcson menjelaskan, “Karena kematian Kristus memiliki nilai yang tak terhingga maka kematian tersebut cukup untuk semua orang pilihan tanpa memandang jumlahnya. Yang dipersoalkan sebenarnya ialah apakah Allah mengutus Kristus untuk menyediakan keselamatan bagi semua orang, atau hanya bagi semua orang yang telah dipilihNya. Jawaban kita tergantung pada pengertian kita mengenai urutan logis dari ketetapan-ketetapan Tuhan.” 1

Charles C. Ryrie menuliskan tiga pandangan mengenai luasnya jangkauan penebusan ini. Pertama, Arminianisme atau pengikut ajaran Jaccobus Arminius menerima penebusan universal atau tak terbatas beserta dengan gagasan bahwa anugerah yang cukup disediakan bagi semua orang sehingga mereka boleh percaya. Kedua,  Amyraldianisme atau pengikuti Moses Amyraldus atau disebut juga (four-point calvinists) berpegang pada penebusan tak terbatas, dengan menganggap bahwa tujuan kematian Kristus adalah untuk menyediakan penggantian bagi semua orang. Ketiga, Ultra Calvinisme atau disebut juga five-point calvinists beranggapan bahwa Kristus mati untuk menjamin keselamatan bagi orang-orang terpilih.2

KETETAPAN TUHAN DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PENEBUSAN

Sebagaimana telah disebutkan diatas, Millard J. Erickson menjelaskan bahwa jawaban kita terhadap pertanyaan “apakah Allah mengutus Kristus untuk menyediakan keselamatan bagi semua orang, atau hanya bagi semua orang yang telah dipilihNya, tergantung pada pengertian kita mengenai urutan logis dari ketetapan-ketetapan Tuhan”.  Hal yang sama juga ditegaskan oleh Charles C. Ryrie, “Pandangan-pandangan diatas (penebusan terbatas atau tidak terbatas) berhubungan dengan pertanyaan tentang urutan ketetapan-ketetapan Allah”.3 Karena itu, perlu bagi kita untuk meninjau kembali ajaran tentang ketetapan Tuhan ini berdasarkan tiga pandangan lapsarian.

Para teolog, membagi ketetapan Allah (Devine decree) ke dalam empat ketetapan besar (four decrees of God), yaitu: ketetapan mencipta, ketetapan mengijinkan dosa, ketetapan menyediakan keselamatan, dan ketetapan memilih. Karena Allah itu kekal, Ia tidak terikat oleh waktu, maka urut-urutan ini lebih berdasarkan pemikiran logis ketimbang kronologis.

Walaupun para teolog menyetujui keempat pembagian diatas, tetapi mereka berbeda ketika menyangkut pertanyaan “apakah ketetapan mengenai pemilihan (election) itu berada di depan (before) atau sesudah (after) ketetapan untuk mengijinkan kejatuhan atau lapse (kejatuhan manusia)”. Dari kata lapse ini muncul istilah “lapsarian”. Berikut ini ringkasan urut-urutan ketetapan Tuhan yang dikutip juga dari berbagai sumber dalam karya para teolog seperti Millard J. Erickson, Henry C. Thiessen, Charles C. Ryrie, Paul Enns, Charles F. Beker, Louis Berkhof.

1. Supralapsarian: Pemilihan, Penciptaan, Kejatuhan, Penyediaan. Ini adalah pandangan Hiper-Calvinis. Yang meletakkan ketetapan pemilihan mendahului ketetapan penciptaan, ketetapan kejatuhan dan ketetapan penyediaan. Dengan menempatkan ketetapan pemilihan mendahului ketetapan penyediaan, secara logis pandangan ini mengarahkan untuk menyakini bahwa dalam pemikiran Tuhan sejak semula sudah ada rencana mengenai kelompok orang-orang yang terpilih dan kelompok yang terhilang, dengan kata lain keselamatan hanya disediakan bagi orang-orang yang terpilih. Ketetapan mengenai penciptaan dan kejatuhan hanyalah sekedar rencana pencapaian tujuan pemilihan tersebut, karena secara logis disimpulkan bahwa Allah menetapkan menciptakan umat manusia lalu menetapkan kejatuhan sehingga Ia mempunyai orang berdosa untuk diselamatkan. Akhirnya, kesimpulan logis menurut pandangan ini bahwa jangkauan penebusan terbatas (limited atonement), yaitu hanya pada orang-orang yang terpilih.


2. Infralapsarian: Penciptaan, Kejatuhan, Pemilihan, Penyediaan. Berbeda dengan pandangan supralapsarian, maka infralapsarian menempatkan ketetapan penciptaan dan ketetapan kejatuhan  didepan ketetapan pemilihan, dan secara logis menyimpulkan bahwa Allah menyediakan keselamatan karena adanya kejatuhan, dan bahwa bukan Ia menyebabkan manusia mengalami kejatuhan sehingga Ia memiliki orang-orang berdosa untuk diselamatkan. Dengan menempatkan pemilihan didepan penyediaan sebagaimana suprlapsarian, maka infralapsarian mengarahkan untuk menyakini kesimpulan logis bahwa jangkauan penebusan terbatas, yaitu hanya untuk orang-orang yang dipilih.

3. Sublapsarian: Penciptaan, Kejatuhan, Penyediaan, Pemilihan. Sublapsarian sependapat dengan infralapsarian dalam menempatkan ketetapan pemilihan dibelakang ketetapan penciptaan dan ketetapan kejatuhan. Tetapi, Sublapsarian berbeda dari Infralapsarian dan Supralapsarian dengan menempatkan ketetapan pemilihan didepan ketetapan penyediaan. Secara logis pandangan ini mengarahkan pada kesimpulan bahwa jangkauan penebusan tidak terbatas (unlimited atonement), yaitu bahwa keselamatan telah disediakan bagi seluruh dunia dan bahwa Allah telah menetapkan orang-orang tertentu yakni orang-orang yang dipilih untuk diselamatkan. Menurut Millard J. Erickson, pandangan ini merupakan pandangan Calvinis Moderat. Ia menjelaskan bahwa “menurut pandangan ini, secara logis Allah terlebih dahulu menetapkan untuk menyediakan keselamatan, lalu kemudian memilih beberapa orang untuk menikmatinya”. 4

Perhatikan ringkasan dari tiga pandangan lapsarian diatas sebagaimana yang disajikan oleh Charles F. Beker sebagai berikut ini. (1) Supralapsarian: Pemilihan, Penciptaan, Kejatuhan, Penyediaan; (2) Infralapsaria: Pencitaan, Kejatuhan, Pemilihan, Penyediaan; (3) Sublapsarian: Penciptaan, Kejatuhan, Penyediaan, Pemilihan.5

Ringkasnya, dengan menempatkan ketetapan penyediaan setelah ketetapan pemilihan, maka secara logis supralapsarian dan infralapsarian menegaskan pada penebusan terbatas. Sedangkan sublapsarian yang menempatkan ketetapan penyediaan mendahului ketetapan pemilihan, maka secara logis menegaskan pada penebusan tak terbatas.

PENEGASAN PENTING DARI PENEBUSAN TAK TERBATAS

Saya berpendirian Sublapsarian dari Calvinis Moderat ini dalam hal urut-urutan ketetapan Tuhan. Karena itu, saya mengikuti teolog-teolog seperti Chales C. Ryrie, Paul Enns, Millard J. Erickson, Agustus H. Strong, yang menerima ajaran tentang jangkauan penebusan yang bersifat tidak terbatas (unlimited atonement) ini, dengan penegasan sebagai berikut:

Pertama, perlu ditegaskan bahwa pengikut pandangan penebusan tak terbatas berbeda dengan Universalisme atau Rekonsiliasionis Universalisme. Pengikut ajaran Universalisme ini beranggapan bahwa semua orang cepat atau lambat akan diselamatkan. Ajaran yang lebih baru dari Universalisme mengajarkan bahwa semua orang saat ini diselamatkan,  meskipun semuanya tidak menyadari hal itu. Ajaran Universalisme ini sangat berbeda dari pandangan penebusan tak terbatas dari Calvinis Moderat. Charles C. Ryrie menegaskan, “Penganut paham penebusan yang tak terbatas bukanlah orang-orang universalis. Mereka tidak percaya bahwa pada akhirnya semua orang akan diselamatkan. Pandangan mereka juga tidak mengharuskan atau secara logis membawa pada kesimpulan yang menyimpang seperti itu, memaksakan hal ini berarti menciptakan orang-orang pemikat kepercayaan”.6 Selanjutnya, Ryrie menegaskan “Dengan kata lain: penganut paham penebusan tak terbatas mengakui bahwa penebusan itu adalah terbatas maupun tidak terbatas”.7 Tampaknya, hal ini dihubungkan oleh Ryrie dengan luasnya jangkauan penebusan, karena Ryrie dengan jelas mempertanyakan, “adakah ayat-ayat Alkitab yang meluaskan jangkauan penebusan diluar mereka yang terpilih? 8  Ryrie mengakui berdasarkan pertimbangan eksegesis dan teologis bahwa penebusan disediakan bagi semua orang tetapi hanya efektif bagi orang-orang yang terpilih. Ryrie menegaskan, “Semua orang tersesat, termasuk juga orang-orang yang terpilih. Fakta bahwa seseorang dipilih tidak berarti menjadikan dirinya kurang tersesat dibandingkan dengan orang-orang yang tidak terpilih. Siapapun yang ingin diselamatkan harus percaya. Bapa akan menarik orang itu, namun ia harus datang (Yohanes 6:37:44).” 9

Kedua, pengikut pandangan penebusan tidak terbatas berbeda dengan Arminianisme. Pandangan penebusan tak terbatas dari Calvinis Moderat ini menurut Millard J. Erickson adalah bahwa “menurut pandangan ini, secara logis Allah terlebih dahulu menetapkan untuk menyediakan keselamatan, lalu kemudian memilih beberapa orang untuk menikmatinya”. 10  Selanjutnya Millard menegaskan “Orang yang menafsirkan bahwa pandangan yang saya kemukakan ini adalah pandangan Arminianisme perlu diingatkan bahwa yang membedakan Calvinisme dari Arminianisme bukanlah pandangan tentang hubungan diantara ketetapan untuk menyediakan keselamatan dan ketetapan untuk menganugerahkan keselamatan kepada beberapa orang dan tidak menganugerahkan kepada orang lain. Sebaliknya, hal yang menentukan ialah apakah ketetapan untuk memilih itu berdasarkan semata-mata pada kehendak Allah yang mutlak berdaulat (Calvinisme) atau juga berdasarkan pada pengetahuanNya sebelumnya mengenai jasa dan iman dalam diri orang yang terpilih (Arminianisme)”.11

Ketiga, pengikut pandangan penebusan tidak terbatas beranggapan bahwa luasnya ruang lingkup penyediaan keselamatan tidak terbatas tetapi penerapannya (aplikasinya) terbatas.  Dengan melakukan pembedaan luasnya penyediaan dan terbatasnya penerapan, hal  ini yang membedakannya dari teologi reformed. Charles F. Beker telah mengamati dan memberi tanggapan, ia menulis “Kelihatannya Berkhof dan para ahli teologi Reformed lainnya menggunakan kata menyediakan dengan pengertian bukan hanya menyediakan tetapi nyatanya mengenakan”. Selanjutnya Beker menjelaskan, “Dipihak lain, ketika para ahli teologi membedakan antara luasnya penyediakan dan luasnya pengenaan, kelihatannya mereka tidak maksudkan penyediaan berarti pengenaan sekaligus. Jadi letak masalahnya kelihatannya ada pada soal pendefinisian istilah”.12  Mengingat pentingnya ajaran keseimbangan antara ruang lingkup penyediaan penebusan dan penerapannya ini maka perlu dijelas lebih lanjut.

PENYEDIAAN DAN PENERAPANNYA

Berdasarkan hal diatas perlu bagi kita untuk membedakan antara penyediaan penebusan dari penerapannya. Saya mendefinisikan penyediaan sebagai “Allah telah menyediakan keselamatan di dalam Yesus Kristus bagi semua orang, sekalipun tidak semua orang diselamatkan”.  Definisi ini sudah cukup jelas untuk menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan luasnya jangkauan penebusan yaitu: “apakah keselamatan itu untuk semua orang ataukah terbatas hanya untuk sebagian orang tertentu saja?”  13

Kematian Kristus adalah untuk kebaikan umat manusia dan Allah tidak membatasi siapapun dalam penyediaan kematianNya. Merupakan belas kasih Tuhan agar semua orang diselamatkan (2 Petrus 2:9). Dalam penyediaanNya, Allah memberikan kesempatan yang sama untuk semua manusia (Yohanes 3:16; Roma 10:34; 2 Kor 5:15; 1 Timotius 2:4; Ibrani 2:9).

Tuhan telah menyediakan keselamatan untuk semua orang dan Roh Kudus meyakinkan manusia agar menerima keselamatan. Walaupun demikian, Alkitab juga mengajarkan bahwa tidak semua orang akan diselamatkan. Hal ini merupakan misteri Allah dalam pemilihan, dan terjadi karena penolakan dan ketidakpercayaan kepada Kristus (Yohanes 5:10; 2 Korintus 5:18-20; Titus 2:11). Jelaslah bahwa keputusan untuk menerima atau menolak Kristus adalah tanggung jawab manusia. Menolak Kristus berarti tidak diselamatkan. Jadi apabila seseorang tidak menerima keselamatan, dalam hal ini Allah tidak dapat dipersalahkan. Persediaan keselamatan cukup untuk semua manusia. Sebagimana mana yang ditegaskan Kevin J. Conner “Allah tidak meluputkan seorang pun dalam penentuan belas kasihanNya. Allah tidak ingin semua orang binasa. Tidak seorang pun akan dilemparkan ke neraka karena kristus tidak mati bagi mereka, tetapi karena mereka menolak tawaran Allah akan keselamatan di dalam Kristus”.14  Selanjutnya, Conner mengutip Robert Clarke dalam The Christ of God demikian: “Pendamaian bersifat universal dalam ruang lingkupnya (penyediaannya)... Sekalipun Allah mengasihi semua orang, dan Kristus mati bagi semua orang, tidak berarti bahwa semua orang akan selamat, terlepas dari tanggapan mereka terhadap kebenaran Injil. Tidak semua orang diselamatkan karena penerapan karya pendamaian Kristus dibatasi bagi mereka yang bertobat dari dosa dan percaya kepada Yesus.” 15

Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa keselamatan disediakan untuk semua manusia dan ketidakpercayaan serta penolakan terhadap Kristus merupakan faktor penyebab sehingga sebagian orang tidak diselamatkan. Dengan demikian kedua hal ini sangat penting dalam keselamatan, yaitu Penyediaan dan Penerapan. Penyediaan adalah Allah memberi sedangkan penerapan adalah manusia menerima. Penyediaan menyangkut kemahakuasaan Allah sedangkan penerapan menyangkut tanggung jawab manusia. Keduanya harus ditempatkan pada proporsi yang sebenarnya. Berikut ini beberapa pernyataan dari Alkitab yang berkaitan dengan penyediaan Allah dan penerapan oleh manusia. (1) Kristus adalah Juruselamat bagi semua manusia (penyediaan), terutama bagi mereka yang percaya (penerapan) kepadaNya (1 Timotius 4:10); (2) Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia mengaruniakan AnakNya yang tunggal (penyediaan) supaya setiap orang yang percaya kepadaNya (penerapan) tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16); (3) Kristus menjadi pokok keselamatan yang kekal (penyediaan) bagi semua orang yang taat (penerapan) kepadaNya (Ibrani 5:9).

PERTIMBANGAN EKSEGESIS DAN TEOLOGIS DARI PANDANGAN PENEBUSAN TAK TERBATAS

Millard J. Erickson memberi penjelasan bahwa mereka yang berpegang pada penebusan tidak terbatas memiliki dasar ayat-ayat Kitab Suci pendukung yang dapat dikelompokkan kedalam tiga kategori. Pertama, kategori ayat-ayat yang menunjuk bahwa kamatian Kristus atau penebusan sebagai duatu peristiwa yang bersifat universal. Kedua, ketagori ayat-ayat yang menunjukkan kebinasaan orang-orang yang untuknya Kristus telah mati. Ketiga, kategori ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Injil harus diberitakan dimana-mana atau kepada semua manusia.16  Sedangkan Charles C. Ryrie menegaskan penebusan tak terbatas dengan melakukan pertimbangan eksegesis dan pertimbangan teologi.17

1. Pertimbangan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa karya penebusan yang dikerjakan oleh Kristus merupakan suatu peristiwa yang berdampak universal.
Pertama, Yohanes Pembaptis memperkenalkan Kristus dengan kata-kata sebagai berikut, “Lihatlah, Anak Domba Allah yang mengapus dosa dunia” (Yohanes 1:29). Kedua, Rasul Yohanes menggambarkan kedatangan Kristus dalam istilah-istilah yang universal “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Selanjutnya dalam suratnya kirimannya Yohanes menuliskan “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.” (1 Yohanes 2:2) dan “Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.” (1 Yohanes 4:14).18 Ketiga, Paulus berbicara tentang kematian Kristus untuk semua orang “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya  mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” (2 Korintus 5:14-15). Selanjutnya Paulus juga mengajarkan bahwa “Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.” (1 Timotius 4:10). Keempat,  Penulis Kitab Ibrani mengatakan bahwa “Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.” (Ibrani 2:9).

2. Pertimbangan ayat-ayat yang menunjukkan adanya orang-orang yang binasa yang untuknya Kristus telah mati.
Pertama, perhatikan ayat-ayat berikut ini yang menjelaskan adanya seorang saudara seiman yang disakiti hatinya atau dibinasakan oleh perbuatan seorang saudara seiman. Paulus mengatakan “Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia” (Roma 14:15). Selanjutnya Paulus mengatakan “Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena "pengetahuan"mu” (1 Korintus 8:11). Pernyataan yang lebih tegas lagi disampaikan oleh penulis kitab Ibrani, “Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?” (Ibrani 10:29).
Kedua, Petrus menyebutkan dengan jelas bahwa ada orang-orang yang untuknya Kristus telah mati tetapi mereka menyangkali hal ini. Ayat ini mengindikasikan bahwa ada perbedaan antara orang-orang yang untuknya Kristus telah mati (penyediaan) dengan orang-orang yang akhirnya diselamatkan (aplikasi) yaitu orang-orang yang terpilih. “Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.” (2 Petrus 2:1).

3. Pertimbangan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Injil harus diberitakan dimana-mana atau kepada semua manusia. Pertama, Matius mencatat bahwa “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya." (Matius 24:14). Selanjutnya Matius menuliskan “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19).
Kedua, Lukas mencatat ucapan Yesus demikian “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Selanjutnya Lukas menuliskan “Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.” (Kisah Para Rasul 17:30).
Ketiga, menegaskan bahwa “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.” (Titus 2:11). Apalagi yang lebih memberikan semangat dalam memberitakan Injil selain dari keyakinan bahwa keselamatan telah disediakan bagi semua orang?

4. Pertimbangan-pertimbangan teologis yang mengajarkan jangkauan penebusan tidak terbatas. Dosa bersifat universal dengan demikian penyediaan keselamatan juga mengharus hal ini. Paulus menegaskan “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Paulus juga mengatakan bahwa Kristus menyerahkan dirinya sebagai tebusan bagi semua orang yang berdosa itu, “yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.” (1 Timotius 2:6; bandingkan dengan Matius 20:26). Selanjutnya Paulus menyatakan, “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.” (Titus 2:11). Yesaya juga dalam menubuatkan karya Juruselamat mengatakan “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.” (Yesaya 53:6). Berdasarkan pertimbangan ayat-ayat diatas, dapat ditarik kesimpulan teologis bawa “jangkauan keselamatan kalau dilihat dari sifatnya mulai dari perorangan, satu bangsa, seluruh dunia, bahkan alam semesta. Keselamatan adalah untuk dunia ini dengan demikian keselamatan itu bersifat universal, sebab itu semua manusia mempunyai kesempatan yang sama untuk menerima keselamatan, walaupun tidak semua orang diselamatkan. Allah adalah Allah yang mengasihi dan tidak memandang rupa orang, ras, bangsa dan bahasa (Kisah Para Rasul 10:34,35).”  19

ANALOGI DAN ILUSTRASI

Dua keberatan yang keliru telah ditujukan terhadap ajaran tentang penebusan tak terbatas ini. Pertama, pendukung penebusan terbatas mengatakan “Jika Kristus telah mati bagi semua orang, maka dosa-dosa orang yang tidak terpilih dibayar dikayu salib oleh kematian Kristus, dan akan dibayar lagi pada saat penghakiman waktu orang-orang yang tak terpilih menerima hukuman untuk dimasukkan kedalam lautan api. Jadi sebenarnya dosa-dosa mereka dibayar dua kali.”

Kedua, para pendukung penebusan terbatas mengajukan juga keberatan terhadap pandangan penebusan tak terbatas dengan mengatakan bahwa “jika rencana Allah untuk menyelamatkan semua manusia, tetapi nyatanya tidak semua orang diselamatkan, berarti rencana Allah gagal”. 

Untuk menjelaskan kebenaran dari ajaran penebusan tak terbatas ini, sekaligus menjawab keberatan-keberatan diatas, mari kita memperhatikan dua analogi dan satu ilustrasi berikut. Analogi pertama dari Charles. C. Ryrie adalah untuk menjawab keberatan pertama; sedangkan analogi kedua dari Ryrie dan illustrasi dari Tony Evans adalah untuk menjawab pertanyaan kedua.

Ryrie, dalam menjawab keberatan pertama menggunakan analogi dengan menggunakan contoh dari Perjanjian Lama, yaitu tentang Israel dan darah domba Paskah, sebagai berikut: “Suatu pertanyaan yang sama mungkin bisa diajukan. Apakah orang Israel yang tidak mau mengoleskan darah domba Paskah pada ambang pintu rumahnya dosa-dosanya harus dibayar dua kali? Pada waktu anak domba Paskah disembelih, dosanya ditutupi. Tetapi jika ia tidak mengoleskan darah tersebut pada pintu rumah, ia akan mati. Apakah hal ini adalah pembayaran kedua kali bagi dosa-dosanya? Tentu saja tidak. Pembayaran yang pertama dan sudah cukup sama sekali tidak digunakan oleh rumah tertentu tadi. Kematian setelah penolakan untuk mengoleskan darah itulah yang merupakan pembalasan, sebab tidak mengambil untuk diri sendiri korban yang telah cukup itu. Penebusan Kristus telah melunasi dosa seluruh dunia, tetapi orang itu harus mengambil untuk dirinya sendiri pelunasan tersebut melalui iman. Dunia telah didamaikan dengan Allah (2 Korintus 5:19), tetapi orang-orang yang telah didamaikan itu harus didamaikan dengan Allah (2 Korintus 5:20)”. 20

Tony Evans, dan juga Ryrie, menjelaskan kebenaran dari ajaran penebusan tak terbatas ini, sekaligus menjawab keberatan kedua tersebut diatas. Ryrie memberikan analogi sebagai berikut: “Jika kita mengatakan bahwa seorang ayah menyediakan makanan yang cukup bagi keluarga, maka kita tidak meniadakan kemungkinan bahwa beberapa anggota dari keluarga tidak mau makan segala sesuatu yang telah disediakan. Tetapi penolakan mereka itu tidak berarti bahwa persediaan itu hanya dibuat untuk mereka yang sungguh-sungguh mau makan makanan itu. Demikian pula, kematian Kristus memberikan pelunasan untuk dosa-dosa semua orang, baik mereka yang menerima pelunasan itu maupun mereka yang menolaknya. Penolakan untuk menerima tidak membatasi anugerah yang diberikan. Memberikan dan memiliki tidaklah sama.” 21

Sementara itu Tony Evans memberikan ilustrasi yang menghubungkan penyediaan kasih karunia, pemilihan dan respon manusia dalam keselamatan. Perlu disadari, bahwa tidak ada ilustrasi yang sempurna yang mampu menyingkapkan misteri pemilihan secara tuntas, walau demikian ilustrasi Evans berikut sangat membantu menjelaskan konsep tersebut. Evans berkata “Bayangkan bahwa saya sudah mengundang 500 orang ke sebuah aula untuk sebuah peristiwa tertentu. Di luar panas dan AC tidak berjalan dengan baik sehingga untuk bertindak ramah sekali saya membeli untuk setiap orang yang hadir di aula minuman dingin karena saya mau supaya mereka mempunyai sesuatu untuk menghilangkan rasa haus mereka. Saya pesan lima ratus minuman dengan harga satu dolar masing-masing. Semua uang yang saya miliki terpakai untuk membeli minuman itu, tetapi saya begitu mengasihi orang-orang di aula sehingga saya tidak mau membiarkan mereka haus. Tidak ada keran air dan tidak ada orang yang mempunyai uang untuk membayar minuman sehingga kalau saya tidak membayar harga itu tidak ada orang yang akan mendapat minuman. Oleh karena itu, saya tempatkan minuman dingin itu di depan ke lima ratus  ratus orang dan mengundang: “siapa yang ingin minum, datanglah dan minum minuman gratis. Saya sudah membayarnya.”

Namun, andaikata ada beberapa orang yang mengatakan, “saya mau minuman diet,” “saya tidak terlalu haus,” “itu bukan minuman favorit saya,” dan mereka semua member alasan untuk menolak undangan saya untuk mengambil minuman dingin yang sudah saya beli dengan segala yang saya miliki, maka semua orang berdiri dan keluar ruangan tanpa minuman dingin mereka. Masalahnya bukan karena minuman itu belum dibayar. Saya tidak perlu membelinya, tetapi saya membayar semuanya karena kasih dan karunia karena saya peduli terhadap orang-orang yang kepanasan dan haus itu. Karena harga yang saya bayar, saya tidak akan membiarkan minuman dingin sebanyak lima ratus  buah ini terbuang. Jadi saya keluar aula dan “memilih” dua puluh empat orang dan saya katakan kepada mereka, “Boleh saya bicara sebentar kepada anda? Anda tahu, minuman dingin ini saya beli mahal sekali sehingga saya tidak mau minuman itu terbuang begitu saja. Saya bayar mahal sekali untuk memberi anda minuman segar. Maukah anda masuk kembali dan menikmati apa yang sudah saya beli untuk anda? Saya masih mempunyai minuman dingin di dalam untuk setiap orang yang mau menghilangkan rasa hausnya, dan minuman itu masih tetap gratis.” Kemudian, dua puluh empat orang itu memutuskan untuk menerima tawaran saya, dan anda salah satu dari mereka, dan anda menyadari bahwa anda memang haus. Anda mengakui saya benar-benar murah hati sehingga dengan bertindak atas kemauan sendiri anda menerima tawaran saya, kembali ke aula, dan menikmati minuman dingin itu. Saya memilih anda untuk kesempatan ini, dan jika saya tidak memilih anda, anda tidak akan mendapat minuman dingin itu. Namun, anda memutuskan untuk minum karena saya tidak memaksa anda. Jadi, anda masuk lagi, menikmati minuman anda, dan memuji saya karena saya membeli minuman itu untuk anda.

Bagaimana dengan empat ratus tujuh puluh enam orang lain di luar yang tidak saya hubungi dengan cara khusus itu? Saya tidak bertindak tidak adil terhadap mereka karena saya sudah menawarkan minuman kepada mereka. Bukan hanya itu sebab mereka masih dapat kembali dan datang minum kalau mereka berubah pikiran karena pintu masih terbuka, minuman dingin masih tersedia, dan harga sudah dibayar. Pada hakikatnya, mereka yang memutuskan untuk menerima tawaran saya dan kembali sekarang memperlihatkan bahwa mereka anggota dari kelompok orang-orang terpilih tanpa mengurangi pentingnya bahwa mereka telah membuat pilihan. Yang lain yang pergi dengan rasa haus pergi dalam keadaan itu karena mereka menolak tawaran saya, bukan karena saya tidak keluar untuk memanggil mereka kembali. Mereka yang tidak menikmati minuman itu tidak dapat mempersalahkan saya, dan mereka yang mendapat minuman tidak dapat berterima kasih kepada siapapun kecuali saya karena mereka tidak berbuat apa-apa untuk diberikan minuman itu.

Pada akhirnya, banyak diantara lima ratus orang itu mungkin menolak tawaran saya, tetapi dalam pilihan itu saya menjamin bahwa paling sedikit dua puluh empat orang akan menikmati tawaran saya yang murah hati. Kalvari terlalu mahal bagi Allah dan tidak pantas tawaran-Nya akan keselamatan ditolak semua orang. Jadi, Ia memastikan supaya beberapa orang akan diselamatkan, dan Ia melakukannya sedemikian rupa sehingga siapa yang masih mau boleh datang juga. Kalau mereka tidak datang, itu adalah karena mereka tidak mau datang, bukan karena Allah yang menutup pintu. Ia mendapat kemuliaan dan puji-pujian dalam segala sesuatu”.22

PENUTUP

Berdasarkan apa yang telah dijelaskan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut.  Pertama, ajaran tentang penebusan tak terbatas tidak hanya didasarkan pada pertimbangan logis, tetapi didasarkan atas pertimbangan eksegesis dari teks Kitab Suci dan pandangan teologis yang Alkitabiah. Sedangkan “penebusan terbatas tidak berdasarkan pada eksegesis dari teks Kitab Suci tetapi lebih berdasar pada premis logis bahwa kalau Kristus mati untuk setiap orang dan setiap orang tidak diselamatkan, maka rencana Allah gagal”. 23

Kedua, kata-kata seperti “dunia, seluruh dunia, semua, barangsiapa” adalah kata-kata yang tepat digunakan untuk menyatakan jangkauan (penyediaan) penebusan yang tidak terbatas.24 Sebab jika memang penyedian penebusan terbatas, maka para penulis Alkitab telah memilih kata-kata yang sangat memprihatikan dalam mengungkapkan fakta tersebut. Tuhan yang telah mengilhami para penulis Kitab Suci, berkenan mengungkapkan penyediaan penebusan yang tak terbatas dengan kata-kata (verbal) dan pengertian yang sebenarnya. Tepat seperti apa yang dikatakan oleh Charles F. Beker, “Kelihatannya ada yang tidak beres pada suatu teori yang menuntut pengubahan (pemelintiran) arti bagitu banyak kata guna mempertahankan pendiriannya.” 25

Ketiga, ajaran tentang penebusan tak terbatas ini memberikan kepada para pemberita Injil jaminan dan kebebasan dalam menyampaikan berita, sehingga ia dapat dengan tulus percaya bahwa ia memiliki berita yang dirancang dan tepat menjawab kebutuhan manusia yang datang mendengarkan perkataannya. (Matius 28:19; Markus 16:15-16). Karena “Kristus mati bagi orang-orang berdosa, dan setiap orang yang percaya dan memanggil nama Tuhan akan diselamatkan”. (Bandingkan: 2 Korintus 5:15; Yohanes 3:16; 1 Yohanes 2:2; Roma 10:13).

1 Yohanes 2:2 “Dan Ia (Kristus) adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.

FOOTNOTE

1 Erickson J. Millard., 2003. Christian theology, Jilid 3,  terj, Penerbit Gandum Mas: Malang, hal 509-510.
2 Charles. C. Ryrie, 1992. Basic Teologi, Jilid 2, terj, Penerbit Yayasan Andi: Yokyakarta, hal 75.
3 Ibid.
4 Erickson J. Millard., of.cit, hal 524.
5 Beker, Charles. F, 1994. A Dispensasional Theology, terjemahan, Penerbit Alkitab Anugerah: Jakarta, hal 498-499.
6 Charles. C. Ryrie, of.cit, hal 76.
7 Ibid.
8 Ibid.
9 Ibid.
10 Erickson J. Millard., Christian theology, hal 524.
11 Ibid.
12 Beker, Charles. F,  A Dispensasional Theology, hal 520.
13 Samuel T. Gunawan, 2009. Dasar-Dasar Iman Kristen, Modul Teologi Sistematika. Diterbitkan BESEI Ministries: Palangka Raya, hal 76.
14 Conner, Kevin J, 2004. A Practical Guide To Christian Belief, terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang, hal 599.
15 Ibid, hal 597.
16 Erickson J. Millard, Christian theology, hal 515-524.
17 Charles. C. Ryrie, Basic Teologi, hal 77-82.
18 1 Yohanes 2:2, adalah ayat yang sulit dijelaskan bagi penganut paham penebusan terbatas (limited atonement). “Bukan dosa kita saja tetapi dosa seluruh dunia”. Ada kontras antara kata “kita” dan “dunia.” Dengan demikian kematian Yesus Kristus adalah untuk orang pilihan dan orang lain. Penganut penebusan terbatas menjelaskan kata “kita” di situ adalah hanya para rasul dan seluruh dunia adalah orang-orang percaya di dunia. Tetapi apakah benar kata “kita” hanya untuk para rasul? Secara konteks kata “kita” tidak mendukung konsep penebusan terbatas, karena dalam 1 Yohanes 1:9 kata kita adalah untuk orang-orang percaya. Sebagaimana kata “kita” dalam 1 Yohanes 1:10 juga menunjukkan kepada “orang percaya”. Tegasnya, jika 1 ayat ini dibahasakan menurut paham penebusan terbatas menjadi demikian “ Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita (para rasul), dan bukan untuk dosa kita (para rasul) saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia (orang-orang yang terpilih diseluruh dunia)”. Bahkan di dalam Surat 1 Yohanes kurang lebih ada sekitar 21 kali kata kosmos/dunia muncul, tetapi tidak ada satupun yang mengacu kepada orang pilihan. Justru kata “dunia” di sini lebih menekankan kontras rohani dengan sistem duniawi. Jadi apa alasan kita untuk percaya bahwa kata “dunia” dalam 1 Yoh 2:2 adalah untuk orang-orang pilihan? Apakah ini tidak lebih dari suatu pemaksaan konsep oleh penganut paham ini? Jika telusuri lagi dalam Surat 1 Yohanes, terutama ketika kita membaca 1 Yoh 5:19 kata “dunia” jelas-jelas mengacu kepada orang-orang yang tidak percaya.
19 Samuel T. Gunawan, Dasar-Dasar Iman Kristen, Modul Teologi Sistematika. hal 69.
20 Charles. C. Ryrie, Basic Teologi, hal 81-82.
21 Ibid, hal 75.
22 Evans, Tony, 2005. Sungguh-sungguh Diselamatkan, terjemahan, Penerbit Gospel Press: Batam, hal 120-122.
23 Enns, Paul, 2003. The Moody Handbook Of Theology, jilid 1, terjemahan, penerbit SAAT: Malang, hal 405.
24 Menurut pemahaman penebusan terbatas kata Dunia memiliki beberapa pengertian. Dengan mengutip Lukas 2:1 Kaisar mensensus seluruh dunia, tapi nyatanya hanyasekitar wilayah kekuasaan kaisar Agustinus saja dan tidak sampai kedaratan China. Jadi, kata “dunia” di dalam Alkitab memiliki beberapa pengertian, yaitu:             1. Dunia di sini adalah dunia orang pilihan. 2. Dunia, mengacu kepada dunia eskatologi, dimana seluruh dunia akan percaya kepada Yesus. 3. Dunia secara etnis, mengasihi “orang pilihan” dari segala etnis bukan Israel saja. Dunia secara geografi, “orang pilihan” dari segala tempat.
25 Beker, Charles. F, A Dispensasional Theology, hal 524.

REFERENSI UNTUK STUDI LANJUT 

Daftar berikut ini adalah buku terpilih oleh penulis dengan pertimbangan bahwa buku-buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kecuali buku Wayne Grudem, Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Berdasarkan pertimbangan diatas tidaklah sulit untuk mendapatkan buku-buku tersebut di toko buku Kristen atau penerbit buku. Selanjutnya, di dalam buku-buku tersebut terdapat referensi lanjutan sesuai dengan rujukan para penulis buku tersebut.

Beker, Charles. F., 1994. A Dispensasional Theology, terjemahan, Penerbit Alkitab Anugerah: Jakarta.
Berkhof, Louis., 2011. Systematic Theology. 6 Jilid, Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta.
Conner, Kevin J., 2004. The Fondation of Christian Doctrine. Terjemahan, Pernerbit Gandum Mas: Malang.
Enns, Paul., 2004.The Moody Handbook of Theology, 2 jilid. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang.
_________., 2000. Approaching God, 2 jilid. Terjemahan, Penerbit Interaksara : Batam.
Evans, Tony, 2005. Sungguh-sungguh Diselamatkan, terjemahan, Penerbit Gospel Press: Batam.
Erickson J. Millard., 2003. Christian theology. 3 Jilid. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.
Grudem, Wayne., 1994. Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Zodervan Publising House: Grand Rapids, Michigan.
____________., 2009. Christian Beliefs. Terjemahan, Penerbit Metanonia Publising: Jakarta.
Samuel T. Gunawan, 2009. Dasar-Dasar Iman Kristen, Modul Teologi Sistematika. Diterbitkan BESEI Ministries: Palangka Raya.

Ryrie, Charles C., 1991. Basic Theology.   2 Jilid, Terjemahan, Penerbit Andi Offset: Yoyakarta.
Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang.
Thiessen, Henry C., 1992. Lectures in Systematic Theology, direvisi Vernon D. Doerksen. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.

Allah Roh Kudus

Oleh: Wiempy Wijaya

Di bawah ini akan saya bahas mengenai Allah Roh Kudus.

ALLAH ROH KUDUS

  1. Siapakah Roh Kudus itu ?
    Roh Kudus adalah Allah oknum ketiga

  2. Apakah buktinya bahwa Roh Kudus adalah Allah ?
    • Menerima sebutan sebagai Allah. (Kisah Para Rasul 5:3-4, 26:16-25; Ibrani 10:15)
    • Memiliki kepribadian Allah. (Ibrani 9:14; Mazmur 139:7-10; Kisah Para Rasul 1:8; 1 Korintus 2:10)
    • Melakukan pekerjaan Allah. (Kejadian 1:2; 1 Korintus 6:11; 1 Petrus 1:21; Kisah Para Rasul 20:28)
    • Namanya disebut bersama-sama dengan Allah. (Matius 28:20; 2 Korintus 13:13)
  3. Roh Kudus itu dilambangkan dengan apa saja ?
    • Angin (Yohanes 3:8)
    • Merpati (Lukas 3:22)
    • Api (Kisah Para Rasul 2:3)
    • Materai (Efesus 1:13-14)
  4. Kapan Roh Kudus mulai bekerja ?
    Roh Kudus sudah ada sebelum dunia ada dan segala isinya tercipta (Kejadian 1:1-2). Namun pada hari Pentakosta aktivitas Roh Kudus dinyatakan kepada manusia yang menunjukkan masa baru (Kisah Para Rasul 2).

  5. Apakah pekerjaan Roh Kudus itu ?
    • Mengingatkan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yohanes 16:8)
    • Melahir-barukan orang percaya (Yohanes 3:5-6)
    • Tinggal dalam hati orang percaya (Yohanes 14:17, 1 Korintus 6:19)
    • Memberi jaminan keselamatan (Efesus 1:13-14)
    • Menghibur hati yang berduka (Yohanes 14:26)
    • Membantu orang yang percaya berdoa (Roma 8:16-27)
    • Membantu orang percaya berbicara (Lukas 12:11-12, Kisah Para Rasul 2:4)
    • Menolong orang percaya berbuah (Galatia 5:22-23)
    • Memberi karunia Rohani (1 Korintus 12:8-11)
    • Mengutus Missionari (Kisah Para Rasul 13:2)
    • Memberitahukan hal-hal yang akan datang (Yohanes 16:13)
    • Mewahyukan firman Tuhan (2 Petrus 1:20-21)
    • Memberi kuasa (Kisah Para Rasul 1:8)
    • Mencipta (Kejadian 1:2)
  6. Apakah buktinya Roh Kudus itu suatu bentuk pribadi ?
    Roh Kudus dapat melakukan pekerjaan dan juga dapat diperlakukan sebagai pribadi antara lain sebagai berikut :
    • Dapat di bohongi (Kisah Para Rasul 5:3)
    • Dapat didukacitakan (Efesus 4:30)
    • Dapat dihujat (Lukas 12:10)
    • Dapat mengajar (Lukas 12:11-12)
    • Dapat menghibur (Yohanes 14:26)
    • Dapat mengutus (Kisah Para Rasul 13:2)
  7. Bagaimana seseorang dapat dipenuhi dengan Roh Kudus ?
    Setiap orang percaya menerima Roh Kudus untuk memimpin hidupnya. Jika orang tersebut membuang dosanya dan berada dalam ketaatan penuh pada pimpinan Roh Kudus maka orang itu dipenuhi dengan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 4:31)

  8. Apakah tanda-tanda orang yang dipenuhi dengan Roh Kudus ?
    • Berani memberitakan firman Tuhan (Kisah Para Rasul 4:8)
    • Mempunyai iman yang besar (kuat) (Kisah Para Rasul 11:24)
    • Penuh kuasa (Kisah Para Rasul 2:37-41)
    • Lebih mengerti kitab suci (Alkitab) (Kisah Para Rasul 2:14-36)
    • Berbuah Roh (Galatia 5 :22-23)
  9. Berapa lamakah Roh Kudus berdiam dalam diri seseorang ?
    Roh Kudus tinggal selama-lamanya dalam diri orang yang percaya (Efesus 1:13-14, Yohanes 14:17)

  10. Apakah artinya dibaptiskan dengan Roh Kudus ?
    Dibaptiskan dengan Roh Kudus yaitu masuknya Roh Kudus dan berdiam dalam diri orang yang menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Baptisan Roh Kudus terjadi satu kali saja dalam hidup seorang percaya (Kisah Para Rasul 1:5). Jadi jika ada di antara saudara sekalian mau pindah dari gereja aliran Protestan ke gereja aliran Pantekosta, dan oleh Pdt. dari gereja Pantekosta tsb minta dibaptis ulang dengan cara baptis selam untuk bisa menjadi jemaat di gereja tersebut atau agar bisa mengikuti pelayanan di gereja tersebut, saya sarankan jangan mau dibaptis ulang untuk yg kedua kalinya. Baptisan hanya berlaku dan terjadi satu kali saja dalam hidup kita sebagai orang Kristen. Jika hanya gara-gara pindah gereja dan lalu kita dibaptis ulang untuk yang kedua kalinya, hal ini tidak diperkenankan.

  11. Apakah orang yang dipenuhi dengan Roh Kudus harus berbahasa Roh ?
    Dengan tegas saya katakan Tidak harus !!! Kita ambil contoh Rasul Petrus yang penuh dengan Roh Kudus namun berbahasa biasa (Kisah Para Rasul 4 :8, 13:9-10)

  12. Apakah yang perlu diketahui tentang bahasa Roh atau bahasa lidah ?
    • Hanya berkata-kata kepada Allah (1 Korintus 14:2)
    • Tidak ada seorang pun yang mengerti (1 Korintus 14:2)
    • Mengucapkan hal-hal yang rahasia (1 Korintus 14:2)
    • Membangun diri sendiri (1 Korintus 14:4)
    • Tidak terlalu berharga (1 Korintus 14:5)
    • Dapat ditafsirkan (1 Korintus 14:5)
    • Berdoa dengan Roh dan tidak menggunakan akal budi (1 Korintus 14:14)
    • Tidak berguna di depan jemaat (1 Korintus 14:19)
    • Tanda untuk orang yang tidak beriman (1 Korintus 14:22)
  13. Apakah segi negatif dari bahasa Roh ?
    • Tidak dapat dibedakan antara bahasa Roh yang sungguh dan yang palsu.
    • Menimbulkan kesombongan Rohani.
    • Menjadi batu sandungan (1 Korintus 14:23)
    • Memanipulasi pekerjaan Tuhan.

Analisis Teologis Terhadap Ajaran Bahasa Lidah Sebagai Bukti Fisik Baptisan Roh Kudus

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

Berikut ini adalah bagian atau ayat-ayat Alkitab yang dijadikan dasar pengajaran Pentakostlisme bahwa bahasa roh sebagai bukti fisik dari baptisan Roh Kudus.

Ayat-ayat yang dijadikan dasar ajaran Pentakostalisme bahwa bahasa roh sebagai tanda atau bukti fisik dari baptisan Roh Kudus dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian: yaitu: (1) Berdasarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di empat tempat (Yerusalem, Samaria, Kaisarea, dan Efesus. Ini dapat disebut dengan “parhamisme” atau teori Parham, berasal dari nama Charles Fox Parham; (2) Berdasarkan pengalaman Rasul Paulus dalam Kisah Para Rasul 9:17 yang dihubungkan dengan pernyataannya dalam 1 Korintus 14:18; (3) Berdasarkan perkataan Tuhan Yesus dalam Markus 16:17.

Pertama, analisis teologis teori Parhamisme. Menyatakan bahwa bahasa lidah merupakan bukti fisik dari baptisan Roh kudus adalah sebuah kesimpulan sebenarnya tidak tepat, didasarkan peristiwa-peristiwa yang hanya disebutkan di empat bagian ayat dalam Kisah Para Rasul saja.

Berikut ini fakta-fakta yang menunjukkan bahwa bahasa lidah bukanlah bukti fisik baptisan Roh:

(1) Dari empat peristiwa baptisan Roh dalam Kisah Para Rasul tersebut, ditemukan empat respon yang berbeda: Pada peristiwa Pentakosta di Yerusalem terjadi manifestasi bahasa asing (15 macam bahasa); Pada peristiwa di Samaria tidak terjadi manifestasi apa-apa; Pada peristiwa di rumah Kornelius terjadi manifestasi bahasa roh; dan pada peristiwa di Efesus terjadi manifestasi bahasa roh dan nubuat. Berdasarkan perbedaan respon tersebut tidaklah logis menyimpulkan bahwa bahwa bahasa lidah merupakan bukti fisik dari baptisan Roh kudus, memaksa kesimpulan demikian merupakan bentuk ketidakkonsistenan. Lagi pula menjadikan sedikit ayat (hanya 4 ayat) ini sebagai sampel untuk peristiwa besar yang melibatkan banyak orang adalah kesalahan logika (logical fallacy) yang disebut dengan istilah “generalisasi terburu-buru”. [2]

(2) Dalam peristiwa baptisan Roh tersebut terjadi kepenuhan Roh Kudus yang mengakibatkan terjadinya manifestasi “bahasa asing” (Kisah Para Rasul 2:4), “bahasa roh dan memuliakan Allah” (Kisah Para Rasul 10:44-46), “bahasa roh dan nubuat” (Kisah Para Rasul 19:6). Sedangkan pada peristiwa di Samaria tidak ada manisfestasi apapun pada saat peristiwa baptisan Roh Kudus. Mengapa? Jawaban yang paling memuaskan ialah karena pada peristiwa baptisan Roh di samaria tersebut tidak terjadi kepenuhan Roh Kudus. Jadi kepenuhan Roh Kuduslah yang menyebabkan terjadinya manisfestasi “bahasa roh, nubuat, dan bahasa asing” dalam ketiga peristiwa baptisan Roh tersebut.

Kedua, analisis teologis Kisah Para Rasul 9:17. Pentakostalisme menjelaskan bahwa Paulus menerima baptisan Roh tiga hari setelah pertobatannya di tengah jalan ke Damsyik (Kisah Para Rasul 9:17) dan berbahasa Roh akibat dari Baptisan Roh tersebut yang terjadi setelah ditumpangi tangan oleh Ananias, yang dihubungkan dengan pernyatan Paulus dalam 1 Korintus 14:18. Berikut ini argumentasi yang menolak pandapat tersebut:

(1) Penumpangan tangan yang dilakukan oleh Ananias ke atas Saulus bukan merupakan baptisan Roh, melainkan pemenuhan dengan Roh Kudus atau pengurapan. Sebab Saulus sudah menerima Roh Kudus pada saat kelahiran baru di tengah jalan ke Damsyik, sesuai Kisah Para Rasul 2:38, namun belum dipenuhi (diurapi) oleh Roh Kudus sesuai dengan Efesus 5:18.

(2) Penumpangan tangan yang dilakukan Ananias pada Saulus adalah cara Tuhan untuk menyembuhkan penglihatan Saulus (ayat 12, 17) dan untuk kepenuhan Roh atau pengurapan Paulus yang dipanggil ke dalam pelayanan, kepada Ananias Tuhan berkata “sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku” (Kisah Para Rasul 9:15-16).

(3) Tidak disebutkan bahwa Paulus berkata-kata dalam bahasa roh pada peristiwa dimana Ananias meletakkan tangan ke atasnya. Memang kemudian hari dalam1 Korintus 14:18 Paulus menyatakan bahwa ia berbahasa roh, tetapi menyimpulkan bahwa peristiwa itu terjadi pada saat Ananias meletakkan tangan ke atasnya, merupakan anggapan yang tidak didukung bukti-bukti yang cukup.

Kedua, analisis teologis Markus 16:17. Menurut ajaran Pentakostalisme, frase “berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka” dalam ayat itu, diartikan sebagai janji Tuhan Yesus akan adanya bahasa Roh. Di sini perlu ditegaskan bahwa:

(1) Interpretasi ayat ini harus sesuai konteks yang berbicara tentang pekabaran Injil keseluruh bumi. Dalam dunia penginjilan lazim terjadi hal-hal seperti: utusan injil mengusir roh-roh jahat, memegang ular berbisa, dan menggunakan bahasa-bahasa pribumi dari suku-suku yang diinjili. Pemakaian bahasa-bahasa pribumi dari suku-suku yang diinjili pasti akan merupakan “bahasa-bahasa yang baru” bagi mereka. Oleh karena itu, istilah “bahasa-bahasa baru” dalam ayat di atas tidak mesti menunjuk pada “bahasa Roh”.

(2) Kita yakin bahwa ayat-ayat firman Allah dalam Alkitab, memang menunjuk adanya bahasa roh. Eksistensi dari bahasa Roh adalah pasti karena Alkitab yang mengatakannya. Namun, harus dipertanyakan dengan hati-hati: bahasa roh dengan “status” mana yang dimaksud oleh Alkitab? Apakah status “bahasa roh” yang diperoleh melalui usaha manusia atau status bahasa Roh yang dikaruniakan oleh Allah?

Footnote:
[1] Pencetus “teori” bahasa roh sebagai bukti fisik baptisan Roh ini adalah Charles Fox Parham, rektor Sekolah Alkitab di Topeka, negara bagian Kansas. Pandangan Parham ini pada umumnya diikuti para penganut Pentakostalisme sebagai dasar untuk menunjukkan bahasa lidah sebagai tanda atau bukti fisik baptisan Roh Kudus, yaitu: (1) Peristiwa Pentakosta di Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 2:4; (2) Peristiwa di Samaria dalam Kisah Para Rasul 8:14-17; (3) Peristiwa di rumah Kornelius di Kaisaria dalam Kisah Para Rasul 10:46; (4) Peristiwa di Efesus dalam Kisah Para Rasul 19:6).
[2] Generalisasi adalah suatu kesimpulan atau pernyataan umum terhadap orang atau sesuatu berdasarkan sampel. Generalisasi terburu-buru adalah adalah kesalahan logika yang dilakukan saat mengambil kesimpulan atau membuat pernyataan berdasarkan: (1) sampel yang sedikit dan atau kecil dan (2) bukan sampel yang mewakili.

Analisis Teologis Terhadap Ajaran Berhentinya Karunia-karunia Roh Kudus

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th [1]

Pandangan Sessasionisme

Sejak era reformasi para teolog Protestan yang terkemuka sudah mempopulerkan pandangan bahwa pekerjaan Roh Kudus dalam pemberitaan Injil sesudah zaman para rasul dibatasi pada pemberitaan Firman Allah yang dinamis, bukan pelaksanaan karunia-karunia rohani.[2] Mereka mengajarkan bahwa “charismata” atau karunia-karunia yang disebutkan dalam 1 Korintus 12 hanya berlaku pada zaman rasul-rasul saja.[3] Pandangan berhentinya karunia-karunia Roh Kudus ini disebut paham sessasionisme. Sedangkan pandangan yang menyatakan bahwa karunia-karunia Roh masih berlanjut disebut non-sessasionisme. Secara umum ada empat pandangan, tetapi searah dari sessasionisme ini, yaitu:

(1) Pandangan yang menyatakan bahwa tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban berhenti pada saat akhir zaman kerasulan. Menurut pandangan ini zaman kerasulan berkahir kira-kira ada tahun 100 Masehi bersama dengan wafatnya Rasul Yohanes. Pandangan ini juga menganggap bahwa karunia-karunia supranatural hanya terbatas dalam zaman kerasulan dan tujuannya ialah untuk meneguhkan otoritas dari para rasul saja; setelah selesai dengan tugas-tugasnya, maka karunia-karunia kharismatik itu juga lenyap bersamanya. Pandangan ini juga menegaskan bahwa tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban setelah zaman para rasul adalah palsu dan bukan dari Allah.

(2) Tanda-tanda dan keajaiban berhenti sebab hal tersebut hanya terjadi pada awal abad dari gereja. Menurut pandangan ini batas waktu berhentinya tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban adalak ketika Kitan Suci selesai seluruhnya dan waktu penyelesaian seluruhnya buku tersebut dikenal terjadi pada tahun 397 Masehi oleh Dewan Cartage.

(3) Tanda-tanda dan keajaiban lenyap karena pemimpin-pemimpin dari denominasi gereja menentangnya. Pemimpin-pemimpin gereja dan para “elit” gereja yang takut kekuasaannya hilang justru menentang tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban, sehingga walaupun ada tanta-tanda dan keajaiban-keajaiban tetapi semakin jarang karena mendapat pelawanan dari para pemimpin gereja pada masa lalu. Menurut pandang ini karunia-karunia berhenti karena tidak dapat bertahan menghadapi ujian sejaran.

(4) Tidak pernah ada tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban. Dengan hadirnya teologi liberal yang dipengaruhi oleh rasionalisme, maka banyak ahli teologi dan pemimipin gereja menolak tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban. Mereka menyangkal kemungkinan adanya campur tangan kekuatan supranatural di dalam penciptaan.

Stanley M. Burgess, Profesor bidang Studi Agama dari Southwest Mission State University, yang adalah seorang pakar sejarah gereja mengatakan “Penganut sessaionisme menyatakan bahwa karunia-karunia kuasa yang nyata dalam gereja abad pertama tidak perlu dan tidak berfungsi lagi setelah kanon Perjanjian Baru selesai. Refresentatif dari pendapat ini adalah Benjamin Breckinrodge Warfield (1851-1921), seorang profesor teologi di Princenton. Warfield terutama memusuhi orang-orang yang membela adanya pengalaman religius dan orang-orang yang ersikeras mengenai adanya karunia-karunia rohani yang istimewa. Ia merasa bahwa orang-orang ini menggantikan kesempurnaan Alkitab dengan keagamaan yang subjektif.[4] Selanjutnya Burgess mengingatkan bahwa “suara-suara sessasionisme masih bersama-sama dengan kita sekarang ini, dan sekarang ditujukan kepada pelayanan penyembuhan dan pelayanan yang berdasarkan karunia-karunia rohani dari gereja-gereja Pentakostal, Kharismatik, dan Gelombang Ketiga”. [5]

ANALISIS TEOLOGIS TERHADAP AYAT-AYAT YANG DIJADIKAN DASAR PANDANGAN SESSASIONISME

Ayat-ayat yang dijadikan dasar ajaran sessasionisme antara lain adalah sebagai berikut: Matius 7:22-23; 16:4; Markus 13:22; Yohanes 16:13-14; 1 Korintus 1:22-23; 13:8,10; 14:14,22; 2 Korintus 12:12; Ibrani 2:3-4; Yudas 1:9. Ayat-ayat ini dijadikan dasar penolakan terhadap ajaran yang menyatakan bahwa karunia-karunia Roh Kudus yang masih bekerja masa kini disertai.


Berikut ini ringkasan pandangan sessasionisme terhadap ayat-ayat tersebut, selanjutnya disertai analisis teologis terhadap ajaran dan pandangan tersebut. [6]

(1) Matius 7:22-23, “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Berdasarkan ayat ini mudah sekali bagi penganut sessasionisme menyimpulkan bahwa semua mujizat, kesembuhan tanda-tanda ajaib sekarang ini bukan dari Tuhan.
Analisis Teologis: Pertama, Konteks Matius 7:22-23 ini tidak boleh dilepaskan dari ayat-ayat sebelumnya khususnya ayat 15 dimana Kristus sedang berbicara tentang kewaspadaan terhadap “nabi-nabi palsu” yang berusaha mengelabui orang-orang percaya dengan cara penyamaran atau pemalsuan. Pemalsuan adalah upaya untuk menyerupai yang asli tetapi tidak memiliki mutu atau kualitas seperti aslinya”. Kata lain untuk “palsu” adalah “tiruan atau imitasi”. Kedua, orang-orang yang “bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan banyak mujizat” dalam ayat tersebut bukanlah orang percaya yang lahir baru (diselamatkan) hal itu nyata dalam pernyataan Kristus “Aku tidak pernah mengenal kamu!”. Mereka adalah “nabi-nabi palsu” yang “pembuat kejahatan” yang melawan “kehendak Tuhan”. Berbeda dengan orang percaya yang dikenal oleh Kristus “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yohanes 10:27). Ketiga, frase “banyak orang” dalam ayat 22 berarti “bukanlah semua orang”. Dengan demikian orang-orang yang melakukan mujizat, penyembuhan dan bernubuat yang berasal dari Tuhan, sesuai dengan kehendak Tuhan bukanlah termasuk kelompok orang yang ditolak tersebut. Iblis selalu berusaha meniru dan memalsukan karya-karya Tuhan untuk menarik perhatian orang-orang Kristen. Tetapi, orang Kristen sejati tidak akan mudah tertipu karena mereka mengenal Kristus (Yohanes 10:27). Dengan mengenali yang asli orang Kristen akan terhindar dari penipuan. Keempat, nabi-nabi palsu ini dapat kenali oleh orang percaya dari “buahnya”. Kristus mengatakan “dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Matius 7:17). Yang dimaksud dengan buah disini bukanlah hasil pekerjaan berupa kemampuan untuk “bernubuat, mengusir setan dan penyembuhan”, melainkan kemurnian “ajaran, motivasi, dan karakter hidup” (2 Petrus 2:1-22) yang sesuai dengan kehendak Tuhan (Matius 7:21). Jadi, ayat ini tidak diamksudkan untuk menyatakan semua “nubuat, mujizat, kesembuhan” itu palsu, melainkan peringatan kepada orang Kristen untuk mewaspai “kepalsuan”.


(2) Matius 16:4, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus." Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi.” Berdasarkan ayat ini penganut sessasionisme mengajarkan bahwa orang Kristen tidak perlu mencari mujizat sekarang ini. Sebaliknya, orang Kristen harus mengharapkan “tanda nabi Yunus”, yang berarti kebangkitan Kristus, serta menekankan hal itu ketika orang Kristen berbicara mengenai mujizat.

Analisis Teologis: Konteks Matius 16 ini dilatar belakang oleh orang-orang Farisi dan Saduki yang hendak mencobai Yesus. Yesus menyebut mereka sebagai angkatan yang jahat dan tidak setia. Dengan kata lain konteks ayat ini ditujukan kepada orang yang tidak mempercayai Yesus. Kesalahan dari pandangan sessasionisme diatas adalah kelalaian memperhatikan konteks ini. Tuhan Yesus dalam konteks Matius 16 ini sedang menegur orang-orang Farisi dan Saduki, yaitu pemimpin-pemimpin agama yang hatinya keras, hanya mengkritik, dan hanya mencari-cari kesalahan Yesus. Teguran seperti ini sama sekali tidak ditujukan kepada orang percaya sejati yang mencari ksesembuhan fisik dan mengharapkan mujizat, atau kelepasan, dan lainnya. Karena itu memberlakukan ayat ini untuk orang Kristen sejati adalah tidak valid. Tidak ada nas Perjanjian Baru yang melarang penggunaan mujizat oleh orang-orang Kristen sejati.

(3) Markus 13:22, “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan”. Berdasarkan ayat ini penganut sessasionisme mengajarkan bahwa Kristus telah memperingatkan orang Kristen bahwa pada akhir zaman, para mesias dan nabi palsu akan mengadakan mujizat-mujizat, dan mujizat tersebut begitu menyesatkan sehingga “sekiranya mungkin menyesatkan orang-orang pilihan”. Karena itu, mengikuti orang-orang (atau gereja-gereja) yang mengadakan mujizat sekarang ini berbahaya dan harus dihindari supaya tidak tersesat karena mengikuti nabi palsu. Logika yang digunakan seperti ini: “Mesias-mesias palsu mengadakan mujizat; mujizat terjadi di gereja K (inisial); karena itu, gereja K sesat”.

Analisis Teologis: Pertama, Perjanjian Baru tidak mengajarkan penalaran cacat (logical fallacy) seperti itu. Kedua, konteks Markus 13:22 tidak dikatakan bahwa para mesias palsu dan nabi palsu itu begitu lihainya sehingga orang Kristen sejati tidak bisa mengenalinya. Ketiga, dalam konteks ayat itu juga tidak dikatakan bahwa orang-orang pilihan akan tersesat, melainkan dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa para mesias dan nabi palsu itu akan berusaha untuk menyesatkan orang pilihan, tetapi tidak dikatakan bahwa orang pilihan akan tersesat atau mengikuti mereka. Frase Yunani “pros to apoplanan, ei dunaton, tous eklektous, dalam ayat tersebut secara harafiah berarti “dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan”. Sebaliknya, Yesus memberikan cara untuk menguji nabi-nabi palsu, yaitu “dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Matius 7:16). Orang Kristen sejati tidak akan mudah tertipu karena mereka mengenal Kristus (Yohanes 10:27); tetapi mereka mengenal penyesatan dari buahnya, yaitu kemurnian ajaran dan karakter hidupnya (2 Petrus 2:1-22). Kita tidak perlu ragu-ragu terhadap orang Kristen (atau gereja) yang mengajarkan doktrin yang murni, memuliakan Tuhan Yesus Kristus, memasyurkan Injil, memajukan pekerjaan Allah, dan memberikan dampak yang baik kepada banyak orang. Dari buahnya kita tahu bahwa hal seperti ini tidak menyesatkan. Doktrin yang benar dan buah-buah kebaikan bukanlah ciri agama palsu.

(4) 1 Korintus 1:22-23, “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”. Berdasarkan ayat ini penganut sessasionisme mengatakan bahwa Paulus memperingatkan. Agar orang Kristen jangan berusaha mencari tanda-tanda maupun mujizat-mujizat, melainkan orang Kristen harus memberitakan Injil Yesus Kristus saja.
Analisis Teologis: Pertama, dalam konteks ayat tersebut, Paulus tidak sedang menyangkali keabsahan tanda-tanda dan hikmat, tetapi ia menegaskan bahwa tanda-tanda dan hikmat itu tidak menyelamatkan, karena hanya Injil saja yang menyelamatkan. Tanda-tanda yang dicari oang Yahudi dan hikmat yang dicari orang Yunani bukanlah tanda-tanda dan hikmat Kristus melainkan hanya tanda-tanda untuk menghibur atau untuk mengobarkan permusuhan dan skeptikisme mereka; dan hikmat yang adalah hikmat dunia bukan hikmat Allah. Kedua, jelaslah Paulus dalam ayat ini tidak menyangkali tanda-tanda, mujizat, hikmat dan kuasa Allah, sebab dibagian lainnya Paulus mengakui bahwa ia mengadakan tanda-tanda mujizat yang berhubungan dengan pemberitaan Injil seperti yang ditertulis dalam Roma 15:18-19 “Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan, oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus”. Integritas rasul Paulus diakui, dan pernyataannya tidak kontras dalam kedua ayat dan kesempatan yang berbeda tersebut (1 Korintus 1:22-23 bandingkan dengan Roma 15:18-19). Jadi, mengajarkan orang Kristen supaya jangan berusaha mencari tanda-tanda maupun mujizat-mujizat, melainkan orang Kristen harus memberitakan Injil Yesus Kristus saja berdasarkan 1 Korintus 1:22-23, adalah tafsiran yang tidak tepat, dan tafsiran ini justru melanggar prinsip hermeneutika “Alkitab menafsirkan dirinya sendiri”.[7]


(5) 1 Korintus 13:8, “Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.” Berdasarkan ayat ini penganut sessasionisme mengajarkan bahwa pada saat Paulus mengatakan “nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti”, itu berarti bahwa nubuat dan bahasa roh akan berhenti pada awal sejarah gereja.
Analisis Teologis: Pertama, pendapat ini tidak benar karena kesalahan eksegese (exegetical fallacy) dan melanggar prinsip hermeneutika “tafsir sesuai konteks”.[8] Nubuat akan berakhir dan bahasa roh akan berhenti bukanlah pada awal sejarah gereja, melainkan pada saat “yang sempurna tiba” (1 Korintus 13:10), yaitu pada saat Kristus datang kembali. Kedua, dalam pendapat sessasionisme diatas, terdapat ketidak-konsisten karena seharusnya yang berhenti tidak hanya bahasa roh dan nubuat, tetapi juga pengetahuan. Sebaliknya, saat ini kita melihat pengetahuan semakin bertambah. Justru dalam ayat ini kita mendapatkan pernyataan Alkitab melalui rasul Paulus bahwa kita masih bisa mengharapkan nubuat, bahasa roh, bahkan karunia-karunia lainnya tetap ada hingga Kristus datang, karena pada saat itulah semua karunia-karunia itu tidak kita perlukan lagi.


(6) 1 Korintus 13:10, “Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap”. Berdasarkan ayat ini penganut Sessasionisme mengajarkan bahwa tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban, serta mujizat telah berhenti, sebab yang sempuna, yaitu Alkitab telah rampung ditulis. Jadi frase “jika yang sempurna itu tiba” dianggap mengacu kepada waktu kanon Perjanjian Baru sudah lengkap. Lebih Jauh, kata “sempurna” adalah kata Yunani “tekios” yaitu kata benda netral yang jelas menunjuk kepada Alkitab.
Analisis Teologis: Pertama, perlu diketahui bahwa kitab terakhir Perjanjian Baru adalah kitab Wahyu yang ditulis paling lambat tahun 90 Masehi atau sekitar 35 tahun setelah Paulus menulis Kitab atau Surat 1 Korintus. Pertanyaannya: pada waktu Paulus menulis Surat Korintus, khususnya pasal 13, apakah jemaat mengerti bahwa “yang sempurna” itu adalah “kanon Perjanjian Baru”. Pertanyaan ini akan menjadi serangan balik bagi penganut sessasionisme. Kedua, jika yang dimaksud dengan “yang sempurna” adalah Alkitab, maka gagasan yang demikian tidak sesuai dengan tujuan Paulus menulis Surat 1 Korintus pasal 13 ini. Ini merupakan suatu gagasan yang asing bagi Paulus maupun jemaat Korintus. Karena dalam konteks ini Paulus sedang membicarakan tentang keberlangsungan kasih, ketimbang nubuat, bahasa roh, dan pengetahuan. Ketiga, Tidak ada peraturan dalam tata bahasa Yunani bahwa kata benda netral hanya bisa digunakan untuk menunjuk benda-benda yang tidak ada jenis penunjukkan kelaminnya. Kata benda netral atau kata ganti (pronoun) dapat digunakan untuk menggambarkan benda-benda berjenis laki-laki atau perempuan dan dapat juga digunakan untuk menggambarkan pribadi-pribadi. Contoh: Kata “Roh” atau “Pneuma” dalam bahasa Yunaninya merupakan kata benda metral, dan scara jelas Kitab Suci menyatakan bahwa Roh bukanlah benda tetapi adalah Pribadi yang ketiga dari Allah Trinitas. Dengan demikian kata benda “tekios” atau “sempurna (perfektion)” dalam ayat ini tidak mengacu pada Alkitab, tetapi pada kedatangan Kristus kembali di akhir zaman. Tafsiran ini lebih konsisten dengan perkataan Paulus sebelumnya dalam 1 Korintus 1:7, yaitu “Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus”.


(7) 1 Korintus 14:14, “Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa”. Berdasarkan ayat ini penganut sessasionisme mengajarkan Karena Paulus mengatakan bahwa seseorang yang memakai bahasa roh membangun dirinya sendiri, maka lebih baik orang Kristen menghindari saja bahasa roh lalu mencari karunia-karunia lain yang membangun gereja.
Analisis Teologis: Pertama, kesalahan dalam tafsiran ini adalah pengambilan kesimpulan yang salah. Dalam ayat ini Paulus tidak melarang menggunakan bahasa roh secara pribadi, walaupun Paulus mengingatkan tentang penggunaan bahasa roh tanpa tafsiran di dalam kumpulan jemaat. Kedua, tafsiran penganut sessasionisme diatas merupakan asumsi yang keliru bahwa kita tidak boleh melakukan hal-hal untuk membangun diri sendiri. Seperti berdoa, membaca Alkitab, maka bahasa roh bermanfaat untuk membangun diri sendiri (bandingkan 1 Korintus 14:4), agar bertumbuh dalam kasih karunia dan kekudusan. Ketiga, asumsi tersebut melanggar prinsip konteks dalam hermeutika. Perhatikan hubungan ayat 14, dengan lainnya ayat 4, ayat 5, ayat 18, dan ayat 39. Paulus juga tidak menganggap remeh atau rendah karunia bahasa roh, justru ia mengatakan “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua” (1 Korintus 14:18). Dan Ia juga menginginkan jemaat Korintus “Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun” (1 Korintus 14:5). Melarang orang Kristen berbahasa roh sama dengan melanggar firman Tuhan yang disampaikan melalui Paulus; tetapi Paulus menegaskan semuanya harus dilakukan sopan dan tertib “Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur” (1 Korintus 14:39-40).


(8) 1 Korintus 14:22, “Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman”. Berdasarkan ayat ini penganut sessasionisme mengatakan bahwa bahasa roh adalah suatu tanda dan kutuk perjanjian dari Allah terhadap orang Yahudi yang tidak percaya. Hal itu mengingatkan kita agar tidak menggunakan bahasa roh sekarang ini.
Analisis Teologis: Pertama, yang perlu diperhatikan dalam konteks 1 Korintus 14:21-23 ini ialah Paulus dalam mengutip nas dari Yesaya 28:11,12 bertujuan untuk memperingakan orang Kristen agar jangan berbahasa roh di dalam gereja tanpa tafsiran. Kedua, Paulus juga tidak melarang orang berbahasa roh di depan umum (jemaat), tetapi harus disertai dengan tafsiran (Bandingkan 1 Korintus 14:27-28). Kerena itu perlu diingat bahwa dalam teks ini Paulus bukan melarang penggunaan bahasa roh, tetapi pengaturan dari penyalahgunaan bahasa roh di depan umum yang tanpa tafsiran, karena hal itu dapat menimbulkan suasana kekacauan dan menyebabkan kebingungan yang tidak membangun. Jadi, menggunakan pembahasan Paulus mengenai bahasa roh dalam teks ini sebagai dasar polemik umum terhadap semua penggunaan lain bahasa roh adalah bertentangan dengan seluruh konteks 1 Korintus Pasal 12 – 14.


(9) 1 Korintus 14:22, “Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa”. Berdasarkan ayat ini penganut sessasionisme berpendapat bahwa Rasul Paulus mengatakan bahwa mujizat-mujizat bertujuan untuk membuktikan jabatan kerasulannya. Jadi “tanda dari seorang rasul yang sejati adalah mujizat”. Karena mujizat-mujizat itu digunakan untuk membuktikan keunikan otoritas para rasul, itu berarti kita seharusnya tidak mengharapkan tanda seperti itu sekarang ini.
Analisis Teologis: Pertama, kata “tanda” atau “semeion” dalam ayat ini tidak harus berarti “mujizat”, tetapi lebih luas lagi, yaitu termasuk sifat-sifat kehidupan Paulus dan hasil-hasil pelayanannya. Dengan kata lain sifat kehidupan dan pelayan Paulus disertai dengan mujizat-mujizat, atau mujizat-mujizat hanya merupakan satu dari banyak tanda dari pelayanan dan kehidupan Paulus. Kedua, Perjanjian Baru tidak pernah mengatakan bahwa mujizat-mujizat membuktikan bahwa seseorang adalah rasul Kristus, sebab banyak orang yang bukan rasul juga mengadakan mujizat, misalnya: Stefanus (Kisah Para Rasul 6:8); Filipus (Kisah Para Rasul 8:6,7), Ananias (Kisah Para Rasul (9:17,18; 22:13), Jemaat Galatia (Galatia 3:5), dan Orang-orang yang berkarunia mujizat (1 Korintus 12:28). Ketiga, Dalam teks ini rasul Paulus tidak memberitahu kepada jemaat Korintus bagaimana membedakan seorang Rasul dari orang Kristen yang lainnya, tetapi ia hanya menambah mujizat sebagai satu faktor lagi dari kerasulannya (Bandingkan 1 Korintus 9:1-2; 15:7-11; Galatia 1:1, 11-24), yang membedakannya dengan rasul-rasul palsu (1 Korintus 12:13). Jadi, mereka yang menggunakan ayat 1 Korintus 12:12 untuk menentang mujizat-mujizat sekarang ini gagal memahami konteks ayat ini. Karena bertentangan dengan tujuan ayat tersebut.


(10) Ibrani 2:3-4, “bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai, sedangkan Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karunia Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya.”. Berdasarkan ayat ini penganut sessasionisme berpendapat bahwa mujizat-mujizat dibatasi pada zaman para rasul, yaitu “mereka yang telah mendengarkan”.
Analisis Teologis: Pertama, frase ”mereka yang telah mendengarnya”, tentu saja tidak terbatas hanya pada para rasul, karena ada banyak orang lain yang juga mendengarkan perkatan Yesus (Lukas 10:1 dan seterusnya; Yohanes 6:60-70; 1 Korintus 15:6). Kedua, pandangan sessasionisme diatas tidak mencerminkan maksud dari nas Ibrani 2:3-4 tersebut. Maksud nas tersebut ialah bahwa berita Injil bukan hanya diperkuat oleh “tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai pernyataan kekuasaan”, tetapi juga oleh “karunia Roh Kudus”.


(11) Yudas 1:9, “Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata: "Kiranya Tuhan menghardik engkau!”. Berdasarkan ayat ini penganut sessasionisme berpendapat bahwa orang Kristen tidak boleh berbicara langsung dengan roh jahat lalu mengusirnya.
Analisis Teologis: Pertama, dalam konteks ini Yudas tidak berbicara mengenai orang Kristen dalam perlawanan dengan kekuatan roh jahat, melainkan menjelaskan kesalahan guru-guru palsu yang tidak bermoral dan memberontak. Guru-guru palsu itu “menghina kekuasaan” secara umum dan “menghujat semua yang mulai” (Yudas 1:8). Berdasarkan wewenang mereka sendiri, guru-guru palsu ini secara bodoh mengucapkan kata-kata hujatan terhadap mahluk-mahluk surgawi, apakah malaikat atau setan. Kedua, rujukan kepada Mikhael, hanya dipakai oleh penulis kitab Ibrani untuk menunjukkan bahwa malaikat yang terbesar itu, betapapun besar kekuasaannya, tidak berani melampuai batas-batas otoritas yang telah diberikan Allah kepadnya. Akan tetapi guru-guru palsu sudah jauh melampuai batas-batas mereka dan mereka menujukkan kebodohan mereka pada sat mereka “menghujat segala sesuatu yang tidak mereka ketahui” (Yudas 1:10). Justru pelajaran yang dapat dipetik dari sini ialah “jangan mencoba melewati otoritas yang sudah dibeikan oleh Allah” (bandingkan dengan 2 Korintus 10:13-15). Ketiga, Yudas 1:9 tidak menunjukkan bahwa salah bagi orang Kristen untuk menghardik atau mengusir roh jahat. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan rasul Petrus maupun Yakobus, yang mendorong semua orang percaya untuk melawan Iblis (bandingkan Yakobus 4:7; 1 Petrus 5:8-9). Bahkan rasul Paulus memberi semangat agar orang percaya mengenakan perlengkapan senjata Allah agar dapat melawan Iblis (Efesus 6:10-18).


Footnote:
[1] Penulis adalah seorang Protestan Kharismatik, penganut pandangan Non Sessasionisme, yang mengakui karunia-karunia Roh masih berlanjut hingga saat ini.
[2] Burgess, Stanley M. Pemberitaan Injil dengan Karunia-karunia Mukjizat Dalam Gereja Mula-mula Setelah Zaman Alkitab, hal 340, dalam Greig, Gary. S & Kevin N. Spinger, ed., 2001. The Kingdom And The Power. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas, hal 440.
[3] Mahoney, Ralph., Tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban Hari-hari Ini, dalam Manohey, dalam Tongkat Gembala. Lembaga Pusat Hidup Baru: Jakarta.
[4] Burgess, Stanley M. Pemberitaan Injil dengan Karunia-karunia Mukjizat Dalam Gereja Mula-mula Setelah Zaman Alkitab, hal 340, dalam Greig, Gary. S & Kevin N. Spinger, ed., 2001. The Kingdom And The Power. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas.
[5] Ibit.
[6] Saya sangat berhutang kepada Wayne Grudem, seorang nonsessasionisme, melalui artikelnya yang berisi penjelasan dan sanggahan-sanggahan terhadap sessasionisme dalam artikel “Haruskah orang Kristen Mengharapkan Mujizat sekarang Ini? (lihat, Greig, Gary. S & Kevin N. Spinger, ed., 2001. The Kingdom And The Power. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas, hal 65-135).
[7] Kepengarangan ganda dari Alkitab membuatnya perlu, tidak saja untuk mengetahui maksud penulis yang insani tetapi juga maksud Allah. Maksud Allah mungkin tidak sepenuhnya dinyatakan dalam tulisan asli penulis insani tetapi dinyatakan ketika ayat yang satu dibandingkan dengan ayat yang lain. Kita harus terbuka untuk mendapatkan arti sepenuhnya, yang memberi jalan kepada arti yang lebih penuh dalam pikiran pengarang ilahi dari Alkitab. Bilamana kita membandingkan ayat dengan ayat, kita dapat menemukan maksud yang lebih penuh dari pengarang ilahi. Ini yang disebut juga ayat menafsirkan ayat atau Alkitab menafsirkan dirinya sendiri. Perbandingan ini disebut juga referensi silang (cross reference).
[8] Kata konteks berasal dari dua kata, yaitu kon yang artinya bersama-sama dan teks yang artinya tersusun. Secara khusus konteks di sini diartikan sebagai ayat-ayat sesudah dan sebelum ayat atau bagian yang dipelajari. Secara umum konteks diartikan sebagai hubungan pikiran yang menyatukan sebagian (konteks dekat) atau keseluruhan tulisan (konteks jauh). Sehubungan dengan Alkitab, konteks diartikan sebagai hubungan pikiran yang menyatukan satu bagian perikop tertentu, atau satu pasal tertentu atau satu kitab tertentu dalam Alkitab, atau bahkan keseluruhan Alkitab.

Apakah Ada Keselamatan di Luar Yesus Kristus?

Oleh : Pdt. DR. Budyanto

Biasanya setiap orang Kristen berpendapat bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus Kristus, bahkan lebih sempit lagi tidak ada keselamatan di luar gereja. Adapun dasar yang dipakai adalah Yohanes 14:6: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.

William Barclay menafsirkan ayat ini sebagai berikut: Memang banyak orang yang mengajar tentang jalan yang harus ditempuh, tetapi hanya Yesuslah jalan itu dan di luar Dia manusia akan tersesat. Banyak orang yang berbicara tentang kebenaran, tetapi hanya Yesuslah yang dapat mengatakan Akulah kebenaran itu. Orang lain mengajarkan tentang jalan kehidupan, tetapi hanya dalam Yesus orang menemukan kehidupan itu. Karena itu hanya Dia saja yang dapat membawa manusia kepada Tuhan.

Lain halnya dengan Samartha yang mengatakan bahwa dalam agama Kristen Yesus Kristus memang juru selamat, tetapi orang Kristen tidak dapat mengklaim bahwa juru selamat hanya Yesus Kristus. Demikian pula Yesus adalah jalan, tetapi jalan itu bukan hanya Yesus, sebab seperti dikatakan Kenneth Cracknell bahwa di luar agama Kristen pun dikenal banyak keselamatan.

Dalam agama Yahudi dikenal istilah Halakhah, yang secara harafiah artinya berjalan. Kata ini merupakan istilah teknis dalam pengajaran agama Yahudi yang berhubungan dengan semua materi hukum dan tatanan hidup sehari-hari. Istilah ini diambil dari Keluaran 18:20: Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan yang memberitahukan kepada mereka jalan yang harus mereka jalani dan pekerjaan yang harus mereka lakukan.

Dalam agama Islam konsep jalan itu terdapat dalam Sura 1:5-7: .... Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Pimpinlah kami ke jalan yang lurus (yaitu), jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka...

Dalam agama Hindu juga dikenal adanya jalan menuju moksha, menuju kelepasan dari kelahiran kembali, menuju keselamatan, yaitu Jnana marga atau jalan pengetahuan, Karma marga atau jalan perbuatan baik, serta bhakti marga yaitu jalan kesetiaan atau ibadah. Sedangkan dalam agama Budha dikenal Dhama pada, jalan kebenaran menuju nirwana.

Lalu bagaimana hubungan jalan-jalan ini dengan Kristus yang adalah jalan?

Ada berbagai penafsiran, di antaranya: ada banyak jalan kecil-kecil (path), tetapi hanya satu jalan besar (way) yaitu jalan Kristus. Atau ada yang mengatakan ada banyak jalan, termasuk jalan Kristus, tetapi hanya ada satu tujuan yaitu Allah.

Kalau kita memilih yang pertama, memang tidak cocok dengan semangat pluralisme agama-agama, tetapi lebih sesuai dengan teks Yohanes 14:6 Ada banyak jalan tetapi hanya ada satu jalan yang menuju Bapa, yaitu jalan Kristus.

Kalau memilih alternatif kedua, hal itu sesuai dengan semangat pluralisme tetapi persoalan tentang Tidak seorang sampai kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku tidak terpecahkan. Dan dengan memilih alternatif kedua, berarti menempatkan Yesus sebagai jalan (cara) untuk mencapai suatu tujuan. Padahal menurut banyak penafsir Yesus itu bukan jalan (cara) untuk mencapai tujuan, tetapi Ia sendiri jalan sekaligus tujuan. Dalam teks dikatakan Aku adalah... (tiga kata berikutnya mempunyai kedudukan yang sejajar) jalan, kebenaran dan hidup. Bukan Aku jalan menuju kebenaran dan menuju hidup, juga bukan Aku jalan kebenaran dan jalan hidup.

Penulis setuju bahwa di luar agama Kristen ada jalan (minhaj, marga, dhama pada), ada jalan kebenaran, ada keselamatan, tetapi tidak berarti bahwa jalan Yesus itu jalan yang luar biasa, sedangkan jalan yang lain jalan biasa. Lalu persoalannya adalah bagaimana kalimat Tidak seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku harus ditafsirkan?

Konteks ayat ini adalah: Ketika itu Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya. Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi murid-muridnya, kemudian Ia akan kembali menjemput mereka, supaya di mana Yesus berada murid-murid juga berada di sana (Yoh.14:3). Kemudian Thomas berkata: Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?

Dengan perkataan itu Thomas ingin tahu jalannya supaya bisa sampai ke tempat itu dengan cara dan kekuatannya sendiri.

Kemudian Tuhan Yesus menjawab: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak seorangpun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku. Yang dimaksud Tuhan Yesus dengan perkataan itu adalah: Thomas tidak dapat datang ke tempat itu dengan usaha dan kekuatannya sendiri. Kalau toh ia bisa datang ke tempat itu karena Tuhan Yesus yang membawa dia (Bdk. Ay. 3 yang berkata: Aku akan datang kembali membawa kamu). Dengan kata lain kalau Thomas bisa datang ke tempat itu, semua itu semata-mata hanya karena anugerah Allah yang nyata dalam kehadiran Yesus Kristus.

Jadi persoalannya bukan di luar Kristus tidak ada jalan, tetapi bagi umat Kristen kita bisa sampai ke tempat di mana Kristus berada, itu semata-mata karena anugerah Allah. Inilah yang membedakan jalan yang ditempuh umat Kristen dan jalan-jalan lainnya. Di sana bukan tidak ada jalan, di sana bisa juga ada jalan, jalan di sana bukan kurang baik, sedang di sini lebih baik, tetapi memang jalan itu berbeda. Dengan demikian pemutlakan orang Kristen terhadap Yesusnya, tidak harus membuat orang Kristen menjadi eksklusif, atau menyamakan saja semua agama.

Kita yakin seyakin-yakinnya bahwa hanya Yesus Kristuslah yang membawa kita kepada keselamatan, tetapi kita juga tidak harus mengatakan di sana, dalam agama lain, sama sekali hanya ada kegelapan dan kesesatan. Kalau kita sendiri tidak rela orang menganggap dalam kekristenan hanya ada kegelapan dan kesesatan, mengapa hal yang sama kita tujukan kepada orang lain.

Apakah pandangan itu tidak memperlemah semangat Pekabaran Injil? Tidak, hanya harus ada orientasi baru tentang Pekabaran Injil.

Pekabaran Injil harus dipahami seperti pemahaman Yesus Kristus sendiri: Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik (mengabarkan Injil) kepada orang-orang miskin, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Luk.4:18,19).

Memberitakan Injil tidak lagi dipahami sebagai kristenisasi, tetapi kristusisasi. Menambah jumlah orang-orang yang diselamatkan dan menjadi anggota gereja bukan tujuan pekabaran Injil, tetapi sebagai akibat atau buah pekabaran Injil: mereka disukai semua orang dan setiap hari Tuhan menambahkan dengan orang-orang yang diselamatkan (Kis. 2:46). Buah pekabaran Injil ini mungkin tidak segera kita nikmati dalam kehadiran mereka di gereja, tetapi mungkin pada waktu dan di tempat lain.

Apakah pemahaman Pekabaran Injil ini tidak sama saja dengan pemahaman sebelumnya? Tidak, pada pola pemahaman yang pertama mengesampingkan sikap toleransi yang karenanya dapat menimbulkan kecurigaan bahkan konflik sosial. Dan sering kekristenan mereka yang bertobat lebih bersifat emosional. Sedangkan pola pekabaran Injil kedua, sangat bersikap tenggang rasa dan toleran dan bahkan mungkin pekabaran Injil bisa dilakukan dengan kerjasama antar agama. Dan kalau akhirnya ada yang menjadi anggota gereja, kekristenan mereka tidak bersifat emosional, tetapi dengan kesadaran penuh.

Apakah Iman Dan Akal Itu Kontras

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, SE M.Th

Khotbah Ibadah Raya GBAP El Shaddai Palangka Raya
Minggu, 30 Juni 2013

Manusia dalam hal-hal tertentu merupakan refleksi dari Allah yang hidup, cerdas dan bermoral. Manusia pada waktu diciptakan dibekali dengan kecerdasan dan hasrat oleh Tuhan. Misalnya, apabila menghadapi suatu peristiwa atau masalah, pada umumnya manusia akan bertanya : “apakah itu, apakah persoalannya, mengepa demikian, bagaimana terjadinya, bagaimana cara mengatasinya, dan lain sebagainya?” Manusia selalu berusaha untuk memperoleh jawaban yang dapat dipegang sebagai “kebenaran yang diyakini”. Hal ini sangat berhubungan dengan apa yang disebut dengan istilah “epistemonologis”, yaitu teori filsafatis tentang pengetahuan yang benar atau cara menemukan kebenaran. Istilah “epistemonologi” ini untuk pertama kalinya dipakai oleh J.F. Ferrier pada tahun 1854. Kata epistemonologi berasal dari kata “epistime” yang berarti “pengetahuan” dan “logia” yang berarti “ilmu”. Istilah ini kemudian dipakai dalam filsafat dengan pengertian bahwa epistemonologi adalah cara mencari dan menemukan substansi (hakikat) pengetahuan dan juga cara mencari dan menemukan kebenaran.BAGAIMANA MANUSIA MENEMUKAN KEBENARAN?

Ada berbagai cara untuk menemukan kebenaran dan menghilangkan keraguan serta ketidaktahuan, antara lain melalui : (1) Wahyu, yaitu kebenaran yang datang dari Tuhan melalui alam semesta, orang-orang yang dipilihnya, dan Kitab Suci. Kekristenan mengakui Kitab Suci sebagai kebenaran mutlak yang diwahyukan. Allah telah mewahyukan diriNya (dan Ia telah melakukannya), dan apabila penyataan tentang hal itu telah secara akurat dinyatakan dalam keenam puluh enam kitab dari kitab suci (dan memang demikian halnya), maka Kitab Suci adalah sumber utama dari pengetahuan manusia tentang Allah dan kebenaranNya; (2) Penalaran, yaitu berpikir kritis, rasional dan berdasarkan akal sehat. Manusia banyak memperoleh kebenaran melalui pengalaman (empiris). Kebenaran diungkapkan melalui proses berpikir rasional, kritis dan logis dengan cara deduktif (analitik) dan induktif (sintetik). Cara ini bergantung pada kemampuan berpikir dan jenis-jenis pengalaman yang dimiliki; dan (3) Penyelidikan dan penelitian ilmiah. Disini penyaluran hasrat ingin tahu manusia sampai pada taraf keilmuan. Seseorang baru akan menyimpulkan atau membenarkan sesuatu jika terdapat bukti-bukti yang meyakinkan yang dikumpulkan dengan prosedur yang sistematik dan jelas.

1. Menemukan Kebenaran Melalui Pendekatan Teologi

Penelitian dalam bidang teologi tidaklah sama dengan bidang sains. Penelitian teologi dalam arti sempit tidak temasuk penelitian ilmiah (penelitian sains dalam pengetian ilmu alam) karena refleksi dengan akal budi dalam teologi menekankan ide-ide diluar kenyataan inderawi. Dalam pengertian itu teologi bukanlah sains karena menangani objek yang supersensible. Walau berbeda, penelitian teologi tidaklah berarti berbeda sama sekali dengan metode penelitian non teologi. Akan tetapi ada masalah jika metode penelitian sains diterapkan secara ketat dalam studi agama.

Lalu, apakah teologi itu dan bagaimana kita menemukan kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan melalui studi teologi? Istilah “teologi” berasal dari kata Yunani “theos” artinya “Allah”, dan “logos” artinya “perkataan, uraian, pikiran, ilmu” atau secara harfiah “pernyataan yang rasional”. Charles C. Ryrie secara ringkas mendefinisikan teologi sebagai “suatu interpretasi yang rasional mengenai iman Kristen”. Sementara itu, Millard J. Erickson dalam Christian Theology memberikan suatu definisi yang baik dan komprehensif tentang teologi, yaitu “disiplin yang berjuang untuk memberikan pernyataan koheren dari doktrin-doktrin iman Kristen, terutama berdasarkan pada kitab suci, ditempatkan dalam konteks budaya secara umum, dibahasakan dalam ungkapan yang relevan dengan zaman itu, dan berkaitan dengan isu-isu kehidupan”. Selanjutnya Erickson mengusulkan lima rumusan dalam sebuah definisi teologi yang merupakan ciri-ciri dari penelitian teologi, yaitu : (1) Teologi harus Alkitabiah, menggunakan alat-alat dan metode-metode penelitian biblika (termasuk menggunakan pengetahuan-pengetahuan dari wilayah kebenaran ini); (2) Teologi harus sistematik, yang bahannya diambil dari keseluruhan kitab suci serta mengkorelasikannya satu dengan yang lain; (3) Teologi harus relevan pada budaya dan pengajaran, diambil dari kosmologi, psikologi, dan filsafat sejarah; (4) Teologi harus kontemporer, mengaitkan kebenaran Allah dengan pertanyaan-pertanyaan dan tantangan pada zaman ini; dan (5) Teologi harus praktikal, tidak hanya sekedar mendeklarasikan doktrin objektif, tetapi mengaitkannya pada kehidupan itu sendiri.

Sementara itu, Charles C. Ryrie menyebutkan tiga unsur (ciri) di dalam konsep umum teologi yaitu : (1) Teologi dapat dimengerti, artinya teologi dapat dipahami oleh pikiran manusia dengan cara yang teratur dan rasional; (2) Teologi menuntut adanya penjelasan, dimana selanjutnya melibatkan eksegesis dan sistematisasi; (3) Iman Kristen bersumber pada Alkitab. Dengan demikian teologi Kristen merupakan suatu studi yang berdasarkan Alkitab (biblika). Selanjutnya Ryrie dalam penjelasannya menambahkan bahwa seorang teolog harus berpikir secara teologis. Hal ini melibatkan pemikiran secara : (1) Eksegetik, untuk memahami arti yang tepat; (2) Sistematis, untuk dapat menghubungkan fakta-fakta secara seksama; (3) Kritis, untuk mengevaluasi prioritas dari bukti yang bersangkutan; dan (4) Sintetik, untuk menyatukan dan menyampaikan pengajaran sebagai suatu keseluruhan.

Jadi, penelitian dengan pendekatan teologis, melalui proses yang ketat dengan metode yang Alkitabiah, ekesegetis dan analitis, sintetis, kritis dan evaluatif, sistematis, praktis dan kontekstual, diharapkan seseorang dapat menemukan kebenaran.

2. Menemukan Kebenaran Melalui Pendekatan Ilmiah

Melalui pendekatan ilmiah orang berusaha untuk menemukan kebenaran ilmiah, yaitu pengetahuan yang benar dan kebenarannya terbuka untuk diuji oleh siapa saja yang menghendaki untuk mengujinya. Pendekatan ilmiah akan mengurangi bahaya berbuat salah atas pilihan dari bermacam-macam tindakan dalam rangka menemukan kebenaran. Ilmu pengetahuan (sains) itu mempunyai nilai umum yang dapat dipergunakan untuk menghadapi persoalan sehari-hari. Ilmu pengetahuan harus diperoleh melalui metode ilmiah dan tanpa metode ilmiah hanya akan merupakan himpunan pengetahuan saja mengenai berbagai gejala.

Ilmu dapat dilihat dari dua aspek, yaitu : aspek statis dan aspek dinamis. (1) Dari aspek statis, ilmu merupakan himpunan informasi yang sistematis mengenai prinsip-prinsip, teori-teori, dan hukum-hukum. Sedangkan di aspek dinamis, ilmu adalah suatu proses. Teori-teori dan prinsip-prinsip akan menjadi dogma atau ajaran apabila tidak dengan penelitian dan pengembangan.

Ada perbedaan antara cara penelitian ilmiah dan yang tidak ilmiah. Perbedaan itu terletak pada : (1) Objektivitas peneliti. Pendapat atau pertimbangan yang diambil berdasarkan atas fakta, berbeda dengan metode non ilmiah yang hanya berdasarkan asumsi atau praduga; (2) Ketelitian pengukuran. Metode ilmiah berusaha memperoleh ketelitian pengukuran semaksimal mungkin. Hal ini dipenuhi oleh ilmu pengetahuan alam seperti fisika dan elektronika. Tetapi bisa juga melalui ilmu pengetahuan sosial yang ukurannya menggunakan statistik, atau kuesioner yang pengukurannya berdasarkan skala; (3) Sifat penelitian yang dilakukan terus mnerus dan menuju kesempurnaan. Penelitian ilmiah mempertimbangkan semua fakta yang berkenaan dengan masalah yang bersangkutan; bersifat agresif untuk mencari tambahan bukti guna mendukung atau membenarkan kesimpulan yang ada.

PERLUNYA PENGGUNAAN RASIO DALAM HUBUNGANNYA DENGAN IMAN

Setiap orang Kristen seharusnya berani mengambil sikap tegas menguji segala sesuatu, apalagi menyangkut ajaran iman atau perilaku yang diklaim benar. Kemudian, bertindak berdasarkan hasil pengujian merupakan kewajiban bagi semua orang Kristen. Perhatikanlah nasihat rasul Paulus, “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1 Tesalonika 5:21). Rasa takut untuk menguji segala sesuatu yang datang dengan memakai jubah Kekristenan dan mengatasnamakan Roh Kudus, tidaklah menunjukkan spiritualitas yang tinggi tetapi justru menunjukkan kelemahan. Mudah tertipu tidak sama dengan spiritualitas (kerohanian). Seseorang berdosa tidak hanya karena menolak kebenaran sejati, tetapi juga karena menerima yang palsu. Karena itu penolakan penggunaan rasio untuk menguji kebenaran bukanlah bentuk spritualitas yang tinggi.

Satu pelajaran penting dalam kitab Amsal yang tidak boleh diabaikan adalah bahwa kita harus menggunakan pikiran (rasio) kita untuk memahami dan melakukan apapun. Perhatikan ayat-ayat berikut: “Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan -- untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak” (Amsal 1:5-6). “Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian” (Amsal 4:7). “Hati orang berpengertian mencari pengetahuan, tetapi mulut orang bebal sibuk dengan kebodohan” (Amsal 15:14). Ini berarti bahwa kita perlu melatih pikiran dan mengembangkannya. Sebagai orang Kristen, kita memiliki kesempatan dan keharusan menggunakan pikiran dan penalaran kita untuk melayani Tuhan. Kita perlu mendisiplin pikiran kita seperti halnya para atlit melakukan latihan. Kita harus menjaga pikiran kita dan melatihnya sehingga tetap baik, tajam dan sehat untuk digunakan. Karena itu kita perlu memperhatikan nasihat yang mengatakan “Apakah orang yang mempunyai hikmat menjawab dengan pengetahuan kosong, dan mengisi pikirannya dengan angin?” (Ayub 15:2).

Pemazmur mengingatkan kita “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mamur 90:12). Pada saat seseorang menjadi cukup dewasa untuk menyadari betapa singkatnya hidup ini, maka ia mulai sadar betapa berharganya seandainya ia telah belajar lebih awal untuk menjadi bijaksana dalam kehidupan. Paulus menasihati, “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Amsal 5:15-17).

Pertanyaan penting untuk dipertimbangkan adalah “Mengapa kita perlu melatih pikiran dan mengembangkan kapasitas berpikir kita? Apa manfaatnya bagi keyakinan dan kehidupan kita?” Menjawab pertanyaan tersebut, saya memberikan lima alasan untuk penggunaan pikiran kita, yaitu:

1. Kapasitas berpikir kita merupakan bagian dari gambar Allah di dalam diri kita. Alkitab menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Alkitab menyatakan “Hanya Engkau adalah TUHAN! Engkau telah menjadikan langit, ya langit segala langit dengan segala bala tentaranya, dan bumi dengan segala yang ada di atasnya, dan laut dengan segala yang ada di dalamnya. Engkau memberi hidup kepada semuanya itu dan bala tentara langit sujud menyembah kepada-Mu” (Nehemia 9:6; Bandingkan Kejadian 1). Tujuan penciptaan untuk kemuliaanNya (Roma 11:36; Kolose 1:16). Saat Tuhan menciptakan, semua yang diciptakannya itu baik dan sempurna (Kejadian 1:12,18,21,25,31). Manusia pun diciptakan oleh Allah. Manusia pada waktu diciptakan sempurna tanpa cacat atau cela sedikitpun dalam seluruh keberadaannya. Manusia adalah mahluk ciptaan yang berpribadi. Manusia adalah mahluk mulia yang luar biasa, dikaruniakan hikmat dan kuasa atas seluruh ciptaan kerena Ia adalah “gambar” dan “rupa” Allah (Kejadian 1:26). Tidak heran jika Pemazmur dalam kekagumannya berkata, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mazmur 8:5; 144:3; Bandingkan Ayub 7:17,18). Kata “gambar” diterjemahkan dari kata Ibrani “tselem” yang berarti gambar yang dihias, suatu bentuk dan figur yang representatif yaitu suatu gambar dalam pengertian yang konkret atau nyata. Kata “rupa” dalam bahasa Ibrani adalah “demuth” yang mengacu pada arti kesamaan tapi lebih bersifat abstrak atau ideal. Jadi, menyatakan bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah berarti menjelaskan bahwa manusia dalam hal tertentu merupakan refleksi yang nyata dari Allah yang hidup, yang cerdas dan bermoral. Jadi kita melihat bahwa rasionalitas manusia menggambarkan rasionalitas Pencipta. Penggunaan pikiran atau akal budi kita merupakan tindakan yang memuliakan Allah. Matius 22:37 mencatat, Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”. Kata Yunani untuk “akal budi” disini adalah “nous” yang berarti “rasio atau pikiran”.

2. Kepercayaan kita, yaitu iman Kristen adalah iman yang dipikirkan. Iman Kristen bukanlah tidak masuk akal. Tidak satupun yang irasional dari kepercayaan yang diwariskan kepada kita. Iman selalu melibatkan unsur-unsur pengetahuan (fakta-fakta), ketaatan (kebenaran) dan tindakan kehendak (percaya). Kita mendengar, memproses, dan merespon Tuhan (firman) dengan menggunakan pikiran kita. Ketika seseorang mengambil keputusan untuk menjadi Kristen, tidaklah berarti ia menjadi tidak logis. Sebagai orang Kristen justru kita seharusnya logis dalam pemikiran, menaruh perhatian dengan berpegang pada kebenaran yang sungguh-sungguh dan bukan yang salah, terutama mengenai Tuhan dan apa yang dikatakanNya di dalam Alkitab.5 Kecerobohan yang disebabkan oleh suatu pemikiran yang tidak logis tidaklah merefleksikan kerohanian, tetapi merupakan sesuatu yang bertentangan dengan kerohanian itu. Justru orang-orang Kristen yang irasional dan tidak logis menyatakan kurangnya rasa kasih kepada Allah, dasar dari segala pemikiran dan kelogisan.

3. Rasio kita adalah sahabat iman kita. Iman dan rasio saling berhubungan, keduanya tidaklah bertentangan dan tidak dapat dipisahkan. Perhatikan contoh berikut dalam Ibrani 11:17-19, “Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu. Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali. Perhatikanlah frase “Karena iman maka Abraham...” dalam ayat 17, dan frase “karena ia berpikir...” dalam ayat 19. Disini kita melihat keselarasan antara iman dan berpikir yang tidak kontradiktif dalam diri Abraham. Pikiran yang benar tentang Allah, mengantarkan Abraham melakukan tindakan-tindakan iman. Dan kita tahu bahwa Abraham mendapat predikat sebagai “bapa orang beriman” dan “sahabat Allah” (Galatia 3:7,9; Yakobus 2:23). Karena itu, berkaitan dengan iman dan akal ini, saya setuju dengan apa yang dikatakan Peter Kreeft, & Ronald K. Tacell, “Akal budi itu berkaitan dengan kebenaran; melaluinya kita dapat mengenal kebenaran: memahaminya, menemukannya, atau membuktikannya. Iman juga berkaitan dengan kebenaran; melaluinya seseorang dapat menemukan kebenaran... iman dan akal itu berperan menjadi jalan menuju kebenaran”.

4. Pikiran kita berperan penting dalam menentukan apa yang benar. Manusia merasa dan berpikir, karena Allah merancangnya demikian. Perasaan atau emosi kita diekspresikan dalam sukacita, kemarahan, penyesalan, dan perasaan-perasaan lainnya. Emosi merupakan sesuatu yang baik, kita marah terhadap kejahatan, kita sedih terhadap kemiskinan dan penderitaan, serta lain sebagainya. Tetapi, emosi harus tetap dijaga dalam konteks dan ekspresi yang benar. Yang harus diingat, emosi tidak dapat menentukan kebenaran atau memutuskan kebenaran dari kesalahan. Merasa baik misalnya, tidak mengindikasikan bahwa sesuatu itu benar, dan merasa buruk tidak mengindikasikan kesalahannya. Emosi adalah bagian dari jiwa yang menghargai dan merespon kepada hidup. Menghargai emosi untuk mengidentifikasi kebenaran adalah seperti meminta telinga kita untuk mencium sebuah bunga. Telinga itu tidak dapat melakukannya karena telinga tidak diciptakan untuk mencium. Emosi tidak memiliki muatan dan informasi dimana kita dapat mengevaluasi kebenaran atau kesalahan. Kapasitas pikiran kitalah yang melakukan fungsi ini.

Kekristenan yang benar mengajarkan kita untuk tidak membuat keputusan atau mengambil tindakan berdasarkan perasaan. Mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan bagaimana kita merasa bisa membawa kepada bahaya, karena emosi tidak dapat mengenali benar atau salah lebih daripada kemampuan pikiran untuk mengenalinya. Emosi memang mempengaruhi pikiran, tetapi seharusnya tidak menjadi faktor penentu. Ketika kebenaran dan kesalahan diidentifikasi, perasaan dapat dan harus menemani keputusan. Orang Kristen harus mengikuti teladan Yesus dan juga rasul Paulus yang menggunakan emosi mereka dengan baik dengan menaruhnya pada tempatnya. Kemampuan atau kapasitas pikiran kita harus digunakan untuk membuat keputusan-keputusan mengenai kebenaran dan moral. Pikiran yang terlatih dalam firman Allah memimpin kita dalam jalan Allah “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105). Lukas mencatat, bagaimana pikiran murid-murid yang telah dicerahkan dapat mengerti Kitab Suci, “Ia berkata kepada mereka: ‘Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.’ Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci” (Lukas 24:44-45).

5. Rasio tidak bertentangan dengan Kebenaran sejati. Thomas Aquinas menyatakan, sebagaimana yang dikutip oleh Peter Kreeft, & Ronald K. Tacell, “mustahil kebenaran itu dipertentangkan dengan prinsip-prinsip yang dapat diketahui atau dikenal oleh akal pikiran manusia”. Apabila akal digunakan secara benar, pastilah tidak bertentangan dengan kebenaran. Filsuf Kristen, Arthur F. Holmes menyatakan, “segala kebenaran adalah kebenaran Allah, dimanapun ia ditemukan”. Selanjutnya Holmes menyatakan, “Jika Allah adalah Pencipta yang kekal dan yang maha bijaksana dari segala sesuatu, sebagaimana ditegaskan oleh orang Kristen, maka hikmatNya yang kreatif itu merupakan sumber dan norma semua kebenaran mengenai segala sesuatu. Dan karena Allah dan hikmatNya senantiasa tidak berubah, maka kebenaran itu tidak berubah dan bersifat universal”. Dengan demikian, apabila ada pernyataan kebenaran yang dianggap keliru dan bertentangan dengan akal, sedangkan kita mengetahui bahwa kebenaran itu tidak bertentangan dengan akal, maka hanya ada dua kemungkinan, yaitu: (1) pernyataan itu bukan kebenaran; atau (2) pikiran kita yang keliru atau salah memahaminya. Sekali lagi, Arthur F. Holmes menyatakan, “kebenaran itu tidak relatif, tapi absolut, artinya tidak berubah dan universal”. Karena akal tidak bertentangan dengan kebenaran, maka belasan abad yang lalu Augustinus menggunakan kebenaran-kebenaran logika dan matematika seperti A = A atau 2 + 2 = 4 untuk menunjukkan satu Kebenaran universal dan yang tidak berubah, dan menjelaskan bahwa kebenaran-kebenaran yang lebih rendah itu didasarkan kepada Kebenaran yang lebih tinggi, yang ia identifikasikan sebagai Allah.

PENUTUP

Setiap orang Kristen seharusnya berani mengambil sikap tegas menguji segala sesuatu, apalagi menyangkut ajaran iman atau perilaku yang diklaim benar. Kemudian, bertindak berdasarkan hasil pengujian merupakan kewajiban bagi semua orang Kristen. Perhatikanlah nasihat rasul Paulus, “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1 Tesalonika 5:21). Rasa takut untuk menguji segala sesuatu yang datang dengan memakai jubah Kekristenan dan mengatasnamakan Roh Kudus, tidaklah menunjukkan spiritualitas yang tinggi tetapi justru menunjukkan kelemahan. Mudah tertipu tidak sama dengan spiritualitas (kerohanian). Seseorang berdosa tidak hanya karena menolak kebenaran sejati, tetapi juga karena menerima yang palsu. Karena itu penolakan penggunaan rasio untuk menguji kebenaran bukanlah bentuk spritualitas yang tinggi.

Berdasarkan penjelasan di atas, perlu bagi kita sebagai orang Kristen untuk terus menerus melatih dan mengembangkan pikiran kita, sehingga menjadi semakin tajam, tepat dan benar. Kita juga perlu untuk memiliki standar penalaran yang tinggi. Dan, logika adalah bagian penting dari suatu penalaran yang tajam. Sebagai contoh, beberapa orang Kristen dengan mudahya mengadopsi satu kepercayaan atau melakukan praktek tertentu tanpa secara seksama mengevaluasi argumen-argumen yang digunakan untuk mendukung kepercayaan atau praktek-praktek tersebut. Kita perlu menerapkan kembali metode orang-orang Berea yang mempelajari Kitab Suci setiap hari untuk mencari tahu apakah yang diajarkan para rasul itu benar (Kisah Para Rasul 17:10-11). Jadi, pada dasarnya kita harus berpikir sebagaimana Allah memberi dan merancangnya bagi kita. Kita perlu berpikir tentang Allah, tentang iman kita, dan tentang hidup kita.

Ketelitian dan kepekaan untuk membedakan mana yang dari Allah dan mana yang bukan dari Allah, mana yang kebenaran dan yang bukan kebenaran, sangat dibutuhkan. Apalagi bila menyangkut ajaran dan perilaku kehidupan kita. Hal ini penting bagi kemurnian iman kita dan supaya kita tidak terjerumus ke dalam kesalahan dan kesesatan. Rasul Paulus mengingatkan, “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus... Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya” (Kolose 2:8,18-19). Dengan melakukan pengujian kita akan terhindar dari kecerobohan rohani yang dapat berakibat fatal.


Profil : Pdt. Samuel T. Gunawan, memposisikan diri sebagai teolog Protestan-Kharismatik,
Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat El Shaddai; mengajar Filsafat dan Apologetika Kharismatik di STT AIMI, Solo, dan Pengajar di beberapa STT Lainnya. Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (SE) dari Universitas Negeri Palangka Raya; S.Th (Christian Education); M.Th in Christian Leadership (2007) dan M.Th in Systematic Theology (2009) dari STT-ITC Trinity, Tangerang. Setelah mempelajari Alkitab lebih dari 15 tahun menyimpulkan tiga keyakinannya terhadap Alkitab yaitu : (1) Alkitab berasal dari Allah. Ini mengkonfirmasikan kembali bahwa Alkitab adalah wahyu Allah yang tanpa kesalahan dan Alkitab diinspirasikan Allah; (2) Alkitab dapat dimengerti dan dapat dipahami oleh pikiran manusia dengan cara yang rasional melalui iluminasi Roh Kudus; dan (3) Alkitab dapat dijelaskan dengan cara yang teratur dan sistematis.




Daftar Pustaka

Bakhtiar, Amsal., 2010. Filsafat Ilmu. Edisi revisi. Penerbit, PT. Rajagrafindo Persada : Jakarta.
Bluedorn, Nathanael & Hans Bluedorn., 2003. The Detektive Fallacy. Terjemahan, Universal Press Sindicate.
Cornish, Rick., 2007. Five Minute Apologist. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya : Bandung.
Daun, Paulus., 2009. Pengantar Ilmu Filsafat Dalam Perspektif Iman Kristen. Penerbit, Yayasan Daun Family: Manado.
Enns, Paul., 2004.The Moody Handbook of Theology, jilid 1. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Erickson J. Millard., 2003. Christian theology. Jilid 1. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
Ferguson, Sinclair B, D.F. Wraight & J.I Packer, ed. 2009. New Dictionary of Theology. Jilid 1, Terjemahan, Literatur SAAT: Malang.
Frame, John M., 2004. Doktrin Pengetahuan Tentang Allah, jilid 1 & 2. Terjemahan, Pernerbit Literatur SAAT: Malang.
Frame, John M., 2010. Apologetics To The Glory Of God: An Introduction. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.
Geisler, Norman & David Geisler., 2010. Conversational Evangelism: Bagaimana Mendengaran dan Berbicara Agar Didengarkan. Penerbit Yayasan Gloria: Yogyakarta.
Groothuis, Douglas., 2010. Pudarnya Kebenaran, Membela Kekristenan Terhadap Tantangan Postmodernisme. Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta.
Holmes, Arthur F., 2009. All Truth is God’s Truth. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.
Hugiono & P.K, Poerwantana., 1992. Pengantar Ilmu Sejarah. Penerbit Rineka Cipta : Jakarta
Kattsoff, Louis O., 1992. Elements of Philosophy. Terjemahan, Penerbit Tiara Wacana Yogya: Yogyakarta.
Kreeft, Peter & Ronald K. Tacell., 1994. Pedoman Apologetika Kristen. Jilid 1 Terjemahan, Penerbit Yayasan Kalam Hidup: Bandung.
Lasiyo & Yuwono., 1985. Pengantar Ilmu Filsafat. Penerbit Liberty: Yogyakarta.
Lewis, C.S., 2006. Mere Christianity. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya : Bandung.
Marzuki., 2005. Metodologi Riset: Panduan Penelitian Bidang Bisnis dan Sosial. Penerbit Ekonisia: Yogyakarta.
Pratt, Richard L, Jr., 1994. Menaklukan Segala Pikiran Kepada Kristus. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Poesporodjo, W & Ek. T. Gilarso, 1999. Logika Ilmu Menalar. Penerbit Pustaka Grafika: Bandung.
Purwantara, Iswara Rintis., 2012. Prapenginjilan: Menyingkirkan Kendala-Kendala Intelektual Dalam Penginjilan. Penerbit ANDI : Yogyakarta, hal. 36.
Ryrie, Charles C., 1991. Basic Theology. Jilid 1, Terjemahan, Penerbit ANDI Offset : Yogyakarta.
Sproul, R.C., 1997. Defending Your Faith: An Introduction To Apologetics. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Subagyo, Andreas., 2004. Pengantar Riset Kuantitatif dan Kualitatif. Penerbit Kalam Hidup: Bandung.
Susanto, Hasan., 2003. Perjanjian Baru Interlinier Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, jilid I & II. Penerbit Literatur SAAT : Malang.

Apakah Kepercayaan Kristen Itu Rasional?

Oleh: Samuel Teresia Gunawan, M.Th

PROLOG

Para kritikus selama berabad-abad khusus pada masa pencerahan dan pasca  pencerahan2  telah menganggap Kekristenan sebagai agama yang tidak masuk akal (irasional). Hal ini dikaitkan dengan kepercayaan Kristen terhadap Trinitas, pribadi Kristus (Allah-Manusia), kelahiran Kristus dari seorang perawan, dan kepercayaan pada Alkitab yang dianggap banyak mengandung kesalahan dan kontras.

Tuduhan yang ditujukan pada Kekristenan lebih keras lagi dengan menganggap bahwa Kekristenan itu anti rasionalitas.  Benarkah demikian, bahwa kepercayaan Kristen itu tidak masuk akal bahkan anti rasionalitas ? Lalu, bagaimana sikap orang Kristen menanggapi tuduhan tersebut ?

Selama berabad-abad itu juga orang Kristen terus melakukan pembelaan dalam upaya mempertanggungjawabkan iman mereka sebagaimana yang dikatakan dalam 1 Petrus 3:15-16 “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu”.  Kata “mempertanggungjawabkan iman”  dalam ayat ini  adalah “apologia” yang  berarti “pembelaan dengan cara yang rasional”. 3

Kritik yang menyerang kepercayaan Kristen yang mengatakan bahwa iman Kristen itu bertentangan atau anti rasionalitas itu justru sebenarnya tidaklah masuk akal.4 Iman Kristen bukanlah “lompatan di dalam kegelapan” melainkan didukung oleh bukti-bukti dan dapat dipertanggung jawabkan.

IMAN KRISTEN, RASIONALITAS DAN HUKUM LOGIKA

Ketika kita mempertimbangkan kepercayaan yang masuk akal  kita perlu mengingat bahwa kecerdasan manusia yang terbatas itu tidak dapat sepenuhnya memahami kebenaran ilahi yang tidak terbatas. Tetapi, kenyataan bahwa segala sesuatu itu tidak dapat dimengerti sepenuhnya bukan berarti  bahwa sesuatu itu tidak masuk akal. Pertimbangkan tiga hal berikut:

1. Kapasitas berpikir kita merupakan bagian dari gambar Allah di dalam diri kita. Rasionalitas manusia menggambarkan rasionalitas Pencipta. Penggunaan pikiran atau akal budi kita merupakan tindakan yang memuliakan Allah.

2. Iman Kristen bukanlah tidak masuk akal. Tidak satu pun yang irasional dari kepercayaan yang diwariskan kepada kita. Iman selalu melibatkan unsur-unsur pengetahuan (fakta-fakta), ketaatan (kebenaran) dan tindakan kehendak (percaya). Kita mendengar, memproses, dan merespon Tuhan (firman) dengan menggunakan pikiran kita. Iman dan akan budi tidak bertentangan tetapi saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan.

3. Kepercayaan Kristen itu sangat masuk akal berbeda dengan kepercayaan dan agama-agama  lainnya di dunia ini. Iman Kristen bersedia untuk diuji  secara rasional baik fakta-faktanya maupun keakuaratannya.

Dengan demikian, seseorang yang menjadi Kristen tidak berarti ia menjadi tidak logis. Sebagai orang Kristen justru kita seharusnya logis dalam pemikiran, menaruh perhatian dengan berpegang pada kebenaran yang sungguh-sungguh dan bukan yang salah, terutama mengenai Tuhan dan apa yang dikatakanNya di dalam Alkitab.5 Kecerobohan yang disebabkan oleh suatu pemikiran yang tidak logis tidaklah merefleksikan kerohanian, tetapi merupakan sesuatu yang bertentantangan dengan kerohanian itu. Justru orang-orang Kristen yang irasional dan tidak logis menyatakan kurangnya rasa kasih kepada Allah, dasar dari segala pemikiran dan kelogisan.6

Pilar-pilar yang mendasar untuk pemikiran, pencarian kebenaran, dan pengumpulan pengetahuan ialah hukum-hukum logika. Ini adalah bagian dari akal sehat yang diberikan oleh Tuhan. Hukum-hukum logika mengatur tentang bagaimana kita berpikir. Hukum logika adalah alat yang membantu bagaimana berpikir logis. Melalui hukum logika akan dapat diketahui apakah sesuatu itu kontradiksi atau tidak, absah atau tidak absah. Berikut ini tiga hukum logika yang saling berkaitan satu dengan lainnya.

1. Hukum non kontradiksi (A bukanlah Non A) yaitu hukum yang menyatakan bahwa dua pernyataan yang kontradiktif tidak mungkin benar kedua-duanya pada saat yang sama dan pengertian yang sama. Contoh: Ayam A bukanlah non Ayam A atau saya sedang membaca koran bukan membaca yang lain pada waktu bersamaan

2. Hukum identitas (A adalah A) yaitu hukum yang menyatakan bahwa sesuatu adalah dirinya dan bukan yang lain pada saat yang sama. Contoh: Saya adalah saya bukan yang lain.

3. Hukum excluded middle (A atau Non A) yaitu hukum yang menyatakan sesuatu itu adalah dirinya sendiri ATAU bukan dirinya sendiri pada saat yang sama dan dalam arti yang sama. 7

MENJAWAB PARA KRITIKUS

Sebagaimana telah disebutkan di atas, Kekristenan dituduh irasional saat dikaitkan dengan kepercayaan terhadap Trinitas, pribadi Kristus (Allah-Manusia),  kelahiran Kristus dari seorang perawan, dan kepercayaan pada Alkitab yang dianggap banyak mengandung kesalahan dan kontras. Berikut ini ringkasan saya mengenai jawaban Kristen terhadap tuduhan-tuduhan tersebut.

1. Trinitas

Tentang TRINITAS kekristenan telah dituduh mempercayai SATU Allah dan pada waktu bersamaan mempercayai TIGA ALLAH. Ini impossible kata para kritikus.

Jawaban: Orang Kristen memberi pembelaan bahwa “mereka hanya percaya satu Allah (esensi/hakikat) yang menyatakan diri dalam tiga pribadi (substansi/oknum/persona). Ini disebut dengan Trinitas yang berasal dari kata three dan unity. 8 Ini bukannya tidak masuk akal (irasional) tetapi masuk akal walaupun melampaui akal.

Jadi secara logis kita menggambarkan bahwa “Allah adalah satu dalam A (esensi) dan tiga dalam B (pribadi). Ini bukan kontradiksi. Suatu kontradiksi akan muncul jika kita mengatakan bahwa “Allah adalah satu dalam esensi (A) dan tiga dalam esensi (Non A) atau tiga pribadi (B) dan satu pribadi (non B)” pada saat yang sama dan dalam pengertian yang sama.

Ajaran tentang Trinitas ini begitu jelas diungkapkan di dalam Alkitab dan begitu penting bagi kehidupan Kristen, tetapi mengapa begitu sulit dipahami? Harus diakui, tidak ada penjelasan yang dapat secara tuntas menjelaskan tentang Trinitas, bagaimana pun akan ada hal-hal yang tetap menjadi misteri, tetapi bukannya tidak masuk akal. Sebab bagaimana mungkin Tuhan yang tidak terbatas dapat dipahami dan dikenali secara tuntas olah manusia ciptaan yang terbatas? C.S. Lewis menggambarkan pergumulan kita untuk memahami sifat Tuhan seperti suatu mahluk yang terbatas pada dua dimensi, tetapi berusaha mengerti dunia tiga dimensi. 9

2. Pribadi Kristus

Tentang PRIBADI KRISTUS, kekristenan dituduh membuat cerita imajinasi dengan mempercayai bahwa Kristus adalah Allah. Bagaimana mungkin Kristus yang dilahirkan sebagai manusia dan  Ia adalah Allah pada waktu yang bersamaan. Ini tidak masuk akal, nonsen, dan irasional kata para kritikus tersebut.

Jawaban: Terhadap tuduhan ini orang Kristen menjawab “bahwa Kristus adalah Allah yang mengambil rupa manusia (inkarnasi), dalam kemanusiaannya Ia tidak pernah berhenti menjadi Allah atau kehilangan hakNya sebagai Allah atau berkurang sifat-sifatNya sebagai Allah, tetapi kepadaNya ditambahkan sifat kemanusiaan, yang mana Ia dengan rela membatasi diriNya menggunakan atribut keAllahanNya ketika menjadi manusia”. Kesatuan Allah-Manusia ini dalam bahasa teologi disebut HIPOSTATIS yaitu “Kristus SATU PRIBADI yang mempunyai DUA NATUR (sifat) yaitu Allah-Manusia”. Ini tidak bertentangan dengan hukum logika.

Inkarnasi Kristus sekilas kelihatannya kontradiksi, tetapi bila dicermati dengan teliti tidaklah demikian. Perhatikan formula ini “Kristus adalah satu pribadi (A) tetapi dua dalam natur (B). Gereja Kristen tidak mengatakan bahwa Kristus adalah Allah (A) dan bukan Allah (non A).  atau Kristus adalah manusia (B) dan bukan manusia (Non B). Kristus adalah A dan B  dengan semua atribut yang terkena di dalamnya. 10

Alkitab mengajarkan bahwa Juruselamat yang memadai sebagai PENGANTARA manusia dengan Allah adalah Pribadi Yesus Kristus. Karena Kristus adalah manusia sempurna dan Ia adalah Allah. Ini penting karena “Juruselamat haruslah manusia supaya Ia bisa mati bagi dosa-dosa kita; dan Juruslamat haruslah Allah supaya Ia bisa bangkit dan hidup dari kematian bagi pembenaran kita”. Sebab jika Juruselamat itu hanya memiliki natur manusia maka ia akan mati dan tidak bangkit lagi.

3. Kelahiran Juruselamat Melalui Perawan

Tentang Juruselamat yang lahir dari seorang perawan Kekristenan juga dianggap tidak masuk akal. Bagaimana tanggapan Kristen terhadap tuduhan ini ?

Jawaban: Sejarah mencatat kelahiran yang tidak lazim. Misalnya ditahun 1961 wanita berusia 54 tahun di Birma melahirkan bayi seberat kurang lebih 3 pon yang sudah mengapur setelah dikandung selama 25 tahun. Sejarah juga mencatat seorang wanita bernama Lesley Brown pada tanggal 25 Juli 1978 melahirkan “bayi tabung” pertama di Inggris. Pembuahan dilakukan diluar rahim sang ibu. Saat ini soal “pinjam rahim” untuk melahirkan anak sudah bisa dilakukan dengan bantuan medis dan teknologi.

Kelahiran Kristus berbeda dari kelahiran lainnya. 700 tahun sebelum kelahiranNya nabi Yesaya telah meramalkannya (Yesaya 7:14). Ia akan dilahirkan dari seorang perawan. Matius menjelaskan bahwa yang bertanggung jawab dalam kehamilan Maria ini adalah Roh Kudus bukan Yusuf (Matius 1:18). Lukas dalam Injil Lukas merincikan peristiwa luar biasa ini adalah karya Roh Kudus dan kuasa Allah (mujizat) yang turun atas Maria yang mendapat kasih karunia. Wajarlah Maria terkejut mendengar kabar tersebut dengan bertanya “bagaimana mungkin hal itu terjadi, sedangkan aku belum bersuami” (Lukas 1:34). Yesaya menggunakan kata Ibrani ??????? ('almah) yang berarti perawan (bukan sekedar perempuan muda. Jika yang dimaksud perempuan muda yang menikah atau belum menikah maka kata yang biasa digunakan dalam budaya Yahudi adalah ????????? (bethulah). Matius mengutip Yesaya dengan menggunakan kata Yunani ????????? (parthenos) untuk menerjemahkan kata almah yang berarti perawan.

Kelahiran dari perawan  bukannya tidak masuk akal ini adalah suatu mujizat yaitu karya Allah yang melampaui akal.11  Empat teori penciptaan ini perlu diperhatikan: yaitu: (1) Allah menciptakan Adam tanpa menggunakan laki-laki dan perempuan; (2) Allah menciptakan Hawa hanya menggunakan laki-laki tanpa perempuan; (3) Allah menciptakan saya dan saudara melalui proses alamiah dengan menggunakan ayah dan ibu kita masing-masing. Sampai disini, Allah menggunakan 3 (tiga) teori penciptaan. Tinggal 1 (satu) teori lagi yang belum ia gunakan, yaitu: (4) Allah mencipta (inkarnasi) Yesus Kristus, tanpa laki-laki tapi hanya menggunakan perempuan saja. Setelah keempat teori ini, pada prinsipnya tidak ada lagi teori penciptaan yang muncul. Ini melampaui akal tetapi tidak melanggar hukum logika. Ini dimungkinkan karena mujizat dari Sang Pencipta yaitu Tuhan.12

Kelahiran perawan ini penting sebab: Pertama, untuk menunjukkan keunikan juruselamat itu yang berbeda dari manusia lainnya. Kedua, untuk menunjukkan ketidakberdosaanNya. Seandaikan Kristus dilahirkan dari pembuahan yang wajar, maka Ia akan mewarisi sifat berdosa yang ditularkan melalui proses kelahiran yang menggerakan semua orang berbuat dosa.  Ketiga, Untuk menunjukkan bahwa Ia adalah Anak Allah tanpa cacat, sepenuhnya murni, tanpa dosa sebagai korban bagi pendamaian dan penebus dosa manusia. Hanya korban ini yang bisa diterima secara sempurna oleh Allah.

4. Alkitab

Tuduhan dari mereka yang menganggap bahwa Alkitab mengandung kesalahan (error) dan pertentangan (contradiction), sehingga orang Kristen dituduh mempercayai Kitab yang kontradiksi (suatu kepercayaan yang tidak masuk akal), maka orang Kristen telah melakukan pembelaan bahwa apa yang dituduhkan itu TIDAK BENAR.

Jawaban: Apa yang dianggap kesalahan dan kontradiksi sebenarnya adalah kesulitan, misteri dan paradoksi. Kontradiksi itu tidak dapat dijelaskan dan melanggar hukum logika, tetapi kesulitan, misteri dan paradoksi itu tidak melanggar hukum logika. Kesulitan bisa dicari solusinya. Misteri adalah hal-hal yang belum ditemukan jawabannya tetapi suatu saat pada masa yang akan datang akan disingkapkan dan ditemukan jawabannya. Sedang paradoksi bukanlah kontradiksi. Kontradiksi tidak dapat dijelaskan, sedangkan paradoksi dapat dijelaskan. Paradoksi sepertinya bertentangan tetapi bila dicermati maka akan ditemukan penjelasannya.

Sebagai contoh tentang kematian Yudas. Injil Matius 27:5 menyebutkan bahwa kematian Yudas itu disebabkan karena ia gantung diri; Sedangkan Lukas dalam Kisah Para Rasul 1:18 menulis bahwa kematian Yudas disebabkan karena ia jatuh tertelungkup, perutnya terbelah dan semua isi perutnya terrumpah keluar”. Para kristikus menuduh mana yang benar, dan menyatakan bahwa ini kontradiksi. Kekristenan menjawab bahwa ini adalah paradoksi yang bisa dijelaskan yaitu “bahwa kedua laporan penulis Kitab itu benar”. Yudas memang gantung diri, kemudian oleh sesuatu hal talinya putus, ia jatuh tertelungkup, perutnya terbelah dan isi perutnya semuanya keluar.13 Tetapi masalah dalam kisah kematian Yudas ini belum selesai, sebab dalam Matius 27:6-7 disebutkan bahwa para imam yang membeli tanah hakal dama itu; sedangkan menurut Kisah Para Rasul 1:18 menyebutkan bahwa Yudas yang membeli tanah tersebut. Dari kedua laporan tersebut, mana yang benar ? sekali lagi Alkitab oleh para kritikus dituduh kontradiksi. Sebenarnya TIDAK kontradiksi tetapi sekali hanya paradoksi yang bisa dijelaskan. Jadi kedua laporan itu benar adanya, yaitu bahwa para imam membeli tanah tersebut atas nama Yudas (sertifikat hak milik Yudas).

Jadi, jelas bahwa kontradiksi tidak bisa dijelaskan karena melanggar hukum logika, tetapi paradoksi bisa dijelaskan dan tidak melanggar hukum logika. Alkitab, tidak mengandung kesalahan dan kontradiksi; tetapi memang ada misteri dan paradoksi yang membutuhkan penyelidikan serta penjelasan lebih lanjut.

Apa yang dijelaskan diatas hanya satu dari banyaknya kesulitan-kesulitan dalam Alkitab yang telah dianggap (dituduh) sebagai kontradiksi oleh para kritikus.

EPILOG

Kekristenan adalah kepercayaan yang rasional dan dapat dipertanggung jawabkan. Hal-hal yang dianggap sebagai kesalahan (error) dan kontradiksi dalam kepercayaan Kristen sebenarnya hanyalah kesulitan (difficulty), misteri dan paradoksi yang membutuhkan penyelidikan dan penjelasan lebih lanjut. Sedangkan hal-hal yang dianggap tidak masuk akal sebenarnya adalah melampaui akal. Ini tidak bertentangan dengan hukum logika tetapi ini mujizat dan supranatural.

1. Pertanyaan untuk evaluasi dan refleksi:
a) Setelah mendengarkan artikel ini bagaimana saudara melihat diri sendiri sekarang? Apakah saudara dapat memberikan pertanggungan jawab iman yang saudara percayai kepada setiap orang dalam segala waktu dan keadaan?
b) Apakah yang menjadi penghalang utama bagi saudara dalam memberikan penjelasan mengenai apa yang Saudara percayai dan mengapa Saudara percaya? 14

2. Saran-saran praktis
a) Bacalah Kitab Suci secara menyeluruh. Apabila Saudara belum pernah membaca Kitab Suci secara menyeluruh dan lengkap, mulailah sekarang melakukannya. Berdasarkan pertimbangan dan prioritas, pilihlah waktu yang terbaik untuk membaca dan mempelajari Alkitab secara teratur.
b) Bersikaplah kritis. Saudara perlu bersikap kritis jika saudara benar-benar ingin memahami apa dan siapa yang saudara percayai dan hidup berdasarkan pemahaman itu. Apabila ada yang tidak Saudara ketahui atau tidak jelas dari pembacaan Alkitab itu, berusahalah mencari tahu jawabannya.
c) Perhatikan lima prinsip umum berikut:
o Pelajari Alkitab secara sistematis. Dalam mempelajari Alkitab yang diperlukan adalah studi yang sistematis, teratur dan terencana menurut pola tertentu. 
o Buatlah pertanyaan yang tepat. Kunci utama untuk mempelajari Alkitab adalah tahu bagaimana mengajukan pertanyaan yang tepat. Semakin banyak pertanyaan yang diajukan tentang bagian atau ayat yang dipelajari, semakin banyak yang akan diketahui dan dimengerti.
o Persiapkan alat-alat bantu, seperti : buku catatan pribadi, konkordansi, kamus Alkitab, kamus Bahasa, ensiklopedi, tafsiran Alkitab, atlas Alkitab, dan lain-lain.
o Buatlah catatan. Mencatat hasil dari studi merupakan hal yang penting, sebab dengan mencatat akan membantu kita untuk mengingat, memikirkan dan merenungkan hasil studi kita.
o Renungkanlah Firman. Tujuan akhir mempelajari Alkitab adalah penerapan, karena Alkitab diberikan bukan untuk memperluas pengetahuan semata-mata, tetapi untuk mengubah hidup kita, mengubah karakter kita menjadi serupa dengan Kristus.
d) Bergantunglah pada Roh Kudus. Diperlukan sikap yang sadar untuk bergantung kepada Roh Kudus yang dinyatakan dalam kerendahan hati, pikiran dan keinginan dalam mempelajari  apa yang telah diajarkan oleh Roh kepada orang lain di sepanjang sejarah.
e) Muliakanlah Tuhan senantiasa. Mengetahui isi Alkitab dengan tepat dan jelas, seharusnya merupakan suatu pengalaman yang mengubah, meyakinkan, memperluas pengetahuan dan pada akhirnya membawa pada penghormatan yang dalam bagi Allah.

CATATAN TAMBAHAN

1. Penulis adalah teolog Protestan-Kharismatik,  Pendeta di GBAP Jemaat El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT Lainnya. Mendapatkan gelar S.E dari UNPAR; S.Th Christian Education,  M.Th Christian Leadership (2007) dan M.Th Theology Systematic (2009) dari STT-ITC Trinity. Setelah mempelajari Alkitab selama ± 15 tahun  menyimpulkan tiga keyakinannya terhadap Alkitab yaitu : 1) Alkitab berasal dari Allah. Ini mengkonfirmasikan kembali bahwa Alkitab adalah wahyu Allah yang tanpa kesalahan dan Alkitab diinspirasikan Allah; 2) Alkitab dapat dimengerti dan dapat dipahami oleh pikiran manusia dengan cara yang rasional melalui iluminasi Roh Kudus; dan  3) Alkitab dapat dijelaskan dengan cara yang teratur dan sistematis.
2. Dalam sejarah Kekristenan, Rasionalisme yang dimulai awal abad ke 18 muncul sebagai reaksi terhadap gerakan pietisme. Rasionalisme ini  telah membuka jalan bagi era modern untuk lahirnya Liberalisme yang menentang otoritas dan kredeibilitas Alkitab. Pandangan liberalisme secara umum diringkaskan sebagai berikut: 1) Hal-hal yang tidak dapat diterima oleh rasio harus ditolak; 2) Inspirasi Alkitab didefinisikan ulang, yaitu merupakan tulisan hasil pengalaman religius manusia; 3). Supranatural diartikan sebagai alam pikiran abstrak manusia; 4) Sesuai dengan pikiran evolusi, maka Alkitab adalah tulisan primitif kalau dibandingkan dengan pikiran teologis modern; 5) Menjunjung tinggi nilai etika, tapi menolak tafsiran teologinya; dan 6) Alkitab harus ditafsirkan secara historis, sebagai konsep teologis dari penulis Alkitab sendiri.
3. Istilah “apologetika” berasal dari bahasa Yunani apologia, yang berarti “pembelaan”. Salah satu contoh paling terkenal dari penggunaan kata ini dalam literatur Yunani adalah pembelaan (apologia) Socrates di depan pengadilan Athena. Kata apologia juga dipakai dalam Alkitab sebanyak 8 kali (Kisah Para Rasul. 22:1; 25:16; 1 Korintus 9:3; 2 Korintus 7:11; Filipi. 1:7, 16; 2 Timotius 4:16; 1 Petrus 3:15), sedangkan kata kerja  apologeomai (membela) muncul sebanyak 10 kali (Lukas 12:11; 21:14; Kisah Para Rasul 19:33; 24:10; 25:8; 26:1, 2, 24; Roma. 2:15; 2 Korintus 12:19).
4. Disini saya menggunakan kata kepercayaan Kristen dan iman Kristen dalam pengertian yang sama. Iman (keyakinan, kesetiaan) adalah kata benda, kata ini dipakai dalam Perjanjian Baru merupakan terjemahan dari kata Yunani p?st?? (pistis). Sedangkan percaya (yakin, setia) adalah kata kerja, terjemahan dari kata p?ste??  (pisteuô). Kata pistis (iman) dan pisteuô (percaya) berasal dari kata Yunani pei?? (peitô, verb, to trust, have confidence, be confident, to obey, percaya, yakin, setia, tunduk).
5. Ada pengajar di dalam Kekristenan yang mengajarkan bahwa iman bertentangan dengan logika. Hal ini kontras dengan pernyataan Kitab Suci, karena kita diperintahkan untuk mengasihi Tuhan dengan akal budi (rasionalitas) kita. Matius 22:37 mencatat,  Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”.
6. Berikut ini contoh dari kecerobohan pemikiran yang tidak logis. Saya pernah mendengar pengajaran tentang orang Kristen duniawi yang menjadi mangsa Iblis  dengan mengutip dua bagian ayat dari kitab Kejadian. Dua ayat yang dimaksud adalah : Kejadian 3:14 yang berbunyi : “Lalu berfirmanlah TUHAN  Allah kepada ular itu : “karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kau makan seumur hidupmu.” Dan Kejadian 2:7 yang berbunyi : “Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjai mahluk yang hidup.” Berdasarkan kedua ayat tersebut dengan semberono pengajar tersebut menafsirkan demikian “Ular adalah Iblis yang makanannya adalah debu tanah, dimana debu tanah itu adalah manusia”. Disadari atau tidak, implikasi dari kesimpulan demikian telah menyalahkan Tuhan, bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi mangsa Iblis. Seharusnya pengajar itu mempertimbangkan bahwa  1). Ular yang dimaksud adalah ular sebenarnya karena tertulis frase “terkutuklah engkau (ular dan bukan Iblis) di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan”. Ular (Ibrani, ??? - nakasy atau nakash, Yunani ?f?? – ophis)  termasuk reptil ia berkepala, bertubuh dan berekor, tapi tidak punya anggota tubuh. Ular menjalar di atas tanah dengan menggunakan perutnya. Karena lidahnya menjulur bergerak-gerak keluar masuk, maka sering dikatakan ular menjilat atau memakan debu (Kejadian 3:14; bandingkan Yesaya 65:25; Mikha 7:17; dan terutama Amsal 30:19). Ular ini berbeda dari Iblis karena iblis bukanlah binatang, tetapi mahluk roh yang pada saat itu merasuki si ular. 2). Kutuk yang dijatuhkan Allah atas ular terjadi sesudah manusia jatuh ke dalam dosa, jadi tidak pernah dan tidak mungkin Allah membuat manusia dari debu tanah hanya untuk dimangsa oleh ular. Memang benar bahwa sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa Iblis mempengaruhi, menguasai atau memperbudak manusia, tetapi adalah benar juga mengatakan bahwa tafsiran “Ular adalah Iblis yang makanannya adalah debu tanah, dimana debu tanah itu adalah manusia”  dengan mengutip kedua ayat di atas adalah tafsiran yang  jelas-jelas salah. Karena yang Musa maksudkan selaku penulis Kitab Kejadian tidaklah demikian. Umumnya salah tafsir  demikian disebabkan oleh: 1) Mengambil ayat lepas dari konteksnya. 2) Mencari-cari arti rohani dalam setiap ayat. 3) Tidak memahami prinsip-prinsip hermenutika. dan 4) Kesalahan dalam melakukan eksegese.
7. Selanjutnya, ketiga hukum logika tersebut akan diterapkan dalam menjelaskan bahwa iman Kristen itu rasional dan dapat dipertanggung jawabkan.
8. Ketika mendiskusikan Trinitas, kita perlu ingat bahwa kata “Trinitas” (atau Tritunggal) tidak digunakan dalam Alkitab. Ini adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan ketritunggalan Allah, yaitu Allah yang terdiri dari tiga Pribadi yang berada bersama dalam kekekalan. Haruslah dimengerti bahwa ini TIDAK berarti ada tiga Allah. Tritunggal berarti satu Allah yang terdiri dari tiga Pribadi. Walaupun istilah Trinitas tidak ditemukan dalam Alkitab, namun tidak ada salahnya menggunakan istilah tersebut. Lebih mudah mengucapkan kata “Trinitas” daripada mengatakan “Allah yang Esa yang terdiri dari tiga Pribadi yang berada bersama dalam kekekalan.” Jikalau ada yang keberatan dengan istilah ini, cobalah pertimbangkan yang berikut ini: kata “kakek” juga tidak ada dalam Alkitab walaupun kita tahu bahwa dalam Alkitab ada banyak kakek. Abraham adalah kakek dari Yakub. Jadi jangan kandas pada istilah “Trinitas” itu sendiri. Apa yang penting adalah bahwa konsep yang diwakili oleh kata “Trinitas” ada dalam Alkitab.
9. Baca, C.S. Lewis dalam Mere Christianity. (lihat daftar referensi).
10. Contoh ilustrasi: telur-telur ayam yang kehilangan induknya dapat dieramkan oleh induk bebek. Hal ini tidak menghilangkan identitasnya sebagai ayam karena ia telah dieramkan oleh induk bebek tersebut. Ia tetap ayam walaupun dierami oleh bebek.
11. Sebagai seorang nonsessasionisme yang percaya bahwa Allah masih melakukan mujizat hingga kini, saya mengikuti Wayne Grudem dalam mendefiniskan mujizat. Mujizat dapat didefinisikan sebagai ”suatu aktivitas Allah yang kurang lazim (tidak umum) dimana Ia membangkitkan rasa terpesona dan ketakjuban manusia dan memberikan kesaksian tentang diriNya sendiri.” (catatan: Definisi ini berbeda dari definisi kebanyakan teolog reformed). Bila memperhatikan terminologi Alkitabiah untuk kata mujizat  seringkali menunjukkan kepada gagasan mengenai pekerjaan kuasa Allah yang membangkitkan kekaguman dan keterpesonaan manusia. 1) Kata Ibrani ”ot” dan Yunani ”semeion” umumnya diterjemahkan dengan kata ”tanda”. Artinya sesuatu yang menunjuk kepada atau mengindikasikan sesuatu yang lain, terutama mengacu kepada mujizat, yang menujukkan adanya aktivitas dan kuasa Allah. 2) Kata Ibrani ”mopet” dan Yunani ”teras” diterjemahkan dengan kata ”keajaiban” yaitu suatu peristiwa yang menyebabkan orang kagum atau heran. 3) Kata Ibrani ”gaburah” dan Yunani ”dunamis” diterjemahakan dengan mujizat atau pekerjaan yang berkuasa, artinya suatu tindakan yang memperlihatkan kuasa besar,  terutama kuasa ilahi (mengacu pada mujizat).
12. Tuhan yang Mahakuasa adalah pencipta, Ia menciptakan langit, bumi dan segala isinya. Tuhan yang sanggup menciptkan dunia ini, Ia juga Tuhan yang sanggup mengutus AnakNya ke dalam dunia melalui cara dilahirkan oleh anak dara (perawan).
13. Beberapa teolog, menyebutkan bahwa tali yang dipakai Yudas gantung diri sengaja diputuskan/ditebas tanpa menyentuh tubuh Yudas, sebab menyentuh mayat merupakan hal najis pada masa itu.
14. Pengetahuan tentang apa yang kita percayai bersumber pada pemahaman terhadap doktrin-doktrin dalam Kitab Suci (teologi). Sedangkan kemampuan untuk memberi penjelasan mengapa kita mempercayai disebut apologia.
 
REFERENSI UNTUK STUDI LEBIH LANJUT

Daftar berikut ini adalah buku terpilih oleh penulis dengan pertimbangan bahwa buku-buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kecuali buku Wayne Grudem, Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Berdasarkan pertimbangan diatas tidaklah sulit untuk mendapatkan buku-buku tersebut di toko buku Kristen atau penerbit buku. Selanjutnya, di dalam buku-buku tersebut terdapat referensi lanjutan sesuai dengan rujukan para penulis buku tersebut. Tanda astrik (*) dianjurkan untuk bacaan awal, selanjutnya tanda astrik (** dan ***) dianjurkan sebagai bacaan lebih lanjut.

Daftar Referensi untuk Teologi Sistematika:
Arrington, French L., 2004. Christian Doctrine A Pentacostal Perspective, 3 Jilid. Terjemahan, Penerbit Departemen Media BPS GBI : Jakarta.**
Berkhof, Louis., 2011. Systematic Theology. 6 Jilid, Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.***
Brill, J. Wesley., 1993. Dasar Yang Teguh. Penerbit Yayasan Kalam Hidup : Bandung. *
Boice, James M.,  2011. Fondations Of The Christian Faith: A Comprehensive And Readable Theology. Terjemahan, Penerbit  Momentum : Jakarta.***
Conner, Kevin J., 2004. The Fondation of Christian Doctrine. Terjemahan, Pernerbit Gandum Mas: Malang. *
Cornish, Rick.,  2007. Five Minute Theologian. Terjemahan, Penerbit  Pionir Jaya : Bandung.*
Enns, Paul., 2004.The Moody Handbook of Theology, 2 jilid. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.**
Enns, Paul., 2000. Approaching God, 2 jilid. Terjemahan, Penerbit Interaksara : Batam. *
Erickson J. Millard., 2003. Christian theology. 3 Jilid. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.***
Grudem, Wayne., 1994. Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Zodervan Publising House : Grand Rapids, Michigan.***
Milne, Bruce., 1993. Knowing The Truth : A Handbook of Christian Belief. Terjemahan (1993). Penerbit BPK : Jakarta.**
Ryrie, Charles C., 1991. Basic Theology.   2 Jilid, Terjemahan, Penerbit Andi Offset : Yoyakarta.***
Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang. **
Tabb, Mark, ed., 2011. Theology. Terjemahan, Penerbit Yayasan Gloria : Yogyakarta.*
Thiessen, Henry C., 1992. Lectures in Systematic Theology, direvisi Vernon D. Doerksen. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.**

Daftar Referensi untuk Apologetika:
Akers N. Jhon, J.H. Amstrong & J.D. Woodbrige, ed.,  2002. This We Believe Terjemahan, Penerbit  Gospel Press : Batam.*
Archer, Gleason, L., 2009. Encyclopedia Of Bible Difficulties. Terjemahan, Penebit Gandum Mas : Malang.***
Cornish, Rick.,  2007. Five Minute Apologist. Terjemahan, Penerbit  Pionir Jaya : Bandung.**
Daun, Paulus., 1994. Bidat-Bidat Kristen dari Masa ke Masa. Yayasan Daun Family : Manado**
Frame, John M., 2010. Apologetics To The Glory Of God: An Introduction. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.***
Geisler, Norman & David Geisler., 2010. Conversational Evangelism. Terjemahan, Yayasan Gloria: Yogyakarta.**
Grudem, Wayne., 2009. Christian Beliefs. Terjemahan, Penerbit Metanonia Publising: Jakarta. *
Kennedy, D. James., 2000. Why I Believe. Terjemahan, Penerbit Interaksara : Batam.*
Lewis, C.S.,  2006. Mere Christianity. Terjemahan, Penerbit  Pionir Jaya : Bandung.*
Matindas, B.E.,  2010. Meruntuhkan Benteng Ateisme Modern, Penerbit  Andi Offset: Yogyakarta.**
Sproul, R.C., 2008. Defending Your Faith: An Introduction To Apologetics. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.***
Strobel, Lee.,  2002. The Case For Christ. Terjemahan, Penerbit  Gospel Press : Batam.**
Strobel, Lee.,  2006. The Case For Creator Terjemahan, Penerbit  Gospel Press : Batam. **
Strobel, Lee.,  2005. The Case For Faith. Terjemahkan, Penerbit  Gospel Press : Batam.
Tabb, Mark, ed., 2011. Worldview. Terjemahan, Penerbit Yayasan Gloria : Yogyakarta.**
Williamson, G.I., 2012. Westminster Confession Of Faith. Terjemahan, Penerbit  Momentum : Jakarta.***
Zacharias, Ravi.,  2006. Jesus Among Other Gods. Terjemahan, Penerbit  Pionir Jaya : Bandung.*
_____________, ed., 2006. Who Made God?  Terjemahan, Penerbit  Pionir Jaya : Bandung.*

Daftar Referensi untuk sejarah Gereja:
Cornish, Rick., 2007. Five Minute Church Historian. Terjemahan, Penerbit  Pionir Jaya : Bandung.*
End, Th. Van den., 2007. Harta Dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas. Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta.**
Hughes, Robert Don., 2011. History, Terjemahan, Penerbit Yayasan Gloria : Yogyakarta.*
Urban, Linwood.,  2006. Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen. Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta.***
Wongso, Peter., 1992. Sejarah Gereja. Seminari Alkitab Asia Tenggara : Malang*

Apakah Kita Semua Harus Berkata-kata Dengan Bahasa Roh?

Penulis : Manfred T. Brauch

"Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih daripada itu, supaya kamu bernubuat." 1 Korintus 14:5 Ucapan Paulus dalam 1 Korintus 14:5 dan pembahasan sekitarnya mengenai kehadiran dan fungsi karunia-karunia rohani dalam diri orang-orang beriman telah menimbulkan banyak pertanyaan: Apa kedudukan "bahasa roh" di dalam jemaat? Apakah orang-orang yang telah mendapatkan karunia rohani ini menjadi orang Kristen yang lebih saleh, lebih terbuka terhadap pekerjaan Roh Kudus, dibandingkan mereka yang belum mendapatkannya? Apakah Paulus bermaksud mengatakan bahwa semua orang Kristen harus mendapatkan karunia ini? Atau sebaliknya semua orang harus berpartisipasi dalam pekerjaan nubuat, dan memberikan tempat yang tidak penting untuk "berkata-kata dengan bahasa roh"?

Beberapa orang Kristen, atas dasar teks ini dan teks-teks lainnya, merasa lebih tinggi, atau lebih lengkap, karena mereka memiliki karunia bahasa roh, dan bersama-sama Paulus berharap bahwa saudara-saudara seiman mereka dapat memiliki pengalaman yang sama ini. Orang-orang Kristen lainnya, atas dasar teks yang sama, menganggap glossolalia ini (dari bahasa Yunani glossai "lidah") perwujudan dari iman yang primitif dan tidak dewasa, dan menganggap ketiadaan karunia atau pengalaman ini sebagai tanda kedewasaan yang lebih besar. Yang lainnya lagi, melihat iman yang bersemangat dan antusias, dan juga kesaksian dari beberapa orang yang memiliki karunia berkata-kata dengan bahasa roh, merasa bahwa mereka tidak berjalan seiring dengan Roh Allah dan sungguh-sungguh merindukan atau mencari pengalaman Roh yang akan menimbulkan semangat pada iman yang statis.

Masalah di atas, yang sedikit banyak sudah ada di sebagian gereja sepanjang sejarah gereja telah muncul kembali akhir-akhir ini dalam sebuah bentuk yang dikenal dengan nama gerakan kharismatik (dari kata bahasa Yunani charisma "karunia"). Karena gerakan ini telah masuk ke dalam semua golongan gereja dan mempengaruhi orang-orang beriman dalam hampir semua tradisi Kristen, kita sangat perlu mengerti ucapan Paulus yang sulit ini.

Sebuah definisi singkat tentang istilah-istilah yang digunakan oleh Paulus akan bermanfaat. Dua aktivitas yang dipertentangkan dalam ucapan sulit ini adalah "berkata-kata dengan bahasa roh" dan "bernubuat." Fenomena "bahasa roh" yang dinyatakan oleh Paulus sebagai karunia (bahasa Yunani, karisma) dari Roh Kudus ini (1 Korintus 12-14) harus dibedakan secara jelas dari fenomena yang menyertai pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:1-12).

Dalam Kisah Para Rasul, Roh Kudus memampukan murid-murid Yesus untuk "berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain" (glossai Kisah Para Rasul 2:4, 11) sedemikian rupa sehingga para pendengarnya, yang terdiri dari orang-orang dari berbagai kelompok bahasa di seluruh daerah Yunani Roma, mendengar mereka berbicara mengenai kabar baik tentang Yesus (Kisah Para Rasul 2:6, 8) dalam bahasanya masing-masing (bahasa Yunani, dialekton "dialek/bahasa"). Di sini jelas terjadi pernyataan dan pendengaran yang penuh keajaiban di mana artinya yang jelas terungkap dan diterima pendengar.

Penafsiran Paulus tentang fenomena ini juga menunjukkan bahwa hal tersebut harus dimengerti sebagai pernyataan yang jelas tentang kebesaran Allah. Ia mengutip nubuat dalam Yoel 2:28-32, di mana pencurahan Roh Kudus itu menimbulkan nubuat (Kisah Para Rasul 2:17-18).

Di Korintus, di pihak lain, fenomena bahasa roh yang dirisaukan Paulus diidentifikasi sebagai "bahasa yang tidak dimengerti": tidak seorangpun mengerti hal ini (1 Korintus 14:2); bahasa itu perlu ditafsirkan jika ingin membangun jemaat (14:5); bahasa ini dikontraskan dengan "kata-kata yang jelas" (14:9, 19) dan "banyak macam bahasa...tidak ada satu pun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti" (14:10); bahasa ini tidak mencakup akal budi (14:14); orang lain tidak tahu apa yang dikatakan (14:16).

Paulus membandingkan karunia "bahasa roh" ini dengan karunia "nubuat". Kita harus berhati-hati sejak awal untuk tidak memberikan gagasan yang terbatas pada kata nubuat. Kata ini tidak hanya berarti "meramalkan masa yang akan datang." Nubuat kadang-kadang mencakup unsur peramalan ini (baik di antara nabi-nabi Perjanjian Lama maupun nabi-nabi Kristen), tetapi aspek ini tidak eksklusif ataupun utama. Nabi-nabi Israel terutama menunjukkan Firman Allah pada kenyataan yang sekarang. Ini juga merupakan aspek utama dari pemberitaan Injil dalam kekristenan awal yang mula-mula. Dalam Kisah Para Rasul, nubuat Yoel (bahwa "anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat" Kisah Para Rasul 2:17-18) terpenuhi dalam pernyataan tentang apa yang telah dilakukan Allah dalam Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 2:22-36).

Dalam 1 Korintus 11, berdoa dan bernubuat dibicarakan sebagai dua aspek khas dari orang Kristen dalam ibadah jemaat. Doa ditujukan kepada Tuhan, sedangkan nubuat berarti menunjukkan Firman Tuhan kepada jemaat yang beribadah. Dalam 1 Korintus 14:19-33, aktivitas nabi-nabi Kristen diartikan menyampaikan isi wahyu ilahi kepada jemaat demi pengajaran dan dorongan. Tujuan perkataan nabi ini sangat penting daam kontras antara nubuat dengan berkata-kata dalam bahasa roh, yaitu untuk membangun, menasihati, dan menghibur (1 Korintus 14:3).

Kita dapat meringkas perbedaan di atas sebagai berikut: Paulus memahami "bahasa roh" sebagai ucapan yang bersemangat dan penuh gairah, tetapi tidak jelas tanpa penafsiran. Tempatnya yang asli dan sesuai adalah dalam doa (1 Korintus 14:2, 16). Ia memahami "nubuat" sebagai pernyataan wahyu yang bersemangat (mungkin mencakup Injil, yaitu tindakan Allah di dalam Kristus, dan pengungkapan yang lebih jauh dari tujuan Allah berdasarkan kejadian itu), yang disampaikan pada gereja dalam bentuk perkataan yang jelas untuk pertumbuhannya yang terus menerus. Dengan latar belakang dan definisi ini kita sekarang siap untuk mengikuti argumentasi Paulus tentang ucapan yang sulit ini.

Konteks yang lebih luas terdapat sebelum bab 12-14, di mana Paulus membicarakan masalah-masalah dalam kehidupan masyarakat gereja, khususnya dalam konteks ibadah. Prinsip yang utama dan pokok untuk tindakan Kristen adalah prinsip kemajuan rohani. Semua kehidupan dan tindakan Kristen seharusnya diatur oleh pertanyaan: Apakah ini bermanfaat bagi orang lain? Apakah hal ini menimbulkan keselamatan dan/atau pertumbuhan iman mereka? Apakah ini baik untuk mereka? (1 Korintus 8:1, 9, 13, 9:12, 19-22; 10:23-24, 31-33; 11:21, 33). Prinsip ini terus berlanjut sebagai lintasan pedoman dalam pembahasan Paulus tentang kedudukan dan fungsi karunia rohani dalam 1 Korintus 12-14. Fokus dari pembahasan tersebut adalah manfaat relatif dari "bahasa roh" dan "nubuat" (bab 14). Tetapi Paulus menggunakan "nubuat" untuk membahas apa yang nampaknya merupakan masalah inti di Korintus: sikap meninggikan karunia berkata-kata dengan bahasa roh sedemikian rupa sehingga karunia-karunia lainnya dan juga orang-orang yang memiliki karunia itu diremehkan. Orang-orang yang menggunakan bahasa roh jelas melihat karunia ini sebagai tanda kerohanian yang lebih tinggi.

Pandangan semacam ini biasanya muncul secara alamiah di antara sekelompok orang beriman di Korintus yang merasa yakin bahwa mereka telah dibebaskan dari semua hubungan tanggung jawab dan masalah etika praktis (Lihat pembahasan tentang "orang-orang yang tinggi rohani" di Korintus dalam bab 15-17 di atas. Dalam ibadah, orang-orang yang tinggi rohani ini merasa bangga dalam fenomena wahyu sebagai pengesahan terakhir bahwa mereka bebas dari eksistensi yang terikat pada bumi, termasuk kata-kata yang rasional dan jelas. Pertanyaan Paulus kepada mereka dalam hal ini, seperti juga pertanyaan yang lebih awal sehubungan dengan masalah lain, adalah: Bagaimana peranan karunia ini untuk keselamatan atau untuk membangun orang lainnya, dan bukan hanya diri sendiri? (1 Korintus 14:4). Dasar untuk mengatasi masalah ini dijelaskan dengan teliti dalam bab 12-13. Singkatnya, pemikiran Paulus berkembang sebagai berikut: Ada bermacam-macam karunia untuk orang beriman, tetapi semuanya itu berasal dari Roh Allah (1 Korintus 12:4-6). Implikasinya adalah tidak seorang pun memiliki alasan untuk merasa bangga! Perwujudan dari Roh yang satu ini dalam bermacam-macam karunia itu adalah demi kepentingan bersama (1 Korintus 12:7). Jadi, dimilikinya karunia khusus itu bukanlah demi keuntungan pribadi seseorang. Rohlah yang menentukan bagaimana karunia itu dibagikan (1 Korintus 12:11). Karena itu, pemilik dari satu karunia tertentu tidak mempunyai alasan untuk merasa lebih disukai secara khusus atau dalam pengertian tertentu lebih tinggi daripada seseorang yang tidak memiliki karunia yang sama.

Rangkaian pemikiran ini kemudian ditunjang oleh gambaran jemaat sebagai tubuh Kristus, yang dibandingkan dengan anggota tubuh manusia yang hidup (1 Korintus 12:12-27). Tujuannya yang utama adalah untuk menyatakan bahwa walaupun ada bermacam-macam orang dan karunia dalam gereja, tidak boleh ada perpecahan; masing-masing bagian harus memperhatikan bagian yang lainnya (1 Korintus 12:25).

Setelah menekankan penting dan ab412nya semua anggota tubuh, dan juga karunianya yang bermacam-macam, Paulus kemudian melanjutkan dengan menunjukkan bahwa sehubungan dengan prinsip-prinsip yang membimbing kehidupan dan tindakan Kristen yaitu agar orang-orang lain dapat diselamatkan dan dibangun beberapa panggilan dan karunia lebih utama, lebih mendasar dari yang lain, dan memberikan sumbangan yang lebih langsung dan besar terhadap tujuan itu. Walaupun Paulus memulai daftar panggilan karunia itu dengan cara menyebutkan satu demi satu ("pertama rasul, kedua nabi, ketiga guru" 1 Korintus 14:28), ia tidak melanjutkan penyebutan itu pada daftar karunia yang tersisa. Pelayanan rangkap tiga dari kata itu yaitu kesaksian Rasul yang mendasar bagi Injil, pemberitaan Injil nabi pada gereja, dan pengajaran tentang arti dan implikasi praktis dari Injil jelas merupakan yang utama, sedangkan aktivitas-aktivitas lainnya yang ditandai oleh karunia-karunia itu (1 Korintus 14:28) bersifat tergantung dan sekunder terhadap pelayanan tersebut. Penyebutan bahasa roh di urutan terakhir tidak harus berarti bahwa karunia inilah yang "paling kecil" berdasarkan urutan hirarkisnya (karena kelima karunia itu tidak diberi nomor). Lebih mungkin Paulus menyebutkannya paling akhir karena bagi jemaat yang antusias di Korintus kata ini terletak di paling atas. Tetapi, sudah jelas bahwa "bahasa roh" ini termasuk ke dalam sekelompok karunia yang satu tingkat lebih rendah daripada pelayanan nubuat. Hal ini ditegaskan oleh kalimat penutup Paulus dalam Korintus 12:31, "Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang utama." Dapat diduga dari lanjutannya dalam bab 14 bahwa pemberitaan nabi (khotbah) dan pengajaran adalah "karunia-karunia yang utama" itu.

Desakan untuk memperoleh karunia-karunia yang utama diikuti oleh panggilan menuju daya tarik yang lebih besar, "Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi" (1 Korintus 12:31 "jalan yang lebih baik lagi," Alkitab versi RSV). Yang lebih baik lagi daripada berusaha memperoleh karunia-karunia yang lebih utama, menurut Paulus, adalah mengikuti jalan kasih (1 Korintus 13:1).Karena, seperti ditunjukkannya dengan sangat mengesankan di bab 13, karunia yang kecil maupun besar suatu hari akan lenyap. Tetapi kasih abadi. Paulus mungkin mengungkapkan panggilan yang luar biasa terhadap kasih ini karena ia mengetahui bahwa kasih itu secara murni ditujukan kepada orang lain dan akan menjadi kekuatan yang memberi semangat untuk mencari karunia-karunia yang membangun orang lain. Karena itu "kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat" (1 Korintus 14:1). Sekarang kita sudah siap untuk membahas secara khusus hakikat, fungsi, dan manfaat relatif dari bahasa roh dan nubuat (di dalam ucapan yang sulit itu). "Bahasa roh" adalah bahasa hati, yang ditujukan kepada Allah (1 Korintus 14:2). "Nubuat" adalah kata-kata Allah yang ditujukan kepada manusia untuk menasihati dan menghibur (1 Korintus 14:3). "Bahasa roh" pada pokoknya merupakan masalah pribadi; bahasa roh ini membangun diri sendiri. "Nubuat" merupakan masalah umum, nubuat ini membangun jemaat (1 Korintus 14:4).

Paulus menegaskan perlunya dimensi pribadi dan juga dimensi umum dari karunia-karunia yang berlawanan tersebut ketika ia mengungkapkan harapannya agar mereka semua memiliki karunia bahasa roh, dan kemudian segera melanjutkan harapan itu dengan harapa yang lebih besar, "tetapi lebih daripada itu, supaya kamu bernubuat" (1 Korintus 14:5). Pengalaman pribadi yang menggairahkan, khususnya dalam keakraban hubungan doa seseorang dengan Allah, tidak seharusnya ditolak ("Janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh" 1 Korintus 14:39). Paulus mengetahui nilainya dari pengalaman pribadi (1 Korintus 14:18). Dalam konteks ibadah jemaat sekalipun, bahasa roh ini bisa bermanfaat jika dijelaskan melalui penafsiran (1 Korintus 14:5) sehingga orang-orang lain dapat "dibangun" (1 Korintus 14:16-17). Karena "bahasa roh" itu dikenal sebagai karunia Roh dan diberikan oleh Roh Allah, Paulus dapat mengatakan, "Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh." Ini akan merupakan bukti bahwa Roh bekerja di dalam diri mereka. Walaupun demikian, prinsip pelaksananya (yaitu demi kebaikan orang lain) membawanya tanpa syarat kepada pilihan terhadap pemberitaan nubuat, "Tetapi dalam pertemuan jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, daripada beribu-ribu kata dengan bahasa roh" (1 Korintus 14:19).

Analisa ini membawa kita pada ringkasan kesimpulan sebagai berikut: Tidak satupun karunia Roh bersifat mutlak; hanya kasih yang mutlak. Karena itu, memiliki atau menggunakan karunia yang manapun bukan merupakan tanda kedewasaan rohani. Seseorang yang beriman harus terbuka terhadap karunia Roh dan jika mereka menerimanya, mereka harus menggunakannya dengan rasa syukur dan rendah hati. Setiap pencarian karunia tertentu secara sungguh-sungguh harus dipimpin oleh keinginan untuk melibatkan diri dalam membangun jemaat sehingga seluruh umat Allah benar-benar dapat menjadi alternatif ilahi bagi masyarakat manusia yang sudah rusak.

Children of Light - Serving with LOVE through FAITH Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia Kol 3:23 Karena bagiku hidup adalah Kristus & mati adalah keuntungan Fil 1:21

Sumber: Ucapan Paulus Yang Sulit

Bagaimana Menjadi Persembahan yang Hidup

Penulis : James Montgomery Boyce

Belum lama berselang saya membaca ulang novel indah karya Charles Dickens yang berjudul A Tale of Two Cities. Kota yang dimaksud tentunya adalah Paris dan London, dan menceritakan kejadian pada Revolusi Perancis, dimana ribuan orang yang tidak bersalah dihukum mati dengan pemenggalan kepala oleh pendukung pendukung revolusi. Sebagaimana biasa dengan cerita Dickens, alur ceritanya sangat kompleks, tapi mencapai klimaks yang tidak terlupakan dimana Sydney Carton, satu tokoh yang tidak disukai dalam cerita ini, menggantikan temannya Charles Darney, yang seharusnya dihukum mati di Bastille.

Darney, yang telah dijatuhi hukuman mati, pergi dengan bebas, den Carton yang menggantikannya di tiang gantungan, berkata, "Ini adalah hal yang jauh, suatu tindakan yang jauh lebih baik yang kulakukan dari apapun yang pernah kuakukan; Ini adalah hal yang jauh, tempat peristirahatan yang jauh lebih baik yang kudatangi, dari apapun yang pernah kuketahui." Cerita itu ditulis dengan sangat indahnya sehingga tetap dapat membuatku menangis setiap kali membacanya, walaupun telah dibaca berulang kali. Ada perasaan terpesona yang dalam timbul sedemikian besarnya karena mengetahui pengorbanan hidup seseorang untuk orang lain. Itu adalah bukti paling besar dari cinta yang sejati.

Jika kita mencintai Yesus, kita akan mengorbankan hidup kita bagi-Nya. Yesus berkata, "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat sahabatnya" (Yoh.15:13), dan la melakukannya bagi kita. la secara harafiah benar-benar melakukannya. Pengorbanan Sydney Carton bagi temannya hanyalah sebuah kisah belaka, sekalipun sangat menggugah, tapi Yesus sungguh-sungguh mati di kayu salib bagi penyelamatan kita. Sekarang, karena la mencintai kita dan menyerahkan diri-Nya bagi kita, demikian juga kita yang mencintai-Nya memberikan diri kita kepada-Nya sebagai "Persembahan yang hidup / living sacrifices".

Tapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengorbanan yang Yesus lakukan dengan pengorbanan yang kita lakukan. Yesus mati menggantikan tempat kita untuk menanggung penghukuman Allah atas dosadosa kita sehingga kita tak perlu lagi menanggungnya. Pengarbanan kita, tidak sedikitpun sama seperti itu. Pengorbanan kita tidak merupakan penebusan atas dosa dalam arti apapun. Melainkan dalam arti bahwa kita sendirilah yang memutuskan pengorbanan kita yaitu mengorbankan diri kita sendiri. Itulah yang dikatakan Paulus ketika ia menulis, "karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (Roma 12:1). Dalam pelajaran ini saya hendak mengungkapkan arti lebih dalam, dengan pertanyaan: Apa sebenarnya yang dimaksudkannya dan bagaimana kita melakukannya

Persembahan yang hidup.

Hal yang pertama sangat jelas. yaitu mempersembahkan yang hidup dan bukan yang mati. Ini merupakan ide baru di zaman Paulus, dan jelas telah dilupakan di zaman kini karena telah menjadi istilah yang sangat biasa. Di zaman Paulus, pengorbanan selalu berarti pembunuhan. Di dalam praktek-praktek agama Yahudi, korban dibawa kehadapan imam, dosa dari orang yang membawa persembahan tersebut diakui atas korban dan dengan demikian secara simbolik memindahkan dosa-dosanya kepada korban yang dipersembahkan tersebut.

Kemudian korban tersebut dibunuh. Ini merupakan gambaran yang hidup yang mengingatkan kepada setiap orang bahwa "Upah dosa adalah maut" (Roma 6:23) dan bahwa keselamatan para pendosa digantikan secara substitusi. Di dalam gambaran pengorbanan tersebut, korban yang dipersembahkan mati menggantikan tempat manusia yang mempersembahkannya. Korban tersebut harus mati agar orang tersebut tidak mati mati. Tetapi sekarang, dengan ledakan kreativitas Iliahi yang diinspirasikan, Paulus mengatakan bahwa persembahan yang kita persembahkan adalah persembahan yang hidup, dan bukan yang mati. Sehingga sebagai hasilnya kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah, sehingga kita "tidak lagi hidup untuk diri sendiri tetapi untuk Dia, yang telah mati untuk kita dan telah dibangkitkan kembali" (2Kor. 5:15).

Persembahan yang dengan kehidupan yang hidup, ya. Tapi dengan kehidupan lama yang penuh dengan dosa dimana ketika kita hidup didalamnya, kita telah mati. Melainkan kita mempersembahkan kehidupan rohani yang baru yang telah diberikan kepada kita oleh Kristus. Robert Smith Candlish seorang pastor Skotlandia yang pernah hidup lebih dari 100 tahun yang lulu (1806-1873) telah meninggalkan beberapa pengajaran Alkitab yang indah. Satu set pengajarannya adalah mengenai Roma 12, dan didalamnya ada beberapa alinea yang akan kita refleksikan ke dalam kehidupan yang kita persembahkan kepada Allah. Kehidupan apa? tanya Candlish. "Bukan sekadar kehidupan binatang belaka yaitu kehidupan yang umum dari seluruh ciptaan dan termasuk ciptaan yang bergerak; Tidak sekadar, sebagai tambahannya, kehidupan yang inteligent (cerdas), yang menggambarkan kehidupan seluruh makhluk yang mampu berpikir dan mampu melakukan pemilihan yang bebas; tapi kehidupan rohani yaitu kehidupan yang memiliki arti yang tertinggi yang sebenarnya membutuhkan pertobatan yang dicapai melalui pengorbanan namun dinyatakan tak cukup, ketika mereka merasakan hal ini, maka mereka membutuhkan pengorbanan yang bersifat menebus.

Apa artinya ini, diatas segala hal, adalah bahwa kita harus menjadi orang-orang percaya jika kita ingin memberikan diri kita kepada Allah sebagaimana yang Ia inginkan. Orang lain mungkin memberikan kepada Allah, uang mereka atau waktu bahkan mungkin bekerja di lapangan pekerjaan agamawi, tapi hanya orang Kristen sajalah yang dapat memberikan kembali kepada Allah kehidupan barunya di dalam Kristus karena ia telah menerima terlebih dahulu. Sesungguhnya, ini hanya dapat terjadi karena kita telah dihidupkan di dalam Kristus sehingga kita dapat melakukannya atau bahkan kita dapat menginginkannya.

Mempersembahkan Tubuh

Hal kedua yang perlu kita lihat mengenai hakekat persembahan yang Allah kehendaki adalah meliputi pemberian tubuh kita kepada Allah. Beberapa buku-buku tafsiran kuno memberikan penekanan bahwa mempersembahkan tubuh berarti mempersembahkan seluruh totalitas kehidupan kita, seluruh aspek yang kita miliki. Calvin menulis, "Tubuh yang dimaksudkan bukan hanya kulit dan tulang-tulang, tapi seluruh totalitas yang membentuk tubuh kita." Walaupun ini benar bahwa kita harus mempersembahkan seluruh totalitas yang kita miliki, banyak buku tafsiran saat ini menolak kata tubuh ini dengan demikian mudahnya, padahal mereka mengetahui bagaimana Alkitab menekankan pentingnya tubuh kita. Sebagai contoh. Leon Morris berkata, "Paulus dengan sesungguhnya mengharapkan orang-orang Kristen mempersembahkan kepada Allah bukan hanya tubuh mereka saja tapi seluruh keberadaan mereka.Tapi harus selalu diingat bahwa tubuh adalah hal yang penting dalam pengertian kekristenan mengenai banyak hal Tubuh kita mungkin merupakan "senjata-senjata kebenaran" (6:13) dan "anggota Kristus" (1Kor. 6:15). Tubuh kita adalah "bait dari Roh Kudus" (1Kor.6:19); Paulus dapat berkata untuk menjadi "kudus baik di dalam tubuh maupun di dalam jiwa" (1Kor. 7:34). Ia mengetahui bahwa ada kemungkinan adanya yang jahat di dalam tubuh (tubuh dosa) tapi di dalam orang-orang percaya "tubuh yang penuh dosa" telah dibersihkan (6:6).

Di dalam arti yang lama, Robert Haldane berkata, "Yang dibicarakan oleh para rasul di sini adalah mengenai tubuh, dan tidak perlu menggalinya lebih dalam dari arti yang sebenarnya.Ini menunjukkan bahwa kepentingan melayani Tuhan dengan tubuh sama dengan melayani-Nya dengan jiwa". Paulus tidak menguraikan Roma 12 lebih mendalam kepada pengertian dari mempersembahkan tubuh kepada Allah "sebagai persembahan yang hidup," tapi kita tidak ditinggalkan di dalam kegelapan mengenai pengertian ini karena pemikiran ini bukanlah ide yang baru, bahkan tidak di Roma. Pemikiran ini telah muncul di pasal enam surat Roma. Di pasal itu Paulus berkata, "Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada Allah sebagai orang-orang yang dahulu mati tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.

Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia" (vv, l2-14). Ini adalah kala pertama dimana Paulus berbicara soal persembahan, dan point yang ia buat ini sama dengan point yang dibuatnya kini yang berjudul, bahwa kita melayani Allah dengan mempersembahkan tubuh kita kepada-Nya.

Dosa dapat menguasai kita melalui tubuh kita, tapi hal ini tidak perlu terjadi Sehingga, daripada mempersembahkan anggota-anggota tubuh kita sebagai alat dosa, kita mempersembahkan tubuh kita kepada Allah sebagai senjata-senjata untuk melaksanakan kehendakNya. Secara praktikal kita perlu memikirkan hal ini dengan melibatkan anggot119ubuh kita yang spesifik

  • Akal kita.
    Saya memulainya dengan akal karena, walaupun kita berpikiran bahwa keberadaan kita sebesar akal kita dan memisahkan akal kita tersebut dari tubuh kita, sebenarnya akal kita merupakan bagian dari tubuh kita dan kemenangan yang kita perlukan dimulai disini. Saya mengingatkan saudara bahwa ini adalah titik permulaan dimana Paulus sendiri memulainya di ayat 2: "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu" (penekanan pada kata mu).

    Apakah saudara pernah mempertimbangkan bahwa apapun yang saudara lakukan dengan akal saudara akan sangat menentukan pembentukan saudara sebagai seorang Kristen? Jika saudara hanya mengisi akal saudara dengan produk-produk kebudayaan sekular, saudara akan tetap bersifat sekular dan berdosa. Jika saudara mengisi kepala saudara dengan novel-novel "pop" yang tidak bermutu, saudara akan mulai hidup seperti karakter tak bermutu yang saudara baca. Jika saudara tidak melakukan apapun dan hanya menonton acara televisi, saudara akan mulai bertingkah seperti penjahat-penjahat dilayar televisi. Di lain pihak, jika saudara mengisi pemikiran dengan Alkitab dan buku-buku Kristen, melatihnya dengan percakapan-percakapan yang bermutu, dan mendisiplinkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan tajam tentang apa yang saudara lihat dan dengan membandingkannya dengan kebenaran Alkitab di dalam praktekpraktek dunia, saudara akan bertumbuh dalam kebajikan dan bertambah berguna bagi Allah. Untuk setiap buku sekular yang saudara baca, buatlah itu menjadi pendorong semangat saudara. Untuk membaca satu buku kristen yang bermutu, buku yang dapat membangun pemikiran rohani saudara.

  • Mafia dan telinga kita.
    Akal bukanlah satu-satunya bagian dari tubuh kita yang menerima dan menyaring pengaruh-pengaruh dan yang harus dipersembahkan kepada Allah sebagai senjata-senjata kebenaran. Kita juga menerima pengaruh-pengaruh dunia melalui mata dan telinga kita, dan ini juga, harus dipersembahkan kepada Allah. Seorang sosiolog mengatakan kepada kita bahwa pada abad ke 21 pemuda-pemuda rata-rata telah diserang oleh 300.000 pesan-pesan sponsor komersil, dimana seluruhnya mengatakan bahwa kesenangan individu adalah merupakan tujuan hidup. Alat-alat komunikasi moderen kita menampilkan perolehan "hal-hal tersebut" mendahului kebajikan. Kenyataannya, mereka tidak pernah menyebutkan tentang kebajikan sama sekali. Bagaimana saudara dapat bertumbuh dalam kebajikan jika saudara secara tetap menonton televisi atau membaca iklan-iklan tertulis atau mendengarkan siaran radio yang sekular ?

    Saya tidak mengarahkan kepada sistim penginjilan biara dimana saudara mundur dari segala bentuk kebudayaan, karena berpikir adalah jauh lebih baik menjaultinya daripada harus mati karenanya. Tapi kadangkadang masukan sekular harus diseimbangkan dengan masukan rohani. Tujuan lain yang sederhana untuk saudara adalah untuk menghabiskan waktu dengan mempelajari Alkitab, berdoa, dan pergi ke gereja sebanyak yang saudara habiskan untuk menonton televisi.

  • Lidah kita.
    Lidah juga merupakan bagian dari tubuh, dan apa yang kita lakukan dengannya adalah penting untuk kebaikan atau kejahatan. Yakobus, saudara Tuhan menulis, "Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat diantara anggota-anggota tubuh kita sebagai suatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka" (Yak.3:6). Jika lidah saudara. tidak diberikan untuk Allah sebagai senjata kebenaran ditangan-Nya, hal pada konflik persenjataan untuk melakukan kejahatan dengan menggunakan lidahmu. Cukup lakukanlah dengan sedikit gosip atau fitnah maka semuanya akan tercipta.

    Yang saudara perlu lakukan adalah menggunakan lidah saudara untuk memuji dan melayani Allah. Untuk satu hal, saudara harus belajar bagaimana menceritakan Alkitab dengan menggunakannya. Saudara mungkin menghafal banyak nyanyian-nyanyian populer? Dapatkah saudara juga menggunakan lidah saudara untuk memberitakan perkataan Allah? Dan bagaimana dengan penyembahan? Saudara harus menggunakan lidah saudara untuk memuji Allah dalam lagu-lagu pujian dan lagu-lagu kristiani lainnya. Di atas seluruhnya, saudara harus menggunakan lidah saudara untuk menyaksikan kepada orang lain mengenai Pribadi dan Pekerjaan Yesus Kristus. Ini adalah tujuan untuk saudara jika saudara ingin bertumbuh dalam kebajikan: Gunakanlah lidah saudara sebanyak mungkin untuk menceritakan tentang Yesus kepada orang lain setiap saat.

  • Tangan dan kaki kita.
    Ada beberapa ayat-ayat penting dalam Alkitab mengenai tangan dan kaki. Dalam I Tes.4:11, Paulus mengatakan untuk bekerja dengan tangan kita sehingga kita dapat mencukupi diri sendiri dan tidak perlu bergantung pada orang lain: "Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah karni pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan dimata dunia luar dan tidak bergantung pada mereka." Dalam Ef 4:28, ia juga mengatakan kepada kita untuk bekerja sehingga kita dapat memberikan sesuatu kepada yang berkekurangan: "Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang kekurangan."

    Sedemikian jauh kaki kita juga diperhatikan. Dalam Roma 10 Paulus menuliskan tentang pentingnya orang lain mendengar penginjilan, dengan berkata "Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya,jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!" (Rm. 10: l4-15). Apa yang saudara lakukan dengan tangan saudara? Ke mana kaki saudara membawa saudara? Apakah saudara mengijinkannya jika mereka membawa saudara ke tempat dimana Knstus ditolak dan dihina? Ke tempat dimana secara terbuka praktek-praktek dosa dilakukan? Apakah saudara menghabiskan lebih banyak waktu luang saudara di bar-bar yang panas atau tempat-tempat tercela lainnya? Di sana saudara tidak akan bertumbuh dalam kebaikan.

    Malah sebaliknya, saudara akan jauh dari kelakuan yang benar. Sebaliknya, biarkanlah kaki saudara memimpin saudara ke perkumpulan orang-orang yang mencintai dan melayani Tuhan. Atau, bila saudara pergi ke dalam dunia, biarlah hal tersebut menjadi pelayanan kepada dunia dan menjadi saksi bagi nama Kristus. Gunakanlah kaki dan tangan saudara bagi Dia. Untuk setiap pertemuan-pertemuan sekular yang saudara hadiri, jadikanlah menjadi dorongan untuk menghadiri pertemuan-pertemuan Kristen juga. Dan jika saudara pergi ke pertemuan sekular, lakukanlah sebagai kesaksian bagi Firman-Nya dan lakukanlah untuk Tuhan Yesus Kristus.

    Kata ketiga yang Paulus gunakan untuk menjelaskan arti persembahan pengorbanan yang kita lakukan untuk Allah adalah "suci". Pengorbanan apapun yang kita lakukan haruslah kudus. Yaitu, harus tanpa noda atau cacat dan hanya berpusat pada Allah. Yang kurang dari hal tersebut adalah merupakan penghinaaan kepada yang Terbesar, Allah yang Kudus kepada siapa setiap orang harus menyembah. Tapi seberapa jauh kita harus kudus -- kita yang telah ditebus "bukan dari barang-barang yang fana seperti perak atau emas .... melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat" (1Pet l:18- 19). Petrus menjelaskan. "tetapi sebagaimana Ia yang memanggilmu adalah Kudus, maka kuduslah kamu dalam segala perbuatanmu; sebagaimana tertulis: "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (VV. 15-16). Pengarang Ibrani berkata, "Tanpa kekudusan tidak seorangpun melihat Allah" (Ibr 12:14). Ini adalah pusat dari perbincangan kita ketika kita berbicara tentang persembahan yang hidup. Atau dengan kata yang lain lagi, kekudusan adalah tujuan dari seluruh arahan kitab Roma. Kitab Roma berbicara tentang penyelamatan. Tapi, keselamatan tidak berarti bahwa Yesus mati menyelamatkan kita di dalam (in) dosa kita tetapi menyelamatkan kita dari (from) dosa.

    Handley C.G. Moule melukiskan hal ini lebih baik. "Sebagaimana kita sedang mendekati peraturanperaturan tentang kekudusan dihadapan kita, biarlah kita sekali lagi mengumpulkan apa yang telah kita lihat di dalam zaman rasul-rasul, bahwa kekudusan adalah merupakan tujuan dan persoalan dari seluruh Injil. Hal ini merupakan "bukti hidup" merupakan pembuktian tentang seberapa jauh seseorang mengenal Yesus sebagai satusatunya jalan ke Surga. Bahkan lebih lagi; hal ini adalah ekspresi dari hidup; merupakan dasar dan tindakan dimana hidup seharusnya dijalankan.Kita yang sudah merupakan "orang-orang pilihan" dan "ditetapkan" untuk "menghasilkan buah" (Yoh 15:16), buah yang banyak dan tetap. Apakah ada subjek-subyek lain yang lebih banyak ditinggalkan / dilupakan dalam penginjilan di Amerik139120m zaman kini ketimbang kekudusan? Saya tidak berpikir demikian. Memang ada waktu dimana kekudusan merupakan hal serius yang dikejar oleh siapapun yang menamakan dirinya Kristen, dan bagaimana seseorang hidup dan apa yang ada di dalam seseorang merupakan hal yang sangat vital.

    J.I. Packer menuliskan sebuah buku berjudul "Rediscovering Holliness" dimana ia meminta perhatian untuk hal ini. "Kaum Puritan mendesak agar seluruh aspek kehidupan dan hubungan-hubungan didalamnya harus "kudus bagi Allah". John Wesley mengatakan kepada dunia bahwa Tuhan telah membangkitkan kaum Metodis "untuk memercikkan kekudusan Alkitab keseluruh dunia". Phoebe Palmer, Handlev Moule, Andrew Murray, Jessie Penn Lewis, F.B. Meyer, Oswald Chambers, Hotrauus Bonar, Amy Carmichael dan L B.Maxwell hanyalah sedikit dari figure-figure yang memimpin kepada "kebangkitan kekudusan" yang menyentuh seluruh penginjilan kristiani antara abad pertengahan 19 dan pertengahan 20. Tapi sekarang? Didalam zaman kita, kekudusan adalah hal yang sangat dilupakan sebagai kualitas yang sangat penting bagi umat Kristen. Sehingga kita tidak mencoba untuk hidup kudus. Kita dengan pasti tahu apa artinya kudus. Dan kita tidak melihat kekudusan pada diri orang lain. Pendeta Robert Murray Mc.Cheney berkata, "keperluan terbesar dari umatku adalah kekudusan pribadiku." Tapi kekudusan seperti apa yang dilihat jemaat-jemaat pada diri pastor-pastor zaman kini? Pastinya ada. Mereka melihat kepada kepribadian yang menyenangkan, kepada kemampuan komumkasi yang baik, kemampuan administrative, dan hal-hal secular lainnya.

    Seperti untuk diri kita sendiri, kita tidak mencari buku atau kaset agar menjadi kudus atau menghadiri seminar yang dapat membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita lebih menginginkan informasi mengenai "Bagaimana menjadi bahagia," "Bagaimana membesarkan anak." "Bagaimana memperoleh kehidupan sexual yang indah," dan lain-lainnya. Untunglah kekurangan ini telah diperhatikan oleh pemimpin-pemimpin rohani yang merasa terganggu dan telah memulai membahas pokok persoalannya. Saya menghargai buku karangan Packer sebagai buku yang sama baiknya dengan buku yang ditulis beberapa tahun sebelunuiya oleh Jerry Bridges yang berjudul "The Pursuit of Holiness / Pengejaran dari Hidup Suci". Ada juga cerita klasik yang sama dari seorang Bishop lnggris John Charles Ryle.

    Menyenangkan Allah

    Kalimat terakhir yang digunakan Paulus untuk menerangkan arti dari persembahan yang hidup adalah "menyenangkan Allah". Tapi ini juga merupakan kesimpulan dari apa yang telah dibicarakan dalam pelajaran ini, karena tujuan utamanya adalah jika kita melakukan hal yang Paulus usulkan --sebutlah, mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus untuk Allah" -- kita juga akan menemui bahwa apa yang telah kita lakukan adalah menyenangkan hati Allah atau diterima. Sangatlah mengagumkan saya bahwa Allah menemukan sesuatu yang mungkin dapat kita lakukan untuk menyenangkan-Nya. Tapi itulah kenyataannya. Perhatikan bahwa kata menyenangkan muncul dua kali dalam kalimat yang pendek itu. Kali pertama, yaitu apa yang kita lihat disini, menyatakan bahwa mempersembahkan diri kepada Allah adalah menyenangkan-Nya. Kali kedua, muncul di akhir ayat kedua, menyatakan bahwa ketika kita melakukan hal ini kita akan menemukan kehendak Allah dalam hidup kita yaitu untuk menyenangkan Allah sejauh dan sesempurna mungkin. Saya sadar bahwa kehendak Allah bagi saya merupakan hal yang menyenangkan - yaitu menyenangkan saya. Bagaimana mungkin tidak jika Allah adalah Allah yang Bijaksana dan Sumber kebaikan? Kehendak-Nya pasti adalah hal yang baik untuk saya. Tapi persembahan tubuh saya kepada-Nya juga menyenangkan hati-Nya -- ketika saya menyadari diri sebagai yang sangat berdosa, bebal dan yang tidak tulus hati walaupun didalam usaha yang terbaik sekalipun kenyataan ini sangat mengejutkan.

    Namun inilah kenyataannya! Alkitab berkata bahwa untuk kebaikan kita harus berpikir sebagai hamba yang tidak berharga (Luk.17:10). Tapi juga dikatakan bahwa jika aku hidup bagi Yesus, mengembalikan kepada-Nya apa yang telah Ia berikan dulu kepada saya, maka suatu hari aku akan mendengar-Nya berkata, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia! .... masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu!) (Mat.25: 21,23).

  • Baptisan

    Oleh: Arenar

    Baptisan air merupakan hal yang sering diperdebatkan. Sampai saat ini banyak gerakan-gerakan yang begitu ngotot membenarkan model pembaptisan mereka. Apakah ada cara baptisan yang lebih tepat?

    Memahami baptisan secara praktis memerlukan peninjauan secara praktis mengenai pengalaman-pengalaman tertentu di dalam Alkitab tentang pernyataan-pernyataan Firman Tuhan mengenai fungsi baptisan. Jika tidak maka pemahaman kita tentang baptisan akan menjadi kacau balau dan semakin membuat orang lain bingung, juga malah semakin membenarkan cara pembaptisan yang kita pakai.

    Mari kita perhatikan terlebih dahulu apa istilah/pengertian baptisan.

    1. Pengertian Baptisan

    2. Dalam bahasa Yunani, kata "Bapto" artinya "mencelupkan di dalam atau dibawah" atau bisa juga berarti mencelupkan bahan-bahan untuk memberi warna baru. Sedangkan "Baptizo" bisa berarti "membenamkan", "menenggelamkan" atau "membinasakan". Tetapi, baptizo juga bisa berarti "masuk dibawah" atau "dipengaruhi", dan dalam suasana Helenisme juga diartikan sebagai "mandi" atau "mencuci".

      Perjanjian Lama

      Dalam Perjanjian Lama, ada istilah "Baptein" dalam LXX yang dalam bahasa Indonesianya adalah "mencelupkan kakinya ke dalam air" (Yos.3:15), "mencelupkan jari ke dalam darah itu" (Im.4:6,17), "dimasukkan ke dalam air" (Im.11:32), dan Naaman "membenamkan diri" ke sungai Yordan (2Raj.5:14). (dikutip dari artikel www.yabina.org)

      Dalam PL, adat basuhan menunjukkan ritual "penyucian" atau "pengudusan", dan basuhan itu bukan lambang melainkan alat pengudusan itu sendiri. Jadi air itu dianggap memunyai kekuatan magis untuk "penyucian" sehingga seperti dalam kasus Naaman harus dilakukan sampai tujuh kali. (dikutip dari www.yabina.org)

      Istilah "dimasukkan, ditenggelamkan" memang dapat memberi pengertian dari istilah baptisan. Namun hal ini telah ditafsirkan oleh beberapa gerakan-gerakan baptisan selam sebagai bukti bahwa baptisan selam ke dalam air lebih tepat, lebih benar, dan sah untuk melakukan upacara pembaptisan. Benarkah?

      Hal tersebut hanyalah penafsiran yang tidak teliti akan makna ditenggelamkan atau makna dimasukkan. Apakah yang dimaksudkan dari ditenggelamkan atau dimasukkan ke dalam air adalah mutlak ke dalam air? Apakah karna makna atau pengertian kata baptisan dari kata "baptizo" yang berarti dimasukan, maka itu berarti upacara pembaptisan adalah masukkan ke dalam air?

      Mari kita lihat terlebih dahulu apa pengertian baptisan berdasarkan elemen-elemen yang dipakai untuk memperoleh suatu hal yang berhubungan dengan baptisan.

    3. Makna Baptisan berhubungan dengan Elemen apa yang dipakai sesuai dengan pengertian tentang baptisan itu sendiri yang berarti dimasukkan.

    Kesimpulan

    1. Baptisan air. tidak ada hubungan mutlak harus di dalam air. karena bisa di dalam air, bisa di dalam Roh bisa di dalam nama Allah Bapa dan Anak dan Roh Kudus sebagai lambang pemetraian nama Allah kepada seseorang. karena jika harus di dalam air maka apa yang terjadi dengan bangsa Israel pada saat melintasi Laut Teberau?

    2. Kenapa disebut baptisan air? Karena air dijadikan suatu wadah yang dipakai dalam upacara pembaptisan. Apakah bisa menggunakan wadah lain selain air? Jawabannya adalah wadah tidak menjadi hal yang mutlak. Air digunakan karena melambangkan Roh Kudus.

    3. Baptisan Yohanes, Baptisan yang dilakukan Yesus, dan Baptisan amanat agung (baptisan orang percaya/gereja) memiliki elemen-elemen yang berbeda.

    Baptisan Yohanes menggunakan Elemen Air dengan wadah air sebagai lambang pertobatan. Baptisan yang dilakukan Yesus menggunakan Elemen Roh dan api dengan Wadah Roh dan Api sebagai pengalaman penyatuan Gereja atau Tubuh Kristus dan penyucian.

    Baptisan Amanat agung/orang percaya menggunakan Elemen Nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus sebagai lambang pemetraian nama Allah Bapa dan Allah anak dan Allah Roh Kudus.

    Blog penulis: i-fellowshipservice.blogspot.com

    Baptisan Air

    Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

    Arti dan Ketetapan Baptisan Air

    Kata baptisan berasal dari kata Yunani Baptizo, Bapto, dan Baptisma yang berarti menutupi sesuatu dengan cairan atau mencelupkan sesuatu ke dalam cairan dan kemudian mengeluarkannya lagi. Baptisan air ditetapkan oleh Kristus sendiri (Matius 28:19,20; Markus 16:15,16). Amanat Kristus ini dikerjakan oleh Para Rasul setelah kedatangan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2:41; 8:12,38; 9:18; 10; 48; 16:15,33; 18:8).

    Perbedaan Baptisan Air dari Baptisan Roh Kudus

    Baptisan Roh juga berbeda dari baptisan air. (1) Baptisan Roh Kudus adalah pengalaman penerimaan Roh Kudus pada saat seseorang diselamatkan atau lahir baru, yaitu sesudah bertobat dan percaya kepada Yesus. Hal ini sesuai dengan pernyataan Petrus dalam Kisah Para Rasul 2:38, "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”. Sedangkan baptisan air adalah tanda inisiasi bahwa telah bertobat menerima kelahiran baru (Matius 3:11). (2) Baptisan Roh Kudus menempatkan orang percaya ke dalam tubuh Kristus yang tidak kelihatan, disebut keanggotaan gereja universal (1 Korintus 12:3); sedangkan baptisan air merupakan upacara (inisiasi) masuk kedalam keanggotaan tubuh Kristus yang kelihatan, disebut keanggotaan gereja lokal. Baptisan Roh Kudus menunjukkan karya pemeteraian “hidup baru” oleh Roh Kudus dan bersifat permanen (Efesus 1:13) sedangkan baptisan air adalah kesaksian bahwa orang tersebut telah dimeteraikan dan menerima hidup baru (Roma 6:3-6). Baptisan Roh Kudus tidak dilakukan berdasarkan pilihan dari manusia melainkan berdasarkan suatu keputusan sepihak dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus sendiri; sedangkan baptisan air dilakukan melibatkan keputusan dan pilihan manusia. Berdasarkan pengertian ini, maka baptisan air dilakukan setelah lahir baru (diselamatkan) yaitu setelah percaya dan bertobat (Kisah Para Rasul 2:4,33,37-41). Baptisan Roh Kudus dilakukan oleh Kristus dan Roh Kudus sendiri; sedangkan baptisan air dilakukan oleh manusia. (bandingkan Matius 3:11).

    Makna Baptisan Air

    Baptisan air oleh sebagian orang telah dianggap sebagai anugerah yang menyelamatkan atau syarat keselamatan. Alkitab tidak mengajarkan demikian, sebaliknya Alkitab menunjukkan bahwa baptisan air bukanlah anugerah yang menyelamatkan atau pun syarat keselamatan (1 Korintus 1:17). Baptisan air itu penting tetapi bukanlah syarat keselamatan. Makna Baptisan air adalah: (1) Baptisan air adalah tanda (kepada) pertobatan (Matius 3:11); (2) Tanda ketataan kepada perintah Tuhan, bahwa seseorang telah lahir baru atau telah diselamatkan (Matius 28:18,19); (3) orang percaya yang telah lahir baru (atau dibaptis Roh Kudus), telah bersatu dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitanNya, dan secara simbolik persatuan tersebut ditunjukkan melalui peristiwa baptisan air (Roma 6). (4) Baptisan air merupakan upacara (inisiasi) masuk kedalam keanggotaan tubuh Kristus yang kelihatan, disebut keanggotaan gereja lokal. (5) Baptisan air adalah kesaksian bahwa orang tersebut telah dimeteraikan dan menerima hidup baru dan mengambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Kristus (Roma 6:3-6). (6) Baptisan juga menandakan bahwa seseorang menjadi pengikut atau murid Kristus yang sah (Matius 28:19,20).

    Persyaratan dan Bukti Legal Baptisan Air

    1. Baptisan air dilakukan melibatkan keputusan dan pilihan manusia. Berdasarkan pengertian ini, maka baptisan air dilakukan setelah lahir baru (diselamatkan) yaitu setelah percaya dan bertobat (Kisah Para Rasul 2:4,33,37-41). Untuk dibaptis air seseorang harus diajar (Matius 28:19), bertobat (Kisah Para Rasul 2:38), dan memiliki iman (Kisah Para Rasul 2:41; 8:12; 18:12; Galatia 3:26,27).

    2. Dasar atau fondasi dari legal (sah) atau tidaknya suatu baptisan air adalah: (1) Yang akan menerima baptisan air itu adalah orang yang sudah percaya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan penebus, yaitu mereka yang sudah dilahirbarukan oleh Roh Kudus, dan masuk dalam “kovenan” anugerah. (2) Baptisan air (tidak masalah selam atau percik), harus dilakukan dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yang menjadikan upacara itu kudus. Jika kedua syarat ini telah dipenuhi, maka tidak perlu ada pengulangan baptisan.

    Cara Pembaptisan

    Saat ini terdapat tiga cara untuk membaptis orang yaitu: dipercik, dituangkan, dan diselamkan. Pada umumnya orang setuju bahwa istilah dibaptis berarti dicelupkan, sehingga baptisan dengan cara diselamkan paling cocok dengan makna istilah ini. Selanjutnya praktik baptisan gereja perdana juga mendukung baptisan selam. Kemudian penyatuan dengan penyaliban, kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus paling cocok dilambangkan dengan cara diselamkan, dimana baptisan air menyibolkan bahwa orang itu sudah dibaptis oleh Roh kedalam tubuh Kristus atau sudah diselamatkan (Roma 6:3-6; Bandingkan Markus 1:10; Kisah Para Rasul 8:38,39). Tentunya ada pertimbangan-pertimbangan tersendiri yang mengizinkan dilaksanakannya baptisan dengan percik atau dituangkan.

    Baptisan Anak

    Penulis : John Calvin

    Ada sejumlah orang yang menimbulkan kehebohan di dalam gereja berkenaan dengan baptisan anak-anak. Dengan sombong mereka mengatakan bahwa baptisan ini tidak memiliki dasarnya sebagai institusi Allah, tetapi dimasukkan kemudian semata-mata berdasarkan ide manusia. Tentu kita menyetujui bahwa suatu sakramen yang tidak berdiri di atas dasar Firman Tuhan, tidak akan mempunyai kekuatannya. Tetapi bagaimana kalau setelah diperiksa, ternyata tuduhan yang dilontarkan terhadap institusi yang kudus ini hanyalah fitnah yang tidak beralasan. Inilah jawaban kita. Pertama, ajaran yang sudah diterima baik di antara orang-orang saleh ialah pandangan yang tepat mengenai tanda-tanda tidak terletak hanya pada segi lahiriah dari upacara itu, tetapi terutama terletak pada janji dan rahasia-rahasia (kebenaran-kebenaran) rohani yang digambarkan oleh upacara yang diperintahkan oleh Tuhan itu. Alkitab menyatakan bahwa baptisan pertama-tama menunjuk kepada pembersihan dari dosa, yang kita peroleh dari darah Kristus; selanjutnya ialah pematian kedagingan, yang didasarkan pada keikutsertaan kita dalam kematian-Nya yang melaluinya kita dilahirkan kembali untuk memperoleh hidup yang baru dan persekutuan dengan Kristus. Inilah intisari ajaran Alkitab tentang baptisan; yang ada di luar itu hanyalah suatu tanda yang menyatakan kepercayaan kita di hadapan orang-orang.

    Sebelum baptisan ditetapkan, umat Allah telah memiliki sunat. Ketika menyelidiki perbedaan dan kesamaan antara kedua tanda ini, terlihatlah hubungan anagogi keduanya, maksudnya, sunat mengantisipasi baptisan. Janji yang diberikan Allah kepada para bapa leluhur dalam sunat, juga diberikan kepada kita dalam baptisan, yaitu sebagai gambaran tentang pengampunan dosa dan pematian kedagingan (bdk. Ul.10:16; 30:6). Sekarang kita dapat melihat dengan jelas persamaan dan perbedaan kedua tanda ini. Dalam keduanya terdapat janji yang sama, yaitu anugerah Allah yang penuh kebapaan, pengampunan dosa, dan kehidupan kekal. Hal yang dirujuk keduanya juga sama, yaitu kelahiran baru, dan keduanya memiliki satu landasan yang sama yang menjadi dasar bagi penggenapan semua ini. Jadi tidak ada perbedaan kebenaran internal yang melaluinya seluruh kekuatan dan karakter dari sakramen ini diuji. Perbedaan antara keduanya terletak di bagian luar, yaitu upacara lahiriah, yang merupakan seginya yang paling idak penting.

    Ketika menyelidiki Alkitab untuk mengetahui apakah dibenarkan untuk melakukan baptisan kepada anak-anak, kita akan menemukan bahwa baptisan bukan saja layak diberikan, bahkan wajib diberikan kepada mereka. Bukankah dulu Tuhan telah menganggap mereka layak menerima sunat untuk membuat mereka berbagian dalam semua janji yang ditunjuk oleh sunat? Penyunatan bayi ini bagaikan meterai yang mengesahkan janji-janji kovenan. Dan karena janji ini masih teguh maka semua ini juga berlaku bagi anak-anak Kristen sekarang ini, sama seperti dulu menyangkut anak-anak Yahudi. Dan kalau anak-anak ini turut mendapat bagian dalam apa ditunjuk oleh tanda itu, mengapa mereka harus dicegah untuk mendapatkan tandanya?

    Alkitab bahkan membukakan kepada kita kebenaran yang lebih pasti. Anak-anak Yahudi, karena telah dijadikan sebagai pewaris kovenan ini, dan dibedakan dari orang-orang yang fasik, sehingga mereka disebut benih yang kudus (Ez. 9:2; Yes. 6:13). Demikian juga, anak-anak Kristen dianggap kudus, yang dibedakan dari orang-orang yang najis (1Kor. 7:14). Kita melihat bahwa setelah mengadakan kovenan dengan Abraham, Tuhan memerintahkan supaya hal ini dimeteraikan oleh suatu tanda lahiriah, dengan demikian, kita tidak mempunyai alasan untuk tidak menyaksikan dan memeteraikan kovenan ini di dalam diri anak-anak kita.

    Ketika Kristus memerintahkan supaya anak-anak dibawa kepada-Nya, Ia menambahkan "karena orang-orang seperti inilah yang empunya kerajaan Allah." Pertanyaan kita ialah jika anak-anak harus dibawa kepada-Nya, mengapa mereka tidak sekaligus diterima dalam baptisan, yaitu simbol persekutuan dengan-Nya? Jika Kerajaan Allah adalah milik mereka, mengapa kita menolak tanda yang membuka jalan bagi mereka untuk masuk ke dalamnya? Mengapa kita menutup pintu bagi mereka yang hendak Allah terima?

    Karena itu, janganlah ada seorang pun yang tidak menerima bahwa baptisan bukanlah karangan manusia, karena Alkitab membenarkan dan menunjang hal ini. Orang-orang yang menolak baptisan anak karena mengatakan tidak ada bukti bahwa para rasul membaptiskan anak-anak adalah tidak meyakinkan. Sebab, walaupun para penulis Injil tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa anak-anak juga dibaptis, namun mereka juga tidak menyebutkan bahwa anak-anak dikecualikan dari baptisan yang diberikan kepada seluruh keluarga (Kis. 16:15, 32-33). Siapakah yang dapat menunjukkan dari nas-nas ini bahwa anak-anak tidak turut dibaptis? Apakah karena Alkitab tidak pernah menuliskan secara eksplisit bahwa wanita juga turut menerima Perjamuan Kudus oleh para rasul, maka wanita harus dikecualikan dari Perjamuan Kudus.

    Selanjutnya kita akan menunjukkan berkat apa yang diberikan oleh pelaksanaan baptisan anak ini kepada orang percaya yang menyerahkan anak-anaknya untuk dibaptis dan bagi anak-anak yang dibaptis itu, agar jangan ada orang yang melecehkannya sebagai hal yang tidak berguna. Melalui institusi/sakramen kudus ini iman kita mendapatkan penghiburan. Sebab tanda ilahi yang diberikan kepada anak itu menegaskan janji yang diberikan kepada orangtua yang saleh dan menyatakan bahwa secara pasti Tuhan akan menjadi Allahnya dan bahkan Allah anak-anaknya; dan bahwa Ia akan mencurahkan kebaikan dan anugerah-Nya kepadanya dan keturunannya hingga beribu-ribu angkatan (Kel. 20:6). Mereka yang menyambut janji Allah, yaitu bahwa kemurahan Allah menjangkau hingga kepada anak-anak mereka, hendaklah memahami kewajiban mereka untuk mempersembahkan anak-anak mereka kepada gereja untuk dimeteraikan oleh simbol kemurahan, dan dengan demikian, memberikan keyakinan yang lebih sungguh kepada mereka, karena mereka melihat sendiri kovenan Tuhan telah diukirkan di dalam diri anak-anak mereka.

    Di pihak lain, anak-anak juga menerima berkat baptisan. Dengan dimasukkannya mereka ke dalam tubuh gereja, berarti mereka telah dipercayakan kepada anggota-anggota tubuh yang lain, dan ketika mereka sudah dewasa, mereka akan lebih terdorong untuk sungguh-sungguh menyembah Allah karena mereka telah diterima menjadi anak-anak Allah melalui simbol adopsi, sebelum mereka cukup besar untuk mengakui Dia sebagai Bapa. Akhirnya, kita patut merasa gentar terhadap ancaman yang menyatakan bahwa Allah akan membalas siapa saja yang menganggap hina pemberian tanda simbol kovenan kepada anak-anaknya. Karena dengan penghinaan seperti ini, anugerah yang ditawarkan telah mereka tolak, dan bahkan ingkari (Kej. 17:14).

    Sebagian orang mengatakan bahwa anak-anak tidak boleh dibaptis karena mereka belum cukup umur untuk dapat mengerti misteri (kebenaran) yang dirujuk oleh baptisan, yaitu kelahiran baru secara rohani. Orang yang berkata demikian tidak mengerti bahwa anak-anak dilahirbarukan oleh karya Allah yang melampaui pengertian kita. Alasan mereka yang lain ialah karena baptisan adalah sakramen pertobatan dan iman, maka anak-anak tidak boleh dibaptis karena mereka belum dapat bertobat maupun beriman. Kita akan menjawab bahwa argumen ini tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa Allah memerintahkan penyunatan anak-anak, yang disebut oleh Kitab Suci sebagai tanda pertobatan, dan yang disebut oleh Paulus sebagai "meterai kebenaran berdasarkan iman" (Rm. 4:11). Kita menyatakan bahwa anak-anak dibaptis dalam pertobatan dan iman yang akan mereka lakukan di masa yang akan datang, dan benih ini tersimpan dalam diri mereka karena karya Roh Kudus.

    Sumber: Institutes of the Christian Religion, IV.16

    Barangkali

    Penulis : Eka Darmaputera

    Kalau saya tidak salah, adalah Jean-Paul Sartre, seorang filsuf berkebangsaan Prancis, yang terkenal dengan ucapannya, bahwa setiap orang manusia adalah "makhluk terkutuk". Astaga, "terkutuk"? Ya! "Dikutuk" para datuk menjadi makhluk "bebas". Dengan perkataan lain, menurut Sartre, "kebebasan" atau "kemerdekaan" adalah "laknat". "Kutuk". Pada satu pihak, katanya, tak seorang manusia pun yang tidak mendambakan kebebasan. Anda, saya, siapa saja, siapa sih yang suka ditelikung atau dikurung? Sebaliknya, berkorban apa pun manusia bersedia, demi apa? Demi kebebasannya. "Kami cinta perdamaian, tapi lebih cinta kemerdekaan!", pekik Bung Karno. Namun, pada saat yang sama, tak dapat disangkal, "kebebasan" itu tak lain tak bukan adalah "beban". Bila sudah mengalami sendiri apa implikasi "kebebasan" itu dalam kehidupan, siapa pun—bila mungkin— ingin menghindarinya. Sayangnya, ini mustahil. Tak mungkin. Jauh di lubuk hatinya, manusia pada satu pihak ingin bebas, tapi pada saat yang sama sebenarnya juga ingin "tidak bebas". Mengapa? Sebab "kebebasan" itu berarti "tanggung-jawab". Dan "tanggung-jawab" itu berarti "risiko". Dan siapa yang menyukai "risiko"? Bukankah yang paling enak adalah mengerjakan sesuatu, tapi tak perlu bertanggungjawab bila salah? Bila kita dapat melemparkan risiko pada orang lain? "Saya cuma sekadar melaksanakan instruksi pimpinan!".

    JADI, pada satu pihak, dari "bawahan" kita ingin merambat naik agar menjadi "atasan". Dari "anak kecil" kita ingin cepat-cepat menjadi "orang dewasa". Alasannya? Supaya "bebas"! Namun sekali Anda merasakan sendiri bagaimana situasi "di atas sana", Anda akan mengatakan, "Wah, sebenarnya enakan dulu lho, ketika masih jadi bawahan". Sebab di atas sana, o, sunyi sekali. Yang ada cuma Anda sendiri. It�s lonely on the top! Anda tidak dapat mengatakan, "Saya sekadar melaksanakan perintah atasan". Anda yang harus bertanggungjawab — seluruhnya dan sendirian! Memang tak ada "atasan" yang sengaja "melorotkan" diri agar kembali jadi "bawahan". Dan itulah, menurut Sartre, letak "kutuk"nya. Kita tak dapat melepaskan diri. Apa sih sisi yang paling memberatkan dalam "tanggung jawab"? Saya kira tak bakal meleset terlalu jauh, bila saya mengatakan, bahwa yang paling berat dari "tanggung jawab" adalah, "melakukan pilihan" dan "mengambil keputusan". Apa lagi, bila "keputusan" yang kita ambil itu tidak boleh salah! Atau orang, dengan mata menyala, akan menggugat dan menuntut "pertanggung-jawaban" kita.

    DIHARUSKAN melakukan pilihan dan mengambil keputusan sendiri itu memang lebih terhormat dan bermartabat ketimbang tidak punya hak pilih sama sekali. Namun, tetap saja, mengambil keputusan itu tidak enak. Dan sulit. Terlebih-lebih, bila kita harus memilih antara yang "benar" dan yang "salah"! "Ini" atau "itu". Lebih aman dan nyaman bila tidak perlu memilih, alias "netral". Dengan begitu, tak perlu seorang pun kecewa atau sakit hati akibat pilihan kita. Toh kesulitan tersebut masih relatif belum seberapa. Yang jauh lebih sulit dari pada memilih antara yang "benar" dan yang "salah", adalah tatkala kita harus memilih antara antara "yang salah" dan "yang salah". Ke situ salah, ke sini salah. Mundur kena, maju kena. Bak harus makan buah simalakama. Karena sulitnya memilih dan tidak enaknya risiko serta tanggungjawab itulah, pada diri setiap orang—ya, setiap orang!—sebenarnya ada semacam dorongan naluriah untuk "tidak terlibat", untuk "cari selamat", untuk menjadi "safe-player". Banyak orang yang, ingin "netral" saja. Atau berkata, "No comment." Atau "Off-the-record". Orang-orang ini, enggan dengan tegas mengatakan "ya" atau "tidak". "Bagaimana, Anda pilih "A" atau "B"?". "Yah, menurut saya, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan masing-masing". Sip, bukan? Semua orang, bilamana memungkinkan, akan cenderung mengambil sikap "cari aman" seperti itu. Yang maksimal mereka katakan adalah, "Mungkin", "Barangkali", "Belum pasti". "Lihat saja nanti!".

    TAPI walaupun yang saya katakan itu adalah kecenderungan yang nyaris ada pada setiap orang, ada orang-orang tertentu yang lebih "ekstrem". Kecenderungan tidak mau mengambil sikap itu telah menjadi bagian dari "kepribadian", "watak" dan "karakter" yang bersangkutan. Telah menjadi "habit". Orang-orang yang saya maksud ini hampir tak pernah mau atau berani mengatakan "ya" atau "tidak". Paling banter yang mereka katakan adalah, "barangkali" atau "nanti saya usahakan". "Warna apa yang Anda sukai? Kuning atau merah?" Jawab mereka, "Kuning bagus. Tapi merah juga bagus". Bergaul , berurusan, apa lagi bekerja-sama dengan orang-orang macam begini—tipe orang- orang "Barangkali"—bisa sangat menjengkelkan dan menyebalkan. Bayangkan bila Anda menjadi pacar orang seperti ini. "Jadi bagaimana? Kita jadi kawin atau tidak? Maksud saya, kalau ya, kapan, di mana, apa yang mesti kita persiapkan?". Yang ditanya hanya menjawab, "Jadi sih jadi, tapi ..." "Tapi apa?" "Tapi ya itu. Ah, kita bicarakan lain kali saja ya!" Begitu setiap kali. Atau sekiranya Anda mempunyai bawahan seperti ini. "Oke, saya membutuhkan nasihat dan pendapat Anda sekarang, sebab sebentar lagi saya harus mengambil keputusan. Kita terima tidak tawaran PT "Kencana Wungu" itu? Bagaimana Harto?". Jawab Harto, "Ah, saya sih mana-mana saja, boss! Apa yang bapak putuskan, pasti saya dukung. 100 persen!". "Tapi saya butuh pendapatmu!". "Pendapat saya ya itu tadi. Mana-mana yang bapak putuskan pasti baik. Saya nurat- nurut saja".

    DARI sudut pandang iman kristen, mengambil keputusan adalah bagian tak terpisahkan dari hakikat kita sebagai manusia. Maksud saya, sebab kita diciptakan sebagai manusia, maka kita harus mengambil keputusan. Tidak bisa tidak. Itulah konsekuensi dari diciptakannya manusia sebagai makhluk yang "bebas", berbeda dengan makhluk-makhluk lain. Manusia dikaruniai oleh Tuhan "kehendak bebas". Hewan mengikuti nalurinya. Ia, misalnya. tak memilih pekerjaan. Ia tak memilih jodoh. Ia tidak mengambil keputusan. Sebab itu hewan tidak dapat diminta pertanggung-jawabannya. Di dalam kitab Taurat disebutkan, bila ada ternak merambah dan kemudian merusak pagar serta halaman orang lain, maka si pemilik hewan itulah yang dijatuhi hukuman. Binatang tidak mengenal apa yang disebut "etika", atau pedoman mengenai tingkah laku yang benar dan salah, baik dan jahat, tepat dan tidak tepat. Sebab binatang tidak mendasarkan tingkah-lakunya pada "norma". Bila seekor kucing melihat daging dijemur di halaman, ia tidak berpikir dan bergumul keras mengenai "benar/salah"nya atau "baik/jahatnya" sekiranya ia mengambil daging yang bukan miliknya itu. Bila ia menginginkannya, dan ada kesempatan untuk itu, ya sambar saja.

    BERBEDA dengan manusia. Begitu ia diciptakan oleh Khaliknya, Tuhan berpesan, "Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" (Kejadian 2:16-17) Bila Anda bertanya, "Mengapa Allah perlu menciptakan pohon yang akhirnya dilarang untuk dimakan?. Bukanlah lebih "aman", bila pohon terlarang itu tidak ada?" Jawabnya, "Ya, mungkin lebih aman. Seaman bila Anda seharian mengunci anak Anda di dalam kamar, guna mencegahnya dari kemungkinan celaka bila bermain di jalan." Tapi itulah risiko yang diambil Allah, ketika Ia menciptakan manusia sebagai makhluk yang bebas. Atau Anda lebih suka pilihan yang lain?" Bebas berarti mesti punya pilihan. Bebas berarti mesti mengambil keputusan antara dua kemungkinan atau lebih. Dan ini memang berisiko untuk memilih yang salah! Risiko ini telah diperhitungkan Allah. Dan Ia memilih mengambil risiko itu, ketimbang menciptakan Anda dan saya seperti kambing atau unta atau cacing. Karena itu, bila ada orang secara sadar tidak mau dan tidak berani menentukan pilihan, alias cuma berani mengatakan "barangkali" sebab tak mau memikul risiko, ia sebenarnya telah melakukan pilihan juga. Hanya saja, yang bersangkutan memilih untuk tidak menjadi manusia yang sepenuhnya. Sayang sekali, bukan? Kasihan sekali, bukan?

    Berkat dari Pengenalan akan Allah

    Oleh: Richard L. Strauss

    " Apa salah dengan kerohanianku? Kenapa aku tidak mempunyai damai dan kegembiraan yang dimiliki orang Kristen lainnya?" Saya tidak bisa lagi menghitung banyaknya orang-orang yang menanyakan pertanyaan seperti itu selama pelayanan saya. Mereka sudah membaca Alkitab yang seharusnya mempunyai " kegembiraan yang tak dapat dilukiskan dan penuh dengan kemuliaan" ( 1 Petrus 1:8), tetapi mereka tidak bisa membayangkan apa itu pengalaman Kristen. Jika mereka menulis suatu acuan hidup Kristen itu akan lebih seperti " kemuraman yang tidak tertahan dan penuh dengan keraguan."

    Tidak Ada Formula Ajaib
    Saya tidak mempunyai formula apapun untuk memperindah hidup Kristenmu. Ada banyak faktor dalam Alkitab yang bisa mempengaruhi kesejahteraan rohani kita, tetapi satu hal yang pasti pengenalan Tuhan secara pribadi, adalah satu faktor utama. Keuntungan pengenalan Tuhan pengetahuan sangat luar biasa. Kita akan bicara lebih banyak tentang itu bersama dengan masing-masing atributnya, tetapi mari kita pertimbangkan beberapa keuntungan umum sebelum kita mulai, agar supaya kita mempertajam selera rohani kita dan membangunkan dahaga kita untuk Tuhan. Di sini ada sebagian hal baik yang akan kita nikmati saat pengetahuan kita akan bertumbuh.

    Daniel mengantisipasi pemerintahannya secara nubuat dalam pasal kesebelas kitab ini. Dan ia lakukan persis seperti Daniel ramalkan. Ia perintahkan untuk memberhentikan pemberian korban orang Yahudi dan mengotori Bait Tuhan dengan mengorbankan babi diatas altar. Sebagai tambahan, ia melarang pelaksanaan hari sabat dan sunat anak-anak, memerintahkan semua salinan Kitab-kitab dibinasakan, menyediakan altar pemujaan, memerintahkan bangsa Yahudi untuk mengorbankan korban yang kotor, dan meminta dengan tegas agar mereka makan daging babi. Orang yang menentang perintahnya dihukum mati. Itu adalah bencana masa lampau. Ketika Daniel mengantisipasi kekejaman ini ia bertanya pada dirinya bagaimana orang-orang ini akan mampu bertahan. Jawaban tidaklah lama: “ umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak ( 11:32). Dan itu persis apa yang mereka lakukan. Suatu kelompok orang berani disebut Maccabees memimpin suatu pemberontakan gagah berani melawan Antiochus. Eksploitasi mereka, melawan rintangan tak dapat diatasi, adalah benar-benar luar biasa. Mereka mengenal Tuhan mereka, memegang Kuasa Kedaulatannya, bertindak, dan menghancurkan genggaman Antiochus atas Israel. Cerita mereka adalah suatu hikayat kekuatan, keperkasaan dari orang yang mengenal Tuhan. Orang-Orang hari ini yang sungguh-sungguh mengetahui Tuhan mempunyai derajat tingkat kekuatan dan keberanian yang sama. Mereka membela kebajikan, menentang kejahatan, bertahan dalam penyiksaan saat perlu, kemenangan melalui menderita, dan memenuhi berbagai hal besar untuk kemuliaan Tuhan. Tidak ada jalan lain untuk mempunyai kuasa rohani kecuali melalui pengenalan akan Tuhan.

    Daniel sendiri adalah manusia yang mengenal Tuhan. Ketika presiden dan para pangeran Medo Kerajaan Persia mendorong Raja Darius untuk mengeluarkan suatu keputusan yang melarang siapapun menyembah dewa manapun atau manusia kecuali raja, atau dilempar ke dalam kandang singa, Daniel tetap berdoa kepada Tuhan di Surga ( Daniel 6:4-15). Tidak saja ancaman kematian tidak bisa menghalangi dia melakukannya. Ia mengenal Tuhannya, dan orang-orang yang mengenal Tuhan mempunyai keberanian dan kekuatan untuk lakukan Kehendaknya walaupun keseluruhan dunia melawan mereka dan semua orang di sekitar mereka menyerah dalam dosa. Kita juga dapat memiliki kuasa rohani untuk melakukan kehendak Tuhan dan membuat dampak penting atas dunia yang tidak berTuhan di mana kita tinggal. Ketika pengenalan kita akan Dia meningkat dan persahabatan kita denganNya tumbuh lebih akrab, Ia membuat Kuasanya lebih siap tersedia untuk kita.

    Damai
    Petrus menceritakan kepada kita tentang orang-orang yang mengenal Tuhan. Ia berkata, “ Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita ( 2 Petrus 1:2). Statemennya mengungkapkan baik rahmat dan damai meningkat dalam hidup orang percaya melalui pengenalan Tuhan yang saksama dan penuh. Anugrah adalah keinginan Tuhan, Kepedulian yang sangat, bantuan yang setia, dan pertolongan. Kita menikmati pertolongan Tuhan setingkat dengan pengenalan kita. Itu seharusnya mudah dipahami. Jika kita tidak mengenalNya dengan baik, kita tidak akan mengetahui bantuan apa Ia sediakan, atau bahkan saat Ia sedang menawarkan kita bantuan. Kita harus mengenalNya untuk mampu menerima manfaat yang diberikanNya pada kita.

    Tetapi damai yang saya ingin bahas disini ketenangan didalam diri, suatu kepercayaan diri, suatu stabilitas dan kendali menghadapi keadaan sulit. Itu bertambah dalam kita melalui pengenalan kita akan Tuhan yang mengendalikan keadaan kita. Betapa kita memerlukan damai dalam dunia yang gelisah ini! Ketika kita mempunyai damai, kita menyadari bahwa tidak ada alasan untuk khawatir atas setiap masalah baru. Tuhan Yang Maha Kuasa yang mencintai kita dan memperhatikan tiap-tiap detil hidup kita akan mengusahakan yang terbaik. Makin baik kita berusaha memahamiNya, semakin kita bersandar dalam rencanaNya yang bijaksana untuk masa depan kita.

    Jawaban ketiga para pelayan Tuhan merupakan salah satu ungkapan iman dalam Alkitab. Mereka mulai dengan mengatakan, “ Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini (ayat 16). Tidak rasa tidak hormat didalam kata-kata mereka. Mereka mengakui bahwa tuduhan itu benar dan mereka tidak membela diri. Mereka melakukan apa yang harus dilakukan. Tetapi mereka melanjutkan, “ Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya pemimpin; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya pemimpin, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu (ayat 17,18). Mereka mengenal Tuhan yang Maha Kuasa mampu menyelamatkan mereka. Ia yang menciptakan api dan yang membuat badan mereka pasti bisa menjaga mereka dari hal ini. Dan mereka percaya Ia mau. Tetapi sekalipun mereka tidak secara penuh memahami rencana Tuhan pada waktu itu dan Ia tidak menyelamatkan mereka, tidak apa-apa! Mereka akan ada dalam keadaan yang lebih baik dihadiratNya. Di dalam kasus manapun, mereka tidak akan menentangNya dengan membungkuk didepan patung. Mereka mempunyai damai yang sempurna dan kepercayaan dihadapan kematian sebab mereka mengenal Tuhan.

    Apakah anda ingin memiliki damai seperti itu? Apakah anda ingin menghadapi pencobaan, masalah apapun, bahaya apapun, atau ancaman apapun, serta bisa berkata dengan penuh percaya diri, “ Tidak penting apa yang terjadi kepada saya. aku mengetahui bahwa Tuhan akan bekerja bersama-sama untuk kebaikan. aku hanya ingin melakukan KehendakNya dan memuliakanNya. Kedamaian seperti itu tergantung pada tingkat pengenalan Tuhan. Ketika kita belajar untuk mengenalNya lebih baik dan mulai untuk merasakan Kuasanya dengan Cinta abadinya, kita akan belajar untuk tenang didalam Dia seperti anak kecil tenang dan damai didalam lengan ayahnya selagi badai mengamuk diluar.

    Kebijaksanaan
    Sebagian dari kita memiliki kekurangan dalam pemahaman rohani. Kita membaca Firman Tuhan tanpa mengerti apa yang dikatakan, dan kita secara total kehilangan implikasinya bagi kita. Kita ingin mendapatkan apa yang Paulus doakan untuk, suatu roh kebijaksanaan dan pernyataan, kemampuan untuk melihat kebenaran ilahi, tetapi kita tidak pernah mencapainya. Di mana itu bisa ditemukan? Bagaimana mungkin kita mendapatkannya? Apakah itu memerlukan suatu ijazah teologi? Paulus memberitahu dimana letaknya dalam pengenalan akan Dia. Orang-Orang yang dengan intim mengenal Tuhan mereka mempunyai pemahaman rohani yang jauh melebihi pendidikan formal mereka. Waktu yang mereka habiskan bersamaNya telah memberi mereka pengertian yang lebih dalam tentang tujuan hidup dibanding yang bisa diberikan universitas manapun didunia.

    Petrus dan Yohanes adalah orang seperti itu. Mereka sedang mengkhotbahkan Kristus di halaman bait dan para pemimpin Yahudi sangat marah. Mereka menyeret keduanya kedalam tahanan dan menanyakan mereka sekitar aktivitas mereka, meminta dengan tegas agar mereka memberitahu dengan kuasa apa mereka melakukan mujizat. Kemudian Petrus, dipenuhi dengan Roh Kudus, membawakan kesaksian yang kuat tentang Kristus yang menunjukkan tidak hanya keakrabannya dengan peristiwa sebelumnya di Jerusalem, tetapi juga pengertiannya tentang PL ( Kis 4:812). Itu adalah suatu ungkapan iman yang luar biasa dari seorang nelayan yang tak berpendidikan. Di mana ia mendapatkan kebijaksanaan itu? Tulisan ini terus menceritakan kepada kita: bangsa Yahudi “mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus ( Kis 4:13). Mereka telah masuk ke dalam suatu pengenalan pribadi dengan Tuhan yang hidup melalui Yesus Kristus Putra-Nya. Mereka telah berjalan denganNya dan berbicara denganNya selama tiga setengah tahun. Sebagai hasilnya mereka mempunyai suatu pemahaman tentang kebenaran rohani yang tidak bisa ditandingi oleh pendidikan keagamaan pemimpin agama. Orang-Orang yang mengenal Tuhan mempunyai kebijaksanaan.

    Tujuanmu Sebenarnya
    Bukankah itu yang benar-benar kamu inginkan? Bukan kamu dapat mengagumkan para temanmu dengan pengetahuan Alkitab atau pengertian teologimu. Tetapi sedemikian sehingga kamu dapat mengetahui apa itu hidup, dan membuat dampak atas hidup mereka untuk kemuliaan Tuhan yang hidup ketika mereka mengamati kenyataan Kristus didalam kamu. Itu akan terjadi ketika kamu berusaha mengenalNya dengan intim.

    Itu merupakan suatu pemikiran yang harus dipikirkan orang percaya. Beberapa orang bertanya, “Mengapa aku tidak memiliki kasih dan sukacita serta kedamaian yang aku cari? Di sini ada satu alasan. Kesuksesan berbuah dan pertumbuhan kita tergantung pada pengenalan akan Tuhan kita. Kita hendaknya bisa memahami bahwa itu bekerja dengan cara yang sama dalam keberadaan manusia. Ketika saya berkembang dalam pengenalanku tentang para temanku, saya menikmati bersama dengan mereka dan lebih ingin menyenangkan mereka. Itulah apa yang terjadi dengan hubungan kita dengan Tuhan. Semakin kita mengenal kasihNya untuk kita semakin kita mencintaiNya sebagai balasan ( 1 Yohanes 4:19). Dan semakin kita mencintai Nya semakin kita ingin menyenangkanNya ( 1 Yohanes 5:3; Yohanes 14:15).

    Ada analogi manusia lain yang akan membantu kita memahami kebenaran ini. Psikolog menunjukkan bahwa kita memperoleh persamaan dengan orang-orang yang kita kenal dengan baik dan dengan orang yang sering bersama kita. Ketika kita meluangkan waktu dengan Tuhan dan bertumbuh dalam pengenalan akan Dia, kita mulai berkembang menjadi seperti Kristus, inilah yang dimaksud Perjanjian Baru dengan buah. Dengan kata lain, kita akan berbuah dan meningkatkan tiap-tiap pekerjaan baik oleh karena pengenalan akan Tuhan. Usaha untuk mengenali Nya lebih baik. Anda akan menikmati itu.

    Penulis Mazmur bernama Asaph melakukannya. Ia sedang dalam keadaan rohani yang buruk. Ia berkata kalau dia hampir tersandung; langkah-langkahnya hampir tergelincir ( Mazmur 73:2). Ia hampir-hampir mengalami suatu kekalahan rohani yang serius, marah kepada Tuhan sebab orang-orang tak beriman sedang melakukan hal yang lebih baik daripada ia. Ia pasti tidaklah bertumbuh sampai, ia berkata, Sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka (ayat 17).

    Sedang berada dalam tempat kudus Tuhan adalah suatu cara Perjanjian Lama menyatakan persahabatan denganNya. Asaph dibawa mengetahui Tuhan kasihNya, kepedulianNya, bimbinganNya, dan pemenuhanNya. Kemudian ia berkata, Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya (ayat 23,26). Pengenalannya akan Tuhannya mengubah hidupnya dan memberi dia suatu sukacita yang bertumbuh didalam berjalan denganNya. Ia bisa katakan, “ Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah (ayat 28). Semakin dekat ia ke Tuhan semakin ia tumbuh dan makin baik ia menikmati pengalaman rohaninya. Itu baik untuk kita juga. Kita akan mengalami kesuksesan dan pertumbuhan baru ketika kita berusaha mengenalNya.

    Kebebasan
    Ada satu lagi berkat pengenalan akan Tuhan yang umum yang ingin saya tunjukan. Itu ditemukan dalam surat Paulus kepada jemaat Galatia. Mereka, jemaat Galatia mempunyai suatu masalah dengan legalism. Hidup Kristen mereka adalah suatu pekerjaan berat: “Aku telah melakukan ini, aku telah melakukan itu, aku tidak bisa pergi di sini, aku tidak bisa katakan itu. Mereka terus hidup dalam ketakutan kalau mereka tidak pernah cukup berbuat untuk menyenangkan Tuhan dan itu menghasilkan rasa bersalah yang berlimpah. Satu-Satunya cara untuk mengganti kerugian rasa bersalah mereka adalah dengan mencoba lebih keras. Mereka mungkin berkata, “aku harus bertabah hati dan memberinya semua yang aku punya. Tetapi aku benar-benar merasa seperti itu. aku ingin Tuhan akan berhenti menggangguku. Bersama dengan ketakutan dan rasa bersalah ada kemarahan terhadap Tuhan untuk tekanan yang mereka sedang merasakan. Satu kata meringkas kehidupan Kristen semacam itu perbudakan!

    Tuhan tidak pernah berniat kita hidup seperti itu. MengenalNya sungguh-sungguh, secara pribadi, dan dengan intim mengeluarkan kita dari perbudakan. Paulus menulis kepada mereka, “Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya? (Galatians 4:9) Mereka mengenali Tuhan dan pengenalan mereka telah membawa mereka keluar dari perbudakan. Tetapi sama menyedihkan seperti semula adalah, mereka telah dengan sengaja menaruh dipunggung mereka beban perbudakan yang dari situ mereka sudah dibebaskan. Mengapa? Apa masalah mereka?

    Berusaha untuk menyenangkan Tuhan tanpa bertumbuh dalam pengenalan akan Dia bisa membuat kita diperbudak. Kita berpikir kita harus berusaha untuk diterima. Maka kita berjuang dan bekerja keras untuk menyenangkanNya, tidak pernah merasa yakin kita sudah berhasil, frustrasi atas tekanan yang kita berpikir dari Dia, namun takut untuk berhenti berusaha. Hidup semacam itu adalah kesengsaraan belaka.

    Ketika kita memahami kasihNya, anugrahNya, pengampunanNya, dan penerimaan tanpa syaratNya didalam Kristus, ketaatan tidak lagi suatu perjuangan atau suatu pekerjaan berat. Itu bebas, alami, dan penuh kegembiraan. Sesungguhnya, itu benar-benar kesenangan. Kita mematuhiNya bukan karena kita berpikir kita harus melakukan itu dalam rangka memperoleh persetujuanNya, tetapi karena ingin seperti itu. Ingin mempertimbangkannya sebagai suatu perlakuan khusus yang menyenangkan. Kita mencintai Satu yang sudah menerima kita, walau kita tak pantas mendapatkannya, dan kita suka menyenangkanNya. Paulus memohon pada jemaat Galatia dan kepada kita, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan ( Galatians 5:1 KJV). Satu-Satunya cara kita dapat melakukan itu adalah dengan berusaha memahamiNya lebih baik.

    Tidak ada akhirnya berkat dari pengenalan akan Tuhan. Seperti kata Petrus, “ Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib ( 2 Petrus 1:3). Segala yang diperlukan untuk meyakinkan kita tentang keabadian didalam hadirat Tuhan ditemukan dalam pengenalan kita akan Dia. Segala yang kita butuhkan untuk membantu kita hidup dalam Tuhan saat ini juga ditemukan dalam pengenalan kita akan dia. Segalanya! Itu berulang terus menunjukan kalau mengenali Tuhan merupakan aspek yang paling utama dari kehidupan kekristenan kita. Apa lagi yang kita tunggu? Marilah kita mulai untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Dia.

    Tindakan Untuk Dilakukan
    Mulai untuk lebih sering memikirkan Tuhan disepanjang hari. Pada setiap situasi baru tanyakan diri anda, “Apa perbedaan yang bisa aku buat jika aku mengenal cara pandang Tuhan atas hal ini? Bagaimana seharusnya aku berespon jika aku benar-benar mengenal Tuhan?.

    Doktrin Sola Scriptura

    Penulis : Yohanes Adrie Hartopo

    PENDAHULUAN
    "Unless I am convinced by Sacred Scriptura or by evident reason, I will not recant. My consience is held captive by the Word of God and to act against conscience is neither right nor safe." Kata-kata ini diucapkan oleh Martin Luther pada 18 April 1521 ketika ia diajukan pada sidang kekaisaran di kota Worms di hadapan kaisar Charles V yang menjadi penguasa Jerman (dan beberapa bagian Eropa lainnya) pada saat itu, serta di hadapan para pemimpin gerejawi. Luther dipanggil ke kota ini dengan tujuan supaya ia menarik kembali perkataan dan pengajarannya. Ia diminta mengaku salah di depan publik untuk apa yang ia tuliskan dan ajarkan tentang Injil, keselamatan melalui iman, dan hakikat gereja. Tetapi ia tidak bersedia melakukannya.1

    Mengapa Luther tidak bersedia? Sebab hati nuraninya dikuasai sepenuhnya oleh firman Tuhan. Ia yakin sepenuhnya bahwa Alkitab dengan jelas mengajarkan kebenaran tentang manusia, jalan keselamatan, dan kehidupan Kristen. Ia melihat bahwa kebenaran-kebenaran yang penting ini sudah dikaburkan dan diselewengkan oleh gereja-gereja pada saat itu, yang seharusnya justru menjadi pembela yang setia. Di mata Luther, dasar penyelewengan gereja pada saat itu adalah pengajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab.2 Ia tidak dapat tahan lagi melihat kerusakan gereja yang telah melawan Alkitab, yang juga sudah mencemari aspek-aspek kehidupan gereja lainnya.

    Di sinilah kita melihat sikap Reformasi terhadap Alkitab. Prinsip penting yang ditegakkan dalam gerakan Reformasi adalah Sola Scriptura (hanya percaya kepada apa yang dikatakan oleh Alkitab yang adalah firman Tuhan, karena hanya Alkitab yang memiliki otoritas tertinggi). Kita mengetahui dua ungkapan yang mewakili gerakan Reformasi yaitu Sola Fide dan Sola Scriptura. Sering dikatakan bahwa Sola Fide adalah prinsip material dari pengajaran Reformasi, sedangkan Sola Scriptura adalah prinsip formalnya.3 Kalau ditelusuri lebih dalam lagi maka jelaslah bahwa prinsip Sola Scriptura ada di balik semua perdebatan mengenai pembenaran melalui iman, karena Luther yakin sekali bahwa ke benaran ini diajarkan di dalam Alkitab.4

    SOLA SCRIPTURA DAN KEWIBAWAAN ALKITAB

    Para Reformator tidak pernah berusaha menegakkan doktrin yang baru atau berminat mendirikan gereja yang lain, yang mereka inginkan ialah mereformasi gereja,5 dalam pengertian mereka ingin menghidupkan kembali kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek gerejawi yang murni berdasarkan Alkitab. John R. de Witt mengatakan, "The Reformation rediscovered and accentuated afresh the authority of the Bible."6 Para Reformator memiliki semangat untuk mengembalikan iman orang Kristen dan kekristenan kepada otoritas Alkitab . John Calvin mengemukakan,

    Biarlah hal ini kemudian menjadi suatu aksioma yang pasti: bahwa tidak ada yang lain yang harus diakui di dalam gereja sebagai firman Allah kecuali apa yang termuat, pertama dalam Torah dan Kitab Nabi- nabi, dan kedua dalam tulisan-tulisan para Rasul; dan bahwa tidak ada metode pengajaran lain di dalam gereja yang berlainan dari apa yang sesuai dengan ketentuan dan aturan dari firman-Nya.7

    Prinsip Sola Scriptura dengan jelas mendobrak tirani dari suatu hierarki gerejawi yang sudah "corrupt" karena gereja menempatkan dirinya lebih tinggi dari firman Tuhan. Padahal, berdasarkan Efesus 2:20 dapat dikatakan bahwa otoritas Alkitab sudah lebih dulu ada sebelum gereja berdiri karena gereja didirikan di atas dasar pengajaran para rasul dan para nabi. Pengajaran para rasul dan nabi adalah pengajaran firman Tuhan, yang jelas bukan hanya lebih tua tetapi juga lebih tinggi dari pengajaran gereja. Alkitab mampu memberikan penilaian atas gereja sekaligus memberikan model bagi gereja yang benar.

    Para Reformator memiliki pendapat yang tegas bahwa wewenang gereja dan para penjabatnya (para Paus, dewan-dewan dan teolog-teolog) berada di bawah Alkitab. Ini tidak berarti mereka tidak memiliki wewenang. Namun, sebagaimana diungkapkan Alister McGrath, wewenang tersebut berasal dari Alkitab dan berada di bawah Alkitab.8 Kewibawaan mereka dilandaskan pada kesetiaan mereka pada firman Allah. Selanjutnya McGrath mengatakan, "Bila orang-orang Katolik menekankan pentingnya kesinambungan historis, para Reformator dengan bobot yang sama menekankan makna penting dari kesinambungan ajaran.9

    Jadi, prinsip Sola Scriptura menolak otoritas tradisi gereja yang disetarakan dengan otoritas Alkitab. Sebuah catatan perlu diberikan di sini guna menghindari kesalahpahaman yang sudah cukup umum. Banyak orang berpikir bahwa para Reformator percaya kepada otoritas Alkitab yang tanpa salah, sedangkan gereja Roma Katolik percaya hanya kepada otoritas gereja dan tradisinya yang tanpa salah. Ini suatu kekeliruan. Pada masa Reformasi, kedua pihak sama-sama mengakui otoritas Alkitab.10 Contohnya, bagi sebagian besar teolog abad pertengahan, Alkitab merupakan sumber yang mencukupi untuk ajaran Kristen.Gereja Roma Katolik mengajarkan ada dua sumber wahyu khusus, yaitu Alkitab dan tradisi. Tradisi di sini dimengerti sebagai satu sumber yang berbeda, di samping Alkitab. Alkitab tidak berkata apa-apa mengenai sejumlah pokok masalah atau doktrin, dan Allah telah menetapkan suatu sumber wahyu kedua untuk melengkapi kekurangan ini. Ini adalah suatu tradisi yang tidak tertulis. Jikalau ditelusuri lebih mendalam, tradisi yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya di dalam gereja, itu dianggap berasal dari para rasul. Jadi tradisi yang dimaksud di sini adalah "a separate, unwritten source handed down by apostolic succession."13 Dengan demikian, suatu kepercayaan ya ng tidak ditemukan dalam Alkitab, dapat dibenarkan dengan mengacu pada tradisi yang tidak tertulis tersebut.

    Gereja Roma Katolik memberikan otoritas kepada tradisi ini, karena itu mereka tidak mengizinkan siapapun menafsir Alkitab dengan cara yang bertentangan dengan tradisi tersebut. Jelas mereka meninggikan tradisi melebihi Alkitab, bahkan menganggap bahwa Alkitab hanya bisa ditafsirkan dan diajarkan dengan perantaraan Paus atau konsili gerejawi. Para Reformator dengan tegas melawan konsep ini. Dalam perdebatan dengan teolog-teolog Roma Katolik, Luther dengan berani menegaskan bahwa adalah mungkin bagi Paus dan konsili gerejawi untuk melakukan kesalahan.

    Prinsip Sola Scriptura juga tidak dapat dilepaskan dari masalah kanon Alkitab. Istilah "kanon" (aturan, norma) digunakan untuk merujuk pada kitab-kitab yang oleh gereja dianggap otentik. Bagi teolog-teolog abad pertengahan dan gereja Roma Katolik, yang dimaksud dengan Alkitab ialah karya-karya yang tercakup dalam Vulgata. Di dalamnya terdapat tambahan kitab-kitab yang sering disebut kitab-kitab Apokrifa, yang tidak terdapat dalam PL bahasa Ibrani. Para Reformator tidak setuju dengan adanya tambahan tersebut, dan mereka merasa berwenang untuk mempersoalkan penilaian ini. Menurut mereka, tulisan-tulisan PL yang dapat diakui untuk masuk ke dalam kanon Alkitab hanyalah yang asli terdapat di dalam Alkitab Ibrani.14Mengapa para Reformator sangat menjunjung tinggi otoritas Alkitab? Jawabannya sederhana sekali: karena Alkitab adalah firman Tuhan, maka Alkitab dengan sendirinya memiliki kewibawaan atau otoritas. Luther berkata, "The Scriptures, although they also were written by men, are not of men nor from men, but from God."17 Sedangkan menurut Calvin,

    The Scriptures are the only records in which God has been pleased to consign his truth to perpetual rememberance, the full authority which they ought to possess with faithful is not recognized, unless they are believed to have come from heaven, as directly as if God had been heard giving utterance to them.18

    Jadi ada konsensus bahwa Alkitab harus diterima seakan-akan Allah sendirilah yang sedang berbicara.

    Otoritas Alkitab berakar dan berdasarkan pada fakta bahwa Alkitab diberikan melalui inspirasi Allah sendiri (2Tim. 3:16). Inspirasi adalah cara di mana Allah memampukan penulis-penulis manusia dari Alkitab untuk menulis semua perkataan di bawah pengawasan Allah sendiri. Kepribadian dan kemanusiawian para penulis Alkitab diakui aktif dalam proses di mana Roh Allah memimpin mereka dalam proses inspirasi tersebut. Karena itu apa yang ditulis bukan semata-mata tulisan mereka sendiri tetapi firman Allah yang sejati. Calvin memberi komentar mengenai 2Timotius 3:16,

    This is the principles that distinguishes our religion from all others, that we know that God hath spoken to us and are fully convinced that the prophets did not speak of themselves, but as organs of the Holy Spirit uttered only that which they had been commissioned from heaven to declare. All those who wish to profit from the Scriptures must first accept this as a settled principle, that the Law and the prophets are not teachings handed on at the pleasure of men, or produced by men�s minds as their source, but are dictated by the Holly Spirit.Bagaimana sebenarnya cara atau metode mengenai inspirasi ilahi ini tidak dipaparkan secara jelas dalam Alkitab.20 Butir yang lebih krusial adalah fakta bahwa "the Scriptures are the direct result of the breathing out of God."21 B.B. Warfi104 memberikan komentar yang sangat baik mengenai kata Yunani theopneustos:

    The Greek term has...nothing to say inspiring or of inspiration: it speaks only of a "spiring" or "spiration." What it says of Scripture is, not that it is "breathed into by God" or that it is the product of the Divine "inbreathing" into its human authors, but that it is breathed out by God...when Paul declares, then, that "every scripture," or "all scripture" is the product of the Divine breath, "is God-breathed," he asserts with as much energy as he could employ that Scripture is the product of a specifically Divine operation.22

    Ini berarti semua yang ditulis para penulis Alkitab itu berasal dari Allah. Jadi, Alkitab berotoritas adalah karena kenyataan dirinya sebagai penyataan ilahi yang diberikan melalui inspirasi ilahi.

    Pertanyaan penting berkaitan dengan otoritas Alkitab ialah: Berdasarkan apa kita menerima otoritas Alkitab tersebut? Bagaimana kita tahu dan yakin bahwa yang kita tegaskan tentang otoritas Alkitab itu benar adanya? Apakah melalui gereja kita mengerti dan diyakinkan akan otoritas Alkitab sebagai firman Allah (pandangan gereja Roma Katolik yang tradisional)? Di dalam sejarah gereja kita melihat ada banyak orang berusaha memberikan argumen-argumen yang rasional guna mendukung klaim bahwa Alkitab adalah firman Tuhan. Tetapi kita pun tahu bahwa sering argumen-argumen itu, meskipun perlu dan penting, tidak sepenuhnya "convincing."

    Di sini kita melihat satu pokok pikiran Calvin yang sangat penting berkaitan dengan masalah ini. Ia dengan tidak henti-hentinya menegaskan bahwa dasar satu-satunya yang meyakinkan mengapa kita percaya otoritas Alkitab adalah kesaksian Roh Kudus sendiri. Kita percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah karena kesaksian Roh Kudus. Ia mengatakan:

    The testimony of the Spirit is more excellent than all reason. For as God alone is a fit witness of himself in his Word, so also the Word will not find acceptance in men�s hearts before it is sealed by the inward testimony of the Spirit. The same Spirit, therefore, who has spoken through the mouths of the prophets must penetrate into our hearts to persuade us that they faithfully proclaimed what had been divinely commanded.23

    Jadi, otoritas Alkitab tidak tergantung pada bukti-bukti kehebatan dan kesempurnaannya, tetapi oleh karena iman yang Roh Kudus sudah kerjakan dalam hidup orang-orang percaya sehingga mereka mempercayai kebenaran Alkitab dan menaklukkan diri di bawah otoritas tersebut. James M. Boice mengutarakan bahwa kesaksian Roh Kudus ini adalah "the subjective or internal counterpart of the objective or external revelation."24

    Apa yang Calvin ajarkan di sini sesuai dengan perkataan Paulus di 1Korintus 2:13-14. Jadi, jelas sekali bahwa terlepas dari karya Roh Kudus seseorang tidak akan menerima kebenaran-kebenaran rohani dan secara khusus tidak akan menerima kebenaran bahwa perkataan-perkataan Alkitab adalah firman Allah. Calvin juga mengatakan, "But it is foolish to attempt to prove to infidels that the Scripture is the Word of God. This it cannot be known to be, except by faith."25

    Keyakinan yang datangnya dari kesaksian Roh Kudus adalah keyakinan yang muncul ketika kita membaca firman Tuhan dan mendengar suara Tuhan berbicara melalui perkataan-perkataan Alkitab tersebut serta menyadari bahwa ini bukanlah kitab biasa. Roh Kudus berbicara di dalam (in) dan melalui (through) perkataan-perkataan Alkitab dalam memberikan keyakinan ini.26 Tepatlah apa yang dikatakan oleh seorang pastor, "If you have the Bible without the Spirit, you will dry up. If you have the Spirit without the Bible, you will blow up. But if you have both the Bible and the Spirit together, you will grow up."

    Setelah zaman Reformasi, pandangan ortodoks mengenai Alkitab mendapat serangan demi serangan. Gereja Roma Katolik bahkan secara resmi pada tahun 1546 (konsili Trent) menempatkan tradisi gereja berdampingan dan setara dengan Alkitab sebagai sumber penyataan. Serangan lain datang dari golongan rasionalis pada abad 18 dan 19. Alkitab bukanlah "God word to man" tetapi "man�s word about God and man." Alkitab hanya berisi kesaksian atau catatan manusia tentang karya penyataan dan keselamatan Allah dalam sejarah. Sifat ilahi yang unik dari Alkitab ditolak, sehingga otoritasnya pun ditolak. Otoritas tertinggi ialah rasio manusia. Rasio menusia memiliki kebebasan mutlak yang harus terlepas dari klaim-klaim teologis.27 Bagaimana dengan sikap gereja-gereja Tuhan terhadap Alkitab? Sola Scriptura adalah doktrin yang menegaskan bahwa Alkitab, dan hanya Alkitab, yang memiliki kata akhir untuk semua pengajaran dan kehidupan kita. Seluruh aspek pemikiran dan kehidupan kita harus tunduk pada firman Allah. Benarkah demikian? David Well, dalam bukunya, No Place for Truth,28 memberikan kritik tajam kepada golongan injili yang sudah jatuh ke dalam berbagai pencobaan zaman modern, sehingga akhirnya kebenaran Allah sudah tidak lagi mengatur gereja-gereja.

    Hal-hal apa sajakah yang menjadi mentalitas zaman ini? Menurut Well ada beberapa, yakni:


    Akibatnya, masih menurut Wells, Allah tidak lagi menjadi sesuatu yang penting dalam hidup manusia. Kebenaran tidak lagi menguasai gereja. Teologi tidak memberikan daya tarik. Khotbah-khotbah hanya berpusatkan pada "felt needs." Teori-teori marketing dan manajemen dalam pertumbuhan gereja menggantikan prinsip-prinsip Alkitab. Hal ini perlu menjadi pemikiran serius bagi gereja-gereja Tuhan.

    Bagaimana sikap para hamba Tuhan terhadap Alkitab? Panggilan hamba Tuhan ialah panggilan untuk mempelajari dan menguraikan firman Tuhan (bdk. Kis 20:27, dimana Paulus mengajarkan "the whole counsel of God" selama pelayanannya di Efesus). Menurut de Witt, salah satu ciri khas teologi Reformed ialah pandangan mengenai berkhotbah (preaching) yang distingtif. Ia menulis, "It is by preaching that God confronts people and draws them to himself, conforming them to the pattern of his Son; indeed, it is by preaching that Jesus addresses himself to the hearts and consciences of men (Rom. 10:14)."29 Berdasarkan apa yang dinyatakan di dalam Alkitab, preaching adalah eksposisi dan apli kasi firman Tuhan. Tugas ini dipercayakan kepada para hamba Tuhan (bdk. Kis. 6:1 dst.). John Stott dengan keras berkata, "Sehat tidaknya keadaan jemaat-jemaat kita lebih banyak tergantung pada mutu pelayanan pemberitaan firman Tuhan daripada hal-hal lainnya...apa yang terjadi di bangku jemaat memancarkan apa yang terjadi di mimbar."30 Apakah tugas ini sudah kita jalankan dengan penuh kesungguhan dan keseriusan karena kita memberitakan firman yang memiliki otoritas dari Allah?

    SOLA SCRIPTURA DAN PENAFSIRAN ALKITAB

    Elemen baru di dalam pengajaran Sola Scriptura dari para Reformator sebenarnya bukanlah permasalahan otoritas Alkitab, karena gereja Roma Katolik juga berpegang pada hal itu. Elemen yang baru berkaitan dengan masalah penafsiran Alkitab. Bukanlah hal yang berlebihan kalau dikatakan bahwa Reformasi pada abad 16 tersebut pada dasarnya adalah suatu revolusi hermeneutik.31 Gerakan Reformasi menolak penafsiran otoritatif terhadap Alkitab, khususnya dari gereja Roma Katolik yang menekankan bahwa Paus atau konsili gerejawilah yang memiliki otoritas untuk menafsirkan Alkitab. Sampai zaman Reformasi Alkitab masih dianggap oleh kebanyakan orang sebagai kitab yang "obscure." Orang awa n biasa tidak dapat diharapkan untuk mengertinya, sehingga mereka tidak didorong untuk membacanya. Bahkan Alkitab tidak tersedia dalam bahasa yang mereka mengerti. Mereka jelas bergantung sepenuhnya pada penafsiran gereja yang bersifat otoritatif. Pengajaran Alkitab dikomunikasikan kepada orang-orang Kristen hanya melalui perantaraan Paul, konsili, atau pastor.

    Para Reformator sangat menekankan prinsip "private interpretation," yakni hak untuk menafsirkan Alkitab secara pribadi. Dengan demikian setiap orang Kristen memiliki hak untuk membaca dan menafsirkan Alkitab untuk dirinya sendiri.32 Tetapi ini bukan berarti kepada setiap individu diberikan hak untuk menyelewengkan atau mendistorsi Alkitab. Ini adalah prinsip yang berasumsi bahwa Allah yang hidup berbicara kepada umat-Nya secara langsung dan otoritatif melalui Alkitab. Karena itu orang Kristen harus didorong untuk membaca Alkitab. Alkitab harus diterjemahkan kedalam bahasa umum. Luther, contohnya, sangat menekankan hal ini, sehingga ia menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman.

    Para tokoh Reformator sendiri tampaknya menekankan pengertian mereka terhadap Alkitab dengan tidak mempedulikan apa124105ngajaran mereka bertentangan dengan keputusan-keputusan konsili atau penafsir-penafsir gerejawi lainnya. Bagi mereka gereja bukanlah penentu arti Alkitab, justru Alkitablah yang harus mengoreksi dan menghakimi gereja. Tetapi pertanyaannya: apakah memang tidak ada peranan pengajaran (tradisi) gereja sama sekali dalam hal ini? Reformasi sering kali dilihat mempunyai ciri khas yaitu suatu "massive break" dengan tradisi gereja. Yang benar adalah, para Reformator menentang otoritas tradisi dan otoritas gereja, hanya sejauh otoritas tersebut mengungguli otoritas Alkitab.33Para Reformator tidak pernah menolak tradisi eksegetis dan teologis dari gereja yang didasarkan dan tunduk pada kebenaran Alkitab. Mereka menghormati tradisi, khususnya yang diajarkan oleh bapa-bapa gereja (terutama Agustinus). Luther berkata, "The teachings of the Fathers are useful only to lead us to the Scriptures as they were led, and then we must hold to the Scriptures alone."34 Calvin, sebagai contoh, menulis edisi Institutes pertama pada tahun 1536 ketika ia masih berusia dua puluhan. Buku ini mengalami revisi beberapa kali, dan edisi akhir adalah tahun 1559. Selama masa dua dekade tersebut ia berkecimpung dan sibuk memberikan eksposisi Alkitab dan berkhotbah. Dalam hal ini ia berinteraksi banyak dengan penafsiran penafsir-penafsir sebelumnya. T. H. L. Parker berkata tentang Calvin:

    As his understanding of the Bible broadened and deepened, so the subject matter of the bible demanded ever new understanding in its interrelation within itself, in its relations with secular philosophy, in its interpretation by previous commentators.35

    Maka jelaslah, seperti yang Silva katakan, "the reformation marked a break with the abuse of tradition but not with the tradition itself."36 Kritik yang diberikan adalah terhadap ajaran dan praktek yang sudah menyeleweng dari, atau bertentangan dengan, Alkitab. Para Reformator masih mempertahankan ajaran-ajaran gereja yang paling tradisional (seperti keilahian Kristus, Trinitas, baptisan anak, dan sebagainya) karena ajaran-ajaran tersebut sesuai dengan Alkitab. Mereka menghargai tulisan-tulisan bapa-bapa gereja yang adalah pembela-pembela kebenaran Alkitab.

    Hak "private interpretation" haruslah disertai dengan tanggung jawab untuk memakai dan menafsirkan Alkitab dengan hati-hati dan akurat. Karena itu dalam hal ini kebutuhan akan penafsir dan guru sangat diperlukan. Memang Alkitab dapat dibaca dan dimengerti oleh orang-orang percaya (doktrin the clarity or perspicuity of Scripture), tetapi masih ada hal-hal tertentu yang masih belum jelas dan sulit bagi banyak orang yang sudah tentu membutuhkan suatu penyelidikan dan penelitian akademik. Ketidakjelasan atau kekaburan tersebut lebih banyak disebabkan oleh ketidaktahuan akan bahasa, tata bahasa, dan budaya dari penulis Alkitab, daripada dikarenakan isi pengajaran atau subject-matter-nya. Oleh sebab itu, "biblical scholarship" sangat penting dan diperlukan.

    Kontribusi penting dari para Reformator terhadap penafsiran Alkitab ialah penegasan mereka mengenai "plain meaning" (arti yang alamiah atau wajar) dari Alkitab. Secara khusus kepedulian mereka adalah menyelamatkan Alkitab dari penafsiran alegoris yang masih terus ada saat itu.37 Luther mengungkapkan, "The Holy Spirit is the plainest writer and speaker in heaven and earth and therefore His words cannot have more than one, and that the very simplest sense, which we call the literal, ordinary, natural sense." Apa yang ditekankan di sini bukanlah penafsiran harafiah yang kaku. Prinsip ini menegaskan bahwa "the Bible must be interpreted according to the manner in which it is written."39 Arti yang "plain" dari Alkitab adalah arti yang dimaksudkan oleh penulis manusia, dan hal itu hanya dapat dimengerti melalui analisa konteks sastra dan sejarah. Jadi jelaslah ada aturan- aturan dalam penafsiran yang harus diikuti untuk menghindari penafsiran yang subjektif dan aneh-aneh. Pengaruh dari semangat Renaissance dalam hal ini tidak bisa dipungkiri. Kita melihat adanya suatu ketertarikan baru terhadap sifat historis dari tulisan-tulisan kuno, di mana Alkitab termasuk di dalamnya.40

    Ada yang mengatakan, "It is almost a truism to say that modern historical study of the Bible could not have come into existence without the Reformation."41 Prinsip Reformasi ini terkait erat dengan apa yang kita sebut metode penafsiran "Grammatical-Historical," yang berfokus pada "historical setting" dan "grammatical structure" dari bagian-bagian Alkitab. Dalam hal ini para Reformator berfokus pada sifat manusiawi dari Alkitab itu sendiri. Ekses negatif dari pendekatan ini adalah pendapat yang mengatakan bahwa Alkitab harus dimengerti dan ditafsirkan seperti buku biasa lainnya. Inilah yang membuka jalan untuk pendekatan "Historical-Critical" yang berkembang pada abad 18-19 . Bedanya dengan pendekatan Reformasi adalah, iman atau komitmen teologi tidak diperbolehkan mempengaruhi penafsiran.42 Mereka berusaha untuk netral, tetapi sebenarnya tidak dapat netral karena mereka sudah berpegang pada "teologi" (iman) mereka sendiri yaitu teologi yang tidak percaya adanya intervensi Allah dalam dunia ini. Sumbangsih gerakan Reformasi dalam hal penafsiran Alkitab sangat penting, di mana prasuposisi iman tidak mungkin dilepaskan dari penafsiran Alkitab.

    Pemikiran Reformasi mengenai penafsiran Alkitab juga menolong kita untuk berhati-hati di dalam merespons segala bentuk pendekatan atau metode penafsiran posmodernisme, yang secara khusus memberikan penekanan pada respons dari pembaca masa kini (reader-response approach). Pendekatan ini beranggapan bahwa tidak ada "meaning" yang pasti dan benar, yang ada hanyalah "meanings" yang muncul atau dihasilkan dari pembaca sendiri. Bahaya subjektivisme dan relativisme sangat terlihat di sini. Memang betul penafsiran Alkitab tidak hanya berhenti pada interpretasi, tetapi aplikasi. Kendati demikian ini bukan berarti aplikasi yang tidak terkontrol dan sembarangan di mana seolah-olah pembacanya yang menentukan arti dan aplikasinya.43 Gerakan Reformasi juga menetapkan suatu prinsip penting dalam penafsiran yaitu "Scripture is to interpret itself" (Sacra Scriptura sui interpres). Kita menafsirkan Alkitab dengan Alkitab. Oleh sebab itu, kita tidak mempertentangkan satu bagian Alkitab dengan bagian lainnya. Apa yang tidak jelas di suatu bagian mungkin dapat dijelaskan oleh bagian lain. Di balik prinsip ini ada sebuah keyakinan bahwa jikalau Alkitab ialah firman Allah maka ia bersifat koheren dan konsisten pada dirinya sendiri. Allah tidak mungkin berkontradiksi dengan diri-Nya sendiri. Memang benar Alkitab dituliskan oleh orang-orang yang berbeda, yang hidup pada zaman yang berbeda pula. Tetapi kita juga menyadari bahwa Allah adalah Penulis aslinya, sehingga jelas ada kesatuan dan koherensi. Ini tidak sama artinya dengan uniformitas (keseragaman). Para penulis manusi a menunjukan tulisan mereka pada situasi yang nyata, tetapi Allah dalam kedaulatan-Nya menuntun mereka dan situasi mereka, bahkan secara langsung mempengaruhi dan mengajar mereka (bdk. 2Ptr. 1:21), sehingga kita melihat kesatuan pikiran di balik semua itu. Untuk mengetahui maksud Allah tidak mungkin kita memperhatikan "bits" dan "pieces" saja. Kita harus melihat Alkitab secara keseluruhan, sama seperti ketika kita bermaksud mengetahui maksud penulis manusia, yaitu dengan membaca hasil akhir karyanya.

    Jelaskan bahwa Alkitab menyajikan tujuan ilahi. Concern Alkitab adalah memberitahukan kepada kita suatu "story," yaitu cerita mengenai karya penebusan Allah bagi umat-Nya melalui Yesus Kristus. Alkitab menyajikan kepada kita "Redemptive History." Oleh sebab itu ayat-ayat dalam Alkitab tidak pernah dapat ditafsirkan lepas dari konteks kesatuan keseluruhan Alkitab. Setiap bagian Alkitab berkaitan erat dan tidak boleh ditafsirkan di luar konteks rencana dan aktivitas Allah yang bersifat "redemptive-historical" dan "covenantal" (relasi antara Allah dan umat-Nya).

    PENUTUP

    Apakah doktrin Sola Scriptura masih relevan untuk dipertahankan? Melihat situasi yang kita hadapi saat ini maka penegasan doktrin yang mendasar ini masih sangat penting. Kita sekarang hidup pada zaman yang sering kali disebut sebagai zaman pascamodernisme. Apa yang menjadi mentalitas zaman ini? William Edgar mengemukakan, "at the heart of the postmodern mentalily is a culture of extreme skepticism... According to many postmodernists, knowledge is no longer objective-nor even useful-and ethics is not universal."

    Daftar Catatan Kaki

    Sumber: Majalah Veritas (Vol. 3, Nomor 1 - April 2002)

    Doktrin-doktrin Esensial Kekristenan

    Alkitab sendiri telah mengungkapkan doktrin-doktrin yang esensial dari iman Kekristenan. Doktrin-doktrin itu adalah:


    Inilah doktrin-doktrin yang dikatakan Alkitab sebagai yang penting. Meskipun masih ada banyak doktrin lain yang juga penting, hanya keempat ini yang dikemukakan oleh Alkitab sebagai yang esensial. Seorang yang tidak lahir baru, atau penganut kultus (mis., Mormon atau Saksi Yehovah), akan menolak satu atau lebih doktrin esensial ini. Mohon diperhatikan bahwa ada doktrin-doktrin turunan dari Alkitab yang juga penting, misalnya tentang Trinitas.

    Ke-Tuhan-an Kristus

    Yesus adalah Allah dalam daging manusia (Yohanes 8:58 dan Keluaran 3:14). Lihat juga Yohanes 1:1,14; 10:30-33; 20:28; Kolose 2:9; Filipi 2:5-8; Ibrani 1:8
    1 Yohanes 4:2-3: "Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia."

    Ayat di atas perlu di referensi silangkan dengan Yohanes 1:1,14 (yang juga ditulis oleh Yohanes) dimana ia menulis bahwa Firman itu adalah Allah dan Firman itu telah menjadi manusia.
    1 Yohanes 4:2-3 mengatakan bahwa jika kamu menolak bahwa Yesus adalah Allah dalam daging manusia berarti anda berasal dari roh antikristus.

    Yohanes 8:24, "Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam
    dosamu."

    Yesus mengatakan di sini bahwa jika anda tidak percaya bahwa "Akulah Dia" anda akan mati dalam dosa-dosamu. Dalam bahasa Yunaninya frasa ini adalah "ego eimi," yang berarti "Aku adalah Aku." Kata-kata yang sama dengan yang dipakai dalam Yohanes 8:58 ketika Yesus berkata"...sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Ia mengklaim gelar Ketuhanan dengan mengutip Keluaran 3:14 dalam Septuaginta Yunani. (Septuaginta adalah Perjanjian Lama yang diterjemahkan dalam Bahasa Yunani.)

    Yesus adalah objek yang benar bagi iman.

    Tidak cukup hanya mempunyai iman. Iman itu valid atau tidaknya tergantung objek imannya. Anda harus memiliki objek iman yang benar. Kultus-kultus memiliki objek yang keliru untuk iman mereka; karenanya, iman mereka sia-sia--tidak peduli setulus apa pun iman mereka.
    Jika anda menjadikan sebuah penyedot debu sebagai objek iman anda, maka anda akan mempunyai masalah ketika hari penghakiman tiba. Anda mungkin punya iman yang luar biasa, lalu? Imanmu itu terhadap sesuatu yang tidak dapat menyelamatkan anda.

    Doktrin Ketuhanan Kristus meliputi:

    Kecukupan pengorbanan Kristus - Pengorbanan Kristus memadai untuk membayar dosa dunia. Sebagai Allah - Yesus haruslah Allah untuk dapat memberikan pengorbanan yang nilainya melebihi manusia.
    Ia harus mati bagi dosa dunia (1 Yohanes 2:2). Hanya Allah yang sanggup melakukannya.
    Sebagai manusia - Yesus haruslah seorang manusia untuk dapat berkorban bagi manusia.
    Sebagai manusia Ia dapat menjadi pengantara antara kita dan Allah (1 Timotius 2:5).

    Keselamatan Oleh Anugrah

    "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,-- itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri" (Efesus 2:8-9).
    "Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia." (Galatia 5:4).
    Ayat ini terang-terangan mengajarkan bahwa jika anda percaya bahwa anda diselamatkan oleh karena iman dan usaha-usaha anda maka anda sama sekali tidak diselamatkan. Inilah kekeliruan yang umum diterima oleh kultus. Karena mereka memiliki Yesus yang palsu, mereka jadi memiliki doktrin keselamatan yang palsu. (Bacalah Roma 3-5 dan Galatia 3-5).

    Anda tidak dapat menambah-nambahi pekerjaan Allah.
    Galatia 2:21 mengatakan, "Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus."
    "Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan dihadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa." (Roma 3:20).
    "Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran." (Roma 4:5).

    "Kalau demikian, bertentangankah hukum Taurat dengan janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat." (Galatia 3:21).

    Kebangkitan Kristus.

    "Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu." (1 Korintus 15:14). "Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu." (1 Korintus 15:17).

    Menolak kebangkitan fisik dari Kristus berarti menolak karya-Nya, pengorbanan-Nya, dan kebangkitan kita sendiri.
    Ayat-ayat di atas dengan terang-terangan menyatakan bahwa jika anda mengatakan bahwa Yesus tidak bangkit dari kematian (dalam tubuh yang sama dengan tubuh kematian-Nya -- Yohanes 2:19-21), maka sia-sialah iman anda.

    Injil

    "Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia." (Galatia 1:8-9).

    Ayat 8 dan 9 di Galatia ini menyatakan bahwa anda harus percaya kepada injil. Pesan injil yang keseluruhannya adalah Yesus adalah Allah dalam daging manusia, yang mati bagi dosa-dosa kita, bangkit dari kematian, dan secara bebas memberikan anugrah hidup abadi kepada siapa saja yang percaya.

    Lebih jauh lagi, tidak mungkin untuk mempresentasikan injil secara benar tanpa mendeklarasikan bahwa Yesus adalah Allah dalam daging manusia seperti yang
    tertulis pada Yohanes 1:1,14 ; 10:30-33; 20:28; Kolose 2:9; Filipi 2:5-8; Ibrani 1:8.

    1 Korintus 15:1-4 mendefinisikan injil sebagai: "Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamukecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;".

    Dalam ayat-ayat di atas yang esensial adalah: Kristus adalah Allah dalam daging manusia (Yohanes 1:1,14; 10:30-33; 20:28; Kolose 2:9); Keselamatan itu diterima melalui iman (Yohanes 1:12; Roma 10:9-10), karenanya, keselamatan adalah anugrah; dan kebangkitan disinggung dalam ayat 4. Karenanya, pesan injil ini memasukkan juga unsur esensial.

    Domba-dombaku Mendengarkan Suaraku

    Penulis : Sunanto Choa

    Yoh 10:27 "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku "

    Pada satu hari yang cerah di padang rumput Israel yang subur itu berkumpulah tiga orang gembala yang sedang menggembalakan domba-domba mereka. Para gembala tersebut asyik bercengkrama tanpa peduli domba-domba yang mereka gembalakan berbaur menjadi satu. Karena sudah berbaur satu dengan yang lainnya maka domba-domba tersebut sulit dikenali lagi mana kepunyaan masing-masing gembala. Matahari mulai terbenam dan sudah waktunya bagi para gembala membawa kembali domba-domba tersebut. Lalu ketiga gembala tersebut berjalan ke tempat yang terpisah sambil bernyanyi. Aneh bin ajaib, domba-domba yang sebelumnya menyatu terpisah menjadi tiga bagian kelompok menurut kepunyaan masing-masing gembala. Domba memang binatang yang bodoh dan mudah tersesat tetapi mereka mempunyai sebuah kelebihan yaitu mampu mengenali suara dari gembalanya.

    Salah satu pertanyaan yang paling banyak ditanyakan kepada saya adalah bagaimana caranya untuk bisa mendengar suara atau mengetahui kehendak Tuhan? Sepertinya Tuhan memang telah menaruh sebuah hasrat dalam diri manusia untuk ingin bisa mengetahui kehendak Allah. Di dalam diri kita terdapat sebuah hasrat untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Mengetahui bahwa manusia mempunyai hasrat untuk mengetahui mana yang benar dan yang salah maka iblis menipu Adam dan Hawa untuk memakan buah terlarang agar bisa mengetahui mana yang benar dan yang salah dengan jalan pintas. Dari sejak semula Allah memang ingin manusia bisa menjadi sepertiNya dan dewasa sehingga bisa mengetahui mana yang baik dan yang jahat. Allah ingin manusia menjadi dewasa melalui sebuah proses bukan jalan pintas. Tetapi iblis menipu manusia dengan mengatakan bahwa Allah itu jahat dan tidak ingin manusia menjadi sepertiNya sehingga bisa mengetahui perbedaan antara yang baik dan yang jahat. Iblis menipu manusia untuk mengambil jalan pintas untuk menjadi serupa dengan Allah dengan memakan buah terlarang. Sampai hari ini, iblis masih berusaha menipu banyak orang dengan mengatakan Allah itu jahat dan mendorong manusia untuk mengambil jalan pintas untuk menjadi serupa dengan Allah. Bila Tuhan tidak ingin manusia menjadi serupa denganNya, mengapa Ia menciptakan kita menurut gambar dan rupaNya ?

    Semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah ( Rm 8:14 ). Dalam terjemahan bahasa inggris kata anak disini dituliskan dengan kata "son" (bukan child) yang berarti anak yang sudah dewasa. Dalam bahasa aslinya kata anak ini dituliskan dengan kata "huios" yang berarti anak yang sudah dewasa (sekitar 30 thn). Biasanya domba-domba dewasalah yang mampu mengenali suara dari gembalanya dengan baik sedangkan domba-domba yang belum dewasa kurang mampu mengenali suara gembalanya dengan baik. Anak-anak domba yang masih muda mengikuti domba yang telah dewasa untuk bisa mengenali suara gembala mereka. Ketika gembala memanggil maka domba-domba yang dewasa akan mengenali suara tersebut, lalu domba-domba yang lebih muda akan mengikuti mereka.

    Tidak ada jalan pintas untuk mampu mendengar suara atau mengetahui kehendak Tuhan dengan baik. Dibutuhkan sebuah kedewasaan/kematangan rohani untuk memiliki hikmat ilahi yang dapat membedakan sesuatu itu kehendak Allah atau bukan. Bergaulah dengan Allah dan berkomunikasilah denganNya setiap hari lewat doa Pelajari dengan baik Firman Allah sehingga kerohanian kita bisa bertumbuh menuju kedewasaan. Semakin kita dewasa rohani maka kita akan semakin mengenal suaraNya dengan baik. Bersekutulah dengan sesama saudara seiman sebab tanpa persekutuan dengan sesama saudara seiman, kita tidak bisa bertumbuh dengan baik. Domba akan mudah tersesat dan dimangsa serigala jika ia sendirian.

    Sepasang suami-isteri yang telah menikah lama bisa saling memahami keinginan masing-masing hanya lewat pandangan mata saja. Seorang sahabat saya yang telah menikah belasan tahun bisa memahami keinginan istrinya hanya lewat pandangan mata dan mimik wajah istrinya. Bagaimana ini bisa terjadi ? itu sebuah misteri, saya juga tidak bisa menjelaskannya. Tetapi ini bisa menggambarkan bahwa jika kita hidup intim dan bergaul dengan Allah maka kita bisa memahami keinginan Allah tanpa perlu banyak bertanya-tanya. Semoga tulisan ini bisa membantu anda yang sedang bergumul untuk mengetahui kehendak Allah.

    Dosa Warisan

    Penulis : Djopan

    Adakah diantara rekan-rekan yang tahu, siapa yang memperkenalkan istilah "dosa warisan" dan sejak kapan istilah "dosa warisan" digunakan secara umum sebagai kosa kata Teologi Kristen?

    Yohannes: Belum diketahui "siapa" dan "kapan" istilah itu digunakan. Dosa warisan atau dosa asal biasanya menerjemahkan kata Inggris ´original sin´, asal-muasal dosa. Sebagian rabi Yahudi berpendapat bahwa dosa asal itu merupakan pembawaan manusia sejak lahir karena ia diberikan kebebasan (´free will´).

    * Kejadian 8:21, "Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: ´Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.´" - "VAYARAKH YEHOVAH ´ET-REYAKH HANIKHOAKH VAYO´MER YEHOVAH ´EL-LIBO LO´-´OSIF LEQALEL ´OD ´ET-HA´ADAMAH BA´AVUR HA´ADAM KI YETSER LEV HA´ADAM RA´ MINE´URAV VELO´-´OSIF ´OD LEHAKOT ´ET-KOL-KHAY KA´ASYER ´ASITI"

    "KI YETSER LEV HA´ADAM RA´ MINE´URAV", harfiah "karena -- bayangan -- hati -- manusia itu -- jahat -- dari kecil". Ungkapan inilah yang merupakan dasar bagi sebagian rabi tadi bahwa manusia punya kecenderungan berbuat dosa sejak kecil (bandingkan juga dengan Kejadian 6:5), dan tentu saja kecenderungan berbuat dosa itu memiliki asal-usul, yaitu dari kejatuhan Adam.

    Sebagian lagi berpendapat bahwa tidak ada dosa asal, dengan berdasarkan ayat di bawah ini:

    Yehezkiel 18:4, "Sungguh, semua jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya! Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati." - "HEN KOL-HANEFASYOT LI HENAH KENEFESY HA´AV UKHENEFESY HABEN LI-HENAH HANEFESY HAKHOTE´T HI´ TAMUT"

    * Yehezkiel 18:20, "Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya." - "HANEFESY HAKHOTE´T HI´ TAMUT BEN LO´-YISA´ BA´AVON HA´AV VE´AV LO´ YISA´ BA´AVON HABEN TSIDQAT HATSADIQ ´ALAV TIHYEH VERISY´AT RASYA´ ´ALAV TIHYEH"

    Yehezkiel 18:20 sebenarnya tidak berbicara tentang "dosa asal" (Ibrani: KHATA´) tetapi pembalasan yang adil karena "kesalahan" (Ibrani: ´AVON), bahwa tiap-tiap orang bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya sendiri. Seseorang tidak hanya terlepas dari "dosa" ayahnya, ia bisa terlepas dari masa lalu jika ia menginginkan hal itu. Ia dapat seketika itu bertobat.

    * Yehezkiel 18:21-22, "Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya."

    Sebagian orang menyangka bahwa konsep "dosa asal" adalah ajaran Paulus, padahal sebenarnya konsep ini sudah ada di dalam Perjanjian Lama.

    * Mazmur 51:7, "Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." - "HEN-BE´AVON KHOLALTI UVEKHETE´ YEKHEMATNI ´IMI"

    Suatu kisah menarik dalam Zohar, Beresyit 57b, bahwa sebelum jiwa orang mati itu ditempatkan di Sye´ol (dunia orang mati), orang itu bakal bertemu dengan Adam, dan menyampaikan protes, "Sialan! Engkaulah penyebab kematianku di dunia."

    Sahut Adam, "Sesungguhnya, aku hanya melanggar ´satu´ perintah dan dihukum, tetapi lihatlah berapa banyak perintah Allah yang sudah kaulanggar!"

    Dosa-dosa yang Melawan Roh Kudus

    Penulis : Billy Graham

    Menghujat Roh Kudus (Injil Matius 12:22-32)

    Semua dosa manusia terhadap Roh Kudus tak ada yang lebih buruk daripada dosa menghujat Dia. Alasannya jelas sekali: Dosa itu tak dapat diampuni. Semua dosa lain terhadap Roh Kudus dapat saja dilakukan oleh orang percaya. Kita dapat bertobat daripadanya, diampuni, dan mulai lagi secara baru. Tidak demikian dengan menghujat Roh Kudus. Dosa ini diperbuat oleh orang-orang yang tidak percaya dan sering disebut "dosa yang tidak dapat diampuni". Dosa ini dilakukan oleh musuh Yesus ketika mereka menuduh Dia membuang setan dengan kuasa setan setelah dengan jelas Ia menjelaskan bahwa Ia mengusir setan dengan kuasa dari Roh Allah.

    Bagi saya, tak ada seorang pun yang telah melakukan dosa ini yang masih diganggu, diyakinkan, dan ditarik terus oleh kuasa Roh Kudus. Selama Roh masih bergumul dengan seseorang ia belum melakukan dosa yang tak dapat diampuni ini. Tetapi bila seseorang itu telah melawan Roh Kudus sehingga Ia tidak lagi bergumul dengannya, maka orang itu berada dalam bahaya kekal. Dengan kata lain, dosa yang tak dapat diampuni menyangkut penolakan kepada Yesus Kristus yang tak dapat ditarik kembali.

    Saya percaya bahwa inilah yang dibicarakan Stephanus dalam khotbahnya tak lama sebelum ia mati bagi Kristus. Dalam khotbahnya ia berkata, "Hai orang-orang yang keras kepala.kamu selalu menentang Roh Kudus" (Kis. 7:51). Menurut konteksnya jelas bahwa Stephanus mengatakan, pertama-tama, seperti nenek moyang mereka, mereka telah menolak pemberitaan nabi-nabi dan utusan Allah dan tidak mempercayai mereka. Maka pendengarnya bersalah dalam dosa yang sama. Dalam PL kita dapat membaca bahwa ada orang yang melawan, memfitnah, menganiaya, dan mengejek nabi-nabi. Sedangkan para nabi itu diilhamkan oleh Roh Kudus, maka dalam kenyataannya orang-orang itu melawan Roh. Maka kata Stephanus kepada orang-orang yang sedang mendengarkan dia, jika mereka menolak mendengarkan rasul-rasul Kristus dan orang yang telah dipilih, yang berbicara lewat Roh Kudus, maka mereka juga menolak Roh Kudus. Infeksi dosa yang membawa maut dalam hati orang yang belum dilahirkan kembali, akan selalu menyebabkan dia menentang Roh Kudus. Tubuh (daging) dan pikiran jahat selalu melawan Dia. Pada waktu orang-orang berlaku demikian, mereka tidak akan menerima Firman Allah dengan kuat kuasa-Nya kecuali jika Roh Kudus dapat menang atas mereka.

    Menolak Roh Kudus adalah dosa yang hanya dapat diperbuat oleh orang-orang yang tidak percaya. Jadi itu adalah dosa, jika diteruskan cukup lama, akan membawa malapetaka yang kekal. Jalan satu-satunya bagi semua orang berdosa, supaya dapat diampuni sebab menolak Roh Kudus, ialah berhenti menolak dan berpaling kepada Kristus Yesus yang tentunya Roh Kudus menyaksikan. Orang itu hanya berpengharapan jika ia dengan segera bertobat dan membiarkan Roh Kudus bekerja di hatinya. Dosa yang tak dapat diampuni adalah penolakan kebenaran tentang Kristus. Yaitu menolak sama sekali kesaksian Roh Kudus yang menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah dan hanya Dia dapat menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. Mungkin Anda adalah seorang yang percaya, tetapi Anda telah melakukan dosa yang Anda kira akan menghalangi Anda dari keselamatan. Tak perduli dosa apa itu, ingatlah bahwa Allah mengasihi Anda, dan Ia ingin mengapuni dosa itu. Sekarang juga Anda perlu mengaku dosa itu kepada-Nya dan minta pengampunan-Nya. Anda perlu dibebaskan dari beban kesalahan dan keragu-raguan yang telah menindas Anda.

    Kristus mati untuk membebaskan Anda daripada keadaan itu. Jika Anda telah datang kepada Kristus, Anda mengetahui berdasarkan Firman Allah bahwa dosa itu - dosa apa saja - bukanlah dosa yang tak dapat diampuni. Dosa itu tidak akan mengirim Anda ke neraka, sebab Anda telah diselamatkan oleh iman dalam cucuran darah Kristus. Tetapi Anda perlu mengeluarkan dosa itu dari hidup Anda dengan membuangnya pada Kristus.

    Mendukakan Roh Kudus (Ef. 4:30)

    Sekarang kita sampai kepada dua dosa terhadap Roh Kudus yang dapat dilakukan oleh orang Kristen. Yang satu adalah mendukakan Roh Kudus dan yang lain adalah memadamkan Roh Kudus. Pertama, marilah kita lihat dulu dosa mendukakan Roh Kudus.

    "Dukacita" atau "sedih hati" adalah kata "kasih". Roh Kudus mengasihi kita seperti Kristus. Kita dapat melukai hati atau membangkitkan amarah orang yang tidak mengasihi kita, tetapi "medukakan hati" hanya dapat kita lakukan terhadap orang yang mengasihi kita. Bagimana orang Kristen dapat mendukakan Roh Kudus? Dalam Ef. 4:20-32 Paulus mengatakan bahwa kelakukan apa saja yang tidak seperti Yesus, baik perkataan ataupun watak mendukakan Roh kasih karunia.

    Roh Kudus adalah Roh:


    Apa yang terjadi jika kita mendukakan Roh Kudus? Pada waktu Ia berdukacita, sukacita dan kuasa di dalam hidup kita diambil-Nya sampai kita mengakui dan meninggalkan dosa kita. Ini bukan karena Ia melepaskan kita, tetapi sebab Ia dengan sengaja Ia membuat kita sedih sampai kita berpaling kembali kepada Kristus dengan hati yang hancur, kesedihan, dan pengakuan. Saya yakin bahwa satu kali kita telah dibaptiskan ke dalam tubuh Kristus dan didiami oleh Roh Kudus, kita tak akan ditinggalkan oleh Roh lagi. Kita dimeteraikan untuk selamanya. Dan ia adalah jaminan akan apa yang akan datang. Memang sebagai Roh kasih, Roh Kudus berdukacita pada waktu kita berdosa, sebab Ia mengasihi kita.

    Memadamkan Roh (1Tes. 5:19)

    Menghujat Roh Kudus adalah dosa yang dilakukan oleh orang yang tidak percaya. Mendukakan dan memadamkan Roh adalah dosa yang dilakukan oleh orang-orang percaya. Kata memadamkan berarti "matikan, mengecilkan." Itu berhubungan dengan keterangan Firman Tuhan mengenai Roh Kudus sebagai api. Pada waktu kita memadamkan Roh, kita memadamkan api.

    Gambaran api memberikan dua aspek:

    Pertama, api itu padam apabila persediaan bahan bakar habis. Jika kita tidak mengobarkan jiwa kita, jika kita tidak mengobarkan jalan kasih karunia, jika kita gagal berdoa, bersaksi, atau membaca Firman Allah, api Roh Kudus akan terbendung. Hal-hal itu adalah saluran yang dipakai untuk memberi kita bahan bakar supaya api itu tetap menyala. Dan Roh Kudus ingin agar kita menggunakan pemberian-pemberiaan itu agar api-Nya tetap menyala dalam hidup kita.
    Kedua, kita dapat mematikannya dengan cara menyiraminya dengan air, atau menutupnya dengan selimut atau dengan tanah. Dengan cara yang sama, dosa yang disengaja memadamkan Roh.

    Pernahkah Anda di dalam bentuk apa saja mendukakan Roh, atau memadamkan Roh, atau memadamkan Roh dalam hidup Anda? Jika itu adalah persoalannya, sadarlah bahwa sekarang inilah waktunya untuk mengakui semua kepada Allah, dan bertobat daripada dosa-dosa itu. Kemudian berjalanlah setiap hari di dalam kepenuhan Roh, dan peka terhadap pimpinan-Nya dan kuasa-Nya di dalam hidup Anda.

    Sumber: Buku: Roh Kudus hal 194-207

    Egoisme Keagamaan

    Penulis : Daniel Zacharias

    Rasa-rasanya judul tulisan ini dapat disebut sebagai suatu kemustahilan! Apakah ada yang namanya fenomena egoisme keagamaan? Sebab rasanya tidaklah mungkin sebuah agama mengajarkan, menganut, atau memberlakukan sebuah egoisme. Agama di mana pun, baik nada maupun syairnya selalu bersifat anti egoisme, agama mana pun senantiasa mengarahkan umatnya pada suatu kepedulian yang bukan hanya mengarah pada diri mereka sendiri (ego) saja, tetapi juga pada yang bukan diri mereka sendiri. Agama mana pun senantiasa menebar suatu perhatian yang tidak memuaskan dan membahagiakan ego belaka tetapi juga pada yang bukan ego.

    Namun nilai ideal bagi agama yang menjadi tolak ukur bagi segala sesuatu yang �€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½mustahil�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ atau "tidak mungkin" seperti yang dimaksud di atas malah menjadi "mungkin", bahkan "lebih dimungkinkan lagi". Tak dapat dipungkiri lagi kalau kenyataan di lapangan tidak berbanding lurus dengan semua nilai-nilai yang ideal tersebut. Kenyataan di lapangan kerap kali justru berbanding terbalik dengan semua nilai-nilai mulia keagamaan.Buktinya, kerusuhan dan pertumpahan darah karena agama atau karena membela agama bukan baru terjadi di abad ini dan di negeri ini saja, tetapi sudah berlangsung berabad-abad. Perang Salib (1096-1291) misalnya, berlangsung pada masa Perang Salib I-VII, yang bertolak bukan sekedar permainan politis tetapi lebih pada sebuah lontaran yang keras dari sebuah meriam fanatisme keagamaan yang sudah memanas. Untuk menjadikan usaha ini otentik dalam pandangan agama, maka para pejuang yang karena membela agamanya gugur kemudian dijuluki dengan penghormatan tertinggi sebagai seorang martir atau syuhada. Mereka kelak akan disebut �€˜pahlawan�€™ di surga dan mendapat pahala yang besar. Akibatnya, siapa sih yang tak mau masuk ke surga walau resikonya harus mengorbankan nyawa sendiri padahal sebelumnya lebih dahulu mengorbankan nyawa orang lain? Di titik inilah pemikiran rasionil keagamaan sudah mengalami kompromi yang jauh melenceng! Praktis, agama sekarang menjadi kendaraan bukan untuk memperhatikan sesama lagi, tetapi suatu kendaraan yang memungkinkan seseorang meraih kentungan-keuntungan demi kepuasan dan pencapaian keinginannya yang cenderung tidak teologis tetapi egois.

    Seorang Misionaris Yesuit Amerika yang tinggal di Filipina sekitar 10 tahun (sebagaimana dikutip C. S. Song) mengungkapkan keprihatinannya mengenai jangkauan misioner gereja-gereja di Barat yang sangat mencerminkan eksklusivitas klaim mengenai keselamatan dalam bukunya Spirituality of Mission dengan mengatakan, �€œKebanyakan misionaris di abad-abad yang lampau mengambil sikap amat negatif atas kemungkinan keselamatan di luar Gereja�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ [1987, hlm. 124].

    Egoisme keagamaan tak lain dan tak bukan dipicu oleh sebuah anggapan yang kemudian pada masa tertentu telah mengental menjadi sebuah doktrin, dan kemudian memadat menjadi sebuah fanatisme yang terwujud dalam sebuah egoisme yang berbaju agama. Akibatnya bila ada sebuah anggapan yang benar, maka doktrin menjadi sehat, dan fanatisme otomatis gugur, lalu secara otomatis pula egoisme keagamaan pun tak akan pernah lahir. Dalam bahasa teologi, anggapan seperti yang dimaksud di atas dapat disebut sebagai hermeneutika. Hermeneutika yang sehat melahirkan teologi yang benar dan sebaliknya.

    DR. Alwi Shihab dalam wawancaranya di sebuah majalah rohani Kristen mengatakan, bahwa friksi yang terjadi antar agama sering disebabkan oleh ditampilkannya atau penekanan yang berlebihan pada teks-teks eksklusif dalam kitab suci masing-masing khususnya yang berkaitan dengan keselamatan. Keadaan ini bukan saja terjadi di dalam kelompok non-Kristen tetapi kelompok Kristen sendiri kerap senang sekali menunjukkan superioritas sendiri dan menganggap kelompok yang lain sebagai pecundang. Saya menilai hal ini merupakan faktor yang memungkinkan munculnya sikap egoisme tersebut.

    Sebelum menyoroti hal ini lebih jauh, ada baiknya kita meninjau ke belakang terhadap teks-teks Alkitab sendiri sehu-bungan dengan pembahasan ini. Allah memang pernah berjanji untuk memberkati Abraham dan keturunannya [Kej 12]. Allah bahkan membentuk suatu paguyuban orang-orang beriman yang memakai panji-panji kebesaran nama Abraham dalam sebuah bangsa yang bercikal bakal dari keturunannya sendiri yang disebut Israel. Tak cukup dengan itu, Ia malah membebaskan paguyuban kesayangan-Nya itu dari tirani Firaun yang sok ilahi dan berkuasa, mengubah status mereka dari budak kerja rodi menjadi orang-orang yang otonom-teokratis serta berdaulat di atas tanah yang awalnya bukan milik mereka. Ia menyediakan bagi mereka tempat berdiam mereka laksana rumput yang hijau dan air yang tenang. Akibatnya saat mereka harus dibuang karena dosa mereka sendiri, paguyuban itu merasa tidak mungkin Allah berbuat seperti itu mengingat mereka adalah kesayangan-Nya. Apalagi ketika Allah memakai bangsa lain untuk memukul mereka, paguyuban itu tetap menganggapnya sebagai kesalahan dan kebiadaban bangsa-bangsa lain itu sendiri. Mereka tidak pernah atau bahkan tidak pernah akan percaya kalau Allah memakai bangsa lain juga. Rupanya pilihan Allah dan perlindungan Allah selama ini tidak mengarahkan mereka untuk menjadi ingat pada bangsa lain, tetapi justru mereka malah semakin berusaha mengikat dan membelenggu Allah dengan anggapan mereka sendiri sehingga fanatisme mereka menjadi begitu berlebihan. Teologi parti-kularistis muncul dengan anggapan bahwa YHWH (Adonay) adalah milik Israel dan Elohim adalah Allah bagi mereka saja. Keadaan ini menjadi semakin buruk bila melihat sikap bangsa lain yang justru membenci ibadah Israel dan menolak YHWH sebagai Tuhan, akibatnya bangsa Israel semakin eksklusif dan memeluk teologi partikularistis semakin erat.

    Persoalan teologi partikularitis adalah masalah hermeneutis. Allah yang luar biasa itu, yang Salomo sendiri akui tak dapat merumahkan-Nya [II Taw 2:6], malah dikerangkeng Israel dalam sebuah teologi manusia yang penuh egoisme dan keangkuhan. Sang Ultim yang bergerak dan bekerja bebas bagi dunia universal dipersempit ruang gerak-Nya dalam kotak sempit hermeneutis Israel yang pengap dan panas lagi sesak. Pola Allah yang memberkati semesta melalui keturunan Abraham ternyata diintepretasikan Israel keliru. Allah melalui Israel dipahami menjadi Allah untuk Israel. Agaknya saya harus mempertimbangkan istilah �€œmelalui�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ bila mengingat keengganan C. S. Song menggunakan �€œteologi perwalian�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ atau �€œteologi anak tiri�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ [Allah Yang Turut Menderita; 1990: 54-55, 78]. Intepretasi Israael yang keliru ini kemudian melahirkan teologi partikularistis, lalu membentuk fanatisme dan egoisme keagamaan.

    Kisah di mana Allah menyelamatkan tokoh-tokoh perempuan dalam Alkitab seperti Rahab sekeluarga melalui dua orang pengintai, kemudian Rut melalui Naomi, setidaknya telah membuka sedikit jendela kemungkinan tentang ketiadaan teologi partikularistis itu di pikiran Allah sendiri.

    Anggapan seperti dimaksud di atas tergambar dengan jelas dan diperkuat oleh narasi Yunus [Yunus 1:1-17; 4:1-10]. Kisah Yunus memang sering jarang sekali dipakai sebagai bahan acuan untuk masalah ini (Yesus sendiri menghubungkan kisah ini dengan konsep Kebangkitan) [Mat 12:38-42; Luk 11:29-32]. Kesulitannya terletak pada beberapa orang yang mempermasalahkan historitas kisah tersebut. Akibatnya perdebatan seputar historitas meluputkan tujuan penulisan narasi Yunus. Perlu dikomentari di sini bahwa pembuktian historitas kisah Yunus seakurat apapun tak memberi sumbangan yang berarti. Baik kisah itu historis maupun tidak, narasi Yunus ingin menampilkan suatu pandangan teologi yang anti-partikularistis. Dapat dipastikan kisah ini dimunculkan oleh mahzab yang sedikitnya sudah mampu menangkap nilai universal tindakan Allah bagi seluruh bangsa dan bukan Israel saja.

    Sikap Yunus menggambarkan betapa hermeneutikanya terhadap tindakan Allah sangat sempit. Koreksi Allah terhadap hermeneutika Yunus terlihat dari kisah "pemaksaan" melalui "badai" (1:4, gambaran dari pembatalan terhadap pola hermeneutika Yunus) dan "ikan" (1:17, gambaran dari pencapaian makna tindakan Allah yang sebenarnya).

    Posisi hermeneutika seperti Yunus anehnya masih saja dianut dan dikerjakan orang beragama manapun. Fanatisme selalu menjadi masalah. Fanatisme merupakan pengkhianatan terhadap ajaran agama itu sendiri. Fanatisme merupakan pembuktian kurang luasnya seseorang memahami perbuatan Allah atau ajaran agamanya. Fanatisme secara hakiki adalah egoisme yang berbulu agama. C. S. Song dalam keprihatinan yang sama menonjolkan teolog Deutero Yesaya dalam menguraikan tentang Hamba Yang Menderita [Yes 53]. Melalui konsep ini teolog Deutero Yesaya mengambil langkah berani dari sentrisme Israel ke pandangan yang jauh lebih tentang bangsa-bangsa [1990: hlm. 69]. Selanjutnya ia mengatakan bahwa siapapun diri Hamba yang Menderita itu, ia bukan lagi suatu tokoh nasional yang dikurung dalam batas-batas Israel [Yes 42:1, 4: 49:6, 53:9]. Hamba yang Menderita itu tak dapat dijelaskan oleh Israel saja. Ia melompat keluar kotak iman dan kehidupan sempit yang telah memberi Israel jatidiri nasional dan keagamaannya [1990: hlm. 70-71].

    Pada akhirnya C. S. Song dengan tegas mengatakan, �€œAllah tampaknya bersifat rahasia hanya bagi mereka yang ingin memonopoli dan menguasai Allah. Mereka merasa tertipu ketika Allah juga berkenan dengan bangsa-bangsa lain dan memihak lawan-lawan mereka�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ [1990: hlm. 79].

    Akhir-akhir ini kita diperhadapkan pada suatu pertikaian yang berbau SARA (khususnya agama �€“ saat tulisan ini dibuat Ambon bergolak kembali). Baik di kalangan Islam maupun Kristen masing-masing (walaupun tidak diakui terang-terangan, namun dalam tindakan dan sikapnya terlihat dengan jelas) masih menyimpan egoisme keagamaan. Superioritas yang menganggap agamanya sebagai satu-satunya yang menyimpan dan mewarisi "kebenaran" dan �€œkeselamatan�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ membuat eksklusivitas (sikap separatis) makin kentara bahkan menjadi-jadi.Kritik bagi gereja sebenarnya sudah cukup banyak. Sikap gereja yang berusaha menerima kepelbagaian dalam segi iman terkadang masih plin-plan. Masih ada anggapan dari pihak gereja sendiri bahwa di luar gereja tidak ada keselamatan. Orang Kristen juga hampir meniru tindakan orang Israel dalam memperlakukan Allah. Untuk urusan dalam kepelbagian antar denominasi di kalangan Protestan saja seringkali tidak ada kesepakatan. Sikap eksklusif yang tadinya hanya untuk antar agama saja ternyata makin menyempit ke dalam konteks antar denominasi. Bayangkan! Maka janganlah kita heran bila sikap ekumenis dari beberapa gereja tertentu seringkali ditanggapi sebagai sekedar kertas-kertas kerja dan semboyan saja. Berapa gereja sih sebenarnya yang masih bisa saling memperhatikan? Berapa gereja yang justru tidak peduli satu sama lain? Berapa? Dan sejauh mana?

    Pengalaman saya berkeliling di beberapa pelosok Nusantara ini menunjukkan fenomena ini ternyata bukan rekaan saja. Gereja yang satu dapat menjadi �€œsandungan�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ bagi gereja lain. Gereja satu menertawakan organisasi atau teologi gereja lain. Seolah-olah gereja yang sudah �€œlama�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ berdiri, di dalamnya penuh dengan anggota-anggota senior yang turut mendirikan, pelayannya lulusan sekolah-sekolah teologi atau seminari luar negeri yang berstrata magister sampai doktoral, dan telah menjadi anggota kelompok ekumenis tertentu (saya kuatir kalau yang satu ini adalah wujud eksklusivisme baru), dapat disebut pewaris ortodoksi dan gereja lain tidak! Di sisi lain gereja-gereja yang �€œbaru�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ berdiri, entah karena memang benar-benar baru, atau kepingan-kepingan dari yang pernah ada lalu pecah, atau pelarian dari gereja-gereja sebelumnya, menghembuskan asap pandangan yang mengesankan seolah-olah upaya yang �€œbaru�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ itu sebagai suatu upaya pembaruan atau kritik terhadap yang �€œlama�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½. Kelompok yang mengatakan dirinya sudah �€œlama�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ itu menganggap dirinya sudah matang dan mewarisi suatu yang sudah lama yakni ortodoksi tulen yang mungkin sudah berdebu dalam kotak wasiat yang tersimpan berabad-abad dengan didukung oleh dokumen-dokumen yang otentik. Sedangkan yang �€œbaru�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ menganggap dirinyalah yang membawa kembali atau menemukan ortodoksi yang sudah lama hilang dan mencoba melakukan pembaruan di sana sini sekaligus menggemboskan yang �€œlama�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½. Kedua kelompok ini punya sekolah teologi sendiri-sendiri. Lulusan dari yang �€œlama�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ sulit diterima sebagai seorang pendeta di gereja �€œbaru�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ dengan alasan yang sudah basi: �€œliberalis dan cenderung rasionalis�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ dan lulusan yang �€œbaru�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ juga mengalami kesulitan memasuki benteng tua gereja �€œlama�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ dengan alasan yang sama basinya: �€œtidak seazas dan berkesan fundamentalis-karismatis-pietis�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½. Bayangkan!

    Eka Darmaputera selaku penyunting buku Festchrift HUT ke-70 DR. PD. Latuihamallo yang dikerjakan secara keroyokan itu [Konteks Berteologi Di Indonesia; 1991: hlm. 4] mengungkapkan adanya polarisasi (?) mulai dari tingkat sinodal bahkan tingkat nasional. Saya menduga kalau polarisasi itu merupakan suatu bentuk ekslusivitas baru yang disebabkan adanya perbedaan pada masalah siapa yang lebih tepat hermeneutikanya sehingga ajaran gerejanyalah yang sedikit banyak atau mungkin sama dengan ajaran ortodoks. Dan mereka menganggap diri mereka sebagai pewaris �€˜sui generis�€™ ortodoksi. Padahal bila kita membaca James G. Dunn dalam bukunya yang berjudul Unity and Diversity in New Testament [1977: hlm. 1-7] maka kita akan menjumpai di sana bahwa tak satu gereja atau denominasi pun yang dapat menobatkan dirinya sebagai yang mewarisi ortodoksi (baca: satu-satunya kebenaran). Dari sini kita dapat menarik kesimpulan sementara bahwa kita tidak dapat terhindar dari egoisme keagamaan bila kita tidak segera keluar dari sana. Baiklah kita coba untuk mengajukan suatu praanggapan sekarang. Masalahnya adalah kalau ternyata agama selama berabad-abad justru menjadi bungkus yang membedakan manusia dengan yang lain dan turut menjadi alasan untuk membinasakan mereka yang berbungkus lain, mengapa agama masih tetap dipertahankan? Bukankah tanpa agama pun seseorang dapat sampai kepada Allah? Mengapakah iman kita pada Allah harus dikerangkeng oleh suatu merek agama tertentu? Manusia yang sudah terkondisi dengan kebanggaan agama merek tertentu tidak segan-segan untuk memihak dan menjadi kurang obyektif dalam memandang karya keselamatan yang Allah sediakan secara universal.

    Memang agama tak bersalah, tetapi manusia yang memperlakukan agama itulah yang salah. Di mata saya agama hanyalah suatu sistem relasi vertikal serentak horisontal. Bila sistem agama ini tak berjalan baik mengapa harus dipertahankan? Atau mengapa tidak mereformasi saja (atau bahkan membuang?) sistem yang sudah tak fungsional lagi. Sebab mempertahankan suatu paradigma yang terlanjur terkotak-kotak dan malah menimbulkan nilai-nilai egoisme, sama saja artinya dengan suatu upaya mempertahankan status quo belaka.

    Seseorang, dalam praanggapan ini, dapat saja datang pada Allah yang hidup tanpa harus memakai baju agama. Bagi saya beragama memang harus ber-Allah, tetapi untuk ber-Allah seseorang tak harus beragama. Sebab baik dengan maupun dalam agama tidak ada suatu jaminan yang membuat seseorang benar-benar ber-Allah. Apakah Allah pernah menyuruh seseorang beragama atau menganut agama tertentu? Setahu saya Allah hanya pernah memerintahkan agar manusia percaya dan taat pada-Nya saja. Namun bila ada yang tak setuju dengan saya, maka saya pun tetap menghargainya. Namun berhati-hatilah agar agama yang anda anut tidak menendang keluar Allah dari posisi-Nya, atau malah membelenggu-Nya seolah-olah Allah punya agama favorit, atau agama tertentulah yang lulus dari akreditasi Allah, atau dengan istilah agama tertentulah maka sebuah agama dapat disebut sebagai agamanya Allah.

    Fakta-fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit agama yang dengan arogan menyebut dirinya benar dan kemudian menunjukkan keeksklusifannya sekaligus keberingasannya. Ini memang nyata, tetapi masalahnya koq mengapa ada agama yang beringas? Apa memang ada agama yang karakternya beringas? Atau doktrinnya mengajarkan keberingasan sebagai sesuatu yang etis? Saya tak membantah realitas di atas, malah semakin mempertajam anggapan saya terhadap praanggapan perlu tidaknya agama itu dipertahankan. C. S. Song masih dalam buku yang sama mengatakan bahwa, �€œAgama Taurat inilah yang ditantang oleh Yesus. Dan agama yang sama ini pula yang belakangan mengirim-Nya ke kayu salib�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ [1990, hlm. 52].

    Bagi saya sebaiknya agama yang tak mau mengadakan rekoreksi tidak perlu dipertahankan. Biarlah seseorang sampai pada Allah yang diyakininya tanpa harus terbungkus dalam agama tertentu, termasuk Kristen. Tak beragama sama sekali berbeda dengan tidak ber-Allah. Yesus dalam kehadiran-Nya di dunia sama sekali tidak mengubah agama Yahudi ke agama Kristen. Yesus menjadi besar dalam lingkungan Yahudi dan sinagoge. Ia memang tidak memprotes agama Yahudi lalu membentuk agama Kristen. Ia memang memprotes orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, tetapi pada soal hidup keagamaan orang Yahudi. Namun sampai Yesus terangkat ke sorga pun agama maupun hidup keagamaan orang-orang Yahudi tak menjadi lebih baik. Yesus pernah memperingatkan para murid-Nya agar hidup keagamaan mereka harus lebih benar dari hidup keagamaan orang Farisi dan ahli Taurat [Mat 5:20]. Menurut Henk ten Napel peringatan Yesus disebut sebagai upaya mengajukan sebuah �€œkebenaran yang lebih benar�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ [Jalan Yang Lebih Utama Lagi; 1990, hlm. 79]. Saya ingin menyoroti istilah Henk ten Napel secara pribadi. Bila orang Farisi dan ahli Taurat merasa bahwa apa yang mereka �€œanggap�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ (hermeneutika Farisi dan ahli Taurat) baik dalam praktek dan ajaran itu sudah �€œbenar�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ dan ternyata di �€œmata Yesus�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ (hermeneutika Yesus) hal itu masih �€œsalah�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½, ini berarti salah satu dari kebenaran itu palsu dan yang lain tulen. Istilah Henk ten Napel ini mengisyaratkan kita untuk berwaspada pada klaim kebenaran-kebenaran yang kita buat dan kita anggap itu sudah benar.

    Peringatan Yesus dalam masalah di atas ini dapat bersisi ganda. Dapat berarti Yesus mengecam cara beragama atau agama itu sendiri tak lagi berperan. Tetapi di sini kelihatannya yang lebih mungkin adalah Yesus mengecam sikap keagamaan itu sendiri. Kelompok semi-separatis seperti orang Farisi yang mengka-tegorikan dirinya sebagai orang yang tidak tercemar hal-hal sekuler dan duniawi masih dianggap Yesus sebagai cara hidup keagamaan yang masih perlu dikoreksi. Artinya sikap keagamaan yang masih memupuk keegoisan dan masih berorientasi pada diri sendiri akan tetap menjadi suatu sandungan bagi perdamaian dan pemahaman antar manusia dalam jagad yang semakin renta ini.

    Selanjutnya melalui tulisan ini, kita selaku orang yang beragama diharapkan secara kritis mempertanyakan dan mengkaji ulang hidup keagamaan kita. Pendidikan Agama Kristen (selan jutnya PAK) sebenarnya sudah cukup makan asam garam ditunggangi oleh pikiran-pikiran teologi. Harold W. Burges [An Invitation To Religious Education, 1975: 15] secara jelas menyatakan bahwa dasar teologi yang dipilih secara sadar maupun tidak menentukan rumusan atau pengertian tentang (1) tujuan PAK, (2) isi PAK, (3) guru, (4) naradidik, (5) lingkungan pembelajaran, (6) evaluasi. R. C. Miller malah secara terang-terangan menyebut teologi itu sebagai �€œthe Clue�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ buat PAK. Agaknya kini tiba saatnya PAK memberikan sumbangsih pemikirannya sendiri dalam telaah kritis terhadap teologi yang menjadi dasar yang tidak bisa tidak harus berkaitan dengan agama itu sendiri dan diri PAK sendiri.

    Saya tertarik pada apa yang dikatakan C. S. Song bahwa tugas teologi saat ini bagi kita di Asia adalah berjumpa dan menemui Allah yang mungkin ada di �€œtempat-tempat tersembunyi�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ dari bangsa-bangsa dan orang-orang, agama-agama dan budaya-budayanya [1990: 48]. DR. Kadarmanto Hardjowasito sudah merintis ini dalam konteks PAK di Indonesia dalam tulisannya yang berjudul �€œPendidikan Agama Kristen Dalam Konteks Masyarakat Indonesia Yang Majemuk�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ dengan tujuan tidak untuk mengecilkan fungsi gereja tetapi untuk menemukan dan merumuskan makna panggilan kehadiran gereja dalam konteks yang majemuk [Berakar di atas Dia dan Bertumbuh di Dalam Dia; 1998: 107-123]. Dalam kuliahnya beliau tetap konsisten, ia sangat menekankan keprihatinannya pada buku-buku teks pelajaran agama di sekolah-sekolah menengah baik yang diterbitkan dalam kalangan Protestan dan Islam yang belum sama sekali memasukan ide �€œsaling memahami dan menerima�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ antara penganut agama satu dengan lainnya dalam konteks Indonesia yang majemuk. Akibatnya generasi muda tetap akan terkondisi dengan bahaya �€œegoisme keagamaan�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½. Generasi muda yang tidak disiapkan sejak dini tak dapat dituntut kelak akan bersikap �€œmenerima kemajemukan�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ secara otomatis.

    Saya sempat kaget ketika pertama kali membaca artikel-artikel filosofis seputar pertengkaran agama dalam Burung Berkicau-nya Anthony de Mello yang dengan sinis menyajikan Yesus yang sangat �€œterganggu�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ dengan sikap ekshibisonis agama-agama dalam �€œPasar Malam Agama�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ [1984: 180] dan bagaimana Yesus sendiri tidak memihak di satu agama pun dalam �€œYesus Menonton Pertandingan Sepak Bola�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½ [1984: 182]. Hal ini mencerminkan betapa egoisme keagamaan memang bukan hanya keprihatinan belaka.

    Kalau memang kita (juga orang-orang PAK) tidak segera dengan kritis mengadakan reintepretasi sekaligus rekoreksi terhadap hidup keagamaan atau bahkan agama yang kita anut maka kita akan menerima situasi yang lebih buruk atau paling buruk. Atau kita mulai menilik kembali pola hermeneutis yang baru yang sungguh-sungguh kontekstual (bukan cuma sampai bentuk tesis dan disertasi atau contoh-contoh dalam kelas). Konteks kita benar-benar majemuk. Banyak yang ragu seputar siapa yang akan memulai. Pihak gereja atau yang lain?

    Dalam pertemuan Departemen Agama dan Dosen-dosen PAK serta mahasiswa S-2 PAK di Cisarua, DR. Kadarmanto menjawab masalah ini dengan mengatakan, �€œBahwa untuk memulai sesuatu yang baik kita tidak perlu menunggu orang berbuat yang baik terlebih dahulu�€ÃƒÂ¯Ã‚¿Â½. Maka demi tercapainya suatu maksud soteriologi Allah yang universal dan demi kebaikan dan perdamaian dalam kehidupan umat manusia sejagad maka sebaiknya mulailah berbuat yang baik dengan kita mengoreksi ketidakpedulian dan kekurangan-kekurangan kita lebih dahulu. Mengapa tidak? The Decision is depend on us!

    Eksistensi Sang Khalik

    Oleh: Marolop Simatupang, A.Md

    1. Argumentasi Kosmologikal (kosmos): Dunia.

      Fakta bahwa kosmos atau dunia itu ada. Sesuatu tidak dapat berasal dari yang tidak ada, maka harus ada Penyebab Utama (Primal cause) yang menyebabkan dunia ini eksis. Dari sudut pandang natural, Ia pastilah Seseorang. (Leander Keyser: The Fall of Unbelieve).Argumentasi ini mengatakan bahwa setiap akibat harus ada penyebabnya (Hukum Sebab Akibat). Salah satu tokoh utama yang memopulerkan argumen ini adalah Thomas Aquinas pada abad ke-12. Dunia ini eksis teratur karena ada Oknum Penyebab Utamanya, Sang Pencipta.

    2. Argumentasi Teleologikal (teleos): Tujuan, Akhir.

      Keteraturan yang ada mengimplikasikan akal budi dan tujuan pada hasil dari pengorganisasian itu. Argumen ini kadang disebut argumen Disain dan Tujuan. Karakteristik alam semesta adalah teratur dan itu bermanfaat; hal ini membuktikan ada Arsitek Ahli di belakang semua itu.

      Rancangan alam semesta begitu menakjubkan. Sebuah benda elektronik yang amat complicated ada karena ada perancangnya, pembuatnya. Lalu bagaimana dengan dunia yang jauh lebih agung ini? Semua bangun rancang alam semesta begitu harmonis dan teratur. Contoh keharmonisan dan keteraturan alam semesta:

      1. Matahari tepat berada sejauh 93 juta mil untuk iklim yang seimbang di atas bumi.
      2. Bulan, 240 ribu mil memberikan sinar pada level yang tepat.
      3. Putaran bumi yang memberikan musim.


      Jadi, ada perancang di belakang semua itu. Bila dunia ini terjadi atau ada secara kebetulan, ketidakmungkinannya sama dengan seekor monyet menciptakan karya Shakespeare di atas sebuah mesin tik dengan cara mengetiknya sembarangan. Atau sepasang gaun pengantin yang begitu indah dijahit perancang dengan serampangan.

    3. Argumentasi Antropology (antropos): Manusia.

      Melihat manusia sebagai makhluk yang diciptakan menurut/berdasarkan gambar Sang Khalik. Selain bumi ini, manusia adalah Maha Karya Sang Pencipta. Rupa dalam spiritual, yang punya akal budi, moral, emosi dan kehendak. Memiliki intelektualitas yang tidak dimiliki oleh mahkluk hidup lain. Suatu kuasa buta ... tidak akan pernah dapat menghasilkan seorang manusia yang berakal budi, berperasaan, berkehendak, berhati nurani dan percaya pada Sang Pencipta.

      Manusia yang jumlahnya miliaran, makin bertambah banyak, namun tak seorang pun yang memiliki garis tangan atau sidik jari yang sama. Organ-organ tubuh yang sesuai dengan tempat dan fungsinya. Ini membuktikan apa? Ada Perancang Agung di balik itu semua.

    4. Argumentasi Moral

      Bahwa manusia memiliki kesadaran akan apa yang salah dan benar, kesadaran moralitas. Berasal dari mana? Ini tidak dapat dinyatakan karena proses evolusi. Ada Oknum menempatkan kesadaran itu.

      Manusia terdiri dari dua fisik: Jasmani dan Spiritual. Setiap manusia punya kebutuhan spiritual yang tidak bisa dipenuhi oleh material. Setiap jiwa memiliki sisi moral, kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan kemampuan itu tidak ada dengan sendirinya. Sang Khalik menanamkan ability istimewa itu dalam diri karya agung-Nya, manusia.

    5. Argumentasi Ontologikal (ontos): Yang Ada, Keberadaan.

      Berdasarkan pada fakta bahwa semua manusia punya kesadaran akan Penciptanya. Ontologi adalah pengetahuan tentang sesuatu yang eksis, yang ada. Manusia bukan cuma sekadar mahkluk ciptaan, tapi juga punya kemampuan untuk mengetahui siapa penciptanya.

      Semua manusia adalah mahkluk penyembah. Ingin menyembah ilah/dewa yang dianggap punya kekuatan supernatural, di luar dunia fisik. Intuisi mereka menginginkan demikian. Karena konsep itu universal, maka yang menempatkan ide itu adalah Dia yang Mahakuasa. (dari berbagai sumber)

    Empat Jangan

    Penulis : Eka Darmaputera

    Memang benar! Di dunia ini nyaris semua kenyataan itu berwajah ganda. Maksud saya, tidak dalam segala hal "orang baik" itu "baik" selalu. Dan tidak semua yang dilakukan "orang jahat" itu "jahat" melulu. Tapi bercampur, bagai buku kopi "three in one". Dalam kaitan ini, sikap Yesus layak kita teladani. Di satu pihak, Ia tak segan-segan menelanjangi habis-habisan kemunafikan para pemimpin agama di zaman-Nya. Namun demikian dengan besar hati Ia tak segan- segan secara terbuka mengakui yang "positif" pada mereka.

    "Turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya" (Matius 23:3) Reinhold Niebuhr, salah seorang teolog-sosial Amerika paling terkemuka, memberi pendasaran teologis yang menarik. Menurutnya, karena "realitas dosa", maka tak mungkin lagi ada satu pun di dunia ini, yang sepenuhnya dan seluruhnya "putih" belaka. Atau cuma "positif" semata-mata. melulu. Pada sisinya yang lain, karena "realitas pemeliharaan Allah", juga tak ada lagi satu pun kenyataan dalam kehidupan manusia, yang hanya "gelap" atau "jahat" semata. Menurutnya, yang "baik" dan "jahat" senantiasa hadir bersama-sama. Di mana pun, serta kapan pun. Keduanya dapat dibedakan, namun tak dapat dipisahkan. Distinguishable but inseparable. Maksudnya, di dalam kekuatan yang "kreatif" hadir pula potensi yang "negatif". Dan pada yang "negatif" terkandung juga aspek-aspek yang "positif". Contohnya, atom atau nuklir. Tidak dapat kita katakan nuklir itu sepenuhnya "negatif" atau seluruhnya "positif", bukan?

    SEMUA ini saya katakan untuk mengatakan satu hal. Yaitu bahwa kita tidak boleh dan tidak bisa serta-merta mengatakan, bahwa "mengeluh" itu sepenuhnya "buruk". Sifat "pengerutu" atau "pengeluh" atau "perajuk", tentu, saya setuju, adalah sifat-sifat buruk. Tidak menyenangkan. Menyebalkan. Tapi jangan hanya katakan itu! Atau jangan hanya berhenti di situ! Sebab dalam "keluhan" ­ bila kita cukup jeli dan tidak bersikap a priori ­ ada pula atau bisa pula kita menimba hal-hal yang positif. Sungguh! Kirschner dan Brinkman menyebutkan paling sedikit tiga jenis "keluhan" yang bisa kita jumpai dalam kehidupan. Ada dua yang berfaedah, dan cuma satu yang merugikan. Pertama, kata mereka, ada "keluhan yang bermanfaat". Di samping itu, yang kedua, ada "keluhan yang mengobati". Dan ketiga, "keluhan yang menyebalkan" itu.. "Keluhan yang bermanfaat". Dalam hal apa dan dengan cara bagaimana ia bisa bermanfaat? Misalnya, tatkala orang sedang gandrung- gandrungnya akan sesuatu. Biasanya, sangking kesengsem-nya mereka tidak menyadari, bahwa ada yang tidak beres di situ. Namun demikian, pengeluh jenis pertama memiliki semacam "pembawaan alamiah" melihat sisi yang lain tersebut. Bayangkanlah sewaktu mayoritas peserta rapat dengan penuh semangat menyambut diluncurkannya produk baru perusahaan mereka. Mereka yakin betul bahwa ini pasti segera akan jadi primadona. Sampai mereka disentakkan oleh pandangan nyeleneh Baharudin. Ia berkata, "Bila kita melihat situasi kita yang sekarang saja, memang, semua yang kita katakan itu benar. Tapi bagaimana kalau tiba- tiba terjadi krisis moneter global seperti tempo hari?" Atau, "Maafkan bila saya bertanya, apakah kita tidak mempertaruhkan aset perusahaan terlalu banyak untuk satu proyek ini? Bagaimana kalau meleset?". Barulah beberapa peserta rapat mulai sadar. "Iya ya, mengapa itu tidak kita pikirkan dari tadi?" Lazimnya orang merasa lebih nyaman mengikut kecenderungan orang banyak, dan menjadi bagian dari "mayoritas bungkam". Hanya sedikit orang yang berani mengambil pendirian yang jelas, lalu menyuarakan pendapatnya dengan jujur. Padahal orang-orang inilah, para "pengeluh" tipe pertama, yang paling berpotensi menyelamatkan seluruh kelompok dari terperosok ke optimisme yang menyesatkan.

    MANFAAT positif yang lain dari "mengeluh" adalah, bahwa ia bisa bersifat "mengobati" (= therapeutic). O ya? Ya! Kita sama-sama mengakui bahwa hidup ini tak pernah bisa 100 persen bebas dari persoalan. Pada keadaan-keadaan tertentu setiap orang membutuhkan "saluran" untuk menumpahkan "unek-unek-nya", memerlukan "jalan" untuk mengekspresikan kekesalan-nya. "Katup" untuk meluapkan frustrasi yang tertahan. Itulah sebabnya, menceritakan persoalan pelik atau mencurahkan keluhan kepada seseorang, bisa memberi kelepasan dan kelegaan. Ibarat di ruang yang sumpek kita membuka jendela, untuk membiarkan udara pengap mengalir keluar. Karenanya, alangkah merana nasib orang yang tak punya teman untuk berbagi beban, atau terlalu introvert untuk mengutarakan perasaan! Demikianlah kita dapat menyimpulkan, bahwa persoalan kita ternyata bukanlah pada "mengeluh" itu an sich. Persoalan kita adalah menghadapi orang "jenis ketiga", yang seluruh hidupnya seolah-olah hanya dikuasai oleh keinginan untuk mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Keluhan yang tak ada faedah dan dampaknya sama sekali dalam mengurangi "stress". Sebab orng-orang ini cuma mengeluh, tanpa berusaha sedikit pun untuk mencari jalan keluar dan mengusahakan perubahan. "Pusing, pusiing, pusiiinggg ...". Tapi ya tak lebih dari itu.

    GODAAN terbesar tatkala menghadapi seorang pengeluh (jenis "ketiga") adalah, bahwa dengan mudah sekali kita sendiri tanpa sadar ikut- ikutan jadi pengeluh. Walaupun yang kita keluhkan adalah para pengeluh. Oleh karena itu, sebagai catatan akhir, perkenankanlah saya menyampaikan "empat jangan" ketika berurusan dengan mereka. Pertama, jangan sekali-kali sekadar hanya karena ingin cepat-cepat bebas dari orang-orang yang menyebalkan itu, kita begitu saja membenarkan mereka. Sebaliknya dari berhenti mengeluh, mereka justru merasa mendapat "teman langka" kepada siapa mereka bebas melampiaskan keluhan mereka. Mereka tahu tak banyak orang yang bersedia memasang telinga dan membuka hati untuk mendengar keluhan meteka. Dan di antara yang tidak banyak itu , aha, mereka menemukan Anda! Namun demikian, ini "jangan" yang kedua, jangan pula Anda terlalu bernafsu melawan mereka. Misalnya, dengan cara mengajak mereka beradu bukti dan argumentasi. Ketahuilah bahwa mereka selalu lebih dari siap untuk menerima tantangan Anda itu. Mereka akan mengajukan argumentasi-argumentasi serta "data-data" tambahan guna mendukung keluhan merka. Dalam bentuk apa? Dalam bentuk daftar keluhan yang semakin panjang! Dan hasilnya? Cuma perdebatan sia-sia yang berpotensi semakin memanas dan emosional. Situasi emosional yang dengan mudah merusak hubungan Anda berdua untuk selama-lamanya! Jadi, semua pemborosan waktu, enersi dan emosi itu ­ apa manfaatnya bukan? Ketiga, jangan menganggap keluhan mereka terlalu serius. Begitu rupa, membuat Anda begitu terharu dan terdorong menyelesaikan persoalan mereka, dan dengan begitu mengobati keluhan mereka. Wah, jangan! Sebab, percayalah, apa pun yang Anda akan lakukan, Anda tak mungkin bakal dapat menyelesaikan persoalan mereka, dan menghentikan keluhan mereka. Mengapa? Sebab persoalan mereka yang sebenarnya bukanlah apa yang mereka keluhkan. Persoalan mereka yang sesungguhnya tersembunyi jauh di lubuk hati mereka yang terdalam, mungkin malah di bawah sadar mereka. Tidak jarang mereka sendiri tidak menyadari apa persoalan mereka sebenarnya, atau pun bila menyadari hampir dapat dipastikan mereka tak akan bersedia membukanya. Jadi, apa yang mau Anda selesaikan? Lalu keempat, janganlah Anda bertanya mengapa mereka datang kepada Anda, dan tidak kepada oirang lain. "Lho, Fitri dan Fawzia `kan teman dekat Anda. Mengapa Anda datang kepada saya, dan tidak kepada mereka?". Bila Anda memang tak berniat atau berminat melayani keluhan mereka, pertanyaan-pertanyaan sejenis itu hanya akan memperpanjang percakapan yang menyebalkan. Kalau begitu, bagaimana sebaiknya menghadapi mereka? Saya sarankan Anda mengonsentrasikan diri pada satu sasaran pokok saja. Yaitu, tolonglah dan bimbinglah mereka mencari dan menemukan jalan keluar bagi persoalan mereka sendiri. Bila diibaratkan menolong anak Anda mengerjakan PR-nya, berikanlah kepadanya rumus dan jalannya. Tapi jangan sekali-kali mengambil oper pekerjaan mereka. Ini berarti, di satu pihak, Anda tidak membiarkan mereka dalam keadaan mereka. Namun begitu, di lain pihak, Anda pun tidak berpretensi menyelesaikan persoalan mereka. Untuk ini Anda mesti bersedia sabar, menahan diri, serta dimotivasi oleh simpati serta komitmen menolong yang tinggi. Memang sulit, saya akui, tapi mulia! Dan bila sukses, hasilnya, hmmm, memuaskan batin!

    Sumber: Sinar Harapan

    Fakta Tentang Ciptaan Baru

    Oleh: Wiempy Wijaya

    II Korintus 5:17 - Jadi siapa yg ada di dlm Kristus, ia adalah ciptaan baru: yg lama sdh berlalu, sesungguhnya yg baru sdh datang.

    Melihat dari ayat tsb akan membuka pola pikiran dan sudut pandang yg baru ttg ciptaan baru. Ketika diri kita menjadi seorang Kristen, maka kita adalah ciptaan baru. Hal tsb sesuai dgn ayat di Efesus di bawah ini: Efesus 1:3 - Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yg dlm Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dlm sorga.

    Dan juga terdapat pada ayat: Kolose 3:1-17 - Ayat ini menekankan ttg pikiran dan kehidupan kita berubah oleh karena kita telah menjadi ciptaan baru.

    1. Fakta Atas Penciptaan

      Untuk lebih jelasnya, mari kita buka ayat: Yoh 1:1-4 Ayat tsb ingin menekankan firman itu adalah Allah. Hal tsb sudah menjawab ttg Ketuhanan Yesus Kristus. Mengenai Ketuhanan Yesus, Yesus dikatakan akan "menghakimi orang yang hidup dan yang mati" (II Timotius 4:1). Thomas menyebut kepada Yesus, "Tuhanku dan Tuanku!" (Yohanes 20:28). Paulus memanggil Yesus "Tuhan yang Mahabesar dan Juruselamat kita" dan menunjuk bahwa sebelum Yesus berinkarnasi, Yesus sudah ada dalam "rupa Tuhan" (Filipi 2:5-8).

      Dunia ini terdiri dari surga dan neraka. Kita semua diciptakan berawal dari surga. Surga adalah suatu "tempat" dan keadaan bahagia yang sempurna bersama Allah dalam hidup yang selanjutnya. "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia". (1 Korintus 2:9)

      Segala macam dosa memisahkan kita dari Allah, termasuk "dusta putih dan kecil". Setiap orang sudah berdosa dan tidak seorangpun yang dapat masuk ke surga dengan upaya sendiri (Roma 3:23). Masuk ke surga bukanlah berdasarkan apakah kebaikan kita lebih banyak dari kejahatan kita. Kalau itu ukurannya, kita semua akan kalah. "Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia" (Roma 11:6). Tidak ada perbuatan baik yang dapat kita lakukan untuk membawa kita masuk surga (Titus 3:5).

      Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan karena Dia adalah satu-satunya yang dapat membayar hutang dosa kita (Roma 3:23). Tidak ada agama lain yang mengajarkan hal tsb dan seriusnya dosa kita dan akibat-akibatnya. Tidak ada agama yang menawarkan pembayaran dosa seperti yang disediakan oleh Yesus. Yesus haruslah Allah supaya Dia dapat membayar hutang dan dosa kita. Yesus harus menjadi seorang manusia supaya Dia bisa mati. Keselamatan hanya tersedia melalui iman di dalam Yesus Kristus! "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kisah 4:12).

    2. Fakta Atas Penebusan

      Secara dejure dapat diartikan bahwa Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa kita semua sebagai org Kristen yg percaya kepada-Nya. Kristus telah mati untuk membebaskan kita semua dari segala kejahatan dan dosa. Hal ini sesuai dgn ayat di Titus 2:14 yg berbunyi demikian: Yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.

      Secara defacto dapat diartikan pada saat kita menerima Yesus sbg juru selamat kita. Secara defacto kita perlu mengusahakan keselamatan diri kita dgn berbuat baik sesuai dgn kehendak-Nya. Kita perlu mengusahakan kehidupan yang bebas dari kutuk dan dosa.

    3. Fakta Atas Pertobatan

      Di dalam Perjanjian Lama dapat kita lihat bahwa pertobatan yg sejati itu terjadi pada diri Raja Daud. Berikut ini merupakan buah-buah dari hasil pertobatan:

      • Dihidupkan bersama-sama dengan Kristus
      • Memiliki tempat di Sorga
      • Memperoleh kekayaan kasih karunia
      • Diselamatkan karena iman
      • Melakukan pekerjaan baik
      • Ada rencana Allah bagi kita.
    4. Fakta Atas Kebangkitan

      Tanpa kebangkitan Yesus Kristus, maka iman Kristen tidak mungkin muncul dan menjadi sia-sia belaka. Kekristenan mula-mula sangat bergantung kepada kepercayaan murid-murid-Nya bahwa Tuhan telah membangkitkan Yesus dari kematian.

      Yesus Kristus bangkit dgn kuasa-Nya sendiri. Yesus mempunyai kuasa untuk memberikan nyawa-Nya dan untuk mengambilnya kembali (Yohanes 10:18). Kebangkitan-Nya dari kematian merupakan materai atau persetujuan dari Allah Bapa akan kebenaran pernyataan Yesus mengenai diri-Nya yaitu sbg anak Allah.

      Tanpa kebangkitan Yesus, posisi Yesus sebagai Mesias dan Raja tidak akan dapat terjelaskan.Tanpa kebangkitan, pencurahan Roh Kudus yg diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya akan meninggalkan misteri yang tidak dapat dijelaskan. Tanpa kebangkitan, sumber kesaksian murid-murid akan hilang dan tdk mempunyai makna yg berarti.

    5. Fakta Tentang Yesus sebagai pengganti diri kita

      Karena begitu besar-Nya kasih Yesus akan dunia ini, sehingga Yesus mau menukar hidup-Nya demi menyelamatkan kita semua dari dosa-dosa agar kita menjadi selamat.

      Paulus menghimbau orang Kristen di Korintus untuk merayakan festival Paskah yang di dalamnya Kristus, domba Paskah kita, telah dikorbankan (1 Kor 5 : 7, 8).

      Cara hidup kita di dunia ini harus sesuai dengan standar Kerajaan Allah. "Tidak seorangpun dapat melihat kerajaan Allah kecuali ia dilahirkan kembali...kecuali ia dilahirkan dari air dan Roh Kudus" - (Yoh. 3 : 3 - 5).

      Dengan demikian menurut Yesus kita harus dilahirkan dari air dan Roh Kudus. Dilahirkan dari Roh Kudus menandakan memasuki kehidupan baru dengan mengalami perubahan pikiran dan hati.

      Di dalam II Petrus 1 : 4, yg berbunyi demikian: Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yg berharga dan yg sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dlm kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yg membinasakan dunia.

      Di dalam ayat tsb terkandung maksud yg baik yaitu supaya kita mengambil karakter ilahi, dgn demikian karakter Allah akan dipulihkan kembali dalam diri dan kehidupan kita.

    Gresham Machen

    Gresham Machen (GM)(1881-1937), adalah teolog dan pakar biblika dalam tradisi Presbyterian, yang terkenal dengan salah satu bukunya, Christianity and Liberalism, di mana ia mengkritik habis apa yang ia anggap sebagai kesalahan-kesalahan Kristen Liberal yang menyebabkan melorotnya pamor dan pertumbuhan Kekristenan di tempat-tempat yang sudah dirasuki semangat Liberalisme. Kita tidak ingin terjebak dahulu dalam pembedaan istilah "liberalisme" vs "post-liberalisme" karena yang lebih penting bukanlah namanya, melainkan substansi, karakteristik, di balik fenomena yang dikritik GM. Fragmen lainnya dari buku GM dengan judul di atas bisa dilihat di http://www.biblebelievers.com/machen/.

    Salah satu kritikan GM ialah bagaimana mungkin seseorang (Liberal) mengaku menancapkan segala otoritas bukan pada Alkitab, tetapi pada diri Yesus, ketika pada saat yang sama ia sibuk mengkualifikasi, mempreteli, mendekonstruksi, ucapan-ucapan Yesus seperti yang terekam di dalam lembaran-lembaran PB? Tradisi Kristiani telah memberikan tempat yang sedemikian tingginya pada orisinalitas dan otoritas ucapan-ucapan tsb sehingga menyangkal hal ini sama artinya dengan penyangkalan terhadap otoritas pada diri Yesus itu sendiri. Jika GM hidup dan menyaksikan Jesus Seminar (JS), tentunya JS adalah salah satu target yang paling pas bagi kritikan GM. Bagaimana mungkin JS tetap mengaku sebagai Kristiani dan menempatkan Yesus sebagai otoritas tertinggi, sementara mereka dengan begitu entengnya membuang ucapan-ucapan Yesus (sebagaimana yang secara tradisional tidak pernah dipertanyakan keabsahan dan orisinalitasnya) dengan permainan dadu warna-warni untuk menentukan mana yang "asli" dan mana yang "palsu"? Yang bisa disimpulkan dari posisi GM ialah "scholarship" (sengaja diberi tanda petik) yang menjungkirbalikkan tempat tinggi yang diberikan kepada keutuhan dan orisinalitas apa yang tertulis mengenai dan diucapkan Yesus di dalam PB, adalah jenis scholarship yang tidak berhak mengklaim dirinya meletakkan otoritas tertinggi pada Yesus. Otoritas tertinggi bukan lagi pada Yesus atau Alkitab, tetapi pada *metodologi saintifik* (beserta segala bagasi presuposisinya) yang dipergunakan untuk melontarkan verdict kepada Yesus dan PB.

    Keyakinan GM juga diikuti oleh hampir semua kaum Injili yang menuding perongrongan terhadap Alkitab melalui "akrobat saintifik" tadi sebagai biang-kerok matinya Kekristenan di Eropa. Berbeda dengan Eropa, Amerika Serikat, meskipun dianggap sebagai negara paling maju dan makmur di dunia, tetap mampu mempertahankan panorama eksistensi Kekristenan yang subur. Dan, masih menurut GM dan kaum Injili, kesuburan dan keberlangsungan ini tetap dapat dipertahankan karena sebagian besar konstituen Kristiani di AS tetap berpegang teguh pada tradisi Kristiani "historis", yang salah satu keyakinannya ialah tetap mempertahankan otoritas Alkitab sebagai yang tertinggi tanpa merasa gatal-tergoda untuk mempretelinya dengan berbagai akrobat saintifik hanya demi untuk mengikuti arus jaman.

    Yang menjadi pertanyaan menggelitik (dan yang telah dilontarkan oleh satu-dua orang netter di sini): Benarkah keyakinan GM dan kaum Injili tsb mengenai bagaimana menjaga eksistensi Kekristenan agar tidak pudar?

    Harmoni

    Penulis : Andar Ismail

    KUNG Fu Tse (551 - 479 SM), pendiri agama Khonghucu, pada suatu hari ditanya oleh para muridnya, "Guru, Pangeran Wei sedang menantikan Anda, apakah yang akan Anda lakukan pertama-tama di tempat pangeran itu?" Kung menjawab, "Memperbaiki nama-nama." Para murid heran, "Apa perlunya?" Kung menjelaskan, "Kalau nama keliru, segala sesuatu menjadi keliru dan kacau, sehingga nanti orang tidak bisa membedakan di mana sepatutnya meletakkan kaki dan di mana meletakkan tangan." Demikian sebuah cuplikan dari kitab Lun Yu (Inggris: Analects) dari abad ke-4 SM.

    Yang dimaksudkan oleh Kung Fu Tse bukanlah nama seperti Ali, Budi, dan Cecep, melainkan nama dalam arti peran. Ali adalah pengurus sekolah, Budi adalah guru, dan Cecep adalah murid. Memperbaiki nama berarti memperbaiki perilaku dan kinerja supaya bisa berperan sesuai dengan peran masing-masing.

    Ali harus menjalankan perannya sebagai pengurus yang jujur, Budi harus mengajar dengan bijak, dan Cecep harus belajar dengan rajin. Kalau mereka tidak memperbaiki nama, maka hubungan menjadi rusak dan sekolah itu akan terpuruk. Tiap nama bisa menjadi rusak, sebab itu tiap hari orang perlu memulihkan nama.

    Pada kesempatan lain Kung Fu Tse berkata, "Hanya jika raja berperan sebagai raja dan rakyat berperan sebagai rakyat, hanya jika ayah berperan sebagai ayah, dan anak berperan sebagai anak, maka masyarakat akan harmonis."

    Menurut Kung Fu Tse jika tiap orang berada di tempat yang semestinya dan berperan sebagaimana mestinya, maka hidup dan segala hubungan hidup akan harmonis. Harmoni (Latin: harmonia = selaras, serasi) adalah salah satu kata kunci ajaran Kung.

    Harmoni memang merupakan sebuah kebutuhan dasar: harmoni dalam keluarga, harmoni dalam masyarakat, harmoni majikan dengan karyawan, harmoni agama yang satu dengan agama yang lain, harmoni negara dengan negara tetangga, harmoni manusia dengan alam, dan harmoni makhluk dengan Khalik.

    Harmoni menurut Kung Fu Tse terletak dalam hubungan yang sejati. Harmoni itu bukan ada dengan sendirinya, melainkan buah upaya dari iktikad menciptakan, memelihara, dan memulihkan hubungan.

    Buku Man�s Religion karangan John Noss menjelaskan, "The rectification of names consist in making real relationships and duties and institutions conform as far as possible to their ideal meanings." Artinya, memperbaiki nama adalah membuat hubungan, tugas, dan lembaga selaras mungkin dengan hakikat yang dimaksudkan.

    Hubungan serasi dan damai telah menjadi ciri agama Khonghucu selama 25 abad. Di Tiongkok, Korea, dan Vietnam, agama itu berdampingan bagaikan menyatu dengan agama Tao dan agama Buddha, sedangkan di Jepang dengan agama Shinto dan agama Buddha. Agama Khonghucu tidak defensif dan tidak ofensif, melainkan harmonis. Karena itu kitab ajaran Kung Fu Tse yaitu Lun Yu, Ta Hsueh, Chung Yung, dan Meng Tse, yang ditulis pada abad ke-4 sampai ke-2 SM, dipelajari di banyak seminari teologi di Eropa dan Amerika.

    Sejalan dengan Kung Fu Tse, juga Kristus mengutamakan harmoni. Menurut Kristus, harmoni yang paling mendasar berasal dari Allah sendiri. Allah berprakarsa memulihkan hubungan makhluk dan Khalik. Penyaliban dan kebangkitan Kristus merupakan puncak harmonisasi dari pihak Allah untuk berdamai dengan manusia.

    Selanjutnya Kristus menekankan bahwa pemulihan hubungan dengan sesama yang ada di depan mata harus didahulukan dari hubungan dengan Allah yang tidak bisa dilihat mata. Kristus bersabda, "Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu" (Matius 5: 23-24).

    Jiwa yang sehat tidak berisi rasa iri, dengki, dan benci, melainkan rasa dulur (Sunda: bersaudara), syukur dan akur. Jiwa yang waras bernapas dari hidup yang selaras. Bukankah tiap sanubari mencari serasi dan tiap hati mencari harmoni?

    Hormat Kepada Para Penguasa

    "Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita." (Rom. 13:5, LAI).
    Sabbath, 7 August Perspektif David

    PENDAHULUAN
    1 Sam. 26:23

    Tampaknya jauh lebih gelap dari dasar goa tempat persembunyianku. Bulan tampak keperakan. Langit berawan bermain petak umpet dengan kelipan bintang. Aku tidak mendengar apapun, bahkan tidak simponi jangkrik-hanya napas pendek dan dangkal dari orang yang terbaring di tanah. Dia berbalik. Jendral Abner terbaring dalama tumpukan tak jauh dari situ. Para pengawal menggorok dengan kerasnya, tubuh mereka yang kecapekan menutupi bebatuan.

    Sebercak cahaya dipantulkan oleh emas yang melingkari kepalanya. Tombaknya tertancap di tanah. Panjinya terjuntai dan bergoyang oleh tiupan angin sepoi. Ya, ini adalah Raja Saul, orang yang memburuku seperti binatang buruan. Dia telah jatuh dari Allah. Bagaimana Allah kok ingin dia jadi raja? Samuel telah mengurapiku sebagai raja Israel. Sekarangkah waktunya?

    Apa itu penguasa? Apakah Allah benar-benar awal dari semua penguasa? Apakah penguasa itu memilih untuk mengikuti Allah atau tidak itu adalah pilihan mereka. Allahku bukanlah Allah yang pemaksa. Aku tahu Dia menginginkan aku untuk mengikuti Dia, jadi menjadi yang paling baik dari kemungkin yang mungkin. Sekarang apa pilihanku?

    Apakah Allah punya hak untuk jadi pengendali? Ya! (Maz. 100:3). Hak apa yang dipunyainya untuk jadi pengendali? Segalanya! (Kej. 1:1, Maz. 47:7). Bagaimana hal ini mempengaruhi hubunganku dengan Allah? Allah telah memberikan kita figur penguasa sebagai teladan dari apa yang diinginkannya. Raja Saul telah membuktikan bahwa dia tidak lagi ingin mengikuti Tuhan Allah kita. Saya tahu, walaupun begitu, bukanlah jadi alasan bagi kita untuk tidak menghormati dia atau, paling jelek, mencelakainya dalam hal apapun.

    Ini adalah kali kedua aku menghadapi keputusan seperti ini. Disini dia tertidur. Tidak ada seorangpun yang tahu aku di sini. Aku tahu bagaimana cara membunuh. Banyak pertempuran telah mengajarkanku caranya. Sekali pukul maka akan selesai segalanya. Tetapi apa akibat dari pengambilan nyawa ini? Akhirnya aku akan jadi raja juga. Tetapi akan jadi seperti apa aku ini nantinya, dari kerajaan Allah? Dapatkah aku menjadi Raja yang diberkati Allah? Apa yang diinginkan Allah aku lakukan?

    Disini saya berdiri. Ditanganku aku memegang tombak yang bukan milikku, buli-buli air yang bukan milikku. Aku berteriak. Aku memanggil. Dia mendengar. "TUHAN menyerahkan engkau pada hari ini ke dalam tanganku, tetapi aku tidak mau menjamah orang yang diurapi TUHAN" (1 Sam. 26:23 LAI)

    Bagi sobat-sobatku di tahun 2004 satu-satunya waktu seseorang tidak mesti mematuhi figur penguasa adalah pada waktu mereka memberikan perintah yang bertentangan dengan hukum Allah (Kis. 4:19 LAI). Kita (ya, kita juga) perlu untuk mengerti pentingnya mendengar dan mematuhi para figur penguasa bumi. "Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi," Kita melakukan semuanya ini demi Tuhan. Allah ingin kita mengetahui bahwa Dia adalah raja kita, seseorang yang dapat dipercaya dan dipatuhi. Allah menginginkanku untuk menjadi Teladan kepada dunia tentang bagaimana para pengikut Allah menghubungkanku dengan orang lain (ayat 15-17).. Allah menginginkanku untuk menunjukkan kepadaNya kesetianku dan melakukan apa yang dimintaNya karena kasihku kepadaNya (Yoh. 14:15)

    Aku tidak sempurna, banyak kali aku berantakan. Ambillah kebenaran ini dariku untukmu: Allah menginginkau suatu hubungan yang padu, kasih, hidup, dan rajani dengan kamu. Aku tahu itu! (Maz. 9:9-11).

    Dalam Kasih Allah, hambamu,

    David bin Isai

    Richard Gray, Mount Pearl, Newfoundland

    Kutipan: Apakah Allah benar-benar awal dari semua penguasa?

    Minggu 8 August Apakah saya Warganegara Model?

    LOGOS

    Matt. 5:13-16; 22:15-21; Kis 5:29; Rom. 13:1-5; 1 Pet. 2:13-15

    Kota Di atas Gunung (Mat 5:13-16)

    John Calvin menyatakan Genewa segagai "Kota diatas Gunung" (Mat. 5:14, LAI), dimana warganegara yang dipilih Allah mendemonstrasikan nasib akhir mereka dengan perbuatan baik. Pada tahun 1630, John Winthrop mengutip Mat 5:13-16 pada waktu dia mengungkapkan missinya dan teman-teman Puritannya di Massachusetts. Baru-baru ini administrator Gereja Advent telah mencoba untuk menciptakan masyarakat model di rumahsakit, industri, dan sekolah. Beberapa yang hidup di lingkungan ini menyenanginya. Tetapi seringkali usaha terbaik kita untuk menciptakan sorga di dunia ini melahirkan penolakan, kritik, dan kemarahan.

    Mungkin penterjemahan pada waktu Calvin dan Winthrop dalam menghormati perikop ini salah. Mungkin Jesus tidak membicarakan tentang membuat masyarakat Kristen. Sisa dari kotbah di atas bukit kelihatannya diarahkan kehubungan individu manusia dengan masyarakatnya. Masyarakat model rohani mengarah ke Parisian, suatu kepercayaan yang dapat diciptakan untuk orang-orang benar dengan cara membuat dan memaksakan aturan-aturan ketat. Kota yang dinyatakan Yesus bukanlah diterangi oleh lampu yang dinyalakan oleh pemerintah. Gantinya itu diterangi oleh banyak lilin kecil, diletakkan di jendela individu-individu, setiapnya digerakkan oleh rasa kepribadian yang menyatakan mereka membutuhkan terang.

    Kaisar versus Allah (Mat. 22:15-21; Kis. 5:29; 1 Pet 2:13-15)

    Sepanjang pelayananNya, Kristus menunjukkan ketidakpedulian terhadap politik yang membuat banyak murid menjadi frustrasi. Itu adalah era yang disebut sebagai pemimpin revolusioner. Tetapi pada waktu tentara Roma memaksa sahabat Yahudi mereka untuk menjadi kuda beban, Yesus mengatakan kepada yang tertindas untuk berjalan mil yang kedua (Mat. 5:41). Pada waktu orang-orang bangkit untuk mengangkat dia menjadi pemimpin mereka, Yesus menolak (Yoh 6:15). Pada waktu ditanya apakah pajak Roma yang mereka benci mesti diboikot dengan dasar keagamaan, Yesus mengatakan, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar" (Mat. 22:21, LAI)

    Bahkan dalam pengadilanNya Yesus menunjukkan hormat kepada Imam besar (Yoh. 18:21-23). Dan menurut Yesus, otoritas Pilatus untuk mengadili diberikan kepadanya oleh Allah (19:11). Baik imam besar maupun Pilatus menggunakan otoritas yang diberikan Allah dengan baik. Tetapi Yesus, melihat mereka sebagai alat Illahi, patuh sampai mati.

    Tetapi sebaliknya pengikutnya, Petrus dan para rasul, berdiri tegak melawan otoritas lokal mereka. Diinstruksikan untuk tidak mengajar dalam nama Yesus, mereka mengatakan kepada Senat, "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia" (Kis 5:29 LAI). Petrus sendiri akan dihukum dan tentu, menurut tradisi, dihukum, karena ketidak patuhannya kepada otoritas dunia. Tetapi Petruslah yang menasehati kita bahwa Gubernus dikirim oleh Allah untuk menghukum orang yang salah (1 Pet. 2-13-17). Apakah ini membuat Petrus sebagai orang yang bersalah?

    Lakukan apa yang dikatakan Paulus, bukan apa yang dilakukan Paulus? (Rom. 13:1-5)

    Dalam cara yang sama tulisan Paulus tampaknya berlawanan dengan tindakannya. Dia memerintahkan orang Kristen Romawi untuk mematuhi otoritas yang berkuasa. Tetapi dalam buku Kisah, kita baca bahwa Paulus ditahan karena memulai huru hara (Kis 24:5). Walaupun orang Kristen mula-mula tampaknya ingin menjadi warganegara model yang patuh akah hukum, mereka mempunyai reputasi untuk menjadi pembuat masalah.

    Tentu saja saya membesar-besarkan kontradiksi Paulus (dan juga Petrus) untuk penekanan argumen. Ada bukti bahwa Paulus bangga menjadi warganegara Roma (21:39). Dia naik banding ke sistem pengadilan Roma untuk menyelamatkan dia (22:25; 25:10, 11). Salam seperti banyak orang lain dalam masyarakatnya, dia rindu untuk mengunjungi kota terkenal itu, hanya saja dalam kasus Paulus adalah mimpinya untuk mengevangelisasi ibukota kerajaan itu (Rom 1:15).

    Paulus (seperti Yesus) tidak ingin merubah dunia dengan revolusi massa, tetapi dengan perubahan individu. Sebagai warganegara dia mengagumi sistem Romawi, tetapi sebagai orang Kristen dia mempunyai iman akan otoritas Allah yang lebih tinggi. Pada waktu pengadilan Roma menjatuhkannya, iman Paulus akan Illahi dibangkitkan oleh kunjungan malam Yesus di penjara. "Kuatkanlah hatimu" kata Yesus kepadanya, "sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma." (Kis. 23:11, LAI)

    Setia sampai Mati (Fil 1:19-21)

    Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk menjadi setia kepada figur otoritas pilihan Allah. Tetapi jika otoritas itu bertentangan dengan hukum Allah, HukumNya yang terutama.

    Seperti Yesus, Petrus, dan Paulus, Orang Kristen dari seluruh generasi telah menemukan diri mereka ditangkap karena iman mereka. Tetapi sementara Petrus mengayunkan pedangnya di taman Yesus memperingatkan dia, kita tidak membela Tuha kita dengan paksaan. Sebagai gantinya penurutan kita akan otoritas mestilah penurutan sampai mati.

    Mungkin seperti Pulus, kita dapat men356akan, "bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil" (Fil. 1:19-21).

    REAKSI

    Senin 9August "Kita Mesti Mematuhi Allah"

    KESAKSIAN

    Kis 4:18-20; 5:27-29

    Prinsip yang mendasari para murid tidak takut bersaksi pada waktu menjawab perintah untuk tidak lagi berbicara atas nama Yesus, mereka menyatakan, "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah" (Kis 4;19 LAI) adalah sama pada waktu Pengikut Injil berjuang untuk bertahan pada waktu Reformasi. Pada tahun 1529 para Pangeran Jerman berkumpul di DPR Spires, disana dinyatakan dekrit Emperor yang membatasi kebebasan beragama, dan melarang lebih lanjut semua bentuk penyebaran doktrin reformasi. Tampaknya harapan dunia akan dihancurkan. Apakah para pangeran akan menerima dekrit itu? Apakah terang injil akan dipadamkan dari banyak orang yang masih berada dalam kegelapan? Masalah dunia yang luar biasa dipertaruhkan. Mereka yang telah menerima iman reformasi bertemu bersama, dan keputusan mufakat bulat mereka adalah, "Marilah kita menolak dekrit ini. Dalam bentuk hati nurani si mayoritas tidak mempunyai daya".1

    Kita mesti tegas dalam mempertahankan prinsip pada zaman ini. Panji-panji kebenaran dan kebebasan beragama yang ditegakkan oleh para pendiri gereja injil dan oleh saksi-saksi Allah selama berabad-abad telah lewat sejak itu, dan pada zaman akhir ini telah diserahkan kepada tangan kita. Tanggung jawab untuk pemberian besar ini terletak pada siapa yang Allah telah berkati dengan pengetahuan akan Firman Nya. Kita mesti menerima Firman sebagai otoritas utama. Kita mesti menghormati pemerintahan manusia sebagai bagian dari pilihan illahi, dan mengajarkan untuk menurutinya sebagai tugas suci kita, dalam lingkungan legitimasinya. Tetapi jika perintahnya bertentangan dengan perintah Allah, kita mesti mematuhi Allah lebih daripada manusia. Firman Allah mesti diyakini diatas semua hukum manusia. Jadi "demikianlah Firman Tuhan" jangan dikesampingkan menjadi "demikianlah menurut Gereja" atau "Menurut hukum negara". Mahkota Kristus mestilah diangkat lebih tinggi diatas mahkota penguasa dunia.

    Kita tidak disuruh untuk menantang otoritas. Kata-kata kita, apakah lisan atau tulisan, mesti secara hati-hati dipertimbangkan, agar kita tidak menjebak diri kita sendiri dan tercatat sebagai pencetus yang membuat kita tampak sebagai antagonistik kepada hukum dan peraturan. Kita tidak boleh mengatakan sesuatu atau apapun yang tidak perlu yang akan menutup pintu bagi kita. Kita mesti maju dalam nama Kristus, memajukan kebenaran yang dinyatakan kepada kita. Jika kita dilarang oleh manusia untuk melakukan pekerjaan ini, maka kita boleh mengatakan, seperti para rasul, "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." (Kis. 4:19-20).

    REAKSI

    1. Merle d"Aubigne, History of the Reformation, b. 13, ch. 5.

    2. Acts of the Apostles, pp. 68, 69.

    Trudy J. Morgan-Cole, St. John"s, Newfoundland

    Kutipan: Masalah dunia yang luar biasa dipertaruhkan

    Selasa 10 August Bagi Allah dan Negara

    BUKTI

    1 Pet. 2:13; 15

    Sebagai orang Kristen, kadang kita mungkin heran bagaimana orang Kristen yang lain dapat bekerja dalam pemerintahan dan politik. Melalui media kita sering melihat skandal pemerintahan dan kejatuhan pribadi banyak pemimpin. Aksi-aksi mereka dianalisa dan publik sering bereaksi dengan respon otomatis yang hampir sama: "Mereka semua sama seperti itu-dia hanya tertangkap saja," "Ada sesuatu yang salah dengan system," atau "Makanya aku menjauh dari hal seperti itu".

    Pertanyaan bagi orang Masehi Advent yang tidak percaya akan sistem politik dan karenanya tidak ikut campur: Apa pengaruh, atau potensi pengaruh, dari tidak ikut serta? Tidak dapat diragukan lagi, banyak pendukung mantan wakil presiden AS Gore mempertanyakan diri mereka sendiri pada akhir tahun 2000. Dan mungkin juga lebih pada yang lega bagi pendukung presiden Bush.

    Pemerintahan dan pelayanan publik yang ideal adalah sesuatu yang perlu diikuti oleh orang Kristen. Demokrasi dibangun untuk memastikan bahwa kebutuhan dan keinginan masyarakat didengar dan dipenuhi. Sebagai orang Advent Hari Ketujuh, jika kita mengeluarkan diri kita dari proses politik publik, kita mengambil risiko untuk menjadi kadaluarsa dalam kemampuan kita mewakili diri kita sendiri dan yang kita layani. Jika kita sebagai gereja benar-benar mewakili kepentingan Allah, kita perlu memastikan bahwa kepentingan gereja dikenal dan dipertimbangkan oleh kelompok berkuasa dari masyarakat dunia kita.

    Ini bukan berarti kita mesti membuat partai politik sendiri, bergabung dengan lobbyist, atau meninggalkan pelayanan gerejani kita untuk melayani politik. Maksudnya dalah kita perlu mencari jalan sedemikian rupa untuk mempunyai pengaruh dalam semua tingkat pemerintahan. Jika kita bekerja di pemerintahan sebagai Pegawai Negeri, anda mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang disekitarmu dalam cara yang positif-dengan cara bagaimana anda mencerminkan Kristus dalam hidupmu. Engkau mempunyai cara untuk membantu orang yang membutuhkan pertolongan dengan cara mewakili kebutuhan mereka ke pengambil keputusan. Anda juga mempunyai kemampuan untuk mengajukan perubahan yang menguntungkan dalam hukum pada saat anda melayani pembuat hukum.

    Keikut campuran anda didalam politik dan pemerintahan dapat membuahkan tantangan. Tidak dapat diragukan ada tindakan-tindakan yang terjadi yang membuat kita sebagai gereja tidak dapat maafkan. Tetapi seseorang mesti kembali ke pilihan fundamental: Jauhi proses publik untuk menghindari pertanyaan moral potensial atau bekerja di dalam sistem untuk membuat perubahan efektif melalui teladanmu sebagai orang Kristen.

    REAKSI


    Craig Ennis, Mount Pearl, Newfoundland 2

    Kutipan: kadang kita mungkin heran bagaimana orang Kristen yang lain dapat bekerja dalam pemerintahan.

    Rabu, 11 August Apa arti Kewarganegaraan

    BAGAIMANA

    Rom. 13:1-7

    Orang Kristen diberkati sebagai bagian dari kerajaan sorga. "kewargaan kita adalah di dalam sorga" (Fil. 3:20 LAI). Kita telah dikirimkan kekerajaan oleh putra Allah (Kol. 1;13; Wah. 1:9).

    Tetapi sebagai musafir kita hidup dan bekerja dibawah pemerintahan manusia, yang termasuk berbagai sistem politik (demokrasi, kerajaan, kediktatoran), menawarkan berbagai tingkatan kebebasan dan tanggung jawab.

    Argumentasi Paulus tegas bagi kita untuk patuh kepada orang dalam kepempimpinan politik dan kita mesti membayar kewajiban pajak kita tanpa mengeluh. Sejak Allah telah menegakkan peraturannya, kita tidak dapat meminimumkan tugas kita, tanggung jawab, dan hormat kepada orang yang mempunyai otoritas didunia ini. Marilah kita tidak memikirkan peraturan dan hukum, tetapi angkatlah Tuhan kita sebagai pertimbangan utama kita (Rom. 13:1-7). Kita mesti mematuhi Allah diatas manusia dan menghindari terkait dengan masalah kehidupan yang dapat mengabaikan pelayanan kita kepada Allah (2 Tim 2:4). Apa yang diberkati Allah manusia akan korupkan dan binasakan untuk keperntingan mereka. Karena Allah yang mengangkat pemerintah dan wakil-wakilnya, jika kita menghormati dan memuliakan Allah, maka kita juga akan menghormati dan memuliakan pemerintahan ini (Amsal. 8:15; Dan 2:21).

    Kita diingatkan untuk mematuhi otoritas yang memerintah. Otoritas yang memerintah yang ada telah diangkat Allah (Rom 13:1). Allah telah menetapkan pemerintahan dan bahkan membawanya kepada kekuasaan untuk tujuan dan kemulianNya (1Pet. 2:11-17). Allah bahkan menggunakan pemerintahan yang jahat untuk tujuan keillahianNya (Kel. 1:9).

    Kita disuruh untuk membayar kewajiban kita. Sebagai tanda patuh, kita mesti membayar pajak (Rom 13;6,7) dan retribusi lainnya. Pajak dapat merupakah tanda kepatuhan kepada Allah karena patuh hukum merupakan perintah Illahi. Jadilah seorang warganegara yang baik dan bayarlah kewajiban anda dengan tepat tanpa mengomel (Mat. 22:21).

    Kita mesti menghormati dan terus menerus berdoa untuk orang yang berada dalam kekuasaan. Kita mesti menghormati Polisi dan otoritas lainnya, sama seperti menopang dan berdoa untuk mereka. Kita mesti mendoakan pemimpin kita apakah kita menyukai atau membenci mereka. Kita mesti memohon, berdoa, dan mengantara (1 Tim 2:1,2). Jika kita ingin hidup dalam damai, kita mesti mendoakan orang yang memerintah, agar Allah menuntun mereka kepada damai.

    REAKSI


    Katherine Robin MacBay, St. John"s, Newfoundland

    Kutipan: Kita diingatkan untuk mematuhi otoritas yang memerintah

    Kamis, 12 August Menjaga ucapan kita

    PENDAPAT

    Matt. 5:13-16

    Kita sebagai orang Kristen adalah garam dunia, sama seperti masalah politik adalah garam petugas pemerintahan. Sebagai orang kristen kita diharapkan untuk bertindak baik dan adil dan dapat dipercaya dan jujur terhadap orang lain.

    Pemerintah juga diharapkan untuk bertindak yang sama, adil dan dapat dipercaya pada waktu berhubungan dengan masalah politik tidak peduli masalah apapun itu. Petugas diharapkan untuk menepati ucapannya.

    Beberapa orang percaya bahwa pemerintah akan menepati janjinya untuk masalah politik. Tetapi kebanyakan pemerintah tidak mematuhinya. Inilah saat pemerintah kehilangan kepercayaannya. Para politisi tidak menepati janjiknya, dan sekarang susah bagi orang untuk mempercayainya. Ini juga dapat berlaku bagi kita orang Kristen. Jika kita melanggar janji, bagaimana teman kita dapat mempercayai kita kembali?

    Yesus mengatakan, "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang" (Mat. 5: 13 LAI).

    Inilah yang kita rasakan bila seseorang mengingkari janjinya, kita merasa kita ingin menginjak-injak mereka untuk apa yang telah lakukan kepada kita. Beberapa orang merasa seperti itu pada saat politisi ingkar janji untuk masalah politik yang telah dijanjikannya. Beberapa merasa politisi telah menginjak-injak mereka.

    Karena itu saya rasa anda dapat mengatakan bahwa kita sebagai orang Kristen dapat menghubung-hubungkan masalah politik saat ini. Kita juga mengingkari janji kita, karena dunia yang berdosa ini tempat tinggal kita, sama seperti pemerintah melanggar janjinya tentang masalah politik.

    Tetapi Yesus menantang kita untuk menjadi berbeda dari dunia ini. Kita adalah garam dunia.

    REAKSI

    Vicki Hemeon, Botwood, Newfoundland

    Kutipan: Jika kita melanggar janji, bagaimana teman kita dapat mempercayai kita kembali?

    Jum´at, 13 August Saya menyatakan setia kepada domba.

    EKSPLORASI Rom. 13:5

    KESIMPULAN

    Menempel kepada otoritas dunia merupakah keputusan pribadi dan tidak dapat dipaksakan; bagaimanpun, kita mesti patuh dengan kehati-hatian, karena kalau tidak hukum manusia akan bertentangan dengan hukum Allah. Tugas kita adalah berpartisipasi dalam pelayanan publik dan pemerintahan, dengan penuh hati-hati mempertimbangkan tindakan dan kata-kata kita. Pemimpin yang memerintah diangkat illahi untuk tujuanNya. Karenanya, kita mesti patuh dan horamt, mendoakan mereka dan memenuhi kewajiban kita. Pada waktu memilih hukum Allah, kita mesti merendahkan diri, mencerminkan kasihNya, hormat, dan integritas dalam kehidupan sehari-hari kita untuk memenangkan jiwa bagi sorga. Tantangan kita adalah mematuhi kata-kata kita, sehingga apapun kita pilih akan benar-benar memuliakan Allah.

    PERTIMBANGKAN


    HUBUNGKAN

    Henry David Thoreau, Civil Disobedience Natasha L. Kohlhoff, Indianapolis, Indiana

    Hukum Ke-10 Membangunkan Setiap Orang (1)

    Penulis: Robert J. Wieland

    Jangan mengingini .apapun yang dipunyai sesamamu." (Keluaran 20:17).

    Sepuluh Hukum adalah Kabar Baik tentang apa yang Juruselamat lakukan. Sebagian besar orang melihat Sepuluh Hukum sebagai peraturan keras yang tidak mungkin dituruti, meskipun demikian Allah memberikannya pada umat-Nya di Gunung Sinai sebagai sepuluh pesan mulia dari Kabar Baik.

    Allah berfirman, Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. (Keluaran 19:4). Pikirkan bayi elang yang berusaha belajar terbang; bayangkan itu adalah anda. Anda mengepakkan sayap secara panik dalam ketakutan sewaktu anda melihat dasar tanah semakin mendekat; kemudian datanglah sang ibu dengan sayapnya yang terkembang gagah di bawahmu. Dia terbang di bawahmu dan membawamu pulang dengan aman. Inilah yang Juruselamat lakukan untuk setiap manusia yang bersedia membiarkan-Nya melakukan hal itu!

    Itulah arti dari kata succordalam Ibrani 2:18 : Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong (succour) mereka yang dicobai.Ya, dosa telah menghancurkanmu; anda akan jatuh; tetapi inilah Aku, Aku telah membayar harga untuk menebusmu. Percayalah kepadaKu, dan Aku meyakinkanmu bahwa kamu tidak akan pernah melakukan perbuatan jahat yang telah diperingatkan oleh Sepuluh Hukum untuk kamu lawan.

    Orang-Orang perlu tahu hal ini!

    Jutaan orang tertangkap seperti seekor lalat di sarang laba-laba dalam keputusasaan, berpikir bahwa tidaklah mungkin mengalahkan godaan untuk berdosa. Mereka perlu tahu kebenaran tentang Penyelamat ini yang telah membawa kita keluar dari perbudakan!

    Hukum ke-sepuluh adalah yang terkuat dari seluruh Sepuluh Hukum, hukum yang membidik tepat ke tingkat paling sensitif dari kesadaran kita. Dikatakan,Jangan mengingini .apapun atau siapapun yang dipunyai sesamamu."

    Untuk memperjelas hal ini, Allah menjelaskan beberapa hal yang kita tidak boleh ingini.(Kata itu berarti berhasrat, mau memiliki, mau menikmati apa yang bukan milik kita). Ide tersebut merangkum keseluruhan dari sembilan hukum yang lain, tapi menuju ke akar masalahnya hasrat yang membakar jauh di dalam hati jauh sebelum sesuatu diucapkan atau dilakukan untuk mengungkapkannya. Ketamakan adalah tindakan dalam sebuah telur.Orang yang tamak adalah seorang pencuri di dalam rumah; seorang pencuri adalah seorang yang tamak di luar rumah.

    Sebagai contoh, hukum ke-10 mengatakan, Jangan mengingini.istri sesamamu.(bisa saja sama halnya dengan mengatakan, suami sesamamu). Hal ini berbicara tentang berahi yang tertanam jauh di dalam hati dimana tidak ada orang lain yang bisa melihat atau menebaknya.

    Yesus mengerti hukum ke-10 ini ketika Dia mendefinisikan apa itu perzinahan yang sebenarnya atau persetubuhan di luar nikah: Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.(Matius 5:27,28). Itulah inti dari pornografi. Itulah ketamakan (menginginkan milik orang lain)!

    Wow! Tidak ada kata yang terucap, tidak ada tindakan yang dilakukan; seluruhnya rahasia; wanita(atau pria) itu bahkan tidak tahu apa yang ada di hatimu; meskipun demikian, menurut Yesus, dosa telah dilakukan!

    Banyak orang baik-baikmembayangkan bahwa mereka bukan pelanggar hukum Allah yang jujur karena tindakan mereka (mereka pikir) adalah baik. Mereka membual tentang kebenaranmereka. Tetapi hukum ke-10 ini adalah hukum yang membangunkan mereka pada kebenaran tentang diri mereka sendiri. Mereka belum pernah melihat itu sebelumnya, tetapi ada kanker jauh di dalam hati mereka.

    Saulus dari Tarsus adalah seorang yang demikian sebelum dia menjadi Paulus sang rasul.

    Allah memberitahu kita bahwa tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, .tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat, aku tidak bercacat(Filipi 3:5,6). Dia bukan hanya baik-baik saja, tetapi bangga karenanya. Tetapi suatu hari dia menemukan hukum ke-10 ini. Hukum ini sudah ada di sana jauh sebelumnya, dia hanya tidak melihatnya. Ini bukanlah seperti sebuah kapak yang memotong rubuh sebuah pohon atau beberapa dahan terlepas daripadanya; ini adalah seperti menggali keluar akarnya sendiri. Ya, kerinduan rahasia itu, berahi itu berada jauh di dalam hatinya! Kanker itu berada di sana! Dia tidak pernah melihatnya sebelumnya.

    Rasul Paulus memberitahu kita hasil penemuannya: Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati. Dan perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian.(Roma 7:9,10). Tiba-tiba saya menemukan diri saya sendiri terhukum, katanya. Semua khayalan diri saya hilang; Saya adalah seorang pendosa! Pada akhirnya saya melihat diri saya sendiri berdiri telanjang di hadapan penghakiman Allah.

    Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini (hukum ke-10!)" (ayat 7). Akhirnya Saulus dari Tarsus disadarkan dan ditobatkan.

    Hasilnya adalah dia berlutut dan mengakui dirinya sebagai orang berdosa yang membutuhkan kemurahan Allah. Dia membaca kembali mazmur penyesalan dari Daud, karena perzinahannya dengan Batsyeba, dan pembunuhan suaminya, Uria orang Het. Ya Allah, Aku pikir aku baik-bak saja sementara hatiku keras dan bangga karena tindakan luarku terlihat benar. Sekarang aku melihat dosa Daud sebagai dosaku; Aku tidak lebih baik dari dia. Ampuni aku, dan sucikan hatiku!

    Penemuan Paulus adalah penemuan setiap pria dan wanita juga.

    Kita menjalani hidup dipenuhi dengan diri kita sendiri, merasa secara rohani bahwa kita kaya, telah memperkaya diri dan tidak kekurangan apa-apa,sementara secara tidak disadari dalam pandangan Surga kita melarat, malang, miskin, buta dan telanjang(Wahyu 3:17).

    Dosa..yang ada di dalam aku........Di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Dosa.. yang diam di dalam aku..Aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?(Roma 7:17-24)

    Di sinilah Paulus berdoa dengan segenap perasaan dan air mata, seperti Daud yang berdoa Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, .Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!(Mazmur 51:7-12). Doa seperti itu tidak akan pernah tidak dijawab!

    Penemuan kebenaran ini adalah sebuah pengalaman yang berharga. Tidak ada yang harus dihindari, tetapi disambut. Kehidupan kekal dimulai ketika kita melihat dan mengakui kebenaran itu. Bahkan para pendeta, gembala jemaat, dan rasul semuanya berada dalam kondisi yang sama. Kita semua membutuhkan Seseorang yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka,................Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita.(Matius 1:21,23).

    Hukum ke-10 mengkhotbahkan Injil kepada kita ketika hal itu dimengerti sebagai sebuah jaminan di bawah Perjanjian Baru. Berjanji untuk memelihara hukum Allah tidak membawa kebaikan apa-apa bagi kita. Janji kita kepada Allah seperti sejerat pasir. Yang penting adalah percaya apa janji Allah bagi kita: Jangan mengingini.Dengan kata lain, Sang Juruselamat mengatakan:

    1. Aku akan mengambil alih nafsu egois yang ada di dalam hatimu;

    2. Aku akan membersihkan pikiranmu;

    3. Aku akan membebaskanmu dari perbudakan perzinahan atau apapun bentuk keinginan berahi;

    4. Aku tidak dapat membuatmu tidak mungkin dicobai, tetapi aku dapat memberikanmu kasih karunia yang akan mengajarimu untuk berkata Tidakterhadap hasrat yang tidak suci dan duniawi, dan untuk menghidupkan pengendalian diri, kehidupan yang suci dan jujur di zaman sekarang ini(Titus 2:11,12)

    bersambung ...

    Hukum Ke-10 Membangunkan Setiap Orang (2)

    Penulis: Robert J. Wieland

    Seorang pria muda menulis surat kepada kami.

    Dia terganggu, khawatir. “Ini adalah masalahku siang dan malam, memikirkan tentang wanita. Saya melihat mereka setiap waktu dalam mata pikiran saya. Saya tidak dapat menoleh ke arah lain saat saya menatap seorang wanita. Masalah itu turun jauh ke dalam diriku, sampai ke bawah jari kaki. Apa yang dapat saya lakukan? Saya menyadari bahwa Yesus berkata semuanya ada di dalam hati; dan saya tahu di situlah tempatnya! Tolong saya!.

    Seringkali seseorang adalah budak dari pornografi yang dibencinya. Ia sama seperti kebiasaan dalam kerajaan Romawi kuno seorang pembunuh dirantai ke mayat korban pembunuhannya. Paulus berseru, Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? ..........Dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. (Roma 7: 24,25). Anda membawa polusi itu di sekitar anda, terantai kepada anda.

    Tetapi ada Kabar Baik yang kokoh. Paulus mengakui bahwa dengan sekedar mengutip hukum baginya tidak menolong apa-apa. “Perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian. Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan oleh perintah itu ia membunuh aku. (Roma 7: 10,11). Anda dapat berkhotbah tentang api dan belerang neraka dan menakutkan orang-orang, tapi hal itu tidak merubah hati. Ketakutan bukanlah motivasi yang berhasil.

    Tetapi Paulus menjelaskan sesuatu yang berhasil: “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh. (Roma 8:2-4)

    Mari kita analisa apa yang dikatakannya, karena ini adalah kebenaran yang paling berharga :

    1. Hukum ke-10 tidak bisa menyelamatkan siapapun (tidak ada satu hukumpun yang dapat menyelamatkan).

    2. Tetapi Allah mengirimkan Anak-Nya untuk memecahkan masalah paling mendasar kita, turun ke bawah jari kaki dosa. Yesus mencapai prestasi yang indah ini dengan menimpakan kepada diri-Nya tubuh berdosa yang sama seperti yang kita miliki. Karena itu Dia menghadapi dan memikul semua pencobaan yang kita miliki, termasuk yang dihadapi oleh pria muda yang menuliskan surat ke kami.

    3. Yesus telah menang dan mengalahkan dosa di dalam tubuh kita yang telah jatuh dan berdosa. Tidaklah benar bahwa Perawan Maria memberikan kepada-Nya tubuh (daging) yang berbeda dengan yang kita semua miliki. Nama-Nya adalah “Allah beserta kita, bukan Allah jauh dari kita. Tidaklah adil bagi Yesus untuk menipu kita, berpura-pura berada dalam semua hal digoda seperti kita, tetapi tanpa dosa jika Dia memalsukannya dan berusaha mendapatkan pengecualian dari warisan DNA seperti yang kita semua miliki. Jika Yesus melakukan hal itu, Setan akan berteriak kepada surga bahwa Yesus mendiskualifikasi diriNya sendiri untuk menjadi Juruselamat kita terhadap dosa! Setan akan menuntut bahwa dia telah menemukan hal yang mengalahkan pemerintahan Allah, dan akan berarti bahwa Setan akan menjadi penguasa alam semesta ini (beberapa orang berpikir dirinyalah penguasa, tapi mereka salah mengerti).

    4. Semua pencapaian luar biasa yang Kristus menangkan dalam “daging kita adalah dengan maksud bahwa “ketentuan hukum akan kekudusan/kebenaran dapat dipenuhi di dalam kita. Dosa telah ditaklukkan selamanya, dimana akar kejijikan dari nafsu yang egois di dalam hati kita telah ditarik keluar. Semua doa yang berlinangkan airmata untuk “sebuah hati yang bersih telah dijawab.

    5. Hidup baru seperti apa yang kita hidupi sekarang? Kita tidak berjalan seperti kehendak daging, tetapi seperti kehendak Roh Kudus. Sangat sederhana:
    - Anda berjalan di bawah pimpinan Roh Kudus;
    - Anda membiarkan Roh Kudus memegang tanganmu;
    - Langkah demi langkah, saat demi saat, kasih karunia mengajarkan anda untuk mengatakan Tidak kepada setiap pencobaan;
    - Anda mendengarkan Roh Kudus;
    - Dan anda berkata Tidak! pada pencobaan;
    - Sekarang anda katakan, Terima kasih, Allah, untuk menyelamatkan jiwaku.

    Namun di sini kita perlu mengerti bahwa pencobaan bukanlah dosa; dosa hanya datang saat kita berkata “Ya! kepadanya. Seribu godaan tidak sama dengan satu dosa. Kita tidak boleh mengharapkan Allah melakukan hal yang Dia sudah katakan tidak akan Dia lakukan; Dia tidak akan mengambilkan keputusan bagi kita, Dia tidak akan mengambil kebebasan kita untuk memilih. Tetapi ketika Kristus memberikan diri-Nya untuk kita di kayu salib, Dia membeli sesuatu yang berharga untuk setiap diri kita: Dia memberikan kita kuasa memilih. Ya, kita memilih surga atau neraka.

    Jadi kami katakan kepada pria muda yang menulis surat: jangan berdoa supaya Allah merubahmu menjadi sebuah batu atau pohon supaya kamu tidak dicobai; Dia tidak menginginkan patung di kerajaan-Nya. Dia menginginkan orang-orang yang hidup di sana! Kasih karunia-Nya akan mengajar anda, sama seperti guru sekolah mengajarmu bagaimana menulis ABC; Dia akan mengajarmu mengatakan “Tidak! untuk setiap pencobaan. Bahkan sebelum kamu mulai berdoa, Roh Kudus sudah “mengajar anda untuk mengatakan “Tidak! Anda tidak perlu kelelahan berdoa supaya Dia menolongmu. Sekarang buat keputusan untuk mendengarkan-Nya, untuk mengatakan “Tidak! kepada Setan. Kemudian, langkah selanjutnya timbul: berterima kasih kepada Allah untuk kemenangan yang Dia telah janjikan untuk diberikan kepadamu di dalam Kristus dan terus katakan Tidak! terhadap pencobaan.

    bersambung ...

    Hukum Ke-10 Membangunkan Setiap Orang (3)

    Penulis: Robert J. Wieland

    Setan adalah musuh yang dikalahkan; dia tidak dapat memaksamu untuk melanggar.

    Arti dari kata ketamakan adalah menginginkan dalam jumlah yang banyak segala sesuatu yang Allah lihat tidak cocok untuk diberikan kepadamu sekarang, dan mungkin tidak baik untuk anda miliki sekarang. Anda mungkin berpikir ketamakan terselubungmu tidak mungkin terungkap. Setan akan berusaha dengan susah payah dan mencoba kemampuan terbaiknya untuk melemahkan anda.

    Tapi ingat perlawanan yang Yesus lakukan dengannya; ingat salib-Nya ketika Dia memilih untuk mati dibandingkan mengalah terhadap Setan. Yang kita bicarakan di sini adalah tentang inti sari, dasar pokok dari penyelamatan, perbedaan antara surga dan neraka, antara kehidupan atau kutukan yang abadi.

    Ada ribuan hal yang dapat membuat kita untuk tergoda tamak apapun milik sesama yang tidak kita miliki. Rumah, mobil, baju, pekerjaan, posisi ya, surat kabar dan televisi penuh dengan iklan memikat yang bertujuan untuk menciptakan nafsu ketamakan di dalam hati kita. Ini adalah perbudakan yang tidak pernah berakhir yang terus akan memikat kita, membuat kita selalu tidak bahagia, selalu menghendaki hal yang lain, selalu mencari, tidak pernah puas. Kirimkan kami emas, karena kami orang Spanyol mempunyai penyakit yang hanya bisa disembuhkan oleh emas. adalah pesan tertulis dari Cortez kepada Montezuma, penguasa Meksiko. Kebahagiaan yang sejati terletak pada Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. (1 Timotius 6:6-8)

    Pemenuhan kepuasan yang diberkati! Yesus Kristus menyelamatkan kita Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. (Lukas 21:34).

    Kabar Baik yang sesungguhnya.

    Hukum ke-10 memberitahu anda bahwa anda memang telah berdosa; bahwa sesungguhnya anda memang mempunyai sifat alami dosa. Tetapi ia juga memberikan anda Kabar Baik bahwa anda memiliki seorang Juruselamat yang menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. (Ibrani 7:25). Siapapun anda, dimanapun anda berada, nyanyikan lagu pujian kepada Domba Allah. Ucapkan terima kasih, bahkan jika anda berpikir mengucapkannya terlebih dahulu; kebenarannya adalah, anda tidak berterima kasih kepada-Nya sebelumnya, anda berterima kasih kepada-Nya karena telah menumpahkan darah-Nya yang berharga kepadamu di kayu salibNya, lama sebelum anda menyadarinya! Membutuhkan waktu yang lama bagi anda untuk memahami dan menghargainya, tetapi terima kasih Allah, anda telah memulainya!

    Kehidupan kekal telah dimulai bagi anda.

    Sumber :situs Amazing Facts

    Hukum Ke-4 Perintah Hari Sabat Tuhan: Istirahat Bagi Jiwa-Keduniawianmu yang Letih

    Sumber: Situs LAI (www.alkitab.or.id)

    Ingat dan kuduskanlah hari Sabat (Keluaran 20:8)

    Tidak ada yang negatif dalam Sepuluh Hukum, walaupun seperti demikian halnya bagi orang yang belum mengetahui kebenaran Injil (Galatia 2:5). Kita telah melihat bagaimana tiga hukum pertama membuka gerbang kebahagiaan,dan bukan sebaliknya. Demikian juga halnya dengan hukum yang keempat.

    Bagaimana hukum keempat dapat menjadi satu kepastian perteduhan bagi jiwa-jiwa kita?
    Ini adalah satu perintah yang diacuhkan oleh hampir semua orang di dunia. Mengapa? Apakah karena sulit untuk dituruti? Tidak; Tuhan menyanggupkan setiap orang untuk menerima berkat Sabat yang terkandung didalamnya. Ini adalah bagian dari kekayaan karunia Tuhan yang diberikan pada siapapun yang bersedia menerimanya.

    Mari kita baca apa yang dikatakan:
    Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya (Keluaran 20:8-11).

    Tiada berujung berkat yang terdapat dalam hukum ini! Ini hanya beberapa :

    1. Berkat perhentian Sabat adalah untuk seluruh dunia.
    Tidak ada seorangpun yang terkecuali. Tuhan sedang berbicara kepada anda dan saya, bukan kepada orang Yahudi. Yesus berkata, Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat (Markus 2:27; wanita juga dibuat untuk laki-laki tetapi perkawinan bukan saja ditujukan untuk orang-orang Yahudi!). Laki-laki (man) berarti semua orang.

    Istirahat dalam pemeliharaan Sabat adalah kerinduan setiap hati manusia. Ini lebih dari sekedar tidur siang untuk beristirahat fisik dari pekerjaan. Ini adalah kedamaian hati. Para jutawan akan memberikan segala sesuatu untuk perhentian Sabat yang sebenarnya!

    2. Tuhan beristirahat pada hari Sabat untuk memberkati dan menguduskannya bagi kita.
    Karena Dia telah memberikan Sabat sebagai satu hadiah bagi dunia, hal ini dimaksudkan bagi kita untuk menikmatinya. Anda tidak pernah memelihara Sabat sendiri; anda bersekutu denganNya. Aku menyertai engkau, sabdaNya (Yesaya 41:10), dan Yesus berjanji, Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. (Yohanes 14:18, 23). Yesus dan Bapa akan tinggal bersama anda! (dan itu berarti sukacita!).

    Yesus berjanji, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20), tetapi hari Sabat membawa kita dalam satu hubungan yang intim denganNya. Ini seperti halnya Dia membuat janji dengan kita; dan bila Dia adalah obyek dari kebaktian kita yang penuh kasih, kita pasti akan memegang janji itu. Dan bukan saja sesekali; Sabat adalah hari khusus ketujuh dari setiap minggu.

    Sabat seperti lem yang mengikat semua hari dalam minggu itu bersama. Ini memberi alasan bagi seminggu. Tidak ada satu manusiapun yang menemukan perhitungan satu minggu; Itu diberikan Tuhan untuk dunia pada awalnya saat Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, seperti yang diberitahukan dalam Kejadian 1. Sabat adalah memperingati pekerjaan penciptaanNya; Evolusi tidak akan pernah berada di dunia untuk menipu begitu banyak orang bila saja dunia mengingat hari Sabat, menguduskannya . Oleh karena itu Sabat menjadi tanda umat Tuhan, dimana sabdaNya, Hari-hari Sabat-Ku juga Kuberikan kepada mereka menjadi peringatan di antara Aku dan mereka, supaya mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan mereka (Yehezkiel 20:12). Tanda Nya adalah seperti hal tanda tanganNya; ini seperti halnya Dia berkata, Saya telah mencari mereka, dan di sini mereka umatKu yang benar; mereka menyucikan SabatKu. Hal ini menandakan mereka sebagai khusus Kepunyaanku!

    3. Yesus sendiri menikmati persekutuan dengan umatNya setiap hari Sabat.
    Kita jarang berpikir tentang sukacita yang dibawakan oleh kita kepadaNya karena memelihara hari Sabat! Yesaya berkata, Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas (Yesaya 53:11). Hari Sabat adalah seperti sebuah pesta yang meriah; Dia mengundang kita setiap minggu untuk bertemu denganNya dan umatNya pada hari yang istimewa itu, dan bila anda tidak berada di sana, Dia sedih karena Dia merindukanmu.

    Tidak ada gangguan pada hari perayaan itu . Di dalamnya engkau tidak melakukan pekerjaan apapun Dia berjanji pada kita. Yehezkiel menjelaskan hari-hari lain dari sepanjang minggu itu sebagai enam hari bekerja (Yehezkial 46:1). Ada bermacam-macam gangguan pada hari-hari duniawi itu beban berat, bisnis, mencari nafkah, membeli dan menjual, TV dan radio, kekuatiran dan pekerjaan yang melelahkan kita, berita-berita bencana dan kejahatan. Tidak ada kedamaian dalam dunia.

    Tetapi pada hari Sabat semua gangguan disampingkan; itu seperti halnya kita meluangkan waktu satu hari bersama dengan Yesus dalam rumahNya, kita adalah tamu-tamunya, satu hari dengan hati yang damai, bebas dari kuatir, pelabuhan berteduh dari amarah badai laut, sebuah taman dilalui sungai dari Surga, mata air yang menyejukkan dalam kehidupan yang kering, melelahkan.

    4. Kita bahkan dibebaskan dari tagihan-tagihan yang jatuh tempo.
    Kita mengesampingkan semua urusan-urusan kita pada hari Sabat; kita tidak mau membuat hal ini menganggu kedamaian kita dengan Tuhan karena kita percaya bahwa Dia akan memelihara kita, Dia akan memberkati pekerjaan kita selama enam hari kerja sehingga kita memiliki kecukupan untuk membayar tagihan-tagihan tanpa kuatir. Alkitab memberitahu kita untuk meninggalkan rencana keuangan dan pembukuan kita sampai setelah Sabat, dan melakukan semua pekerjaan pada hari pertama minggu itu (lihat 1 Korintus 16:2). Jadi, hukum keempat yang indah ini menunjukkan pada kita bagaimana menikmati Sabat dengan Tuhan, bebas dari segala letih lesu, gangguan duniawi.

    Sabat menjadi seperti satu hari dimana Surga berada di bumi. Teristimewa anak-anak yang menaruh hormat dalam rumah sangat menyukai Sabat; mereka tidak sabar menunggu sampai Sabat yang akan datang . Saat Yesus berkata, Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." (Matius 19:14), Yang dimaksudkanNya adalah: biarkan mereka datang pada hari Sabat. Tetapi apabila kita tidak memelihara kesucian Sabat, demikian juga mereka.

    5. Hari ketujuh hari Sabat yang benar menjadi hari yang paling membahagiakan dalam minggu itu.
    Pada kalender yang digunakan oleh hampir di seluruh dunia, hari ketujuh disebut Hari Sabtu. Agar lebih meyakinkan, kita bisa memeriksa kembali dengan membaca Lukas 23:54, yang menceritakan tentang penyaliban Yesus : Hari itu adalah hari persiapan dan sabat hampir mulai . Jutaan orang memperingati Jumat Agung sebagai penghormatan akan kematian Yesus; hal ini menunjukkan Sabat yang benar, karena keesokan harinya adalah hari ketujuh hari Sabat. (Sebelumnya, Tuhan tidak pernah meminta kita dalam Alkitab untuk memperingati Jumat Agung sebagai penghormatan pada penyaliban Kristus Perjamuan Sucilah yang Kristus tunjukkan untuk diperingati).

    Dan sekali lagi kita bisa menunjukkan hari Sabat yang benar dengan membaca ayat selanjutnya dalam Lukas : Perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus . melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya dibaringkan. Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat, (ayat 55, 56). Ayat selanjutnya memberitahu kita kebangkitanNya pada hari Minggu : Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur....... tetapi mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu (Lukas 24:1,2). Kristus telah bangkit!

    Begitu jelas, bahkan seorang anak kecil pun bisa melihatnya segera : Hari Sabat menurut hukum adalah antara Jumat dan Minggu. ( Hari Tuhan di Wahyu 1:10 adalah Sabat, sebab Tuhan menyebut Sabat Hari KudusKu Yesaya 58:13).

    Itulah sebabnya mengapa hari ketujuh hari Sabat adalah hari yang paling menyenangkan dalam minggu itu: itu adalah hari dimana Tuhan menyebutnya Hari KudusKu KehadiranNya ada pada hari Sabat. Sejauh kita mengasihiNya, kita juga mengasihi hari suciNya.

    Banyak orang-orang tulus yang tidak melihat kebenaran ini.
    Apakah Tuhan telah merubah Hari suci SabatNya? Kita harus berhenti untuk memeriksa beberapa alasan mengapa hukum-hukum ini dikacaukan.

    Tidak, Tuhan katakan, Dia tidak merubah hukumNya mengenai Sabat. Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah (Maleakhi 3:6). Tidak ada dalam Alkitab yang menyarankan bahwa Dia telah membuat perubahan dalam hukumNya yang kudus. Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa! (Mazmur 19:7). Mengapa Dia harus merubah sesuatu yang sempurna?" Dia begitu mengasihi kita untuk merubah pemberian berkat ini!

    Yesus selalu memelihara hari ketujuh Sabat, sebab kita membacanya dalam Lukas 4:16. Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat . Ya, saat Dia berkata kepada orang Yahudi, Aku menuruti perintah Bapa-Ku, Dia memberitahukan kebenaran (Yohanes 15:10).

    Semua murid-muridNya mengikuti contohNya dalam memelihara Sabat pada hari ketujuh. Contoh, Buku Kisah menceritakan 84 Sabat yang dipelihara rasul Paulus, tidak ada satupun pada hari Minggu!

    Tetapi seseorang mungkin bertanya, bukankah ada tentang hari pertama dari minggu itu yang dipelihara oleh Paulus? Tidak, Kisah 20:7, 8 memberitahukan Malam minggu dimana Paulus bertemu dengan orang-orang Kristen di Troas untuk mengucapkan selamat tinggal, karena dia sedang merencanakan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 16 mil pada esok harinya (Minggu) ke Miletus, dan mereka tidak akan bertemu dengannya lagi. (Tidak ada rasul yang akan berjalan sejauh 16 mil pada hari Sabat yang kudus).

    Lukas menjelaskan pertemuan malam itu sebagai hari pertama dari minggu itu karena Alkitab menjelaskan Sabat dimulai pada saat matahari terbenam Jumat malam dan berakhir pada matahari terbenam Sabtu malam (Imamat 23:32). Oleh karena itu, pertemuan pada hari pertama minggu itu adalah Sabtu malam. Dan Markus 1:32 memberitahukan pada suatu Hari Sabtu malam, saat matahari terbenam Sabat telah selesai, orang-orang membawa banyak orang sakit kepada Yesus untuk disembuhkan.

    Ini adalah cara yang menyenangkan memelihara Sabat, dari malam ke malam dari matahari terbenam sampai matahari terbenam. Bila anda mencoba memelihara dari tengah malam ke tengah malam, anda sedang tertidur dan tidak dapat menyambut hari Tuhan yang kudus dalam keadaan sadar! Bagaimana anda bisa menyambut seorang tamu yang istimewa yang datang pada tengah malam sementara anda tertidur? Pada Jumat malam saat matahari terbenam keluarga berkumpul untuk bernyanyi, membaca Alkitab dan dalam doa menyambut datangnya hari Sabat yang berharga.

    Mengapa banyak yang memperingati hari Minggu, bukan hari Sabat yang suci yang Tuhan berkati dan kuduskan ?
    Kita harus memeriksa alasannya. Ini sangat sederhana: seseorang tanpa otoritas Tuhan telah merubahnya. Tuhan telah menginstruksikan nabiNya Daniel untuk menubuatkan bahwa hal ini akan terjadi. Dalam pasal 7, nabi ini menjelaskan munculnya empat kerajaan dunia dalam sejarah (Babilon, Medo Persia, Yunani dan Roma), setelah itu akan muncul satu kuasa yang besar, tanduk kecil...mengucapkan perkataan yang menentang (ayat 8) yang akan menggabungkan gereja dan negara dan akan mengubah waktu dan hukum (ayat 25). Baik Daniel dan Wahyu menyatakan bahwa dia akan menggunakan kuasanya yang besar selama 1260 tahun.

    Paulus menjelaskan kuasa yang sama dalam 2 Tesalonika 2:4 yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah.

    Yohanes dalam buku Wahyu menjelaskan kuasa yang sama: Dan kepada binatang itu diberikan mulut, yang penuh kesombongan dan hujat; .. Dan kepadanya diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa. Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih (13:5-8).

    Kita harus memutuskan kuasa yang mana yang akan kita ikuti Yang Maha Suci yang menciptakan bumi dalam enam hari dan menguduskan SabatNya yang suci untuk kita pelihara, atau dia yang berani merubah hukum Tuhan dan menuntun orang-orang untuk memelihara hari Minggu sebagai gantinya.

    Janganlah kita takut untuk berbeda dari mayoritas.
    Yesus berkata: Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."(Matius 7:13, 14). Sepanjang sejarah dunia, prinsip ini adalah benar; Yesus itu nyata, Dia hidup dan melihat, dan Dia selalu bersama mereka yang sedikit yang mengikutiNya.

    Kabar Baiknya adalah Dia mengasihi kita melebihi dari yang kita pikirkan! Dia membayar harga yang tinggi untuk menebus kita; Dia tidak bisa melupakan kita. Dia masih mengasihi kita dan menginginkan agar kita bisa hidup kekal bersamaNya. Dia sepi tanpa umatNya! Kita hidup dalam hari-hari akhir. Sekarang, sementara sebagai Imam Besar di Kaabah Tuhan di Surga, Dia sedang bekerja siang dan malam, untuk menyiapkan orang-orang bertemu denganNya saat Dia kembali.

    Tetapi mereka memerlukan persiapan khusus, seperti anak-anak yang akan berangkat ke sekolah.
    Dia akan menjadi Guru kita, dan kita bisa berada dalam kelas Nya. Oleh karena itu, dari Sabat ke Sabat di seluruh dunia, Dia bertemu dengan umatNya yang mengikutiNya sebagai Domba Allah, dan dengan Roh KudusNya Dia mengajar dan menyiapkan mereka untuk hari besar itu saat Dia kembali. Tidak ada hal di dunia yang begitu penting daripada pekerjaan khusus yang sedang berlangsung sekarang!

    Saat Yesus berkata, Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu Datanglah kepadaKu, engkau yang berbeban berat, dan Saya akan memberikanmu istirahat , Dia sedang mengundang seluruh dunia untuk menikmati perhentian SabatNya. Setelah menciptakan bumi dan kita dalam enam hari, Dia istirahat pada hari ketujuh yang pertama di Eden. Tetapi kita diciptakan pada hari keenam pada minggu yang pertama itu, jadi bagi kita Sabat adalah sebuah perayaan bagi semua pekerjaan yang telah Tuhan lakukan dan selesaikan . Kita tidak melakukan apapun!

    Sabat tetap menjadi satu tanda dari perhentian kita dalam Kristus dan ucapan syukur atas apa yang telah dilakukan bagi kita, bukan memuliakan apapun yang telah kita lakukan dalam menyelamatkan diri kita sendiri. Pemeliharaan Sabat yang benar hanya dimungkinkan saat kita mengerti dan menghargai harga pengorbanan Anak Allah yang begitu besar untuk menyelamatkan kita. Hanya saat kita mengizinkan kasih agape untuk menguasai diri kita maka pemeliharan Sabat kita dapat terhindar dari polusi cinta diri.

    Untuk menghargai lebarnya dan panjangnya dan dalamnya dan tingginya kasih (agape) Kristus akan membuat kita memelihara Sabat yang suci dengan sukacita yang mendalam dalam kehidupan kita. Dan anak-anak juga akan menyukai Sabat. Bila kuk Kristus di hadapan mereka adalah mudah dan bebanNya adalah ringan , mereka tidak akan sabar menunggu Sabat yang akan datang. Mereka akan menikmati menjadi tamu-tamu dalam rumah Tuhan .

    Karena pemberian berharga dari pertobatan diterima oleh umatNya, mereka akan disanggupkan untuk menyiarkan Sabat dengan lebih penuh, agar banyak orang yang terkasih yang sekarang terpencar seperti Babilon dalam sebutan Wahyu, akan dapat mendengar suara dari Surga yang berkata, Keluarlah dari padanya, umatKu .

    Baru saja Roh Kudus memanggil seluruh manusia di dunia untuk memelihara hari SabatNya yang suci, karena hari itu adalah hari istimewa dimana Dia bertemu dengan mereka untuk mengajar mereka. Dan hukumNya yang keempat meyakinkan semua yang percaya, bahwa mereka akan mengerti sukacita pemeliharan Sabat dalam Kristus .

    Iman, Apa Manfaatnya?

    Penulis : Eka Darmaputera

    Selama beberapa kali berturut-turut, kita pernah membahas tema "Yang Sulit-sulit Dari Pernyataan Yesus". Ingat? Rangkaian renungan tersebut kini bahkan telah dibukukan dengan judul, "Iman Yang Memindahkan Gunung" (Yogyakarta: Kairos, 2005). Kini, begitu saya berpikir, senyampang kita akan memulai sebuah seri pembahasan yang baru, mengapa kita tidak kembali membahas isu-isu yang "sulit", tapi dari arah yang sebaliknya? Maksud saya, tidak lagi membahas "pernyataan-pernyataan" yang berasal dari "Yesus" (kepada "dunia"), melainkan "pertanyaan-pertanyaan" yang berasal dari "dunia" (kepada "Yesus"). Hanya saja, mengingat kondisi kesehatan saya yang akhir-akhir ini kian tak menentu, perkenankanlah sebelumnya saya memohon dukungan doa Anda secara khusus. Yaitu, agar Tuhan memperkenankan saya mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan ini sampai akhir. Dan Anda menikmati berkat dari padanyabetapa pun kecil.

    "ZONA sulit" pertama yang akan kita jelajahi, adalah beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan masalah "iman". Mengapa? Mengapa "iman"? Apanya yang "sulit" di situ? Saya memilih "iman" sebagai topik perdana kita karena, menurut Firman Tuhan sendiri, inilah "denyut jantung" seluruh kekristenan kita. Bak tubuh kita. Minus "denyut jantung", bisa saja kita mengenakan pakaian raja-raja, berbaring di atas ranjang kencana, dikawal sepasukan tentara, dan dengan jasad nampak utuh sempurna. Namun tanpa-nya? Kita tanpa daya. Tak berarti apa-apa. Mari pertama-tama kita segarkan ingatan kita lagi, mengenai betapa "super-sentral"-nya "iman" itu! Misalnya sabda Yesus ini, "Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka guinung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu!" (Matius 17:20; 21:21). Jelas. Tegas. Karena itu sebagai konsekuensinya, tutur Paulus, "hidup (kita) adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat" (2 Korintus 5:7). Tidak bisa tidak! Sebab "segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa!" (Roma 14:23) Kemudian kita juga akrab dengan ajaran tentang "pembenaran oleh iman". Perhatikan baik-baik, yang dikatakan di sini sebenarnya bukan hanya dibenarkan "oleh iman". Tapi oleh "iman" saja! Sola fide! "Kami yakin," tulis Paulus, "bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat" (Roma 3:28). Inilah, saudara, jawaban Tuhan atas pendapat, "Yang penting `kan berbuat baik. Agama tidak penting". Berbuat baik memang penting, tapi sayang sekali, ia tidak menyelamatkan. Manusia diselamatkan hanya karena "iman, bukan karena "perbuatan". Tapi ini jangan lalu membuat kita beranggapan, bahwa "agama" adalah segala-galanya. Menganggapnya sebagai yang berhak menerima seluruh loyalitas dan ketaatan mutlak kita. Tidak! Manusia diselamatkan hanya karena "iman", bukan karena "agama".

    ***

    SETELAH mudah-mudahan itu jelas, jelas pula kiranya mengapa "iman" kita pilih untuk kita bahas pertama-tama. Tapi di mana "sulit"nya? Bukankah bagi bangsa se"religius" Indonesia, itu sudah kita andaikan taken for granted? "Pertanyaan sulit" apa sih yang bisa diajukan oleh "dunia" berkenaan dengan soal "iman" ini? Menurut pengamatan saya, "kesulitan" tersebut terletak pada dua tataran. Pada tataran yang pertama, kesulitannya adalah "kesulitan konseptual". Untuk menjelaskan apa itu "kesulitan konseptual", saya ambil saja pertanyaan Yesus ini sebagai contoh. Yakni ketika Ia berkata " Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Lukas 18:8). Astaga! Apakah yang Ia bayangkan atau maksudkan ketika Ia memakai istilah "iman" di situ? Benarkah bahwa yang Ia bayangkan adalah, bahwa nanti seluruh dunia akan tersekularisasi dengan sempurna, sehingga "iman" (baca: "agama") lenyap seluruhnya? Sudah pasti tidak. Lalu, kalau begitu, apa maksud-Nya? Apakah "iman" menurut pemahaman Yesus? Inilah, saudara, yang saya maksudkan dengan "kesulitan konseptual". Orang dapat menyebutkan istilah yang sama, tapi dengan konsep pemahaman yang berbeda, mereka sebenarnya menunjuk pada dua hal yang berbeda. Itu sebabnya, Kim Yong Il atau Mugabe atau Pinochet, yang amat tiran dan otoriter, bisa dengan tanpa risih sedikit pun berbicara tentang "demokrasi" atau HAM. Dan para teroris, itu pembunuh- pembunuh keji yang tanpa hati nurani, dapat melumuri tangannya dengan darah sesama sambil berdoa dengan khusyuknya, serta memberi kuliah tentang "missi suci". Nah, yang ingin saya katakan adalah bahwa sekarang ini dengan suara lantang, dunia sebenarnya sedang menantang, "Tuhan sudah mati! Agama adalah masa lalu! Dan iman adalah ketakhayulan!" Mereka juga menyertakan argumentasi mereka, acap kali dengan "bukti-bukti" yang meyakinkan. Dan kita mulai terpikat. Tapi jangan terjebak! Sebab kita mesti terlebih dahulu mempertanyakan, apa sebenarnya konsep mereka ketika mereka "cas-cis- cus" mengucapkan kata "Tuhan", "agama", "iman" itu? Apakah kita berbicara dengan bahasa yang sama?

    ***

    PADA tataran yang kedua, ada "kesulitan" lain. Kesulitan ini lebih kongkret, lebih praktis, lebih teknis. Yaitu, tatkala dunia dengan tak kurang lantangnya bertanya dan menjawab "Bagi manusia yang rasional, iman itu apa manfaatnya?" Seperti ditegaskan oleh George H. Smith, "Iman teisme kristiani harus ditolak oleh siapa pun, yang sedikit saja punya penghargaan terhadap akal". "Beriman" barangkali tidak serta merta mendatangkan celaka. Tapi yang pasti, ia sia-sia. Sebagian besar orang Kristen, saya kira, sedikit banyak pasti mengenal "Billy Graham". Paling sedikit namanya. Seorang penginjil besar yang amat diberkati. Yang melalui pelayanannya, memungkinkan Injil menembus hati jutaan manusia, melintasi Tirai Besi, dan masuk ke istana kepala-kepala pemerintahan. Tapi menurut perkiraan saya, tak banyak yang mengenal nama "Charles Templeton". Padahal keduanya Graham dan Templeton pernah menjadi rekan sejawat dalam memberitakan Injil ke mana-mana. Tak jarang, berbagi mimbar. Beberapa orang bahkan meramalkan, bahwa Templeton akan menjadi "pendeta besar" melebihi Graham. Tapi agaknya pengalaman hidup masing-masing telah membawa mereka mengambil jalan yang berbeda, bahkan berseberangan. Di masa tua, yang mempersatukan mereka hanyalah penyakit. Graham menderita Parkinson, Templeton mengidap Alzheimer. Hanya saja, dalam usianya yang 80 tahun lebih, walau dengan tangan dan lutut gemetar, Billy Graham tetap setia kepada Tuhannya. Tetap konsisten dengan pesan Injil yang "itu-itu" juga. Sedang Templeton? Di tengah jalan, ia berbalik arah. Dengan sadar, ia memutuskan untuk menolak beriman kepada Tuhan.

    ***

    KEPADA Lee Strobel yang mewancarainya, Templeton memberi kesaksian yang jujur. Tatkala ditanya, apakah ada satu hal yang secara khusus yang membuat ia kehilangan "iman"-nya kepada Tuhan, Templeton tidak menutup-nutupinya. "Sebuah foto di majalah LIFE", demikian ia menjawab. "Sebuah foto? Bagaimana bisa sampai demikian?", tanya Strobel. Templeton agak memejamkan mata-nya. Berusaha membuat gambar itu kembali hidup di depan matanya. "Foto itu adalah gambar seorang perempuan kulit hitam di Afrika Utara. Mereka sedang mengalami musim kering yang luar biasa waktu itu, Perempuan itu menggendong bayinya yang telah mati, seraya menatap ke atas dengan ekspresi wajah yang sangat berarti." Saya menatap ke gambar itu, dan berfikir, "Mungkinkah percaya bahwa ada Seorang Pencipta yang maha kasih dan maha peduli, sementara yang perempuan ini butuhkan hanyalah "hujan"?" Templeton menekankan kata "hujan". "Bagaimana mungkin seorang "Allah" yang konon maha pengasih berbuat seperti ini kepada perempuan malang itu? Siapa yang mengendalikan hujan? Saya tidak. Anda juga tidak. Ia yang mengendalikannya. Karena itu, begitu saya melihat foto tersebut, seketika itu pula saya tahu, bahwa mustahil ini bisa terjadi bila benar ada "Allah" yang pengasih. Tak bisa lain. Siapa yang tega berbuat sekejam itu, membunuh seorang bayi dengan kehausan, dan sekaligus membunuh ibunya dengan "agony"sementara yang mereka butuhkan hanyalah hujan?" Begtulah antara lain dunia bertanya. Katakanlah iman itu penting, bahkan super-penting, oke, tapi jelaskanlah apa manfaatnya. Baik, tapi ini tidak mungkin kita lakukan sekarang. Minggu depan, dengan perkenan Tuhan, kita akan coba membahasnya. ***

    Sumber: Sinar Harapan Sabtu, 28 Mei 2005

    Imanuel: Allah Menyertai Kita

    Oleh: Wiempy

    Yes 7:14 Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.

    Yesaya 8:8 serta menerobos masuk ke Yehuda, ibarat banjir yang meluap-luap hingga sampai ke leher; dan sayap-sayapnya yang dikembangkan akan menutup seantero negerimu, ya Imanuel!"

    Matius: 1:23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.

    El-Gibbor --> Allah yang Agung, Maha besar

    Tawarikh 16:27 Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan sukacita ada di tempat-Nya.

    I Tawarikh: 29:11 Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala.

    I Tawarikh: 29:13 Sekarang, ya Allah kami, kami bersyukur kepada-Mu dan memuji nama-Mu yang agung itu.

    Mazmur: 96:6 Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya.

    EL-Roi --> Allah Maha Tahu

    Kej 16:13 Kemudian Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: "Engkaulah El-Roi." Sebab katanya: "Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?"

    Kej 16:14 Sebab itu sumur tadi disebutkan orang: sumur Lahai-Roi; letaknya antara Kadesh dan Bered.

    EL-Olam --> Allah Yang Kekal, Tidak Berkesudahan

    Kej 21:33. Lalu Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba, dan memanggil di sana nama TUHAN, Allah yang kekal.

    Eloah --> Allah yang Esa, Tunggal

    Jalan dan Kebenaran dan Hidup

    Oleh:Marolop Simatupang

    Banyak orang mengatakan jalan menuju pengharapan, kebahagiaan dan surga itu banyak. Bermacam-macam filsafat, kepercayaan dan ide yang masing-masing memiliki akhir kebenaran sendiri-sendiri.

    Bahwa kehidupan manusia itu sangat dihargai sekali adalah benar. Mayoritas kita ingin hidup di dunia ini selama mungkin. Masing-masing kita mendambakan hidup yang kekal. Namun, hanya ada Satu Jalan untuk mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Hanya ada Satu Kebenaran yang bisa membuat manusia bebas dari dosa. Hanya Satu Kehidupan yang bisa memberikan hidup yang kekal bagi manusia. Yesus Kristus, Anak Allah, adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup seperti yang disebutkan dalam kitab Yohanes 14:6, Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

    Yesus Kristus adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup karena Dia mati untuk dosa-dosa kita. Manusia berdosa karena melanggar hukum Tuhan (Roma 3:23; 1 Yohanes 3:4). Dan Kitab Suci mengatakan bahwa Upah dosa ialah maut(Roma 6:23). Maut adalah kematian yang kedua di neraka (Wahyu 21:8; Matius 10:28). Karena dosa, kita layak mendapat hukuman yang kekal di neraka. Namun Allah tidak menghendaki satu orang pun binasa (Kisah Rasul17:31), sehingga dalam kasih anugrah-Nya yang Agung, Ia mengutus Putra-Nya yang Tunggal mati di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia (Yohanes 3:16-17; Roma 5:6-10; 6:17-23)

    Yesus Kristus adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup karena Dia telah bangkit dari kematian. Sebelum Kristus datang, kita hidup di dunia kekelaman tanpa pengharapan. Tapi sekarang Kristus telah datang dan menaklukkan kematian, bangkit dari kubur. Karena Yesus telah menaklukkan kematian, maka Dia mampu memberi kita kemenangan dan menaklukkan kematian (1 Korintus 15:20-23; Wahyu 1:17-18). Dalam Yohanes 11:25, Yesus berfirman, Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.

    Yesus Kristus adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup karena Dia akan menghakimi semua manusia pada akhir zaman (Kisah Rasul 17:31). Semua akan berdiri di hadapan Kristus dan mempertanggung-jawabkan kehidupannya di bumi. Paulus, rasul yang di-ilhami menulis, Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.(2 Korintus 5:10).

    Yesus Kristus satu-satunya jalan menuju hidup yang kekal. Ia adalah Kebenaran. Tak seorang pun sampai kepada Bapa memperoleh hidup kekal kecuali melalui Dia. Supaya kita memperoleh berkat dari Kristus, kita harus percaya bahwa Ia adalah Anak Allah yang hidup, sebab Yesus sendiri bersabda, Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.(Yohanes 8:24)

    Kita juga harus bertobat dari dosa (Lukas 13:3) serta mengakui Kristus di hadapan manusia. Seseorang tidak akan menerima berkat rohani dari Kristus kalau ia sendiri tidak mengakui-Nya di hadapan manusia. Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.(Matius 10:32-33).

    Setelah itu harus dibaptiskan ke dalam Kristus agar memperoleh pengampunan dari dosa (Kisah Rasul 2:38). Yesus berfirman, Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.(Markus 16:16). Yesus Kristus adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup yang sesungguhnya. Seseorang tidak akan selamat, sampai kepada Bapa kecuali melalui Dia (Kis. 4:12).

    Jangan Serakah Jangan Kuatir

    Penulis : Pdt.Dr Stephen Tong

    Artikel ini diambil dari seri khotbah Ekspositori Surat Ibrani di Kebaktian Minggu GRII Pusat, Kampus Emas, Jakarta, pada tanggal 20 Juli 2003 Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman "Aku sekali-sekali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (Ibrani 13:5)

    Di ayat 5 ini penulis Ibrani berbicara tentang dosa keuangan. Mengapa seks dan uang (harta) selalu berdampingan? Karena keduanya adalah jerat yang paling besar atau paling berbahaya bagi setiap orang yang hidup di dunia ini. Banyak orang gagal, kalau bukan karena seks, tentu karena uang. Itu sebabnya, seks dan uang juga merupakan musuh terbesar bagi para pelayan Tuhan, saksi-saksi Tuhan yang diutus untuk memancarkan kemuliaan-Nya. Jika kita tidak memelihara kesaksian hidup kita dengan hati-hati, kita memberi lowongan kepada iblis untuk mencobai kita dalam seks dan harta, maka kita akan kehilangan kuasa, pengaruh, dan kemuliaan Tuhan untuk menjadi saksi-Nya di dunia. Oleh karena itu, setelah penulis Ibrani menyelesaikan pembahasan tentang ´hormatilah pernikahan´, ia meneruskannya dengan: Jangan engkau menjadi budak hartamu, uangmu; atau dalam terjemahan lain: Jangan tamak, jangan menginginkan uang yang bukan milikmu.

    Saya percaya, saat Yohanes Pembaptis yang dipenuhi oleh Roh Kudus itu tampil di depan umum, usianya kira-kira tiga puluh tahun, karena seorang imam baru boleh melayani di saat usianya genap tiga puluh tahun, karena seorang imam baru boleh melayani di saat usianya genap tiga puluh tahun. Di mata manusia, ia adalah seorang pemuda yang kurang berpengalaman. Ia berseru, "Bertobatlah kamu sebab Kerajaan Sorga sudah dekat." Ia menuntut mereka agar hidup baru, hidup bertobat, hidup suci, mau meninggalkan hidup moral yang bobrok dan segala dosa yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Setiap orang hidup perlu tahu: Dunia bukanlah rumahnya; ketika ia mulai terbiasa, bahkan betah hidup di dunia, maka dunia akan berkata kepadanya, "Get out!" - tidak ada tempat lagi untukmu, tempat ini akan diberikan pada generasi baru. Jadi, tak seorang pun bisa hidup sampai selama-lamanya di dunia ini.

    Tetapi Allah sudah menyediakan Kerajaan Sorga, Kerajaan Allah bagi kita -- orang-orang yang berharap kepada-Nya. Dan firman-Nya: Bertobatlah, tinggalkanlah dosamu, siapkanlah hatimu untuk hidup di dalam Kerajaan Allah, karena Kerajaan Allah sudah dekat. Kalimat pertama dalam khotbah Yohanes Pembaptis itu juga merupakan kalimat pertama dalam khotbah Yesus Kristus. Tokoh terpenting di Perjanjian Baru -- Yohanes Pembaptis, Sang Perintis dan Yesus yang adalah Tuhan, mengucapkan kalimat yang sama: Bertobatlah kamu, karena Kerajaan Allah sudah dekat. Yohanes Pembaptis berjumpa dengan pelbagai macam orang. Ada semacam orang yang bertanya padanya: Apa yang harus kami perbuat? Saya kira itulah tanya jawab yang pertama di dalam pelayanan Perjanjian Baru. Dan saya yakin acara tanya-jawab perlu dilestarikan, karena di lembar-lembar pertama Perjanjian Baru, dalam pelayanan Tuhan sendiri juga diadakan tanya jawab. Ketika saya masih berumur tujuh belas tahun, pikiran saya sudah dilanda oleh ajaran: Komunisme, Atheisme, Materialisme, Dialektis, Evolusionisme. Saya menganggap diri sebagai pemuda yang paling modern, terkemuka, bahkan lebih cerdas dari pemuda-pemudi lainnya. Pelajaran yang biasanya perlu dipelajari orang dalam waktu dua bulan bisa saya selesaikan dalam waktu dua hari, bahkan selagi masih di SMA, saya sudah mengajar, dan saya mampu menyelesaikan SMA dengan mudah, sekaligus menjadi seorang guru yang disambut baik oleh murid-murid. Honor saya dua kali lebih besar daripada honor pendeta terbesar, yang melayani di gereja terbesar di Surabaya. Saat itu, saya merasa tidak butuh Alkitab, tidak butuh Tuhan, bahkan merasa tak perlu menjadi orang Kristen, karena dunia sudah maju dan kekristenan sudah ketinggalan. Akan tetapi melalui Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), Tuhan bekerja di dalam hati saya, saya menangis tak henti-hentinya, bertobat, meminta Tuhan mengampuni dosa-dosa saya. Di hari ketiga KKR itu, saya menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan. Saya berkata, "Tuhan, jawablah semua pertanyaanku, sesudah itu, saya akan pergi ke seluruh dunia untuk menjawab pertanyaan siapa pun." Itu sebabnya, ciri khas dari pelayanan saya adalah tanya-jawab, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan. Seperti apa yang dikatakan oleh Francis Schaeffer: The responsibility of Christianity is to give the honest answers for the honest questions. Itulah yang saya pelajari dari Yohanes Pembaptis, menjawab pertanyaan siapa saja yang ingin tahu tentang kebenaran. Yohanes Pembaptis menjawab pertanyaan, termasuk pertanyaan para tentara. Biasanya seorang tentara, karena mempunyai senjata, selalu merasa dirinya memiliki hak istimewa, suka melakukan kekerasan, tetapi saat ia datang bertanya: What should I do, John? Jawab Yohanes Pembaptis, "Kamu harus merasa puas dengan apa yang ada padamu, jangan menindas orang dengan senjatamu." Saya kaget sekali, ternyata seorang yang dipenuhi Roh Kudus bisa menjawab pertanyaan dengan begitu singkat dan begitu tepat, sesuai dengan kebutuhan. Ia tidak menjawab, "Hai Tentara, jangan kamu berperang, karena firman Tuhan berkata: Barangsiapa membunuh, ia juga akan dibunuh." Ia tidak berbicara tentang apakah tentara harus membela atau memberontak, boleh berperang atau tidak, ia hanya memberikan dua prinsip:

    Puaskan diri dengan apa yang kau miliki, dan jangan menindas orang dengan senjatamu. Dua prinsip yang berkaitan dengan dua dosa besar dari para tentara yang menyandang senjata. Yang pertama, mereka menembak dengan sewenang-wenang, karena pikir mereka: Kami memiliki hak menggunakan senjata, mempunyai situasi dan kondisi dimana orang tidak mudah membalas dendam. Kami bisa merebut nyawa orang. Seseorang yang memiliki kuasa, uang, kekuatan, pangkat, senjata, lalu merugikan orang dengan sewenang-wenang, kelakukannya sungguh jahat. Negara yang tidak memelihara kaum minoritas adalah negara barbar. Negara yang tidak memberi proteksi pada kaum minoritas yang tidak bersenjata dan tidak berdaya untuk melawan adalah negara yang tidak beradab.

    Orang yang menindas si lemah, rakyat jelata dengan senjata, dengan kekerasan, jiwanya bagaikan binatang liar, bukan manusia. Karena senjata hanya dipakai untuk membela negara, mengamankan rakyat, itulah perintah Alkitab: Pemerintah menyandang pedang adalah hak, kuasa yang Allah berikan untuk menghakimi mereka yang berbuat salah; membela mereka yang benar, menjaga ketertiban negara (Roma 13). Bila senjata digunakan semena-mena untuk melampiaskan kebencian pribadi -- memusnahkan, menghancurkan, membunuh musuh yang dibencinya, itu adalah tindakan barbar. Yohanes Pembaptis berkata, ´Hai, Para Tentara.´ Yang dimaksud olehnya bukanlah tentara Israel melainkan tentara Romawi yang ditugaskan oleh kerajaan Roma di seluruh wilayah kerajaan Romawi, meliputi sebagian benua Eropa, Asia, Afrika Utara bahkan sampai ke Inggris. Adapun kita yang paling banyak dijaga oleh tentara Roma adalah Yerusalem, karena bangsa Yahudi adalah bangsa yang paling keras, paling berjiwa revolusioner, paling tidak mengenal kompromi, misalnya, mereka menyembah Yahweh -- Allah yang sejati. Mereka menolak untuk menyebut Kaisar sebagai Tuhan. Menurut standar Roma, tindakan itu merupakan suatu pemberontakan terbesar, maka diutusnya sejumlah besar tentara, kira-kira seratus delapan puluh ribu orang guna menjaga Yerusalem. Baik Damsyik, Kapadokia, maupun kota-kota lain, tak ada yang pernah dijaga oleh bala tentara sebanyak itu. Apalagi pada masa raya, ketika puluhan bahkan ratusan ribu orang Yahudi dari berbagai tempat berkumpul di Yerusalem, maka pemerintah Roma akan mengerahkan ratusan ribu tentara untuk menjaga keamanan di sana secara ketat.

    Bila tentara-tentara itu menggunakan senjata dengan semena-mena, tentu rakyatlah yang akan sangat dirugikan. Yang kedua, Yohanes Pembaptis berkata, "Jangan menginginkan uang lebih dari seharusnya. Kamu telah diberi kecukupan oleh pemerintah Romawi, puaskanlah dirimu dengan apa yang ada padamu." Saya disadarkan; Saat seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus, Tuhan memberinya bijaksana, keberanian, standar yang bisa dijadikan pedoman dari jaman ke jaman, sekaligus sarana untuk menghakimi umat mausia: Puaskanlah dirimu dengan apa yang kau miliki, jangan gunakan kekerasan untuk menindas mereka yang tidak menyandang senjata.

    Mengapa sebelum penulis membahas soal harta, ia terlebih dahulu berbicara tentang prinsip di ayat 5? Karena tamak adalah dosa yang sangat besar, suatu larangan yang ditekankan oleh Alkitab. Bahkan hukum kesepuluh dari Taurat Musa berbunyi, "Jangan menginginkan istri, budak, hewan kepunyaan orang", dijadikan dasar bagi Hak Asasi Manusia dalam konstitusi PBB, yang berlaku untuk semua pemerintahan dunia sampai hari ini: Wajib memproteksi hak milik pribadi, tak seorang pun boleh mengganggu istri, anak, harta, rumah kepunyaan orang lain, karena milik pribadi itu sah dan diizinkan. Tuhan berpesan, jangan mengingini, artinya Ia memagari kepemilikan manusia. Saat m676 seseorang melirik ke dalam pagar orang dan hatinya berhasrat melewati pagar itu, ia disebut pelanggar hukum. Jangan mengingini harta orang, puaskan dirimu dengan apa yang sudah Tuhan karuniakan untukmu. Kalau kau memboroskan apa yang sudah diberikan-Nya atau merebut apa yang belum Ia berikan kepadamu, kau adalah pencuri. Sikap yang Tuhan sahkan dan izinkan adalah merasa puas atas apa yang sudah kau miliki dan mau menunggu untuk apa yang belum kau miliki sambil bekerja dengan giat. Perasaan memiliki dan tidak memiliki selalu mengganggu diri kita, mengapa ia punya, saya tidak punya; saya juga menginginkannya. Keinginan seperti itulah yang membuat kita berani melompat pagar, berani melawan kehendak Tuhan. Mari kita kembali pada prinsip ini: Puaskan dirimu dengan apa yang ada pada dirimu, apa yang kita miliki. Karena Tuhan berjanji: "Aku tidak akan meninggalkanmu, tidak akan membuangmu."

    Yesus Kristus pernah mengutip kalimat dari Perjanjian Lama, dalam Kitab Musa: Manusia hidup bukan hanya bersandar pada roti saja; artinya kita butuh roti, makanan, harta benda, tetapi ada segi lain yang perlu kita perhatikan, yaitu firman yang bersumber dari mulut Allah. Itulah yang membuat hidup kita berarti. Versi lain terdapat di Yohanes 6:63, "Yang menghidupkan manusia adalah roh, bukan tubuh. Perkataan yang Kukatakan padamu adalah Roh, adalah hidup." Perhatikan ucapan Yesus itu. Yang menghidupkan manusia adalah roh, artinya roh itu hidup. Hidup berasal roh, tubuh tak terhitung apa-apa. Tentu saja bukan maksud Yesus mengatakan bahwa tubuh kita tidak berguna, seperti teori soma sema, tubuh adalah penjara, yang diyakini oleh Pythagoras, filsuf Yunani, atau ajaran Buddhisme:

    Tubuh tak berarti apa-apa. Yang Yesus tegaskan adalah bahwa yang menghidupkan manusia bukan tubuh melainkan roh, tanpa roh, tubuh tidak akan berfungsi. Lanjut-Nya, "...the word which I spoke to you is life, is spirit." Jadi, hidup manusia selama berpuluh-puluh tahun di dunia bukan hanya bersandar pada roti, melainkan pada the word of God. Saya yakin kalian yang selalu berbakti di tempat ini akan merasa kosong, jika mimbar ini tidak menyuarakan firman Tuhan. Memang, kali pertama Anda berbakti di sini merasa tidak enak, karena khotbah saya tidak dibarengi lelucon atau cerita, tetapi marah-marah; Tidak mudah dicerna, banyak teori. Tetapi setelah kalian benar-benar merasakan manfaat dari firman Tuhan, barulah kalian sadar, tanpa firman, apalah artinya hidup ini? Kosong belaka. Kalau firman tidak mengisi hidup kita, tidak menuntun tindak-tanduk kita, kita tidak tahu hidup ini akan berjalan ke mana. Yang paling celaka ialah setelah mendengar firman kalian tetap melangkah di jalan yang serong, jalan yang salah, jalan orang duniawi. Hidup kalian seperti hidup orang Farisi, berpengertian penuh tetapi pelaksanaannya kosong. Akibatnya, kau bukan menjadi saksi Tuhan, tapi malah mempermalukan nama-Nya. Tuhan berjanji, ´Aku tidak akan membuang kamu, membiarkan kamu." Artinya, Ia akan terus-menerus menjaga kita. Itu sebabnya, cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, pandai-pandailah mengatur milikmu. Jika kamu benar-benar hidup di hadapan Tuhan, Ia bukan saja sanggup mencukupi, tetapi juga memberi lebih dari sekadar cukup.

    Mengapa masih ada orang Kristen yang selalu mengkhawatirkan ini dan itu? Karena mereka hanya dengan mulut mengaku dirinya beriman; otaknya tahu apa itu iman, namun sesungguhnya tidak betul-betul beriman pada Tuhan. Itu sebabnya, kita perlu belajar untuk sungguh-sungguh beriman pada Tuhan. Sesungguhnya saya merasa sangat kasihan kepada mereka yang sejak kecil cukup makan, tak pernah lapar satu kali pun, karena mereka tidak akan pernah tahu apa itu perjuangan, apa itu bersyukur pada Tuhan. Seorang pendeta menuturkan: ´Aku masih ingat saat pertama kali aku memegang sepeda itu, air mataku bercucuran. Aku menaiki sepeda itu dengan hati yang begitu haru, begitu puas, karena aku sudah menantinya selama dua ratus hari. Selama itu aku terus berharap kapan hari itu akan tiba, sampai aku menaiki sepeda itu, barulah aku sadar aku sudah memilikinya.´

    Tapi anak-anak kita tidak lagi mempunyai pengalaman seperti itu, karena saat mereka menginginkan sepeda, kita segera membelikannya, bahkan saat mereka menginginkan mobil sekalipun, kita segera menyediakannya. Sebelum mereka sanggup mencari uang, mereka sudah mengenakan pakaian termahal. Sebelum mereka mencucurkan keringat, mereka sudah memeras orang lain, bahkan mereka selalu mencerca: ´Toh Papa punya uang, mengapa Papa tidak membelikan yang baik untukku? Papa jahat.´ Apa jadinya anak-anak jaman ini, setelah sekian puluh tahun tak ada peperangan, kelaparan; anak-anak kita hanya tahu memeras orangtua, memaksa orangtuanya memberikan ini dan itu buat mereka. Saya selalu mendidik anak-anak saya seperti ini: Saat saya menggunakan barang yang bagus, yang mahal, mereka tidak berhak berkomentar, karena ini adalah jaman saya. Bagaimana susahnya masa lalu saya, kalian tidak tahu. Kalian juga perlu belajar berjuang untuk dirimu sendiri. Namun, susah sekali, bukan? Karena hidup kita sekarang ini sudah cukup nyaman, mengapa kita harus membiarkan anak kita hidup sengsara? Hidup kita cukup kaya, mengapa kita membiarkan anak-anak hidup miskin? Itu sebabnya orang yang dulunya pernah miskin, setelah dia menjadi kaya akan membuat hidup anakanaknya seperti di surga. Namun faktanya, mereka tidak merasa hidupnya cukup nyaman, karena mereka sudah terbiasa dengan hidup seperti itu. Sewaktu kenikmatannya berkurang sedikit saja, ia akan memandangnya sebagai suatu siksaan dan itu membuatnya dendam padamu. Inilah dunia.

    Mendidik anak itu susah, bukan? Saat hidup kita miskin, kita memang tak mampu membelikan apa-apa untuk anak-anak. Setelah hidup kita lebih dari cukup, masakan kita tidak memberi apa-apa buat mereka? Kalau diberi, ia tak punya daya juang, karena dia tak tahu apa itu susah, bagaimana rasanya dari tidak punya sampai punya, bahkan cenderung merasa memang sudah semestinya dirinya hidup berkecukupan. Kurang sedikit saja sudah dia anggap sebagai penderitaan, memikul salib, dan lain-lain. Kadang-kadang saya mendengar orang mengeluh: Ini susah, itu susah, tanpa menyadari kalau saja orang lain bisa melewati hidup seperti itu tentu akan tertawa sampai tak bisa mengatupkan mulutnya, berterima kasih pada Tuhan sampai setiap hari mengadakan syukuran, sementara ia masih belum merasa puas dengan apa yang ada pada dirinya.

    Apa artinya: puaslah dengan apa yang sudah kau miliki? Kau tidak perlu serakah, tak perlu merebut sesuatu yang bukan milikmu. Saya merasa sedikit sulit untuk mendefinisikan serakah. Manakala manusia tak pernah maju, bukankah ia sama dengan binatang? Tetapi kalau ia terus menuntut maju, bukankah ia bisa disebut serakah? Memang paradoks. Apakah bedanya serakah dengan berjuang? Untuk membedakannya, kita butuh bijaksana Tuhan. Untuk itu, saya akan memberikan sebuah prinsip: Menginginkan, bahkan merampas sesuatu yang Tuhan karuniakan kepada orang lain dengan ambisi liar, itu yang disebut serakah. Bila kamu ingin maju, ingin lebih pintar dan lebih pintar lagi, bahkan ingin menjadi kaya, berkuasa, dan besar sekalipun, itu tidaklah salah, karena Allah tidak pernah mencegah manusia mempunyai ambisi pribadi, mempunyai aspirasi untuk maju.

    Mungkin kamu bertanya, mana ada ayat yang berbicara seperti itu? Yesus berkata, "Jika kamu ingin menjadi besar, layanilah orang lain." Maksudnya, Tuhan tidak melarang orang menjadi besar, namun ada jalurnya, ada caranya, yakni menjadi hamba, melayani. Kadang kita salah menafsir Alkitab, kita berpikir: Allah tidak memperbolehkan kita begini dan begitu, kita lantas menjadi kaku. Tindakan tersebut tidak berbeda dengan orang yang menguburkan satu dinar di bawah tanah sambil berdalih rendah hati, sambil menuduh orang yang mengusahakan lima dinar dan berhasil mendapat keuntungan lima dinar sebagai orang yang serakah. Padahal itu bukan maksud Tuhan. Ia justru menuntut orang yang diberi lima talenta menghasilkan lima talenta, orang yang diberi dua talenta harus menghasilkan dua talenta. Buktinya, orang yang menerima lima talenta dan mendapat untung lima talenta tidak dimarahi oleh Tuhan, tetapi orang yang memperoleh satu talenta dan menguburkannya sambil berdalih rendah hati, tidak berambisi, tidak serakah, ialah yang dimarahi oleh Tuhan.

    Mungkin kau bertanya, bukankah itu berarti Tuhan membela orang kaya dan menghina, bahkan menghakimi orang yang misikin? Tdak. Perumpamaan itu mengajarkan kita bahwa: Talenta yang Tuhan beri haruslah kita imbangi dengan perjuangan. Itulah sebabnya saya tidak berani tidak banyak berkhotbah, tidak berani malas bekerja, karena saya tahu, Tuhan akan menghakimi saya lebih daripada pendeta-pendeta lain. Dari manakah saya tahu akan hal itu? Tuhan sudah memberi banyak talenta, kesempatan pada saya, maka saya harus mengembangkan, harus bekerja keras, agar kelak saya bias mempertanggung-jawabkannya pada Tuhan. Kalau orang mengkritik saya serakah, tidak puas dengan apa yang sudah ada, terus-menerus menginginkan ini dan itu, padahal itu adalah kewajiban yang Tuhan tanamkan di dalam jiwa saya, saya hanya bisa berkata, ´Taka k677eserakahan untuk diri pribadi saya, yang ada hanya untuk memperluas Kerajaan Tuhan.´ Kalau saya ingin membangun gedung gereja yang besar, itu karena ada begitu banyak orang membutuhkan firman Tuhan. Saya harus bisa membedakan antara serakah dan berjuang, serakah demi keuntungan diri sendiri dan demi iman.

    Berikut ini saya akan merumuskan beberapa hal; Satu, merampas sesuatu yang bukan milikmu, itu disebut tamak. Dua, tidak mau berjuang mencapai hasil yang maksimal, itu disebut malas. Malas bukan monopoli orang yang bersantai-santai. Orang yang kelihatannya rajin pun bisa dikategorikan malas. Kemalasan akan membuahkan kemiskinan. Kemiskinan membuahkan iri hati. Iri hati membuahkan keserakahan. Keserakahan mencetuskan peperangan. Hal-hal seperti itu selalu terjadi baik di dalam diri personal maupun dalam masyarakat, baik secara lokal maupun secara internasional. Ada orang yang merasa dirinya miskin, bukan karena ia tidak sanggup mencukupi kebutuhan hidupnya, melainkan karena ia membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain.

    Sebelum orang asing masuk ke pedalaman Irian Jaya, mereka tidak pernah merasa dirinya miskin, hanya mengenakan sehelai koteka saja sudah merasa cukup. Tapi setelah orang asing datang dengan mengendarai mobil, mereka mulai merasa dirinya miskin, timbul rasa ingin memiliki, tapi bukan lewat cara berjuang melainkan merampas, membunuh, dan sebagainya. Itu sebabnya, timbulnya kesenjangan sosial bisa disebabkan oleh kaum imperialisme, kapitalisme, bisa juga disebabkan oleh sifat membandingkan diri dengan cara yang tidak wajar.

    Sebenarnya, membanding-bandingkan diri dengan orang lain adalah hal yang lumrah, karena Tuhan menanamkan relativisme di dalam diri kita. Murid-murid Yesus pun masih mempunyai sifat itu. Setelah Yesus memberitahu Petrus, "Dengan sesungguh-sungguhnya Aku berkata padamu: Waktu kau muda, kau bisa mengabarkan Injil ke sana ke sini dengan bebas, tapi waktu kau tua, orang akan mengikat tanganmu, membawamu ke tempat yang tidak kau inginkan." Artinya, kau akan dianiaya, mati dengan sangat mengenaskan.

    Petrus segera bertanya, ´Bagaimana dengan dia (Yohanes)?´ Nyatalah di sini bahwa ia mulai membanding-bandingkan dirinya dengan Yohanes. ´Aku harus menderita, bahkan mati martir bagi-Mu, lalu bagaimana dengan Yohanes?´ Apakah Yesus menjawab, ´Mengenai dia, nanti Kuberitahu, tentu saja Aku akan memperlakukan kalian dengan adil?" Tidak! Anugerah yang Tuhan sediakan bagi tiap-tiap orang didasarkan atas kedaulatan-Nya. Maka jawab-Nya, "Kalau Aku menghendaki dia menunggu sampai Aku datang kembali, apa urusannya denganmu?" Tuhan Yesus sangat tegas, Ia tidak peduli apakah murid-murid-Nya menganggap Dia berlaku tidak adil. Ia menjawab: Itu adalah hak-Ku. Kalau Aku menghendaki dia menunggu sampai Aku datang kembali sementara menghendaki kau mati syahid bagi-Ku, apa urusannya bagimu? Ikutlah Aku! Membandingkan diri dengan orang lain itu biasa, tapi itu adalah sifat dosa yang harus kita pertanggungjawabkan pada Tuhan. Merasa puas atas apa yang sudah Tuhan beri, tidak banyak membanding-bandingkan diri dengan orang adalah dasar dari kerohanian yang stabil. Kadang perasaan susah, tidak enak muncul, karena kita membanding-bandingkan diri dengan orang lain: Mengapa ia begini, mengapa saya begitu? Kemudian disusul dengan rasa tidak puas akan apa yang sudah Tuhan berikan padamu. Tuhan tidak pernah bersalah, kalau Tuhan hanya memberimu sedemikian adalah karena kau memang hanya patut menerima sedemikian, kau harus bisa menerima. "Kalau kau rendah hati, kau aka mendapatkan anugerah berlebih," firman-Nya. Tuhan mencegah orang yang sombong, memberkati orang yang rendah hati, memberikannya anugerah yang lebih.

    Ketika saya masih kecil, saya merasa bingung akan kedua pernyataan itu. Kalau saja ayat itu berbunyi: ´Tuhan mencegah, mematahkan jalan orang sombong dan memberkati orang yang rendah hati,´ tentu sudah cukup jelas, bukan? Mengapa perlu ditambah dengan pernyataan: ´karena Ia memberi anugerah yang lebih´? Akhirnya, saya temukan: Orang yang rendah hati itu, selain merasa puas dengan apa yang sudah Tuhan berikan padanya, juga perlu berjuang untuk memperoleh anugerah yang lebih. Jadi, rendah hati bukanlah suatu sikap lahiriah, melainkan satu jiwa yang selalu merasa puas dengan pemberian Tuhan, juga melihat adanya kemungkinan untuk berjuang. Maka rumusan saya untuk rendah hati adalah tidak pernah merasa puas untuk sesuatu yang pernah kita capai, melainkan terus menuntut. Apa yang dituntut? Yang dituntut ialah kebenaran, bukan harta. Mengejar lebih banyak uang, menuntut untuk menjadi lebih kaya, tidaklah salah, tetapi tuntutlah bagian yang sudah Tuhan tetapkan bagimu, bukan merampas bagian yang sudah Tuhan berikan bagi orang lain. Merebut milik orang lain adalah serakah, tapi berjuang untuk apa yang Tuhan janjikan adalah sikap hidup yang benar.

    Kita harus bisa memisahkan keduanya dengan jelas, untuk itu kita perlu mengenali batasanbatasannya:

    1. Kalau kekayaan kita peroleh dengan jalur yang benar, tentu tidak bisa disebut serakah.
    2. Kalau kekayaan yang kita simpan adalah hasil dari perjuangan atau bijaksana kita, tentu tidak bias disebut serakah.
    3. Kalau kita menggunakan harta kita sejalan dengan prinsip Tuhan, dengan pimpinan Roh Kudus, bukan dengan egois, itu juga tidak bisa disebut budak harta.

    Janganlah kita menjadi budak dosa, budak harta, budak nafsu diri kita sendiri. Apa maksudnya? Jangan sampai hidup kita berantakan, karena kita tak mampu mengendalikan nafsu, maka nafsulah yang akan mengendalikan kita. Karena kita tak mampu mengendalikan uang, maka uanglah yang akan mengendalikan kita. Karena kita tak mampu menguasai emosi, maka emosilah yang menguasai kita. Karena kita tak mampu menguasai diri, maka diri yang melawan kehendak Allah akan menguasai kita. Paulus berkata, "Aku senantiasa menaklukkan tubuh, agar tubuh menjadi hamba bagiku." Begitu jugalah kita mengelola uang kita. Tuhan memberikan uang pada kita untuk menguji kita, bukan untuk kita nikmati semau kita. Sebelum kita mati, kita harus bisa mengatur uang dengan baik.

    Ada seorang yang kaya raya. Saat ia mati, ia mewariskan semua hartanya untuk anak tunggalnya. Namun beberapa bulan kemudian, anak tunggalnya meninggal dunia, orang bertanya-tanya untuk siapakah hartanya? Puji Tuhan, sebelum ia mati, ia telah mengalokasikan sembilan puluh persen hartanya untuk pekerjaan Tuhan, hanya sebagian kecil saja ia sisakan untuk masa tuanya. Maka waktu ia meninggal dunia secara mendadak, orang memuji kebijaksanaannya, karena saat uang masih di tangannya, ia menjadi tuan, bukan budak, atas uangnya.

    Banyak orang mencari, bahkan berhasil mengumpulkan banyak uang dalam hidupnya, tapi setelah ia mati, uangnya bukan saja tidak menjadi berkat malah menjadi petaka bagi anak-anaknya. Mereka memperbutkan uangnya sampai saling membunuh. Mungkin kau berkata: Aku mendapat banyak uang karena aku hebat, pintar, sukses, giat berjuang. Semua itu benar, tapi tahukah kau bahwa hidupmu hanya beberapa puluh tahun saja, dan uang bukan milikmu untuk selama-lamanya? Kalau uangmu berlebihan, permisi tanya, dari mana kau mendapatkannya? Dari hasil perjuanganmu atau dari hasil rampasanmu? Dari keserakahan atau dari keringatmu sendiri? Dihadiahi orang atau apa?

    Saya sering berpesan pada hamba-hamba Tuhan yang lebih muda dari saya: Kalian harus bias membedakan sumber keuanganmu, juga motivasi pemberinya. Orang memberi uang karena ingin membeli kamu, menyuap kamu, memperalat kamu; atau karena menghargai kamu, menghormati Tuhan atau untuk kau pakai dalam pekerjaan Tuhan? Juga harus tahu ke mana uang itu kalian pakai, jangan serakah, jangan kuatir, jangan merampas, jangan menginginkan milik orang lain. Setelah kalian mendapatkan, jangan biarkan uang membelenggu diri kalian, tetapi gunakanlah uang itu dengan baik. John Wesley pernah berkhotbah, "Hai orang Kristen, carilah uang dengan giat. Amin? (Lalu jemaat menjawab "Amin!"). Setelah mendapat banyak uang, simpanlah uangmu dengan baik, jangan memboroskannya. Amin? (Jemaat menjawab "Amin!"). Setelah itu, persembahkan sebanyak mungkin pada Tuhan. Amin?" Lalu suara "Amin" pun menghilang. Semua orang saling berpandangan, tapi tak terdengar lagi kata "Amin!"

    Mengapa Tuhan memberi kita kekayaan lebih dari yang kita butuhkan? Jika kau tidak hidup di dalam iman, tapi hidup di dalam kekuatiran, meski diberi gunung emas sekalipun tetap tidak akan puas dengan apa yang kau miliki. Jika Tuhan memberimu kecukupan dan kau bisa menggunakannya dengan baik, kau akan menyaksikan bahwa Tuhan tak pernah meninggalkanmu.

    Salah satu ujian Tuhan yang paling kejam adalah mengirim Elia ke rumah janda di Sarfat. Janda itu sudah ditinggal mati oleh suaminya, sudah tak berpengharapan, karena ia harus membesarkan seorang anak lagi. Padahal miliknya hanya sisa sedikit tepung dan sedikit minyak, maka pikirnya: Aku akan membuat roti untuk santapan terakhir kami, esok kami tinggal tunggu mati bersama-sama (karena jaman itu adalah jaman kelaparan). Tapi Tuhan mengirim Elia datang mengetuk pintu rumahnya.

    "Kaukahnda it678u?"

    "Ya," jawabnya. "Siapakah Bapak?"

    "Aku adalah nabi Yehovah (Yahweh). Namaku Elia. Tuhan telah menggerakkan hatiku dengan roh-Nya untuk tinggal di rumahmu."

    Janda itu mungkin berkata dalam hatinya, "Oh Tuhan, apa Kau tidak salah? Mengapa Kau tidak mengirimnya ke rumah orang kaya saja, malah mengirimnya ke rumahku, seorang janda miskin, di jaman kelaparan ini? Belum lagi perawakannya besar, kantong nasinya pasti besar juga." Tapi sanggupkah si Janda menolaknya? Perkara itu sungguh tidak dapat kita pahami. Elia seorang lelaki, dikirim ke rumah perempuan, janda lagi. Mungkin orang di sekitar sana akan bergunjing: Apaapa ini? Untuk apa dia menumpang di rumah seorang janda? Untuk bermain seks atau apa? Memang cara Tuhan seringkali tidak bisa kita pahami: Janda miskin itu disuruh menghidupi lelaki yang tubuhnya besar. Dari manakah ia bisa mendapatkan makanan? Kalau saja mereka bertiga mati kelaparan, orang tentu akan berpikir, "Tuhan mengirim hamba-Nya untuk membunuh mereka." Tapi janda itu begitu taat, dia mendahulukan pekerjaan Tuhan. Dan ini adalah pelajaran yang penting.

    Tuhan sudah mengirimnya, maka janda itu menyuruh Elia masuk dan menunjukkan kamarnya, lalu pergi menyediakan makan baginya. Saat ia di dapur, ia bisa saja mengutuk Tuhan, "Mana mata-Mu, makanan apa yang ada di dapurku?" Tapi janda itu tidak berbuat demikian. Setelah ia memanggang roti, ia menyuguhkannya pada Elia. Lalu kembali ke dapur untuk menangis di sana, karena ia dan anaknya tinggal menunggu mati kelaparan. Tetapi begitu sampai di dapur, ia melihat tepungnya seperti tidak berkurang, masih sebanyak tadi. Kalau saja ia tidak membuatkan roti untuk Elia hari itu, ia dan anaknya pasti mati. Justru karena ia memberikannya pada Elia, Tuhan memberinya lagi. Ia bahkan bisa membuat roti bagi dirinya dan anaknya. Tepung dan minyak yang ia miliki tetap sebanyak itu.

    Orang bertanya pada saya, "KKR tahun 2003 ini diadakan di Stadion Utama? Ini jaman apa, mengapa kau berani merencanakan KKR di Indonesia dengan biaya sebesar itu? Dari mana kita mendapatkan dana?" "Saya juga tidak tahu," jawab saya, "Saya hanya tahu berjanji dengan iman, GRII pusat paling sedikit memberikan lima ratus juta rupiah." "Apa jadinya kalau dana tidak cukup?" "Saya hanya tahu itu adalah perintah Tuhan. Saya harus ingat dulu, perkara yang Tuhan ingin kita kerjakan, nanti Tuhan akan menyediakan." Ada orang juga bertanya, "Anda ingin membangun gereja besar, dari mana dananya?" "Saya juga tidak tahu. Yang saya tahu, di Jakarta ada begitu banyak bangunan raksasa untuk pekerjaan dunia, mengapa kita tidak bisa membangun bangunan untuk pekerjaan Allah Bapa kita di surga? Biarpun mungkin memakan waktu yang cukup lama, tapi harus kita kerjakan. Kiranya kehendak Tuhan saja yang jadi."

    Orang dunia berani melakukan perkara-perkara besar untuk dunia, jika anak Tuhan tidak berani melakukan perkara-perkara besar untuk Tuhan, tidak mau betul-betul berjuang bagi pekerjaan Tuhan, masih beranikah ia menyebut dirinya mengasihi Tuhan? Begitu banyak uang yang telah kau pakai untuk keluargamu, mengapa kau tidak berani mempersembahkan sesuatu untuk pekerjaan Tuhan? Pada hari ketika janda itu memberikan jatah makanannya yang terakhir, pada hari itu pula Tuhan melakukan mujizat. Selama tiga setengah tahun, ia tak pernah kekurangan makanan.

    Jangan serakah, jangan kuatir, jangan takut, jangan berpikir Tuhan sudah meninggalkanmu, karena Tuhan sudah berjanji, "I will never forsake you, I will never leave you - Aku akan selalu memeliharamu." Itulah sebabnya jangan kita terus-menerus menjadi budak uang. Berkatalah pada Tuhan dengan iman: "Aku percaya pada-Mu, Tuhan yang hidup." Amin.

    Sumber: Majalah MOMENTUM No. 53 - Januari 2004

    Jiwa dan Tubuh

    Shalom,
    Dear All,
    Apa yang akan kita lakukan setelah menjadi orang percaya? Ingatlah bahwa yang dipulihkan baru roh kita. Jika kita meninggalkan dunia ini sebagai orang percaya kepada Yesus, kita boleh yakin, bahwa kita akan masuk sorga. Oleh karena itu, jangan kita tangisi orang yang meninggal sebagai orang percaya. Jika kita memiliki pengalaman mendampingi orang yang sudah sekarat, kadang-kadang kita menyadari, bahwa orang sekarat, saat meninggal ia bisa melihat siapa yang menjemputnya, malaikat kegelapan alias setan, atau dijemput oleh Tuhan Yesus dan para malaikat di sorga.

    Namun kita harus ingat, bahwa setelah kita mengaku percaya, kita masih ada di dunia. Tidak seperti penjahat yang bertobat ketika disalib bersama Yesus, percaya kepadaNya, langsung masuk firdaus pada hari itu juga. Kita masih memiliki daging/tubuh duniawi yang cenderung berbuat dosa, dan jiwa kita masih terikat oleh pikiran duniawi, perasaan cemas, ketakutan, kecanduan, keterikatan, perasaan bersalah. Ini adalah celah masuk iblis untuk menguasai kita kembali. Ingat bahwa roh kita sudah tidak mempan oleh serangan iblis, jadi dia ganti taktik. Kita dihadapkan pada masalah-masalah seperti keuangan, pergaulan, jodoh, keluarga, pekerjaan, bahkan sakit penyakit. iblis menawarkan dunia dan segala isinya, jika kita mau menyembahnya. Tetapi Yesus katakan: hanya Tuhan saja yang patut disembah. Dan kita sudah mengakui, Yesuslah Tuhanku!

    Bagaimana caranya, untuk menutup celah dalam jiwa dan tubuh ini, supaya iblis tak lagi berkuasa? Inilah yang akan kita bahas satu per satu. Jiwa kita terdiri dari pikiran dan perasaan. Pikiran kita terbentuk karena masukan informasi. Jika kita baca koran setiap pagi, maka pikiran kita terbentuk dari berita-berita yang ada di koran. Jika kita ingin bebaskan jiwa kita, mulailah baca Firman Tuhan. Orang dunia tidak mengerti isi Alkitab, karena tidak ada yang menuntun. Tetapi orang percaya memiliki Roh Kudus dalam hatinya, sehingga ia bisa mengerti isi Alkitab. Peganglah janji-janji Tuhan dalam Alkitab, dan kita akan melihat kedashyatan tangan Tuhan! Itulah iman kita yang mengalahkan dunia, kita baca Firman (Iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan), lalu kita percayai, walaupun kita belum melihat buktinya. Jiwa yang dibentengi Firman Tuhan, tidak dapat dikalahkan iblis. Yesus Kristus, mengisi jiwanya dengan Firman sejak kecil, Ia hafal isi kitab para nabi dan Ia mengalahkan godaan iblis dengan menyerangnya dengan Firman.

    Tubuh yang kita miliki di dunia ini adalah sahabat dari dosa. Ia cenderung untuk berseteru dengan kehendak Allah, ia lebih senang akan kenyamanan, kenikmatan, kepuasan, keangkuhan, sehingga ia menolak jika jiwa kita memilih untuk menderita dan melayani. menurut pengamatan saya, kebanyakan orang jiwanya tunduk pada keinginan tubuh, bukan sebaliknya. Hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup. Jika lapar, orang cenderung untuk mencuri, menipu, bahkan rela menghabisi nyawa orang lain. Padahal hidup bukan hanya dari makanan saja, tetapi atas kehendak Tuhan! (hidup bukan dari roti, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah). Oleh karena itu, matikanlah perbuatan daging anda.

    Teori memang gampang tetapi prakteknya susah! Itulah yang biasanya yang dipikirkan orang-orang. Tetapi Yesus katakan: Aku akan mengangkat bebanmu dan kuk yang kupasang enak dan ringan bebannya. Hal pertama yang perlu kita lakukan setelah kita percaya adalah mengakui dosa-dosa kita yang lama, menaruhnya dibawah kaki Tuhan Yesus, lalu meninggalkan segala perbuatan kita yang kita rasa tidak berkenan di hati Tuhan. Ini namanya pertobatan. Dan Pertobatan ini kuasanya diperoleh lewat babtisan, karena memang babtisan air adalah tanda pertobatan(Mat 3:11). Jadi, lucu kalo ada bayi yang dibabtis, karena bayi belum bisa bertobat. Untuk bayi, yang ada adalah penyerahan kepada Tuhan. Setelah babtisan, jiwa kita akan terlepas dari ikatan-ikatan kutuk seperti kutuk keturunan, kutuk karena menyembah setan, kutuk karena trauma masa kecil dan kecanduan akan rokok, narkoba, pornografi, dll. Dan Tubuh kita dibebaskan dari sakit penyakit dan penderitaan.

    Saya menyaksikan sendiri, lewat babtisan yang benar, orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, jiwanya bebas dari setan. Setelah itu, carilah Tuhan Yesus lewat Alkitab, Lagu Pujian dan penyembahan, doa, puasa, dan bersekutu dalam Gereja yang benar-benar memuliakan nama Tuhan Yesus.

    Alkitab berkata: Setiap orang yang mau mengikut Aku (Yesus), ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Markus 8:34. Menyangkal diri dalam injil Matius dan Lukas dijabarkan sebagai menomorsatukan Tuhan Yesus, sehingga tidak lagi menyayangi (tidak sayang = benci), orang-orang terdekat, bahkan diri sendiri. Menyangkal diri artinya meninggalkan manusia lama, cara pandang hidup yang lama, pola pikir yang lama, mati bagi dosa. Sedangkan pikul salib artinya turut menderita, setia untuk menjalankan perintah Tuhan, entah kita sebagai Pegawai, Pengusaha, Tentara, Pemerintah, Rohaniwan, hendaklah kita menjadi pelaku Firman, kapan pun, dimanapun. Jika kita sedang melakukannya, barulah Tuhan Yesus melayakkan kita sebagai pengikut Kristus. Amien.

    Tuhan Yesus memberkati.

    Jonathan Edwards

    Penulis : Stephen J. Nichols

    Saya ingat waktu pertama kali saya mencoba untuk membaca tulisan Jonathan Edwards. Saya sedang mengunjungi sebuah college dan duduk di sebuah kelas sejarah gereja yang pada hari itu diajar oleh seorang dosen tamu yang akan mengajar tentang Jonathan Edwards. Ia mengakhiri perkuliahan dengan menantang kami untuk membaca Religious Affections, dan ia menyebut buku ini sebagai buku terpenting kedua setelah Alkitab yang harus dibaca oleh orang Kristen. Seorang sarjana baru-baru ini berkata bahwa Edwards terus dan terus membawa dampak di dalam teologi dan pemikiran di Amerika. Jika melihat timbunan tulisan yang bertemakan Edwards, maka apa yang ia bicarakan bisa jadi benar. Faktanya, sejak sekitar tahun 1950-an hingga sekarang ada hampir tiga ribu buku, disertasi dan artikel yang telah ditulis tentang Edwards.

    Mengapa begitu banyak orang yang tertarik dengan Edwards. Saya akan memberikan empat alasan:

    Pertama, Kehidupan pribadinya sangat menarik. Ia adalah satu-satunya pria dari sepuluh bersaudara. Ayahnya, ayah mertuanya, kakeknya, salah seorang anaknya dan salah seorang menantunya, beberapa cucunya, beberapa pamannya dan beberapa keponakannya adalah pendeta. Ia juga adalah kakek dari wakil presiden Amerika Serikat yang ketiga. Edwards sudah bergelar sarjana di saat ia masih muda, ia pernah melayani di salah satu gereja paling terpandang di New England pada waktu berusia 26 tahun. Dan ironisnya, ia diberhentikan setelah dua puluh dua tahun melayani. Ia melayani sebagai misionaris bahwa orang-orang Amerika asli dan menutup hidupnya sebagai rektor Princeton.

    Relasi yang ia nikmati dengan isterinya telah melegenda. Saat pertama kali berjumpa dengannya, Edwards telah terpesona olehnya dan merangkai puisi akan kebajikan wanita ini di bukunya. Pada saat ia hampir meninggal dunia, ia berbicara tentang "persatuan yang tidak biasanya", yang ia nikmati bersama Sarah. Ia juga adalah seorang ayah yang mengasihi anak-anaknya, yang dibuktikan dari surat-menyurat yang hangat di antara mereka. Selama terjadinya Kebangunan Besar, ada banyak tuntutan yang memenuhi jadwal Edwards, tetapi ia selalu menyediakan waktu untuk memberikan perhatian yang tak terbagi kepada anak-anaknya.

    Kedua, ia juga adalah seorang yang tahu bagaimana menggembalakan. Ia memang agak sedikit malu-malu dan lebih banyak di rumah bersama buku daripada bersama orang lain. Tetapi ia tetap menyediakan waktu untuk melawat jemaatnya, khususnya mereka sedang berada di dalam kesusahan jiwa. Bahwa setelah ia pindah ke Northampton, ia masih sering berkirim surat dan menjawab pertanyaan dari jemaatnya dulu.

    Ketiga, Edward juga banyak diperhatikan karena kehidupan pemikirannya. Ia masih menyimpan seri catatannya selama kuliah hingga akhir hidupnya. Di dalam catatan-catatan ini, ia menulis berbagai pemikirannya, sebagian singkat dan sebagian sampai memenuhi seluruh halaman. Ia bahkan masih kembali ke catatan-catatan itu berpuluh-puluh tahun kemudian, memberikan refleksi yang baru tanpa membongkar bangunan dasarnya. Ia membangun sistem coretan tangan dan rujukan yang begitu rumit hingga dibutuhkan seorang pemecah sandi militer untuk bisa membongkarnya. Ia memiliki meja tulis khusus dengan banyak laci dan kabinet, dan ia menyimpan buku-buku tertentu di laci-laci tertentu.

    Keempat, Edward memikirkan dan menulis tentang banyak topik dan isu. Ia meneliti natur dan aktivitas seekor laba-laba, menggali kedalaman Alkitab, menyelidiki bentuk-bentuk etika, dan bergelut dengan isu-isu teologi. Para sarjana di bidang sastra, sejarah, filsafat masih membaca Edwards bersama-sama dengan para teolog, gembala dan orang awam. Setiap tulisannya bertahan hingga dua ratus tahun dari sejak pertama kali diterbitkan.

    Saya pernah menghadiri suatu konferensi tentang Edwards dan di akhir acara, seorang pengunjung bertanya kepada para panelis apa yang telah mereka pelajari tentang Edwards. Saya tidak bisa melupakan jawaban dari seseorang yang mungkin mengenal Edwards lebih dari siapapun, George S. Claghorn. Jawabannya singkat tetapi begitu sulit dilupakan: ia berkata bahwa Edwards adalah seorang yang terfokus, tak kenal takut dan setia.

    Keindahan dan kemuliaan Allah sungguh mewarnai kehidupan dan tulisan-tulisan Edwards. Ia menetapkan pikirannya kepada api dan hatinya hangat terbakar. Tidak heran jika ia terus memiliki sesuatu untuk dikatakan kepada gereja ratusan tahun setelah kematiannya. Tidak heran pula jika orang-orang masih mau mendengarkan dia.

    Sumber: Jonathan Edwards: A Guided Tour of his Life and Thought, hal 17-22

    Karakter Allah

    Oleh: Wiempy

    Di bawah ini akan dibahas mengenai karakter-karakter yg ada dalam diri Allah.

    1. Kita perlu mempelajari nama-nama Allah karena:
      • Dapat menyatakan karakter dan sifatNya kepada kita secara lebih mendalam. Jika kita bertumbuh dalam mengenal Allah maka kita dapat memahami sifat dan karakter Allah.
      • Supaya kita dapat memahami hubungan-hubungan yang berbeda yang dapat kita nikmati bersama dengan Allah. Nama Allah memiliki arti yang lebih dalam saat kita menikmati hubungan bersama Allah.
      • Mengajar kepada untuk lebih bersandar kepada Allah pada saat kita mengalami krisis. Berserah pada Tuhan dan mengandalkan pada kekuatan Tuhan
      • Melalui nama Allah, Allah menyatakan bahwa Dialah sumber dan jalan keluar bagi semua masalah kita.

    2. Atribut-atribut Yehovah.
      • Atribut Moral (yang dapat dikomunikasikan)
        1. Kudus
          Dengan sifat ini Allah ingin kita kudus, memisahkan diri dengan
          dunia ini, menyalibkan kedagingan kita supaya kita dapat
          berhubungan dengan Allah.
        2. Kasih
          Kasih yang berupa kasih sayang bersifat rasional dan berdasarkan
          kehendak yang memiliki dasarnya dalam kebenaran dan kekudusan.
        3. Baik
      • Atribut Komparatif (perbandingan, sifatnya non moral) -->tidak dapat dikomunikasikan.
        1. Maha Tahu
          Allah tidak perlu belajar sesuatu karena Dia memang maha tahu
        2. Maha hadir
          Dia dapat hadir dimana saja tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu
        3. Maha kuasa
          Dia berkuasa atas langit dan bumi

    3. Nama-nama Allah
      1. Elohim - Allah Pencipta yang perkasa.
        Ketika kita menyebut nama Allah sebagai Pencipta yang perkasa berarti kita sedang memproklamirkan keperkasaan dan kemahakuasaan Tuhan. Dalam kitab kejadian nama Elohim disebut 31 kali. Elohim menginginkan kita bersandar padaNya sebagai sumber kekuatan.
      2. Yehovah - Allah yang kudus.
        Disebutkan 6823 kali dalam perjanjian lama. Allah pribadi yang ada dengan sendirinya, menyatakan bahwa Allah tidak pernah berubah.
      3. El Shaddai- Allah yang maha kuasa.
        2 arti yang muncul dalam Allah El Shaddai yaitu Allah yang berkuasa dan Allah yang lembut, memelihara dan memuaskan. Dengan El Shaddai kita harus menjauhi dosa, cari kehadiran Allah, beristirahat dalam ke tangan El shaddai.
      4. Adonai - Tuhan, tuan, pemilik.
        Tuan dari seorang hamba, Kita bertanggung jawab pada Tuhan, Allah bertanggung jawab pada kita. Tanggung jawab antara Tuhan dan kita adalah sebagai berikut:
        1. Tuhan sebagai Adonai
          • Menyakinkan bahwa Allah mempunyai sumber2 dan kemampuan untuk memelihara.
          • Memberikan pertolongan kepada hambaNya dalam melakukan tugas.
        2. Kita sebagai hamba
          • Harus memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan.
          • Melakukan apa yang Tuhan perintahkan dengan taat dan setia.
      5. Yehovah Jireh - Allah yang menyediakan.
        Nama ini muncul ketika Abraham disuruh untuk menyerahkan anaknya,Ishak. Allah menyediakan makanan, pakaian, dan keuangan pada penginjil pertama yang memberitakan Yesus.
      6. Yehovah M"Kaddesh - Allah yang menguduskan.
        Allah menyucikan dan memisahkan dengan menyatukan pribadi kita denganNya untuk suatu rencana yang mulia. Allah menghendaki kekudusan bagi anak-anakNya.
      7. Yehova Rophe - Allah yang menyembuhkan dan memulihkan.Allah ingin kita mengalami kesembuhan dan kita juga disuruh untuk menumpangkan tangan kepada orang lain agar mereka mengalami kesembuhan juga. Yesus datang untuk menyembuhkan emosi yang terluka, hati yang luka, dan remuk. Firman Allah seperti obat, pada saat kita mengambil firmanNya kita mengambil kesembuhan.
      8. Yehova Nissi - Allah yang memberikan kemenangan dan mujizat.
        Panji kemenangan. Jika kita bersandar pada Yehova Nissi, kita sedang bertempur dengan kekuatanNya bukan kekuatan kita sendiri.
      9. Yehova Shalom - Sang damai.
        Yesus adalah raja damai. Untuk hidup damai kita harus mengarahkan hidup kita dan pikiran kita pada Allah.
      10. Yehova Rohi - Gembala dan sahabat.
        Yesus adalah gembala kita, dan gembala yang baik.

    4. Maksud dari perumpaan Allah El shaddai di gambarkan dalam jeans dan sutera:
      1. Allah yang berkuasa --> kain jeans itu keras dan kuat, dan ini digambarkan dalam Allah El Shaddai dimana Allah berkuasa, Dia berkuasa untuk menghukum dan memberikan pelajaran bagi umat-Nya yang melanggar dan tidak taat.
      2. Allah yang lembut --> Allah itu lembut, memelihara dan memuaskan seperti kain sutera (lembut), yang sanggup melindungi, memelihara anak-anak-Nya.

    5. Tiga nama Allah yang utama:
      • Elohim --> Allah yang perkasa atau sang pencipta.
      • Yehova --> Pribadi yang ada dengan sendirinya.
      • Adonai --> Tuan dari seorang hamba.

    Karunia-Karunia Roh

    Seri Khotbah Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

    PENDAHULUAN

    Istilah Yunani untuk “karunia-karunia” adalah “charismata” bentuk tunggalnya “charis” yang secara umum berarti “hadiah, pemberian, karunia, anugerah. Sedangkan arti kristiani yang khusus untuk kata tersebut ialah “karunia rohani yang berasal dari Allah” (Roma 1:11). Dari kata “charismata” inilah muncul kata “kharismatik”, yang kemudian digunakan untuk “gerakan kharismatik”, yaitu gerakan yang memberikan tekanan kuat pada kharismata yaitu karunia-karunia Roh Kudus yang dianugerahkan Tuhan kepada gerejaNya.

    Definisi dan Pengertian Karunia-Karunia Rohani

    Karunia rohani dapat didefinisikan sebagai “kemampuan khusus yang diberikan kepada orang- orang percaya oleh Roh Kudus untuk memuliakan Kristus dan membangun gereja-Nya”. Berdasarkan definisi tersebut ada tiga hal yang harus dipahami, yaitu:

    1. Karunia-karunia rohani adalah kemampuan-kemampuan khusus. Kemampuan khusus ini tidak sama dengan dengan talenta atau pun kemampuan alami yang dibawa setiap orang sejak lahirnya. Sebagai contoh, ada yang dapat menyanyi atau belajar memainkan sebuah alat musik dengan baik, ada yang pandai melukis gambar yang indah atau mengukir bentuk-bentuk dari kayu, dan lain-lainnya. Tuhan memberikan kemampuan-kemampuan ini, tetapi itu bukanlah karunia rohani. Walaupun demikian, ketika kemampuan alamiah ini dipersembahkan kepada Tuhan untuk kepentingan-Nya, kemampuan itu dapat menjadi suatu cara untuk mengekspresikan sebuah karunia rohani.

    2. Karunia-karunia rohani adalah pemberian Tuhan. Artinya, karunia-karunia rohani tidak diperoleh karena pekerjaan yang baik, punya talenta atau kemampuan- kemampuan alamiah. Karunia rohani merupakan pemberian dari Tuhan, oleh sebab itu tidak mungkin seseorang mendapatkannya melalui kerja keras, memperoleh karena layak atau mempelajarinya dari buku-buku.

    3. Karunia rohani adalah untuk memuliakan Kristus dan membangun gereja-Nya. Karunia-karunia rohani harus digunakan untuk pelayanan di dunia ini. Karunia-karunia tersebut diberikan untuk memuliakan Kristus dan menolong gereja untuk bertumbuh.

    DAFTAR KARUNIA-KARUNIA ROHANI

    Berikut ini ayat-ayat yang memuat daftar karunia-karunia (charismata) yang Tuhan berikan kepada Gereja yaitu :
    1. Daftar karunia-karunia dalam Roma 12:6-8, yaitu karunia: bernubuat, melayani, mengajar, menasehati, membagi-bagikan, memberi pimpinan, dan kemurahan (karunia pelayanan).
    2. Daftar karunia-karunia dalam 1 Korintus 12:4-11, yaitu karunia: hikmat, pengetahuan, iman, menyembuhkan, mujizat, bernubuat, membedakan roh, bahasa roh, dan menafsirkan bahasa roh (karunia penyataan atau manifestasi Roh).
    3. Daftar karunia-karunia dalam Efesus 4:11-12, yaitu karunia: rasul, nabi, penginjil, gembala, dan pengajar (karunia jabatan kepemimpinan).
    4. Daftar karunia-karunia dalam 1 Petrus 4:11, yaitu karunia: berbicara (khotbah), melayani (karunia pelayanan).
    5. Daftar karunia-karunia rohani dalam 1 Korintus 12:28-30, yaitu karunia: rasul, nabi, pengajar, mujizat, menyembuhkan, melayani, memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh.

    Saat diteliti dan dibuat daftar lengkap, para ahli Alkitab ada yang menemukan sembilan belas karunia rohani, ada yang dua puluh tujuh, dan ada jumlah lainnya. Rupanya Paulus dan lainnya, tidak bermaksud membuat daftar yang lengkap mengenai krunia rohani. Tampaknya karunia yang disebutkan dalam Alkitab hanya sebagai contoh tentang bagaimana Tuhan memberikan kemampuan dan kuasa kepada umatNya untuk melaksanakan perintahNya dan kehendakNya (Matius 28:19-20).

    TUJUH PRINSIP KARUNIA ROHANI

    Berdasarkan Roma 12:6-8; 1 Korintus 12:4-11; Efesus 4:11-12; 1 Petrus 4:11. Kita menemukan prinsip-prinsip tentang karunia-karunia rohani, yaitu:
    1. Karunia rohani diberikan pada saat seorang dibaptis kedalam tubuh Kristus, yaitu pada saat lahir baru (1 Korintus 12:13).
    2. Karunia-karunia rohani berupa karunia jabatan kepemimpinan diberikan untuk memperlengkapi orang percaya untuk melakukan pekerjaan pelayanan (Efesus 4:12).
    3. Karunia rohani diberikan kepada setiap orang percaya. Artinya, setiap orang percaya mempunyai paling sedikit satu karunia roh; ada kemungkinan lebih dari satu (1 Korintus 12:7).
    4. Karunia roh diberikan sesuai kehendak Tuhan, bukan menurut keinginan orang percaya itu sendiri (1 Korintus 12:11; Efesus 4:7).
    5. Karunia rohani setiap orang percaya berbeda-beda satu dengan lainnya (Roma 12:6).
    6. Karunia-karunia rohani diberikan untuk membangun tubuh Kristus (1 Korintus 12:12 ; Roma 12:4-6; Efesus 4:12).
    7. Setiap orang percaya harus menggunakan karunia-karunia mereka untuk saling melengkapi dan melayani (Roma 12:4-5; 1 Petrus 4:10).

    Rasul Paulus membandingkan gereja sebagai sebuah tubuh jasmani (1 Korintus 12:12-31). Tubuh memiliki banyak anggota dan setiap anggota memiliki tugas khusus. Satu bagian tidak dapat melakukan pekerjaan bagian yang lain. Mata tidak dapat mendengar, tangan tidak dapat berjalan. Demikian juga halnya dengan orang percaya, setiap orang percaya harus tahu bagaimana menggunakan karunianya. Tuhan telah memperlengkapi orang-orang percaya untuk melakukan pekerjaan- pekerjaan tertentu dalam gereja. Jika seseorang gagal menggunakan karunianya, bagian dari fungsi gereja itu akan lemah. Setiap orang percaya harus bersatu dengan karunia-karunia yang berbeda-beda itu.

    DUA KESALAHAN BERHUBUNGAN DENGAN KARUNIA ROHANI

    Tuhan memberikan karunia-karunia rohani kepada setiap anggota tubuh Kristus atau jemaat lokal, agar setiap orang percaya menggunakan karunia-karunia tersebut. Menggunakan karunia-karunia rohani tersebut merupakan hak istimewa yang diberikan Tuhan kepada setiap orang percaya. Karunia-karunia tersebut hendaknya digunakan dengan penuh tanggung jawab untuk memuliakan Kristus, memperlengkapi orang-orang kudus, melayani dan membangun tubuh Kristus, dan menginjili orang-orang yang belum percaya, sesuai perintah Kristus. Karena itu, ada dua hal harus dihindari setiap orang percaya dalam hal karunia-karunia rohani, yaitu:
    1. Menyembunyikan karunia-karunia rohani atau tidak menggunakan karunia-karunia rohani. Karunia rohani yang tidak digunakan tidak akan bermanfaat. Kelalaian, kemalasan, atau ketidaksetiaan adalah bukti dari ketiadaan tanggung jawab dihadapan Tuhan.
    2. Penyalahgunaan karunia-karunia rohani, yaitu menggadaikan atau menjual karunia-karunia itu kepada dunia untuk keuntungan dan kepentingan sendiri, berupa sanjungan, prestise, kekuasan, jabatan, dan uang.
     
    MENEMUKAN, MENGGUNAKAN, DAN MENGEMBANGKAN KARUNIA-KARUNIA ROHANI.

    Bagaimana Mengetahui (Menemukan) Karunia Rohani Saudara?

    Bagaimanakah seorang percaya dapat mengetahui atau menemukan karunia rohaninya? Berikut ini petunjuk-petunjuk yang berguna untuk menemukan karunia-karunia rohani Saudara:

    1. Sadarilah bahwa Saudara memiliki paling sedikit satu karunia rohani.
    2. Berdoalah tentang hal itu. Mintalah pada Tuhan agar menunjukkan kepada Anda apa karunia rohani Saudara.
    3. Pelajarilah ayat-ayat Alkitab mengenai karunia-karunia rohani. Allah menyatakan kebenaran melalui Firman-Nya.
    4. Tulislah beberapa hal yang senang Saudara lakukan. Apakah Saudara senang mengajar anak-anak? Apakah Saudara senang bersaksi? Apakah Saudara senang berdoa? Ingatlah, Tuhan menggunakan hal-hal yang diberikan kepada Saudara untuk kemuliaan-Nya.
    5. Mengertilah tentang kemampuan Saudara sendiri. Pikirkanlah tentang cara-cara Tuhan memakai Saudara sekarang. Manakah di antara hal-hal itu yang paling menonjol. Maksudnya, ketika Saudara melakukannya banyak orang diberkati, banyak orang menjadi mengenal, mengasihi dan melayani Allah?
    6. Dengarlah pendapat dari orang Kristen yang lain. Allah menggunakan orang lain untuk menolong seseorang mengetahui karunianya. Orang-orang Kristen di gereja Saudara tahu tentang hal-hal yang Saudara lakukan untuk memuliakan Kristus.
    7. Minta nasehat dan konfirmasi (peneguhan) dari pemimpin rohani Saudara. Tuhan telah memberikan pemimpin-pemimpin rohani di dalam gereja untuk melengkapi jemaat bagi pekerjaan pelayanan. Karena itu pemimpin mendapat tugas untuk mengajar, mengarahkan, dan membimbing jemaat melayani berdasarkan karunia-karunia rohani mereka.
    8. Terimalah karunia Saudara sekarang dengan bersyukur. Mengucap syukurlah kepada Tuhan atas karunia yang telah Ia berikan kepada Saudara. Janganlah menginginkan karunia yang orang lain miliki. Tidak ada karunia yang kecil di mata Allah. Semuanya penting untuk membangun gereja-Nya.

    Bagaimana Membangun (Menggunakan dan Mengembangkan) Karunia Saudara?

    Setiap anggota tubuh dibutuhkan untuk berfungsi secara menyeluruh. Setiap anggota tubuh Kristus dibutuhkan untuk memenuhi tujuannya di dunia ini. Beberapa hal yang dapat Saudara lakukan untuk membangun karunia-karunia adalah:

    1. Izinkan Roh Kudus bebas untuk membangun karunia Saudara. Bersedialah untuk dipakai. Setiap hari mintalah pada Roh Kudus untuk mengisi Saudara dan menjadikan Saudara sebagai berkat. "Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh." (Efesus 5:18).
    2. Terlibatlah dengan pekerjaan dan pelayanan di gereja lokal. Karunia-karunia itu diberikan untuk membangun tubuh Kristus, yaitu gereja. Melalui gereja lokal karunia-karunia rohani itu digunakan untuk melayani.
    3. Cobalah cara-cara yang Saudara dapat untuk menggunakan karunia Saudara. Jika Saudara dapat menggunakan karunia Saudara melalui musik, mulailah untuk menyanyi dalam paduan suara. Jika Saudara dapat mengajar, mintalah agar Saudara dapat menolong program pengajaran dari gereja Saudara. Saat Saudara menggunakan karunia Saudara, Tuhan akan memberkati yang lain melalui Saudara.
    4. Taatlah pada petunjuk dan bimbingan pemimpin rohani Saudara. Tuhan memberikan para pemimpin dalam gereja otoritas untuk memimpin dan memperlengkapi jemaat bagi pelayaan (Efesus 4:11). Belajarlah taat terutama dalam melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan pemimpin Saudara dengan penuh tanggung jawab (Ibrani 13:17). Lakukan tugas-tugas tersebut dengan kasih, ketulusan dan segenap hati, tanpa hal-hal tersebut, apa yang Saudara lalukan hanya akan memberi efek yang kecil. Saat karunia-karunia digunakan dengan benar dan terarah maka akan menghasilkan kesatuan dan pertumbuhan di gereja.
    5. Melayani dengan kasih. Tunjukkanlah kasih Saudara kepada Tuhan dengan penggunaan dari setiap karunia rohani Saudara. Mulailah hari ini untuk menemukan dan menggunakan karunia rohani yang telah diberikan kepada Saudara.

    Kebangkitan: Sebuah Dasar Yang Sukar

    (1Kor 15:2; Roma 10:9) Mengapa Kebangkitan dikatakan sebuah dasar? Disebut sebuah dasar karena inilah awal kepercayaan kita. Jikalau Yesus yang kita sembah tidak bangkit, maka sia-sialah injil. Sia-sialah gereja. Sia-sialah hamba Tuhan harus sekolah di sekolah Teologi, mereka sudah menghabiskan bertahun-tahun digembleng tetapi hasilnya cerita bohong melulu. Sia-sialah juga Stefanus, Petrus dan Paulus mempertahankan iman kepercayaan mereka sampai mati. Mengapa Kebangkitan dikatakan sebuah dasar yang sukar? Disebut sukar karena tidak gampang orang mempercayai kebangkitan ini. Termasuk murid-murid Yesus sendiri, salah satunya Tomas.

    Memang benar, peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus yang kita proklamirkan pada setiap Paskah menjadi perdebatan sejak dahulu; khususnya bagi mereka yang tidak percaya? Mereka mengatakan tidak mungkin, orang yang mati bisa bangkit kembali. Sudah mati ya mati, habis. Apa lagi yang perlu diharapakan? Di sinilah letak keunikan kepercayaan orang Kristen yang tidak dimiliki oleh kepercayaan yang lain; sebab Yesus yang kita sembah bukan Yesus yang senantiasa bercokol di atas kayu salib; lalu bangkai-Nya dimakan burung gagak dan habis. Tetapi Yesus yang kita sembah yaitu Yesus yang sudah mati di atas kayu salib, lalu dikuburkan dan bangkit pada hari yang ke tiga. Itulah saat-saat Kemenangan Yesus.

    Salah satu bukti Yesus bangkit yakni kubur kosong, namun rupanya bukti ini tidak cukup kuat dan masih sulit dipercaya terutama oleh para murid-murid-Nya; sebab di sana-sini muncul berbagai teori dan tuduhan;


    Bagian Alkitab di dalam 1 Korintus yang kita baca, rasul Paulus merasa berkepentingan untuk menjelaskan kepada jemaat tentang sesuatu yang cukup dasar di dalam iman kepercayaan orang-orang percaya. Sebab apabila prinsip kebangkitan ini tidak dianggap penting atau dikesampingkan maka itu berarti meniadakan atau membatalkan seluruh Injil. Paulus mengatakan "Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu"

    Rupanya di gereja Korintus ada beberapa orang yang telah menyangkal Kebangkitan Yesus Kristus. Paulus berusaha menasihati mereka. Di dalam Galatia 1:12, rasul Paulus mengatakan ia menerima Injil itu bukan dari manusia maupun dari rasul-rasul, melainkan dari Yesus Kristus sendiri. Karena itu, Paulus dapat memberitakan Injil dengan penuh percaya diri berdasarkan kebenaran itu.

    Tema khotbah ini adalah Kebangkitan: sebuah dasar yang sukar. Mengapa saya katakan demikian?. Ada tiga alasan yang akan saya jelaskan di bawah ini, walaupun sebenarnya alasan tersebut lebih dari tiga.

    Gereja di Korintus rupanya ada dua kelompok orang yang cukup ekstrem yakni orang Saduki dan orang Farisi. Orang Saduki itu tidak percaya akan kebangkitan, sedangkan orang Farisi sebaliknya. Konsep mereka barangkali sempat menyusup ke gereja di Korintus, sehingga rasul Paulus mau meluruskan kembali konsep jemaat di sana. Paulus telah mengajarkan kepada jemaat di Korintus tentang Kristus yang telah mati karena dosa-dosa kita dan ini jelas sesuai dengan isi Kitab Suci. Lalu Ia menampakkan diri kepada Kefas, kepada keduabelas murid-murid-Nya bahkan ke lebih dari lima ratus orang; selanjutnya Ia menampakkan Diri ke Yakobus dan akhirnya Yesus menampakkan Diri kepada Paulus.

    Bagi rasul Paulus peristiwa penampakan Diri Yesus kepadanya merupakan momen penting. Disitulah ada sebuah hati jahat yang diubah 180 derajat (total). Padaa saat inilah Saulus yang jahat telah menjadi Paulus yang baik. Saulus yang "ikut setan" menjadi Paulus yang "ikut Tuhan."

    Yesus yang hidup, sanggup merubah hati-hati yang keras dan mati. Itulah sebabnya, tatkala mengingat Kebangkitan Yesus; kita dingatkan kepada peritiwa Kasih-Nya yang Ajaib. Mengapa Ia bisa bangkit, karena Ia sudah mati. mengapa Ia mati, karena Ia mau menebus dosa kita. Kebangkitan memberi arti Yesus hidup, dengan demikan kita tidak mengerjakan sesuatu pekerjaan yang sia.

  • Kebangkitan Yesus membuktikan Ia berkuasa

  • Secara manusia memang seakan-akan Yesus tidak memiliki kuasa apa-apa. Yesus yang diharapkan sebagai pembebas; tetapi telah mati konyol. Ia gagal sebelum berperang. Memang benar kematian Yesus akan konyol apabila Dia tidak pernah bangkit. Tetapi kenyataannya lain bukan? Yesus yang kita sembah itu sudah bangkit. Ia tidak ada di dalam kubur lagi. Dengan demikian maka Yesus telah mengalahkan maut. Inilah letak kuasa-Nya. Kuasa Yesus inilah yang merupakan pengharapan kita manusia baik pada saat kita masih hidup di dunia maupun setelah mati.

    Kuasa atas maut, itulah yang dimiliki Yesus. Itu berarti Yesus telah memperoleh kemenangan itu. Satu kemenangan yang cukup Satria, ditandai dengan kematian seorang anak manusia yang disalibkan. Ia rela menyerahkan nywa untuk menyelamatkan kita. Kuasa tersebut juga diberikan pada kita, yakni kemenangan atas kuasa dosa; dengan modal penyerahan total pada Dia dan percaya kepada-Nya.

    Pada musim dingin tahun 1981, di Amerika Serikat telah terjadi suatu tragedi yang timbul karena kecelakaan pesawat terbang, yang sangat tragis terjadi di sungai Patomac, Wangshington DC. Tatkala berita mulai menyebar keluar, diketahui bahwa ada seseorang yang merupakan orang "ke-enam", oleh regu penyelamat, lima orang berhasil diselamatkan melalui tali-tali penyelamat dan pelampung yang dilemparkan ke arah mereka.

    Melalui Helikopter yang terbang melayang-layang di atas mereka, para penyelamat dengan heran melihat seorang dari mereka berulang-ulang memberikan pelampungnya kepada teman-teman yang ada disekelilingnya. Akhirnya, ketika lima orang telah berhasil diselamatkan, helikopter itu kembali untuk menyelamatkan seseorang yang disebut orang "ke-enam" itu. Tetapi ia tidak kelihatan lagi. Ia telah tenggelam di bawah air yang dingin seperti es, dan mati lemas. Ia sungguh-sungguh menganggap orang lain lebih utama. Ia relah menyerahakan nyawnya demi nyawa orang lain.

    Ayat Alkitab

    Yohanes 15:13 "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya."

    1 Yohanes 3:16 "Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa IA telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita."

    Puncak Karya Yesus adalah Kebangkitan. Injil menjadi berkuasa dan berkualitas karena adanya Kebangkitan ini. Rasul Paulus sekali lagi mau katakan bahwa (coba lihat ayat 14,15 dan dibaca), Ayat 20 yang merupakan suatu prinsip kebenaran.

    Kebangkitan disebutkan sebagai Puncak Karya Yesus karena tidak hanya menunjukkan Kuasa dan Keselamatan, tetapi sekaligus pembuka jalan menuju ke Sorga. Dengan Kebangkitan maka orang-orang yang mendengar berita Injil, mereka yang degil, mereka yang keras kepala dan sebagainya harus segera berpaling diri, karena karya yang besar yakni karya keselamatan akan diberikan kepada mereka.

    Dalam ruang Nama dan Peristiwa harian Kompas, dituliskan bahwa, tidak benar seorang lelaki lebih menghargai kecantikan fisik dan tubuh ketimbang kualitas lain wanita. Dalam survai yang diadakan surat kabar Amerika, Pittsburgh Post-Gazette, terhadap 200 penduduk Pensylvania, 52% pria mengatakan jika kapal penumpang Titanic tenggelam saat ini, mereka bersedia menyerahkan jatah tempatnya di perahu penyelamat kepada tokoh kemanusiaan Bunda Teresa. Hanya 8% pria yang mengatakan bersedia menyerahkan peluang keselamatan kepada penyanyi Madonna.

    Dalam survei yang disebut "Test Titanic" itu, 35% pria berse371 menyerahkan jatah kursi kepada pria yang bukan suaminya atau anaknya. Selain itu, 67% pria dan 41% wanita bersedia menyerahkan kursinya kepada pasangan mereka. Dari tes itu, terlihat bahwa responden ternyata lebih suka berkorban demi ibu ketimbang ayah. Sejumlah 74% pria dan 85% wanita bersedia menyerahkan kursinya kepada anak-anak mereka. Sejumlah 52% pria dan 40% wanita akan menyerahkan kursinya kepada ayahnya mereka, sedangkan 54% pria dan 55% wanita akan menyerahkan kursinya kepada ibu mereka.

    Menurut Mike Sigworth, salah satu responden, lelaki pada saat ini tidaklah begitu kesatria seperti dulu. "Jika terjadi bencana tenggelamnya Titanic sekarang, setiap pria akan segera berusaha meninggalkan kapal itu,"ujarnya. Hanya sepertiga pria saja yang mau menyerahkan kursi penyelamat kepada wanita yang bukan keluarga dekatnya.

    Tetapi Yesus yang kita sembah Ia tidak berbuat demikian. Di taman Getsemani memang dia bergumul secara berat atas penyaliban itu, bahkan Ia berdoa supaya kehendak Tuhan bisa berubah. Namun di dalam taman Getsemani juga Iman Yesus diteguhkan, doanyapun berubah, biarlah kehendak Tuhan yang jadi. Saya begitu yakin sekali bahwa di sinilah letak Puncak Karya-Nya.

    Seorang utusan Injil terkenal, yang bernama Dr. Alexander Duff kembali dari India ke Scotlandia. Ia adalah seorang hamba Tuhan yang berumur lanjut. Pada suatu hari ia berkhotbah dihadapan jemaat Presbyterian, ia menantang agar para pemuda bersedia menjadi misionari untuk di utus ke India. Tetapi sayang, tidak seorangpun yang tergerak pada tantangannya, berulang-ulang kali ia menantang terus, sampai mendadak ia jatuh pingsan.

    Orang-orang berdatangan untuk menolong dia dan seorang dokter memeriksa jantungnya. Akhirnya pahlawan Injil ini yang sudah tua itu membuka mata, ia bertanya: "Dimanakah saya ini?" Dokter menjawab: "Tenang, bapak tidak boleh terlalu banyak bergerak, keadaan jantung bapak sangat lemah."Tetapi Dr. Duff terus berusaha dengan sekuat tenaga untuk bangkit, lalu ia berkata : "Bawalah saya kembali ke surga, saya harus menyelesaikan tantangan saya."

    Karena tekadnya yang bulat, maka akhirnya dokter mengizinkannya kembali ke mimbar. Dengan diapit oleh seorang dokter dan seorang majelis, ia berjalan tertatih-tatih menaiki tangga mimbar. Semua jemaat merasa terharu, ia kemudian melanjutkan tantangannya:"Ketika ratu Victoria memanggil sukarelawan untuk dikirim ke India, saya lihat begitu banyak pemuda yang menyerahkan diri memenuhi panggilan itu."Kemudian dengan keras ia berkata:"Tetapi sekarang, Yesus Sang Juruselamat kita memanggil, mengapa tidak seorangpun yang mendengar panggilan-Nya?"Benarkah di Scotlandia tidak ada lagi pemuda yang mau di utus ke India? Kalau betul tidak ada lagi, maka saya yang sudah tua ini bersedia untuk kembali ke India. Walaupun saya sudah tidak sanggup berkhotbah, tetapi saya dapat berbaring dan mati di sungai Gangga; agar orang-orang India tahu bahwa paling sedikit ada satu orang Scotlandia yang masih mengasihi mereka.

    Dalam waktu singkat, banyak pemuda dengan mencucurkan air mata berdiri dan berkata: "Saya rela pergi ke India." Beberapa lama kemudian Dr. Duff meninggal, dan sejak saat itu banyak sekali pemuda Scotlandia yang mau diutus ke India.

    Roma 10:14,15

    "Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia. jika tidak ada yang memberitakan-Nya?

    Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis; betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"

    Keilahian Yesus Kristus Dipandang Dari Sudut Mukjizat -Mukjizat-Nya

    Oleh: Young Christianity

    Hidup Yesus penuh mujizat sejak awal dia berada di bumi. Dia lahir dari seorang perawan (Matius 1:18,20-21), Yesus mengubah air menjadi anggur (Yohanes 2:1-11), berjalan di atas air (Matius 14:25), melipat gandakan roti (Yohanes 6:11), memelekkan mata orang buta (Yohanes 9:7), membuat orang lumpuh bisa berjalan (Markus 2:1-12), mengusir setan (Markus 5:1-20), menyembuhkan berbagai penyakit (Matius 9:35), dan beberapa kali membangkitkan orang dari kematian (Matius 9:23-26;Lukas 7:11-17;Yohanes 11:38-44).

    Ketika murid-murid Yohanes Pembaptis menanyakan kepada-Nya apakah Dia mesias, Yesus menjawab mujizatnya sebagai bukti bahwa Dia mesias: `Pergilah dan katakanlah kepada Yohan es apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.` (Matius 11:4,5). Mujizat-mujizat seperti ini merupakan tanda adanya persetujuan Tuhan kepada orang yang melakukan mujizat. Mujizat-mujizat ini merupakan penggenapan dari apa yang ditulis Yesaya 700 tahun sebelum Yesus lahir ke bumi: `Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai.`(Yesaya 35:5,6).

    Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya. (Yohanes 3:1-2).

    Pada waktu Yesus dibaptis, muncul suatu suara dari sorga `Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.` (Matius 3:17). Ini merupakan tanda dukungan Allah Bapa terhadap pekerjaan dan keilahian Yesus.

    Mujizat adalah suatu bentuk konfirmasi/persetujuan ilahi atas suatu kebenaran/pekerjaan yang dikerjakan seseorang yang diutus Tuhan. Mujizat yang dihubungkan dengan pernyataan Yesus tentang keilahian diri-Nya, mengkonfirmasi bahwa Dia benar-benar Tuhan.

    Kekayaan

    Penulis : Bagus Pramono

    Riches don´t make a man rich. They only make him busier.
    -- Christopher Columbus --

    Kalimat yang bijak, ini menarik sekali untuk dicermati. Contohnya; apabila seseorang naik strata sosialnya dari keadaan biasa-biasa lalu menjadi kaya, tentu mereka akan disibukkan untuk membelanjakan uangnya, mereka akan membeli mobil yang lebih bagus, rumah yang lebih besar/ mewah, jalan-jalan ke luar negeri, beli ini, beli itu, pendeknya mereka akan membeli gaya hidup yang mencerminkan mereka itu punya duit.

    Namun apakah arti kekayaan yang dimaksud Tuhan? tentu bukanlah kekayaan harta materi semata. Keselamatan adalah harta terbesar kita. Kita menjadi pewaris kerajaan surga, menjadi anak-anak Allah.

    1. KONSEP KEKAYAAN

    1.A. ALAM SEMESTA SEBAGAI GAMBAR KEMULIAAN ALLAH

    Sejak Allah menciptakan alam semesta, Allah melengkapi alam semesta dengan kekayaan. Seluruh kekayaan dalam alam semesta dibuat oleh Allah untuk menggambarkan kemuliaan-Nya. Berbagai sumber alam disediakan Allah untuk memperkaya kehidupan manusia di muka bumi, tumbuh-tumbuhan, hewan, hingga bahan-bahan pertambangan yang pada waktunya bermanfaat bagi kemajuan dan kelangsungan hidup manusia di bumi. Tuhan sudah menyediakan segala kebutuhan manusia sejak saat manusia pertama itu diciptakan, bahkan Tuhan memberkati manusia dengan berkelimpahan :

    Kejadian 1:11,16-18,20,24,29-31

    1:11 Berfirmanlah Allah: "Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi." Dan jadilah demikian.
    1:16 Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.
    1:17 Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,
    1:18 dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
    1:20 Berfirmanlah Allah: "Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala."
    1:24 Berfirmanlah Allah: "Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar." Dan jadilah demikian.
    1:29 Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.
    1:30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya." Dan jadilah demikian.
    1:31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

    1.B. UKURAN KEKAYAAN

    Ukuran kaya menurut Allah tidak seperti ukuran manusia, Tuhan tidak melarang kekayaan. Tuhan mengajar agar anak-anaknya mencari dahulu jenis-jenis kekayaan yang bisa dibawa kedalam kekekalan.

    Matius 6:19-20

    6:19 "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.
    6:20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.

    Allah tidak mengajarkan kita untuk mengejar kekayaan duniawi. Allah akan memberkati keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaanNya. Kekayaan adalah berkat Tuhan semata :

    Filipi. 4:19
    Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

    Amsal 10:22
    Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.

    1.C. MAKSUD BERKAT KEKAYAAN

    Kita banyak menjumpai orang-orang kaya dan terkenal, sepertinya tidak lagi ada kesusahan dalam hidupnya. Tetapi kemudian kita mendapati mereka tidak dapat menikmati hidupnya karena takut bangkrut, atau mengalami kecemasan-kecemasan lainnya. Ada banyak juga orang punya jabatan, tetapi sebentar saja namanya tidak disebut orang lagi; banyak orang terkenal yang selalu disanjung-sanjung orang, akhirnya mati bunuh diri. Sia-sia sekali keadaan tersebut.

    Jika kita memiliki harta, maka kita harus minta kuasa untuk dapat menikmatinya. Ada orang yang diberi harta oleh Tuhan tetapi tidak bisa menikmatinya. Kita berusaha tapi jangan mengejar kekuasaan atau harta sebab kenyataannya banyak orang yang menderita karena harta. Manusia juga jika mati tidak membawa harta. Mintalah kepada Tuhan agar kita dapat menguasai diri untuk menikmati berkatNya.

    Pengkhotbah 6:1,2

    6:1 Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia:
    6:2 orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.

    Jika kita diijinkan untuk memiliki kekayaan, kita harus sadar bahwa semuanya karena anugerah Allah saja. Sebab bagi umat Tuhan, harta dunia, apapun bentuknya, bukanlah tujuan akhir hidup ini.

    Yakobus 2:5
    Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?

    Kekayaan yang datang dari Tuhan, dapat dinikmati sebagai karunia :

    Pengkhotbah 5:17-18

    5:17 Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah, kalau orang makan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bahagiannya.
    5-18 Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah.

    2. KEKAYAAN DARI TUHAN

    Bolehkah kita meminta kekayaan? Baiklah kita belajar dari Raja Salomo : Tuhan sangat memberkati Salomo dengan berkelimpahan, tidak ada raja yang lebih kaya daripada Salomo, tetapi apakah Salomo pernah memohon-mohon supaya dia menjadi kaya? Mari kita lihat apa yang diajarkan dalam Alkitab :

    1 Raja-raja 3:3-15

    3:3 Dan Salomo menunjukkan kasihnya kepada TUHAN dengan hidup menurut ketetapan-ketetapan Daud, ayahnya; hanya, ia masih mempersembahkan korban sembelihan dan ukupan di bukit-bukit pengorbanan.
    3:4 Pada suatu hari raja pergi ke Gibeon untuk mempersembahkan korban, sebab di situlah bukit pengorbanan yang paling besar; seribu korban bakaran dipersembahkan Salomo di atas mezbah itu.
    3:5 Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu."
    3:6 Lalu Salomo berkata: "Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar dan jujur terhadap Engkau; dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini.
    3:7 Maka sekarang, ya TUHAN, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman.
    3:8 Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya.
    3:9 Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?"
    3:10 Lalu adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta hal yang demikian.
    3:11 Jadi berfirmanlah Allah kepadanya: "Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum,
    3:12 maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau.
    3:13 Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja.
    3:14 Dan jika engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintah-Ku, sama seperti ayahmu Daud, maka Aku akan memperpanjang umurmu."
    3:15 Lalu terjagalah Salomo; ternyata ia bermimpi. Sekembalinya ke Yerusalem, berdirilah ia di hadapan tabut perjanjian Tuhan, dipersembahkannya korban-korban bakaran dan korban-korban keselamatan, kemudian ia mengadakan perjamuan bagi semua pegawainya.

    Hikmat adalah sebuah kekayaan yang lebih besar daripada harta duniawi. Salomo tahu apa yang baik untuk dirinya. Kekayaan itu hal yang mudah bagi Allah. Mengapa Allah memberikan berkat yang sungguh berkelimpahan kepada Salomo sedangkan dia tidak pernah memohonkannya?, kita baca lagi pada ayat 3 "Dan Salomo menunjukkan kasihnya kepada TUHAN dengan hidup menurut ketetapan-ketetapan Daud, ayahnya; hanya, ia masih mempersembahkan korban sembelihan dan ukupan di bukit-bukit pengorbanan". Allah sungguh bersuka cita akan cara hidup Salomo, dan ketika berdoa Salomo tidak meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri, tetapi suatu permohonan yang bermanfaat untuk orang lain, Allah dibuat kagum oleh Salomo, perhatikan ayat 9 "Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?"

    Jadi kekayaan adalah hal yang sepele buat Tuhan, Allah kita Allah yang kaya, maka sebagai anak, hendaklah kita tahu dan mengerti apa yang Tuhan mau. Berkat tidak selalu berupa materi, Hikmat adalah sebuah berkat yang lebih dari kekayaan.

    Pengkhotbah 7:11-12

    7:11 Hikmat adalah sama baiknya dengan warisan dan merupakan suatu keuntungan bagi orang-orang yang melihat matahari.
    7:12 Karena perlindungan hikmat adalah seperti perlindungan uang. Dan beruntunglah yang mengetahui bahwa hikmat memelihara hidup pemilik-pemiliknya.

    Kekayaan adalah dari Tuhan! Janganlah menganggap kekuatan kita yang menjadikan kita kaya.

    Ulangan 8:17
    Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.

    Bagaimana sikap kita terhadap kekayaan ? Maka ijinkan saya memberi ulasan sebagai berikut :

    2.A. Berkat kekayaan
    2.B. Allah mau kita kaya, dalam arti bagaimana?
    2.C. Nasehat Allah tentang kekayaan
    2.D. Berbagi berkat

    2.A. BERKAT KEKAYAAN

    Tidak ada salahnya kita menjadi kaya, banyak orang suka menjadi kaya, banyak umat Allah diceritakan di Alkitab bahwa mereka itu kaya dan diberkati dan mereka itu orang-orang kesayangan Tuhan. Diantaranya adalah Abraham dan Yosafat :

    Kejadian 13:2
    Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya

    2 Tawarikh 18:1
    Ketika Yosafat kaya dan sangat terhormat, ia menjadi besan Ahab.

    Dengan kekayaan kita bisa memuliakan Allah dengan harta kita :

    Amsal 3:9-10

    3:9 Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,
    3:10 maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.

    Berkat kepada manusia itu ada didalam rencana Allah, Allah tahu menyediakan apa yang baik untuk manusia :

    Imamat 26:1-13

    26:1 "Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.
    26:2 Kamu harus memelihara hari-hari Sabat-Ku dan menghormati tempat kudus-Ku, Akulah TUHAN.
    26:3 Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya,
    26:4 maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya.
    26:5 Lamanya musim mengirik bagimu akan sampai kepada musim memetik buah anggur dan lamanya musim memetik buah anggur akan sampai kepada musim menabur. Kamu akan makan makananmu sampai kenyang dan diam di negerimu dengan aman tenteram.
    26:6 Dan Aku akan memberi damai sejahtera di dalam negeri itu, sehingga kamu akan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apapun; Aku akan melenyapkan binatang buas dari negeri itu, dan pedang tidak akan melintas di negerimu.
    26:7 Kamu akan mengejar musuhmu, dan mereka akan tewas di hadapanmu oleh pedang.
    26:8 Lima orang dari antaramu akan mengejar seratus, dan seratus orang dari antaramu akan mengejar selaksa dan semua musuhmu akan tewas di hadapanmu oleh pedang.
    26:9 Dan Aku akan berpaling kepadamu dan akan membuat kamu beranak cucu serta bertambah banyak dan Aku akan meneguhkan perjanjian-Ku dengan kamu.
    26:10 Kamu masih akan makan hasil lama dari panen yang lampau, dan hasil lama itu akan kamu keluarkan untuk menyimpan yang baru.
    26:11 Aku akan menempatkan Kemah Suci-Ku di tengah-tengahmu dan hati-Ku tidak akan muak melihat kamu.
    26:12 Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku.
    26:13 Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya kamu jangan lagi menjadi budak mereka. Aku telah mematahkan kayu kuk yang di atasmu dan membuat kamu berjalan tegak."

    Ulangan 28:1-14

    28:1 "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.
    28:2 Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:
    28:3 Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang.
    28:4 Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu.
    28:5 Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu.
    28:6 Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.
    28:7 TUHAN akan membiarkan musuhmu yang maju berperang melawan engkau, terpukul kalah olehmu. Bersatu jalan mereka akan menyerangi engkau, tetapi bertujuh jalan mereka akan lari dari depanmu.
    28:8 TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.
    28:9 TUHAN akan menetapkan engkau sebagai umat-Nya yang kudus, seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepadamu, jika engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya.
    28:10 Maka segala bangsa di bumi akan melihat, bahwa nama TUHAN telah disebut atasmu, dan mereka akan takut kepadamu.
    28:11 Juga TUHAN akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu--di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu.
    28:12 TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman.
    28:13 TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia,
    28:14 dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya."

    Amsal 3:16
    Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan.

    Amsal 13:22
    Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya, tetapi kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar.

    Maleakhi 3:10-12

    3:10 Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.
    3:11 Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam.
    3:12 Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman TUHAN semesta alam.

    Firman Allah tersebut hebat bukan? Saya yakin ayat-ayat tersebut merupakan favorit, hidup didalam jaminan Allah, oh sungguh indah sekali. Maka janganlah takut akan apa yang akan kita makan dan kita pakai esok hari, kita ada didalam pemeliharaannya. Hidup sejahtera damai dalam Kristus pasti kita punyai!

    Allah tentu senang memberkati manusia, saya sangat percaya itu. Tetapi Allah lebih senang ketika Dia mendapati anak-anakNya itu tidak memprioritaskan kebutuan jasmani saja, tetapi selalu mencari kebenaran Allah dan hidup menurut ajaranNya :

    Matius 6:33
    Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

    Yohanes 10:10
    Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

    Allah kita adalah Allah yang berkelimpahan. Allah sanggup memberkati kita dengan berkat jasmani yang cukup untuk kita hidup bahkan berkelimpahan.

    2.B. Allah mau kita kaya, dalam arti bagaimana ?

    Manusia jatuh miskin karena dosa. Keterpisahan manusia dari kemuliaan Allah adalah hal termiskin yang dialami manusia. Akibat dosa masuk ke dalam dunia dan mencemari segala ciptaan, Allah mengutuk tanah, yaitu tempat penambangan dan pengembangan kekayaan di bumi :

    Kejadian 3:1-7,17-19

    3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"
    3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,
    3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."
    3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati,
    3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."
    3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.
    3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.
    3:17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:
    3:18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;
    3:19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

    Allah murka dan mengutuk "tanah" sebagai akibat perbuatan dosa. Tapi ternyata kutukan Allah tidak meredakan niat jahat manusia untuk selalu berbuat dosa. Manusia semakin jatuh dalam berbagai tindakan dosa. Sehingga pada jaman Nuh, Allah menghukum manusia dengan air bah dan menenggelamkan dunia (baca kitab Kejadian 6).

    Allah Maha Adil; perbuatan dosa harus ada hukumannya, kutuk terhadap perbuatan dosa ada sebagai konsekwensi dari perbuatan manusia yang tidak taat perintah Allah. Tetapi sungguh luar biasa bahwa Allah mempunyai sifat Maha Kasih. Wujud kasihnya itu : Allah punya rencana untuk menyelamatkan manusia dari dosa yang menyebabkan kemiskinan dalam arti luas :

    Kejadian 3:15
    Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya."

    Sehingga begitu usai penghukuman, Allah sekali lagi menegaskan janji dengan memberkati dan memelihara kembali ciptaan-Nya.

    Kejadian 8:17-19,22

    8:17 segala binatang yang bersama-sama dengan engkau, segala yang hidup: burung-burung, hewan dan segala binatang melata yang merayap di bumi, suruhlah keluar bersama-sama dengan engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi."
    8:18 Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya.
    8:19 Segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semuanya yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluarlah juga dari bahtera itu.
    8:22 Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam."

    Berkat dan janji ulang pemeliharaan-Nya meneguhkan bahwa kekayaan diberikan Allah sekali lagi bagi manusia di dalam dunia. Apakah berkat terbesar setelah kejatuhan manusia? Yesus Kristus datang kedunia!

    Yohanes 3:16
    Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

    2 Korintus 8:9
    Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

    Kadang kadang orang berkata "Saya sungguh percaya Tuhan akan memberkatimu dan membuat usahamu berhasil" atau "Tahun ini kamu akan menerima berkat yang berlipat kali ganda" Ini adalah pikiran yang bagus, tapi ini bukan pikiran Injil. Pikiran Injil adalah yang seperti Paulus ajarkan " Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga." (Efesus 1:3).

    Dari penjelasan-penjelasan ini, tentu kita akan paham bahwa kekayaan terbesar adalah ketika kita mempunyai hubungan yang baik dengan Allah. Ketika kita dibenarkan kembali oleh pengorbanan Yesus Kristus. Kita adalah anak-anak Allah, kita adalah pewaris, kekayaan dan kehormatan adalah milik kita!

    2.C. NASEHAT ALLAH TENTANG KEKAYAAN

    Alkitab banyak sekali memperingatkan kita akan bahaya dari kekayaan atau keinginan untuk menjadi kaya secara jasmani. Seringkali harta adalah penyebab kejatuhan manusia; sebagai berikut :

    Mat. 6:21 / Luk. 12:34
    Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

    Ulangan 6:10-12

    6:10 Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu--kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan;
    6:11 rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kauisi; sumur-sumur yang tidak kaugali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kautanami--dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang,
    6:12 maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan.

    Amsal 23:4-5

    23:4 Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini.
    23:5 Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali.

    Pengkhotbah 5:9-16

    5:9 Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.
    5:10 Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya?
    5:11 Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur.
    5:12 Ada kemalangan yang menyedihkan kulihat di bawah matahari: kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kecelakaannya sendiri.
    5:13 Dan kekayaan itu binasa oleh kemalangan, sehingga tak ada suatupun padanya untuk anaknya.
    5:14 Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang, dan tak diperolehnya dari jerih payahnya suatupun yang dapat dibawa dalam tangannya.
    5:15 Inipun kemalangan yang menyedihkan. Sebagaimana ia datang, demikianpun ia akan pergi. Dan apakah keuntungan orang tadi yang telah berlelah-lelah menjaring angin?
    5:16 Malah sepanjang umurnya ia berada dalam kegelapan dan kesedihan, mengalami banyak kesusahan, penderitaan dan kekesalan.

    Yeremia 9:23-24

    9:23 Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya,
    9:24 tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN."

    Yehezkiel 7:19
    7:19 Perak mereka akan dicampakkan ke luar dan emas mereka akan dianggap cemar. Emas dan peraknya tidak akan dapat menyelamatkan mereka pada hari kemurkaan TUHAN. Mereka tidak akan kenyang karenanya dan perut mereka tidak akan terisi dengannya. Sebab hal itu menjadi batu sandungan, yang menjatuhkan mereka ke dalam kesalahan.

    Matius 6:19-24

    6:19 "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.
    6:20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
    6:21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
    6:22 Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;
    6:23 jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.
    6:24 Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

    Matius 13:22,
    Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.

    Luk 6:24,
    Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.

    Lukas 12:16-21

    12:16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.
    12:17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.
    12:18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.
    12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!
    12:20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?
    12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."

    Lukas 21:34-36

    21:34 "Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.
    21:35 Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini.
    21:36 Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia."

    1 Timotius 6:6-10

    6:6 Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
    6:7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.
    6:8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.
    6:9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.
    6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

    1 Timotius 6:17-19

    6:17 Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.
    6:18 Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi
    6:19 dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.

    Yakobus 1:9-11

    1:9 Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi,
    1:10 dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.
    1:11 Karena matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu, sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap.

    Yakobus 5:1-3

    5:1 Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu!
    5:2 Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat!
    5:3 Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir.

    Menjadi kaya adalah suatu berkat, tetapi kita harus berhati-hati dalam menerima, mengelola dan memelihara kekayaan itu. Allah kita Allah yang baik dan menjanjikan kebutuhan jasmani yang cukup, maka janganlah kawatir akan kebutuhan materi :

    Matius 6:25-34

    6:25 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
    6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
    6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
    6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
    6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
    6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?
    6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
    6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
    6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
    6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

    Salomo mengatakan bahwa kekayaan yang disimpan pemiliknya mendatangkan kecelakaan. Salomo sendiri mengalaminya, kekayaan dan kemasyuran Salomo tiada tertandingi tetapi dia tidak menikmatinya. Karena itu, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya harta yang Tuhan berikan. Muliakanlah Allah dengan hartamu.

    Pengkhotbah 5:11-12

    5-11 Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur.
    5-12 Ada kemalangan yang menyedihkan kulihat di bawah matahari: kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kecelakaannya sendiri.

    Orang yang cinta akan uang tidak akan pernah puas. Maka yang terutama adalah kejarlah harta surgawi yang membawa kebahagiaan dan hidup yang kekal :

    Pengkhotbah 5:9-110

    5-9 Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.
    5-10 Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya?

    2.D. BERBAGI BERKAT

    Mazmur 41:2
    Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka.

    Kata lemah berasal dari bahasa Ibrani: dal, yang berarti rendah, miskin, tak berdaya, atau lemah. Tapi arti yang paling tepat untuk ayat ini adalah miskin, mengingat banyak referensi ayat yang menunjuk bahwa Allah menaruh perhatian yang tinggi terhadap kaum miskin.

    Ulangan 15:11
    Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu."

    Orang-orang yang kaya kurang menyukai judul/ perinkop dalam Injil Lukas 18:18-27 "Orang kaya sukar masuk Kerajaan Allah"

    Lukas 18:18-27

    18:18 Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: "Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
    18:19 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.
    18:20 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu."
    18:21 Kata orang itu: "Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."
    18:22 Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
    18:23 Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya.
    18:24 Lalu Yesus memandang dia dan berkata: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.
    18:25 Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."
    18:26 Dan mereka yang mendengar itu berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"
    18:27 Kata Yesus: "Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah."

    Ah.. Tuhan Yesus kok keras amat sih? Permintaan Yesus sangat tidak masuk akal. Apakah benar begitu?

    Marilah kita pahami apa dasar Yesus berkata demikian. Ada tiga kemungkinan tujuan yang mendasari permintaan Yesus itu :

    a.. Pertama, Yesus hendak menguji orang kaya itu, apakah ia memprioritaskan kehidupan kekal - seperti yang ia minta kepada-Nya - lebih dari kekayaannya? b.. Kedua, Allah menaruh perhatian terhadap orang miskin dengan menyuruhnya membagi-bagikan hasil penjualan semua hartanya kepada orang miskin. c.. Ketiga, ada keinginan orang kaya ini untuk dipuji oleh Yesus bahwa dia sudah melakukan semua Hukum Taurat.

    Kalau Saudara adalah orang kaya, apa yang akan saudara lakukan apabila Yesus mengajukan permintaan yang sama?

    Marilah kita pahami ayat dibawah ini :

    Amsal 19:17
    Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.

    Ketika kita menaruh belas kasihan, dan memberkati orang miskin, kita membuat Tuhan berhutang kepada kita! Wow! Karena itu jangan heran bila orang yang menyebar harta dengan membagi-bagi hartanya kepada fakir miskin, mereka justru bertambah kaya :

    Amsal 11:24
    Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.

    Tuhan tidak suka orang yang pelit, tetapi Tuhan memberkati orang-orang yang dermawan, menaruh belas kasihan kepada orang-orang malang dan perlu bantuan. Berkat Tuhan tidaklah untuk dinikmati sendiri, muliakanlah Allah dengan berkat itu, dan Tuhan akan merasa berhutang jika tidak memberkati kita.

    Sudahkan kita berbagi kepada orang miskin? Kepada orang yang perlu bantuan? Kalau belum, inilah saatnya Anda menabur berkat. Inilah saatnya kita memiutangi Tuhan. Dan nantikanlah janji-Nya bahwa Ia akan mengembalikan berkat yang kita tabur dengan berkelimpahan.

    Amsal 22:9
    Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.

    Berbahagialah orang yang benar, orang-orang yang mengasihi orang yang malang. Tuhan memberikannya berkat yang berlimpah!

    Mazmur 112 BAHAGIA ORANG BENAR

    112:1 Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.
    112:2 Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati.
    112:3 Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya.
    112:4 Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil.
    112:5 Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya.
    112:6 Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya.
    112:7 Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN.
    112:8 Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya.
    112:9 Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan.
    112:10 Orang fasik melihatnya, lalu sakit hati, ia menggertakkan giginya, lalu hancur; keinginan orang fasik akan menuju kebinasaan.

    Kasih kita kepada orang yang malang, diperhitungkan Tuhan dalam penghakiman terakhir :

    Matius 25:31-40

    25:31 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
    25:32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,
    25:33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
    25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
    25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
    25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
    25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
    25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
    25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
    25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

    Maka kerjarlah harta yang bisa dibawa saat kita dihakimi nanti. Karena Tuhan memperhitungkan kasih yang kita berikan kepada orang lain.

    3. TENTANG UANG

    Dalam memenuhi kebutuhan hidup kita perlu uang, untuk kebutuhan rumah tangga, makan, pakaian, pendidikan, apapun kegiatan kita semuanya perlu dana. Untuk pemenuhannya Allah memerintahkan manusia untuk bekerja :

    2 Tesalonika 3 : 10
    ... "jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan."

    Amsal 6:6-11

    6:6 Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:
    6:7 biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya,
    6:8 ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.
    6:9 Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu?
    6:10 "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring" --
    6:11 maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

    Uang itu penting, tetapi lebih penting lagi bagaimana cara menggunakannya dengan baik. Dalam pelayanan pengabaran Injil tidak dipungkiri akan perlunya uang, setiap kegiatan dalam pelayanan bagi Tuhan memerlukan uang, pelayanan untuk orang miskin, yatim piatu, pendidikan, dan pekerjaan-pekerjaan sosial lainnya memerlukan uang. Orang sering enggan membicarakan soal uang dalam pekerjaan pelayanan bagi Tuhan. Namun hal ini sesungguhnya penting untuk dibicarakan dan penting untuk dimengerti.

    3.A. ESENSI UANG

    Semua kegiatan kita, semua pelayanan pekerjaan Tuhan, pada kenyataannya juga membutuhkan uang. Alkitab menilai uang sebagai hal yang positif, sebagai nilai tukar yang praktis :

    Ulangan 14:25
    maka haruslah engkau menguangkannya dan membawa uang itu dalam bungkusan dan pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu,

    Yang negatif bukan uangnya melainkan sikap terhadap uang, yaitu "cinta-uang" yang bisa menjadi akar setiap kejahatan. Kita tidak boleh mengabdikan diri sebagai hamba uang dan menjadikannya "Mamon" atau berhala.

    Matius 6:24
    Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

    Yang salah pula, bila kita tamak dan mengandalkan uang lebih dari pada Allah

    1 Timotius 6:17
    Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.

    3.B. Tentang Persembahan :

    Apakah Tuhan butuh uang?

    Mengapa Allah memerintahkan kita memberikan persembahan untuk pekerjaanNya ? Bukankah Dia kaya dan berkuasa? tidak bisakah Allah secara langsung menyediakan kebutuhan-kebutuhan itu dengan cara yang ajaib, semudah membalik tangan? Tentu Allah bisa, tetapi Dia tidak mau. Allah suka bekerja sama dengan manusia, Allah tidak mau bekerja sendiri, Ia ingin melibatkan manusia untuk melakukan pekerjaannya. Salah satu contohnya , kita baca cerita dibawah ini :

    Markus 6:35-44 :

    6:35 Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam.
    6:36 Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini."
    6:37 Tetapi jawab-Nya: "Kamu harus memberi mereka makan!" Kata mereka kepada-Nya: "Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?"
    6:38 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan."
    6:39 Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau.
    6:40 Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang.
    6:41 Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.
    6:42 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang.
    6:43 Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.
    6:44 Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.

    Untuk memberi makan 5000 orang laki-laki (belum termasuk wanita dan anak-anak), Yesus memerlukan persembahan dari apa yang kita punya, persembahan itu dari "seorang anak" dari persembahan yang sangat kecil ini, cuma "5 ketul roti dan 2 ekor ikan". Dan dari situ Yesus baru mau melakukan mujizat berkat yang sungguh besar. Tuhan selalu menggunakan campur tangan manusia : "berapa roti yang kamu punya?" Dalam memberikan berkat, Allah selalu meminta apa yang ada di tanganmu, apa yang ada di genggamanmu? Apakah yang harus kita lakukan ? berikanlah persembahan yang terbaik yang kita punya.

    Allah suka kita terlibat dalam pekerjaanNya sebagai suatu maksud bahwa manusia adalah partner Allah atau rekan sekerja Allah, bukan sekedar ciptaanNya dan bertindak sebagai robot saja.

    3.C. Persembahan sebagai tanda ketaatan & tanda kasih kepada Tuhan

    Raja Daud sangat terkenal akan pengungkapan kasihnya kepada Tuhan yang banyak ditulisnya dengan indah dalam kitab Mazmur. Kecintaannya kepada Tuhan secara otomatis juga diwujudkan dalam pemberian persembahan yang penuh sukacita dan tulus.

    1 Tawarikh . 29:9
    Bangsa itu bersukacita karena kerelaan mereka masing-masing, sebab dengan tulus hati mereka memberikan persembahan sukarela kepada TUHAN; juga raja Daud sangat bersukacita.

    1 Tawarikh. 29:17
    Aku tahu, ya Allahku, bahwa Engkau adalah penguji hati dan berkenan kepada keikhlasan, maka akupun mempersembahkan semuanya itu dengan sukarela dan tulus ikhlas. Dan sekarang, umat-Mu yang hadir di sini telah kulihat memberikan persembahan sukarela kepada-Mu dengan sukacita.

    Apabila kita benar-benar mengasihi, tentu kita tidak akan pernah memperhitungkan apa yang kita beri. Apabila kita mempunyai anak dan mencintainya, pernahkan kita menghitung-hitung berapa biaya makan, pakaian, pendidikan untuk anak-anak kita? Tentu tidak, bahkan kita memberi yang terbaik untuk mereka, membekali mereka untuk hari depan dengan hal yang terbaik yang kita punya.

    Apakah engkau mengasihi Allah? Allah terlebih dahulu mengasihi kita. Dia telah memberikan bagianNya yang terbaik yang Dia punya. Pengorbanan Yesus Kristus yang membuahkan keselamatan yang kekal bagi manusia!

    3.D. Pamrih dalam memberi persembahan

    Secara tidak sadar banyak pengkotbah akhir-akhir ini membawa pola pikir jemaatnya untuk memberikan pesembahan kepada Tuhan supaya kita diberkati. Pengajaran di balik mimbar yang saat ini menggejala, dan cenderung menitik-beratkan pada berkat secara materi. Hal ini akan membawa jemaat pada pola pikir dan moral materialisme "berilah maka kau akan diberkati berlipat kali ganda" seperti ajakan salesman perusahaan dana investasi. Bahkan seperti menganggap Tuhan itu tidak beda dengan illah-illah lain yang memberikan rejeki. Ini bahkan memberhalakan Tuhan!

    Saya mengharap anda tidak terlampau cepat merasa aman dan bebas dari bahaya penyembahan berhala, hanya karena anda tidak menyimpan satu patung pun dan menyembahnya. Tetapi ketika kita menganggap bahwa Allah hanya sebagai sumber berkat, kita memberhalakan Dia menjadi illah yang sama dengan kepercayaan lain, sama dengan patung-patung, sama dengan dewa ini dan dewi itu.

    Kelihatannya benar walaupun para pengkotbah menggunakan banyak ayat-ayat yang mendukung yang diambil dari alkitab tentang pemberian persembahan supaya kita diberkati . Namun Allah adalah selalu menepati janjinya, tidak pernah ada janjinya yang tidak pernah ditepati :

    Bilangan 23:19
    "Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?"

    Raja Salomo mengatakan bahwa
    1 Raja-raja 8:56
    "Terpujilah TUHAN yang memberikan tempat perhentian kepada umat-Nya Israel tepat seperti yang difirmankan-Nya; dari segala yang baik, yang telah dijanjikan-Nya dengan perantaraan Musa, hamba-Nya, tidak ada satupun yang tidak dipenuhi.

    Tuhan tidak akan berbohong, ini adalah satu-satunya hal yang Tuhan tidak bisa lakukan, karena berbohong bukanlah sifat Tuhan. Apa yang telah difirmankanNya tidak akan ada yang tidak digenapi!

    Tetapi bagaimana dengan manusia? Ada banyak tendensius dari manusia untuk memanfaatkan (to abuse) sifat Firman yang kekal ini. Manusia memberikan persembahan kepada Tuhan karena punya maksud "tidak mau miskin dan ingin selalu diberkati dengan berkelimpahan" namun dalam mempersembahkannya tidak dilakukan dengan tulus dan kasih. Ini tentu menyakiti hati Tuhan, ayat-ayat Alkitab yang sering dimanfaatkan untuk meraup rejeki, contohnya adalah :

    Maleakhi 3:10-12

    3:10 Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.
    3:11 Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam.
    3:12 Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman TUHAN semesta alam.

    Amsal 3:9-10

    3:9 Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,
    3:10 maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.

    2 Korintus 9:6
    Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.

    Walaupun Tuhan berjanji demikian, namun janganlah kita memberikan persembahan kepada Tuhan atas dasar pamrih supaya diberkati lebih ; "kalau aku memberi perpuluhan maka Allah akan membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadaku sampai berkelimpahan" Ini jelas perbuatan jahat dimata Tuhan.

    Tidak salah apabila jemaat diajar "berilah maka engkau akan diberi". Tidak salah mereka diajar dalam hal "perpuluhan yang mendatangkan berkat berlimpah" Tetapi hendaknya hal itu diimbangi dengan pengajaran pembentukan hati yang berkenan kepada Tuhan. Sehingga ketika mereka memberi, mereka memberi dengan hati yang mengasihi, bukan dengan tujuan untuk mendapat imbalan dari apa yang diberikannya. Penonjolan berkat jasmani dijadikan suatu bukti bahwa Allah mengasihi kita. Itu adalah penonjolan yang keliru. Maka secara tidak sengaja, jemaat digiring pada kehidupan yang materialisme. Jemaat yang kaya, merasa lebih diberkati dibandingkan jemaat yang miskin.

    Saya percaya bahwa ada pahala/ reward untuk setiap ketaatan yang tulus dalam pemberian persembahan yang kita berikan kepada Tuhan, asalkan kita melakukan dan memberikan dengan motivasi yang benar. Berilah persembahan itu karena engkau benar-benar mengasihi Tuhan dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan semata. Sedangkan ketaatan dengan motivasi adalah sebuah egoisme ; mau memberi persembahan karena yakin betul Allah akan memberkati dengan berlipat kali ganda. Berikan persembahan itu karena engkau mengasihi Tuhan, titik!

    Yohanes 14:15
    14:15 "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.

    1 Korintus 10:31
    Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

    Marilah kita pelajari kisah Ananias dan Safira :

    Kisah Para Rasul 5 : 1-11

    5:1 Ada seorang lain yang bernama Ananias. Ia beserta isterinya Safira menjual sebidang tanah.
    5:2 Dengan setahu isterinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul.
    5:3 Tetapi Petrus berkata: "Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?
    5:4 Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah."
    5:5 Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu.
    5:6 Lalu datanglah beberapa orang muda; mereka mengapani mayat itu, mengusungnya ke luar dan pergi menguburnya.
    5:7 Kira-kira tiga jam kemudian masuklah isteri Ananias, tetapi ia tidak tahu apa yang telah terjadi.
    5:8 Kata Petrus kepadanya: "Katakanlah kepadaku, dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?" Jawab perempuan itu: "Betul sekian."
    5:9 Kata Petrus: "Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar."
    5:10 Lalu rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus dan putuslah nyawanya. Ketika orang-orang muda itu masuk, mereka mendapati dia sudah mati, lalu mereka mengusungnya ke luar dan menguburnya di samping suaminya.
    5:11 Maka sangat ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu.

    Apa yang menyebabkan mereka mati? Mereka memberi persembahan dengan pamrih. Untuk dipuji manusia bahwa mereka sungguh mengasihi Tuhan. Seolah-olah mereka telah mempersembahkan seluruh hasil penjualan tanah untuk pekerjaan Tuhan. Seolah-olah mereka yang paling mengasihi Tuhan.

    Tuhan tidak mempersoalkan berapa besar jumlah persembahannya, tetapi memperhatikan maksud persembahan itu. Apakah persembahan itu diberi dengan hati yang tulus atau bukan. Maka berhati-hatilah dalam memberikan peresembahan, lakukan semua dengan kerelaan hati dan dengan kemampuan yang kita punya.

    3.E. Tentang Perpuluhan

    Ada banyak perselisihan pendapat tentang perpuluhan, banyak diskusi yang membahas tentang pro-kontra perpuluhan dan sering dibahas oleh kita orang-orang Kristen. Saya ingin menjawabnya dengan apa yang tertulis dalam Alkitab :

    3.E.1. Di dalam perjanjian lama :

    Perpuluhan bukan hak manusia, dan itu mutlak :

    Imamat 27:30-33

    27:30 Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN.
    27:31 Tetapi jikalau seseorang mau menebus juga sebagian dari persembahan persepuluhannya itu, maka ia harus menambah seperlima.
    27:32 Mengenai segala persembahan persepuluhan dari lembu sapi atau kambing domba, maka dari segala yang lewat dari bawah tongkat gembala waktu dihitung, setiap yang kesepuluh harus menjadi persembahan kudus bagi TUHAN.
    27:33 Janganlah dipilih-pilih mana yang baik dan mana yang buruk, dan janganlah ditukar; jikalau orang menukarnya juga, maka baik hewan itu maupun tukarnya haruslah kudus dan tidak boleh ditebus."

    Karena perpuluhan adalah milik Tuhan, maka jika kita tidak memberikannya sama dengan merampas milik Allah, seperti disebutkan dalam :

    Maleakhi 3:8
    Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!

    3.E.2. Di dalam perjanjian baru :

    Yesus tidak pernah secara spesifik mengajarkan tentang perpuluhan, malahan Yesus mengajarkan bahwa seluruh apa yang kita punya harus dipersembahkan, bukan cuma sepersepuluhnya ! :

    Matius 19:21-24

    19:21 Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
    19:22 Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.
    19:23 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
    19:24 Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

    Tentang persembahan, Tuhan Yesus mengajar sesuatu yang sangat menarik :

    Markus 12:41-44

    12:41 Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar.
    12:42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.
    12:43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.
    12:44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

    Gereja Tuhan seringkali hanya mengajarkan bagaimana mempersembahkan 10% dari berkat Tuhan, sedangkan gereja tidak pernah mengajarkan bagaimana menggunakan yang 90%. Ada banyak pengertian yang sudah mengakar dihati kita bahwa persembahan cukup dengan perpuluhan 10 % buat Tuhan, sisanya punya saya!

    Saya pernah mendengar cerita dari seorang ibu, yang sangat kecewa kepada saudaranya yang menjadi majelis di suatu Gereja. Ketika ibu ini memohon belas kasihan meminjam uang dari saudaranya, untuk membayar biaya rumah sakit anaknya. Saudaranya ini menolak dengan alasan uang yang dia punya sekarang ini untuk bayar perpuluhan di Gereja, karena ini adalah milik Tuhan maka saudaranya itu tidak mau memberikannya dan lebih taat kepada ketentuan akan pembayaran perpuluhan, maka dengan hati yang sedih dan kecewa Ibu ini keluar dari rumah saudaranya dan mencari bantuan dari orang lain.

    Apabila kita dihadapkan kepada kasus ini, apakah yang harus kita perbuat? Kalau memberi pinjaman artinya tidak bayar perpuluhan. Jawabannya mari kita baca contoh-contoh di Alkitab :

    Perpuluhan tidak mempunyai arti apa-apa, di hadapan TUHAN, jika dilakukan tanpa disertai dengan rasa keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan :

    Matius 23:23
    Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.:

    Perpuluhan tidak mempunyai arti apa-apa, di hadapan TUHAN, jika tidak dilakukan sikap rendah hati. Tuhan Yesus memberikan pengajaran yang baik tentang orang farisi yang munafik dalam melakukan perpuluhan (perhatikan ayat 12) :

    Lukas 18:9-14

    18:9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:
    18:10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
    18:11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
    18:12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
    18:13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
    18:14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

    Tuhan Yesus memberikan rumusan yang jelas tentang Persembahan. Perpuluhan bukan semata kewajiban yang hanya sekedar ditaati dalam memenuhi Hukum Tuhan atau hanya sekedar rasa tanggung jawab untuk membayar. Persembahan harus keluar dari kehendak hati yang rela dan suka cita

    2 Korintus 9:7
    Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

    Bandingkan dengan :

    Ulangan 12:7,11

    12:7 Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu.
    12:11 maka ke tempat yang dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah kamu bawa semuanya yang kuperintahkan kepadamu, yakni korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu dan segala korban nazarmu yang terpilih, yang kamu nazarkan kepada TUHAN.

    Ulangan 14:26
    14:26 dan haruslah engkau membelanjakan uang itu untuk segala yang disukai hatimu, untuk lembu sapi atau kambing domba, untuk anggur atau minuman yang memabukkan, atau apapun yang diingini hatimu, dan haruslah engkau makan di sana di hadapan TUHAN, Allahmu dan bersukaria, engkau dan seisi rumahmu.

    Maka Perpuluhan janganlah dianggap sebagai iuran yang memaksa setiap anggota, atau sebagai hal seperti membayar pajak/ tax 10% . Kasih kepada Tuhan dan sesama, kerelaan dan rasa suka cita lebih dari sekedar angka 10% , itulah maksud Allah.

    4. MAMON
    Mamon berasal dari bahasa Aram "mamona" dan dalam bahasa Yunani disebut "mamonas" yang berarti keuntungan atau kekayaan. Maka setiap orang yang mencintai uang, dia sedang menyembah mamon.

    Matius 6:24
    Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

    Lukas 16:11
    Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?

    4.A. CINTA AKAN MAMON
    Banyak sekali umat Tuhan bahkan yang sudah menjadi pelayan Tuhan tergelincir akan masalah ini, kita bahkan sering mendengar cerita buruk tentang banyak hamba Tuhan besar yang tidak beres dalam masalah uang. Bayak orang melakukan tindak kejahatan, merampok, mencuri, membunuh, menipu dan lain-lain, semata-mata karena uang :

    1 Timotius 6:10-19

    6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
    6:11 Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.
    6:12 Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.
    6:13 Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu:
    6:14 Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya,
    6:15 yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan.
    6:16 Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin.
    6:17 Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.
    6:18 Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi
    6:19 dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.

    "akar segala kejahatan ialah cinta uang" Uang seringkali menjadi faktor utama yang membuat orang mudah jatuh dalam dosa. Maka tidak heran kalau ada banyak orang kristen yang sinis jika berbicara soal uang, katanya itu "duniawi". Keinginan untuk menjadi kaya bisa membaw

    Kekerasan Oleh & Kepada Siapa

    Oleh: Sefnat Hontong

    Abstraksi:

    Tulisan ini mempersoalkan mengapa ada fakta kekerasan dalam masyarakat. Jika pada lazimnya orang berpandangan bahwa kaum laki-lakilah sang pelaku kekerasan, maka saya dalam tulisan ini hendak berpendapat bahwa kekerasan sebenarnya dilakukan oleh orang yang ‘kuat’ dan punya ‘kedudukan’ tertentu. Oleh karena itu, ia (kekerasan) bisa saja dilakukan baik oleh kaum laki-laki maupun perempuan. Dimana pembuktian ide itu saya buat dengan cara melihat pengalaman secara pribadi lalu menganalisanya berdasarkan beberapa pemikiran yang sedang bergulir sekarang ini (metode komparatif).


    Pendahuluan

    Menurut Johan Galtung ada dua (2) hal mendasar yang perlu kita cermati ketika berbicara tentang kekerasan atau budaya kekerasan dalam masyarakat, yakni; penggunaan kekerasan dalam masyarakat dan legitimasi terhadap penggunaan kekerasan itu. Sedangkan studi budaya kekerasan dalam masyarakat, menurutnya dapat disoroti dengan cara melihat bagaimana suatu perbuatan kekerasan langsung dan fakta kekerasan struktural dilegitimasi dan menjadi bisa diterima oleh masyarakat. Contoh: pembunuhan atas nama Negara atau ‘tuhan/agama’. Sedangkan cara yang lain adalah dengan membuat realitas menjadi tidak jelas atau samar-samar, sehingga kita tidak mampu melihat perbuatan atau fakta yang penuh kekerasan, atau setidak-tidaknya sebagai perbuatan atau fakta yang keras. Contohnya adalah abortus provocatus.

    Berdasarkan pemikiran itu, saya berkesimpulan ternyata soal dan fakta kekerasan dalam masyarakat sungguh sangat rumit dan kompleks untuk dideskripsikan. Berangkat dari apa yang saya anggap sebagai sesuatu yang sungguh sangat rumit dan kompleks untuk dideskripsikan itu-lah, saya dalam tulisan ini hanya mau berdiskusi di sekitar soal kekerasan; dilakukan oleh dan kepada siapa?. Topik ini saya pilih untuk menjadikannya sebagai ‘pintu masuk’ untuk melihat apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan realitas kekerasan itu. Sedangkan metode yang akan saya gunakan untuk membangun diskusi ini adalah metode komparatif, yaitu sebuah metode analisa yang dilakukan dengan cara memperbandingkan dua (2) atau beberapa fakta (ide) yang berbeda, untuk selanjutnya berusaha menemukan sebuah kesimpulan baru yang kiranya bisa menjadi pegangan baik secara filosofis maupun sosiologis.

    Berangkat dari metodologi seperti itu, maka sebagai ide pertama yang saya pilih untuk diperbandingkan dengan ide yang lain dalam tulisan ini adalah bersumber dari pengalaman secara pribadi, sebagaimana yang terjadi pada 30 tahun yang silam. Dalam tulisan ini ide itu saya sebut dengan sub-judul: ‘Saya Orang Merdeka; Pengalaman Kekerasan dalam Keluarga. Ide ini saya pilih, oleh karena saya merasa ia sangat bertentangan dengan ide umum yang dianut oleh orang kebanyakan. Selanjutnya ide dalam pengalaman secara pribadi ini kemudian saya perbandingkan dengan beberapa pemikiran secara teoretik yang mendukungnya; yang dalam tulisan ini saya beri sub-judul Dari Pengalaman Pribadi ke Realitas Sosial. Tujuan yang ingin saya capai di sini adalah agar ide dalam pengalaman pribadi itu bisa menjadi sebuah ide baru untuk dipikirkan oleh orang kebanyakan. Dalam hal ini, saya berusahan untuk melihat sejauh mana fakta dalam pengalaman pribadi itu bisa bermakna social, supaya bisa melahirkan beberapa kesimpulan dan rekomendasi untuk dipikirkan.

    Mudah-mudahan dengan menggunakan metode seperti ini saya akhirnya akan menemukan apa yang saya cari. Sehingga impian untuk menciptakan budaya nir-kekerasan (tanpa kekerasan) dalam masyarakat bisa menjadi fakta yang actual secara sosiologis. Berdasarkan pada sejumlah alasan seperti itulah, saya lalu memberi judul tulisan ini sebagaimana adanya.

    Saya Orang Merdeka; Pengalaman Kekerasan dalam Keluarga

    Ketika saya kecil dulu, kedua orang tua saya sangat alergi melihat saya bermain di saat jam istirahat siang. Suatu kali, ketika mereka sedang istirahat (tidur) siang, saya pergi tanpa mereka tahu dan bermain di sungai dengan sebuah rakit. Tanpa sadar saya tiba-tiba terbawa arus sungai, hingga akhirnya tersangkut pada serumpun bambu. Peristiwa ini kemudian menyebabkan seluruh tubuh saya penuh dengan luka goresan bambu.

    Saya pasti tidak bisa menyembunyikan insiden itu kepada kedua orang tua saya! Ketika saya ditanyai tentang luka-luka itu, saya lalu berterus terang. Harapan saya dengan sikap berterus terang ini adalah agar dikasihani dan tidak kenah marah. Tetapi ternyata tidak, akhir dari keterus-terangan itu, saya malah dicubit oleh ibu dan dipukul oleh ayah dengan ikat pinggangnya. Saya pasti menangis dan terasa sakit hati ini, lalu menjadi trauma yang berkepanjangan. Saya ingat, ketika saya dicubit dan dipukul (saat itu), tiba-tiba terlontar dari mulut saya sebuah ungkapan: “Papa-mama! Saya orang merdeka, jangan dijajah seperti ini”.

    Demikian pengalaman masa silam saya ketika berumur 10 tahun. Kini, sudah 30 tahun berlalu. Awalnya saya berpikir bahwa pengalaman yang menyakitkan itu hanya menjadi pengalaman pribadi saja. Namun setelah menjadi dewasa dan mempelajari kehidupan keluarga secara umum, saya menemukan ternyata pengalaman pada 30 tahun yang silam itu, masih ada dan malah seringkali dianggap sebagai metode yang dipercaya dapat membentuk karakter anak oleh hampir semua orang tua.

    Saya lalu bertanya: mengapa metode yang menyakitkan ini masih digunakan? Apakah tidak ada metode yang lain? Apakah para orangtua tidak tahu metode mendidik anak yang lebih manusiawi; yang nir-kekerasan? Atau jangan-jangan hal ini berhubungan erat dengan ideologi tertentu yang sudah berurat akar dan dianut sebagai sebuah kebenaran dalam masyarakat, yakni: ‘kekerasan’ dapat membentuk karakter baik seorang anak? Lihat saja, ada banyak anak di dalam keluarga yang ‘diajar’ oleh orang tuanya dengan rotan, dan ada pula banyak anak didik di sekolah yang ‘diajar’ oleh gurunya dengan rotan. Pertanyaan saya selanjutnya adalah: mengapa bisa begitu? Saya menduga hal itu bisa terjadi karena dilegitimasi oleh pepatah (nasehat?) yang mengatakan: ‘di ujung rotan ada emas’.

    Dari Pengalaman Pribadi ke Realitas Sosial

    Dari uraian di atas menjadi jelas bahwa praktek dan tindak kekerasan, tidak saja dilakukan oleh kaum laki-laki (papa), namun juga oleh oleh kaum perempuan; mama saya. Dalam hal ini, pengalaman pribadi saya berbicara atau menunjukkan sesuatu yang berbeda dengan yang dianut oleh orang kebanyakan, yakni: kekerasan adalah kekerasan oleh kaum laki-laki, dan terhadap kaum perempuan; kekerasan adalah kekerasan kepada perempuan, bukan oleh perempuan.

    Dalam kaitan dengan hal itu, Imanuel Gerrit Singgih dalam analisanya terhadap teks Hakim-hakim 4 - 5 yang menceritakan tentang Debora dan Barak, dan mengedepankan kisah Yael sebagai seorang perempuan pembunuh berdarah dingin dalam 4:17-22, memberi sebuah kesimpulan yang menarik untuk kita simak dalam kaitannya dengan pandangan bahwa kekerasan hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Yael menurut Singgih, bahkan melakukan tindak kekerasan ganda dalam narasi tersebut. Pertama, ia menjadi citra yang negative dalam konteks perempuan, karena terkesan membangun perselingkuhan dalam konteks politik kekuasaan dan menjadikan objek selingkuhnya sebagai ‘kambing hitam’ keharmonisan palsu demi kekuasaan politik bersama Israel. Kedua, dan oleh karena karaktek negative ganda itulah ia disebut sebagai seorang perempuan culas dan tidak dapat dipercaya bahkan pembunuh berdarah dingin dalam konteks tindak kekerasan terhadap laki-laki.

    Berdasarkan kesimpuan itu, Singgih menegaskan secara empiris kita tidak bisa membuktikan bahwa hanya laki-laki-lah sang pelaku kekerasan, oleh karena kekerasan selalu adalah kekerasan terhadap perempuan (sekalipun hal itu kelihatannya sangat dominan). Maka dari pada berpikir mencari-cari ‘penyebab gender’ dari realitas kekerasan itu, maka menurut Singgih; akar dari semua fakta kekerasan sebenarnya adalah ‘kekuatan’ dan ‘kekuasaan’. Kekuatan dan kekuasaan itu akan membuat orang rela melakukan kekerasan dengan menjadikan orang lain sebagai korban, dan yang terlibat itu bisa laki-laki, namun bisa juga perempuan. Akhirnya sebagai penutup analisanya, Singgih kemudian mengajak kita semua baik laki-laki maupun perempuan untuk berhenti melakukan perang ontologi, yaitu antara ontologi berwujud kekerasan sebagai kekerasan terhadap laki-laki, dan ontologi berwujud kekerasan terhadap perempuan.

    Dalam kesadaran yang sama, seorang teolog perempuan Indonesia: Basilica Dyah Putranti ketika membahas ‘Konflik antaragama: Sebuah Pendekatan Sosialogis Feminis’, menilai bahwa dalam masyarakat kita sedang terjadi sebuah kecenderungan feminisme eksklusif dan kurang proporsional dalam melihat fakta kekerasan dan paham feminisme yang inklusif. Dimana kecenderungan feminisme eksklusif dan kurang proporsional itu menurut Putranti ditandai oleh adanya paham dan kecenderungan struktur analisa sosial yang selalu menempatkan laki-laki sebagai pelaku kekerasan dan perempuan adalah korban dalam segala persoalan ketimpangan gender dalam masyarakat.

    Kesadaran sosiologis Putranti dan penegasan Singgih di atas, pada dasarnya telah membantu saya untuk membaca fakta kekerasan yang saya alami pada 30 tahun yang silam. Dimana oleh karena saya adalah ‘anak’ dan biasanya anak (apalagi anak yang masih kecil) selalu dianggap sebagai orang yang ‘lemah’ (bahkan terkadang juga ‘bukan orang’, alias tidak punya kekuatan dan kuasa), maka kedua orang tua saya yang menganggap dirinya sebagai ‘orang’ (yang kuat dan punya ‘kuasa’ sebagai orang tua), merasa ‘layak’ mencubit dan memukuli saya dengan ikat pinggang. Hasil pembacaan seperti ini sungguh-sungguh memperlihatkan dengan jelas bahwa ‘kekuatan dan kekuasaan’ adalah ‘penyebab’ dari segala realitas kekerasan dan kritik terhadap pemahaman dan kecenderungan feminisme yang eksklusif dan kurang proporsional tadi.

    Memperkuat hal yang sangat penting tersebut, Daniel K. Listijabudi ketika mempelajari pemikiran Rene Girard seorang kritikus sastra asal Perancis dalam analisanya terhadap kisah Kain dan Habel, menyimpulkan bahwa peristiwa pembunuhan Kain terhadap Habil adiknya itu justru dipengaruhi oleh system dan mekanisme: orang ‘kuat’ dan punya ‘kuasa’ melawan orang ‘lemah’ yang tidak punya ‘kuasa’. Dimana Habel yang adalah ‘adik’ Kain, tentu tidak ‘berdaya’ menghadapi ‘kekuatan’ dan ‘kekuasaan’ Kain sebagai ‘kakaknya’. Dalam hal ini Habel sebagai yang ‘adik’ telah berfungsi sebagai korban pengganti (the surrogate victim) dari ‘status’ dan ‘kewajaran’ Kain sebagai ‘kakak’ yang ‘berkuasa’ dan yang sedang marah akibat persembahannya tidak diterima Tuhan. Dimana the surrogate victim itu selalu berpihak kepada yang kecil dan lemah serta yang gampang diserang.

    Berdasarkan seluruh pemikiran seperti di atas, saya merasa agak kurang setuju (senang?) dengan kecenderungan pengkutuban gender dalam rangka membahas realitas kekerasan dalam masyarakat, sebagaimana yang lazim dilakukan selama ini. Seolah-olah menurut kecenderungan ini, yang menjadi pelaku utama dan yang bersalah adalah kaum laki-laki, sedangkan yang menjadi korban dan yang wajib dibela adalah kaum perempuan. Memang kita tidak bisa menutup mata terhadap fakta dimana laki-laki sering berlaku ‘keras’ dan melakukan kekerasan terhadap perempuan. Oleh karena itu, ada benarnya juga apa yang ditegaskan oleh badan pengurus PERUATI (Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi di Indonesia) ketika memberi pengantar dalam suratnya tertanggal 15 Februari 2012 kepada para penulis Jurnal SOPHIA Edisi I tahun 2012, yakni: gerak keberpihakan agama bagi dominasi patriarki semakin memperindah “tarian kekerasan” dalam lenggak-lenggok diskriminasi yang memarginalkan karena keperempuanannya sebagai hal yang wajar diterima. Namun demikian, menurut saya fakta laki-laki sebagai pelaku utama tindak kekerasan dalam masyarakat dan penegasan badan pengurus PERUATI tersebut di atas, tidak bisa dibaca sebagai fakta antara laki-laki terhadap perempuan, melainkan harus dibaca sebagai fakta antara orang yang punya ‘kuasa’ terhadap orang yang ‘tidak’ punya kuasa, alias orang yang lemah. Sedangkan baik orang yang punya dan orang yang ‘tidak’ punya kuasa, biasanya tidak saja kaum perempuan, tetapi juga kaum laki-laki. Karena itu, menurut saya adalah kurang seimbang jika soal kekerasan itu dibaca dengan ontology antara gender.

    Berkaitan dengan hal itu, Kwok Piu-Lan, seorang teolog feminis asal Hongkong dalam penelitiannya tentang metode tafsir Alkitab mengemukakan bahwa masalah bias gender dalam Alkitab sebaiknya jangan dipahami (ditafsirkan) dalam rangka pengkutuban kategori-kategori oposisi, seperti: antara laki-laki dan perempuan, antara budak dan hamba, antara kulit putih dan kulit hitam, melainkan semua kategori-kategori pengkutuban dan oposisi itu harus didekolonisasikan (ditafsir ulang secara baru dalam konteks pasca kolonialisme, tafsir postcolonial). Contoh yang dikemukakan oleh Kwok Pui-Lan adalah masalah apartheid di Afrika Selatan. Bahwa apartheit secara konstitusi sudah dinyatakan tidak berlaku sejak tahun 1986, tetapi dalam kesadaran masyarakat Afrika Selatan masalah apartheit itu justrtu masih menjadi pola dan live style masyarakat. Terutama dari sudut penguasaan fasilitas-falisitas Negara yang masih dikuasai oleh kaum kulit putih. Maka menurut Kwok Pui-Lan ada tiga (3) hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat di Afrika Selatan agar bisa (betul-betul) bebas dari kungkungan ideology apartheid. Antara lain: Pertama, melakukan Imagination Historical, yaitu menyadari bahwa ada kultur-kultur masa lalu, yang buruk, yang telah dianut oleh masyarakat dan sudah dianggap sebagai sebuah kebenaran. Kedua, melakukan Imagination Dialogical, yaitu sikap terbuka pada tradisi-tradisi baru yang membebaskan dan memberdayakan masyarakat. Dan yang ketiga, melakukan Imagination Diasporical, yaitu proses memasukkan tradisi-tradisi luar yang dianggap dapat memberdayakan kehidupan masyarakat.

    Berangkat dari pemikiran tersebut, menurut hemat saya pembicaraan/diskusi di sekitar upaya mengatasi masalah kekerasan dalam masyarakat sebenarnya haruslah diorientasikan kepada pembentukan kesadaran masyarakat bahwa ternyata yang sering dan cenderung melakukan praktek/tindak dan budaya kekerasan dalam masyarakat adalah orang-orang yang mempunyai ‘kekuatan’ dan ‘kekuasaan’, baik secara ekonomi, politik, social, budaya, bahkan agama, dan mereka itu selalu terdiri dari baik laki-laki maupun perempuan.

    Penutup dan Rekomendasi

    Demikianlah uraian saya mengenai fakta kekerasan dalam masyarakat. Sekedar mengingatkan kembali dan menjadi kesimpulan untuk dipikirkan dalam kerangka membangun diskusi dan relasi sosial di tengah masyarakat, secara khusus dalam konteks budaya kekerasan adalah mengingat nasehat Singgih di atas, yakni: kita semua baik laki-laki maupun perempuan harus berhenti melakukan perang ontologi, yaitu antara ontologi berwujud kekerasan sebagai kekerasan terhadap laki-laki, dan ontologi berwujud kekerasan terhadap perempuan, sambil bersikap terbuka terhadap pemahaman bahwa yang melakukan kekerasan sesungguhnya adalah orang-orang yang punya ‘kuasa’ dan ‘kedudukan’ tertentu dalam masyarakat, dan mereka itu biasanya adalah baik laki-laki maupun perempuan.

    Selanjutnya, agar ide tersebut bisa menjadi sebuah karakter (tabiat) masyarakat dalam relasi social untuk berupaya membangun sebuah tradisi dan budaya nir-kekerasan, saya berdasarkan tiga (3) langkah yang diusulkan oleh Kwok Piu-Lan di atas, merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

    Pertama, melakukan Imagination Historical, yaitu menyadari bahwa ada kultur-kultur masa lalu, yang buruk, yang telah dianut oleh masyarakat dan sudah dianggap sebagai sebuah kebenaran. Salah satunya adalah melakukan kajian untuk mengkritisi berbagai ideology lama serta membangun wacana-wacana baru yang segar seperti: merevisi pepata yang berkata: ‘ada emas di ujung rotan’ menjadi ‘ada rotan dimata orang tua/guru’. Revisi semacam ini bertujuan agar ideology kekerasan fisik yang diakibatkan oleh pepata ‘ada rotan di ujung emas’ perlahan-perlahan dielimir untuk disangkali sebagai sebuah kebenaran.

    Kedua, melakukan Imagination Dialogical, yaitu sikap terbuka pada tradisi-tradisi baru yang membebaskan dan memberdayakan masyarakat. Memang saya sadari bahwa untuk merubah sebuah tradisi bukanlah ibarat kita membalik telapak tangan. Namun hal itu bukan berarti tidak bisa dilakukan. Salah satu yang mungkin dan bisa dikerjakan dalam kerangka berpikir seperti itu adalah: menyediakan sarana dan media informasi dan komunikasi di ruang publik agar proses pertukaran berbagai informasi termasuk informasi tentang kultur dan tradisi baru yang memberdayakan masyarakat cepat mendarat dan diterima secara luas. Misalnya dengan cara menulis atau mendukung kegiatan ‘Koran masuk desa’.

    Ketiga, melakukan Imagination Diasporical, yaitu proses memasukkan tradisi-tradisi luar yang dianggap dapat memberdayakan kehidupan masyarakat. Hal ini hampir sama posisinya dengan yang kedua di atas. Apalagi di zaman dan era globalisasi seperti sekarang ini, saya merasa sekalipun tidak diusulkan ia sementara berlangsung dan terus akan terjadi. Usulan yang sangat mungkin dikerjakan adalah: mempraktekkan sesuatu yang baru dan dirasa akan memberdayakan itu mulai dari diri sendiri. Semoga!

    Kepustakaan:
    Bakker, A., & Achmad Charis Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, Yogyakarta, Kanisius. 1990.
    Galtung, J., Kekerasan Budaya, dalam: Thomas Santoso (editor), Teori-teori Kekekarasan, Jakarta, Ghalia Indonesia. 2002.
    Kwok Pui-Lan, Postcolonial Imagination & Feminist Theology. Louisville Kentrucky, Westminster John Knox Press, 1989.
    Lefebure, L.D. Revelation The Religious and Violence. Maryknoll, New York, 1989.
    Listijabudi, D.K., Tragedi Kekerasan; Menelusuri Akar dan Dampaknya dari Balada Kain-Habel. Yogyakarta, Taman Pustaka Kristen, 1997.
    Putranti, B.D., & Asnath Niwa Natar (Editor), Perempuan, Konflik dan Rekonsiliasi; Perspektif Teologi dan Praksis, Yogyakarta, PSF UKDW Yogyakarta. 2004.
    Singgih, E.G., Dua Konteks; Tafsir-tafsir Perjanjian Lama sebagai Respons atas Perjalanan Reformasi di Indonesia, Jakarta, BPK Gunung Mulia. 2009.
    Lampiran surat PERUATI Nomor: 24/BPP PERUATI/II/2012, tanggal 15 Februari 2012.

    Situs Penulis: http://sefnathontong.blogspot.com/

    Kemanusiaan dan Keilahian Kristus

    Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

    Khotban Ibadah Raya GBAP El Shaddai Palangka Raya
    Minggu, 23 Desember 2012

    PENDAHULUAN

    Perdebatan pada abad I s.d V dalam doktrin Kekristenan lebih banyak berkisar masalah pengenalan terhadap pribadi Yesus Kristus. Hampir semua perdebatan mengangkat topik ini dengan mempertanyakan: Siapakah Yesus Kristus itu? Dari berbagai perdebatan dan diskusi itu, muncul berbagai golongan yang mencoba mengusulkan hasil diskusi mereka, dengan memperkenalkan siapakah sebenarnya pribadi Yesus Kristus itu. Namun sayang sekali ada beberapa golongan yang keliru dalam pengenalan ini. Karena sebagian hanya menekankan soal kemanusiaan Kristus saja dan mengabaikan keilahian-Nya. Sedangkan sebagian lagi hanya menekankan soal keilahian-Nya, walaupun pengenalannya tidak secara utuh. Beberapa contoh dari pandangan yang keliru tersebut antara lain: Ebionit percaya bahwa Yesus hanyalah manusia biasa saja; Modalistik Monarchianis percaya bahwa Yesus adalah salah satu model atau manifestasi dari Allah; Dinamik Monarchianis sebaliknya percaya bahwa pribadi Yesus hanyalah manusia biasa saja; Gnostik menolak bahwa Yesus Kristus berinkarnasi menjadi seorang manusia; Anti-Gnostik sebaliknya menolak keilahian Kristus sebagai Logos (Firman Allah); Arianisme percaya bahwa Yesus hanyalah salah satu subordinasi dari Allah.

    PANDANGAN PARA PATRISTIK GEREJA TENTANG KEPRIBADIAN KRISTUS

    Terhadap semua ajaran yang menyesatkan di atas, bapa gereja Athanasius melakukan pembelaan iman sesuai dengan ajaran Alkitab, dan melahirkan beberapa konsili bapa-bapa (patristik) gereja. Antara lain:

    1. Konsili Nicea (325 M) menegaskan bahwa pribadi Yesus Kristus adalah Allah yang total (utuh) dan manusia yang total (utuh).

    2. Konsil Konstantinopel (381 M) mengulangi penegasan Konsili Nicea yang meyakinkan bahwa pribadi Yesus Kristus adalah 100% Allah dan 100% manusia.

    3. Konsili Chalcedon (451 M) selanjutnya merumuskan hubungan antara Keilahian Kristus dan Kemanusiaan Kristus ini sebagai berikut : Bahwa Yesus memiliki dua natur dalam satu pribadiNya. Hubungan antara kedua natur ini adalah : Tidak bercampur, tidak berubah, tidak berbagi, dan tidak terpisah.

    Kebenaran ini begitu unik. Bahwa Yesus Kristus yang satu pribadi itu memiliki dua natur yang berbeda, yaitu natur Allah yang sempurna 100% dan natur manusia yang sempurna 100%. Sesungguhnya, di dunia ini tidak ada satu pun analogi atau contoh yang bisa menjelaskan dan mewakili kebenaran ini. Sama seperti kebenaran Tritunggal, tidak ada satu pun analogi atau contoh yang bisa mewakili atau menjelaskannya dengan sempurna. Namun, tidak berarti kebenaran ini tidak penting dan boleh diabaikan. Justru sangat penting dan harus dipelajari sejauh apa yang disaksikan oleh Alkitab, Fiman Allah yang tertulis itu. Sebab Alkitab adalah ukuran atau standar dalam iman dan pengetahuan kita tentang Allah. Jadi, bila Alkitab berbicara kita bisa mengerti dan harus percaya. Bila Alkitab diam, kita pun harus belajar berdiam diri dan menerima keterbatasan pikiran, perasaan, pengalaman dan hikmat kita.

    BUKTI-BUKTI KEMANUSIAAN YESUS KRISTUS

    1. Yesus Lahir Seperti Manusia Lainnya. Yesus lahir dari seorang wanita (Galatia 4:4). Kenyataan ini dikuatkan oleh kisah-kisah kelahiran-Nya dari seorang anak dara (Matius 1:18 -2:11; Lukas 1:30-38; 2:1-20). Karena hal ini, Yesus disebut "anak Daud, anak Abraham" (Matius 1:1) dan dikatakan bahwa Ia "menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud" (Roma 1:3). Karena alasan yang sama, Lukas merunut asal usul Yesus sampai kepada Adam (Lukas 3:23-38). Peristiwa ini merupakan penggenapan janji kepada Hawa (Kejadian 3:15) dan kepada Ahas (Yesaya 7:14). Pada beberapa kesempatan Yesus disebutkan sebagai anak Yusuf, namun kita akan melihat bahwa setiap kali hal ini terjadi, orang yang melakukannya itu bukanlah sahabat Yesus atau mereka kurang mengenal Dia (Lukas 4:22; Yohanes 1:45; 6:42; bandingkan dengan Matius 13:55). Bila ada bahaya bahwa pembaca kitab Injil akan menganggap penulis Injil tersebut bermaksud untuk menyatakan bahwa Yesus betul-betul anak Yusuf, maka penulis menambahkan sedikit penjelasan untuk menunjukkan bahwa anggapan semacam itu tidak benar. Oleh karena itu dalam Lukas 23:23 kita membaca bahwa Yesus adalah anak Yusuf "menurut anggapan orang" dan di dalam Roma 9:5 dinyatakan bahwa Kristus berasal dari Israel dalam "keadaan-Nya sebagai manusia".

    Dalam kaitan ini telah diajukan satu pertanyaan penting: Bila Kristus itu lahir dari seorang perawan, apakah Ia juga mewarisi sifat yang berdosa dari ibu-Nya? Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak berhubungan dengan dosa. Alkitab menandaskan bahwa Yesus "tidak mengenal dosa" (2 Korintus 5:21); dan bahwa Ia adalah "yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa" (Ibrani 7:26); dan bahwa "di dalam Dia tidak ada dosa" (1 Yohanes 3:5). Pada saat memberitahukan bahwa Maria akan melahirkan Anak Allah, Gabriel menyebutkan Yesus sebagai "kudus" (Lukas 1:35). Iblis tidak berkuasa apa-apa atas diri Yesus (Yohanes 14:30); ia tak ada hak apa pun atas Anak Allah yang tidak berdosa itu. "Dosalah yang membuat Iblis berkuasa atas manusia, tetapi di dalam Yesus tidak ada dosa." Melalui naungan ajaib Roh Kudus, Yesus lahir sebagai manusia yang tidak berdosa.

    2. Yesus Tumbuh Dan Berkembang Seperti Manusia Normal. Yesus berkembang secara normal sebagaimana halnya manusia. Oleh karena itu dikatakan dalam Alkitab bahwa Ia "bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya" (Lukas 2:40), dan bahwa Ia "makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia" (Lukas 2:52). Perkembangan fisik dan mental Kristus ini tidak disebabkan karena sifat ilahi yang dimiliki-Nya, tetapi diakibatkan oleh hukum-hukum pertumbuhan manusia yang normal. Bagaimanapun juga, kenyataan bahwa Kristus tidak mempunyai tabiat duniawi dan bahwa Ia menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan, yang berdosa, sudah pasti turut mempengaruhi perkembangan mental dan fisik-Nya. Perkembangan mental Yesus bukanlah semata-mata hasil pelajaran di sekolah-sekolah pada zaman itu (Yohanes 7:15), tetapi harus dianggap sebagai hasil pendidikan-Nya dalam keluarga yang saleh, kebiasaan-Nya untuk selalu hadir dalam rumah ibadah (Lukas 4:16), kunjungan-Nya ke Bait Allah (Lukas 2:41, 46), penelaahan Alkitab yang dilakukan-Nya (Lukas 4:17), dan juga karena Ia menggunakan ayat-ayat Alkitab ketika menghadapi pencobaan, dan karena persekutuan-Nya dengan Allah Bapa (Markus 1:35;Yohanes 4:32-34).

    3. Ia Memiliki Unsur-Unsur Hakiki Sifat Manusia. Bahwa Kristus memiliki tubuh jasmaniah jelas dari ayat-ayat yang berbunyi, "mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku" (Matius 26:12); "yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah adalah tubuh-Nya sendiri" (Yohanes 2:21); "Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapatkan bagian dalam keadaan mereka [darah dan daging]" (Ibrani 2:14); "tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagi-Ku" (Ibrani 10:5); "kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus" (Ibrani 10:10). Bahkan setelah Ia dibangkitkan Ia mengatakan, "Rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku" (Lukas 24:39). Bukan saja Kristus memiliki tubuh manusiawi yang fisik, Ia juga memiliki unsur-unsur sifat manusiawi lainnya, seperti kecerdasan dan sifat sukarela. Ia mampu berpikir dengan logis. Alkitab berbicara tentang Dia sebagai memiliki jiwa dan/atau roh (Matius 26:38; bandingkan dengan Markus 8:12; Yohanes 12:27; 13:21; Markus 2:8;Lukas 23:46; dalam Alkitab bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai hati dan nyawa). Ketika mengatakan bahwa Ia mengambil sifat seperti kita, kita selalu harus membedakan antara sifat manusiawi dan sifat yang berdosa;Yesus memiliki sifat manusiawi, tetapi Ia tidak memiliki sifat yang berdosa.

    4. Ia Mempunyai Nama-Nama Manusia. Ia memiliki banyak nama manusia. Nama "Yesus", yang berarti "Juruselamat" (Matius 1:21), adalah kata Yunani untuk nama "Yosua" di Perjanjian Lama (bandingkan Kisah 7:45; Ibrani 4:8). Ia disebut "anak Abraham" (Matius 1:1) dan "anak Daud". Nama "anak Daud" sering kali muncul dalam Injil Matius (1:1; 9:27; 12:23; 15:22; 20:30, 31;21:9, 15). Nama "Anak Manusia" terdapat lebih dari 80 kali dalam Perjanjian Baru. Nama ini berkali-kali dipakai untuk Nabi Yehezkiel (2:1; 3:1; 4:1, dan seterusnya), dan sekali untuk Daniel (8:17). Nama ini dipakai ketika bernubuat tentang Kristus dalam Daniel 7:13 (bandingkan Matius 16:28). Nama ini dianggap oleh orang-orang Yahudi sebagai mengacu kepada Mesias. Hal ini jelas dari kenyataan bahwa imam besar merobek jubahnya ketika Kristus menerapkan nubuat Daniel ini kepada diri-Nya sendiri (Lukas 26:64, 65). Orang-orang Yahudi memahami bahwa istilah ini menunjuk kepada Mesias (Yohanes 12:34), dan menyebut Kristus itu Anak Manusia adalah sama dengan menyebut Dia Anak Allah (Lukas 22:69, 70). Ungkapan ini bukan saja menunjukkan bahwa Ia adalah benar-benar manusia, tetapi bahwa Ia juga adalah wakil seluruh umat manusia (bandingkan Ibrani 2:6-9).

    5. Ia Memiliki Berbagai Kelemahan Yang Tak Berdosa Dari Sifat Manusiawi. Karena itu, Yesus pernah lelah (Yohanes 4:6), lapar (Matius 4:2; 21:18), haus (Yohanes 19:28); Ia pernah tidur (Matius 8:24; bandingkan Mazmur 121:4); Ia dicobai (Ibrani 2:18; 4:15; bandingkan Yakobus 1: 13); Ia mengharapkan kekuatan dari Bapa-Nya yang di sorga (Markus 1:35; Yohanes 6:15; Ibrani 5:7); Ia mengadakan mukjizat (Matius 12:28), mengajar (Kisah 1:2), dan mempersembahkan diri-Nya kepada Allah oleh Roh Kudus (Kisah 10:38; Ibrani 9:14). Orang-orang Kristen memiliki seorang imam besar di sorga dengan kemampuan yang tiada terhingga untuk merasa belas kasihan terhadap mereka dalam semua bahaya, dukacita, dan pencobaan yang mereka alami dalam kehidupan, karena Ia sendiri mengalami semuanya itu, karena Ia menjadi sama dengan manusia. Kembali harus ditekankan bahwa menyebutkan kelemahan-kelemahan dalam sifat Kristus tidaklah berarti kelemahan-kelemahan yang berdosa.

    6. Berkali-Kali Ia Disebut Sebagai Manusia. Yesus menganggap diri-Nya sendiri manusia (Yohanes 8:40). Yohanes Pembaptis (Yohanes 1:30), Petrus (Kisah 2:22), dan Paulus (1 Korintus 15:21, 47; Filipi 2:8; bandingkan Kisah 13:38) menyebut- Nya manusia. Kristus benar-benar diakui sebagai manusia (Yohanes 7:27; 9:29; 10:33), sehingga Ia dikenal sebagai orang Yahudi (Yohanes 4:9); Ia dikira lebih tua dari usia sebenarnya (Yohanes 8:57); dan Ia dituduh telah menghujat Allah karena berani menyatakan bahwa diri-Nya lebih tinggi daripada manusia (Yohanes 10:33). Bahkan setelah bangkit, Kristus nampak sebagai manusia (Yohanes 20:15; 21:4, 5). Lagi pula, sekarang ini Ia berada di sorga sebagai manusia (I Timotius 2:5), akan datang kembali (Matius 16:27, 28; 25:31; 26:64, 65), serta menghakimi dunia ini dengan adil sebagai manusia (Kisah 17:31).

    BUKTI-BUKTI KEILAHIAN YESUS KRISTUS

    1. Kristus memiliki dan menunjukkan sifat-sifat KeilahianNya. Kristus berdasarkan pengakuanNya sendiri Kristus memiliki sifat-sifat yang hanya dimiliki oleh Allah, yaitu: (1) Kekekalan: Ia mengaku sudah ada sejak kekal (Yohanes 8:58; 17:5); (2) Mahahadir: Ia mengaku hadir di mana-mana (Matius 18:20; 28:20); (3) Mahatahu: Ia memperlihatkan pengetahuan tenaang hal-hal yang hanya dapat diketahui jika Ia mahatahu (Matius16:21; Lukas 6:8; 11:7; Yohanes 4:29); (4) Mahakuasa: Ia memperagakan dan menyatakan kekuasaan satu Pribadi yang Mahakuasa (Matius 28:20; Markus 5:11-15;Yohanes 11:38-44).

    Sifat-sifat Kealahan yang lain dinyatakan bagi diri-Nya oleh orang lain (misal "tak berubah", Ibrani 13:5), tetapi apa yang dikutip di atas tadi adalah apa yang diakui oleh-Nya bagi diri-Nya sendiri.

    2. Kristus melakukan tindakan-tindakan yang hanya dilakukan oleh Allah. Perhatikanlah perkerjaan dan tindakan yang dilakukan oleh Kristus berikut ini: (1) Pengampunan: Ia mengampuni dosa selama-lamanya. Manusia mungkin dapat melakukannya untuk sementara,namun Kristus memberikan pengampunan kekal (Markus 2:1-12); (2) Kehidupan: Ia memberikan kehidupan rohani kepada barang siapa yang dihendaki-Nya (Yohanes 5:21); (3) Kebangkitan: Ia akan membangkitkan orang mati (Yohanes 11:43); (4) Penghakiman: Ia akan menghakimi semua orang (Yohanes 5:22, 27). Lagi-lagi, semua contoh di atas adalah hal-hal yang Ia lakukan atau pengakuan yang diucapkan-Nya sendiri, bukan orang lain.

    3. Kristus diberi Nama-nama dan Gelar-gelar Keallahan.
    (1) Anak Allah. Tuhan kita mempergunakan gelar bagi diri-Nya (meskipun hanya kadang-kadang, Yohanes 10:36), dan Ia mengakui kebenarannya ketika dipergunakan oleh orang lain untuk menunjuk kepada-Nya (Matius 26:63- 64). Apakah artinya? Meskipun frase "anak dari" dapat berarti "keturunan dari", hal ini juga mengandung arti "dari kaum". Jadi, dalam Perjanjian Lama "anak- anak para nabi" berarti dari kaum nabi (1 Raja-raja 20:35), dan “anak- anak penyanyi” berarti kaum penyanyi (Nehemia 12:28). Petunjuk "Anak Allah" apabila dipergunakan untuk Tuhan kita, berarti dari “kaum Allah dan merupakan suatu klaim yang kuat dan jelas untuk Keallahan yang penuh”. Dalam penggunaan di antara orang Yahudi, perkataan "Anak (dari)..." umumnya tidak berarti suatu pembawahan, tetapi lebih kepada persamaan dan jati diri hakikat. Contoh, nama “anak penghiburan” (Kisah Para Rasul 4:36) tak pelak lagi berarti, “si penghibur”. "Anak-anak guruh” (Markus 3:17) mungkin sekali berarti “penggeledek”. “Anak Manusia”, terutama sebagaimana berlaku untuk Kristus dalam Daniel 7:13 dan selalu dalam Perjanjian Baru, hakikatnya berarti "Orang yang Mewakili". Jadi, bagi Kristus untuk mengatakan, “Akulah Anak Allah” (Yohanes 10:36) dianggap oleh orang-orang pada masa-Nya sebagai memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah, sejajar dengan Bapa, yang menurut mereka tidak layak.
    (2) Tuhan dan Allah. Yesus disebut Yahweh dalam Perjanjian Baru. Hal ini menunjukkan Keallahan-Nya yang penuh (bandingkan Lukas 1:76 dengan Maleakhi 3:1 dan Amsal 10:13 dengan Yoel 2:32). Ia juga disebut Allah (Yohanes 1:1; 20:28; Ibrani 1:8), Tuhan (Matius 22:43-45), dan Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan (Wahyu 19:16).

    4. Kristus Mengakui diriNya sebagai Allah. Mungkin peristiwa yang paling kuat dan jelas tentang pengakuan ini, terjadi pada waktu hari raya penahbisan Bait Allah di Yerusalem, ketika Ia berkata, "Aku dan Bapa adalah satu" (Yoh. 10:30). Kata "satu" di sini bukan berarti Ia dan Bapa merupakan satu Pribadi melainkan bahwa mereka merupakan kesatuan dalam sifat dan kegiatannya, suatu fakta yang benar, hanya jika Ia sama Keallahan - Nya dengan Bapa. Orang-orang yang mendengar pengakuan ini mahaminya demikian karena itu mereka segera berupaya merajam-Nya dengan alasan penghujatan karena Ia menyatakan diri-Nya sebagai Allah (Ayub 33). Bagaimana seseorang dapat mengatakan bahwa Yesus dari Nazaret sendiri tak pernah mengaku sebagai Allah? Dan bahwa pengikut-Nyalah yang menyatakan demi Dia? Kebanyakan dari kutipan diatas berasal dari kata-kata Kristus Sendiri.

    Karena itu, kita haruslah menghadapi satu-satunya pilihan: apakah yang diakui-Nya itu memang benar ataukah Ia seorang pembohong. Dan apa yang diakui-Nya itu merupakan Keallahan yang penuh dan sempurna - tak ada yang kurang atau dikurangkan semasa hidup-Nya di bumi.

    5. Kristus Menyatakan Mempunyai Penghormatan yang Sama dengan Allah

    Dalam Yohanes 5:23 berkata, "Supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia". Dalam ayat ini, Yesus menyatakan dengan jelas bahwa manusia akan menghormati Dia sebagaimana mereka menghormati Bapa. Jikalau Anda mulai membaca dari ayat 16, Anda akan menemukan bahwa orang-orang Yahudi mau membunuh Yesus. Orang-orang Yahudi berkata bahwa Yesus telah mengajar bahwa Dia sama dengan Allah (ayat 18). Jika Yesus tidak menjadi sama dengan Allah, Dia sudah tentu akan membenarkan mereka. Dia akan membuat itu jelas bagi mereka bahwa Ia tidak sama dengan Allah. Apakah Dia melakukan ini? Tidak. Malahan Yesus memberitahukan kepada mereka bahwa "Semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa." Perhatikan dalam Filipi 2:6, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan" Ayat ini menceritakan bahwa Yesus telah menjadi Allah sebelum Ia datang di dunia. Yesus tidak pernah berpikir bahwa Dia merampas hak Allah dengan menjadi sejajar dengan Allah, melainkan Ia sedang menyatakan sejajar dengan Allah karena Ia adalah Allah itu sendiri.

    6. Keilahian Kristus berdasarkan kesatuannya dalam Trinitas. Dalam Matius 28:19 dikatakan “dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus”. Secara khusus, frase Yunani yang tertulis di Matius 28:19 yaitu “baptizontes autous eis to onoma tou patros kai tou uiou kai tou agiou pneumatos” yang diterjemahkan menjadi “baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus”, di mana hal yang menarik adalah bahwa sekalipun di sini disebutkan tiga buah nama yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus, tetapi kata kata Yunani “eis to onomo” yang diterjemahkan “dalam nama” adalah nominatif singular (bentuk tunggal, bukan bentuk jamak)! Bentuk jamak dari kata Yunani “onomo (nama)” adalah “onomata”. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan name (bentuk tunggal), bukan names (bentuk jamak). Karena itu ayat ini bukan hanya menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu setara, tetapi juga menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu adalah satu atau esa. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan name (bentuk tunggal), bukan names (bentuk jamak). Karena itu ayat ini bukan hanya menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu setara, tetapi juga menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu adalah satu atau esa. Kata “esa” yang digunakan dalam Ulangan 6:4 dalam bahasa Ibraninya adalah “Ekhad” yang menunjuk kepada “satu kesatuan yang mengandung makna kejamakan; dan bukan satu yang mutlak”. Jika yang dimaksud “satu-satunya; atau satu yang mutlak” maka dalam bahasa Ibrani yang digunakan adalah “yakhid”.

    PERPADUAN NATUR KEILAHIAN DAN NATUR KEMANUSIAAN KRISTUS

    Pokok ini merupakan rahasia yang sangat dalam. Bagaimana mungkin ada dua sifat di dalam satu orang? Sekalipun sulit untuk memahami konsep ini, Alkitab menganjurkan agar kita merenungkan rahasia Allah ini, yaitu Kristus (Kolose 2:2,3). Yesus sendiri menyatakan bahwa pengenalan yang benar akan Dia hanya akan diperoleh melalui penyataan ilahi (Matius 11:27). Mempelajari pribadi Kristus sangatlah sulit karena kepribadian-Nya sangat unik; tidak ada oknum lain yang sama dengan Dia sehingga kita tidak dapat berargumentasi dari hal-hal yang sudah kita ketahui kepada hal-hal yang belum kitaketahui.

    1. Pemikiran yang keliru tentang perpaduan kedua natur Kristus. (1) Perpaduan sifat ilahi dengan sifat manusiawi di dalam Kristus itu tidak dapat dibandingkan dengan hubungan pemikahan, karena kedua belah pihak dalam pemikahan tetap merupakan dua pribadi yang berbeda walaupun sudah menikah; (2) Perpaduan kedua sifat itu tidak sama seperti perhubungan orang-orang percaya dengan Kristus. Juga tidaklah tepat untuk beranggapan bahwa sifat ilahi itu tinggal di dalam Kristus sebagaimana Kristus tinggal di dalam orang percaya, karena itu berarti bahwa Yesus hanyalah seorang manusia yang didiami oleh Allah dan la sendiri bukan Allah. (3) Gagasan yang mengatakan bahwa Kristus mempunyai kepribadian rangkap tidaklah alkitabiah. Tidak disebutkan dalam Alkitab bahwa Logos mengambil tempat pikiran dan roh manusiawi di dalam Kristus, karena dalam hal demikian Kristus bersatu dengan kemanusiaan yang tidak sempuma. Demikian pula kedua sifat itu tidak bersatu untuk membentuk sifat yang ketiga, sebab dalam hal itu Kristus bukanlah manusia sejati. (4) Juga tidak dapat dikatakan bahwa Kristus secara berangsur-angsur menerima sifat ilahi, karena dalam hal demikian keilahian-Nya bukanlah suatu kenyataan hakiki sebab harus diterima secara sadar oleh kemanusiaan Kristus. Gereja pada umumnya dengan tegas menyalahkan pandangan-pandangan ini sebagai tidak alkitabiah dan karena itu tidak bisa diterima.

    2. Pemikiran yang benar entang perpaduan kedua natur Kristus. Bila pengertian-pengertian di atas itu salah semua, bagaimanakah kita dapat menerangkan perpaduan kedua sifat tersebut di dalam Kristus sehingga menghasilkan satu pribadi, namun dengan dua kesadaran dan dua kehendak? Sekalipun ada dua sifat, tetapi ada satu pribadi saja. Dan sekalipun ciri-ciri khas dari sifat yang satu tidak dapat dikatakan merupakan ciri khas dari sifat lainnya, namun kedua sifat itu berada dalam satu Pribadi, yaitu Kristus.

    Tidaklah tepat untuk mengatakan bahwa Kristus adalah Yang Ilahi yang memiliki sifat manusiawi, atau bahwa Ia adalah manusia yang didiami oleh Yang Ilahi. Dalam hal yang pertama, maka sifat manusiawi tidak akan memperoleh tempat dan peranan yang semestinya, dan dalam hal yang kedua sifat ilahi itulah yang tak akan memperoleh tempat dan peranan yang semestinya. Oknum kedua dari Tritunggal Allah menerima keadaan manusia dengan semua ciri khasnya. Dengan demikian kepribadian Kristus berdiam di dalam sifat ilahi-Nya, karena Allah Anak tidak bersatu dengan seorang manusia tetapi dengan sifat manusia. Terpisah dari penjelmaan sifat manusiawi Kristus tak bersifat pribadi; akan tetapi hal ini tidak benar tentang sifat ilahi-Nya. Begitu sempurnanya penyatuan menjadi satu pribadi ini sehingga, "Kristus pada saat yang 'sama memiliki sifat-sifat yang nampaknya bertolak belakang. Ia bisa lemah dan mahakuasa, bertambah dalam pengetahuan namun mahatahu, terbatas dan tidak terbatas," dan kita dapat menambahkan, Ia bisa berada di satu tempat namun Ia Mahahadir.

    Yesus berbicara tentang diri-Nya sebagai satu pribadi yang utuh dan tunggal; Ia sama sekali tidak menunjukkan adanya gejala-gejala keterbelahan kepribadian. Selanjutnya, orang-orang yang berhubungan dengan Dia menganggap Dia sebagai seorang dengan kepribadian yang tunggal dan tidak terbelah. Bagaimana dengan kesadaran diri-Nya? Jelaslah bahwa dalam kesadaran diri yang ilahi Yesus senantiasa sadar akan keilahian-Nya. Kesadaran diri yang ilahi itu senantiasa beroperasi penuh, bahkan pada masa kanak-kanak. "Namun ada bukti bahwa dengan berkembangnya sifat manusiawi maka kesadaran diri yang manusiawi itu mulai aktif." Kadang-kadang Ia akan bertindak dari kesadaran diri yang manusiawi, dan pada saat-saat lain Ia bertindak dari kesadaran diri yang ilahi, namun keduanya itu tidak pernah bertentangan. Hal yang sama dapat dikatakan mengenai kehendak-Nya. Pastilah, kehendak manusiawi ingin menjauhi salib (Matius 26:39), dan kehendak yang ilahi ingin menjauhkan diri dari hal dijadikan dosa (2 Korintus 5:21). Dalam kehidupan-Nya, Yesus berkehendak untuk melakukan kehendak Bapa-Nya yang di sorga (Ibrani 10:7, 9). Hal ini dilaksanakan-Nya sepenuhnya.

    Maka jika kedua sifat Kristus itu terbaur secara sempurna di dalam satu pribadi, lalu bagaimanakah sifat pembauran itu? Sebagian besar jawaban untuk pertanyaan ini telah disinggung dalam uraian sebelumnya. Tidak mungkin kami memberikan analisis kejiwaan yang tepat tentang kepribadian, unik Kristus sekalipun Alkitab memberikan sedikit petunjuk.

    (1) Perpaduan itu tidak bersifat teantropik. Diri Kristus adalah teantropik (artinya mempunyai sifat ilahi dan sifat manusiawi), tetapi sifat-Nya tidak. Maksudnya, seseorang dapat berbicara tentang Allah - manusia bila Ingin mengacu kepada diri Kristus; akan tetapi, kita tidak dapat berbicara tentang sifat ilahi- manusiawi, melainkan kita harus berbicara tentang adanya sifat ilahi dan sifat manusiawi di dalam Kristus. Hal ini jelas dari kenyataan bahwa Kristus memiliki pengertian dan kehendak yang tak terbatas dan juga memiliki pengertian dan kehendak yang terbatas; Ia memiliki kesadaran ilahi dan kesadaran manusiawi. Kecerdasan ilahi-Nya tidak terbatas; kecerdasan manusiawi-Nya makin bertambah. Kehendak ilahi-Nya adalah mahakuasa; kehendak manusiawi-Nya hanya terbatas pada kemampuan manusia yang belum jatuh dalam dosa. Dalam kesadaran ilahi-Nya Ia dapat berkata, "Aku dan Bapa adalah satu" (Yohanes 10:30); dalam kesadaran manusiawi-Nya Ia dapat berkata, "Aku haus" (Yohanes 19:28). Namun harus ditekankan bahwa Kristus tetap Allah - manusia.

    (2) Perpaduan itu bersifat pribadi. Perpaduan kedua sifat di dalam Kristus disebut perpaduan hipostatis. Maksudnya, kedua sifat atau hakikat itu merupakan satu cara berada yang pribadi. Karena Kristus tidak bersatu dengan diri manusia, tetapi dengan sifat manusia, maka kepribadian Kristus bertempat dalam sifat ilahi-Nya.

    (3) Perpaduan itu meliputi berbagai sifat dan perbuatan manusiawi dan ilahi.

    Baik sifat dan perbuatan yang manusiawi maupun yang ilahi dapat dilakukan oleh Sang Allah-manusia tanpa kecuali. Demikianlah berbagai sifat dan ciri khas manusia dihubungkan dengan Kristus di bawah gelar -gelar yang ilahi, "Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi" (Lukas 1:32); "mereka tidak akan menyalibkan Tuhan yang mulia" (1 Korintus 2:8); "jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri" (Kisah 20:28). Dari ayat-ayat tersebut kita melihat bahwa Allah telah lahir dan Allah telah mati. Ada juga ayat-ayat yang menyebut berbagai ciri khas dan sifat ilahi serta menghubungkannya dengan Kristus di bawah nama-nama manusiawi-Nya, "Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia" (Yohanes 3:13); "dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?" (Yohanes 6:62); "Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya" (Roma 9:5); Kristus yang mati itu adalah Kristus yang "memenuhi semua dan segala sesuatu" (Efesus 1:23; bandingkan Matius 28:20); Dialah yang telah ditentukan oleh Allah untuk menghakimi dunia (Kisah 17:31; bandingkan Matius 25:31, 32).

    (4) Perpaduan tersebut menjamin kehadiran yang tetap dari keilahian dan kemanusiaan Kristus. Kemanusiaan Kristus hadir bersama dengan keilahian-Nya di setiap tempat. Kenyataan ini menambah keindahan kenyataan bahwa Kristus ada di dalam umat-Nya. Ia hadir dalam keilahian-Nya, dan melalui perpaduan kemanusiaan-Nya dengan keilahian-Nya, maka Ia juga hadir dalam kemanusiaan-Nya.

    Referensi:
    Berkhof, Louis., 2011. Systematic Theology. Jilid 1, Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.
    Cornish, Rick., 2007. Five Minute Theologian. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya : Bandung.
    Enns, Paul., 2004.The Moody Handbook of Theology, jilid 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang
    Erickson J. Millard., 2003. Christian theology. Jilid 2 & 3. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
    Grudem, Wayne., 1994. Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Zodervan Publising House : Grand Rapids, Michigan.
    Milne, Bruce., 1993. Knowing The Truth : A Handbook of Christian Belief. Terjemahan (1993). Penerbit BPK : Jakarta.
    Mounce, William D., 2011. Basics of Biblical Greek, edisi 3. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
    Morris, Leon., 2006. New Testamant Theology. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
    Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
    Susanto, Hasan., 2003.Perjanjian Baru Interlinier Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, jilid 1 dan 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
    Milne, Bruce., 1993. Knowing The Truth : A Handbook of Christian Belief. Terjemahan (1993). Penerbit BPK : Jakarta.
    Ryrie, Charles C., 1991. Basic Theology. Jilid 1 dan 2, Terjemahan, Penerbit Andi Offset : Yoyakarta.
    Thiessen, Henry C., 1992. Lectures in Systematic Theology, direvisi Vernon D. Doerksen. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.

    * Pdt. Samuel T. Gunawan adalah seorang Protestan-Kharismatik, Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT Lainnya.

    Kemenangan Orang Percaya

    Konsep Perjanjian Lama mengartikan Paskah sebagai Hari Pembebasan mereka di dalam perbudakan, dalam Perjanjian Baru juga demikian, Paskah merupakan pembebasan orang-orang percaya dari "perbudakan" dosa dan maut, semestinya manusia itu mati karena dosa; namun kemenagan Tuhan Yesus di atas kayau salib telah membebaskan kita dari kematian itu. Yesus telah menang atas dosa-dosa umat manusia secara universal, artinya setiap orang yang percvaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Peringatan Paskah juga merupakan suatu pesta kemenangan besar Yesus Kristus, sekaligus Kemenangan besar bagi orang-orang percaya. Yesus bukan hanya menang atas kematiaan-Nya saja di dalam Kubur, tetapi sekaligus menang atas dosa manusia. Inilah salah satu dasar Iman Kepercayaan orang Kristen yang tidak boleh dilupakan. Makanya ketika Dokter Lukas mengatakan dalam bagian ini bahwa ";Ia Tidak Ada di sini, Ia Telah Bangkit" (Lukas 24:6), haruslah diyakini bahwa Yesus Kristus benar-benar telah bangkit dari kubur, di gua itu sudah kosong, yang ada hanay kain kafan bekas pembalut mayat Tuhan Yesus. Tidak ada sejengkal-pun alasan yang boleh membatalkan pernyataan ini.

    Di dalam Teologia Apologetika, Yesus diyakini sebagai Anak Allah, kokoh atau hancurnya konsep ini sangat tergantung dan erat hubungannya dengan Kebangkitan Yesus Kristus. Kalau kita perhatikan 1 Korintus 15 :7 di sini rasul Paulus mengatakan “Jika Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” Karena itu, Kebangkitan patutlah dianggap sebuah bukti tentang Pribadi Kristus yang Ilahi, Kemesiasan-Nya dan Kuasa-Nya menyelamatkan manusia dari dosa. Tanpa Kebangktan, itu berarti Yesus yang kita sembah adalah Yesus yang tidak bedanya dengan para tokoh-tokoh agama. Kebangkitan-Nya sekaligus membuktikan Ia Hidup.

    "Kemenangan Orang Percaya" demikianlah judul tulisan ini. Tentu ada orang yang bertanya, apa sih bukti kemenangan itu, bukankah Yeus disalibkan di bukit Golgota? Ada orang berpendapat bahwa kubur Yesus yang kosong belum tentu merupakan indikasi Yesus bangkit, barangkali Yesus melarikan diri sebab Dia hanya semaput (pinsan), sekarang sudah siuman lalau pergi melarikan diri?. Atau, karena kepiawaian Yesus, maka Ia telah mengelabui orang-orang yang telah menyalibkan Dia, sesungguhnya yang disalibkan itu orang lain? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang seringkali muncul dalam benak orang-orang yang tidak percaya akan Kebangkitan bukan? Hal ini bisa kita maklumi, sebab kejadian Kebangkitan Yesus Kristus telah berlalu dua ribu tahun lebih, dan mereka yang tidak senang akan hal ini pasti punya banyak alasan dan cerita untuk menghancurkan Kebanaran ini. Jangankan orang-orang modern sekarang ini banyak yang tidak percaya, orang-orang yang hidup pada jaman Yesus-pun ada yang tidak percaya akan Kebangkitan ini. Salah satunya justru orang yang paling dekat dengan Yesus yakni murid-Nya yang bernama Tomas. Demikian kata Tomas, "Sebelum aku sendiri memasukkan jari tangan ke dalam telapak tangan bekas paku Tuhan Yesus dan memasukkan tanganku ke dalam perut bekas tusukan tombak, aku tidak percaya Yesus sudah bangkit" (lihat Yohanes 20:25) Sehubungan dengan Kemenangan orang Percaya ini, saya mencatat tiga hal yang akan kita soroti lebih mendetail.

    I. Kemenangan Orang Percaya, buktinya Batu Besar Penutup Kubur Terguling

    Di dalam Injil Matius 28 :2 tercatat " Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya" Sedangkan Markus mencatat, setelah lewat Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki mayat Yesus. Di tengah perjalanan, mereka bertanya siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita? Mereka sadar, bahwa ada yang kurang dari antara mereka yakni tidak membawa teman-teman pria. Sebab sesungguhnya batu penutup pintu kubur itu cukup berat untuk di geser. Namun apa boleh buat, saat ini sudah hampir tiba di Kubur. Satu hal yang sangat mengagetkan mereka semua adalah, ternyata batu besar dan berat itu sudah terguling dan kubur dalam keadaan terbuka. Ini berarti ada sesuatu sedang rterjadi di dalam Kubur itu.

    Kebangkitan Tuhan Yesus merupakan peristiwa yang penting dan dahsyat. Begitu kuat-Nya kuasa Kebangkitan itu telah mendorong dan menggeser batu penutup kubur sekaligus menghancurkan penghalang itu dan membuat terobosan baru. Bagaimana dengan kita semua? Sesungguhnya apa yang menjadi penghalang kita dalam hidup ini supaya bisa menaruh kepercayaan seratus persen kepada Tuhan? Apa yang senantiasa menjadi penghalang, membnuat kita tidak setia kepada Tuhan. Sanggupkah kita menggulingkan batu penghalang hidup kita ini?

    Pernah suatu hari dalam percakapan dengan salah seorang jemaat gereja, saya begitu kaget sebab saya menemukan ada jemaat yang sudah puluihan tahun berbakti di gereja tetapi dia belum dibaptis. Danm tatkala kita coba bertanya alasannya, terlalu banyak yang beralasa bahwa " orang tua kami masih hidup". Kita lihat bahwa jawabannya itu tidak sejalan dengan pertanyaannya bukan? Namun setelah saya coba selidiki latar belakangnya, ternyata memang orang tuanya belum percaya, sehingga apabila orang tuanya masih hidup, pastilah mereka marah sekali kalau anak-anaknya percaya Yesus, sebab apabila mereka sebagai orang tua meninggal, tidak ada yang menyembayangi. Tetapi kalau dipikirkan kembali, bukankah dia sebagai anak juga sangat "kejam", rela kalau orang tuanya meninggal tanpa Tuhan Yesus. Apalagi kalau orang tuanmya mengetahui akan Kebenaran ini, tentu mereka akan "sakit hati" pada anak-anaknya. Bukankah bagi jemaat tersebut. Orang tunya sebagai "batu besar penghalang" , yang harus segera digeser. Yang harus segera diubah konsepnya, sehingga yang tadinya penghalang dengan kekuatan Tuhan telah menjadi pendukung.

    II. Kemenangan Orang Percaya, buktinya: Yesus tidak ada di dalam Kubur lagi

    Lukas mencatat dalam bacaan tadi, "Pagi-pagi benar mereka, dalam hal ini para wanita itu yakni Maria Magdalena, Yohana, Maria ibu Yakobus dan Salome dan wanita-wanita lainnya berangkat menuju ke kubur. Kenyataan yang mereka hadapi adalah, Batu Penutup Kubur itu telah tergeser dari tempatnya; dan satu hal yang paling penting lagi mayat Yesus sudah tidak ada di dalam. Bagi murid-murid Yesus yang saat itu penuh ketakutan, barangkali mendapat sedikit penjelasannya saja, mereka sudah bisa mengerti dan menerima dan percaya peristiwa Kebangkitan itu. Sebab memang Yesus pernah menceritakan kepada mereka kronologisnya.

    Namun fakta yang terjadi di lapangan beda, Tomas yang seringkali disebut Didimus itu masih ragu akan hal ini. Seorang ahli Teologia dari Amerika John F Walvoord menjelaskan perdebatan serta keraguan dan kecurigaan ini sebagai berikut :

    Ada orang yang mengatakan bahwa murid-murid Yesus itu sesungguhnya telah datang ke kubur yang salah, sehingga wajar kalau tidak menemukan Yesus di sana. Apakah ini benar, bagaimana penjelasannya? "Kira-kira tigapuluhan tahun yang lalu, saya masih ingat cerita dari nenek saya mengenai kuburan orang-tuanya. Beliau mengatakan bahwa, kubur orang-tuanya hampir tidak ditemukan, karena tanda berupa patokannya hilang. Jadi ada kemungkinan pergi ke kubur yang salah. Di jaman sekarang ini, kuburan sudah di tata rapi, bahkan ada alamat dan nama bloknya. Misalnya di Jawa-Timur saja kuburan di Gunung Gansir atau Sentong Lawang sudah ada namanya, Blok A, Villa Masa Depan Sejahtera" atau entah nama apa lagi, sehingga orang-orang lebih gampang menemukannya. Namun, apakah benar murid-murid itu salah? Jawabannya tidak, sebab malaikat-malaikat ada di kubur itu, tidak mungkin malaikat berada pada kubur yang keliru bukan. Selain itu di sana juga ada para serdadu, jadi tidak mungkin mereka menjaga kubur orang lain, apa kepentingannya dengan kubur orang lain, sudah pasti itu kubur Yesus, walaupun pada waktu itu tidak diberi nomor Blok dan nama Villa.

    Sementara itu ada lagi yang mengatakan bahwa para serdadu itu sendirilah yang telah mengarang cerita untuk meyakinkan orang banyak bahwa mayat Yesus benar-benar telah dicuri oleh seseorang tatkala mereka sedang tidur. Apabila kasus ini benar-benar terjadi, maka para serdadu itu pasti akan dihukum mati; sebab mereka yang diberi tanggung-jawab untuk menjaga tetapi kenyataannya mereka tidur. Sebaliknya menurut catatan Injil Matius, mereka itu disuap dengan uang untuk menyebarkan cerita bohong itu. Hal ini jelas merupakan suatu usaha untuk menutupi fakta kebenaran dengan mengandalkan uang. Tentunya para serdadu itu akan dijamain keselamatannya ats hukuman yang berlaku pada waktu itu.

    Kurangnya bukti untuk mengadakan klaim bagi orang-orang yang berusaha menggugat kebangkitan-Nya membuat kita menerima catatan tentang Kebangkitan itu. Jikalau Kebangkitan itu tidak ajaib dan begitu penting sehingga menjadi dasar yang kokoh bagi seluruh iman Kristen, maka tentulah Kebangkitanm itu tidak pernah dipersoalkan. Sekali lagi murid-murid Yesus tidak mungkin mencuri mayat Guru-nya; dan kalau musuh-musuh Tuhan 269243g telah mengambil mayat-Nya, tentulah mereka akan mengeluarkannya kembali tatkala berita tentang Kebangkitan mulai tersebar. Kubur kosong merupakan saksi bisu yang yang tidak dapat disangkal tentang kenyataan Yesus Bangkit dari kubur-Nya.

    Kalau kita semua megerti penjelasan dan pembelaan yang sederhana ini tentang Kebenaran akan Kebangkitan Yesus, mengapa kita masih belum mau percaya? Yesus bangkit menciptakan harapan baru bagi para pengikutnya, tadinya suam-suam kukuh sekarang berkobar lagi. Tadinya sudah hampir putus asa, sekarang tidak lagi.

    III. Kemenangan Orang Percaya, buktinya: Yesus Bangkit dan Menampakkan Diri-Nya

    Seperti biasanya, diantara murid-murid Yesus yang paling aktif, agresif dan penuh inisiatif adalah Simon Petrus. Kadang kala Yesus meras jengkel terhadap tinmgkah lakunya ini. Pada saat Yesus mau kembali Ke Yerusalem, Petrus yang menarik tangan Yesus; waktu itu Yesus memarahi dia. Sewaktu perajurit itu menangkap Yesus di Taman Getsemani, Petrus mengeluarkan pedang dan dipotong sehelai telinga perajurit itu. Nah, tatklala Petrus mendengar Yesus sudah bangkit (lihat ay. 12), ia langsung bangun dan pergi ke kubur. Kalau kemarin sewaktu di Taman Getsemani tatkala Yesus berdoa Petrus dan kawan-kawan selalau tertidur, seakan-akan semangatnya sudah pudar, tetapi pagi ini nampaknya ada perubahan. Benar, Petrus tidak menemukan mayat Yesus, ia hanya melihat kain Kafan saja. Bagi orang banyak pada waktu itu, peristiwa Kebangkitan ini merupaka cerita "omong kosong"( ay.11), tetapi kesaksian para murid ini tentunya akan membuktikan bahwa Kebangkitan Yesus bukan Omong Kosong.

    Ditambah lagi Yesus menampakkan diri buat orang banyak. Ada tujuh belas kali Tuhan Yesus menampakkan diri sesudah kebangkitannya sampai setelah IA naik ke surga.

    Penampakan yang pertama : Ditujukan kepada Maria Magdalena, mereka piker dia Tukang Kebun (Lihat Yohanes 20:11-17 dan Markus 16:9-11).

    Penampakan yang kedua: Ditujukan kepada para wanita lain yang kembali ke kubur ( Matius 28:9-10)

    Penampakan yang ke tiga: Yesus memperlihatkan Diri-Nya kepada Petrus pada suatu sore (Lihat Lukas 24:23 dan 1 Korintus 15:5)

    Penampakan yang ke empat: Ditujukan kepada mereka yang berjalan menuju ke Emaus (Markus 16:12-13, Lukas 24:13-35)

    Penampakan yang ke lima: Ditujukan kepada ke sepuluh murid Tuhan Yesus, waktu itu Tomas tidak ada di tempat, sehingga sebelum Tomas melihat sendiri ia tidak percaya. (Lukas 24:36-43 dan Yohanes 20: 19-23)

    Pernampakan ke enam: Kembali ditujukan kepada murid-murid-Nya, dan saat itu Tomas sudah hadir (Yohanes 20:26-29)

    Penampakan ke tujuh: Penampakan ini ditujukan kepada tujuh orang murid di Laut Galilea, waktu itu terjadilah penangkapan ikan yang penuh mujijat (Lihat Yohanes 21:1-23).

    Penampakan ke delapan : Yesus menampakan diri secara umum, kepada lima ratus orang dan diikuti oleh Paulus (1 korintus 15:6)

    Penampakan ke sembilan : Ditujukan kepada Yakobus saudara Yesus sendiri (1 korintus 15:7). Ada orang mengatakan bahwa Yakobus itu tidak percaya sebelum Kebangkitan Tuhan Yesus (Yohanes 7:3-5), tetapi setelah Yesus Bangkit, ia terhitung sebagai orang percaya.

    Penampakan ke sepuluh : Kembali Yesus memperlihatkan Diri-Nya kepada ke sebelas murid-murid-Nya di bukit Galilea, ada perintah yang Agung yang sering disebut Amanat Agung untuk memberitakan Injil disampaikan kepada murid-murid pada saat ini (Matius 28:16-28)

    Penampakan ke sebelas: Tatkala Yesus naik ke surga. Dari Bukit Zaitun IA Menampakkan Diri-Nya (Lukas 24:44-53 dan Kisah Para Rasul 1:3-9). Penampakan ini adalah penampakan yang terakhir sebelum Yesus naik ke Surga.

    Penampakan ke dua belas: Yesus menampakkan Diri-Nya kepada Stefanus yang mati Martir (lihat Kisah Para Rasul 7:55-56). Selanmjutnya penampakan yang berbeda sifatnya untuk menguatkan fakta Kebangkitan Yesus.

    Penampakan ke tiga belas: Penampakan ini ditujukan kepada rasul Paulus, waktu itu masih bernama Saulus. Di perjalanan ke Damsyik, sesungguhnya Saulus mempunyai rencana jahat terhadap orang-orang percaya, namun Yesus memperlihatkan Diri-Nya kepada Saulus, ia tersungkur dan bertobat/ (Kisah Para Rasul 9:3-6;22:6-11;26:13-18).

    Penampakan ke empat belas: Sekali lagi penampakan itu ditujukan kembali kepada rasul Paulus ketika di Arabia (Kisah Para Rasul 20"24; 26:17).

    Penampakan ke lima belas: Ditujukan lagi kepada Paulus tatkala di Bait Allah, Paulus diingatkan oleh Yesus bahwa penganiayaan terhadap orang-orang percaya sudah segera tiba (Kisah Para Rasul 22"17-21).

    Penampakan ke enam belas: Kepada Rasul Paulus, waktu itu ia berada di dalam penjara di Kaisaria, dikatakan bahwa Tuhan datang berdiri disisinya dan memberitahu Paulus bahwa ia harus menyaksikan Injil di kota Roma ( Kisah Para Rasul 23:11)

    Penampakan ke tujuh belas: Waktu itu ditujukan kepada rasul Yohanes, waktu itu ia berada di pulau Patmos ( Wahyu 1:12-20).

    Inilah fakta, bahwa "Kubur Yesus Yang Kosong, Bukan Omong Kosong". Berdasarkan Kebenaran inilah, maka kita juga berani mempertarukan seluruih hidup kita kepada Tuhan. Sebagai orang percaya kita menyembah kepada Allah yang hidup, bukan yang mati tetap di Kubur. Masih ragukah anda akan kebenaran ini? Mari, tambahkan dam bangkitkan kembali semangat yang sudah letih dan lelah, kobarkan semangat Kebangkitan ini.

    Apa yang bisa kita pelajari? Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Ia hidup, dan kita sebagai Umat-Nya bersandar sepenuhnya kepada-Nya yang Hidup pasti tidak sia-sia. Ini bukan "Omong Kosong", Yesus yang telah mati di kayu salib demi kita, maka kita harus hidup bagi Dia yang sudah bangkit. Ini komitmen penting dalam seluruih aspek hidup kita, dan ingat komitmen kita seharusnya bukan komitmen yang omong kosong. Banyak orang yang senantiasa hidup dengan Komitmen yang omong kosong, padahal ngakunya itu merupakan prinsip hidupnya. Prinsip hidup yang omong kosong adalah Hari ini kita katakan "tidak" tetapi keesokan harinya terlalu gampang berubah menjadi "ya". Komitmen yang bukan omong Kosong yakni, hari ini kita katakan "ya" besok dan selama-lamanya tetap katakan "ya". Kiranya Tuhan memberikan pertolongan kepada kita untuk senantiasa hidup dalam Komitmen yang benar, baik dalam pelayanan, bertutur kata, memegang prinsip dan sebagainya. Bukan Omong Kosong, Semoga!

    Kenaikan Yesus Kristus

    Penulis : Mangapul Sagala

    Kelihatannya, kisah kenaikan Yesus Kristus tidak dilihat begitu penting sebagaimana kisah kematian dan kebangkitanNya. Hal itu bisa dilihat dari sikap umat untuk menyikapinya. Kelihatannya, sepi saja. Syukur di berbagai negara, seperti Indonesia hal itu masih diperingati dan dijadikan hari libur nasional. Lain halnya di Singapura. Hari kenaikan tersebut bukan hari libur. Itulah sebabnya, kantor-kantor dibuka seperti biasanya. Sebagian theolog memang melihat hari kenaikan tersebut tidak begitu penting. Bahkan ada yang meragukan dan menolak peristiwa tsb dan menganggapnya hanya sebagai karangan dan dongeng dari Gereja mula-mula. Apa alasan mereka? Tentu ada, dan mungkin banyak; antara lain, mereka mengatakan bahwa hal itu tidak ditemukan secara jelas tertulis dalam keempat Injil.

    Lalu apa dasarnya menerima dan mempercayai hari kenaikan tersebut? Sebenarnya, jika mau mempercayainya, ada satu bagian Alkitab yang sangat jelas menuliskan kisah tsb. Dokter Lukas dengan sangat jelas dan cukup detail menuliskan kisah tersebut pada volume kedua dari tulisannya, yaitu pada Kisah Para Rasul 1:6-11.

    Berdasarkan kisah tersebut di atas, kita dapat belajar beberapa hal penting.

    Pertama, kenaikan Yesus tsb menegaskan akan fakta kebangkitanNya.

    Dengan sangat jelas dokter Lukas menuliskan bahwa kenaikan Tuhan Yesus tersebut merupakan satu kesatuan dengan kematian dan kebangkitanNya. Hal itulah yang ditulisnya, menjadi latar belakang dari kisah kenaikan tersebut. Menarik sekali bagaimana dokter Lukas memulai kitab Kisah Para Rasul tsb. Dia menulis: “Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia terangkat (1:1-2). Jadi, dokter Lukas tidak hanya menulis pende ritaan, kematian dan kebangkitan Yesus, tetapi SAMPAI PADA HARI IA TERANGKAT. Dalam ayat berikutnya kita membaca bagaimana kisah kebangkitan Yesus merupakan satu fakta sejarah, dan bukan ilusi semata. Hal itu dengan jelas dinyatakan dengan pembuktian Yesus sendiri bahwa Dia hidup. Hal itu juga menjadi sorotan dokter Lukas, seolah-olah dia sedang mengantisipasi adanya orang-orang yang meragukan dan menolak kebangkitan tsb. “Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia MEMBUKTIKAN, bahwa IA HIDUP. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah. (3). Penampakan diri dalam waktu yang cukup lama, yaitu selama 40 hari dan kepada orang yang berbeda-beda, tentu jauh dari tuduhan sementara orang, bahwa itu ad alah halusinasi. Dengan demikian, kita melihat bahwa kenaikan Yesus tersebut menjadi PEMBUKTIAN selanjutnya bahwa Yesus yang mati itu, benar-benar telah bangkit; karena hanya orang yang sudah bangkitlah dapat naik ke surga. Tanpa kebangkitan tidak akan pernah ada kenaikan. Jadi, Yesus bukan saja bangkit dari kubur, sesuatu yang belum dimiliki oleh pendiri-pendiri agama lain. Tapi lebih dari situ, Dia juga telah naik ke surga. Dia naik melampaui segala sesuatu. Dengan demikian, apa yang diberitakanNya selama 40 hari secara terus menerus, yaitu tentang KERAJAAN ALLAH, bukanlah sebuah ilusi atau impian semata. Dalam kenyataannya, apa yang Dia khotbah tersebut, sebentar lagi, Dia akan dan sedang menuju ke sana.

    Kedua, kisah kenaikan tsb menunjukkan betapa pentingnya tugas memberitakan Injil.

    Hal itu terlihat dengan sangat jelas di dalam cara dan metode penulisan Lukas tsb. Di dalam ayat 9 kita membaca: “Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutupNya dari pandangan mereka”. Jadi, kita membaca bahwa Tuhan Yesus terangkat “sesudah Ia mengatakan demikian”. Mengatakan apa? Jawabnya ada pada ayat 8: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi SAKSIKU di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Dengan perkataan lain, pesan atau perintah terakhir yang diberikan oleh Tuhan Yesus SEBELUM kenaikanNya ke surga adalah agar menjadi saksiNya. Hal itu dimulai dari tempat di mana mereka berada (Yerusalem), meluas ke seluruh propinsi ( Judea) hingga seluruh bumi. Penting untuk diamati bahwa kota Samaria, yang biasanya dihindari oleh orang-orang Yahudi juga disebut. Dengan demikian, tidak ada daerah atau kota di mana Injil tidak diberitakan. Jadi, dari hal di atas kita melihat bahwa penginjilan bukan sesuatu yang boleh ada atau tidak. Tugas memberitakan Injil diberikan oleh Yesus sebagai sebuah KEHARUSAN. Hal itu juga yang pernah ditegaskan oleh salah seorang rasul besar bernama Paulus. “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor.9:16b).

    Kiranya kenyataan tsb cukup bagi kita untuk menyingkirkan segala teori dan usaha untuk mengurangi semangat kita untuk memberitakan Injil. Kiranya perintah Tuhan Yesus tsb yang diberikan PERSIS SEBELUM kenaikanNya ke surga kita nilai dan sikapi SEMAKIN SERIUS. Dengan demikian, dengan segala doa, dana dan daya, kita kerahkan untuk meresponi perintah tsb. Jika kita amati pasal-pasal berikutnya, memang kita melihat bagaimana rasul-rasul dan orang percaya sangat serius melakukan tugas penginjilan tsb. Karena itulah kita dapat membaca statistik Lukas mengenai pertumbuhan Gereja yang sedemikian pesat. Lukas memulai dengan 120 orang (Kis.1:15), selanjutnya sebagai hasil KKR (kebaktian kebanguna rohani) yang dipimpin rasul Petrus, jemaat menjadi 3000 (tiga ri bu) jiwa (2:41). Jumlah tsb meningkat lagi secara tajam menjadi “kira-kira 5000 (lima ribu) orang LAKI-LAKI” (4:4). Jadi, jumlah besar tsb, belum termasuk perempuan. Pertumbuhan jemaat terus terjadi. Karena itu, rupanya, dokter Lukas kewalahan untuk memberikan statistik detail. Itulah sebabnya, jumlah angka yang jelas, terakhir kita temukan pada Kisah 4 tsb, di mana selanjutnya dokter Lukas menggunakan istilah “jumlah murid makin bertambah” (6:1)

    Selanjutnya, dari kisah tersebut di atas, kita perlu mewaspadai dua hal. Pertama, kita membaca satu PEERTANYAAN ANEH yang diberikan kepada Yesus. "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" (6). Pertanyaan tersebut diberikan bukan pada awal pelayanan Yesus, tetapi justru di akhir, yaitu pada saat-saat terakhir di mana kenaikan Yesus tinggal dalam hitungan detik. Apakah yang ada dalam pikiran orang banyak ketika itu? Soal pemulihan KERAJAAN ISRAEL! Bukan soal KERAJAAN ALLAH, sebagaimana hal itu terus menerus ditegaskan dan ditekankan Yesus selama sisa 40 (empat puluh) hari Dia tinggal di dunia. Sungguh menyedihkan. Dengan perkataan lain, orang yang berkumpul di situ hingga detik terakhir mereka bersama Yesus masih terus mener us berpusat kepada hal-hal duniawi, bukan kepada hal-hal surgawi. Itulah sebabnya kemudian Tuhan Yesus menegur mereka dan untuk saat terakhir kembali mengarahkan hati dan pikiran mereka kepada KERAJAAN ALLAH, yaitu untuk memberitakan Injil (8).

    Hal tersebut juga menjadi pelajaran dan koreksi bagi kita agar kita memeriksa diri kita masing-masing. Setelah kita mengenal Tuhan Yesus dan mendengar segala pengajaranNya, sejauh mana hati dan pikiran kita semakin menyatu dengan visi dan ambisi ilahi. Sejauh mana hati kita bersemangat serta berkobar-kobar dalam hal PENGGENAPAN KERAJAAN ALLAH tsb. Apakah doa, dana dan diri kita sudah semakin terpusat untuk hal tsb? Jika ternyata, kita masih memiliki ambisi2 duniawi bahkan semakin dikuasai oleh ambisi-ambisi demikian, biarlah kita dengan segera membuang dan meninggalkan itu dan dengan segala kerendahan hati memohon rahmatNya agar RohNya bekerja menguasai diri kita untuk hidup menjadi saksiNya (8).

    Hal kedua yang perlu kita waspadai adalah SIKAP ANEH yang ditunjukkan oleh umat di ayat 10. “Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka”. Apa maksud ayat tsb? Di sana firman Tuhan mencatat bahwa mereka yang berkumpul ketika itu “sedang menatap ke langit” (kai hos atenizontes esan eis ton ouranon).

    Barangkali ada yang bertanya: “Apa salahnya menatap ke langit? Bukankah itu mencerminkan kekaguman mereka kepada Yesus, Tuhan mereka? Bukankah itu juga mencerminkan kerinduan mereka kepada Yesus, di mana mereka ingin terus bersama-sama dengan Tuhannya? Jika itu yang menjadi pertanyaan kita, maka ternyata hal itu adalah sala2h. Salah bukan menurut saya, tetapi menurut Tuhan. Setidaknya hal itu kita lihat dengan jelas dari kisah tsb. Kita melihat dii sana bahwa Tuhan ‘terpaksa’ harus mengutus “dua orang yang berpakai n putih” untuk menegur mereka dan berkata: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga." (11).

    Sebenarnya, saya sependapat bahwa tidak salah mengagumi dan merindukan kebersamaan dengan Yesus. Saya justru melihat bahwa hal itu harus kita lakukan dan kita tumbuh kembangkan. Kita jangan menjadi orang yang cuek dan tidak perduli kepada Yesus yang telah sedemikian baik dan berbuat segalanya bagi kita. Jangan juga kita biarkan hati ki369dingin dan membeku sehingga tidak bergairah dan tidak merindukan Yesus. Saya melihat bahwa yang menjadi masalah adalah ketika mereka terus menerus mengagumi dan merindukan Yesus dengan “menatap ke langit”, sedemikian rupa, sehingga mereka melupakan tugas yang telah diberikan kepada mereka, yaitu untuk pergi segera. Pergi bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk bersaksi bagi Dia, yang mereka kagumi tsb. Bersaksi untuk memberitakan KERAJAAN ALLAH di Yerusalem, seluruh Judea dan Samaria... sampai ke ujung bumi. Itulah sebabnya kedua orang utusan tsb harus turun dan ‘mengusir’ mereka dari bukit kemuliaan, yaitu tempat Yesus naik ke surga tsb.

    Jadi, ada dua hal yang harus kita waspadai. Pertama, agar kita jangan hidup ‘terlalu’ duniawi, sehingga kita hanya memikirkan kerajaan duniawi, yaitu pemulihan ‘kerajaan-kerajaan’ kita. Terus berpikir dan bertanya tentang pekerjaan kita, business kita, sehingga kita lupa akan Kerajaan Allah. Kedua, agar kita jangan hidup ‘terlalu’ rohani, dengan terus menerus memandang ke langit. Terus menerus beribadah, dari satu tempat ibadah ke tempat ibadah yang lain; sedemikian rupa, sehingga kita melupakan tugas kita untuk bersaksi bagi dunia, untuk terlibat di dalam dunia, melakukan segala sesuatu secara kongkrit, demi pemulihan dunia ini.-

    Selamat memperingati dan merayakan hari kenaikan Kristus!

    Kepribadian dan Keilahian Roh Kudus

    Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th
     
    Khotbah Ibadah Raya GBAP El Shaddai Palangka Raya
    Minggu, 16 Desember 2012

    “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (Yohanes 14:16-17)

    PENDAHULUAN

    Roh Kudus adalah Allah dan Pribadi ketiga dari Trinitas. Ia setara dengan Allah Bapa dan Allah Anak. Karena itu sesungguhnya bagi Dia pun selayaknya diberikan penghormatan, penghargaan dan kemuliaan yang sama. Kita tidak seharusnya memperlakukan Dia sebagai Pribadi yang lebih rendah. Kita seharusnya mengenal Dia sebagaimana kita mengenal kedua pribadi Allah yang lain (Kis 5:3,4).


    Banyak orang Kristen beranggapan bahwa Roh Kudus itu hanyalah kekuatan tak berwujud atau suatu pengaruh dan bukan suatu pribadi. Mereka memerlukan Roh Kudus sepertinya Roh Kudus itu hanya semacam kekuatan listrik atau bentuk kekuatan yang lain, sehingga mereka dapat mematikan dan menyalakannya sesuka mereka. Penyangkalan atas kepribadian Roh Kudus bukanlah hal yang baru. Pada abad ke keempat, Arius mengajarkan bahwa Roh Kudus hanyalah energi Allah yang dipancarkan ke dalam dunia. Socinus, pada abad keenam belas mengajarkan pandangan yang hampir sama dengan Arius. Socinus mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah energi yang keluar dari Allah. Saat ini, kaum Unitarianisme menyangkal kepribadian Roh Kudus. Konsep ini salah sama sekali. Roh Kudus adalah Pribadi. Ia adalah Satu Pribadi yang memiliki otoritas (wibawa) dan Kuasa yang besar (possesses great), tapi Ia sendiri jauh lebih besar dari kekuatan yang dimilikiNya. Ia jelas layak menerima penghargaan dan hormat yang kita berikan pada Allah Yang Mahakuasa.

    BUKTI-BUKTI ALKITAB BAHWA ROH KUDUS ADALAH PRIBADI

    Alkitab menjelaskan bahwa Roh Kudus merupakan satu keberadaan yang berpribadi, bukan suatu kekuatan yang tidak berpribadi (impersonal). Sementara Keilahian Kristus terus menjadi perdebatan, maka pengakuan akan kepribadian Roh Kudus juga terus menjadi perdebatan. Berikut ini argumentasi dan bukti-bukti Alkitab yang membela bahwa Roh Kudus adalah suatu Pribadi.

    Pertama, bukti berdasarkan pertimbangan grammatikal. Kata benda dan kata kepemilikan dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru membedakan jenis kelamin yang disebut gender yang dapat menunjukkan sifat maskulin, feminim, atau netral. Kata Yunani untuk “roh” adalah “pneuma” pada umumnya bergender netral. Namun, ketika Yesus menjelaskan pelayanan Roh Kudus, maka Ia memakai kata “Pneuma” dengan kata ganti Yunani bentuk maskulin “ekeinos”, seperti yang tercatat dalam Yohanes 16:13, “Tetapi apabila Ia (ekeino) datang, yaitu Roh (Pneuma) Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (1 Yohanes 16:13). Disini Yohanes sengaja menggambarkan Roh Kudus sebagai satu pribadi bukan suatu kekuatan besar (baca juga Yohanes 14:17; 15:26). Setiap bukti Alkitabiah tersebut membawa pada kesimpulan bahwa Roh Kudus, meskipun keberadaan-Nya adalah roh, sesungguhnya adalah Pribadi yang sama seperti Bapa, atau anak, atau kita.

    Kedua, bukti berdasarkan pertimbangan bahwa Roh Kudus memiliki dan menunjukkan sifat-sifat dasar dari suatu pribadi. Sesuatu dikatakan berpribadi apabila ia memiliki dan menunjukkan sifat-sifat dasar pribadi seperti kecerdasan, perasaan, dan kehendak. Karena pribadi yang sesungguhnya memiliki kecerdasan, perasaan, dan kehendak, dan oleh karena Roh Kudus memiliki semua sifat ini, maka pasti Dia adalah suatu Pribadi. Alkitab menyatakan bahwa: (1) Roh Kudus memiliki kecerdasan. Dia mengetahui dan menyelidiki segala sesuatu yang dari Allah (1 Korintis 2:10-11); Dia memiliki pikiran (Roma 8:27); dan Dia dapat mengajar manusia (1 Kor. 2:13). (2) Dia menyatakan perasaan. Dia dapat berdukacita karena segala tindakan orang-orang percaya yang penuh dosa (Efesus 4:30 --- suatu pengaruh tidak dapat merasa berdukacita). (3) Dia memiliki kehendak. Dia menggunakan kehendak untuk membagikan karunia-karunia kepada tubuh Kristus (1 Korintus 12:11). Dia juga memimpin seluruh akitivitas orang Kristen (Kisah Para Rasul 16:6-11).

    Ketiga, bukti berdasarkan pertimbangan bahwa Roh Kudus menunjukkan dan melakukan tindakan-tindakan dari suatu pribadi. Perhatikanlah pernyataan-pernyataan tentang kepribadian Roh Kudus di bawah ini : Ia dapat menghibur (Kisah Para Rasul 9:31), Ia dapat berbicara (Kisah Para Rasul 13:2), Ia dapat berdoa (Roma 8:26), Ia dapat mengajar (Yohanes 14:26), Ia dapat mengerjakan seperti yang dikehendakiNya (1 Korintus 12:11), Ia dapat melarang (Kisah Para Rasul 16:6), Ia dapat melakukan mujizat-mujizat (Kisah Para Rasul 19:6). Ia memimpin kita ke dalam kebenaran dengan cara mendengar, berbicara, dan menunjukkan (Yohanes 16:13). Dia meyakinkan akan dosa (Yohanes 16:8).

    Keempat, bukti berdasarkan pertimbangan bahwa Roh Kudus mengalami perlakukan suatu pribadi. Suatu kuasa atau pengaruh tidak sanggup untuk merasakan hal-hal yang Roh Kudus dapat rasakan. Contohnya, kita diperingatkan untuk tidak "mendukacitakan" Roh Kudus (Efesus 4:30). Ananias dan Safira "mendustai Roh Kudus" (Kisah Para Rasul 5:3,4). Suatu kuasa atau kekuatan tidak dapat didukacitakan. Kita tidak dapat mendukacitakan atau menyakiti kekuatan daya listrik misalnya, hal itu tidak mempengaruhi jika menipu ataupun mencobainya. Suatu wujud kuasa atau kekuatan bukan merupakan satu pribadi yang dapat merasakan hal-hal seperti itu. Tetapi seseorang atau satu pribadi dapat didukacitakan, disakiti, didustai dan dicobai. Berikut ini perlakukan yang dapat dilakukan manusia kepada Roh Kudus yang menujukkan bahwa Roh Kudus adalah suatu pribadi: Ia adalah Oknum yang harus ditaati (Kisah Para Rasul 10:19-21); Dia dapat dibohongi (Kisah Para Rasul 5:3); Dia dapat ditentang (Kisah Para Rasul 7:51); Dia dapat dibuat berdukacita (Efesus. 4:30); Dia dapat dihujat (Matis 12:31); Dia dapat dihina (Ibrani 10:29). Untuk berpikir bahwa suatu pengaruh dapat bertindak dan bereaksi seperti hal-hal di atas adalah tidak benar.

    Kelima, bukti berdasarkan pertimbangan bahwa Roh Kudus berhubungan suatu pribadi dengan pribadi-pribadi lainnya. Kemampuan Roh Kudus dalam berelasi dengan pribadi-pribadi lainnya menujukkan bahwa Ia adalah suatu Pribadi. (1) RelasiNya dengan para rasul. Roh Kudus berhubungan dengan para rasul dalam suatu cara yang menunjukkan kepribadian-Nya sendiri yang tidak sama (Kisah Para Rasul 15:28). Dia adalah suatu Pribadi sama seperti mereka adalah pribadi-pribadi juga; nanmun demikian, Dia adalah pribadi yang tidak sama dan dapat dikenali. (2) RelasiNya dengan Yesus. Roh Kudus berhubungan dengan Tuhan Yesus dalam cara sedemikian rupa sehingga jika Tuhan Yesus memiliki kepribadian, maka seseorang harus berkesimpulan bahwa Roh Kudus memiliki kepribadian juga. Namun, Dia tidak sama dengan Kritus (Yohanes 16:14). (3) RelasiNya dengan Pribadi-Pribadi Trinitas lainnya. Roh Kudus berhubungan dengan Pribadi-Pribadi lainnya dalam Trinitas sebagai Pribadi yang sama derajatnya (Matius 28:19; 2 Korintus 13:14).

    BUKT-BUKTI ALKITAB BAHWA ROH KUDUS ADALAH ALLAH

    Pengakuan akan keilahian Roh Kudus adalah pernyataan Alkitab. Menyangkali Keilahian Roh Kudus berarti penyangkalan terhadap doktrin Trinitas. Berikut ini argumentasi dan bukti-bukti Alkitabiah yang membela Keilahian Roh Kudus.

    Pertama, bukti berdasarkan penyataan Alakitab bahwa sebutan Roh Kudus dan Allah atau Tuhan dapat saling dipertukarkan (interchangeable). (1) Apa yang disampaikan Paulus dalam Kisah Para Rasul 28:25-27 itu ia kutip dari Yesaya 6:8-10. Paulus berkata bahwa “firman itu disampaikan oleh Roh Kudus” dengan perantaraan nabi Yesaya, tetapi Yesaya 6:8-10 menyebutkan bahwa itu adalah “suara Tuhan” kepadaNya. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah Tuhan sendiri! (2) Pernyataan dalam Ibrani 3:7-11 jika dibandingkan dengan Mazmur 95:7b-11 dan Keluaran 17:1-7, maka kita menemukan bahwa Roh Kudus adalah TUHAN. Kata-kata dalam Ibrani 3:7-11 merupakan kata-kata Roh Kudus, maka kata-kata “mencobai Aku” berarti “mencobai Roh Kudus”. Jika kita melihat dalam Mazmur 95:7b-11, yang hampir-hampir identik dengan Ibrani 3:7-11 tadi, maka bisa kita dapatkan dari Mazmur 95:8 bahwa itu adalah peristiwa yang terjadi di Masa dan Meriba (Keluaran 17:1-7). Dalam Keluaran 17:7 dikatakan, "Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?". Jadi disini dipakai istilah “mencobai TUHAN”, padahal dalam Ibrani 3:7-11 dikatakan bahwa mereka “mencobai Roh Kudus”. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus itu adalah TUHAN! (3) Selanjutnya, Ibrani 10:16-17 merupakan kutipan sebagian dari Yeremia 31:33,34. Dalam Yeremia 31 disebutkan bahwa kata-kata itu diucapkan oleh TUHAN. Perhatikan kata-kata “firman TUHAN” dalam Yeremia 31:31,32c,34b. tetapi dalam Ibrani 10:15-17 disebutkan bahwa itu merupakan “kesaksian / firman Roh Kudus” (Ibrani 10:15b,16b). Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah TUHAN sendiri! (4) Hal yang sama dapat kita lihat dalam Kisah Para Rasul 5:3-9, bahwa Ananias yang “mendustai Roh Kudus" (ayat 3) sama dengan “mendustai Allah” (ayat 4) dan “mencobai Roh Tuhan” (ayat 9). (5) Paulus menyatakan bahwa tubuh orang percaya adalah “bait Allah” dan bahwa “Roh Allah diam di dalam kamu’ (1 Korintus 3:16. Jika tubuh orang percaya adalah bait Allah, maka artinya Allahlah yang tinggal di dalam tubuh kita, tetapi Paulus mengatakan Roh Allah atau Roh Kuduslah yang tinggal di dalam orang percaya. Hal ini menunjukkan bahwa Roh Kudus itu adalah Allah (bandingkan 1 Korintus 6:19).

    Kedua, bukti berdasarkan pertimbangan bahwa Roh Kudus memiliki dan menunjukkan sifat-sifat KeilahianNya. Sebagaimana telah disebutkan diatas, Roh Kudus memiliki sifat-sifat yang menunjukkan bahwa dia adalah Pribadi yang sesungguhnya. Tetapi Roh Kudus juga memiliki sifat-sifat yang hanya dimiliki Allah, yang karenanya menunjukkan bahwa Dia adalah Allah. Sifat-sifat itu adalah: Kekal (Ibrani 9:14), Mahatahu (Yesaya 40:13; 1 Korintus 2:12), Mahahadir (Mazmur 139:7), dan Mahakuasa (Ayub 33:4; Mazmur 104:30; Matius 12:28).

    Ketiga, bukti berdasarkan pertimbangan bahwa Roh Kudus menunjukkan dan melakukan tindakan-tindakan yang hanya dilakukan oleh Allah. Perhatikanlah perkerjaan dan tindakan yang dilakukan oleh Roh Kudus berikut ini: (1) Dialah penyebab terjadinya Kelahiran Perawan (Lukas 1:35). (2) Dialah pelaku yang memberikan ilham kepada para Penulis Kitab Suci (2 Petrus 1:21). (3) Dia terlibat dalam penciptaan dunia (Kejadian 1:2). Di sini sama seperti dalam penggunaan kata “Roh Allah” lainnya di dalam Perjanjian Lama, kita mungkin bertanya apakah ayat-ayat tersebut secara jelas menunjuk kepada Pribadi ketiga dari Trinitas ataukah kepada Allah sebagai Roh (sebab Dia adalah Roh). Berdasarkan ayat 2, tidak diragukan bahwa ini menunjuk kepada Roh Kudus.

    Keempat, bukti berdasarkan pertimbangan persatuan Roh Kudus dengan Pribadi-pribadi Lainnya dalam Keallahan Membuktikan Bahwa Dia Adalah Allah. (1) Roh Kudus sebagai Yahweh. Perjanjian Baru mengenalkan Roh Kudus sebagai Yahweh dalam Perjanjian Lama, terutama sekali pada kutipan dari suatu bagian Perjanjian Lama yang menyatakan Allah berfirman dan yang sebenarnya dimaksudkan dalam kutipan itu adalah Roh Kudus (bandingkan: Kisah Para Rasul 28:25 dengan Yesaya 1-13 dan Ibrani 10:15-17 dengan Yeremia 31:31-34). Hal tersebut merupakan bukti yang kuat bahwa para Penulis Perjanjian Baru menganggap Roh Kudus adalah Allah. (2) Roh Kudus dan Allah. Menghujat dan berdusta kepada Roh Kudus adalah sama dengan melakukan hal-hal tersebut kepada Allah (Mat. 12:31-32; Kis. 5:3-4). (4) Kedudukan-Nya setara. Roh Kudus selalu disejajarkan kedudukan-Nya dengan Bapa dan Anak (Matius 28:19; 2 Korintus 13:14). Secara khusus, frase Yunani yang tertulis di Matius 28:19 yaitu “baptizontes autous eis to onoma tou patros kai tou uiou kai tou agiou pneumatos” yang diterjemahkan menjadi “baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus”, dimana hal yang menarik adalah bahwa sekalipun di sini disebutkan tiga buah nama yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus, tetapi kata kata Yunani “eis to onomo” yang diterjemahkan “dalam nama” adalah nominatif singular (bentuk tunggal, bukan bentuk jamak)! Dalam bahasa Inggris diterjemahkan name (bentuk tunggal), bukan names (bentuk jamak). Karena itu ayat ini bukan hanya menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu setara, tetapi juga menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu adalah satu atau esa. Kata “esa” yang digunakan dalam Ulangan 6:4 dalam bahasa Ibraninya adalah “Ekhad” yang menunjuk kepada “satu kesatuan yang mengandung makna kejamakan; dan bukan satu yang mutlak”. Jika yang dimaksud “satu-satunya; atau satu yang mutlak” maka dalam bahasa Ibrani yang digunakan adalah “yakhid”.

    Kelima, bukti berdasarkan pertimbangan bahwa sebutan-sebutan yang dikenakan pada Roh Kudus menunjukkan bahwa Ia adalah Allah . Nama-nama ilahi dari Roh Kudus menyatakan Keallahan-Nya. Enam belas kali Roh Kudus (Pneuma Agion) disebutkan dengan nama dua pribadi lainnya dari Trinitas, yaitu “Roh Yesus/Pneuma Christou” (Kisah Para Rasul 16:7) dan “Roh Allah/Pneuma Theou” (1 Korintus 6:11) . Selanjutnya, Yesus disebut “Pengantara” atau “Parakletos” (1 Yohanes 2:1), dan Roh Kudus disebut “Penolong” atau “Parakletos” yang lain (Yohanes 14:16). Janji Tuhan Yesus untuk mengirin seorang Penolong (Parakletos) “yang lain” disini berarti seorang yang lain dari Pribadi Trinitas. Kata Yunani yang diterjemahkan denhan frase “yang lain” adalah “allos”. Ada dua kata Yunani yang berarti “yang lain”, yaitu “allos” dan “heteros”. Tetapi kedua kata ini ada bedanya. Kata “allos” menunjuk pada “yang lain” dari jenis yang sama; Sedangkan “heteros” menunjuk pada “yang lain” dari jenis yang berbeda. Sebagai contoh, saya mempunyai satu botol minuman sprite. Jika saya mengingin¬kan satu botol sprite “yang lain”, yang sama dengan yang ada pada saya ini, maka saya akan menggunakan kata “allos”. Seandainya saya menghendaki minuman “yang lain”, misalnya fanta, maka saya harus menggunakan “heteros”, bukan “allos”. Jadi pada saat Tuhan Yesus menyebut Roh Kudus sebagai “Penolong yang lain”, ini menunjukkan bahwa Roh Kudus mempunyai jenis atau kualitas yang sama dengan Yesus.

    PENUTUP

    Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, bersama dengan dengan Millard J. Erickson kita dapat menyimpulkan bahwa pengertian yang tepat mengenai siapa dan apa Roh Kudus itu membawa implikasi-implikasi tertentu, yaitu:

    Pertama, Roh Kudus itu Pribadi bukan kekuatan atau energi. Karena itu, kita dapat bersekutu denganNya, kita dapat dan harus memanjatkan doa kepadaNya.

    Kedua, Roh Kudus yang sepenuhnya bersifat Ilahi harus diberi kehormatan dan ketaatan yang sama yang kita berikan kepada Bapa dan Anak, Dia layak disembah. Roh Kudus jangan dipandang sebagai hakikat yang lebih rendah dari Bapa dan Anak, meskipun perananNya kadang-kadang berbeda dari Bapa dan Anak.

    Ketiga, Roh Kudus itu satu dengan Bapa dan Anak. KaryaNya merupakan ungkapan rencana KetigaNya. Diantara Pribadi dan kegiatan Mereka tidak terdapat pertentangan dan ketegangan.

    Keempat, Allah bukanlah Allah yang jauh. Di dalam Roh Kudus, Allah Tritunggal menghampiri kita begitu dekat bahkan sampai masuk ke dalam masing-masing orang percaya. Melalui Roh Kudus, Dia benar-benar menjadi “Imanuel” yaitu “Allah menyertai kita”.
     
    Referensi:
    Arrington, French L., 2004. Christian Doctrine A Pentacostal Perspective, Jilid 1. Terjemahan, Penerbit Departemen Media BPS GBI: Jakarta
    Berkhof, Louis., 2011. Systematic Theology. Jilid 1, Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta.
    Cornish, Rick., 2007. Five Minute Theologian. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya: Bandung.
    Drewes, B.F, Wilfrid Haubech & Heinrich Vin Siebenthal., 2008. Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru. Jilid 1 & 2. Penerbit BPK Gunung Mulia: Jakarta.
    Enns, Paul., 2004.The Moody Handbook of Theology, jilid 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang
    Erickson J. Millard., 2003. Christian theology. Jilid 2 & 3. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.
    Grudem, Wayne., 1994. Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Zodervan Publising House: Grand Rapids, Michigan.
    Gutrie, Donald., 1991 New Testamant Theology, Jilid 1, diterjemahkan, Penerbit BPK Gunung Mulia: Jakarta. Penerbit Kalam Hidup: Bandung.
    Milne, Bruce., 1993. Knowing The Truth: A Handbook of Christian Belief. Terjemahan (1993). Penerbit BPK: Jakarta.
    Mounce, William D., 2011. Basics of Biblical Greek, edisi 3. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang.
    Morris, Leon., 2006. New Testamant Theology. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.
    Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang.
    Susanto, Hasan., 2003. Perjanjian Baru Interlinier Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, jilid 1 dan 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang.
    Ridderbos, Herman., 2004. Paul: An Outline of His Theology. Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta.
    Milne, Bruce., 1993. Knowing The Truth: A Handbook of Christian Belief. Terjemahan (1993). Penerbit BPK: Jakarta.
    Ryrie, Charles C., 1991. Basic Theology. Jilid 1 dan 2, Terjemahan, Penerbit Andi Offset: Yoyakarta.
    Thiessen, Henry C., 1992. Lectures in Systematic Theology, direvisi Vernon D. Doerksen. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.

    * Pdt. Samuel T. Gunawan adalah seorang Protestan-Kharismatik, Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT Lainnya.

    Keprihatinan terhadap Ekses-Ekses Gerakan Kharismatik

    Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, SE, M.Th

    Khotbah Minggu
    Ibadah Raya GBAP El Shaddai Palangka Raya

    Pendahuluan

    Istilah Yunani untuk “karunia-karunia” adalah “charismata” bentuk tunggalnya “charis” yang secara umum berarti “hadiah, pemberian, karunia, anugerah”. Sedangkan arti kristiani yang khusus untuk kata tersebut ialah “karunia rohani yang berasal dari Allah” (Roma 1:11). Dari kata “charismata” inilah muncul kata “kharismatik”, yang kemudian digunakan untuk “gerakan kharismatik”, yaitu gerakan yang memberikan tekanan kuat pada kharismata yaitu karunia-karunia Roh Kudus yang dianugerahkan Tuhan kepada gerejaNya. Berikut ini ayat-ayat yang memuat daftar karunia-karunia (kharismata) yang Tuhan berikan kepada Gereja yaitu : Roma 12:6-8; 1 Korintus 12:4-11; Efesus 4:11-12; 1 Petrus 4:11. Menurut penganut Kharismatik, setiap orang percaya memiliki karunia-karunia yang berbeda-beda satu dengan yang lain, dan hingga kini karunia-karunia itu masih eksis di dalam dan melalui gereja. Dengan kata lain karunia-karunia ini belum berakhir sebagaimana yang diyakini oleh para penganut Sessasionisme yang mengajarkan bahwa “charismata”  atau karunia-karunia rohani yang disebutkan dalam 1 Korintus 12 hanya berlaku pada zaman rasul-rasul saja.

    Saya yakin bahwa Kharismatik adalah sebuah gerakan yang berasal dari Tuhan dan didukung oleh pernyataan Alkitab. Saat saya mengatakan bahwa “Kharismatik adalah sebuah gerakan yang berasal dari Tuhan dan didukung oleh pernyataan Alkitab” saya tidak sedang bermain-main, tetapi sungguh-sungguh dengan ucapan saya. Saat ini, gerakan Kharismatik juga telah merambah hampir semua denominasi gereja mulai dari yang tradisional hingga yang modern; baik protestan maupun katolik; dan denominasi-denominasi arus utama (mineline) seperti, Lutheran-Prebysterian, Calvinik-Reformed, Wesleyan-Metodhis, Baptis, Injili, Pentakostal, dan lain sebagainya.

    Karunia-karunia Rohani Masih Berlanjut

    Melalui artikel saya yang berjudul “Analisis Teologis  Terhadap Ajaran Berhentinya Karunia-Karunia Roh Kudus”, saya telah  menunjukan bahwa ayat-ayat Perjanjian Baru yang dipakai penganut sessasionisme bahwa karunia-karunia  Roh berhenti setelah para rasul atau setelah kanon Alkitab selesai, telah dibuktikan tidak benar secara eksegesis maupun teologis. Karena itu, disini saya hanya mengutip dua ayat Alkitab yang saya anggap berkaitan langsung dengan penegasan bahwa kharismata masih berlangsung saat ini. (lihat: http://artikel.sabda.org/analisis_teologis_terhadap_ajaran_berhentinya_karuniakarunia_roh_kudus).

    Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13:8, mengatakan,“Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.” Berdasarkan ayat ini beberapa orang, khususnya paham Sessasionisme  mengajarkan bahwa pada saat Paulus mengatakan “nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti”, itu berarti bahwa nubuat dan bahasa roh akan berhenti pada awal sejarah gereja. Dan berdasarkan 1 Korintus 13:10, “Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap”. Berdasarkan ayat ini penganut sessasionisme mengajarkan bahwa tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban, serta mujizat telah berhenti, sebab yang sempuna, yaitu Alkitab telah rampung ditulis. Jadi frase “jika yang sempurna itu tiba” dianggap mengacu kepada waktu kanon Perjanjian Baru sudah lengkap. Lebih Jauh, kata “sempurna” adalah kata Yunani “teleios” yaitu kata benda netral yang jelas menunjuk kepada Alkitab, masih kata penganut Sessasionisme.

    Berikut ini analisis dan jawaban saya: Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa nubuat dan bahasa roh (termasuk karunia-karunia lainnya) akan berhenti pada awal sejarah gereja tidak didukung oleh eksegese yang benar, tetapi justru merupakan kesalahan eksegese (exegetical fallacy) dan melanggar prinsip hermeneutika “tafsir sesuai konteks”. Maksud dari perkataan “nubuat akan berakhir dan bahasa roh akan berhenti” bukanlah pada awal sejarah gereja, melainkan pada saat “yang sempurna tiba”, yaitu pada saat Kristus datang kembali (1 Korintus 13:10).

    Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa nubuat dan bahasa roh akan berhenti pada awal sejarah gereja adalah pandangan yang tidak konsisten. Karena, jika memang bahasa roh dan nubuat akan berakhir maka seharusnya yang berhenti tidak hanya bahasa roh dan nubuat, tetapi juga “pengetahuan”. Sebaliknya, justru saat ini kita melihat pengetahuan semakin bertambah.  

    Ketiga, perlu diketahui bahwa kitab terakhir Perjanjian Baru adalah kitab Wahyu yang ditulis paling lambat tahun 90 Masehi atau sekitar 35 tahun setelah Paulus menulis Surat 1 Korintus. Pertanyaannya: pada waktu Paulus menulis Surat Korintus, khususnya pasal 13, apakah jemaat mengerti bahwa “yang sempurna” itu adalah “kanon Perjanjian Baru”. Pertanyaan ini akan menjadi serangan balik bagi penganut Sessasionisme.

    Keempat, jika yang dimaksud dengan “yang sempurna” adalah Alkitab, maka gagasan yang demikian tidak sesuai dengan tujuan Paulus menulis Surat 1 Korintus pasal 13 ini. Ini merupakan suatu gagasan yang asing bagi Paulus maupun jemaat Korintus. Karena dalam konteks ini Paulus sedang membicarakan tentang keberlangsungan kasih, ketimbang nubuat, bahasa roh, dan pengetahuan.

    Kelima, tidak ada peraturan dalam tata bahasa Yunani bahwa kata benda netral hanya bisa digunakan untuk menunjuk benda-benda yang tidak ada jenis  penunjukkan kelaminnya. Kata benda netral atau kata ganti (pronoun) dapat digunakan untuk menggambarkan benda-benda berjenis laki-laki atau perempuan dan dapat juga digunakan untuk menggambarkan pribadi-pribadi. Contoh: Kata “Roh” atau “Pneuma” dalam bahasa Yunaninya merupakan kata benda netral, dan secara jelas Kitab Suci menyatakan bahwa Roh bukanlah benda tetapi adalah Pribadi yang ketiga dari Allah Trinitas. Dengan demikian kata benda “tekios” atau “sempurna (perfection)” dalam ayat ini tidak mengacu pada Alkitab, tetapi pada kedatangan Kristus kembali di akhir zaman. Tafsiran ini lebih konsisten dengan perkataan Paulus sebelumnya dalam 1 Korintus 1:7, yaitu “Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus”.

    Jadi ringkasnya, justru dalam ayat-ayat ini kita mendapatkan pernyataan Alkitab melalui rasul Paulus bahwa kita masih bisa mengharapkan nubuat, bahasa roh, bahkan karunia-karunia lainnya tetap ada hingga Kristus datang, karena pada saat itulah semua karunia-karunia itu tidak kita perlukan lagi.

    Keprihatinan Terhadap Ekses-ekses

    Namun, saya merasa prihatin terhadap ajaran dan perilaku beberapa orang atau kelompok tertentu yang mengklaim dirinya dalam gerakan ini. Karena beberapa orang atau kelompok tertentu yang mengaku Kharismatik ini telah “kebablasan” dalam ajaran dan perilakunya. Orang-orang atau kelompok tertentu tersebut mengklaim pengalaman fenomenal tertentu sebagai berasal dari Roh Kudus. Misalnya, beberapa buku terlaris dalam  tiga dekade  terakhir telah mengeksploitasi pengalaman-pengalaman spiritual seperti pengalaman dibawa oleh Tuhan untuk melihat surga atau neraka, atau kedua-duanya.  Sementara itu yang lain mengklaim melihat kengerian neraka dalam pengalaman nyaris mati mereka.  Nyaris mati tentu saja berbeda dengan yang benar-benar mati. Perbedaan ini sama dengan  cara membedakan antara nyaris hamil dan benar-benar hamil. Bahkan ada orang-orang yang mengklaim pengalaman spiritual mereka yang bisa akses “turun-naik” ke surga. Ada juga yang menjadikan “sakral” satu metode atau beberapa metode tertentu dalam pelayanan dan ibadah.  Sementara itu, dalam aktivitas dan ibadah di beberapa tempat, puluhan bahkan ratusan orang tiba-tiba jatuh dilantai yang dianggap sebagai hadirat dan jamahan Roh Kudus. Fenomena ini “berevolusi” kearah yang lebih luas hingga menjadi “menari dalam roh, tertawa dalam roh, menggonggong dalam roh, meraung dalam roh bahkan muntah-muntah dalam roh”. Lebih parah lagi, katanya, ada yang mengajarkan “menikah dalam roh”.

    Beberapa orang menganggap bahwa mempertayakannya saja ekses-ekses fenomenal tertentu tersebut sudah tidak pantas, apalagi mengkritiknya, malah dianggap “menghujat” Roh Kudus.  Sebenarnya, kebenaran sejati harus diuji dan tidak perlu takut bila menghadapi ujian. Hanya yang salah dan tidak benar yang takut untuk diuji. Rasul Yohanes mengingatkan, “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia” (1 Yohanes 4:1).

    Bagi saya, hal seperti ini sangat memprihatikan. Setidaknya ada tiga keprihatinan saya berkenaan dengan ekses-ekses dari apa yang disebut sebagai “pengalaman dengan Roh Kudus” ini, yaitu: (1)  Dari sudut pandang pastoral (pengembalaan) dari hukum pertumbuhan rohani hal ini akan menyebabkan “kerusakan” atau “tidak sehat” bila ketaatan kepada Kristus ditentukan atau diukur hanya dari pengalaman-pengalaman yang dianggap “segar” ini. (2) Dari sudut pandang psikologikal (emosional), kebutuhan akan “sensasi” ini akan terus bertambah, sehingga hal yang biasa akan diganti oleh yang “tak biasa”. Hal yang tak biasa diganti oleh yang “ekstrim”, dan hal yang ekstrim diganti oleh hal yang “gila-gilaan”. Akibatnya justru akan terjadi kekosongan dan kemerosotan rohani. (3) Dari sudut pandang doktrinal-teologikal mengenai ajaran dan praktik dari ekses-ekses yang “sensasional-fenomenal” ini telah menjadikan pelayanan berpusat pada diri sendiri, manusia dan pengalaman-pengalaman lebih dari pernyataan Kitab Suci serta tidak berpusat pada Kristus (Kristus-sentris).

    Pertanyaan untuk Diagnostik Awal

    Lalu, bagaimana seharusnya sikap orang Kristen yang tulus menanggapi kegiatan yang saat ini mengatasnamakan Roh Kudus (Kharismatis)? Di Indonesia ada slogan yang terkenal selalu dikumandangkan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, yaitu “teliti sebelum membeli”. Tujuannya adalah agar konsumen atau pembeli tidak salah membeli sehingga mendapatkan barang jelek atau rusak.

    Kita, para penganut Kharismatik seharusnya berani mengambil sikap tegas menguji setiap bentuk ajaran atau perilaku yang membawa ekses negatif bagi kemurnian iman gerakan ini. Perlu untuk menguji dengan teliti tanpa suatu prasangka sebelum terbukti. Teliti bukan sekedar melihat, melainkan melihat dengan cermat. Rasul Yohanes mengingatkan, “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia” (1 Yohanes 4:1). Frase Yunani “ujilah roh-roh itu” dalam 1 Yohanes 4:1 tersebut adalah “dokimazete ta pneumata”. Kata “dokimazeta” berasal dari kata “dokimazo” yang berarti “menguji, meneliti, dan memeriksa”. Secara harafiah frase tersebut berarti “membuktikan dengan menguji”. Alasan untuk menguji setiap roh atau menguji orang-orang atau kelompok tertentu yang mengaku digerakan oleh roh ialah karena ada banyak nabi-nabi palsu yang menyusup dan masuk ke dalam gereja, tidak hanya yang beraliran Kharismatik, tetapi juga semua denomisani gereja lainnya (Markus 13:22).

    Karena itu, tiga pertanyaan diagnostik berikut dapat digunakan untuk menguji ajaran atau perilaku yang masih meragukan, yaitu (1) Apakah ajaran atau perilaku tersebut sesuai dengan firman Tuhan atau ajaran Alkitab? (2) Apakah ajaran atau perilaku tersebut meninggikan dan memuliakan Tuhan Yesus? Karena  pelayanan Roh Kudus tidak pernah lepas dari memuliakan Kristus (Yohanes 16:14). (3) Apakah ajaran atau perilaku tersebut mendatangkan pertobatan dan damai sejahtera atau justru menimbulkan ketakutan, kekuatiran atau perilaku yang menyimpang?

    Ketelitian dan kepekaan untuk membedakan mana yang dari Allah dan mana yang bukan dari Allah sangat dibutuhkan. Apalagi bila menyangkut ajaran dan perilaku kehidupan kita. Kita harus bisa membedakan mana yang gerakan dan mana yang ekses; mana yang sehat dan mana yang mencemarkan. Hal ini penting supaya kita tidak terjerumus ke dalam kesalahan dan kesesatan. Dengan melakukan pengujian kita akan terhindar dari kecerobohan rohani yang dapat berakibat fatal. Kristus mengingatkan, “dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Matius 7:17). Yang dimaksud dengan buah disini bukanlah hasil pekerjaan berupa kemampuan untuk “bernubuat, mengusir setan dan penyembuhan”, melainkan kemurnian “ajaran, motivasi, dan karakter hidup” (2 Petrus 2:1-22) yang sesuai dengan kehendak Tuhan (Matius 7:21). Ayat ini tidak dimaksudkan untuk menyatakan semua “nubuat, mujizat, kesembuhan” itu palsu, melainkan peringatan kepada orang Kristen untuk mewaspai “kepalsuan”.

    Menilai Dengan Adil Gerakan Kharismatik

    Saya yakin bahwa Kharismatik adalah sebuah gerakan yang berasal dari Tuhan dan didukung oleh pernyataan Alkitab sebagaimana yang saya jelaskan diatas. Sebagai seorang Kharismatik saya berpendapat, bahwa karunia-karunia Roh Kudus, mujizat, kesembuhan, bahasa roh, dan lainnya masih terus eksis dan bermanisfestasi di dalam dan melalui gereja (tubuh Kristus) hingga saat ini. Gerakan Kharismatik ini murni dari Allah, tetapi berusaha dicemari dan disesatkan oleh ekses-ekses dari ajaran dan perilaku yang bersifat tidak sehat, sensasional dan fenomenal; ajaran dan perilaku yang seringkali menyimpang dan tidak sehat oleh beberapa orang atau kelompok tertentu yang mengaku Kharismatik.

    Adanya ajaran dan perilaku yang dianggap sesat di dalam gerakan Kharismatik tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa seluruh gerakan Kharismatik itu sesat. Secara historis, hal ini juga terjadi dalam setiap gerakan-gerakan pembaharuan lainnya dalam sejarah gereja. Kenyataan historis yang tidak boleh diabaikan oleh semua pihak adalah bahwa sebelum ada gerakan Kharismatik yang terformulasi dengan jelas di abad ke 20, telah ada penyesatan dan kepalsuan disepanjang sejarah gereja. Jadi, adanya ajaran dan perilaku yang dianggap menyimpang dalam Kharismatik bukan berarti semua yang berada dalam gerakan Kharismatik itu sesat. Atau kenyataan adanya mujizat-mujizat palsu (tiruan dari setan) bukan berarti kita harus menolak semua mujizat yang terjadi atau menganggapnya semua mujizat adalah palsu.

    Sebagai ilustrasi, saya membeli satu tabak telur ayam yang berisi 30 butir telur. Pada suatu ketika saya mengambil satu butir telur secara acak dan mendapati bahwa telur itu busuk. Saya lalu beranggapan bahwa kemungkinan 29 butir telur lainnya juga busuk. Tetapi ini hanyalah asumsi belaka, belum terbukti. Jadi saya mengambil telur lainnya untuk memastikan apakah 29 telur dalam tabak itu busuk semua atau tidak. Akhirnya, sya menemukan bahwa dari 30 butir telur tesebut ada 5 butir telur busuk. Dengan demikian, asumsi saya bahwa semua telur dalam tabak tersebut busuk adalah salah. Demikian juga hal adanya ajaran dan perilaku yang dianggap menyimpang di dalam Kharismatik bukan berarti semua yang berada dalam gerakan Kharismatik itu sesat. Memaksakan kesimpulan demikian terhadap semua penganut Kharismatik jelas merupakan kecacatan logika (logical fallacy) yang disebut dengan istilah “generalisasi tergesa-gesa”. Generalisasi merupakan kesimpulan atau pernyataan umum berdasarkan sampel. Generalisasi terburu-buru adalah kesalahan logika yang dilakukan saat mengambil kesimpulan atau membuat pernyataan berdasarkan:  (1) sampel yang sedikit dan atau kecil dan (2) bukan sampel yang mewakili. Dan tentu saja, taktik seperti itu tidak akan bermanfaat, sebaliknya justru akan menimbulkan masalah.

    Tetapi, justru hal-hal seperti itu telah dimanfaat oleh para openan Kharismatik dengan menuduh bahwa seluruh Kharismatik itu sesat dan kemudian menyerangnya tanpa ampun. Namun, para penganut Kharismatik tidak menutup mata dan telinga terhadap setiap kritik! Melakukan introspeksi dan evaluasi merupakan langkah tepat yang telah dilakukan. Tetapi, bila kritik tersebut didasarkan metode kritik yang tidak valid dan bersifat openan (menyerang), maka merupakan tugas para penganut Kharismatik untuk memberikan jawaban dan pembelaan.  Sikap ini, oleh para teolog disebut dengan istilah “apologetika”. Apologetika ini dilakukan bukan dengan tujuan memaksa para openan atau para lawan Kharismatik agar menerima teologi dan pandangan Kharismatik, tetapi supaya mereka dan semua bisa menilainya dengan cukup adil.

    Pentingnya Doktrin yang Benar dan Sehat

    Kata doktrin berarti sesuatu yang diajarkan, pengajaran, instruksi; prinsip-prinsip agama yang diajarkan; atau lebih harfiah doktrin berarti mengajarkan yang dasar. Kata Yunani untuk “doktrin” adalah “didaskalia” dan “didakhe” yang berarti “ajaran” yang berasal dari akar kata “didaskô” yang berarti “mengajar atau mengajarkan”. Sehingga “doktrin” secara konseptual adalah hal-hal yang diajarkan. Perjanjian Baru menggunakan kata “didaskalia” ini sebanyak 21 kali, kata “didakhe” sebanyak 30 kali dan kata “didasko” sebanyak 97 kali. Salah satunya terdapat di dalam Kisah Para Rasul 2:42, di mana dikatakan bahwa para petobat gereja yang mula-mula bertekun dalam pengajaran (didakhe) para rasul. Dari penjelasan tersebut, maka doktrin dapat didefinisikan sebagai pengajaran-pengajaran dasar yang diajarkan. Dalam pengertian yang luas doktrin mencakup semua kebenaran firman Tuhan yang diajarkan. Doktrin itu sendiri bersumber dari Alkitab yang adalah Firman Allah. Sehingga untuk pemakaian Kristen, doktrin dapat di definisikan sebagai pengajaran-pengajaran dasar Kristen yang diajarkan dan bersumber dari Alkitab.

    Mengingat bahwa pada akhir zaman kapasitas doktrin-doktrin iblis yang menyesatkan dan menghancurkan kehidupan manusia akan semakin meningkat, maka kita perlu mengetahui doktrin yang benar. Doktrin iblis bisa berupa: berupa filsafat, tahyul dan tradisi-tradisi manusia (Matius 22:9; 24:3-13; Galatia 1:6-9). Untuk mengenal doktrin-doktrin yang palsu kita tidak harus mempelajari doktrin palsu tersebut.  Hal yang terpenting adalah mengenal dan memahami doktrin yang benar. Dengan mengetahui yang benar kita dapat membedakannya dari yang palsu. Berikut ini adalah ciri-ciri dari doktrin yang benar, yaitu;

    Pertama, doktrin yang benar harus sehat dan menghasilkan karakter yang kudus (1 Timotius 1:10;   2 Timotius 4:2-4; Titus 1:9; 2:1). Doktrin yang benar adalah doktrin yang sehat. Doktrin yang sehat akan memelihara orang percaya agar tetap sehat dan terhindar dari kekeliruan. Doktrin yang sehat menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan rohani yang sehat bagi orang percaya. Doktrin sehat menghasilkan paktek kehidupan yang kudus dan berkenan kepada Allah. Merupakan fakta yang terbukti bahwa doktrin mempengaruhi karakter. Apa yang dipercayai seseorang sangat besar mempengaruhi perbuatannya. Jika seseorang menerima dan mengikuti doktrin yang sehat maka doktrin itu akan menghasilkan karakter ilahi dan karakter Kristus.  Paulus memberikan nasihat kepada Timotius agar “awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu” (1 Timotius 4:6,13,16). Selanjutnya Paulus berbicara tentang “ajaran yang sesuai dengan ibadah kita” (1 Timotius 6:1-3), yakni serupa dengan Allah; karakter dan kehidupan yang kudus.   

    Kedua, doktrin yang benar harus Alkitabiah (2 Timotius 3:14-17). Doktrin yang Alkitabiah adalah doktrin yang bersumber pada seluruh Firman Allah. Doktrin seperti ini tidak hanya  bermanfaat untuk pengajaran tetapi juga untuk menyatakan kesalahan, mendidik dan memperbaiki agar orang percaya memiliki hidup yang berkenan kepada Allah. Untuk menghasilkan doktrin yang alkitabiah diperlukan interpretasi yang tepat berdasarkan prinsip-prinsip hermeneutika yang wajar, sederhana, benar dan dapat dipertanggunjawabkan sehingga menghasilkan doktrin yang sehat.

    Keseimbangan Doktrin dan Praktek

    Sekali lagi, sebagai seorang Protestan-Kharismatik saya berpendapat, bahwa karunia-karunia Roh Kudus, termasuk mujizat dan bahasa roh, masih bermanisfestasi hingga kini di dalam gereja (tubuh Kristus), tetapi praktek-prakteknya yang seringkali menyimpang dan tidak sehat. Gerakan ini murni dari Allah, tetapi telah dicemari oleh ekses-ekses dari ajaran-ajaran dan praktek-praktek yang bersifat sensasional-fenomenal, sebagaimana gerakan-gerakan pembaharuan lainnya dalam sejarah gereja. Tetapi, kenyataan adanya penyimpangan-penyimpangan bukan berarti semua yang berada dalam gerakan kharismatik itu sesat. Atau kenyataan adanya mujizat-mujizat palsu (tiruan dari setan) bukan berarti kita harus menolak semua mujizat yang terjadi atau menganggapnya semua mujizat adalah palsu. Sebaiknya diuji dulu dengan pertanyaan diagnostik diatas. Selanjutnya, diperlukan keseimbangan antara doktrinal dan praktikal, pengetahuan firman Tuhan dan pengalaman.

    Jadi, orang-orang Kristen harus diajarkan perintah-perintah (doktrin) Tuhan kita dan dibimbing untuk melakukan (praktek) perintah-perintah itu dalam ketaatan, sukacita, kekudusan, dan kasih kepada Kristus. Kristus memerintahkan para muridNya “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Matius 20:20); dan dalam Yohanes 13:17 Yesus berkata “Jikalau kamu tahu semua ini (doktrin), maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya (praktek)”.  Ingatlah, doktrin tanpa praktek hidup yang saleh sama seperti manusia: tengkorak tanpa daging; keras dan tak berbelas kasihan. Paktek tanpa dituntun doktrin sama seperti manusia: memiliki daging tanpa tulang; tidak memiliki kekuatan, lemah dan tak berdaya.

    Rasul Paulus menasihati Titus demikian “Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat” (Titus 2:1). Selanjutnya Rasul Paulus menghubungkannya ajaran sehat dengan praktek kehidupan sehari-hari (Titus 2:1-14). Ajaran sehat adalah doktrin atau didaskalia. Kata ini berkaitan dengan apa yang diajarkan. Ajaran sehat akan memelihara orang percaya agar tetap sehat dan terhindar dari kekeliruan. Doktrin yang sehat menghasilkan pertumbuhan dan paktek kehidupan kudus dan berkenan kepada Allah.

    Penutup

    Saat ini, ada serangan yang hebat terhadap doktrin yang sehat. Ada upaya dan ajakan untuk berpaling dari ajaran yang sehat kepada filsafat-filsafat manusia dan ajaran-ajaran setan. Banyak pemimpin gereja tidak memiliki waktu mengkhotbahkan atau mengajarkan doktrin. Mereka telah berpaling kepada pidato, politik, etika, khotbah dari buku atau injil sosial yang mengatakan bahwa doktrin tidak berguna lagi dan ketinggalan zaman. Rasul Paulus mengingatkan “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (2 Timotius 4:3).

    Karena itu, orang Kristen perlu mewaspadai penyesatan yang mungkin terjadi di dalam gereja. Penyesatan ini dapat terjadi dan dilakukan oleh orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu. Penyesatan ini bisa jadi berupa penyusupan ajaran dan perilaku yang mirip dengan Kekristenan. Penyesatan juga bisa terjadi karena ketidaktahuan yang merupakan merupakan akibat dari kurangnya pengetahuan dan pengajaran doktrinal yang Alkitabiah.

    Kita, khususnya yang mengaku sebagai Kharismatik, memang harus terbuka terhadap ajaran firman Tuhan, tetapi harus juga diikuti dengan kewaspadaan rohani. Hal ini penting sebab ada orang-orang tertentu yang memakai Alkitab dengan ajaran yang menyeleweng atau sesat, apalagi yang mengaku sebagai rasul-rasul dan nabi-nabi dengan mengklaim “demikianlah firman Tuhan”. Jangan ragu-ragu menolak ajaran dari orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu yang sesat, karena ini diperintahkan oleh Tuhan dalam Alkitab. Rasul Paulus mengatakan, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (1 Timotius 4:2).

    Demikian, semoga bermanfaat!

    *Pdt. Samuel T. Gunawan, seorang Protestan-Kharismatik, Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat  ElShaddai; Pernah mengajar di STIE Palangka Raya, Sekolah Alkitab Danum Pambelum, STT-IKSM Sentosa Asih Palangka Raya, STT IKAT Program Tutorial Palangka Raya dan STT Lainnya. Menyandang gelar Sarjana Ekonomi(SE) dari Universitas Negeri Palangka Raya; S.Th inChristian Education;  M.Th in ChristianLeadership (2007) dan M.Th in Systematic Theology (2009) dari STT-ITCTrinity. Setelah mempelajari Alkitab selama ± 15 tahun  menyimpulkan tiga keyakinannya terhadapAlkitab yaitu : 1) Alkitab berasal dari Allah. Ini mengkonfirmasikan kembalibahwa Alkitab adalah wahyu Allah yang tanpa kesalahan dan Alkitabdiinspirasikan Allah; 2) Alkitab dapat dimengerti dan dapat dipahami oleh pikiran manusia dengan cara yang rasional melalui iluminasi Roh Kudus; dan  3) Alkitab dapat dijelaskan dengan cara yangteratur dan sistematis).

    Keyakinan Keselamatan

    Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

    Pengalaman keselamatan, dari sisi karya Allah Roh Kudus adalah pengalaman kelahiran baru (regenerasi). Dari sisi manusia disebut konversi (perpalingan) yang terdiri dari pertobatan dan percaya. Peristiwa ini terjadi saat Roh Kudus membaptiskan orang percaya ke dalam Tubuh Kristus (1 Korintus 12:13). Pertanyaan penting yang perlu dijelaskan adalah “begitu seseorang diselamatkan, apakah keselamatannya tetap ataukah dapat hilang?” Ketika orang datang kepada Kristus sebagai Juruselamatnya, mereka masuk ke dalam hubungan dengan Allah dan ini merupakan jaminan bahwa keselamatan mereka terjamin untuk selamanya.

    Tujuh Alasan yang Menjadi Dasar Keyakinan Keselamatan Kita [1]

    Berikut ini diberikan tujuh alasan mengapa orang Kristen yakin akan kepastian keselamatan yang dikerjakan Roh Kudus dalam mereka saat Roh Kudus membaptis orang percaya tersebut ke dalam tubuh Kristus dan memberi mereka hidup baru.

    1. Pemilihan Allah yang berdaulat.

    Paulus, dalam Efesus 1:4-6 mengatakan “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya”. Selanjutnya dalam Roma 8:30 mengatakan, “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” Ayat ini memberitahukan kita bahwa dari sejak saat Allah memilih kita, kita seperti dipermuliakan di hadapanNya di surga. Tidak ada yang dapat mencegah orang percaya dipermuliakan karena Tuhan sudah terlebih dahulu merencanakannya. Sekali seseorang dibenarkan, keselamatannya terjamin, sama terjaminnya seperti dia sudah dipermuliakan di surga.


    2. Kristus mati bagi kita.

    Dalam Roma 8:33-34 Paulus menanyakan dua pertanyaan penting, “Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?” (Roma 8:33-34). Siapa yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Tidak ada seorangpun, karena Kristus adalah Pembela kita. Siapa yang akan menghukum? Tidak ada seorangpun, karena Kristus, Dia yang telah mati bagi kita, Dialah yang akan menghukum. Kita mempunyai Pembela dan Sang Hakim sebagai Juruselamat kita.

    3. Roh Kudus melahirbarukan kita.

    Orang-orang percaya dilahirkan kembali ketika mereka percaya (Yohanes 3:3; Titus 3:5). Kalau orang Kristen kehilangan keselamatannya, itu berarti sama seperti “lahir baru” yang dibatalkan. Tidak ada bukti dalam Alkitab bahwa lahir baru dapat diambil kembali atau dibatalkan.

    4. Roh Kudus berdiam di dalam kita.

    Roh Kudus yang melahirbarukan orang percaya adalah Roh Kudus yang juga berdiam di dalam semua orang percaya (Yohanes 14:17; Roma 8:9), dan membaptiskan orang percaya ke dalam Tubuh Kristus (1 Korintus 12:13). Untuk seorang percaya kehilangan keselamatannya, itu berarti Roh Kudus harus dikeluarkan dan orang itu diputuskan dari Tubuh Kristus.

    5. Pemeteraian Roh Kudus.

    Roh Kudus yang membaptis, melahirbarukan, mendiami orang percaya adalah Roh Kudus yang menjadi jaminan bagi keselamatan mereka. Paulus mengajarkan “Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita” (2 Korintus 1:21-22). Selanjunya, “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan” (Efesus 4:30).

    6. Keyakinan kita tentang hidup yang kekal dalam Kristus.

    Yohanes 3:15 menjelaskan bahwa barang siapa percaya dalam Kristus Yesus akan “memperoleh hidup kekal.” Jika Anda pecaya kepada Yesus hari ini dan mendapatkan hidup kekal, dan kemudian hilang di hari berikutnya, itu bukanlah hidup kekal yang Alkitab maksudkan. Karena itu kalau ada orang kehilangan keselamatannya, itu berarti janji hidup kekal dalam Alkitab adalah suatu kepalsuan. Sebaliknya, Kristus menjamin keselamatan kita “dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa” (Yohanes 10:28-29).

    7. Pemeliharaan Allah.

    Argumen yang paling menentukan dikatakan oleh Alkitab sendiri, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 8:38-39). Ingat bahwa Allah yang menyelamatkan engkau juga adalah Allah yang akan memelihara engkau. Sekali selamat tetap selamat. Keselamatan kita terjamin dalam kekekalan.

    Sepuluh Tanda Meyakinkan Bahwa Roh Kudus Ada di dalam Kita

    Roh Kudus yang melahirbarukan orang percaya adalah Roh Kudus yang berdiam (berada didalam) semua orang percaya (Yohanes 14:17; Roma 8:9). Peristiwa ini terjadi saat Roh Kudus membaptiskan orang percaya ke dalam Tubuh Kristus (1 Korintus 12:13). Banyak orang meragukan keselamatannya, karena mereka ragu-ragu “apakah Roh Kudus ada di dalam dirinya?” Ada banyak hal yang dapat membuat seseorang Kristen ragu-ragu akan keselamatannya, antara lain: kerena tidak mengenal ajaran firman Tuhan yang dengan jelas; merasa gagal melakukan kehendak Allah dalam hidup ini; tidak bisa meninggalkan kebiasaan buruk sebelum mengenal Yesus; masih sering “jatuh bangun” dalam dosa; tergoda oleh hidup keduniawiaan; kerohanian yang tidak bertumbuh; dan tidak hidup dalam pimpinan Roh Kudus.[2] Berikut ini beberapa tanda untuk memeriksa keyakinan kita bahwa Roh Kudus ada di dalam kita.[3]

    1. Jika kita bisa percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah, yang mati di kayu salib, bangkit dari kematian, naik ke surga, dimuliakan bersama Allah Bapa dan menjadi pengantara bagi kita.
    2. Jika ada perubahan dalam diri kita, meninggalkan hidup lama dari dosa dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik, ke dalam hidup baru yang menghasilkan hidup penuh kuasa dan semangat.
    3. Jika kita merasa ditegur, diingatkan, dikuduskan dan senantiasa memuji, memuliakan Tuhan.
    4. Jika ada kehausan terhadap Firman Tuhan, membaca, merenungkan, mengenal siapa Tuhan, tujuan dan rencana-Nya bagi hidup kita.
    5. Jika kita ditambahkan pengertian kebenaranNya dan diingatkan pada cinta yang semula kita kepadaNya.
    6. Jika kita menyadari peranan kita melayani Tuhan. Apakah kita sudah mengambil bagian dalam pelayanan di Gereja lokal kita? Jika belum, minta petunjuk dalam doa. Setiap pelayanan adalah karunia pemberian Roh Kudus.
    7. Jika setiap kali kita dihadapkan dengan persoalan atau dalam mengambil keputusan, keterlibatan Allah melalui Roh Kudus jelas sekali yang memimpin.
    8. Jika kita dibebaskan dari rasa takut dan diganti dengan kepastian, perasaan aman, damai sejahtera, kebebasan dan sukacita surgawi.
    9. Jika kita menjadi berkat bagi orang lain, dimana tadinya justru menyebabkan persoalan dan pencobaan bagi orang lain, sekarang sebaliknya kita dicari, dan dimintai pertolongan.
    10. Jika kita berhenti mengeluh dan berduka, mengubah hari-hari penggerutu dengan hari bersukacita mencari Tuhan dan kebenaran-Nya.

    Jika sepuluh tanda di atas, ditambah pengalaman lainnya bersama Tuhan yang kita rasakan lebih mengesankan lagi dari sepuluh tanda yang disebutkan di atas, kita yakin Roh Kudus ada didalam kita, dan kita sedang menyenangkan hati Tuhan karena kita sedang berada dalam dan melakukan kehendakNya.

    Pertanyaan:

    1. Coba tuliskan dua alasan yang membuat Saudara yakin akan keselamatan Saudara dalam Kristus!
    2. Coba tuliskan juga, perubahan apa saja yang terjadi pada diri Saudara setelah Saudara diselamatkan oleh Tuhan Yesus! Bandingkan dengan sebelum Saudara diselamatkan! Adakah perubahan dan kemajuannya?

    FOOTNOTE:
    1. Untuk mengenali kerohanian sejati dari yang palsu, saya menganjurkan untuk membaca karya berikut: McDermott, Gerald R., Seeing God: Tweleve Reliable Signs of True pirituality. Penerbit ANDI Offset : Yogyakarta.
    2. Penjelasan mengenai alasan keragu-raguan keselamatan, silahkan lihat: Fances, Eddy., Murid Kristus. jilid 1, diterbitkan Yayasan Sinar Nusantara: Jakarta, hal 112-120.
    3. Lihat, Tan, John R., Dinamika Pertumbuhan Iman Kristen. Diterbitkan Yayasan Sinar Nusantara: Jakarta, hal 41-44).

    Kisah Nabot, Kisah Indonesia

    Oleh: Sefnat A. Hontong

    Kitab I Raj. 21:1-10 berkisah: ada seorang warga masyarakat Israel bernama Nabot. Ia mempunyai kebun anggur yang letaknya berdekatan dengan istana raja Ahab (ay 1). Pada suatu hari sang raja ingin memiliki kebun anggur itu (ay 2). Namun Nabot tidak mau memberikannya, dengan alasan karena tanah itu adalah hak warisnya (ay 3). Akibatnya sang raja menjadi stress dan tidak mau makan (ay 4). Melihat keadaan sang raja seperti itu, Izebel sang permaisuri lalu membuat surat kaleng yang isinya mengatakan Nabot telah mengutuk Allah dan raja. Tujuan Izebel adalah membawa Nabot ke pengadilan agama demi mendapatkan kebun anggur Nabot (ay 5-10). Pada gilirannya Nabot sang rakyat kecil yang tidak berdaya itu, mati dilempari dengan batu. Sedangkan Ahab bersama Izebel sang penguasa berhasil memiliki sebidang kebun anggur tersebut, dengan cara yang sangat licik (ayat 11-16).

    Yang menarik dalam kisah ini ialah sikap Nabot yang mempertahankan hak warisnya. Tanah bagi Nabot ialah sesuatu yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan hidup keluarganya dan relasinya dengan Allah. Hak pemilikkan atas tanah dalam pandangan Etika Perjanjian Lama, pertama-tama bukan dimaksudkan sebagai Hak Asasi Manusia (HAM), melainkan lebih menunjuk pada relasi tanggung jawab antara manusia dan Allah. Tanah dimanfaatkan dan dikelola dalam rangka menciptakan keberlangsungan hidup secara ekonomi, tetapi sekaligus juga untuk memuliakan Allah. Jadi, hak pemilikkan atas tanah pada satu pihak memperlihatkan adanya tanggung jawab untuk sebuah eksistensi hidup yang berkelanjutan (relasi ekonomi), tetapi juga menjadi tanda adanya hubungan yang khusus antara manusia dengan Allah (relasi iman). Memiliki sebidang tanah, sama artinya memiliki hubungan yang khusus dengan Allah. Mengolah tanah untuk mencukupkan kebutuhan hidup sehari-hari, sama artinya dengan membangun hubungan iman terhadap Allah. Maka, memberikan ataupun menggeserkan hak pemilikkan atas tanah kepada orang lain, sama artinya dengan memberikan atau menggeserkan suatu hubungan khusus yang sedang terjalin bersama Allah, kepada orang lain.

    Kelihatannya pandangan etis seperti itu tidak menjadi sesuatu yang penting untuk dihormati bagi seorang raja yang memimpin secara monopoli. Akibatnya seorang warga negara seperti Nabot yang lemah, kecil, dan tidak berdaya, harus menerima resiko kematian dengan cara yang tragis, terpisah dari kehidupan dan miliknya sendiri. Tanahnya kemudian menjadi milik sang penguasa. Bersamaan dengan itu status sebagai umat Allah diganggu oleh system kekuasaan yang monopoli. Nabot telah menjadi sebuah contoh dari nasib sejumlah besar rakyat biasa yang menderita dan dirampas hak hidupnya oleh sebuah kebijakan monopoli ekonomi dan politik. Di Indonesia drama kekuasaan seperti ini sudah dan sering berlangsung.

    Blog penulis: http://sefnathontong.blogspot.com/

    Konsep Trinitas

    Oleh K.A.M. Jusufroni

    Doktrin Trinitas merupakan doktrin gereja yang sangat kontroversial sepanjang sejarah, bahkan sejak awal diperkenalkannya doktrin tersebut. Para sarjana Kristen Barat mengklaim doktrin tersebut berasal dari Gereja Yudeo-Kristen. Benarkah demikian? Berikut uraian historisnya.

    1. Kaum apologis dari gereja mula-mula, mereka menyatukan konsepsi Yunani tentang Logos dengan "Logos" menurut Injil Yohanes

    1. Yustinus Martyr, seorang apologet di abad kedua[1], yang menampilkan Kristus sebagai "Tuhan yang lain" menciptakan masalahnya sendiri.
    2. Yustinus lahir dalam keluarga Yunani di Palestina, mengikuti filsuf Stoa, kemudian mengikuti aliran Aristoteles, pernah mengikuti pengikut Pythagoras, mengikuti juga pengikut Platonisme, kemudian baru menjadi seorang Kristen. Karya-karyanya adalah: Dialog dengan Trypho, Apologia I, Apologia II.
  • Muncul "Monarkianisme", bertujuan memelihara monoteisme dalam Kristen. Titik persoalan dasar adalah menyangkut hubungan Bapa dan Anak satu sama lain
    1. Menurut kaum Monarkianisme, memahami keilahian Anak hanya sekedar mode atau cara penampilan Bapa
      1. Monarkianisme dinamis mengatakan "maka suatu kuasa ilahi yang tidak bersifat pribadi giat dalam seorang manusia yang bernama Yesus. Sesudah itu Kristus diangkat menjadi Anak Allah
      2. Aliran ini sekitar abad kedua sampai abad ketiga
      3. Aliran ini mirip "konsep adopsionis", yang jauh lebih tua dalam gereja purba
    2. Monarkianisme modalistis menganut pandangan bahwa Allah adalah Pribadi yang tunggal. Anak dan Roh Kudus hanyalah sekedar mode-mode atau cara-cara penampilan Allah yang tunggal itu
    3. Kaum monarkianisme yang nampaknya monoteisme tanpa Trinitas melihat Yesus setengah Allah dengan mengatakan sesudah baptisan-Nya atau sesudah kebangkitan-Nya.
  • Kaum Gnostisisme, berkembang dalam abad kedua, juga mempengaruhi pembentukan ajaran gereja mengenai Trinitas, kaum ini tidak mengembangkan ajaran Trinitas, yang mereka lakukan adalah mencakup Allah Bapa, Allah Anak, dan Roh Kudus di antara aeon-aeon mereka yang banyak.[2]
    1. Mereka percaya kepada satu Allah Yang Mahatinggi, jauh dari dunia ini. Ia tidak turut serta dalam penciptaan ­ itu adalah hasil ilah yang lebih rendah, yang biasanya diidentifikasikan dengan Allah Perjanjian Lama.[3]
      1. Keselamatan dicapai karena pengetahuan (gnōsis, γνωσις) (Yun)
      2. Valentinus, salah seorang Gnostik yang terkenal, mengetahui tidak kurang dari 30 aeon, menurutnya Kristus hanyalah mempunyai suatu tubuh maya dalam dunia ini, yang Ia tinggalkan lagi sebelum penyaliban. Karena itu bukan Kristus Anak Allah itu yang mati, tetapi hanya seorang manusia Yesus. Kristologi ini disebut "doketisme".
    2. Irenaeus, orang Yunani yang lahir di Asia Kecil dari keluarga Kristen, semasa kecil sempat mendengarkan Polycarpus, Uskup Smirna, seorang murid Yohanes
      1. Irenaeus sangat dipengaruhi Yustinus, dia menjadi jembatan teologi Yunani Purba dengan teologi Latin Barat.
      2. Karya yang terpenting adalah Sangkalan dan Penggulungan dari apa yang secara salah disebut Pengetahuan (Gnōsis), yang umumnya dikenal dengan judul singkatnya "Melawan Ajaran-ajaran Sesat". Tulisan ini ditujukan terhadap aliran Gnostik.[4]
      3. Irenaeus bertitik tolak dari ajaran Theofilus dari Syria. Allah sejak dari kekal telah bersama-sama dengan Firman dan Hikmat- Nya. Inilah yang disebut hypostasis. Ia melahirkan Firman dan Hikmat- Nya sebelum segala sesuatu dijadikan
      4. Hanya Irenaeus mengembangkan segi-segi dasariah dari suatu ajaran tentang Trinitas. Segi yang khas dari ajaran ini adalah bahwa ia tidak mulai dengan menampilkan pribadi-pribadi itu yang secara bersama-sama dengan Dia adalah Firman dan Hikmat-Nya. Dengan menggunakan terminologi yang berasal dari periode kemudian maka tidak mungkinlah berkata-kata tentang tiga pribadi yang secara bersama-sama ada dalam ajaran Irenaeus tentang Trinitas.[5]
  • Konsep Trinitas Tertullianus, dari Kartago, seorang teolog, yang menulis pertama ke dalam bahasa Latin. Memulai dengan pribadi Allah, Bapa, dan yang bersama-sama dengan Dia, Firman dan Hikmat-Nya yang melahirkan keduanya dengan tujuan penciptaan dunia.
    1. Karya Tertullianus menemukan formula Trinitas dalam keesaan atau ketiga pribadi: pada satu substansi dalam tiga pribadi yang berhubungan satu sama lain.[6]
    2. Tertullianus berkata bahwa pribadi-pribadi itu dibedakan non statu sed gradu, nec substantia sed forma, nec poteste sed specie ("bukan dalam kondisi, tetapi dalam derajat; bukan dalam substansi, tetapi dalam bentuk; bukan dalam kuasa, tetapi dalam aspek")[7]
    3. Jadi yang tiga itu adalah satu walaupun tidak dalam arti satu pribadi. Jadi, unsur-unsur dasariah mengenai ajaran tentang kesamaan substansi dengan acuan kepada Bapa, Anak, dan Roh Kudus sudah terdapat dalam Tertullianus
  • Origenes, lahir dari keluarga Kristen di Aleksandria, mengenai Trinitas berangkat dari dua dasar, yaitu sama seperti Irenaeus dan Tertullianus, dan memberikan tekanan besar pada keesaan Allah
    1. Maka hanya Bapalah yang Allah, walaupun nama Allah dapat saja dikenakan kepada Anak dan Roh Kudus. Keilahian Anak dan Roh Kudus harus dijabarkan dari Bapa. Allah melahirkan Anak dalam suatu perbuatan yang bersifat kekal. Sebagaimana Anak lebih rendah dari Bapa, demikian juga Roh lebih rendah dari pada Anak. Untuk ketiga pribadi dari keallahan itu, Origenes mempergunakan konsep hypostasis.
    2. Dengan itu ia maksudkan suatu esensi yang bersifat individual atau subsistensi individual.
    3. Jadi, mengenai atau menyangkut hypostasis mereka, maka Anak dan Roh adalah berbeda dengan Bapa. Tetapi saat yang sama Origenes juga berpegang pada pendapat bahwa ketiga pribadi itu adalah satu, dalam pengertian bahwa ketiganya memiliki suatu kesatuan dan keserasian kehendak.
  • Untuk kesatuan seperti ini Origenes sudah mempergunakan konsep homo- ousios (kesatuan keberadaan atau dari satu substansi), yang kemudian menjadi dasar Konsili Nikea (325 M).

    Kristus Bangkit, Soraklah, Haleluya!

    Penulis : Mangapul Sagala

    Hari ini, 27 Maret 05 saya bersyukur dipercayakan untuk melayani sebuah kebaktian paskah berbentuk KKR di sebuah Gereja megah di ibukota, Jakarta. Sekitar lima ratusan lebih umat bersorak sorai merayakan hari kebangkitan Kristus tsb. Setahun yang lalu, saya juga menikmati keindahan dari peristiwa yang sama, di mana hari raya paskah dirayakan pada dini hari di sebuah gereja yang sangat megah di Singapura, dihadiri oleh sekitar 400 orang jemaat. Ketika pada umumnya masyarakat setempat tertidur lelap, ratusan jemaat tsb dengan gegap gempita mengumandangkan nyanyian-nyanyian kemenangan! Jadi, kemegahan dan keagungan ibadah bukan saja karena kondisi Gerejanya yang sedemikian megah, tetapi juga karena umat yang bersorak sorai menyanyikan Kristus Bangkit, Soraklah, Haleluya!Suasana memang menjadi saling mendukung karena sekitar 40 orang anggota paduan suara, yang mayoritas adalah mahasiwa/i dari universitas terkenal, dgn pakaian seragam putih hitam berdiri di depan jemaat dengan posisi saling berhadapan.

    Sungguh sangat indah dan bahagia, saya sulit melukiskannya dgn kata2, ketika lagu tsb dikumandangkan secara bersama dan bersahut-sahutan antara ratusan jemaat dgn paduan suara tsb. Kebaktian yg berjalan 2 jam tsb diakhiri dgn suasana ceria, penuh sukacita sambil bersalaman mengucapkan, Selamat Paskah, Kristus Bangkit. Menyaksikan hal itupun memberi sukacita tersendiri, yaitu ketika melihat jemaat dari berbagai usia spt remaja, pemuda hingga orang tua, dan latar belakang tingkat pendidikan dan sosial, spt siswa mahasiwa, alumni... serta Ph.D(cand)/Ph.D yg memiliki reputasi tinggi menyatu di dalam semangat persaudaraan. Semua bersama-sama menikmati betapa indahnya berita kebangkitan Kris tus itu. Dalam hati saya berpikir, berita kebangkitan bukan hanya milik orang sederhana atau orang2 terpelajar, miskin atau konglomerat, melainkan milik mereka yang beriman.

    Dasar Yang Teguh

    Jika demikian halnya, mengapa masih ada orang yang meragukan peristiwa tsb? Seperti saya sebut di atas, jawabannya sederhana: krn mereka tidak mau beriman, atau barangkali mrk tidak mampu beriman. Apakah menerima fakta kebangkitan Kristus merupakan suatu kebodohan? Saya harus menjawab dengan tidak! Buktinya? Banyak orang terpelajar di bawah kolong langit ini, termasuk jemaat tersebut di atas, yg dengan segenap hati dapat menerima kebangkitan itu dan mensyukurinya. Memang kita harus mengakui dengan jujur bahwa ada juga orang2 yg ahli meragukan dan menolak berita tersebut. Sebutlah misalnya seorang yg bernama Gerd Ludemann, professor PB dari Univ. Gottingen yg pemikirannya dipengaruhi oleh David Hume, di mana Ludemann menolak peristiwa kebangkitan Kristus tsb. Bagi Ludemann, kebangkitan itu tidak lebih dari halusinasi saja, atau visionary. Krn itu, dia menulis: We can no longer take the statements about the resurrection of Jesus literally... the tomb of Jesus was not empty, but full, and his body did not disappear but rotted away[1]

    Adakah dasar yang logis untuk menerima kebangkitan tsb? Tentu ada. Masalahnya adalah, apakah orang/ahli tsb memiliki kesediaan utk menerimanya? Atau, apakah yg dpt dikelompokkan ke dalam masuk akaltsb. Bagi David Hume, the Socttish philosopher yg terkenal itu semua yg namanya mukjizat, yg tdk dpt dijelaskan dengan rasio atau sciencetdk masuk akal. Miracle is a violation of the laws of nature...demikian Hume.[1][2] Karena itu tdk ada gunanya mengatakan bhw Allah telah membangkitkan Yesus yg mati itu dari kubur. Hume menuntut penjelasan ilmiah bgmn tubuh Yesus yg sdh mati tsb berubah menjadi tubuh lain (yg disebut kebangkitan). Karena itu, tdk ada gunanya mulut sampai berbusa atau tangan sampai lumpuh menulis penjelasan2 tentang mukjizat kepadanya. Itu hanya membuang2 waktu yg sangat berharga. Mengapa? Karena apa yg kita anggap ilmiah dan logis, bagi Hume dan pengikutnya bisa jadi tidak logis. Bagi Hume, realita tsb hanya ada di dalam logika dan science. Tdk ada realita yg lain di luar itu. Allah terlibat dalam alam semesta? Tdk mungkin. Krn jk demikian, kita harus mengurung Allah dan menjelaskannya ke dalam kategori ilmiah/logis. Itu berarti Allah yg tdk terbatas itu harus juga dimasukkan ke dalam rasio yg terbatas! Apakah itu logis? Bagi kita tidak, tapi Hume itulah yg logis!

    Karena itu, mari kita lupakan Hume, Ludemann dan semua pengikut2nya. Mari kita maju di dalam pengenalan dan iman kita secara bersama-sama. Kembali kepada pertanyaan di atas, adakah dasar yg teguh bagi kita yg dpt dinikmati baik iman maupun akal? Sekali lagi saya jawab dengan penuh keyakinan dgn, ada. Dan sebenarnya itulah yg dijelaskan oleh penulis2 Alkitab. Sebenarnya, jk kita mengamati semua tulisan2 mrk, baik PL maupun PB, mk kita akan melihat bhw mrk itu menulis bukan hanya dgn iman, tapi juga dengan akal; bukan hanya dengan akal, tapi juga dengan iman.

    Barangkali ada yang berkata: Ah, Alkitab? Bukankah laporan Alkitab ttg kebangkitan, berbeda-beda?Memang itu jugalah reaksi Ludemann, dan pengikut2nya. Baginya keempat Injil tdk dpt dipercaya, krn mrk menceritakan hal2 yg berbeda-beda, masing2 dgn versinya. Pandangan yg sama juga pernah ditegaskan oleh almarhum Wismoadi, guru besar STT Jkt, dlm bukunya Di Sini Kutemukanitu. Namun, bagi saya, tentu juga bagi banyak orang, perbedaan penulisan dari penulis2 Injil, termasuk rasul Paulus sebenarnya tidak cukup kuat utk menyangkal kebangkitan tsb. Seharusnya, sebaliknya yg terjadi. Mari kita ambil sebuah contoh, tentang Perdana Menteri dari Spura yg datang ke Indonesia. Apakah kita mengharapkan bhw semua koran akan menulis peristiwa yg sama dgn cara yg ! sama? Apakah tdk mungkin terjadi bhw Kompas menyoroti percakapan politik di Cendana, Suara Pembaruan menyoroti percakapan business di hotel Hilton, dan pos Kota menceritakan makan ikan di Muara Angke? Jika terjadi perbedaan laporan seperti itu, apakah itu pertanda bhw pemimpin Spura tsb sebenarnya tdk benar2 datang ke Indonesia? Atau sebaliknya, perbedaan laporan tsb meneguhkan fakta kedatangannya?

    Secara jujur saya mengatakan bhw setelah meneliti dan mengamati kisah kebangkitan Kristus yg disampaikan oleh keempat Injil, tidak ada masalah bagi saya untuk menerimanya. Sebaliknya saya sangat diteguhkan olehnya. Dan ternyata saya tdk sendiri, krn banyak ahli yg jauh lebih senior dari saya dan yang telah lama menyelam di samudera raya Perjanjian Baru, dengan segenap hati mereka menerima pernyataan Alkitab tsb. Prof. William Lane Craig secara khusus telah meneliti hal tsb dan hasil karyanya dapat dibaca di dalam bukunya, Assessing the New Testament Evidence for the Historicity of the Resurrection of Jesus, yg merupakan volume ke 16 dari Studies in the Bible and Early Christianity tsb. Buku setebal 442 halaman tsb sepenuhnya m! erupakan pertanggung jawaban imannya kepada peristiwa kebangkitan tsb yg dpt dibaca oleh mrk yg menerima atau menggugat berita penting tsb. Mk wajarlah jk pd 18-9-1997 di St Thomas More Society of Boston College, Lane lah yg diundang utk menjawab serta menantang kembali Gerd Ludemann yg menolak kebangkitan tsb. Dlm buku tsb di atas dia menegaskan betapa akurat dan dapat dipercayanya laporan keempat Injil tsb.

    Karena itu, marilah kita lihat fakta-fakta yg sangat penting mengapa kita menerima kebangkitan Yesus tsb. Kita dapat mencatat fakta kubur kosong, batu yg terguling serta adanya perempuan2 yg menjadi saksi kubur kosong tsb. Keempat penulis Injil menyoroti hal itu bersama-sama. Di dalam penulisan tsb, mrk juga memiliki keunikan masing2. Injil Markus misalnya mencatat kekwatiran perempuan2 tsb, tentang siapa yg akan menggulingkan batu besar yg menutup kubur Yesus tsb. (Mark.16:3). Sedangkan Injil Matius menjelaskan bagaimana batu yg besar itu bisa terguling krn adanya gempa bumi yg hebat dan turunnya malaikat Tuhan dari langit. Yg menarik adl, bhw Matius mencatat bukan saja batu itu terguling MELAINKAN MALAIKAT MENDUDUKINYA! Apa gerangan yg mau disampaikannya? Biarlah orang yg percaya merenungkannya. Sedangkan Injil Yohanes sendiri mencatat hal yg kelihatannya kecil namun penting, yaitu adanya kain kapan terletak di tanah dan kain peluh yg mengikat kepala Yesus, berada dekat kain kapan itu (Yoh.20:5,6). Apa pula yg mau disampaikan oleh fakta tsb? Bahwa kebangkitan adalah metaphora? Biarlah orang yg beriman merenungkan dan memikirkannya. Apakah dengan demikian kita dpt mengatakan bhw kain kapan yg mengikat tubuh Yesus yg mati serta kain peluh pengikat kepala itu kempes karena tubuh tsb telah bertransformasi menjadi tubuh kebangkitan? Banyak perenungan dpt terjadi bagi kita yg memang mempercayai Alkitab dgn segenap hati.

    Sebagaimana telah saya tuliskan di atas, apakah penerimaan kpd kubur kosong itu adalah bukti kelemahan intelektual dan hanya mengandalkan apa yg disebut dgn iman atau percaya saja pdhal sebenarnya dia hanyalah dongeng dan kisah ciptaan hasil imaginasi para rasul yg frustrasi dan perlu mengalami pemeriksaan ilmu jiwa?Saya harus menjawab dgn tegas, tidak! Karena kita dpt mencatat pandangan orang2 yang benar-benar ahli, di mana keahliannya diakui oleh seluruh ahli sejagad. Untuk itu, kita dapat menyebut beberapa nama spt John A.T. Robinson, N.T. Wright dari Cambridge University atau seorang ahli dari Austria yg bernama Jacob Kremer, yg telah mengkhususkan dirinya meneliti kebangkitan tsb. Menurut Kremer, "By far most exegetes hold firmly to the reliability of the biblical statements concerning the empty tomb".[5] (Hampir semua ahli berpegang teguh dan percaya kpd pernyataan2 Alkitab mengenai kubur kosong). Prof J.A.T Robinson malah menegaskan lebih jauh lagi ketika dia mundur ke belakang terhadap fakta penguburan Yesus yg dipertanyakan oleh sebagian ahli sbgmn John Dominic Crossant dan Barbara Thiering tsb di atas. Dia menulis, "The burial of Jesus in the tomb is one of the earliest and best attested facts about Jesus "[6] Demikian juga, N.T. Wright, jagoan Perjanjian Baru dari Inggris tsb dalam bukunya setebal 817 halaman itu secara khusus membahas tentang kebangkitan Yesus secara ilmiah dan pendekatan Alkitabiah. Menarik sekali, dalam buku yg berjudul The Resurrection of the Son of Godtsb dia malah mengacu kepada seorang theology dan penulis Yahudi yg bernama Pinchas Lapide yang mengakui kebangkitan Yesus secara tubuh (hal.721).

    Jika hal tsb di atas digabungkan dgn nubuatan Alkitab, baik di PL maupun PB, mk iman kita akan semakin diteguhkan. Bukankah hal itu telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya kira2 700 thn sebelumnya? "Ia akan meniadakan maut utk seterusnya dan Tuhan Allah menghapuskan air mata..." (Yes.25:8). Bahkan Yesus sendiri telah berkali-kali menubuatkan hal itu, bhw Dia akan diserahkan... akan mati dan akan bangkit pada hari yg ketiga. Setidaknya hal itu telah dicatat empat kali oleh Injil Matius: 16:21; 17:22-23; 20:17-19; 26:1-2.

    Selanjutnya, Alkitab, khususnya keempat Injil mencatat penampakan Yesus yg bangkit itu. Hal itu dilakukanNya secara berulang-ulang dan kepada orang yg berbeda-beda. Injil Yohanes secara khusus mencatat penampakan Yesus kpd Maria Magdalena yg terus menerus setia mendampingi dan melayani Yesus (20:11-18). Maria inilah yg setelah dilepaskan dari perbudakan roh jahat, dengan setia mengiring Yesus hingga Yesus disalibkan dgn begitu mengenaskan di bukit Golgota. Pdhal, ketika itu murid2 Yesus sendiri, kecuali Yohanes, begitu ketakutan dan pergi entah ke mana.

    Injil Lukas yg kelihatannya telah mengantisipasi keraguan orang2 di kemudian hari telah mencatat tantangan Yesus kpd murid2Nya utk melihat tangan dan kakiNya. "Lihatlah tanganKu dan kakiKu: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, krn hantu tdk ada daging dan tulangnya spt yg kamu lihat pdKu" (24:39). Tidak cukup di sana, Lukas masih mencatat satu pembuktian secara ilmiah lainnya ketika Yesus makan ikan di hadapan murid2 (24:42-43).

    Tentu fakta inipun dpt ditolak oleh seorang yg bernama Ludemann, krn baginya itu adl karangan Lukas semata.

    Karena itu dia menulis setengah melawak bhw di sana Lukas toh tdk menjelaskan apakah Yesus masih perlu pergi ke toilet setelah makan ikan itu! Tapi kita tidak perlu pusing dgn orang2 spt itu, termasuk para pengikut2nya yg membeo saja. Pd kenyataannya, William Lane Craig sendiri yg telah melakukan research ilmiah secara jujur telah mengungkapkan karyanya sbgmn kita sebutkan di atas. Dalam buku tsb dia menegaskan,

    "The majority of New Testament scholars today -not conservatives, not fundamentalists- concur with the facts of Jesus honorable burial, his empty tomb, his postmortem appearances... and the best explanation for those four facts is that God raised Jesus from the dead".

    Itulah sebabnya kita melihat perubahan yg sangat besar dan mendasar dlm diri para rasul, sekalipun sebelumnya mrk tdk dpt membohongi diri bhw mrk sempat kecewa krn kematian Yesus yg sedemikian tragis dan memalukan!

    Namun setelah kebangkitan Yesus itu dan setelah penampakan Yesus kpd diri mrk, dgn berani mereka, khsusnya rasul Petrus yg pernah menyangkal gurunya itu berkhotbah di hadapan ribuan orang2 Yahudi yg baru bbrp wkt yl menyalibkan Yesus tsb.

    Mari kita perhatikan kenyataan ini: tema khotbah paling awal rasul Petrus ketika itu bukanlah berpusat kpd kematian Yesus, tetapi kepada kebangkitanNya. Dia bahkan menggabungkankebangkitan itu dgn nubuatan Mazmur yg dpt kita lihat pd Kis.2:25-28. Di tengah2 ribuan massa yg menyalibkan Yesus, Petrus dgn berani mengkhotbahkan kebangkitan Mesias! (Kis.2:31) Sekiranya Yesus tdk bangkit, jk kubur Yesus masih ada pd orang2 Yahudi itu, apakah Petrus berani berkhotbah ttg kebangkitan tsb? Jika pemberitaan tentang kebangkitan adl kebohongan di mana sebenarnya orang2 Yahudi memiliki dan mengetahui tempat kuburan Yesus, tentu dengan sangat mudah orang2 Yahudi akan mentertawakan Petrus serta orang2 Kristen. Mereka akan dengan mudah membantah pemberitaantsb serta mempermalukan orang2 Kristen dgn menunjukkan kubur Yesus yg mereka miliki tsb. Tp kenyataannya, tidaklah demikian.

    Apakah yang kita lihat di dalam Alkitab? Bukannya orang2 Yahudi berhasil mempermalukan orang2 Kristen dgn menunjukkan kuburan Yesus, tetapi sebaliknya, orang2 Yahudi yang mengarang cerita bahwa kubur Yesus dicuri oleh murid2 (Mat.28:11-15). Sekalipun tentu sangat sulit menerima cerita bohong tsb, karena kubur Yesus dijaga sedemikian ketat (Mat.27:62-66) sementara murid2 sedemikian lemah dan tak berdaya, namun demikian cerita itu tetap diciptakan demi melepaskan diri dari kondisi kepepet. Inti yang mau saya sampaikan adalah ini: bukannya orang2 Yahudi dan musuh2 Kristen berhasil menunjukkan kuburan Yesus, tetapi, mengarang cerita yg sangat sulit diterima akal.

    Jika kita beralih dari Petrus kpd rasul Paulus, maka kita juga melihat penegasannya ttg kematian dan kebangkitan Yesus tsb. Dia bahkan mengatakan hal itu sbg berita yang "sangat penting..." (1Kor.15:3-4). Untuk itu, dia juga menjelaskan bukti2 dari peristiwa Yesus menampakkan diriNya kpd orang yg berbeda-beda pd wkt yg berbeda-beda, termasuk kpd dirinya sendiri (ay.5-8). Dari semua penampakan itu, salah satu kalimat yg SANGAT PENTING DIAMATI adl kalimat berikut, "Sesudah itu Ia menampakkan diri kpd lebih dari LIMA RATUS saudara sekaligus; KEBANYAKAN DARI MRK MASIH HIDUP SAMPAI SEKARANG, ttp bbrp telah meninggal" (1Kor.15:6).

    Pernyataan di atas sangat penting. Penegasan itu melawan teori halusinasi sbgmn dituduhkan oleh theolog tertentu termasuk Ludemann. Apakah mungkin terjadi halusinasi kepada 500 orang pd saat yg sama? Jawabnya tentu tidak. Selanjutnya, jk sekiranya ada keraguan terhadap kebangkitan Yesus, mk ketika rasul Paulus menulis kitab tsb, mk berhentilah segala keraguan itu dengan menanyakan langsung kpd saksi mata yg MASIH HIDUP tsb. Dengan perkataan lain, segala debat, keberatan dan tantangan terhadap kebangkitan Yesus telah dipatahkan oleh rasul Paulus dgn tulisannya tsb. Jika demikian halnya, boleh dikatakan bahwa debat meragukan dan menolak kebangkitan Yesus SDH DITUTUP pada abad pertama dengan KEMENANGAN DI PIHAK PRO KEBANGKITAN.

    Apa yg terjadi dgn sekarang? Ketika saya dgn seorang teman (ketepatan pendeta dari sebuah gereja besar) berdebat berjam-jam ttg kebangkitan Yesus, mk dengan emosi tinggi dia berkata: "Buktikan kpd saya bahwa Yesus bangkit..." Tentu saya mengalami kesulitan melakukan itu, khususnya jk kita bicara dari segi saksi mata. Itulah sebabnya dia merasa menang. Karena itu, saya memintanya untuk tidak terlalu cepat tertawa dan merasa menang karena saya kemudian balas menantangnya: "Masalahnya, bukan pada saya, tapi pada diri anda. Buktikan kpd saya bahwa Yesus tdk bangkit". Hasilnya? Dia pun bungkem dan hanya bisa mengarang cerita spt pemimpin2 tsb di atas.

    Tapi lain halnya pd abad pertama ketika rasul Paulus menulis kitab di atas. Kebangkitan dpt dibuktikan oleh saksi mata yg MASIH HIDUP KETIKA ITU. Sebaliknya, pemikiran ketidakbangkitan Kristus dipatahkan.

    Ada lagi tuduhan yang aneh yang sengaja diberikan oleh mrk yg meragukan kebangkitan Yesus tsb. Mereka mengatakan bhw hal itu adl dongeng ciptaan orang2 Kristen. Tp sesungguhnya, tuduhan spt ini pun dpt dgn mudah ditolak, karena dalam masa kurang dari 30 thn sejak kematian dan kebangkitan Kristus, berita itu telah dituliskan oleh keempat penulis Injil: Mat, Mark, Luk dan Yohanes. Dalam kurun wkt singkat spt itu tidak mungkin menciptakan sebuah dongeng, di mana saksi mata masih cukup banyak yang hidup. Bahkan jika kita perhatikan surat rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, dia menulis: Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, bhw Kristus mati karena dosa-dosa kitaia telah dibangkitkan pada hari yg ketiga(1 Kor.15:3-4). Menarik sekali membaca kalimat tsb di atas, di mana itu termasuk merupakan pengakuan kepercayaan paling awal dari Gereja mula-mula. Menurut para ahli, pengakuan itu diduga sdh menyebar di berbagai jemaat mula-mula pada thn 35 M. Jadi, jk rasul

    Paulus bertobat pd tahun 32, maka 3 thn kemudian, pengakuan tsb diterima oleh rasul Paulus dan kemudian dituliskannya. Selang waktu tiga tahun sungguh merupakan waktu yang terlalu dekat untuk menciptakan sebuah dongeng.

    Bagaimana caranya orang2 liberal menjelaskan hal itu? O... gampang saja. Dengan ringan Ludemann dpt mengatakan bhw Paulus itu aneh dan mengalami gangguan jiwa yg perlu dibawa ke RS jiwa. Mengapa? Krn tdk mungkin seorang yg tadinya begitu keras menentang kekristenan tiba2 berubah sedemikian jadi pembela nomor satu! Tdk heran jk mrk ini akan membuat berbagai teori, spt rasul Paulus stress berat krn berbagai hal, mengalami visionary, terancam hidupnya, dstnya...

    Tapi kita juga punya penjelasan yg cukup kuat utk menyanggah tuduhan tsb di atas. Krister Stendahl, theolog Swedia yg boleh dikatakan tdk seinjili orang2 Injili pada umumnya (utk tdk mengelompokkannya juga kpd theolog liberal spt Ludemann) pernah menulis bhw Paulus tdk mengalami masalah spt dituduhkan tsb, krn itu tdk perlu dia menulis hal2 yg aneh2. Stendahl menulis:

    "... he experiences no troubles, no problems, no qualms of conscience. He is a star pupil, the student to get thousand dollar graduate scholarship in Gamaliels Seminary... Nowhere in Pauls writings is there any indication... that psychologically Paul had some problem of conscience".[7]

    Setelah melihat betapa kuatnya dasar yang kita miliki untuk menerima kebangkitan tsb, sekarang kita melihat apa makna praktis dari kebangkitan tsb kepada kita. Bagi saya secara pribadi, kebangkitan Yesus mengandung makna yg sangat penting, yang berhubungan dgn doktrin- doktrin penting kekristenan.

    Pertama, kebangkitan Yesus berhubungan dengan ajaran Kristologi. Kebangkitan tsb menyatakan identitas diri Yesus Kristus. Seluruh pendiri agama, betapapun besarnya mereka itu, mereka memiliki nasib dan kondisi yang sama: mereka semua berada di dalam kuburan. Tetapi Yesus mengosongkan kuburan. Ini kembali membuktikan keAllahanNya. Di dalam Kristologi, dikenal dua macam pendekatan: pendekatan dari atas, yaitu Kristologi dari atas (Christology from above) dan pendekatan dari bawah, yaitu Kristologi dari bawah (Christology from below). Pendekatan Kristologi dari bawah melihat kebangkitan Yesus sebagai klimaks penyataan diri Yesus sbg Tuhan. Rasul Petrus menulis: Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu menjadi Tuhan dan Kristus) (Kis.2:36). Pemimpin-pemimpin agama Yahudi menyalibkan Dia, tetapi Allah membangkitkanNya. Itu berarti bhw pernyataan Tuhan Yesus selama hidupNya benar adanya. Jk sekiranya Yesus adl pembohong spt tuduhan mrk yg memusuhiNya, mk Allah akan membuktikan kebohongan tsb dgn membiarkanNya tetap di dalam kuburan. Tetapi Yesus tdk bohong, Dia benar2 bangkit; Dia membuktikan diriNya sbg Allah yang melampaui nabi-nabi. Karena itu, biarlah kita menyembah dan melayani Dia seumur hidup kita.

    Kedua, kebangkitan Yesus berhubungan dengan bibliology (ajaran ttg Alkitab). Sejak PL sdh dengan sangat jelas dinubuatkan bahwa ttg kematian dan kebangkitan Yesus tsb. Itulah sebabnya rasul Paulus menulis bahwa hal itu sesuai dengan kitab suci(1Kor.15:3-4). Ketika rasul Paulus mengatakan bhw maut telah ditelan oleh kematian Yesus, dia mengacu kepada nubuatan nabi Yesaya dan Hosea (1Kor.15:54-55; Yes.25:8; Hos.13:14). Demikian juga, ketika rasul Petrus berkhotbah tentang kebangkitan Yesus, dia mengacu kepada nubuatan2 yang telah ditulis di dalam Perjanjian Lama (Kis.2:23-36). Sebagaimana telah sy tulis di atas, Injil Matius sendiri mencatat berkali-kali tentang kematian dan kebangkitan Yesus tsb (Matius: 16:21; 17:22-23; 20:17-19; 26:1-2. Lihat juga Yoh.10:17-18). Jadi, dengan kebangkitan Yesus tsb, maka pernyataan2 Alkitab di dalam PL terbukti benar, semua digenapi. Dengan demikian, kita dapat semakin mengandalkan firman Tuhan sbg landasan yg teguh bagi iman dan hidup kita.

    Penutup

    Secara jujur saya mengatakan bhw kita dpt menulis secara panjang lebar tentang kebangkitan Kristus tsb. Sy bersukacita memberitahukan bahwa di dalam perjalanan menjelajah di dalam dunia theologia yang sedemikian rumit, sy mengamati bhw sekalipun ada segelintir org yg meragukan dan menolak kebangkitan Kristus tsb, namun sangat banyak ahli-ahli theologia di bawah kolong langit ini yang membangun iman dan hidupnya di atas dasar Kristus yg bangkit tsb. Sy telah berjumpa dgn mrk secara pribadi dan mengamati sorot mata mrk yg dgn jujur menyatakan iman dan kepercayaan mrk. Jd, kita tidak sendirian mengimani tema yg sangat penting tsb. Banyak hal yg dpt kita bicarakan ttg iman dan pengajaran mrk. Tetapi kita akhiri di sini saja pembahasan tema, yang oleh rasul Paulus ditegaskan sebagai tema "yang sangat penting" tsb.

    apa yg sedang terjadi. Dia hanya dpt berteriak dengan sedih mengatakan, "Dari mana datangnya hidup dan kemana dia pergi...?" Ilmu filsafatnya BUNGKEM DAN TDK BERDAYA menghadapi kematian Anne. Tdk demikian dgn Injil yg diberitakan oleh rasul Paulus.

    Akhir kata, jika kita berada di kapal Titanic yg besar itu, kita dpt menari dan bermain sepuasnya tanpa perlu memikirkan apa yg terjadi bbrp jam lagi atau esok hari. Lain halnya ketika diberitahukan bhw Titanic bbrp jam lagi akan tenggelam! Orang2 akan terlalu bodoh terus bermain-main dan menari-nari. Mrk semua, ya semua harus segera bertindak, berhenti dari segala permainan mrk.... berlari keluar secepat-cepatnya dan mencari kapal kecil yg dpt memberi harapan agar terlepas dari maut (sekalipun usaha itu tetap tdk pasti)!

    Berita kebangkitan bukan sekedar harapan. Itu adl kepastian. Ya kepastian kehidupan kekal bagi mereka yg percaya dan menerima Dia, dan kepastian kebinasaan bagi mereka yg mengeraskan hati dan menolak!

    Kwalifikasi Perubahan Iman Kristen

    Oleh: Charles Ndaomanu

    Efesus 4:20-24 dengan penekanan di ayat 22. Di bagian ini kita akan mempelajari tentang konsep perubahan dari manusia lama menuju manusia baru. Seperti yang dikatakan dalam ayat 20 yaitu, "Tetapi kamu bukan demikian," yang berarti ada satu perubahan dari kondisi yang lama menuju pada kondisi yang baru. Dari kondisi belum mengenal Tuhan menjadi kondisi yang sesuai dengan Firman dan mengerti serta mengenal Tuhan secara tepat. Kalau kita boleh kembali pada pengajaran dan mendapatkan kebenaran yang nyata dalam Kristus, itu bukan karena kemampuan diri kita sendiri tetapi karena Tuhan masih berbelas kasihan pada kita.

    Selanjutnya dalam ayat 22 Paulus mengatakan, "Yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan." Paulus disini memberi penekanan tambahan, harus menanggalkan manusia lama! Ini merupakan satu pengajaran paradoks yang luar biasa rumit dan sulit. Alkitab menekankan iman Kristen yang menuntut satu tingkat perubahan atau pergeseran dasar yang bukan hanya dipermukaan tetapi menyangkut hingga keakar permasalahan inti iman itu sesungguhnya.

    Dan itulah yang dinamakan perubahan dari kondisi natur lama menjadi natur baru. Jikalau demikian, dalam kondisi lama atau barukah kita sekarang hidup? Inilah yang disebut paradoks dan hal ini harus kita mengerti secara tepat dalam kehidupan kita. Prinsipnya disini adalah perubahan yang nyata dari manusia lama menuju manusia baru. Pada saat kita dipanggil menjadi orang Kristen, hari itu kita percaya dan mengambil tekad di hadapan Tuhan, itu bukan berarti pada saat itu juga kita menjadi sempurna.

    Ketika kita bertobat, di dalam diri kita masih terdapat manusia lama karena ternyata tidak mudah menanggalkannya sedemikian saja. Sehingga jika kita tidak mengerti konsep paradoks ini, maka kita akan terjebak di dalam kesenjangan yang sangat besar antara fenomena dengan ideal. Jikalau demikian, apa yang dimaksud dengan pergeseran iman? Dalam kekristenan kita menuntut satu kondisi paradoks yang sangat serius karena iman disini bukan sekedar mengubah gejala fenomena atau kuantitatif tetapi menuntut terjadinya pembedaan secara kualitatif. Karena ketika kita mau meninggalkan sesuatu yang lama dan memegang sesuatu yang baru maka disitu terdapat perbedaan nilai yang harus kita pegang, dimana yang baru harus lebih bernilai daripada yang lama.

    Tetapi bagaimana kita tahu dan yakin kalau yang kita kejar itu lebih baik? Disini perlu adanya ukuran untuk menilai yang lebih baik itu. Di dalam mengerti iman Kristen, saudara harus mendapatkan keunggulan kualitatif dan bukan keunggulan kuantitatif (Flp 3:4-11).

    Sebagian besar manusia telah diracuni oleh iman humanis dan materialis dimana mereka hanya hidup mementingkan diri sendiri dan menjadi hamba uang (II Tim 3:1-2). Ini menjadi hal yang menyesatkan karena kita hanya mengejar sesuatu yang tidak ada habisnya. Jikalau kita berada dalam iman yang seperti ini dan bereligiusitas maka bagi orang seperti ini Allah merupakan alat untuk mencapai imannya. Jadi ia bukan percaya Allah tetapi percaya humanis dan materialis yang direligiusitaskan sehingga Allah harus tunduk pada imannya dan Allah tersebut harus menguntungkannya.

    Semangat dan sifat agamawi manusia yang liar dan salah itu sebenarnya semua hanya jebakan daripada nafsu iman yang palsu yang menyesatkan. Itu bukanlah pergeseran iman yang kualitatif tetapi iman yang kuantitatif, sebab sekalipun ia pindah ke agama manapun, imannya tidak bergeser karena ketika ia berganti agama itu sekedar tampak luarnya saja. Yang lebih parah, orang Kristen juga banyak yang imannya humanis dan materialis, hanya kuantitasnya digeser dari yang sedikit menuju yang lebih besar. Kalau demikian, kita adalah pembagi destruksi dunia secara total.

    Alkitab mengatakan bahwa engkau harus bergeser dari iman yang palsu, yang mementingkan diri sendiri dan yang mengejar hal-hal duniawi untuk kembali menundukkan diri pada ketaatan kepada Tuhan yang sejati. Sudahkah itu menjadi bagian kita dan maukah kita mengeser bukan hanya gejala fenomena tetapi inti iman kita? Saya ingin setiap kita benar-benar menginterospeksi diri, seberapa jauh kalau kita boleh beranugerah mendengar Firman, itu sudah mengubah kita hingga ke akar permasalahan yang paling dasar yaitu inti iman kita yang sesungguhnya? Bukankah kalau kita mempermainkan Allah maka kita sedang merusak dan membuang diri di dalam dosa yang akhirnya menghancurkan diri kita.

    Menerima Yesus sebagai Juru Selamat, bagi saya belum cukup jikalau kita tidak menguduskan Tuhan dalam hati. Karena jikalau hanya berhenti di "Juru Selamat" maka itu hanya memuaskan egoisme kita. Dalam I Petrus dikatakan, "Hendaknya engkau menguduskan Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhanmu."

    Inilah inti daripada kehidupan iman yang baru yaitu kembalinya saudara dan saya pada iman yang sesungguhnya, taat mutlak kepada Kristus, memikirkan kepentingan Tuhan dan sungguh-sungguh mau mengabdi pada Tuhan. Ketika kita bergeser dari manusia lama diperbaharui menjadi manusia baru maka itu melewati satu jalur dimana roh dan pikiran kita diubah. Itu terjadi karena kita mendengar pengajaran dan mendapatkan kebenaran yang nyata dalam Kristus.

    Disini terbaliknya antara konsep dunia dengan iman Krsiten. Konsep dunia selalu melihat perubahan kuantitatif dan tidak melihat perubahan kualitatif sedangkan Kekristenan menuntut perubahan kualitatif meskipun perubahan kuantatif belum terjadi. Paulus mengatakan, jikalau saudara sudah menjadi manusia baru maka saudara harus meninggalkan manusia lama. Itu berarti Paulus tahu bahwa ketika bertobat, manusia lama kita seringkali masih ada. Secara ideal, kita sudah menjadi orang baru namun realitanya kita masih harus berproses hingga akhirnya boleh mencapai sama seperti yang dituntut oleh Tuhan di dalam kesempunaannya. Itu proses seumur hidup yang harus dikerjakan.

    Sekarang yang perlu kita pertimbangkan adalah berkenaan dengan bagaimana proses itu dapat terjadi.

    1. Perubahan yang bersifat esensial adalah dari dalam dan bukan dari luar. Tuhan menuntut perubahan pertobatan dari dalam motivasi hati kita. Bertobat adalah ketika hati kita mulai berbalik dari hidup yang untuk kepentingan diri, sekarang untuk kepentingan Tuhan. Hati yang dulunya beku, egois dan mati, kini disembuhkan, dihidupkan oleh Tuhan sehingga menjadi hati yang takut akan Tuhan. Kita tahu bahwa hidup ini bukanlah milik kita lagi melainkan milik Tuhan.

      Mari kita menilik hati kita, benarkah kalau disebut orang Kristen, Kristen yang artinya Kristen kecil (miniatur, mencerminkan Kristus dalam hidupnya) kita mau memuliakan Kristus dalam hidup kita? Apakah kita dimotivasi dengan semua keinginan diri dan egoisme yang luar biasa? Ketika kita hidup bagi Tuhan, seringkali masih berada di dalam dua kondisi, antara melayani Tuhan atau melayani diri kita sendiri. Kita perlu peka, siapa sebenarnya yang menjadi inti dalam kita melayani!

    2. Bagaimana sikap kita terhadap dosa? Orang bukan Kristen berbuat dosa dan orang Kristenpun masih dapat berbuat dosa, lalu dimana letak perbedaannya? Bedanya adalah didalamnya. Orang yang bukan Kristen kalau berbuat dosa, ia tidak merasa perlu mengakui dan bertobat dari dosanya tetapi orang yang di dalam Tuhan, hatinya peka sekali akan dosa. Bagi saya merupakan tanda tanya besar kalau orang yang mengaku Kristen tetapi hidupnya sembarangan di dalam berbuat dosa karena bagi saya kalau seseorang sudah bertobat seharusnya ada satu kesadaran.

      Menurut Yoh 16:8 dikatakan kalau Roh Kudus diam di dalam hati seseorang maka Ia akan menginsafkan orang tersebut akan dosanya. Orang yang sadar dosa adalah karena Roh Kudus sudah menyadarkannya, saat itu ia akan menyesal dan tidak berbuat dosa lagi. Itulah tanda bahwa ia telah diperbaharui. Saya harap keinsafan kita akan dosa diperkembangkan di dalam hati kita dan menguji bagaimana hidup kita masing-masing. Biarlah hal ini terjadi selangkah demi satu langkah, mungkin tidak dapat selesai segera tetapi pasti bertumbuh dengan pertolongan kuasa Tuhan. Yang dimaksud disini adalah kuasa menjadi anak-anak Allah yang hidupnya memperkenan Tuhan Allahnya, yang tidak mempermalukan Bapanya dan yang hidup sesuai dengan sifat Bapanya (Yoh 1:12).

      Jiwa yang di dalam kesucian, kebenaran dan keadilan merupakan jiwa yang berbeda dari natur hidup di dalam dosa. Maka untuk itu Allah memberikan kuasa untuk melawan. Kita masih ada manusia lama tetapi Tuhan sekarang memberi kuasa dimana dulu tidak dapat menanggalkan hal tersebut tetapi sekarang kita mampu menanggalkannya.

    3. Waspada terhadap nafsu yang membinasakan kita. Orang yang sudah diperbaharui harus peka dan waspada terhadap semua gejala dan cobaan yang menerpanya. Saat saudara hidup santai dan tidak mau beriman, saudara akan aman tetapi ketika saudara mengambil tekad hidup setia pada Tuhan maka saat itu akan mulai muncul banyak masalah, cobaan, usaha untuk menjatuhkan dan banyak hal manis yang ditawarkan supaya saudara rusak imannya dan jatuh daripada kebenaran.

      Yesus mengajarkan supaya kita menjauhkan diri dari semuanya itu, seperti dalam doa Bapa Kami, "Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat." Itu merupakan prinsip iman Kristen. Namun waktu kita menjauhkan diri dari pencobaan, pencobaan bukannya akan tinggal diam tetapi akan terus mengejar. Satu prinsip yang harus dipegang keras oleh orang Kristen adalah bahwa barangsiapa ingin menanggalkan manusia lama, ia harus mempunyai tekad yang uncompremize (tidak ingin berkompromi sama sekali) di dalam sikap hidup kita.

      Kita jangan mudah menyerahkan diri untuk jatuh dalam hal-hal seperti itu. Seringkali banyak anak-anak remaja yang jatuh karena hal seperti itu. Mari kita mulai sadar, pada saat diubah oleh Tuhan, hal seperti itu harus dihentikan, manusia lama kita harus ditanggalkan dan kembali kepada Kristus. Ini semua demi supaya kita boleh melayani secara tepat seperti yang dikehendakiNya. Hanya dengan cara seperti itu Tuhan dapat memperbaharui keselu hidup kita demi kemuliaan nama-Nya.

    Kiranya hari ini Tuhan boleh mengusik dan mengubah hati kita sehingga kita boleh mengambil komitmen dihadapan Tuhan untuk setia mengikut Tuhan, menanggalkan manusia lama dan berjuang berproses mulai hari ini, setiap hari diubah semakin hari semakin dekat pada Kristus dan boleh memuliakan-Nya.

    Liberalisme

    Oleh: Herlianto

    Melengkapi artikel Liberalisme di Belanda dan Adat Istiadat, ada beberapa istilah yang perlu dikenal lebih jauh terutama Liberalisme. Liberalisme berkaitan dengan kata Libertas (bhs. latin) yang artinya kebebasan, dan Liberalisme mencakup banyak aliran yang berbeda artinya di bidang politik, ekonomi dan keagamaan, yang berpangkal tolak pada kebebasan orang-perorangan terhadap kekuasaan apapun (A. Heuken SJ: Ensiklopedi Gereja).Liberalisme dapat dimengerti sebagai (1) tradisi politik (2) filsafat politik dan (3) teori filsafat umum, mencakup teori nilai, konsepsi mengenai orang dan teori moral sama halnya dengan filsafat politik. ... Di Perancis, liberalisme lebih dekat dikaitkan dengan sekularisme dan demokrasi (Stanford Encyclopedia of Philosophy, 2003).

    Ensiklopedi Nasional Indonesia menyebut liberalisme sebagai aliran pikiran yang mengharapkan kemajuan dalam berbagai bidang atas dasar kebebasan individu yang dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya sebebas mungkin. Heuken lebih lanjut menyebut liberalisme dasarnya adalah pandangan Zaman-Pencerahan, bahwa manusia tidak hanya berhak mengusahakan masyarakat yang bebas dari kekuasaan negara, yang kurang mengindahkan hak-hak azasi manusia, melainkan juga membebaskan diri dari kuasa rohani yang tidak mendapat mandat dari umat. Kuasa "dari atas" ditolak.

    Mirip dengan liberalisme, Libertinisme juga berkaitan dengan Libertas. Dalam Alkitab ada disebut orang libertini yang berarti orang Yahudi yang telah bebas dari penjara Romawi dan memiliki sinagoga sendiri di Yerusalem (Kis.6:9), tetapi dalam pengertian umum, libertin adalah orang yang membebaskan diri dari kekangan, terutama norma sosial dan agama, dan moral (Wikipedia).

    Libertin mulai muncul di abad-17, mengisyaratkan sikap yang skeptik dan pemikir bebas/free-thinkers (Encyclopaedia Britannica, 2006). Dari beberapa perilaku libertin kita dapat melihat ciri-ciri libertinisme atau faham yang dianut orang libertin. Seorang tokohnya, Theophile de Viau diusir dua kali dari kota Paris karena pandangannya yang atheistik dan hidup berfoya-foya, dalam sajak yang ditulisnya di The Satirical Parnassus ia tidak menghiraukan nilai moral dan seksual, dan dalam banyak sajaknya sama halnya dengan sesama libertin Marc Antoine de Gerard Saint Amant, mereka menentang ajaran agama dan konvensi moral masyarakat. Libertin menyiapkan jalan bagi abad berikutnya yang menularkan roh kritik yang dilandaskan pada logika(Encyclopedia Encarta, 2006).

    Dari pengertian demikian, tepat seperti yang dikatakan oleh Verkuyl bahwa manusia berada di antara libertinisme dan farisiisme (lihat artikel Adat Istiadat). Disatu pihak ia ditarik kecenderungan keterbukaan dengan moralitas bebasnya, dipihak lain ia ditarik kecenderungan ketertutupan dengan moralitas kakunya.

    Liberalisme, sekalipun bisa diartikan macam-macam dalam berbagai bidang yang berbeda, memiliki pengertian sendiri dalam teologi. Liberalisme teologi adalah salah satu pemikiran agama yang menekankan penyelidikan agama yang berlandaskan norma diluar otoritas tradisi gereja. Liberalisme adalah keinginan untuk dibebaskan dari paksaan kontrol dari luar dan secara konsekwen bersangkutan dengan motivasi dari dalam diri manusia.

    Dalam Encyclopaedia Britannica, liberalisme dapat dibagi dalam tiga masa, yaitu: masa pertama dari abad-17 sampai pertengahan abad-18; masa kedua dari pertengahan abad-18 sampai akhir abad-19; dan masa ketiga dari pertengahan abad-19 sampai abad-20.

    Masa Pertama, liberalisme teologi biasa dikaitkan dengan filsuf dan matematikawan Rene Descartes. Masa ini juga disebut sebagai masa Rasionalisme dan Pencerahan. Descartes menekankan cara berfikir yang berpengaruh sampai abad-19 dan meletakkan dasar perkiraan kesadaran modern, yaitu: (1) keyakinan akan pikiran manusia, (2) mengutamakan manusia sebagai pribadi, (3) imanensi Tuhan, dan (4) keyakinan bahwa sifat alami manusia bisa dan selalu diperbaiki.

    Masa Kedua, liberalisme teologi dikenal sebagai masa Romantisme yang diawali dengan disadarinya keunikan individu dan konsekwensinya mengenai pentingnya pengalaman individu sebagai sumber khusus mengenai arti yang tidak terbatas, ini memberi nilai lebih pada kepribadian dan kreativitas individu melebihi semua nilai lain. Jean-Jacques Rousseau dan Immanuel Kant adalah arsitek dibelakang liberalisme romantis ini.

    Dalam teologi, Friedrich Schliermacher, dapat disebut sebagai bapak teologi protestan modern.Schleiermacher mengerti agama sebagai perasaan "yang intuisif" kebergantungan kepada yang kekal, atau Tuhan, yang dipercayainya sebagai pengalaman universal dari kemanusiaan. Ini menekankan pengalaman beragama daripada dogma agama. Teolog liberal berusaha untuk mendamaikan agama dengan ilmu pengetahuan dan masyarakat modern, dan mereka mengacu pada tehnik kritik historis atas Alkitab dalam usaha untuk membedakan Yesus Sejarah dan ajarannya dari dari apa yang mereka anggap sebagai mitologi dan dihasilkan oleh dogma.

    Bila semula liberalisme teologi masih memberi tempat pada yang supranatural, lama-kelamaan perkembangan liberalisme mengarah pada penekanan Yesus sebagai sekedar manusia biasa. Albrecht Ritchl menolak aspek supranatural dari hidup Yesus dan menafsirkan mujizat Yesus dalam kerangka ajaran idealisme Hegel, dan menjadikan etika sebagai jantung agama. Pengikut Ritchl Adolf von Harnack menyebut Yesus adalah tokoh manusia yang memiliki damai dan kerendahan hati yang dapat menguatkan dan membawa damai pada orang lain. Kedudukannya sebagai pengajar di Berlin sempat dipersoalkan oleh gereja Jerman karena pandangannya yang liberal mengenai mujizat Alkitab termasuk soal sifat sejarah kebangkitan Yesus.

    Masa ketiga, perkembangan liberalisme sekalipun sempat direm sejenak oleh Karl Barth dengan Neo-Orthodoxinya, makin menjauhkan agama dari aspek transendennya. Teologi Liberal masa ketiga ini juga sering disebut sebagai Modernisme dan menghadirkan pandangan yang ujung-ujungnya menafikan hal-hal yang supranatural & mujizat dan yang kekal (aeternum) termasuk Tuhan.

    Pada masa ketiga ini berkembang studi Yesus Sejarah yang menafikan sifat supra-natural Yesus. F.C. Baur memperkenalkan pendekatan yang anti-theistic dan yang supranatural dalam hubungan dengan sejarah kekristenan. D.F. Strauss (Life of Jesus) menolak sama sekali dasar sejarah elemen supranatural dalam Injil. J.E. Renan (Life of Jesus) juga senada dengan Strauss dan lebih jauh menyebut Yesus terobsesi semangat revolusi, penganiayaan dan mati syahid. Albert Schweitzer (The Quest of the Historical Jesus) disatu sisi menyalahkan Strauss dan Renan karena mengabaikan aspek eschatologis tentang kerajaan Allah dan akhir zaman, tetapi disisi lain ia meneruskan pandangan mereka karena Yesus ditampilkan sebagai politikus agama yang pemarah yang membuat kesalahan besar dalam cara hidupnya.Arthur Drews (The Christ Myth) bahkan lebih jauh memperlakukan seluruh Injil sebagai cerita fiksi. Faham Yesus Sejarah ini diteruskan oleh Jesus Seminar sejak 1985.

    Kecenderungan menafikan yang supranatural disebut juga sebagai Sekularisme. Menurut Johanes Verkuyl (Gereja dan Aliran Modern), Saeculum adalah pandangan serta sikap hidup yang menanggalkan yang waktuwi itu dari yang abadi, yang menanggalkan yang profan dari yang sakral. ... Sedang Sekularisme ialah aliran dalam kultur, dalam mana seluruh perhatian dituntut untuk dunia ini dan untuk zaman ini dengan mengucilkan Allah serta Kerajaan-Nya. Encyclopedia Wikipedia menyebut Sekularitas adalah keberadaan yang bebas dari kwalitas keagamaan dan spiritualitas, dan Sekularisme yang terkait masa Pencerahan menegaskan tentang kebebasan agama dan bebas dari agama, dalam negara yang netral dalam hal menyangkut kepercayaan, dan tidak memberikan hak khusus atau subsidi kepada agama. Britannica menyebut Sekularisme sebagai gerakan dalam masyarakat yang ditujukan untuk menjauhkan diri dari yang diluar dunia dan kembali ke bumi.

    Dalam hubungan dengan Liberalisme, Arend Theodoor van Leeuwen (Christianity in World History) menyebut Liberalisme adalah produk yang disekularisasikan dari peradaban Kristen. Dari ketiga istilah Liberalisme, Libertinisme dan Sekularisme, kita menjumpai nafas yang sama yang mendasari, yaitu membebaskan diri dari yang Aeternum dan hanya berurusan dengan yang Saeculum. Semangat sekularisme sudah terlihat dalam pemikiran Friedrich Nietzsche yang dikenal sebagai pelopor "Teologi Kematian Tuhan" (Death of God Theology). Ia bertitik tolak menafikan Tuhan yaitu pada "Tuhan yang tidak ada," karena itu "Manusia harus menentukan jalan hidupnya sendiri."

    Dalam Rudolf Bultman kita melihat skeptikisme rasional dibentuk oleh existensialisme berusaha mendikotomikan Yesus Sejarah dari Yesus Iman dan menolak konsep "the three deckers universe" (bumi - surga -neraka)yang disebutnya mitos. Seluruh etos dan pemikiran Perjanjian Baru adalah mitos. Hal-hal yang bersifat transendental dipandang sebagai mitologi dan harus dimengerti secara existensial yang subyektip. Tugas manusia adalah mendemitologisasikan ajaran PB itu. Paul Tillich mengemukakan bahwa Injil harus ditelanjangi dari sifat non-existensialnya dan terbuka bagi istilah-istilah yang bermakna bagi manusia modern. Baginya, Tuhan adalah The Ground of all Being.

    Teolog sekular selanjutnya lebih radikal menafikan yang supranatural. Dietrich Bonhoeffer dalam tulisan awalnya cukup konservatif dan kristosentris, namun pandangannya berubah radikal ketika ia dipenjara karena konspirasi membunuh Hitler. Dalam Letters from Prison ia menekankan kekristenan tanpa agama dan bahwa dunia sudah dewasa (world come of age) dan kekristenan telah kehilangan sifat keagamaannya. Manusia sudah dewasa sehingga tidak lagi perlu bergantung kepada yang disebut Allah. Lebih jauh John A.T. Robinson (Honest to God) mulai dengan keyakinan bahwa gagasan Allah "di atas sana" telah kuno, tidak bermakna lagi dan salah. Manusia dewasa harus meninggalkan konsep "proyeksi figur ayah ke angkasa" yang dipercaya itu.

    Pada tahun 1960-an konsep Nietzche mengenai "Kematian Allah" bangkit kembali di kalangan beberapa teolog radikal. Paul van Buren (The Secular Meaning of the Gospel) mengungkapkan gagasan radikalnya, dan dari judul bukunya kita dapat mengetahui kemana arah radikalisme Gabriel Vahanian (The Death of God: The Culture of Our Post-Christian Era). Harvey Cox (The Secular City) menyinggung tema yang sama. Di kalangan Roma Katolik, Robert Adolfs (The Grave of God) sampai menerima kutukan dari masyarakat disekitarnya. Yang lebih radikal lagi kita temukan dalam tulisan Thomas J.J. Altizer (The Gospel of Christian Atheism).

    Kelihatannya ada gejala menarik untuk diamati sebagai Masa Ke-empat yang bisa ditambahkan dalam tiga pembagian yang disebut Britannica, yaitu pada masa tahun 1960-an dibalik gencarnya Liberalisme Radikal yang bukan saja menafikan Allah tetapi menganggap Allah telah mati dan sudah dikubur, dunia mengalami kekosongan batin/rohani yang luar biasa yang dikenal dengan Era Posmo (Postmodernism) dimana ketika Modernisme tidak lagi memadai terjadi pencarian manusia kembali akan nilai-nilai transendental yang mereka cari dalam agama-agama mistik Timur (New Age). Di kalangan teolog Liberal ada juga usaha untuk kembali membuka diri kepada hal-hal yang dulu dinafikan, hanya sayangnya mereka tidak kembali kepada supranaturalisme Alkitab tetapi lari kepada mistikisme/gnostikisme yang dahulu dikritik oleh Bultman sebagai yang harus didemitologisasikan.

    Bila semula Liberalisme mempunyai andil memperbaiki beberapa kekeliruan Konservativisme ekstrim, ia tidak memberi jalan keluar yang lebih baik, malah nafas kebebasan itu berangsur-angsur membawa manusia kepada peninggian diri dan akhirnya makin menafikan yang kekal dan Tuhan dalam bentuk Liberalisme yang makin ekstrim.

    Lidah - Siapakah yang Berani Masuk ke Medan Peperangan Ini?

    Penulis : Jonathan K. Tunggal

    Yak. 3:6-8 Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Di Yakobus 3 dinyatakan dengan jelas bahwa lidah merupakan sesuatu yang tak terkendali dan merupakan sesuatu medan peperangan di mana setiap umat Tuhan akan mengalami pergumulan. Mengapa? Karena dengannya:

    Semua hal-hal di atas adalah mudah dimengerti. Tetapi, bilamana kita renungkan hal-hal tersebut, semua ini adalah bagian penting dari perjalanan umat Tuhan yang penuh kemenangan. Tidaklah heran penguasaan akan apa yang lidah katakan adalah sesuatu medan peperangan. Iblis tidak mau hidup anda, keluarga anda dan jemaat Tuhan untuk dipulihkan seutuhnya oleh kematian Kristus di kayu salib. Bilamana lidah ini terkendali, maka dapat dibayangkan betapa besar kemenangan umat percaya.

    Yakobus 3:6&8 mengatakan bahwa lidah tidak dapat dijinakkan oleh seorangpun. Perhatikan: Tak oleh seorangpun. Sangat nyata di hidup kita masing-masing bahwa betapapun kita berusaha menguasai, selalu terkadang ada sesuatu yang kita katakan kurang berkenan di mata Tuhan. Mengapa? Yesus berkata:

    Mat. 12:34 “Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.”

    Mat. 15:11 "Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang."

    Mat. 15:18 "Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang."

    Sangatlah jelas bahwa yang menjadi permasalahan adalah hati; apa yang lidah nyatakan adalah bersumber dari HATI. Jadi, apakah arti hati? Melaluinya,

    Jawaban singkat: Penyunatan hati. Apakah arti sunat hati?

    Kol. 2:11 Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa.

    Perhatikan akan hal berikut: Penanggalan akan tubuh yang berdosa.Ya dan benar bahwa dosa kita sudah ditebus oleh kematian Kristus. Tetapi, Kol. 2:11 juga menyatakan bahwa ada proses "penanggalan" akan tubuh yang berdosa. Ini adalah sesuatu yang progresif dan dilaksanakan setelah pertobatan kita dan sampai pada akhir hidup kita di dunia yang fana ini. Kej. 17 menceritakan kisah Abraham yang mendapatkan perintah Tuhan untuk menyunat seluruh lelaki di keluarganya sendiri, keluarga budaknya dan melingkupi dewasa dan anak-anak. Setelah itu, setiap bayi pria bangsa Israel akan juga disunat pada waktu dia berumur 8 hari.

    Apakah arti sunat hati (penanggalan akan tubuh yang berdosa) dengan melihat apa yang terjadi di sunat lahiriah?

    Bilamana setiap insan bersedia untuk menyatakan dan meminta kepada Tuhan agar supaya penyunatan hati dan penanggalan tubuh yang berdosa, maka penulis percaya bahwa cepat atau lambat hati kita bakal dirombak. Berdoalah supaya hati kita masing-masing mulai "diolah" olehNya. Adakan perjanjian denganNya. Ini lebih dari keselamatan. Memang, ini akan menyakitkan. Tetapi, jangan kuatir, umat percaya dan terutama, Roh Kudus, akan menjaga, membimbing dan melindungimu. Maka dari lidah kita akan keluar sumber air yang menyejukkan, berkat, hormat, sembah, puji syukur, karunia-karunia dan kerendahan hati. Halleluya!

    Lima Jabatan Dari Allah

    Pengajar "Dan Ialah (Yesus Kristus) yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, ..." (Efesus 4:11-13)

    "Christ chose some of us to be apostles, prophets, missionaries, pastors, and teachers, so that his people would learn to serve and his body would grow strong. This will continue until we are united by our faith and by our understanding of the Son of God. Then we will be mature, just as Christ is, and we will be complitely like him." (Ephesians 4:11-13; CEV)

    Shalom, Saudara dan saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus,

    "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari", begitulah kata peribahasa kita orang indonesia. saya belum pernah lihat orang kencing sambil berlari. mungkin maksudnya adalah sang guru melakukan sesuatu dengan baik, sedangkan murid tentu harus belajar dari gurunya. Alkitab berkata: Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya (Luk 6:40). Kita semua adalah murid, dan siapakah guru kita? Tuhan Yesus!

    Tuhan Yesus berkata: Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan padamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan. (Mat 11:28-30)

    Setelah kita belajar pada Yesus, ada beberapa dari kita yang tertarik untuk mengajarkan pula pada orang lain. Hanya saja, kita harus ingat, bahwa apa yang kita ajarkan bukanlah berasal dari diri kita, melainkan tetap berpusat pada Firman Tuhan sendiri. Dalam sejarahnya umat Israel memelihara hukum Musa, para imam membuat peraturan- peraturan kecil yang akhirnya dibakukan dalam adat istiadat dan banyak diantaranya yang sebenarnya melanggar hukum Taurat itu sendiri. Yesus mengecam mereka, yang memelihara adat istiadat yang jelas-jelas melanggar hukum Allah sendiri.

    Yang kedua, seorang pengajar seharusnya juga menjadi teladan. Perkataan Yesus penuh dengan kuasa, karena apa yang diajarkanNya, itu juga yang dilakukanNya. Ia tidak hanya mengajarkan untuk mengasihi musuh, tetapi juga mempraktekkan ajaranNya sendiri ketika Ia berada diatas kayu salib. Orang tua akan sulit mengajar anaknya untuk tidak berbohong, kalau mereka sendiri ternyata sering melakukannya. Yesus berkata bahwa kalau orang buta menuntun orang buta, tentu keduanya akan jatuh kedalam lubang. Oleh karena itu, jadikanlah Firman Tuhan sebagai pedoman utama dalam hidup ini. (Firman-Mu, p´lita bagi kakiku, terang bagi jalanku....)

    Yang ketiga, kita cenderung untuk melihat kesalahan orang lain daripada diri kita sendiri. Ini namanya egonya manusia. Ke-aku-an di dalam diri kita. Adam dan Hawa tidak mengakui dirinya bersalah ketika Tuhan bertanya kepada mereka, tetapi malah tunjuk pihak lain. Kita sebagai keturunannyapun demikian. Seringkali pula kita hanya melihat selumbar pada mata saudara kita, tanpa menyadari bahwa di dalam mata kita sendiri ada balok. Saya pribadi, sedapat mungkin memberikan tulisan yang saya sendiri sudah alami, dan selalu berpegang pada dasar Firman Tuhan. Jadi, kalau ada yang tersinggung dengan tulisan saya, dimohon untuk tidak protes kepada saya, tetapi proteslah kepada Tuhan Yesus.

    Yang keempat. Ada warning dari Yakobus. Dia berkata: Jangan ada diantara kita yang mau jadi guru, sebab seorang guru akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat (Yak 3:1). kenapa begitu? sebab seorang guru kemungkinan besar akan mengajarkan sesuatu kepada orang lain "beban-beban yang berat" dan meminta orang lain tersebut untuk memikulnya, padahal dirinya sendiri tidak mau memikulnya. Klop dengan Lukas 6:38b : Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

    Nah, paling enak belajar ama Tuhan Yesus. syaratnya guampangg, tinggal percaya aja. Just believe the Word! Buat kita-kita yang suka jadi pengajar, siap-siaplah untuk dihakimi oleh kata-kata kita sendiri. Amien.

    Gembala
    "Dan Ialah (Yesus Kristus) yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, ..." (Efesus 4:11-13)

    "Christ chose some of us to be apostles, prophets, missionaries, pastors, and teachers, so that his people would learn to serve and his body would grow strong. This will continue until we are united by our faith and by our understanding of the Son of God. Then we will be mature, just as Christ is, and we will be complitely like him." (Ephesians 4:11-13; CEV)

    Shalom, Saudara dan saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus,

    Buat kita-kita yang pernah merasakan tinggal di pedalaman, pasti tahu yang namanya gembala. bahasa kerennya: tukang ngangon wedus. sayangnya, disini jarang ada peternakan domba, jadi kita cuma bisa pelajari dari saudara sepupunya, kambing. tapi kali ini, kita belajar tentang gembalanya dulu.

    Bicara soal gembala, kita ingat bahwa Yesus pernah berbicara tentang hal ini di dalam Yoh 10:1-21. Tuhan Yesus memberi perumpamaan dan kemudian mengatakan bahwa diriNya adalah pintu. dan hanya domba yang masuk melaluiNya yang akan menemukan padang rumput. Keselamatan masuk sorga hanya lewat Yesus. tidak ada jalan lain. Kemudian Yesus mengatakan diriNya sebagai gembala yang baik. Jadi, ada 2 macam gembala, yaitu yang baik dan yang tidak baik.

    "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu." (Yoh 10:11-12)

    Dalam gereja manapun, pasti ada jabatan gembala/pastor. Jabatan ini bukan hanya sekedar panggilan, tetapi juga ada tanggungjawab yang harus dipikul dan Allah sendiri yang menuntutnya. Yesus adalah Gembala Agung (I Pet 5:4) dan pemimpin gereja adalah gembala-gembala kecilNya. Gembala yang baik adalah seorang gembala yang rela menyerahkan nyawanya buat melindungi domba-dombanya. Amien? Kalau ada serigala trus gembalanya kabur, itu namanya bukan gembala yang baik. Nah, buat kita-kita, para dombaNya, selidiki benar-benar, apakah gembala gereja kita baik atau tidak.

    Selain itu, kita juga kudu kenal suara gembala kita (ay 14). maksudnya, apa yang ia ajarkan tidak bertentangan dengan Firman Tuhan. Kita kan dombanya Allah, kalau kita saja nggak kenal suara Yesus lewat firmanNya, gimana kita bisa bedain suara gembala yang baik dan yang jahat? iya nggak? Kemudian gembala tsb juga akan mengumpulkan domba-domba lain untuk membawanya ke kandangnya (ay 16). artinya, gerejanya makin lama makin banyak jemaatnya.

    Nah, sekarang kita bicara mengenai karakter seorang gembala. rasul petrus adalah contoh yang baik. Tuhan Yesus bertanya kepadanya tiga kali dan diakhiri dengan statemen: Gembalakanlah domba-dombaKu. Petrus mengajarkan dalam kitabnya, I Petrus 5:2-3, yaitu: Jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela. Jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Jangan bisanya cuma nyuruh ama prentah aja, tapi juga harus jadi teladan. Begitulah pesan dari petrus.

    Penting bagi kita sebagai domba-dombaNya untuk memiliki seorang gembala yang baik di dalam dunia ini. Mengapa demikian? karena kita sebagai domba tentu butuh makan rumput yang enak dan minum dari air yang tenang (iman semakin bertumbuh, pengharapan semakin besar, dan kasih semakin nyata) . Kita butuh perlindungan dari gembala kita dari serangan jahat. selain itu, apa yang gembala kita miliki, bisa ikut transfer ke kita-kita juga. Misalnya, kalau gembalanya takut sama setan, maka domba-dombanya pun begitu. kalau gembalanya kena sakit kanker, dombanya pun bisa ikut-ikutan kena kanker. Percaya atau tidak, demikianlah kenyataannya. Makanya petrus bilang kepada para gembala: jadilah teladan.

    Penginjil
    "Dan Ialah (Yesus Kristus) yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, ..." (Efesus 4:11-13)

    "Christ chose some of us to be apostles, prophets, missionaries, pastors, and teachers, so that his people would learn to serve and his bo403would grow strong. This will continue until we are united by our faith and by our understanding of the Son of God. Then we will be mature, just as Christ is, and we will be complitely like him." (Ephesians 4:11-13; CEV)

    Syalom, Saudara dan saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus,

    Nah, kalau jabatan yang satu ini, nggak usah pusing-pusinglah, pasti setiap denominasi gereja mengakuinya. Bahkan tahun-tahun belakangan ini sedang booming. Dari sekolah-sekolah untuk menjadi penginjil sampai kursus kilat alkitab mengajarkan kita untuk mewartakan kasih Kristus kepada setiap orang yang kita kasihi. Apa pasal? soalnya ini menyangkut perintah Tuhan Yesus sendiri, yang terkenal disebut sebagai "amanat agung"! Pergilah! Beritakan kabar baik pada dunia! Jadikan semua bangsa muridKu! Lakukan semua yang telah Ku ajarkan! Babtislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus! Dan ketahuilah, Aku akan menyertaimu sampai pada akhir jaman!

    Bagi kita orang Kristen yang percaya ama Firman Tuhan (lho? emangnya ada, orang kristen yang gak percaya ama firmanNya?), jaminan Keselamatan itu hanya lewat Yesus. Kita bisa yakin masuk sorga bukan karena rajin ke gereja, seneng nyanyi lagu rohani, haleluya setiap kali ngomong, nyumbang buat gereja, apal isi alkitab, aktip pelayanan, tapi karena kasih karunia, karena anugerahNya kita boleh percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat atas diri kita pribadi. Nah, lewat iman keselamatan inilah kita bertolak. Orang yang belum percaya Yesus belum diselamatkan! tidak bisa masuk sorga! Kedengarannya memang terlalu lancang, tapi begitulah kenyataannya. Tuhan yang bilang begitu, bukan saya, kok.

    Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6)

    Nah, untuk jabatan yang satu ini, pendeta gak protes, soalnya gak bakalan melampaui wewenang dan pamornya pendeta. Padahal, jabatan "pendeta" tidak pernah ada dalam lima jabatan Allah. "pendeta" hanyalah gelar buatan manusia, supaya diakui dan dihormati para manusia.

    Jadi, siapapun bisa jadi penginjil. tak perlu sekolah teologia, tak perlu ditahbiskan, tinggal pakai gelar Ev. secara instant (evangelist=penginjil). Apa sih kriterianya menjadi seorang ev.? simple. Sudah pernah merasakan kasih Kristus, percaya bahwa Yesus satu-satunya Tuhan dan Juruselamat, dan rindu memberitakan kasih Tuhan kepada orang lain yang belum mengenal siapa Yesus. Punya beban secara pribadi bahwa ia harus membalas kebaikan Tuhan Yesus. tidak pakai embel-embel. Seorang Kristen sejati adalah suratan Kristus yang terbuka, kata alkitab. artinya, Kristus terpancar lewat kehidupan kita sebagai pelaku firman. Saling mengasihi dan mengampuni.

    Lalu, bagaimana sih, caranya untuk menjadi penginjil yang baik? nah, yang ini saya serahkan ke tangan kalian masing-masing. pelajari Yoh 4:1-42. Perhatikan bagaimana caranya Ev. Yesus Kristus sedang beraksi menginjili perempuan berdosa dari Samaria. Selamat mempelajari!

    Orang-orang Kudus
    "Dan Ialah (Yesus Kristus) yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, ..." (Efesus 4:11-13)

    "Christ chose some of us to be apostles, prophets, missionaries, pastors, and teachers, so that his people would learn to serve and his body would grow strong. This will continue until we are united by our faith and by our understanding of the Son of God. Then we will be mature, just as Christ is, and we will be complitely like him." (Ephesians 4:11-13; CEV)

    Shalom, Saudara dan saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus,

    Ayat diatas berbicara tentang lima jabatan yang ditunjuk Allah sendiri untuk memperlengkapi siapa? orang-orang kudus. siapakah orang- orang kudus tsb? Ya, ayat tersebut mengacu pada: kita! orang yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

    Banyak orang kristen yang sudah alergi mendengar kata "orang kudus". Dunia ini penuh dengan komentar-komentar negatif seperti: ah, sok suci kamu!, atau: kayak orang bener aja kamu ini!, dan kritik miring lainnya sehingga dalam pikiran kita menyimpulkan bahwa orang kudus hanya ada di sorga.

    Saya sendiri masih malu mengakui bahwa saya adalah orang kudusNya, tetapi memang begitulah kata Tuhan kepada kita. Kekudusan yang kita peroleh bukan karena usaha kita, tetapi semata-mata karena anugrah Tuhan Yesus, karena saya percaya kepadaNya, mengakui semua dosa saya, maka darahNya menyucikan saya dari segala dosa saya. Hidup masa lalu saya yang penuh dosa telah mati, terkubur dalam babtisan dan sekarang saya hidup untuk Yesus, untuk memberitakan kasihNya.

    Lalu seseorang akan protes kepada saya, apakah saya sekarang sudah tidak berdosa lagi? Jujur saya katakan, sekali-kali masih, tetapi bedanya sekarang saya benci dosa. ketika saya jatuh berdosa, saya tidak mau lama-lama berkubang dalam dosa tersebut, tetapi buru-buru saya akui kepada Tuhan dan meninggalkan dosa tersebut. Pertobatan tetap kita lakukan setiap hari. Tuhan Yesus mengajari kita berdoa Bapa kami agar di praktekkan setiap hari, percaya bahwa Tuhan mengampuni dosa kita sama seperti kita mengampuni kesalahan orang lain kepada kita.

    Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (I Yoh 1:9)

    Ketika kita baru percaya dan dibabtis, kita terlahir sebagai bayi rohani yang baru. roh manusia kita yang lama telah mati karena dosa adam, oleh karena itu kita harus dilahirkan kembali. Dan sebagai bayi rohani, kita butuh makanan rohani dari para pengajar, gembala, penginjil, rasul dan nabi yang telah ditunjuk oleh Allah supaya kita semakin dewasa dan mengerti akan Allah lewat firmanNya.

    Kita adalah masing-masing sebagai anggota dalam Tubuh Kristus. Kristus adalah kepalanya. Kita adalah sel-selnya. Tahukah anda bahwa setiap hari, jutaan sel dalam tubuh anda mati dan juga diperbaharui secara bersamaan? Tubuh kita pun memiliki banyak anggota, dan masing- masing memiliki fungsinya. Sel yang sudah dewasa akan berfungsi dengan baik dalam melayani tubuh. Demikian juga masing-masing dari kita yang sudah dewasa rohani memiliki tujuan yang sudah Tuhan tetapkan, sebagai apapun itu, haruslah kita terima dengan rasa syukur.

    Yesus Kristus
    "Dan Ialah (Yesus Kristus) yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, ..." (Efesus 4:11-13)

    "Christ chose some of us to be apostles, prophets, missionaries, pastors, and teachers, so that his people would learn to serve and his body would grow strong. This will continue until we are united by our faith and by our understanding of the Son of God. Then we will be mature, just as Christ is, and we will be complitely like him." (Ephesians 4:11-13; CEV)

    Shalom, Saudara dan saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus,

    Yesus datang ke dunia sebagai manusia. Ia adalah Firman Allah yang hidup, sudah ada sejak semula dan selalu bersama-sama dengan Allah dan Ia adalah Allah. Namun, Ia rela menanggalkan semua atribut ke- Allah-an Nya dan mengambil rupa sebagai seorang hamba. Apa yang Dia lakukan sebagai seorang manusia?


    Tuhan Yesus memberkati.

    Mau Ke Sorga atau Ke Neraka Selamanya?

    Apa yang terjadi jika seorang yang beriman meninggal dan apa yang terjadi bila seorang yang tidak beriman meninggal ? Alkitab cukup jelas tentang hal ini. Di 2 Korintus 5:8 kita baca: "Tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan."

    Di Filipi pasal 1 kita juga menemukan bahasa yang sama. Ketika kita diselamatkan, kita diberikan kebangkitan roh yang baru dimana kita juga mendapatkan hidup yang kekal. Kematian jasmani adalah pemisahan roh dari tubuh, jadi roh kita meninggalkan tubuh kita yang akan dimasukkan ke dalam kubur, dan roh kita akan pergi untuk hidup dan memerintah bersama dengan Kristus di sorga. Dan di 1 Tesalonika 3:13 kita baca: "Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya."

    Dan di 1 Tesalonika 4:13-15 kita baca: "Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal."

    Pada hari terakhir, Kristus akan datang dengan semua orang kudus-Nya, yaitu mereka yang sudah mati dan diselamatkan, yang dalam keadaan roh tetap hidup bersama dengan-Nya di sorga. Dan pada hari terakhir, tubuh mereka semua akan dibangkitkan untuk mendapatkan tubuh yang baru yang sudah dipermuliakan dan tidak dapat binasa, dan mereka akan kembali menjadi satu kepribadian yang utuh lagi.

    Di pihak lain, ketika seorang yang belum diselamatkan meninggal, rohnya tidak menerima kehidupan yang kekal, jadi dia tidak dapat masuk ke dalam sorga. Rohnya akan dipisahkan dari tubuhnya, tubuhnya akan ditaruh didalam kuburan, persis seperti tubuh orang yang beriman dimasukkan dalam kuburan, tetapi roh orang yang tidak beriman akan pergi ke suatu "tempat sunyi" (Mazmur 115:17). Dan disitu mereka "tidak mempunyai kesadaran apa-apa" (Wahyu 20:5) sampai pada hari pengadilan terakhir ketika mereka akan dibangkitkan dan berdiri sebagai kepribadian yang utuh di hadapan takhta pengadilan Tuhan. Di Yohanes 5:28-29 Tuhan berkata: "Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum."

    Mereka yang telah meninggal dunia dan tidak diselamatkan akan dibangkitkan untuk diadili dan mereka akan diadili bersama-sama dengan semua orang yang tidak diselamatkan yang masih hidup di bumi ketika Kristus datang kembali untuk yang kedua kalinya. Mereka yang diadili sudah pasti akan ditemukan bersalah atas dosa-dosa mereka dan kemudian hukuman dijatuhkan yaitu dibuang ke neraka untuk selama-lamanya.

    Sedangkan untuk sekarang ini, mereka yang sudah mati tapi tidak diselamatkan tidak dapat langsung pergi ke neraka sebab mereka belum resmi diadili, dan mereka akan diadili pada hari terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa kita semua sungguh-sungguh memerlukan Juruselamat untuk menebus dosa-dosa kita sebab pilihannya adalah amat mengerikan untuk direnungkan.

    Saya mempunyai pertanyaan, anda berkata kalau seorang yang belum diselamatkan mati dia akan pergi ke tempat yang sunyi. Tetapi pendeta di gereja saya berkata bahwa orang yang belum diselamatkan akan disiksa sampai hari terakhir, dan Wahyu 20:13-14 mendukung hal ini.

    Tidak, itu tidak bisa terjadi seperti itu. Orang-orang yang tidak diselamatkan tidak bisa dijatuhi hukuman sebelum mereka diadili, jadi harus ada pengadilan terlebih dahulu dan pengadilan itu akan dilangsungkan pada hari terakhir. Tuhan tidak bisa memasukkan seseorang ke dalam neraka sebelum mereka diadili dan ditemukan bersalah. Mari kita lihat Wahyu 20:13-14, tetapi sebelumnya mari kita baca Wahyu 20:5:

    "Tetapi orang-orang mati yang lain [yaitu orang-orang yang tidak diselamatkan] tidak bangkit [yaitu mereka tidak mempunyai kesadaran apa-apa] sebelum berakhir masa yang seribu tahun itu................"

    Hal ini terjadi sampai habisnya masa "seribu tahun" secara rohani, dan ini adalah "kesempurnaan masa" (completeness) yang telah ditetapkan oleh Tuhan untuk mereka. Kemudian di ayat 13 kita baca:

    "Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya [ini berarti bagaimanapun mereka mati dan dikubur sewaktu mereka meninggal dunia, Tuhan mampu untuk membangkitkan mereka pada hari terakhir], dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya,..............."

    Sekarang anda lihat neraka adalah berarti "berada di bawah murka Tuhan", dan sebetulnya setiap orang yang belum diselamatkan mereka masih berada dibawah murka Tuhan. Mereka belum dibuang ke dalam neraka karena mereka harus diadili terlebih dahulu. Semua orang yang secara fisik hidup di bumi dan belum diselamatkan secara spiritual mereka juga berada di neraka. Ungkapan "maut" menunjuk kepada dunia orang mati dan ungkapan "kerajaan maut" menunjuk kepada dunia orang yang masih hidup tetapi belum diselamatkan. Itulah mengapa kita baca di ayat 11 dan 12:

    "ada suatu takhta putih yang besar, dan orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab."

    Jadi mereka yang tidak diselamatkan akan berdiri di depan tahta pengadilan itu pada hari terakhir, mereka sudah pasti akan ditemukan bersalah dan kemudian dibuang ke dalam lautan api, yaitu dihukum untuk selama-lamanya, apinya tidak akan padam dan asapnya akan membubung terus untuk selama-lamanya (Wahyu 14:11, Yesaya 66:24).

    Bisakah anda memberitahukan kepada saya dimana dikatakan bahwa orang mati yang belum diselamatkan pergi ke tempat sunyi?

    Ya, ini ada tertulis di dalam kitab Mazmur. Sebelumnya kita sudah lihat di Wahyu 20:5, bahwa "orang-orang mati yang belum diselamatkan tidak bangkit", atau mereka tidak mempunyai kesadaran apa-apa sampai pada hari terakhir, dan kemudian di Mazmur 115:17, kita baca:

    "Bukan orang-orang mati akan memuji-muji TUHAN, dan bukan [tidak juga - KJV] semua orang yang turun ke tempat sunyi,"

    Orang mati yang dimaksud di bagian yang pertama adalah orang-orang yang "mati secara rohani" tetapi masih hidup didunia ini, sedangkan bagian yang kedua menyatakan bila orang yang belum diselamatkan meninggal dunia, roh mereka akan pergi ke tempat "tempat sunyi". Kemudian perhatikan di ayat berikutnya kita baca di ayat 18:

    "tetapi kita, kita akan memuji TUHAN, sekarang ini dan sampai selama-lamanya. Haleluya!"

    Anda lihat kalau kita sudah diselamatkan, kita menerima "kebangkitan jiwa yang baru", dimana bersamaan dengan itu kita juga diberikan hidup yang kekal. Jadi ketika kita tubuh fisik kita mati, hidup kita tidak akan berakhir, karena kita masih akan mempunyai kesadaran (didalam roh). Kita akan terus memuji Tuhan karena para malaikat akan menjemput jiwa kita untuk dibawa masuk ke dalam surga, dimana kita akan hidup dan memerintah bersama dengan Kristus sampai pada hari terakhir. Dan di hari terakhir nanti kita baru akan menerima kebangkitan tubuh yang baru, yaitu, tubuh yang sudah dimuliakan dan tidak dapat binasa.

    Memahami Permasalahan Hidup Kristiani

    Oleh: Wiempy Wijaya

    Di dalam kehidupan ini, sebagai orang Kristiani kita tidak mungkin terlepas dari berbagai macam permasalahan hidup. Ketika permasalahan hidup menimpa diri kita, kita jangan cepat menyerah dan mengeluh mengapa selalu diri kita yang mendapat masalah tersebut. Sebagai orang Kristen, ada baiknya kita merenungi ada maksud apakah sehingga Tuhan mengijinkan terjadi masalah yang menimpa diri kita. Kita harus mampu melihat dgn sudut pandang dan perspektif yang luas, jangan hanya mempunyai pemikiran yang sempit dalam menghadapi masalah hidup tersebut. Alkitab berkata demikian: "Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya". Oleh sebab itu, mungkin saja permasalahan hidup yang kita alami tersebut seijin dan sepengetahuan Tuhan untuk membangun karakter diri kita.

    Ketika masalah terjadi dalam hidup kita, jangan lupa untuk selalu berdoa memohon petunjuk dan jalan-Nya. Yakinlah cepat atau lambat Tuhan akan menjawab doa yang kita panjatkan kepada-Nya. Dan kita akan diberikan jalan keluar yang terbaik dalam memecahkan permasalahan hidup yang kita alami. Memang tidak semua permasalahan hidup akan diberikan jawaban oleh Tuhan. Rancangan Tuhan untuk membangun karakter diri kita agar menjadi serupa dgn Yesus adalah baik adanya. Mungkin saja Tuhan mengijinkan terjadi masalah hidup untuk kita jalani, untuk menempa diri kita menjadi kokoh dan dapat bertahan di segala situasi hidup yang semakin berat akhir-akhir ini.

    Dalam hidup ini, setiap manusia pasti akan mengalami permasalahan hidup. Masalah hidup yang terjadi silih berganti melanda diri kita. Ketika menghadapi hal tersebut, sbg orang percaya seharusnya kita menyerahkan semua permasalahan hidup tersebut ke tangan Tuhan. Dalam setiap masalah yang terjadi pada diri kita, pasti ada hikmah yang dapat kita petik, kita akan belajar bagaimana memecahkan masalah tersebut dgn menjadikan doa sbg kekuatan utama dalam memecahkan masalah tersebut. Petrus meyakinkan kepada kita bahwa permasalahan hidup itu normal dan dapat terjadi pada diri kita sebagai orang percaya. 1 Petrus 4:12 menulis demikian: "Janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu"

    Tuhan Yesus tidak akan membiarkan umat-Nya mengalami masalah melebihi kemampuan diri kita yang terbatas ini. Tuhan tahu sampai seberapa jauh batas kemampuan diri kita dalam memecahkan masalah yang kita hadapi. Dalam menyikapi permasalahan hidup yang terjadi, ingatlah apa yang dikatakan oleh Yesaya 41:10 yang menulis demikian: "Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan"

    Kekuatan dan pertolongan Yesus Kristus akan memampukan diri kita untuk bangkit dalam memecahkan masalah hidup yang kita alami. Tuhan Yesus akan memampukan diri kita mencari jalan keluar dan solusi yang terbaik dalam memecahkan permasalahan hidup yang kita alami. Janganlah kita putus asa dalam menghadapi permasalahan hidup yang terjadi tersebut,dan juga jangan terlalu dipikirkan dengan serius permasalahan hidup tersebut. Ketidaksanggupan diri kita dalam menghadapi permasalahan hidup, bisa menambah beban pikiran, akhirnya lama kelamaan menjadi stress. Jangan terlalu mendalam memikirkan permasalahan hidup yang menimpa diri kita. Ingatlah akan kekuatan doa yang kita panjatkan kepada Tuhan. Doa yang dipanjatkan dari hati yang tulus dan jiwa yang berserah penuh kepada Tuhan, akan dikabulkan oleh Tuhan. Matius 11:28 berkata demikian: "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu"

    Sebagai orang Kristen, kita seharusnya percaya bahwa permasalahan hidup yang menimpa diri kita, Tuhan ijinkan terjadi atas diri kita agar kita dapat memiliki karakter serupa dgn Yesus. Dan juga agar mental kita menjadi kuat, tahan goncangan ketika di lain hari kita kembali didera masalah hidup. Yakinlah bahwa Tuhan mempunyai RANCANGAN HIDUP yang indah bagi kita, jadi ketika kita mengalami permasalahan hidup, berpikirlah positif dan serahkanlah semua permasalahan hidup tersebut ke dalam tangan Tuhan. Yakobus 1:2-4 berkata demikian: "Anggaplah sbg suatu kebahagiaan jika kamu jatuh dalam berbagai pencobaan. Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu mjd sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun"

    Dan juga ingatlah akan pesan Paulus dalam 2 Korintus 4:17 yang berbunyi demikian:"Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami.

    Akhir kata, dalam menyikapi berbagai macam permasalahan hidup, kita seharusnya selalu introspeksi kepada diri sendiri, mengapa masalah tersebut bisa terjadi pada diri kita. Apakah ada maksud Tuhan dibalik permasalahan hidup tersebut. Percayalah ada "RANCANGAN INDAH" yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita melalui masalah hidup yang menimpa diri kita. Janganlah kita selalu memandang negatif masalah hidup yang terjadi dalam hidup kita. Yakinlah bahwa ada Tuhan yang begitu besar kuasa-Nya yang bekerja secara tersembunyi untuk membantu kita menghadapi setiap permasalahan hidup tersebut.

    Menanti Kedatangan Kristus dengan Hidup di Dalam Pengudusan

    Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

    “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya” (2 Timotius 4:8)

    Pendahuluan

    Kekristenan, seperti telah terjadi dalam sejarah, sering kali dipraktekkan hanya sebagai agama atau tradisi religius yang hampa. Banyak upacara dan kebiasaan keagamaan yang kering dan dilakukan tanpa gairah. Karena itu, ketika kehidupan duniawi lebih menarik dan menggairahkan, gereja menjadi sepi. Di negara Barat, beberapa gereja hanya dihadiri orang-orang yang sudah tua. Akan tetapi, sejak gerekan Pentakosta muncul pada tahun 1900, kegairahan rohani bangkit kembali. Pertama, Kerena orang percaya mengalami sendiri apa yang ditulis dalam Alkitab. Pencurahan dan karunia Roh Kudus (kharismata), terbukti tidak hanya berlaku pada zaman gereja pertama dulu. Sejak Agnes Ozman, mahasiswa di Seminari Stone’s Folly berbahasa lidah, pencurahan Roh Kudus terus terjadi. Gereja mengalami pengalaman serupa yang dulu ditulis di Alkitab. Kedua, kegairahan rohani “booming” (meledak) sejalan dengan tumbuhnya keyakinan bahwa nubuat Alkitab akan digenapi pada masa sekarang dana masa yang akan datang (future). Bangkitnya gerakan nubuatan Alkitab ini di pelopori oleh Dispensasionalisme. Kekristenan yang hanya menyakini bahwa nubuat Alkitab telah digenapi pada masa lalu (past) menjadi tidak bersemangat dan suam. Namun gerakan Pentakosta, Gerakan Kharismatik, dan Injili Dispensasional bertumbuh dalam pengharapan akan masa depan ini. Ekspekstasi tentang kedatangan Kristus kedua kali telah menjadi sumber pengharapan yang benar-benar membakar iman.


    Merindukan kedatangan Kristus kedua kali adalah sikap yang sesuai dengan anjuran Alkitab. Rasul Paulus mendukung kerinduan umat akan kedatangan Kristus, dan ia sendiri pun sangat mendambakannya (2 Timotius 4:8). Begitu juga rasul Yohanes, tentang kerinduan itu ia menuliskan “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci” (1 Yohanes 3:2-3). Karena itu, rasul Yohanes mengingatkan bahwa konsekuensi merindukan kedatangan Kristus kedua kali adalah mengupayakan kehidupan yang suci. Istilah soteriologi untuk proses penyucian ini adalah “pengudusan (sanctification)” yang progresif.

    Pengudusan orang percaya terjadi pada saat ia dilahirkan kembali oleh Roh Kudus di dalam Kristus. Selanjutnya, orang-orang percaya terus menerus mengalami proses pegudusan yang mencakup pengudusan pikiran, kehendak, emosi, hati nurani, perkataan dan perbuatan-perbuatan. Orang percaya dikuduskan oleh darah Kristus (1 Yohanes 1:7), firman (Yohanes 17:17), oleh Roh Kudus yang mendiami dan memenuhi (Efesus 5:18), dan dengan iman (Kisah 26:18). Di dalam teologi Kristen, khususnya soteriologi, dikenal tiga macam pengudusan (sanctification), yaitu, yaitu pengudusan judikal, pengudusan progresif, dan pengudusan sempurna.

    Pengudusan Judikal (Positional Sanctification)

    Pengudusan judikal disebut juga pengudusan posisional atau pengudusan awal. Proses pengudusan dimulai ketika seseorang berdosa dilahirkan baru (regeneration) dalam Kristus oleh Roh Kudus. Pada saat regenerasi, terjadi suatu perubahan radikal dari kematian rohani menjadi kehidupan rohani yang dikerjakan oleh Roh Kudus yang memampukan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa untuk dapat kembali melakukan hal yang benar menurut pandangan Tuhan. Paulus mengatakan, “telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita - oleh kasih karunia kamu diselamatkan -” (Efesus 2:5). Disini, kata kerja yang diterjemahkan “menghidupkan” adalah “synezoopoiesen”, memakai bentuk aorist tense yang berarti tindakan yang seketika atau sekejap.
       
    Regenerasi ini memampukan seseorang untuk bertobat dari dosa-dosanya dan percaya kepada Kristus bagi keselamatannya. Seseorang dapat memberi respon di dalam pertobatan dan iman hanya setelah Tuhan memberikan kehidupan yang baru kepadanya. Bertobat dan percaya disebut dengan istilah perpalingan (convertion). Bertobat merupakan suatu keputusan sadar untuk berpaling dari dosa-dosa dan iman berarti berpaling kepada Kristus untuk mengampuni dosa-dosa. Jenis iman ini mengakui bahwa seseorang tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri dan pada saat yang sama mengakui hanya Kristus yang dapat melakukannya (Yohanes 6:44).

    Jadi, setelah lahir baru, saat di mana orang perceya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya secara pribadi, posisi orang percaya disebut sebagai orang kudus. Itulah sebabnya sekalipun jemaat di Korintus masih jatuh bangun dalam dosa, bahkan banyak melakukan dosa yang parah, Paulus tetap menyebut mereka sebagai orang Kudus (1 Korintus 1:1-2).

    Pengudusan Progresif (Progressive Sanctification)

    Pengudusan progresif disebut juga pengudusan yang dinamis. Pengudusan dapat dilihat sebagai seketika dan juga sebagai proses. Itulah sebabnya orang percaya, setelah dikuduskan harus hidup dalam kehidupan yang kudus setiap hari (1 Tesalonika 5:23; Ibrani 10:14; 2 Petrus 3:18). Rasul Paulus meminta kepada jemaat di Roma supaya mereka “demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1). Regenerasi merupakan pemberian hidup yang baru, maka artinya regenerasi merupakan awal dari proses pembaharuan hidup. Dengan demikian, orang yang lahir baru telah mengalami langkah pertama dari pembaharuan hidup. Selanjutnya, orang percaya wajib mengusahakan hidup suci, mengejar kekudusan secara terus menerus. Alkitab menyebutnya dengan istilah “pengudusan”, yang bersifat dinamis bukan statis, yang progresif bukan seketika; yang memerlukan pembaharuan, pertumbuhan dan transformasi terus menerus.

    Selanjutnya, rasul Paulus mengingatkan “..karena kamu telah menanggalkan (apekdysamenoi) manusia lama (palaion anthropos) serta kelakuannya, dan telah mengenakan (endysamneoi) manusia baru (kainon anhtropos) yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kolose 3:9-10). Paulus dalam ayat ini bukan bermaksud memberitahukan bahwa orang-orang percaya di Kolose, sekarang atau setiap hari harus menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru berulang-ulang kali, tetapi Paulus menegaskan bahwa mereka telah mengalaminya pada saat regenerasi dan telah melakukannya perubahan ini ketika mereka pada saat konversi menerima dengan iman apa yang telah dikerjakan Kristus bagi mereka. Kata Yunani menanggalkan (apekdysamenoi) dan mengenakan (endysamneoi) menggunakan bentuk aorist tense yang mendeskripsikan kejadian seketika; Jadi Paulus sedang merujuk kepada apa yang telah dilakukan orang percaya di Kolose ini di masa yang lalu. Lalu apakah yang dimaksud Paulus dengan frase “terus menerus diperbaharui”? Walaupun orang-orang percaya adalah pribadi-pribadi baru, akan tetapi mereka belumlah mencapai kesempurnaan yang tanpa dosa; mereka masih harus bergumul melawan dosa. Pembaharuan ini merupakan proses seumur hidup. frase ini menjelaskan kepada kita bahwa setelah lahir baru kita harus terus menerus mengalami proses pengudusan mencakup pengudusan pikiran, kehendak, emosi, dan hati nurani.

    Paulus juga mengingatkan orang percaya “supaya kamu dibaharui (ananeousthai) di dalam roh dan pikiranmu” (Efesus 4:23). Bentuk infinitif ananeousthai yang diterjemahkan dengan “dibaharui” adalah bentuk present tense yang menunjuk kepada suatu proses yang berkelanjutan. Jadi, orang-orang percaya yang telah lahir baru dan menjadi ciptaan baru di dalam Kristus masih diperintahkan untuk mematikan perbuatan-perbuatan daging dan segala sesuatu yang berdosa di dalam diri mereka beruapa keinginan-keinginan daging (Roma 8:13; Kolose 3:5), serta menyucikan diri dari segala sesuatu yang mencemari tubuh dan roh (2 Korintus 7:1). Rasul Paulus mendorong Timotius untuk agar selalu menyucikan dirinya terus menerus, sebab “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia. Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” (2 Timotius 2:21-22).

    Pengudusan Sempurna (perfected sanctification)

    Pengudusan yang sempurna disebut juga pengudusan akhir atau lengkap. Ini merupakan pemuliaan (glorification) dan penyempurnaan yang terjadi pada saat Yesus Kristus datang kembali untuk menjemput GerejaNya. Pada akhir zaman ketika nafiri terakhir dibunyikan, semua orang percaya akan diubahkan dalam sekejab mata menjadi tubuh kemuliaan. Paulus menyatakan “Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan” (1 Tesalonika 4:15-17). Disini, Paulus menghubungkan kedatangan Kristus dengan kebangkitan orang percaya dan pengubahan tubuh orang percaya yang masih hidup. Kata pengangkatan (Inggris=repture) berasal dari kata Latin rapturo dan merupakan terjemahan kata Yunani harpazo yang berarti mengambil atau diangkat. Kata ini muncul dalam 1 Tesalonika 4:17. Mendahului pengangkatan ini ada dua peristiwa yang terjadi secara konstan atau bersamaan yaitu kebangkitan orang mati dan pengubahan tubuh.

    Pada peristiwa pengangkatan ini, hanya orang-orang mati dalam Kristus yang dibangkitkan (Lukas 14:13,14; 1 Tesalonika 4:16: 1 Korintus 15:52). Keadaan tubuh orang-orang percaya yang telah dibangkitkan tidak lagi dalam wujud yang dapat binasa, tetapi dengan tubuh yang indah, mulia dan tubuh seperti dimiliki oleh Tuhan Yesus. Peristiwa kebangkitan ini disebut kebangkitan pertama. Bersamaan dengan kebangkitan orang percaya yang mati dalam Kristus maka orang-orang percaya yang masih hidup tubuhnya akan diubah. Kebangkitan dan pengubahan tubuh orang percaya terjadi secara bersamaan dengan sekejap atau seketika. Tubuh orang-orang percaya akan diubah menjadi tubuh yang mulia seperti tubuh Tuhan Yesus. Paulus menghibur jemaat di Korintus dengan berkata “Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah. Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati” (1 Korintus 15:51). Pada saat itu segala ketidaksempurnaan kita dan akar dosa dihapuskan dari tubuh orang percaya (1 Tesalonika 3:13; 5:23,24; Ibrani 6:1,2).

    Penutup

    Alkitab menyebutkan lima macam mahkota, yaitu: (1) Mahkota kebenaran, diberikan bagi mereka yang mencintai dan menantikan kedatangan Kristus kembali (2 Timotius 4:8); (2) Mahkota abadi, diberikan kepada orang-orang yang dapat menguasai diri dalam kehidupan sehari-hari (1 Korintus 9:25); (3) Mahkota sukacita, diberikan kepada mereka yang giat bersaksi dan memenangkan jiwa-jiwa (1 Tesalonika 2:19); (4)     Mahkota kemuliaan, diberikan kepada mereka yang setia memelihara kawanan domba/jemaat (1 Petrus 5:4). (5) Mahkota kehidupan, diberikan kepada orang yang tahan dan setia mengikut Kristus sampai mati (Wahyu 2:10b). Dari lima macam mahkota itu, mahkota kebenaran akan diberikan kepada mereka yang mencintai dan menanti kedatangan Kristus kembali dengan setia. Kata mahkota yang digunakan Paulus dalam bahasa Yunani adalah “stephanos” yang mengandung pengertian penyerahan hadiah atau tropi bagi pemenang dalam suatu pertandingan.

    Kerinduan akan kedatangan Kristus kembali yang sungguh-sungguh akan mewarnai pandangan hidup orang percaya. Apapun pekerjaan dan profesi yang dijalani dalam dunia ini adalah dalam rangka memuliakan Kristus tanpa perlu bersikap fanatik emosional yang sempit. Orang Kristen yang cinta dan rindu kepada Kristus pasti memberikan waktu untuk berdoa, bersaat teduh, bersekutu, merenungkan firman, menyembah dan melayani Tuhan, dan melakukan pekerjaanNya. Bahkan, semuanya itu menjadi prioritas. Pengharapan akan kedatangan Kristus merupakan salah satu ciri pertumbuhan rohani. Jika orang Kristen benar-benar mencintai Kristus, seharusnya ia merindukan kedatangan Kristus kembali. Karinduan ini harus diwujudkan dengan cara yang benar, yaitu menjalani hidup kudus dan berkenan kepada Kristus, sebagai mempelai wanita Kristus.    

    Pada saat ini sudahkah kita siap sedia menanti kedatangan Kristus, mempelai laki-laki itu menjemput kita? Kita harus menjadi bijaksana seperti lima gadis yang bijaksana dalam perumpamaan Kristus (Matius 25:1-13) dengan menyambut Roh Kudus dan menjadikan Yesus sebagai Tuhan, Juruselamat dan Raja di dalam hidup kita, supaya pada waktu kedatanganNya kita semua ikut terangkat dan masuk dalam “pesta perkawinan” Anak Domba (Wahyu 19:7-9). Pesta Perkawin Anak Domba adalah suatu perjamuan yang dipersiapkan oleh Allah Bapa, suatu puncak pesta yang paling meriah dan sukacita bagi AnakNya yang telah menyelesaikan pekerjaan penebusan dengan sempurna. Pada saat itu jemaat dihadapkan kepada Allah Bapa oleh Yesus Kristus dalam segala kemuliaan surgawi.

    Referensi

    Chamblin, J. Knox., 2006. Paul and The Self: Apostolic Teaching For Personal Wholeness. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.
    Enns, Paul., 2004.The Moody Handbook of Theology, jilid 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang
    Erickson J. Millard., 2003. Christian theology. Jilid 2 & 3. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
    Grudem, Wayne., 1994. Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Zodervan Publising House : Grand Rapids, Michigan.
    Gutrie, Donald., 1991 New Testamant Theology, Jilid 1, diterjemahkan, Penerbit BPK Gunung Mulia: Jakarta.
    Hoekema, Anthony A., 2010. Saved By Grace. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.
    Ladd, George Eldon., 1999. A Theology of the New Tastament, Jilid 1 & 2, Terjemahkan, Penerbit Kalam Hidup: Bandung.
    Morris, Leon., 2006. New Testamant Theology. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
    Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
    Ridderbos, Herman., 2004. Paul: An Outline of His Theology. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.

    * Pdt. Samuel T. Gunawan adalah seorang Protestan-Kharismatik, Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT Lainnya. 

    Mencomot Ayat Diluar Konteks

    Penulis :Herlianto

    "... Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutar balikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain ." (2Petrus 3:15-16) Rasul Petrus dalam suratnya menulis nasehat kepada pembacanya agar berhati-hati dalam menafsirkan surat atau firman Tuhan, soalnya ia menunjuk pada nasib surat Paulus yang sekalipun ada hal-hal yang mudah dimengerti, ada juga hal-hal yang sukar difahami, sehingga mereka yang tidak memahami dan tidak teguh imannya bisa memutar balikkannya dan menjadi kebinasaan bagi mereka sendiri.

    Dalam menafsirkan ayat-ayat Alkitab, memang ada ayat-ayat yang mudah dimengerti dari teks itu sendiri, namun ada bagian-bagian yang sukar dimengerti sehingga kalau dimengerti dari sebagian teks itu sendiri, artinya bisa jauh dari pengertian sebenarnya bila dimengerti dengan melihat konteks ceritanya.

    Dalam usaha merendahkan ´nama Allah´ menjadi sekedar ´nama berhala´, pemuja nama Yahweh sering mencomot ayat-ayat sepotong dan memisahkannya dari konteks berita lengkapnya. Beberap contoh di bawah ini bisa kita lihat:

  • "Allah bagi orang-orang pra-Islam dikenal sebagai dewa yang mengairi bumi." (Passing Over, h.84).
  • "Allah adalah nama Dewa yang disembah penduduk Mekah . " (Agama-agama Manusia, h.258)


  • Ayat-ayat potongan di atas kemudian ditafsirkan bahwa sebenarnya nama Allah adalah nama ´dewa air´ yang disembah penduduk Mekah pada masa pra-Islam (jahiliah) sebelum kehadiran Islam. Tidak tanggung-tanggung potongan itu dikutip dari buku-buku tenar yang ditulis oleh tokoh-tokoh agama seperti misalnya Johan Efendi dan Huston Smith, sehingga kelihatannya benar dan meyakinkan. Namun, kalau kita membaca konteksnya, potongan ayat-ayat ini bisa berbicara lain. Lihatlah ayat konteksnya berikut (yang Bold/Underline potongan yang dicomot):

  • "Nama ´Allah´ telah dikenal dan dipakai sebelum Al-Quran diwahyukan; misalnya nama Abd Al-Allah (hamba Allah), nama ayah nabi Muhammad. Kata itu tidak hanya khusus bagi Islam saja, melainkan ia juga merupakan nama yang, oleh umat Kristen yang berbahasa Arab dari gereja-gereja Timur, digunakan untuk memanggil Tuhan." (Ensiklopedia Islam, h.23).
  • "Allah bagi orang-orang Arab pra-Islam dikenal sebagai dewa yang mengairi bumi sehingga menyuburkan pertanian dan tumbuh-tumbuhan serta memberi minum ternak. Islam datang untuk mengubah konsep yang selama ini diyakini oleh orang Arab. Yaitu Allah dalam Islam dipahami sebagai Tuhan Yang Mahaesa, tempat berlindung bagi segala yang ada . Maka ia pun meyakini Tuhan sebagai pencipta langit dan bumi serta segala yang ada ini. Tergolonglah Ibrahim sebagai penganut agama ´Hanif´ yang terbebas dari kemusyrikan" (Passing Over, h.84-85,87).
  • "Allah adalah nama dewa yang disembah penduduk Mekah . Secara harfiah, Allah berarti "Tuhan yang satu dan pasti satu." Bukan suatu Tuhan, karena hanya ada satu Tuhan. Tuhan yang esa. Tuhan kemudian menciptakan dunia, dan sesudahnya manusia. Siapakah nama dari manusia pertama ini? Adam. Keturunan Adam kemudian sampai kepada Nuh, yang mempunyai seorang putra yang bernama Shem. Dari sinilah asal usul kata "Semit". Seorang semit secara harfiah berarti seorang keturunan Sem. Seperti juga halnya dengan orang Yahudi, orang Arab memandang dirinya sendiri sebagai kaum Semit. Keturunan Shem dapat ditelusuri sampai kepada Ibrahim, dan kita masih dapat menemukan menemukan adanya suatu tradisi yang sama." (Agama-Agama Manusia, h.258,255)
  • Dari konteks tulisan yang memperluas pengertian, kita dapat mengerti bahwa ´Allah´ adalah pencipta langit dan bumi ´rumpun Semitik´ (yang dalam dialek Ibrani dikenal sebagai El/Elohim/Eloah dan dalam dialek Aram-Siria disebut ´Alaha"), yang menciptakan Adam dan keturunanya Nuh yang memperanakkan Sem dan dari keturunannya lahir Ibrahim (Abraham dalam Alkitab). Dari keturunan Ibrahim yaitu ´kaum hanif´ Islam mengenal Allah monotheisme Abraham dan yang dipercayai oleh Islam. Memang diakui bahwa pada masa pra-jahiliah, nama itu merosot ditujukan pada berbagai nama berhala impor seperti dewa air, dewa bulan, dewa kesuburan, tapi melalui kaum hanif yang masih memurnikan ajaran monotheisme Ibrahim lalu kemerosotan masa jahiliah itu dipulihkan. Dari berita yang lengkap juga diketahui bahwa nama itu bukan monopoli Arab dan Islam karena juga digunakan oleh umat Kristen yang berbahasa Arab dari gereja-gereja Timur, untuk memanggil Tuhan.

    Al-Quran menunjukkan bahwa Muhammad sendiri menyebut bahwa nama ´Allah´ sudah dipergunakan bersama umat beragama Yahudi dan Kristen pada saat Islam lahir, itu berarti sudah digunakan oleh penganut agama Yahudi dan Kristen yang berbahasa Arab jauh sebelum kehadiran Islam.

    "(Yaitu) orang2 yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran, melainkan karena mereka mengatakan: Tuhan kami Allah. Jikalau tiadalah pertahanan Allah terhadap manusia, sebagian mereka terhadap yang lain, niscaya robohlah gereja2 pendeta dan gereja2 Nasrani dan gereja2 Yahudi dan mesjid2, di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, QS.22:40)

    Kasus ini mengingatkan kita agar kita berhati-hati dalam menafsirkan suatu karya tulis, karena penafsiran sempit dengan mencomot ayat diluar konteksnya, yang menghasilkan kesimpulan ´Allah´ adalah nama dewa air/bulan, bisa memutar balikkan kebenaran dan menjadi fitnah bila telah dimengerti secara kontekstual. Karena itu, dalam membaca karya-karya sastra, kita perlu melihatnya secara kontekstual dan menghindari penafsiran sepotong dengan mencomot kutipan keluar dari kalimatnya secara utuh.

    Menerima Roh Kudus

    Firman : Yohanes 20:19-23

    Suatu peristiwa besar terjadi bahkan baru pertama kalinya dialami oleh murid-murid Yesus, dan juga merupakan suatu peristiwa penting dalam Kekristenan, yaitu peristiwa kebangkitan Yesus Kristus. Ada banyak orang tidak mempercayainya, itulah sebabnya mereka berkata, orang Kristen itu adalah seorang yang bodoh sebab menyembah seorang Nabi dan menjadikan-Nya Tuhan, dan mempercayai-Nya telah bangkit dari kematian. Namun sesungguhnya orang Kristen bukanlah orang bodoh, karena Alkitab adalah kebenaran dan telah mencatat bahwa Yesus adalah Tuhan yang telah mati untuk menebus dosa manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan. Dalam Kis. 4:12 dikatakan dibawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya kita dapat selamat selain di dalam nama Yesus Kristus. Dan Ia yang telah mati itu juga telah bangkit, ini berarti membuktikan bahwa Ia adalah Tuhan.

    Kita percaya, kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Ia adalah Tuhan, dan sekaligus merupakan jaminan untuk kita hidup berkemenangan. Disaat murid-murid-Nya diliputi oleh ketakutan terhadap ancaman orang Yahudi, Yesus datang dan mengurapi mereka dan berkata; terimalah Roh Kudus. Tetapi rasa takut membuat diantara murid-murid Yesus meragukan kebangkitan-Nya (Thomas), hal yang sama sering dialami banyak orang percaya, mereka meragukan kuasa kebangkitan Yesus, karena hatinya telah dikuasai oleh ketakutan, sehingga akibatnya sulit bagi mereka untuk mengalami kuasa pertolongan Tuhan.

    Sekarang kita pelajari perkara-perkara penting dibalik kalimat yang diucapkan Yesus; Terimalah Roh Kudus:

    Kesimpulan
    Menerima Roh Kudus mutlak, juga merupakan suatu hal yang dijanjikan Tuhan pada kita. Kehadiran Roh Kudus menjadikan kita hidup dalam-Nya, yang kemudian menuntun kita menjadi murid Kristus yang sejati, juga dapat hidup dalam buah-buah Roh yang merupakan ciri khas kehidupan Ilahi, sehingga akhirnya kita dapat mengalami mujizat-mujizat Tuhan. Sebab bagi Allah tidak ada perkara yang mustahil.

    Mengapa Ada Penderitaan?

    Penulis : Pdt. Mangapul Sagala

    Pengantar: Peristiwa yang terjadi di Aceh pada tgl 26-12-04, yaitu adanya gempa tektonik berskala 8,9 richter dan diikuti oleh gelombang besar Tsunami telah mengakibatkan bencana nasional dan regional yang sangat dahsyat, yang merupakan bencana terbesar di abad ini. Akibatnya, bukan saja terjadi kerugian materi trilyunan rupiah, tetapi juga korban jiwa ratusan ribu orang. Di Nanggroe Aceh Darussalam saja, lebih dari 137,000 orang yang meninggal dunia. Karena itu, berbagai pertanyaan muncul ke permukaan, baik dari kalangan awam, rohaniwan maupun ilmuwan. Mengapa harus terjadi bencana yang memakan korban jiwa sebanyak itu? Berbagai pertanyaan terus muncul dan dicoba untuk mencari jawabannya. Akibatnya, tidak selamanya memberikan jawaban yang semakin jelas dan memuaskan, tetapi ada juga yang membingungkan. Mengapa demikian? Karena diskusi y! ang dilakukan tsb seringkali tidak memiliki dasar-dasar pemikiran atau keyakinan bersama. Masing-masing orang atau kelompok secara bebas memberikan pandangannya.

    Karena hal di atas, usaha mengadakan seminar seperti ini (di GKI Perniagaan) sungguh merupakan suatu tindakan yang bijaksana. Dengan demikian, kita tidak membiarkan jemaat terus di dalam kebingungan, atau melanjutkan diskusi dan pemikiran disadari atau tidak- berkembang tidak terarah yang juga dapat membahayakan dan merusak iman kita.

    Apa yang dimaksud dengan theodicy?

    Dalam ilmu theologia dikenal istilah "Theodicy". Istilah tsb yang pertama kali digunakan oleh Leibniz[1] pada thn 1710 berasal dari dua kata Yunani: "Theos" (Allah) dan "dikaios" (adil/benar). Istilah tsb dikaitkan dengan usaha kita memahami keadilan dan k! ebenaran Allah, khususnya dalam masalah dan penderitaan2 yang terjadi. Pemahaman terhadap "theodicy" berupaya untuk melihat bahwa di dalam segala kesulitan dan penderitaan yang terjadi, Allah tetap dipercayai sebagai Allah yang baik dan berdaulat. Hal itulah yang menjadi judul seminar ini: "Kalau Allah baik, mengapa ada penderitaan?"

    Sebenarnya, tema tsb merupakan pertanyaan yang pernah kita tanyakan, baik kita ucapkan secara langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak. Beberapa dari pertanyaan tsb antara lain: "Kalau Allah baik, mengapa anak laki-laki saya satu-satunya meninggal dunia?"; "Kalau Allah baik, mengapa Dia memanggil suami saya begitu cepat?"; "Kalau Allah baik, mengapa Dia membiarkan calon suami saya meninggal dalam kecelakaan Lion Air?"; "Kalau Allah baik, mengapa Dia membiarkan kakak anak saya tertabrak kereta api hingga meninggal?"; "Kalau Allah baik, mengapa Dia membiarkan kakak saya kecelakaan dan mengalami kelumpuhan?"; "Kalau Allah baik, mengapa Dia membiarkan ayah saya terus sekarat di rumah sakit, hingga kami hidup menderita begin! i?"; "... mengapa anak saya yang masih kecil dan polos menderita leukimia yang sangat parah?"; "...mengapa saya bertahun tahun terus tidak mendapatkan pekerjaan?"; "... mengapa anak yang kami sangat harapkan untuk menolong kami, drop out dari UI?" "...mengapa doa saya tidak dijawab dan hingga sekarang tidak mendapatkan jodoh?" Jika kita lanjutkan, maka banyak sekali pertanyaan sejenis yang dapat kita tuliskan, yang benar-benar merupakan pergumulan jemaat.

    Bagaimana kita menjawab pertanyaan tsb di atas? Apakah Allah sungguh-sunguh baik? Saya kira, kita semua yang hadir di Gereja ini dapat menjawab pertanyaan tsb di atas dengan tegas: Allah memang baik, sungguh amat baik. Sifat Allah yang sangat baik itu dapat ditemukan dalam lembaran-lembaran Alkitab, mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru.

    Pertama, kebaikan Allah dapat dilihat dari kisah penciptaan. Mengapa Allah menciptakan alam semesta dengan segala isinya? Jika kita perhatikan kisah penciptaan semesta alam dan segala isinya (Kej.1), maka jelas sekali jawabannya. Hal itu bukan karena Dia harus menciptakannya dalam arti ada kewajiban bagiNya yang memaksaNya untuk menciptakan. Jawabannya adalah karena Allah itu kasih adanya sebagaimana ditegaskan oleh rasul Yohanes (1 Yoh.4:16).

    Kedua, jika kita mengamati manusia yang diciptakan Allah tsb, kita juga melihat bagaimana baiknya Allah terhadap manusia. Allah menempatkan manusia di sebuah taman yang sangat indah, yang dikenal sebagai taman Eden. Taman itu bukan saja indah dan segar karena ditanami dengan berbagai-bagai pohon yang menarik, tetapi juga sejuk karena sekitarnya dialiri oleh aliran-aliran sungai (Kej.2). Bukan saja demikian, Allah yang baik tsb menyerahkan semua, ya segala ciptaanNya itu kepada manusia untuk dinikmati secara GRATIS! Kita membaca dalam Alkitab: "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka... berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung burung di udara dan atas segala binatang...(Kej.1:28) Selanjutnya kita membaca: "Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya de! ngan bebas" (Kej.2:16). Bukankah firman tsb di atas sungguh menunjukkan betapa baiknya Allah itu? Saya tidak tahu berapa besar kesadaran kita akan kebaikan Allah tsb dan berapa besar syukur kita kepadaNya. Satu hal yang pasti, Daud telah mengungkapkan itu dalam mazmurnya. Pemazmur mengagumi Allah yang baik tsb dan memuji Dia atas segala kebaikanNya kepada manusia. "Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia sehingga Engkau mengindahkannya? ... Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tanganMu; segala-galanya telah kau letakkan di bawah kakinya, kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung burung di udara, dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan. Ya Tuhan, betapa mulianya namaMu di seluruh bumi" (Maz.8:5-10). Sebagaimana saya tulis di atas, tidak ada yang memaksa Allah untuk melakukan kebaikan seperti itu kepada manusia ciptaanNya. Namun itulah yang dilakukanNya.

    Ketiga, di samping segala kebebasan tsb di atas, Allah juga memberi larangan. Dengan demikian, kebebasan yang diberikanNya bukanlah kebebasan yang tanpa batas. Setelah bersabda bahwa semua buah pohon di taman boleh dimakan buahnya dengan bebas, Allah melanjutkan: "tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" (2:17). Lalu apa yang terjadi? Sekalipun banyak pilihan yang dapat dinikmati, dan hanya sedikit larangan yang mengakibatkan kematian, ternyata manusia memilih untuk melanggar larangan tsb. Akibat pelanggaran tsb di atas, semua manusia harus binasa karena dosa dan pelanggaran2nya. Itu juga yang ditegaskan oleh rasul Paulus: "Upah dosa adalah maut" (Ro.3:23a). Namun demikian, Alkitab menunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan manusia tsb binasa dalam dosa2nya. Sebalikny! a, dengan kasih Allah -yang tidak pernah dapat kita pahami sepenuhnya- Allah mengutus Anak TunggalNya untuk menyelesaikan masalah dosa tsb! Dia mati di atas kayu salib demi menggantikan kita manusia berdosa. Hal itu memang telah dinubuatkan oleh Nabi besar Yesaya sekitar 700 thn sebelum peristiwa tsb, atau sekitar 2700 thn yl. Yesaya menulis: "Dia tertikam karena pemberontakan kita, Dia diremukkan karena kejahatan kita, ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya..." (Yes.53:5). Hal itu juga yang dikumandangkan oleh Rasul Yohanes ketika dia menulis: "Karena Allah begitu mengasihi isi dunia ini, sehingga Ia telah mengutus AnakNya yang tunggal, spy setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yoh.3:16).

    Hidup yang kekal kepada manusia, berarti penderitaan dan kematian bagi AnakNya sendiri. Apakah itu tidak cukup untuk menjelaskan keagungan dan keajaiban kasih Allah tsb? Kasih dan kebaikan Allah yang sedemikian ajaiblah yang terus menerus diserukan oleh rasul Paulus, dan rasul2 lainnya dalam surat2nya. Hal itu pulalah yang diharapkan dan didoakan rasul Paulus untuk dikenali, dihayati dan dialami oleh setiap umat tebusanNya. "Aku berdoa supaya kamu bersama-sama segala orang kudus dapat memahami betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan" (Efesus 3:18). Segala puji syukur kepadaNya, dalam sepanjang sejarah Gereja, kasih dan kebaikan Allah itulah yang dialami dan disaksikan ol! eh umat Allah dari segala abad dan tempat hingga saat ini. Kasih dan kebaikan Allah tidak hanya dapat dilihat dari kisah penciptaan dan penebusan yang dikerjakanNya, tetapi juga dapat dilihat dari pemeliharaanNya tiap-tiap hari (providensia Allah). Jadi, sesungguhnya, Alkitab, mulai dari lembar pertama (Kejadian) hingga lembar terakhir (Wahyu) penuh dengan kisah kasih dan pemeliharaan Allah. Mari kita perhatikan bagaimana Alkitab diakhiri dengan janji Allah: ""Ya, Aku akan datang segera... Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin" (Why:22:20-21).

    Berbagai pandangan tentang theodicy

    Jika kita semua telah setuju bahwa Allah sungguh-sungguh baik, maka kita sekarang beralih ke bagian kedua dari tema seminar ini, yaitu, bagaimana kita menjelaskan masalah penderitaan dan kejahatan yang ada di dunia ini? Sebagai contoh, bagaimana kita menjelaskan bencana akibat badai Tsunami pada waktu yang lalu? Dari kaca mata ilmiah, barangkali soal Tsunami tsb relatif lebih mudah untuk dijawab. Para ahli dapat menjelaskan bahwa hal itu adalah akibat dari adanya pergeseran lempengan2 bumi di bawah dasar laut yang mengakibatkan gempa berkekuatan tinggi yang sangat keras Selanjutnya, hal itu disusul dengan keluarnya (dimuntahkannya) magma yang sangat besar dari bawah dasar lautan yang mengakibatkan badai dan gelombang besar, yang! disebut dengan Tsunami. Maka akibatnya bisa dipahami. Gelombang Tsunami yang memiliki kecepatan sekitar 900 km/jam tsb akan menghancurkan dan menghanyutkan bangunan, termasuk mahluk hidup, sejauh mana badai gelombang tsb bergerak!

    Tapi bagaimana menjelaskan peristiwa tsb dari segi theologis? Sungguh tidak mudah dan tidak sederhana menjelaskannya. Itulah sebabnya, harap jangan ada diantara kita yang menggampangkan dan menyederhanakan masalah tsb. Bagaimanakah manusia memahami keadilan dan kebenaran Allah dalam setiap bencana dan penderitaan yang dialaminya? Sesungguhnya, theodicy merupakan pertanyaan klasik yang terus menerus dipertanyakan di setiap abad dan tempat. Masalah theodicy sungguh tidak mudah dijelaskan. Kita dapat kembali ke abad mula-mula dan memperhatikan pandangan bapak-bapak Gereja seperti Thomas Aquinas, Augustinus, dll yang terus bergumul dengan tema tsb. Demikian juga, theolog-theolog besar abad la! lu seperti Karl Barth mengakui kesulitan dalam menjelaskan hal tsb. Seorang theolog skeptik yang bernama David Hume memberikan pernyataan sbb: "Apakah Allah ingin mencegah kejahatan tapi Dia tidak sanggup melakukannya? Jika demikian, Dia tidak maha kuasa. Atau, Dia sebenarnya sanggup melakukannya tetapi tidak menghendakinya? Jika demikian, Allah itu jahat. Atau Allah itu memiliki keduanya, Allah sanggup mencegah kejahatan dan penderitaan dan juga berkeinginan untuk melakukannya, jika demikian, mengapa ada penderitaan?"[1]

    Karena kita sedang membahas satu tema yang sangat besar yang berhubungan erat dengan tema lain yang juga sangat besar, yaitu Allah dan alam (ciptaan), maka kita maklum jika para ahli theologia memberikan pandangan yang berbeda-beda. Karena itu berbagai teori dimunculkan. Pandangan-pandangan itulah yang mau kita pelajari dalam seminar ini, setelah itu, melihat masalah tsb dari pengajaran Alkitab.

    Penderitaan Menurut Alkitab

    Apa, mengapa dan bagaimana penderitaan tsb?

    Kita telah mendiskusikan di atas berbagai pandangan yang diberikan oleh para ahli yang berkaitan dengan penderitaan. Kita perlu mempelajari pandangan tersebut dengan baik sebelum kita beralih dan menyoroti pengajaran Alkitab, yang merupakan kanon atau standard dalam menilai sesuatu. Dengan demikian pemahaman kita akan Alkitab tidak dimulai dari nol. Artinya, terlepas dari benar atau tidaknya pandangan-pandangan tersebut, apakah itu sesuai dengan Alkitab atau tidak, hal itu tetap kita perlukan. Pandangan itu menolong kita untuk mampu lebih memahami isi Alkitab.

    Jika kita meneliti Alkitab, maka ada beberapa hal penting yang dapat kita catat dalam hubungannya dengan penderitaan.

    Pertama, Alkitab mengajarkan bahwa penderitaan adalah fakta, bukan imaginasi atau ilusi. Seluruh Alkitab, baik Perjanjian Lama (contoh, Ayub) maupun Perjanjian Baru penuh dengan kisah penderitaan umat Allah (contoh, rasul-rasul di mana beberapa di antara mereka meninggal secara tidak biasa, seperti kisah rasul Petrus yang disalib terbalik). Hal itulah yang dapat kita amati secara sangat jelas dan menyolok dalam seluruh Perjanjian Baru, khususnya dalam tulisan Petrus, Yakobus dan Paulus. Mari kita amati ayat-ayat berikut: 1Pet.1:6-7; 2:18-21;4:12-19; Yak.1:2-4; Fil.1:29. Selain ayat-ayat tsb, jika kita perhatikan dalam surat II Timotius, kita menemukan adanya fakta dan penekanan penderitaan itu pada tiap fasal. Kita juga mengamati bahwa penderitaan itu terjadi secara umum, dialami oleh mereka yang per! caya dan melayani Tuhan Yesus.

    "... aku menderita" (II Tim.1:12;2:9)
    "...ikutlah (Timotius) menderita... " (II Tim.2:3; 4:5)
    "setiap orang akan menderita" (II Tim.3:12)

    Kedua, penderitaan (juga berkat) terjadi didalam kedaulatan Allah yang memelihara ciptaanNya, khususnya anak2Nya. Yang kita maksud dengan kedaulatan Allah adalah bahwa Allah bebas bertindak dan memutuskan sesuatu menurut kehendakNya sendiri, dan tidak dipengaruhi oleh oknum lain di luar Dia. Dalam Injil Yohanes kita dapat membaca dialog yang menarik antara Tuhan Yesus dengan rasul Petrus, khususnya dalam kaitannya dengan kematian Yohanes. Sebelumnya, Tuhan Yesus telah menyatakan secara terus terang bagaimana rasul Petrus akan meninggal dunia. "... tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak engkau kehendaki" (Yoh.21:18) Barangkali rasul Petrus penasaran akan isi nubuatan T. Yesus tsb, maka sambil menunjuk kepada! murid lain, yaitu Yohanes, rasul Petrus bertanya kepada Tuhan Yesus bagaimana dengan kematian Yohanes, kelak. "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?". Menarik sekali membaca jawaban Tuhan Yesus berikut: "Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal samapai Aku datang, itu BUKAN URUSANMU. Tetapi engkau, "Ikutlah Aku" (Baca Yoh.21:21-22).

    Menurut tradisi Gereja, memang kita ketahui bahwa nubuatan Tuhan Yesus tersebut sungguh-sungguh terjadi, di mana rasul Petrus mati karena disalibkan, dan disalibkan dengan posisi terbalik, kepala ke bawah dan kaki ke atas. Sedangkan menurut tradisi Gereja juga, rasul Yohanes ditangkap dan dibuang ke pulau Patmos. Di sana lah dia sampai akhir hidupnya.

    Dalam hubungannya dengan kematian tsb, barangkali ada orang bertanya, "Mengapa ada anak Tuhan yang meninggal secara tidak wajar dan mengerikan ­misalnya apa yang dialami oleh mereka di Aceh sebagai akibat dari bencana Tsunami- sedangkan yang lain meninggal secara normal dan mengakhiri hidupnya dengan manis di rumah sakit?" Atau, dalam kaitannya dengan apa yang disebut orang dengan nasib ­sekalipun Alkitab tidak mengajarkan adanya nasib- barangkali ada orang yang bertanya, "Mengapa ada anak Tuhan yang nasib hidupnya enak: hidup lancar: studi, pekerjaan, keluarga lancar dan kaya lagi; sementara yang lain kelihatannya bernasib sial, terus bergumul dalam keluarga, bergumul dengan penyakit, miskin dan sejenisnya, padahal orang tersebut sangat jelas hidup dengan benar dan mengasihi Tuhan? (Contoh paling jelas adalah kisah kehidupan Ayub yg begitu menderita. Ayub 1:6-12; 21-22). Maka jawabannya, kembali kepada penegasan Yesus tsb di atas: "Jikalau AKU MENGHENDAKI...TETAPI ENGKAU IKUTLAH AKU" (Yoh.21:22). Dengan perkataan lain, hal itu hanya bisa dijelaskan dengan adanya kedaulatan Allah di dalam hidup anak-anak yang dikasihiNya. Dan untuk itu, setiap anak-anakNya diminta untuk taat dan berserah penuh kepada kehendak dan kedaulatanNya yang suci dan mulia tsb. Semua kita diminta untuk percaya penuh kepada kasihNya yang mengatakan: ".Dan kamu, rambut di kepala mu pun terhitung semuanya" (Mat.10:30) dan jika Dia berkehendak, dalam masa penderitaan dan aniayapun, Dia sanggup menggenapkan firmanNya yang berkata: "tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang" (Luk.21:18)

    Hal yang sama juga ditegaskan oleh rasul Paulus. Menarik sekali bagaimana rasul Paulus menghibur dan menguatkan umat Allah yang sedang menderita di kota Roma. Dia tidak mencoba merendahkan penderitaan tsb, seolah-olah hal itu sesuatu penderitaan yang ringan. Dia mengakuinya sebagai penderitaan yang harus dihadapi. Namun demikian, dia mengarahkan hati dan pikiran mereka kepada kasih Allah yang telah dinyatakan di dalam Yesus Kristus. Karena itulah Rasul Paulus menulis: Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? (Ro.8:31-32).

    Rasul Paulus tidak berhenti di sana, tetapi selanjutnya dia menegaskan kembali siapa umat Allah yang menderita tsb di hadapan Allah. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat retorik, Rasul Paulus menegaskan hal-hal yang menarik tentang apa yang telah dilakukan Allah bagi umatNya, termasuk bagi mereka yang menderita di Roma. "Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?" (Ro.8:34-35). Rasul tidak berhenti di sini, dia melanjutkan dengan menyebut berbagai-bagai kesulitan dan penderitaan berat yang dialami oleh manusi! a. "Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan ". (Ro.8:35-36).

    Sangat penting untuk kita perhatikan bahwa penderitaan-penderitaan yang disebut oleh rasul Paulus di atas bukanlah sesuatu yang bersifat hipotesis, pengandaian, seolah-olah penderitaan yang disebut itu belum dialami, atau sesuatu yang masih mungkin dialami atau mungkin tidak. Dalam kenyataannya, rasul Paulus sedang menyebut KENYATAAN YANG SUNGGUH-SUNGGUH SEDANG DIALAMI oleh umat Allah di kota Roma. Mereka sedemikian menderita karena penolakan dan penganiayaan yang dilakukan oleh mereka yang memusuhi Yesus Kristus, rasul-rasul dan pengikut-pengikutNya ketika itu. Namun demikian, dalam penderitaan seperti itu, rasul Paulus menyatakan kemenangan iman yang melampaui akal manusia untuk mengerti. Kalimat-kalimat rasul Paulus di bawah ini sungguh telah menjadi penghiburan yang luar biasa dahsyatnya bagi umat Allah di sepanjang segala abad dan tempat.

    "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita". (Ro.8:37-39).

    Keempat, penderitaan menurut Alkitab, bisa bersifat negatif dan bisa juga positif. Setelah kita melihat ketiga hal sebelumnya, maka penting sekali kita memahami penegasan Alkitab bahwa penderitaan yang dialami oleh umatNya bisa bersifat negatif dan bisa juga bersifat positif. Dengan demikian, kita harus berhati-hati untuk tidak menyamaratakan penderitaan tsb, seolah-olah penderitaan itu pasti karena dosa seseorang. Orang yang menderita itu pasti karena dihukum oleh Allah. Kita harus sungguh-sungguh berhati-hati dengan pemahaman seperti ini.

    Alkitab, baik Perjanjian Lama, juga Perjanjian Baru telah mencatat contoh-contoh adanya kesalahan seperti itu. Kita dapat membaca kisah Ayub yang menderita, begitu menderita sehingga orang sangat sulit memahami adanya penderitaan seperti itu. Penderitaan yang sangat berat tsb semakin berat lagi karena adanya tuduhan dari sahabat-sahabat Ayub. Dalam penderitaan yang demikian, kita membaca bagaimana sahabat-sahabatnya memberikan satu pandangan dan pemahaman yang salah kepadanya (Ayub 4-5). Dengan berlagak seperti ahli teologia, salah seorang dari sahabat-sahabat Ayub, yaitu Elifas memberikan pernyataan berikut: "Camkanlah ini: siapa binasa dengan tidak bersalah, dan di manakah orang yang jujur dipunahkan?" (Ayub 4:7) Tidak berhenti dengan pernyataan yang agak bernada teologis tsb, Elifas malah melanjutkan tuduhannya dengan mendasarkan tuduhannya dari pengalama! nnya sendiri. "Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga. Mereka binasa oleh nafas Allah..."(Ayub 4:8-9). Sekalipun pemahaman Elifas tsb ada benarnya sebagaimana akan kita lihat sebentar- namun tidak selamanya demikian. Itulah sebabnya di akhir kisah Ayub tsb, Allah menyatakan bahwa Dia murka kepada Elifas dan kedua sahabatnya karena tidak mengatakan yang benar tentang Allah (Ayub 42:7).

    Pemahaman seperti itu (penilaian yg salah terhadap penderitaan spt dilakukan Elifas dkk terhadap Ayub)jugalah yang dikisahkan di dalam Injil Yohanes. Di dalam Injil Yohanes kita membaca satu pemahaman murid-murid yang dipengaruhi oleh pemahaman di zamannya, termasuk pemahaman orang-orang Yahudi (Judaisme). Ketika mereka melihat orang buta, maka murid-muridNya bertanya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" (Yoh.9:2). Menarik sekali memperhatikan bagaimana jawaban Yesus. Dengan jelas dan tegas Dia mengatakan bahwa kebutaan yang dialami oleh orang tsb bukan karena dosa siapapun. Lebih lagi, Yesus bahkan mengatakan satu hal yang barangkali mengejutkan banyak orang, khususnya yang menganut penderitaan sama dengan hukuman Allah. "Bukan dia dan bukan orang tuanya, tetapi KARENA PEKERJAAN PEKERJAAN ALLA H HARUS DINYATAKAN di dalam dia. Dengan perkataan lain, Allah dapat bekerja menyatakan kemuliaanNya melalui kondisi orang buta tsb. Dan memang, hal itulah yang kemudian terjadi. Ketika orang tsb akhirnya sembuh dan dapat melihat kembali karena kuasa Allah, maka semakin jelaslah pernyataan Yesus sebelumnya bahwa Dia adalah terang dunia, barangsiapa mengikuti Dia, tidak akan berjalan dalam kegelapan (Yoh.8:12). Dengan perkataan lain, kisah penyembuhan orang buta tersebut sehingga dapat melihat kembali menjadi semacam alat peraga bagi Yesus untuk menunjukkan bahwa Dia memang sungguh-sungguh terang dunia. Bukan saja melalui penyakit nama Allah dapat dipermuliakan. Pada pasal berikutnya, Yohanes mencatat bahwa kematian Lazarus pun akan menyatakan kemuliaan Allah (Yoh.11:4).

    Hal itu kembali diteguhkan ketika kuasa Allah dinyatakan di dalam kematian Lazarus, yaitu dengan membangkitkannya dari kematian.

    Kedua peristiwa tersebut, yaitu mencelikkan mata orang buta dan membangkitkan Lazarus menjadi dua tema penting di dalam Injil Yohanes dalam hubungannya dengan Kristologi. Dia adalah "terang" dan "kehidupan" sebagaimana ditegaskan di dalam pendahuluan Yohanes (Yoh. 1:4-5). Jadi, dari kedua peristiwa tsb, yaitu melalui kisah penyakit dan kematian Lazarus kita melihat dengan sangat jelas tentang pekerjaan-pekerjaan Allah, yang melaluinya Allah semakin dikenal dan dipermuliakan.

    Pengalaman seperti di atas bukanlah hanya pengalaman umat Allah di zaman Alkitab, tetapi juga di masa kini. Itulah sebabnya saya sangat terkesan membaca surat seorang pendeta dan teolog terkenal Indonesia, Dr Eka Darmaputera, yaitu bagaimana dia meresponi penderitaan yang dialami akibat penyakitnya. Surat tersebut dibacakan tgl 9-3-05 di sebuah gereja di Jakarta, yaitu pada saat persekutuan doa yang diadakan khusus untuknya karena kondisi kesehatannya yang semakin parah. Surat tersebut menyebar di berbagai milis dan telah dibaca oleh banyak orang. Banyak orang yang mendapat berkat setelah membaca surat tersebut, di mana dengan penuh kepasrahan dia menjalani hidupnya yang mengidap penyakit, yang dilihat dari segi kaca mata manusia sudah memberi tanda-tanda akan segera kembali kepada Bapa di surga. Dalam kondisi demikian, dia bahkan tidak meminta agar dia sembuh dari penyakit ter sebut, tetapi agar dia dapat mengakhiri hidupnya dengan baik. Perkenankan saya mengutip surat tersebut:

    "Rekan-rekan sepelayanan, kawan-kawan seperjuangan, dan saudara-saudaraku seiman, yang saya kasihi dengan segenap hati!"

    Terpujilah Tuhan, yang telah berkenan mengantarkan saya melalui perjuangan panjang, kurang lebih 21 tahun lamanya! ...

    Saudara-saudara sekalian, kini saya telah hampir tiba di penghujung jalan, berada di etape-etape akhir perjalanan hidup saya.

    Para dokter telah menyatakan, tak ada lagi tindakan medis yang signifikan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi kesehatan saya, kecuali - mungkin transplantasi hati. Dalam situasi seperti itu, ketika tangan dan upaya manusia tak lagi mampu melakukan apa-apa yang bermakna, kita bersyukur karena bagi orang beriman selalu ada yang amat berarti yang dapat dilakukan. Dan itulah yang kita lakukan malam ini: BERDOA. Kita menyatakan penyerahan diri kita, seraya mempersilakan tangan-Nya bertindak dan kehendak-Nya berlaku dengan leluasa

    Bila anda berdoa untuk saya - baik di sini maupun di mana saja, saya mohon janganlah terutama memohon agar Tuhan memberi saya kesembuhan, atau mengaruniai saya usia panjang, atau mendatangkan mujizat dahsyat dari langit! Jangan! Biarlah tiga perkara tersebut menjadi wewenang dan "urusan" Tuhan sepenuhnya!

    Saya cuma mohon didoakan, agar sekiranya benar ini adalah tahap pelayanan saya yang terakhir, biarlah Tuhan berkenan memberikan saya dan keluarga keteguhan iman, kedamaian dan keikhlasan dalam jiwa. Semoga Tuhan berkenan menganugerahi saya perjalanan yang tenang, kalau boleh tanpa kesakitan dan tidak mahal biayanya, sampai saya tiba di pelabuhan tujuan "

    Ketika kita membaca dan merenungkan isi kata demi kata dari surat tsb di atas, tentu kita akan belajar banyak hal, termasuk dlm hal menerima segala kesulitan dan penderitaan dengan segala kepasrahan.

    Kiranya iman dan penyerahan yang sama Tuhan karuniakan kepada kita, khususnya ketika kita mengalami masa-masa yang sulit spt Pdt Eka D tsb.

    Tetapi barangkali ada di antara kita yang berkata: "Ah, itukan pak Eka. Atau lebih tepatnya, Pdt Dr Eka Darmaputera. Mana mungkin saya bisa seperti dia, pendeta dan ahli theologia tsb? Tentu dia bisa bersikap demikian. Dia sudah mempelajarinya, dia juga sudah mengkhotbahkannya. Karena itu, dia harus menulis demikian". Bagi saya, terus terang saja, sebenarnya tidak ada keharusan bagi Dr Eka untuk bersikap dan menulis demikian, walaupun dia seorang pendeta dan doktor theologia kenamaan di republik ini. Dalam kenyataannya, berapa banyak pendeta yang memiliki kesaksian hidup seperti pak Eka? Sungguh, tidak banyak. Tidak enak menuliskan adanya kekecewaan-kekecewaan jemaat terhadap mereka yang disebut hamba Tuhan, juga yang ahli theologia. Kegagalan pendeta dan hamba-hamba Tuhan memang bukan untuk disebarluaskan. Saya sendiri merasa bahwa menyebarluaskan kegagalan pendeta, apalagi dalam bentuk tertulis bisa menjadi alat yang ampuh di tangan si jahat (setan) untuk menghancurkan pekerjaan Tuhan, baik secara umum, juga di dalam diri pendeta atau hamba Tuhan tsb. Karena itu, melakukan hal-hal seperti itu dapat juga merupakan kerja sama dengan si iblis, disadari atau tidak disadari.

    Sebenarnya apa yang membuat Eka bersikap dan menulis seperti itu? Bukan karena dia pendeta dan ahli theologia. Saya mengamati bahwa sikapnya yang demikian adalah sebagai hasil keputusannya dan komitmennya kepada Tuhan. Ya, komitmennya untuk tetap setia kepada Tuhan, baik di saat suka dan duka, termasuk ketika penyakit menggerogoti seluruh hidupnya. Jika demikian halnya, maka sebenarnya, bukan hanya pendeta atau ahli theologia yang dapat bersikap demikian, tetapi juga jemaat biasa, atau jemaat pada umumnya. Karena itulah saya juga ingin menuliskan kisah berikut yang juga sangat menarik dan patut kita ketahui dan teladani.

    Saya tidak tahu berapa banyak di antara kita yang mengenal pasangan suami istri yang juga sangat mengasihi Tuhan; namanya adalah Antonius dan Jeni Putri Tanan. Saya mengenal keluarga tsb, khususnya Jeni, karena kami selama bertahun-tahun bersekutu dan berjuang bersama-sama di persekutuan kampus. Kehidupan keluarga tsb juga patut diteladani, khususnya dalam menyikapi kesulitan dan penderitaan hidup. Sebagian dari kisah hidup mereka dalam mengiring Tuhan telah diterbitkan dalam buku kecil yang berjudul: "Tangan dan Penyertaan Tuhan".Antonius dan Jeni menikah dalam usia yang relatif tua, yaitu masing-masing telah berusia lebih dari 30 tahun. Karena itu, kita mengerti jika mereka menulis bahwa dalam usia seperti itu memiliki anak adalah sebuah hal yang memiliki urgensi tinggi. Setelah melalui berbagai proses medis, akhirnya anak pertama mereka, Joshua lahir pada tahun yang ketiga setelah pernikahan mereka. Tentu saja mereka sangat bahagia menyambut kelahiran anak tsb. Bahkan ketika bayi itu masih dalam kandungan, sudah terlihat betapa bahagianya mereka. Hal itu tercermin dari agenda harian mereka. "... Seorang laki-lakikah engkau atau seorang perempuankah engkau...? kami belum tahu... Tetapi, apapun yang Tuhan berikan akan kami sambut dengan sukacita...Cukup lama kami menantikanmu. Berita kedatanganmu menjadi berita gembira bagi opa-omamu, om-tantemu...".[2] Namun apa yang terjadi kemudian? Bayi yang sudah sekian lama ditunggu hanya berumur 10 hari. Joshua yang lahir tsb ternyata mengidap penyakit yang sangat langka, yaitu Hiersprung, yakni penyakit pada usus besarnya. Setelah begumul dengan iman dan berjuang dengan mengerahkan segala kemampuan medis, akhirnya Joshua meninggal di ruang ICU. Tentu itu merupakan pengalaman yang sangat berat bagi keluarga yang hidup benar dan mengasihi Tuhan. Perjuangan selanjutnya dari keluarga tersebut telah dituangkan dengan sangat baik dalam buku kecil tsb. Apakah mereka menyesali hidup mereka yang beriman dan melayani Tuhan? Bagaimana reaksi mereka terhadap penderitaan tsb? Menarik sekali menyimak tulisan mereka pada penutup buku tsb. "... kami sekeluaga memiliki hidup yang bahagia karena kami memiliki Kristus. Memiliki Kristus bukan berarti bahwa hidup kami terbebas dari hambatan dan kesulitan. Memiliki Kristus berarti bahwa ketika kami menghadapi kesulitan, Ia berjanji melalui firmanNya bahwa Ia sendiri yang akan menyokong dan menolong kami...".[3]

    Kiranya, pengalaman dan kesaksian hidup keluarga tsb juga menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, khususnya yang hidup mengasihi dan melayani Tuhan, namun kelihatannya menjalani hidup sulit dan penuh penderitaan.

    Antonius & Jeni Putri Tanan, Tangan Penyertaan Tuhan (Jakarta: Metanoia, 2004).
    Ibid, hal.3.
    Ibid, hal. 49.

    Kelima, penderitaan menurut Alkitab merupakan suatu keharusan, bukan pilihan yang boleh ada atau tidak ada. Barangkali ada orang yang tidak setuju dengan pandangan ini, khususnya kelompok yang mengajarkan apa yang dikenal dengan teologi sukses. Menurut pandangan tersebut, Allah sedemikian baik, karena itu Dia tidak akan membiarkan umat ciptaanNya menderita. Sebaliknya, Allah akan terus menerus mengaruniakan keberhasilan kepada setiap umatNya yang hidup berkenan kepadaNya. Penderitaan dinilai sebagai bukti adanya hukuman dan absennya berkat Allah. Namun pandangan seperti itu dapat dengan tegas ditolak, karena jelas tidak sesuai dengan pengajaran firman Tuhan. Dengan jelas rasul Paulus menulis: "Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk dia. (Fil.1:29). Bahkan menarik untuk diamati bahwa di dalam surat penggembalaan kepada Timotius kita menemukan penegasan adanya penderitaan tersebut dalam tiap fasal:

    "... Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini..." (II Tim.1:12)

    "Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus" (II Tim.2:3). "Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita" (II Tim.2:9)

    "Setiap orang yang mau hidup beribadah dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya" (II Tim.3:12).

    "Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal... sabarlah menderita" (II Tim.4:5).

    Jadi, melihat semua ayat-ayat tersebut di atas, maka sesungguhnya kita tidak perlu meragukan adanya penderitaan tsb. Penderitaan tersebut pasti dialami oleh setiap umat Allah, termasuk hamba-hamba Allah yang sungguh-sungguh. Hal itu sangat jelas dari kata ganti yang digunakan dalam ayat-ayat tersebut di atas: "aku menderita " (II Tim.1:12 dan 2:9); "Ikutlah menderita" (2:3) dan "Tetapi kuasailah dirimu" (4:5). "Setiap orang" (3:12). Penderitaan apakah yang dimaksud dalam penderitaan tersebut? Hal itu tidak dapat dipastikan. Kita mengamati di dalam Alkitab dan juga dalam sejarah Gereja bahwa penderitaan tersebut dapat beraneka rupa:

    Penderitaan secara phisik (aniaya)
    Penderitaan secara kejiwaan (stress-tertekan)
    Penderitaan secara rohani (bergumul dan berjuang secara rohani)

    Keenam, penderitaan bukanlah sebuah pengorbanan, tetapi dapat dilihat sebagai tukar nilai, yaitu untuk menerima bagian yang lebih baik. Menarik sekali membaca perumpamaan tentang kerajaan sorga yang dikisahkan oleh Tuhan Yesus pada Mat.13: 44-46.

    "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."

    Sungguh sangat menantang untuk mengamati istilah-istilah yang digunakan di dalam ayat-ayat tersebut di atas: "harta terpendam, "sukacita", "mutiara yang indah", "sangat berharga". Perasaan sukacitalah yang membuat orang tersebut menjual seluruh miliknya demi memiliki harta terpendam yang sangat berharga dan sangat mahal tersebut. Hal yang sama dilakukan oleh pedagang yang mencari mutiara tersebut. Setelah ditemukannya, maka dia menjual seluruh miliknya. Apa yang dilakukan oleh kedua orang tersebut? Pengorbanankah? Tentu saja tidak. Hal itu adalah hal yang wajar, menjual sesuatu yang kurang berharga untuk mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga. Jadi, tindakan orang tersebut, yang menjual seluruh miliknya adalah wajar. Jika dia tidak melakukan hal itu, justru merupakan suatu tindakan kebodohan. Demikian juga dengan hal kerajaan sorga sebaga imana dikisahkan oleh Tuhan Yesus. Kita harus bersukacita karena kerajaan itu. Bukan itu saja, kita harus bersikap benar, sedemikian menghargainya, sehingga kita rela melepaskan apa saja demi kerajaan sorga tersebut. Demikian juga, dalam penderitaan yang kita alami demi kerajaan sorga, hal itu adalah sesuatu tukar nilai untuk memperoleh sesuatu yang jauh lebih besar.

    Kedelapan, penderitaan sebagai panggilan.

    Setelah kita melihat bahwa penderitaan tsb dilihat sebagai kasih karunia, maka rasul Petrus juga menyatakan kebenaran yang menarik lainnya, yaitu, bahwa penderitaan tsb sebagai panggilan. Dia menulis: "Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya". (1Pet.2:21)

    Apa yang ditegaskan oleh rasul Petrus tsb memang benar. Dalam keempat Injil (Mat s/d Yoh) kita mengamati bahwa Tuhan Yesus yang adalah Tuhan dan menjadi teladan yang sempurna bagi kita, juga menderita. Penderitaan Yesus tsb ditegaskan adalah demi dan untuk umat yang dikasihiNya, demi kita semua. Karena itu, kita juga dipanggil untuk menderita demi Dia. Jika penderitaan adalah merupakan sebuah panggilan, maka seharusnya itu dijalani dengan penuh ketekunan dan ketabahan. Jangan melarikan diri dari panggilan yang seharusnya diterima dan menggantikannya dengan segala kedagingan dan kenikmatan dunia yang bersifat sementara. Sebab jika melarikan diri dari panggilanNya, itu berarti kita telah melakukan pelanggaran dan dosa. Sebaliknya, jika kita setia menjalani panggilan kita, sekalipun itu tidak sulit dan p enuh penderitaan, hal itu merupakan satu kemuliaan dihadiratNya, sebagaimana Tuhan Yesus memuliakan Bapa melalui ketaatanNya yang sempurna hingga mati di kayu salib. Sesungguhnya, hal itulah yang ditegaskan oleh rasul Paulus ketika dia menulis: "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari penderitaan kami" (2 Kor.4:17)

    Kesembilan, penderitaan adalah harga yang harus dibayar.

    Di dalam Injil Lukas, kita membaca seruan Tuhan Yesus yang sangat jelas dan tegas: "Barangsiapa mau mengikut Aku, Dia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku" (Luk.9:23). Jadi, dari seruan Tuhan Yesus tsb terlihat dengan sangat jelas adanya keharusan dalam penderitaan, yang merupakan harga yang harus dibayar oleh setiap pengikutNya yang sejati. (Luk.9:23).

    Ada yang menafsirkan bahwa ayat tsb merupakan "persyaratan" menjadi pengikut Yesus. Namun demikian, saya tidak setuju dengan pendapat yang demikian. Sebab jika kita menyebut itu sebagai persyaratan, maka itu berarti bahwa kita menjadi pengikut atau murid Yesus karena memenuhi syarat. Padahal, Alkitab menyatakan dengan sangat jelas bahwa sebenarnya dari diri kita sendiri kita tidak pernah memenuhi syarat di hadapanNya. Karena itu, saya melihat ayat yang ditulis oleh dokter Lukas tsb bukan sebagai "persyaratan", tetapi sebagai "tuntutan" atau "harga yang harus dibayar". Artinya, sekalipun keselamatan adalah karena anugerah, namun kita tetap dituntut untuk rela membayar harga sebagai pengikut atau muridNya. Hal itu jugalah yang ditegaskan oleh rasul Petrus. Dia menulis: "Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan , yaitu Roh Allah ada padamu" (1Pet.4:14 band. Mat.5:11).

    Seorang pernah berkata: "To accept Christ costs nothing. To follow Christ, costs something. To serve Christ costs everything".

    Memang benar, untuk menerima Yesus, kita tidak perlu membayar apa-apa. Kita menerima Yesus dengan iman saja. Kita tidak perlu membayar apa saja untuk keselamatan kita, karena Yesus sendiri telah membayar itu. Akan tetapi, jika kita telah mengaku sebagai pengikut Yesus, kita harus membayar sesuatu. Maksudnya, kita harus meninggalkan kebiasaan lama kita yang tidak berkenan kepadaNya. Sebab jika hal itu tetap kita lakukan, maka akibatnya dapat menjadi batu sandungan bagi orang lain. Sedangkan untuk menjadi pelayan Kristus, kita harus rela membayar dengan apa saja: pikiran, tenaga, uang... bahkan nyawa!

    Jika kita perhatikan ayat tsb di atas, maka rasul Petrus menulis agar orang percaya berbahagia jika dinista demi nama Kristus. Mengapa? Dia memberikan alasan yang sangat menarik: "sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu". Apa artinya?

    Untuk mengerti hal tsb, saya teringat pengalaman yang disaksikan oleh hamba Tuhan yang bernama Watchmen Nee. Dia adalah seorang lulusan dari Fakultas Hukum dari sebuah universitas terkenal di Cina. Namun demikian, dia tidak bekerja sebagai ahli hokum dalam bidang profesi hukum, karena dia terpanggil menjadi hamba Tuhan. Pada satu kali, setelah melayani dari pedalaman, maka dia berkunjung ke kampus asalnya (almamaternya). Pada kesempatan itu, dia beruntung karena bertemu dengan professor yang dulu dikaguminya sewaktu dia masih kuliah. Ketika professornya menanyakan pekerjaannya, maka Watchmen Nee menjelaskan bahwa dia menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan, di mana dia baru saja kembali dari pelayanan di sebuah daerah yang sulit di pedalaman.

    Setelah memberitahukan hal itu, ternyata professor tsb tidak memberi penghargaan, akan tetapi sebaliknya, dia mengatakan kalimat yang sangat menyakitkan bagi Watchmen Nee: "Dulu saya mengira bahwa seorang mahasiswa yang sangat cemerlang akan berkarya dengan cemerlang di negeri ini. Ternyata, apa yang saya lihat sekarang? Di hadapan saya adalah seorang mantan murid saya yang kurus dan kelihatan lesu yang baru saja kembali dari pedalaman". Selanjutnya, professor tsb memberikan pertanyaan yang menurut pengakuan Watchmen Nee sangat menyakitkan dan merendahkan dirinya: "Dengan cara seperti inikah engkau telah memboroskan dan menyia-nyiakan hidupmu?

    Ketika Watchmen Nee pulang ke rumahnya dengan perasaan yang sangat sedih karena sedemikian direndahkan oleh mantan dosen yang dulu dikaguminya, maka kemudian, Watchmen Nee mengatakan bahwa segera setelah itu, dalam dirinya muncul suatu sukacita yang sangat besar yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Watchmen Nee menulis: "Ketika itu, saya baru mengerti apa artinya Roh kemuliaan ada padamu. Rupanya, ketika kita dihina dan menderita demi Dia, maka Roh kemuliaan itu segera bekerja di dalam diri kita mengerjakan sukacita. Roh itu menghibur dan menguatkan kita atas pekerjaan mulia yang telah kita kerjakan.

    Bicara mengenai penderitaan dan penolakan, Billy Graham pernah menulis kalimat yang sangat menarik dan menantang mengenai hal tsb. Beliau menulis sbb:

    Dulu, Tuhan Yesus telah dihina, ditolak dan menderita demi kita. Kini, biarlah kita juga rela dihina, ditolak... dan menderita demi Dia".

    Billy Graham melanjutkan bahwa kita menderita karena mengikuti Tuhan Yesus, di mana diri dan ajaranNya ditolak oleh dunia. Jadi, semakin kita meninggikan Yesus dan ajaranNya, semakin keraslah penolakan itu terjadi kepada kita. Kita hidup dalam lingkungan yang memiliki nilai yang terbalik dengan dunia sekitar kita: apa yang kita tinggikan dan agungkan mereka rendahkan dan anggap hina! Apa yang kita rendahkan dan tinggalkan, itulah yang ditinggikan dan dikejar oleh orang-orang di sekitar kita. Bukankah hal itu secara wajar dapat mengerjakan konflik dan penderitaan?

    Kesepuluh, penderitaan dan kesulitan menjadi alat Allah utk memurnikan, menguji dan menyempurnakan iman kita.

    Seorang pernah mengatakan bhw nelayan yang baik tidak pernah dihasilkan dari pelayaran tanpa ombak dan badai. Demikian juga, orang Kristen yang dewasa tidak pernah dihasilkan dari kehidupan tanpa tantangan, kesulitan dan masalah. Dalam kenyataannya, kita menyaksikan bahwa Tuhan Yesus menderita, bahkan mengakhiri hidupNya mati di kayu salib. Tentu kita semua yakin bahwa hal itu dideritaNya sama sekali bukanlah karena ada sesuatu yang tidak beres atau kesalahan di dalam diriNya. Justru sebaliknya, karena Dia hidup benar, dan dengan tegas menegur manusia termasuk pemimpin-pemimpin agama di zamanNya maka Dia menerima perlawanan yang keras serta dimusuhi oleh mereka yang iri hati kepadaNya. Demikian juga, rasul-rasul mengalami hal yang sama. Justru dari pengalaman seperti itulah rasul-rasul memberikan nase hatnya yang sangat indah dan menantang. Rasul Petrus yang banyak menderita kesulitan dan penderitaan itu menulis: "Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya (1Pet.1:6-7; 1Pet.4:12). Demikian juga rasul Yakobus menulis: "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan i tu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun" (Yak.1:2-4). Hal yang sama dituliskan oleh penulis kitab Ibrani ketika dia menegaskan bahwa sekalipun pada mulanya ganjaran itu tidak mendatangkan sukacita, namun hasilnya kelak akan mendatangkan buah kebenaran: "Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. " (Ibr.12:11)

    Sebenarnya, pengajaran seperti itu tidak hanya kita temukan di dalam Alkitab Perjanjian Baru, tetapi hal itu telah kita temukan juga di dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama kita melihat kehidupan Ayub yang sedemikian menderita, namun kemudian dibenarkan dan dipuji di hadapan Allah(1:6-12; 21-22; 42:7-17). Jika kesulitan, penderitaan seperti itu kita bandingkan dengan peristiwa yang terjadi di Aceh dan Nias, maka kita juga belajar sesuatu hal yang sangat berharga. Sebagai contoh, dalam sebuah stasiun TV swasta ditayangkan bahwa seorang yang telah kehilangan 70 (tujuh puluh) orang anggota keluarganya masih mampu untuk bertahan, bahkan menjadi anggota relawan. Ketika dia ditanya mengapa menjadi relawan dan bagaimana perasaannya setelah kehilangan seluruh anggota keluarganya, maka dia dengan sangat tenang menjawab: "Ikhlas, dan pasrah kepada Allah".

    Apa yang dapat kita pelajari dari keyakinan dan keikhlasan seperti itu? Bandingkan kenyataan tsb dgn fakta orang2 gila di negara lain sebagai akibat dari penderitaan dan korban Tsunami. Jadi, terlihat dengan sangat jelas daya tahan yang melampaui akal yang diberikan oleh iman dan kepasrahan kepada Allah tsb. Sekiranya iman dan penyerahan seperti itu dimiliki oleh semua umat manusia yang percaya kepadaNya maka tidak perlu muncul masalah-masalah baru seperti terjadinya depressi, gila tsb di atas.

    Kesebelas, Alkitab dengan jelas memberitahukan kepada kita bahwa sekalipun kita berusaha untuk memahami segala kesulitan dan penderitaan tsb, namun penderitaan tetap mengandung misteri, di mana kita sulit memahaminya sepenuhnya.

    Sejauh ini kita telah berusaha untuk memahami makna penderitaan dan kesulitan yang dialami oleh manusia termasuk mereka yang percaya kepada Allah. Kita telah melihat berbagai kemungkinan dapat terjadi yang menyebabkan terjadinya penderitaan tersebut. Namun setelah melihat hal-hal tersebut di atas, kita harus mengakhiri usaha memahami penderitaan tsb dengan sebuah sikap jujur dan mengakui bahwa tidak semua kesulitan dan penderitaan dapat dijelaskan secara logis dan rasional. Hal itu sebenarnya wajar saja. Karena apa? Karena kita sedang membicarakan aspek kehidupan manusia yang sangat rumit dengan hubungannya kepada alam dan Allah yang tidak terbatas dan tidak terduga pengertian serta keputusanNya.

    Hal rahasia Allah inilah yang juga diakui dan diserukan oleh rasul Paulus ketika dia mencoba memahami ajaran keselamatan bangsa Israel serta seluruh umat pada umumnya. Padahal, aspek keselamatan tsb hanyalah salah satu bagian kecil dari kehidupan manusia. Hal itu juga merupakan bagian kecil dari seluruh rancangan Allah. Meskipun hal itu merupakan bagian kecil, namun ketika rasul Paulus mendiskusikan hal keselamatan tsb di dalam tiga fasal penuh (Ro.9-11), namun dia mengakhiri dengan seruan terkenal berikut:

    "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!" (Ro.11:33).

    Di dalam Perjanjian Lama, kita juga dapat menemukan hal yang sama. Ketika pemazmur mencoba memahami penderitaan orang benar dan kemujuran orang fasik, maka dia seolah-olah menyesali keberadaannya, seolah-olah dia menyesal sebagai orang benar. "Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi(Maz.73:13-14). Selanjutnya, dalam usaha memahami penderitaan orang benar dan kemujuran orang fasik tsb, pemazmur menulis: " aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. " (73:22).

    Bagaimana Sikap Kita Menghadapinya?

    Kita telah membahas secara panjang lebar tentang mengapa terjadi kesulitan dan penderitaan di dunia ini, termasuk dalam diri umat Allah. Kita telah mencoba memahaminya, baik dari pemahaman para ahli theologia, maupun dari pengajaran Alkitab itu sendiri. Berbagai teori telah kita lihat bersama, berbagai fakta dan pengajaran Alkitab juga telah kita soroti. Sebagai hasil dari pengamatan tsb, kembali kita mengakui bahwa memang tidak ada penjelasan yang sederhana. Itulah sebabnya, sejak dari awal tulisan ini telah saya tegaskan supaya dalam membicarakan penderitaan tsb, jangan ada di antara kita yang mencoba menyederhanakan. Selain tidak sederhana, penderitaan tsb juga tidak dapat kita pastikan karena apa; apakah karena dosa sebagai hukuman Tuhan, ataukah karena ujian iman, atau karena apa. Lalu apa yang p asti? Jawabnya adalah, penderitaan tsb pasti akan dialami, baik itu dipahami atau tidak dipahami.

    Jika demikian halnya, bagaimana sikap kita menghadapi kesulitan dan penderitaan jika hal itu terjadi kepada kita? Sebagai umat tebusan yang sangat dikasihiNya, apa yang harus kita lakukan dalam menyikapi penderitaan tsb? Bagaimana sikap yang berkenan dan tidak mendukakanNya ketika kita mengalami kesulitan dan penderitaan dalam hidup dan pelayanan kita sendiri? Di atas, kita banyak membaca surat rasul Petrus, yaitu rasul yang memang sangat banyak mengalami kesulitan dan penderitaan dalam hidup dan pelayanannya. Karena itu, kita akan melihat beberapa saran praktis dari rasul Petrus dan rasul lainnya dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan tsb.

    Pertama, rasul Petrus menasehatkan agar kita jangan heran menghadapi kesulitan penderitaan tsb.

    Dia menulis kepada seluruh umat yang tersebar di perantauan (diaspora): "Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. (1Pet.4:12) Menarik sekali mengamati ayat tsb, karena dalam ayat ini rasul Petrus mengingatkan kita agar jangan melihat kesulitan, penderitaan atau nyala siksaan sebagai hal yang "seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa". Dengan perkataan lain, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa hal itu adalah sesuatu yang biasa, bukan luar biasa. "Jangan heran, hal itu adalah biasa", demikian rasul Pet rus. Apa yang terjadi dengan orang percaya pada umumnya? Jika mereka menderita karena imannya atau karena ketaatannya kepada Allah, mereka heran dan tidak menganggapnya sebagai hal yang biasa. "Mengapa harus terjadi kesulitan seperti ini kepada saya? Mengapa saya dikucilkan di kantor dan dalam pergaulan? Jika Tuhan mengasihi saya, mengapa penyakit ini menimpa saya?", demikian pertanyaan sebagian orang. Sementara yang lainnya bertanya: "Jika Tuhan mahakuasa mencegah segala kesulitan, mengapa banyak umat yang menderita karena imannya? Mengapa banyak Gereja yang dibakar massa? Mengapa terjadi Tsunami yang mengorbankan lebih dari dua ratus ribu penduduk di Aceh? Mengapa...? Mengapa... Mengapa..." Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang muncul, baik itu yang sempat terucapkan maupun yang belum sempat, sebagai akibat dari keheranan yang terjadi ketika kesulitan dan penderitaan tiba. Karena itu, biarl ah perintah firman Tuhan tsb di atas kita camkan dan kita mohon kekuatan dari padaNya untuk mentaatinya.

    Mengapa Ajaran Teologi Seseorang dapat Berubah?

    Penulis : Daniel Lucas Lukito

    PENDAHULUAN

    Selesai mengisi tiga kali kebaktian Minggu di sebuah gereja di Surabaya, saya ditemani makan malam oleh dua orang majelis dari gereja tersebut. Di tengah-tengah santap malam tersebut salah seorang majelis bertanya kepada saya, "Pak Daniel, tahu tidak bahwa si anu (ia menyebut nama seorang hamba Tuhan) sekarang ikut ajaran yang aneh-aneh (ia juga menyebut nama ajaran atau lebih tepatnya sebuah aliran yang belakangan ini agak santer)?" Setelah saya menjawab, ya saya tahu, majelis itu bertanya lebih lanjut, "Lho, kok bisa ya? Hamba Tuhan yang studi baik-baik dan setahu saya orang itu punya pengajaran yang cukup baik kok bisa ikut pengajaran yang sumbang seperti itu?" Pertanyaan seperti ini bukan pertama kalinya dialamatkan kepada saya; sudah berkali-kali, di berbagai tempat, oleh segala macam orang, baik yang hamba Tuhan, majelis, mahasiswa teologi bahkan awam. Mereka umumnya menjadi bingung ketika mendengar adanya pendeta atau lulusan teologi yang terbina dengan baik-baik mengalami pergeseran dalam ajarannya.

    Sekalipun menghebohkan dan membingungkan, sebenarnya perubahan ajaran teologi seseorang bukanlah hal yang baru. Perubahan itu juga belum tentu disebabkan pendidikan teologi seseorang hanya strata satu atau kurang mendalam. Sebab misalnya orang yang terdidik sampai gelar doktoral seperti Clark H. Pinnock dan yang sudah menulis banyak buku juga mengalami pergeseran dalam pengajarannya.1 Demikian pula apa yang terjadi pada Donald G. Bloesch,2 Norman Geisler,3 Jack Deere 4 dan seterusnya. Walaupun ada juga orang yang berubah dari teologi yang tidak baik (misalnya dari teologi liberalisme) menjadi teologi yang ortodoks (sebagai contoh apa yang terjadi pada Thomas C. Oden5), namun demikian agaknya orang yang teologinya berubah menjadi ngawur jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang berubah menjadi baik.

    Karena itu artikel ini mencoba melihat beberapa kemungkinan sebab-sebab seseorang dapat bergeser ajarannya. Saya memakai kata "kemungkinan" dengan pengertian walaupun ada beberapa sebab yang akan ditulis dalam artikel ini tetapi sebab-sebab itu belum tentu persis salah satu saja yang menyebabkan seseorang menjadi berubah. Ada kemungkinan beberapa sebab terjadi sekaligus, atau bisa juga ada sebab yang terselubung yang sulit dianalisis kecuali orang yang mengalaminya menulis buku, artikel, atau paling sedikit dapat dianalisis khotbah atau kesaksiannya. Jadi, istilah "kemungkinan" tidak berarti penulis ragu-ragu mengenai poin yang akan dibahas berikut ini, tetapi lebih kepada adanya kasus variabel yang berbeda-beda pada setiap orang.

    SESEORANG DAPAT BERUBAH PENGAJARANNYA KARENA SITUASI KEHIDUPAN

    Penulis merasa situasi kehidupanlah yang paling banyak mengubah pengajaran seseorang, sekelompok orang atau konteks berteologi dalam kelompok atau negara tertentu. Sebelumnya kita perlu mengerti terlebih dahulu apa yang dimaksud sebagai "situasi kehidupan." Yang dimaksud dengan "situasi kehidupan" adalah situasi sosial, politik, ekonomi, budaya yang melanda sekelompok orang atau satu negara. Situasi ekonomi sosial atau bahkan kesehatan fisik dan mental seseorang dapat memberikan pengaruh pada ajaran masing-masing. Untuk itu saya akan memberikan contoh satu per satu. Semisalnya, seorang bapak yang sudah menjadi Kristen dua puluh tahun tiba-tiba menderita sakit yang bersifat terminal alias mematikan. Sebagai orang yang awam dalam beriman bapak itu dapat mudah terpengaruh oleh ajakan untuk mengikuti ajaran yang menawarkan kesembuhan. Mengapa mudah terpengaruh? Jawabnya adalah karena situasi kehidupannya secara pragmatis akan menuntunnya untuk mencari kesembuhan, apalagi kalau ia sudah berobat ke sana ke mari, menghabiskan biaya yang besar, ditambah lagi orang di sekitarnya sudah lelah mengurusi sakit-penyakitnya. Apakah orang ini juga akan dapat mengikut aliran kesembuhan di luar kekristenan? Jawabnya adalah sangat mungkin, karena yang menawarkan kesembuhan di dunia ini bukan hanya dalam kekristenan saja, tetapi juga agama-agama lain, dukun, terkun (setengah dokter, setengah dukun), ilusionis, new age (tenaga prana, kundalini), spesialis atau penyembuh populer semacam Deepak Chopra6 atau transcendental meditation dan sebagainya. Kelompok non-Kristen sekarang ini menawarkan kesembuhan bukan hanya melalui buku-buku saja, tetapi juga melalui kursus-kursus, pelatihan-pelatihan, VCD, DVD, televisi satelit, seminar di hotel berbintang dan sebagainya. Di Indonesia sekarang ini seminar-seminar Reiki banyak ditawarkan bukan hanya di kota-kota besar teta pi sudah membuka cabang dan pasang iklan di kota kecil seperti di kota Malang di mana penulis berdomisili.

    Seseorang yang ada dalam situasi secara pribadi menderita sakit parah adalah wajar mengharapkan kesembuhan, dan karena ia adalah orang yang beriman kepada Kristus wajar apabila ia berdoa bertalu-talu untuk memohon kesembuhan seturut dengan imannya kepada Kristus. Yang tidak wajar adalah apabila ia berpendapat (baik diucapkan atau tidak pendapatnya itu) bahwa tidak menjadi masalah siapa yang menyembuhkan asalkan ada channel atau jalan keluar bagi masalah yang dihadapinya. Orang itu kemungkinan besar -- saya katakan kemungkinan besar karena kenyataannya belum tentu selalu demikian -- akan mengalami kesembuhan secara fisik, tetapi imannya tidak mengalami "kesembuhan," dalam arti imannya akan mengalami pergeseran berhubung dengan berubahnya oritentasi pemikirannya tentang siapa yang menjadi tuan di dalam kehidupanya. Paling sedikit ia akan mengalami disorientasi atau kebingungan mengenai locus fide i (tempat berpijak bagi iman) untuk pribadinya sendiri, karena tiba-tiba imannya mendapatkan alternatif atau saingan, dan akibatnya sekalipun orang itu masih ke gereja tetapi sasaran imannya sudah tidak tunggal lagi dan ia memiliki options (pilihan) sebab secara pragmatis di dalam hatinya yang terdalam ia merasa memiliki "cadangan devisi" yang cukup di luar Kristus di dalam menjadi kehidupan selanjutnya.

    Selain perubahan doktrin yang terjadi pada pribadi seseorang, sekelompok orang atau pengajaran sekelompok orang dalam sebuah negara juga dapat berubah karena situasi kehidupannya. Contoh yang klasik adalah teologi pembebasan di Amerika Latin,7 teologi penderitaan Allah di Jepang,8 teologi Minjung di Korea Selatan;9 kesemuanya itu berkaitan dengan situasi politik/ekonomi/sosialnya menuntut orang-orang yang berteologi di sana untuk menanggapi situasi kehidupan mereka secara kontekstual. Sebagai contoh, teologi injil sosial yang dicetuskan oleh Walter Rauschenbusch10 di Amerika Serikat pada awal abad kedua puluh adalah sebuah case study yang menarik. Rauschenbusch pada mulanya adalah pendeta yang melayani di kalangan konservatif dan ia mengalami kenyataan konteks pergumulan masyarakat yang ia layani mengarah ke kapitalisme, di mana yang kaya tambah kaya dan yang miskin khususnya orang yang berkulit hitam menjadi tambah miskin. Hal ini berlangsung dalam situasi kehidupan yang berlarut-larut dan melahirkan ketidakadilan ekonomi maupun sosial. Hal ini ditambah lagi tidak ada keputusan politis dalam konstitusi pemerintah Amerika yang didominasi orang Kristen dan tidak ada upaya kontekstual apa pun yang dilakukan oleh gereja Baptis, Methodis, Episkopal, Reformed dan sebagainya untuk mengatasi situasi kehidupan yang tidak adil tersebut. Karena itu lahirlah teologi injil sosial.

    SESEORANG DAPAT BERUBAH PENGAJARANNYA KARENA KEBUTUHAN YANG MENDESAK

    Yang dimaksud dengan kebutuhan adalah adanya sesuatu yang menjadi minat atau hasrat yang kuat dari seseorang atau sekelompok orang, bauk yang didasarkan atas sesuatu yang tidak ada atau yang dirasakan kurang (tidak dimiliki). Sesuatu yang dibutuhkan secara positif terjadi baik secara kualitas maupun kuantitas. Sebagai contoh, apabila ada sebuah gereja yang selama puluhan tahun tidak mengalami kemajuan alias mandek pertumbuhannya, gembala sidang secara pribadi atau sekelompok orang dalam jemaat itu dapat saja termotivasi oleh pertumbuhan gereja yang pesat dari kalangan denominasi lain atau dari kelompok lain yang sekalipun dari segi ajaran amat jauh berbeda dengan gereja yang tidak maju itu. Tujuan dan pengharapannya adalah baik, yaitu mereka menginginkan pertumbuhan yang pesat baik secara kualitas dan kuantitas jemaatnnya berdasarkan stimulus dari perkembangan pertumbuhan gereja denominasi lain. Jadi secara naturalny a kebutuhan ini adalah kebutuhan yang sah dan baik untuk dipikirkan.

    Persoalan yang akan muncul adalah apabila demi terpenuhinya kebutuhan pertumbuhan gereja yang mandek itu, gembala sidang (atau kadang-kadang istri gembala sidang atau rekan kerjanya) atau sekelompok orang baik secara sadar atau tidak mulai mengadopsi semua atau sebagian doktrin dasar yang dianut oleh gereja yang pertumbuhannya maju itu. Hal ini adalah sesuatu yang kemungkinan besar akan terjadi, sebab kebanyakan gereja yang maju memiliki kisah pertumbuhannya tersendiri baik yang dialami oleh pemimpinnya atau majelis atau kelompok tertentu. Kisah-kisah tersebut ada yang berkaitan dengan pengalaman pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, penglihatan istimewa, peruba110 pola ibadah, dan yang paling sering terjadi adalah adanya perubahan pada doktrin dasar tentang pekerjaan atau karunia Roh Kudus. Ada lagi gereja yang bertumbuh itu mengalami perubahan dalam ekklesiologi, soteriologi, atau bahkan eskatologinya. Karena yang namanya pengaruh itu biasaya terjadinya secara perlahan-lahan, maka biasanya tanpa disadari gereja yang kurang maju itu pada akhirnya mengadopsi sebagian atau seluruh bagian ajaran teologi yang dianut oleh gereja yang perkembangannya pesat itu.

    Sebagai contoh, gereja Vineyard Movement yang berkembang dibawah kepemimpinan almarhum John Wimber, seorang pendeta yang senang menyanyi, mengarang lagu dan berbadan subur. Wimber tadinya adalah seorang yang memiliki kepercayaan ortodoks, tetapi setelah ia melihat dan mempelajari perkembangan gereja Kharismatik, serta ia sendiri mengakui memiliki pengalaman yang istimewa di dalam Roh Kudus, maka ia merasa terpanggil untuk membentuk sebuah gereja yang pola ibadahnya berbeda sama sekali. Sekalipun Wimber dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa Vineyard Movement tetap mempertahankan teologi injili namun pada kenyataannya pengajaran Vineyard pada akhirnya lebih dekat dengan gereja Kharismatik ketimbang gereja injili.11

    Hal ini berarti sekelompok orang dapat berubah pengajarannya karena adanya kebutuhan yang mengakibatkan pergeseran (drifting) yang terjadi secara halus dan meresap secara lambat laun. Kalau sekelompok orang bisa terpengaruh dan berubah seperti itu, apalagi pribadi lepas pribadi. Maksud saya, misalnya ada seseorang yang bersaksi bahwa Tuhan atau Tuhan Yesus mengunjunginya baik melalui mimpi, penglihatan, nubuat dan sebagainya, kesaksian pengalaman khusus tersebut lebih sulit dianalisis kebenarannya. Bila ditanya bagaimana orang itu bisa memberikan kesaksian demikian, jawabannya adalah sulit untuk ditelusuri. Sama sulitnya dengan itu adalah bila ditanyakan mengapa ia bisa memberikan kesaksian demikian. Walaupun sulit, kita dapat menjawab sebagai berikut: pertama, kemungkinan Tuhan betul-betul menjumpai orang itu secara khusus, karena itu ia tidak dapat tidak memberikan kesaksian itu karena dorongan dari Roh Tuhan. Kalau benar begitu, maka baik saya atau siapa pun kita, tidak pada tempatnya menilai apalagi mengkritik pengalaman khusus tersebut. Tetapi menurut pengamatan saya berdasarkan penelitian dari firman Tuhan, pengalaman khusus tersebut adalah sesuatu yang amat sangat langka dewasa ini.

    Saya lebih cenderung tergoda untuk berpikir lain. Maka dari itu, kedua, bagi saya kemungkinan pengalaman kesaksian itu disampaikan karena adanya kebutuhan yang dapat dipertanyakan dan yang kemungkinan besar bukan dari Tuhan karena adanya indikasi kontradiksi dengan prinsip-prinsip Alkitab. Tentu pertanyaannya adalah jikalau bukan dari Tuhan, lalu dari siapa? Jawab saya: dari orang itu sendiri dan kebutuhannya secara pribadi. Kebutuhan yang seperti apa? Menurut saya, seperti Kejadian 3:5, yaitu kebutuhan ingin menjadi seperti Allah, atau paling sedikit kebutuhan ingin memiliki pengalaman kenabian dan kerasulan. Pengalaman mentransendentalisasikan diri seperti ini adalah sebuah kebutuhan yang sejak taman Eden sampai sekarang saya kira tidak akan pernah berhenti ada pada setiap manusia. Apalagi kalau manusia itu tidak terkenal atau kurang populer dan ia tergoda ingin menjadi seorang rohaniwan yang terkenal dan pop uler dengan kesaksiannya yang tidak dapat dideteksi kebenarannya tetapi yang setara dengan pengalaman para nabi dan rasul.

    Yang saya maksud dengan usaha mentransendentalisasikan adalah usaha manusia, baik orang berdosa atau orang Kristen dan terutama hamba Tuhan, untuk memenuhi kebutuhan dirinya dalam hal melepaskan keterbatasan naturnya sebagai manusia dan sekaligus meloncat memasuki sebuah dimensi natur yang menurutnya adalah natur yang ideal dan spektakuler untuk dijalani. Natur yang tidak ideal itu apa? Natur yang tidak ideal adalah natur yang penuh dengan sakit-penyakit, kekalahan, penderitaan, penganiayaan, pergumulan dan seterusnya. Sedangkan natur yang idealis kenabian dan kerasulan adalah natur yang selalu mengalami kemenangan, kesembuhan, jago bernubuat, pandai melihat yang jauh di sini atau di situ, orang ini atau atau orang itu; pendeknya, itulah natur yang selalu bersifat mengena, pragmatis dan tokcer. Itulah sebabnya mungkin meskipun tidak diucapkan saya rasa banyak orang, dan sekali lagi, termasuk hamba Tuhan, mau m emiliki natur yang idealis tersebut. Sebab apa? Sebab kebutuhan untuk menjadi hebat, berhasil dan membuat banyak orang terpesona adalah kebutuhan yang menggoda setiap orang. Tetapi bayarannya adalah kebutuhan ini akan menggeser ajaran sehat seseorang. Saya tidak tahu apakah orang yang sudah memasuki fase idealis itu benar-benar sudah pernah berpikir mengenai harga yang harus dibayar ini, atau bisa juga soal harga yang harus dibayar ini tidak dipikirkannya, karena memang sudah kebiasaannya tidak atau kurang memakai pikirannya.

    Dalam konteks ini saya ingin mengangkat sebuah tulisan yang menarik dari Scot McKnight yang berjudul "From Wheaton to Rome: Why Evangelicals Become Roman Catholic?"12 McKnight mengamati cukup banyaknya orang injili di Amerika Serikat akhir-akhir ini yang berubah pengakuan imannya dan menjadi penganut Katolik Roma. Yang lebih menarik adalah perubahan iman itu bukan hanya dialami oleh orang awam di gereja, tetapi juga ada beberapa orang yang disebut oleh McKnight sebagai lulusan teologi atau bahkan pelayan Tuhan dari sekolah teologi injili. Di antaranya ada yang bernama Marcus Grodi dan Scott Hahn, keduanya adalah lulusan dari Gordon-Conwell Theological Seminary, sebuah seminari injili yang sangat baik ajarannya di South Hamilton, Massachusetts, Amerika Serikat.13 Tiga orang lainnya, yang bernama David Palm, Richard White, dan Vaughn Treco, ada lah bekas murid McKnight dan ketiganya pernah menempuh pendidikan teologi di Trinity Evangelical Divinity School, sekali lagi sebuah seminari injili yang sangat terkenal di Deerfield, Illinois, Amerika Serikat.14 Maka orang menjadi bertanya-tanya: Kok bisa, ya?

    Setelah meniliti kisah perubahan teologi mereka dan konteks yang melatarbelakangi perubahan tersebut, McKnight kemudian membuat sebuah analisis mengenai sebab utama yang memicu pergeseran tersebut. Menurutnya, adanya sebuah "desire for transcendence" itulah yang menjadi sebab utamanya.15 Yang ia maksudkan adalah adanya sebuah krisis yang dialami seseorang yang disebabkan oleh pelbagai faktor sehingga menuntun orang itu untuk melakukan "pencarian" yang arahnya menuju pada perubahan religius. Tetapi, lebih dari itu, hasrat untuk mentransendentalisasikan diri itu adalah "a crisis about the limitations of the human condition and a desire to go beyond the human experience."16 Inilah yang telah saya paparkan di atas mengenai kecenderungan manusia dari taman Eden hingga sekarang, yaitu senantiasa berusaha memenuhi kebutuhan dirinya dal am hal melepaskan keterbatasan naturnya sebagai manusia (membuang jauh-jauh limitasi yang ada pada naturnya) dan sekaligus meloncat memasuki sebuah dimensi natur yang menurutnya adalah natur yang ideal atau dapat go beyond untuk memasuki suatu dimensi pengalaman yang lebih baru, lebih hebat, lebih certain, lebih berotoritas, dan lebih meyakinkan.

    Kita sudah melihat hal yang hampir sama terjadi di Indonesia. Selain perubahan teologi dari injili menjadi ekumenikal atau sebaliknya, dari Protestan menjadi Katolik atau sebaliknya, yang paling sering dan dan yang paling banyak terjadi adalah bergesernya teologi atau ajaran seseorang menuju pada ajaran Kharismatik atau jenis-jenis variannya. Gejala ini bukan hanya terjadi di kalangan kaum awam yang dianggap masih elementari teologinya, tetapi juga terlihat pada pendeta atau istri pendeta yang sudah lulus pendidikan teologi dan bahkan ada yang sudah bertahun-tahun melayani sebagai tenaga purnawaktu. Maka, kembali pada pertanyaan semula yang sanagt mendasar: Ini adalah murni pekerjaan Tuhan pada seseorang atau sekelompok orang, atau ini adalah upaya seseorang atau sekelompok orang yang mengalami krisis lalu mengambil inisiatif sendiri karena menyadari adanya limitasi diri dan sekaligus ingin go beyond dari peng alaman lama yang membosankan menuju pada pengalaman baru yang lebih berhasil? Mana di antara dua pilihan itu yang menjadi jawabannya kembali terpulang pada orang atau sekelompok orang yang mengaku memiliki pengalaman tersebut. Yang penting adalah kita semua deep down inside di dalam hati harus jujur di hadapan Tuhan sambil mengingat pesan dari firman-Nya, "...kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidup ini, baik ataupun jahat" (2Kor. 5:10).

    SESEORANG DAPAT BERUBAH PENGAJARANNYA AKRENA RASIONALISME YANG BERLEBIHAN

    Salah satu godaan terbesar ketika seseorang belajar tentang teologi adalah kecenderungan ingin melewati baas dari yang seharusnya. Yang saya maksudkan adalah batas wilayah dan kemampuan berpikir yang pada masing-masing peneliti teologi harus disadarinya. Sebab mendayagunakan akal secara maksimal tanpa kaidah atau ketentuan yang jela130111 menuntun pada bahaya membangun ajaran yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Sekalipun telah mengetahui dari Ulangan 29:29 tentang adanya "[h]al-hal yang tersembunyi... bagi TUHAN, Allah kita" dan adanya "hal-hal yang dinyatakan...bagi kita," kenyataan ini tidak menyadarkan banyak orang akan adanya batas yang tidak boleh dilewati tersebut. "Hal-hal yang dinyatakan" jelas menunjuk pada wahyu atau apa yang Allah singkapkan dan jelaskan bagi kita, sedangkan "hal-hal yang tersembunyi" jelas menunjuk pada misteri yang Tuhan tahan dan tidak Ia ungkapkan kepada manusia. Jadi, epistemologin ya sederhana saja, yakni di dalam berteologi akal kita harus mengenal atau dibuat mengenal apa-apa saja yang boleh dipikirkan atau dilanjutkan untuk dipikirkan. Kegagalan melakukan langkah antisipasi dalam poin ini akan mendatangkan kekacauan epistemologi dengan akibat seseorang akan menjadi "rakus" dalam menelan ajaran apa saja untuk mengenyangkan pikirannya, atau ia akan menjadi "gerilyawan" atau "preman" di hutan teologi yang dirasakannya tidak memiliki perbatasan, sehingga ia merasa ia dapat berpikir seenaknya atau sesukanya tanpa memperhatikan kaidah atau rambu yang seharusnya.

    Sebetulnya, jangankan mengetahu tentang "hal-hal yang tersembunyi," untuk mengetahui secara menyeluruh tentang "hal-hal yang dinyatakan" saja adalah sebuah ketidakmungkinan dalam teologi. Apakah ada orang yang dapat meraih atau merangkum seluruh wahyu Allah? Apakah kita dapat menjelaskan secara tuntas proses terjadinya sebuah mujizat? Jikalau jawabnya adalah tidak mungkin, maka jelaslah apabila ada orang yang mencoba melampau garis batas itu, ia sedang melakukan langkah berteologi secara keliru dan sekaligus "liar." Akibat yang paling langsung dari langkah itu adalah lahirnya skeptisisme terhadap wahyu atau terhadap mujizat. Maka tidaklah mengherankan, apabila F. Schleiermacher (1768-1834) tidak ragu-ragu mengatakan: "Christ is the end of miracle," B. Spinoza (1632-1677), yang tadinya adalah seorang Calvinis yang berubah menjadi panteis, sebelumnya telah membuka jalan bagi lahirnya skeptisisme di darata n Eropa terhadap iman Kristen. Bagi Spinoza banyak data dalam Alkitab yang disampaikan sebagai data riil dan dipercaya sebagai riil sebetulnya hanya bersifat simbolikal dan imajiner. Maksudnya, data Alkitab, khususnya cerita-cerita mujizat, tidak betul-betul terjadi dalam ruang dan waktu, karena semuanya dapat dijelaskan secara alami. Misalnya, menurut Spinoza, tulah-tulah yang dikisahkan dalam kitab Keluaran 9-10 yang dipercaya sebagai keajaiban perbuatan Tuhan sebenarnya hanyalah serangkaian bencana alam yang bersifat kumulatif dan tidak ada hubungannya dengan mujizat. Demikian pula peristiwa dibelahnya laut Merah (Kel. 14:21) yang dipercaya sebagai mujizat hasil perbuatan Allah sebenarnya hanyalah peristiwa alam yang disebabkan oleh tiupan angin timur yang keras sepanjang malam dan sama sekali tidak ada unsur ilahi di dalamnya.17 Penjelasan model skeptik seperti ini adalah contoh penggunaan rasio yang tidak mengenal batas.

    Contoh lain adalah Thomas Hobbes (1588-1679). Menurutnya, mujizat yang dapat terlihat dalam ciptaan belum tentu merupakan mujizat dalam arti yang sebenarnya, karena bila kita melihat kemungkinannya, mujizat seperti itu jarang terjadi; atau jikalau mujizat yang seperti itu memang benar-benar terjadi, sungguh sulit membayangkan adanya sebuah sarana natural yang terkait di dalamnya. Karena itu bagi Hobbes, masalahnya bukan lagi apakah kita melihat sebuah mujizat sudah dilakukan, bukan juga masalah apakah mujizat yang kita dengar, yang kita baca itu adalah mujizat yang riil atau bukan, tetapi masalahnya adalah apakah laporan tentang mujizat itu sendiri benar dan bukannya sebuah penipuan.18

    Orang yang tidak kalah radikal dan skeptisnya dengan tiga tokoh di atas adalah David F. Strauss (1808-1874). Menurutnya, pada zaman Yesus banyak orang yang gemar mentransformasikan imajinasi religius menjadi peristiwa mitologis yang sebenarnya tidak pernah sungguh terjadi. Sebagai contoh, masih menurut Strauss, perkataan Tuhan Yesus tentang "penjala manusia" telah ditransformasikan menjadi sebuah kisah tentang penangkapan ikan yang begitu banyak yang terjadi secara ajaib. Contoh lain adalah tentang Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang sakit kusta. Yang sesungguhnya adalah, dalam berbagai kesempatan Yesus sudah sempat menyatakan pandangan-Nya bahwa ada pasien tertentu yang tidak lagi berada dalam status menular, dan pernyataan itu ditransformasikan oleh penulis injil menjadi cerita tentang mujizat penyembuhan. Demikian pula kisah-kisah penyembuhan yang dilakukan Yesus pada hari sabat sebenarnya merupakan pernyataan-per nyataan Yesus berkenaan dengan sabat yang tidak ada hubungannya dengan peristiwa penyembuhan.19 Sekali lagi, penjelasan model skeptis seperti ini adalah penjelasan yang berusaha "menguburkan" kesaksian firman Tuhan dengan penggunaan rasio secara keblablasan.

    Hampir sama dengan pendekatan keempat tokoh tersebut adalah cara berpikir dari Karl Barth (1886-1968). Pada umumnya Barth menghindari pembicaraan karena topik yang dibahasnya berkaitan dengan mujizat. Alasannya, topik mengenai mujizat adalah sebuah misteri dari aktivitas Allah yang berdaulat. Kalaupun mau dibicarakan, menurutnya, mujizat menununjuk pada kualitas simbolik yang melampaui kisah mujizat itu sendiri. Misalnya, Yesus memberi makan lima ribu orang melalui lima roti dan dua ikan. Baginya, ini adalah kisah yang bermakna simbolik untuk menunjuk pada pengajaran tentang perjamuan kudus dan bukan pada mujizat itu sendiri. Mujizat Yesus meneduhkan angin topan menurutnya adalah sebuah pelajaran yang dapat diaplikasikan gereja dalam sejarah, yakni bahwa Tuhan akan meneduhkan gelombang permasalahan yang melanda kehidupan gereja. Jadi, sekali lagi, ini adalah nilai simbolik yang memberikan makna, bukan mujizat yang benar-benar terjadi. Kalau di dalam Alkitab banyak dikisahkan mengenai Yesus mengusir setan, menurut Barth, hal itu bukan sebenarnya demikian, karena maknanya adalah hendak mengajarkan bahwa Yesus adalah penguasa dan pemenang yang mengatasi segala kuasa jahat di angkasa.20 Jadi, boleh dikata, semua kisah mujizat dalam Alkitab dapat dipelintir sedemikian rupa sesuai dengan maunya rasio manusia mengartikan. Pada akhirnya, produk yang dihasilkan dengan cara berpikir tanpa batas seperti ini adalah sebuah ajaran yang sama sekali berbeda dengan maksud firman Tuhan.

    SESEORANG DAPAT BERUBAH PENGAJARANNYA KARENA KUASA KEGELAPAN

    Di dalam Alkitab beberapa kali telah dinyatakan bahwa Iblis, roh jahat atau kuasa kegelapan memainkan peranan yang cukup dominan dalam rangka membuat seseorang atau sekelompok orang bergeser ajarannya. Misalnya, Wahyu 12:9 mengatakan: "Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya." Pada ayat ini firman Tuhan, memberikan indikasi bahwa Iblis dan malaikat-malaikatnya (atau lebih tepat, "roh-roh jahatnya") memiliki kemampuan melakukan salah satu karya besarnya, yakni menyesatkan manusia. The Living Bible menerjemahkan istilah tersebut dengan "Satan, the one deveiving the whole world." Iblis memiliki kemampuan besar untuk melakukan "deception" (penipuan) dengan pengalaman selama beberapa millennium. Hal ini terlihat dalam perkataan rasul Paulus di 2 Korintus 11:3, yang mengatakan: "Hawa diperdaya oleh ular itu dengan kelicikannya (NIV: Eve was deceived by the serpent�s cunning)." Bagaimana cara Iblis memperdaya atau menipu manusia? Menurut Paulus, Iblis memiliki kemampuan untuk "menyamar sebagai malaikat terang" (2Kor. 11:14). Ayat 2 Korintus 11:14 tersebut menarik, sebab pada ayat ke-13 Paulus mengatakan, "Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus." Jadi jika pertanyaannya adalah bagaimana cara Iblis melakukan deception, maka jawabannya adalah melalui orang-orang yang menyamar seolah-olah mereka adalah rasul-rasul Kristus yang sebetulnya ialah rasul-rasul palsu.21 Jikalau tugas utama seorang rasul ialah memberitakan firman Tuhan dan mengajar, maka hal itu berarti Iblis pun gemar memasuki dimensi penyesatan melalui pemberitaan dan pengajaran.

    Dalam surat yang lain, rasul Paulus mengatakan: "... di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat [NIV: deceiving spirits] dan ajaran-ajaran setan [NIV: things taught by demons] oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka" (1Tim. 4:1-2). The Living Bible mengatakan bahwa orang-orang yang murtad itu "become eager followers of the teachers with devil inspired ideas." Dari pernyataan ini ada beberapa hal yang dapat disimpulkan: pertama, penyesatan dan pengajaran adalah dua istilah yang dikaitkan dengan pekerjaan roh-roh jahat. Artinya, salah satu aktivitas roh-roh jahat disalurkan melalui teachings atau rumusan-rumusan pengajaran untuk mempengaruhi manusia. Tentunya yang dimaksud dengan pengajaran di sini adalah pengajaran yang berbeda dengan pengajaran yang benar dan sehat, namun penampilan dan penyampaiannya dikemas d antu131112k, sistematika dan cara yang mirip dengan kebenaran yang sejati dengan tujuan supaya orang yang tidak berhati-hati dan tidak berjalan di dalam kebenaran akan tertipu atau teperdaya.

    Yang kedua, karena disebut tentang adanya "orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan," hal ini berarti roh-roh jahat akan menyebarkan pengajaran sesat melalui medium manusia, baik yang mengaku sebagai orang yang mengikut Kristus, atau hamba Tuhan (ingat, Iblis mampu menyamar sebagai malaikat terang dan menciptakan rasul palsu seperti yang dikatakan dalam 2Kor. 11:13-14).

    Apakah Iblis akan terang-terangan mengaku dari dirinya sendiri bahwa ia sedang mengajarkan pengajaran palsu dan sedang berusaha mempengaruhi sebagian orang supaya menjadi sesat? Saya rasa cara kerja Iblis tidaklah terang-terangan demikian. Selama beberapa millennium menjalani aktivitas ini Iblis tahu strategi dan trik yang lihai dan licin untuk mengelabui manusia melalui aktivitas manusia lainnya yang telah menjadi alat atau agent-nya. Oleh sebab itulah untuk mengenali pengajaran sesat saja sulit, apalagi mengenali the master mind di belakang pengajaran sumbang tersebut. Namun demikian, melalui penelitian firman yang baik dan sensitivitas terhadap pimpinan Roh Kudus, seseorang yang beriman kepada Kristus akan dapat mengenali keduanya dengan pertolongan Tuhan.

    Ketiga, Iblis memiliki kemampuan untuk menginspiriasikan ide atau pengajaran sumbang melalui cara-cara yang sulit terdeteksi. Mungkin Yudas 4 bisa sedikit menjelaskan apa yang saya maksudkan, sebab di sana dikatakan "...ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu." Bagaimana caranya orang bisa masuk menyelusup ke tengah-tengah jemaat tanpa terdeteksi adalah "seni" yang bersifat satanis. Apa tujuannya orang masuk menyelusup di tengah-tengah jemaat jikalau bukan untuk maksud menyesatkan atau menipu? Karena itu orang Kristen di mana pun dan gereja denominasi apa pun harus berhati-hati terhadap orang-orang yang sudah terinspirasi oleh Iblis, sebab orang-orang yang demikian akan melakukan kegiatan yang sulit terdeteksi dengan motif yang destruktif.

    Pengajaran palsu yang dilakukan Iblis melalui guru-guru palsu yang masuk menyelusup akan lebih sulit lagi dideteksi sebagai palsu apabila pengajaran itu diberikan dengan disertai oleh perbuatan ajaib, tanda-tanda, mujizat dan karunia-karunia spektakuler lainnya, sehingga di dalam keterpesonaannya itu orang menjadi tidak kritis dan pikirannya menjadi kurang nalar untuk memperhatikan rumusan pengajaran yang diberikan bersamaan dengan hal-hal yang memesonakan itu. Maka dari itu ada baiknya kita memperhatikan pesan yang jauh-jauh hari sudah disampaikan oleh rasul Paulus dalam 2 Tesalonika 2:9-12, "Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. Dan itulah sebabnya Allah mendatan gkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan suka kejahatan." Kalau Iblis mampu datang dan bekerja melalui manusia dengan diselubungi oleh berbagai penampilan spektakuler yang dapat membutakan manusia sehingga tidak dapat melihat kebenaran, hal ini adalah sesuatu yang sangat berbahaya sekali. Karena apa? Karena itu adalah cara yang sangat cerdik tetapi sekaligus jahat. Itulah sebabnya di zaman sekarang pun kita akan menjumpai dari kebenaran [LB: have left the path of truth] dengan mengajarkan bahwa kebangkitan ... telah berlangsung dan ... merusak iman sebagian orang" (2Tim. 2:18). Pengajar-pengajar palsu model Himeneus dan Filetus di abad ke-21 tentunya akan mengajarkan lebih banyak lagi doktrin-doktrin yang menyimpang dari kebenaran dengan akibat lebih banyak lagi orang yang rusak imannya.

    PENUTUP

    Saya selalu merasa bahwa akar permasalahan yang menjadi sebab seseorang dapat bergeser ajaran teologinya adalah mulai mengendurnya atau tidak adanya penghargaan atau penundukan diri orang itu terhadap otoritas firman Tuhan. Jangan salah mengerti. Yang saya maksudkan bukanlah sekadar membaca Alkitab di rumah atau seperti pendeta gereja Prostestan membaca Alkitab di mimbar sebelum berkhotbah (karena memang tidak bisa tidak membaca Alkitab dan tidak bisa membaca kitab Apokrifa, misalnya). Yang lebih penting adalah penghargaan dan penundukkan diri itu dihidupi dan berurat akar secara nyata dalam kehidupan sehari-hari dan pelayanan. Letak Alkitab seharusnya ada pada posisi di atas orang itu, bukan sebaliknya ada di bawah. Dengan demikian, otoritas Alkitab menjadi hidup dan memiliki efektivitas di atas kehidupan dan pelayanan orang itu. Bagi mereka yang secara sadar atau tidak bersikap antiotoritas ter hadap membangun otoritas diri sendiri untuk menjadi figur setaraf dengan nabi, rasul, atau minimal, seperti Paus di Vatikan yang keberadaannya dianggap infallible dan tidak dapat diganggu gugat. Apakah posisi seperti ini yang memang diinginkan oleh beberapa pemimpin gereja sekarang ini?

    Karena itulah, apabila kita memperhatikan isi Alkitab secara seksama, berkali-kali di dalamnya dapat dijumpai peringatan mengenai bahaya ajaran sesat atau ajaran palsu.22 Rasul Paulus misalnya pernah mengatakan "awasilan dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu" ("watch your life and doctrine closely"; 1Tim. 4:16a). Hal ini berarti cara dan prinsip seseorang menjalani kehidupan ini adalah sama pentingnya dengan apa yang dipercayai dan dipegangnya sebagai ajaran yang sehat. Atau, dapat pula dikatakan cara dan prinsip kehidupan dekat sekali pengaruhnya terhadap cara dan prinsip berteologi seseorang, demikian pula sebaliknya. Senada dengan itu baiklah kita memperhatikan peringatan Paulus dalam Roma 16:17-18 di mana ia berkata: "Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, men imbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka! Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya."

    Nasihat tegas seperti itu benar-benar harus diperhatikan oleh kita semua, apalagi di akhir zaman ini di mana "... orang tidak dapat lagi menerima ajaran yang sehat" (2Tim. 4:3). Bukan hanya itu saja. Di beberapa tempat kita dapat melihat cukup banyak orang atau bahkan pendeta berusaha membangun otoritas mereka sendiri yang pada dasarnya adalah bukan kebenaran. Karena itu, kita yang setia kepada Kristus dan firman-Nya haruslah lebih berhati-hati menjalani kehidupan ini sambil berjaga-jaga terhadap segala situasi kehidupan, kebutuhan, penggunaan akal dan serangan dari kuasa kegelapan, supaya kita "... will no longer be like children, forever changing our minds about what we believe because someone has told us something different, or has cleverly lied to us and made the lie sound like the truth" (Ef. 4:14; Living Bible).23

    Sumber: Majalah Veritas 4/2 (Oktober 2003) 173-188

    Mengenal Suara Gembala Agung

    Penulis : Jonathan K. Tunggal

    Yoh.10:14 "Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-dombaKu dan domba-domba-Ku mengenal Aku." Yoh.10:16b "...dan mereka akan mendengarkan suara-Ku...."

    Hasrat dari umat percaya adalah untuk mentaati secara sepenuh segala titah dan ketetapan Tuhan. Tetapi banyak yang berkeluh kesah, "Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai!" Penulis percaya bahwa kita sekalian rindu untuk selalu berjalan di dalam prinsip Tuhan karena kita tahu bahwa ini mengakibatkan tercurah-nya berkat berkelimpahan dalam hidup kita masing-masing (Kel. 28). Tetapi, seringkali kita terbentur akan keterbatasan dan ketidak-mengertian kita akan suaraNya. Padahal, Tuhan Yesus menyatakan bahwa dombaNya mengenal suaraNya (Yoh.10). Jadi, kenyataan hidup rohani kita adalah keterbatasan akan pendengaran suaraNya. Bilamana dombaNya dapat mengenal suaraNya, maka bukankah betapa pentingnya kita rindu menjadi "domba". Mengapa penulis berkata kita harus "rindu"? Apakah tidak semua umat Kristen otomatis adalah domba-dombaNya? Penulis rasa tidak, karena tidak semua orang yang disebut sebagai umat Kristiani mengenal suaraNya. Tidak kenal suaraNya, jadi buk an domba. DombaNya mengenal suaraNya. Bagaimana? Jadilah hamba terdahulu! Apakah hubungan untuk belajar menjadi hamba dan bersikap menjadi domba? (Bandingkan dengan Mazmur 23)

    a) Hamba: siap diperintah oleh Tuannya. Domba: siap tanpa banyak keluh-kesah untuk dibawa ke air yang tenang.

    Seringkali kita terus-menerus mengomel dan mengeluh, tetapi sebagai akibatnya kita tidak menangkap suara Roh Kudus yang sangat lemah-lembut dan menghibur. Bilamana sebagai hamba kita terbiasa untuk diperintah, maka sebagai domba kita siap untuk tinggal diam. Diam secara jasmaniah terhadap semua gangguan dan juga diam secara rohani di mana hati yang penuh galau menjadi penuh damai.

    b) Hamba: karena hanya taat kepada Tuannya, tidak risau akan akibat tindakan. Domba: siap berbaring di padang yang berumput hijau.

    Kerapkali kita risau akan keadaan hidup kita dan tidak mau ditenangkan. Sebagai akibat, hanya kuatir dan risau yang menguasai hati dan pikiran, bukan suara Firman Tuhan. Hamba taat dan tahu bahwa bilamana taat, semua tanggung-jawab sudah dipikul oleh Tuannya. Kalau tidak risau, maka kita mulai masuk padang yang berumput hijau. Hati tenang di dalamNya, maka suara Gembala akan sangat jelas.

    c) Hamba: diberi upah oleh Tuannya. Domba: siap untuk tidak akan kekurangan.

    Banyak umat Kristen tidak siap, bahkan tidak percaya bahwa hidup Kristiani adalah hidup penuh pahala.

    d) Hamba: setia kepada Tuannya dan tinggal di dalam rumah Tuannya. Domba: siap untuk tidak takut akan si jahat meskipun berjalan dalam lembah kekelaman. Karena selalu setia dan "bersembunyi" dalam naunganNya, maka kekuatiran hilang.

    e) Hamba: siap dikoreksi/didisiplin oleh Tuannya. Domba: siap untuk percaya bahwa gada dan tongkat Gembala itu yang membawa penghiburan.

    Bilamana terbiasa untuk didisiplin, sebagai domba kita tahu mana yang berkenan dan mana yang tidak. Tidak ada kuatir, karena Gembala Agung akan selalu membetulkan segala kesalahan dan kelemahan.

    Marilah menjadi hamba. Janganlah kita terburu-buru mengejar "posisi atas". Sebelum jadi pemimpin, bersedia memulai dari hamba. Sebelum terburu-buru menjadi gembala, harus belajar menjadi domba; Sebelum terburu-buru menjadi pemimpin pujian, bersedia untuk membersihkan alat musik. Sebelum berambisi untuk mengepalai persekutuan, bersedia untuk membersihkan lantai di mana persekutuan itu berada. Sebelum membasuh kaki sesama, siaplah untuk menimba air basuhan. Sebelum berambisi, bersedia untuk menyerah kepada kuasaNya. Marilah kita belajar menjadi hamba; maka sebagai domba, kita akan akan mengenal suaraNya.

    Maka, dombaNya percaya akan kesetiaanNya. DombaNya melihat kebaikanNya. DombaNya mengecap keindahanNya. Akhirnya, dombaNya merasakan kebaikan dan suatu kasih yang melampaui segala pengertian dan pengetahuan, dan yang akan menyertai sepanjang hidupnya. Terpujilah Nama di atas segala Nama itu !

    Menguji Ekspektasi

    Penulis : Eka Darmaputera

    BERMANFAATKAH "iman" itu? Atau tidak? Taruh kata jawaban kita positif, "Ya, iman itu besar faedahnya", ini ternyata belum berarti semuanya beres. Kita masih harus menjelaskan lagi, "manfaat" yang kita maksudkan itu termasuk kategori pengertian apa. Belum jelas?

    Baik saya jelaskan yang saya maksudkan. Bayangkanlah andaikata ada orang bertanya, "Bermanfaatkah udara atau air atau hujan itu, menurut Anda?", maka apa jawaban Anda? Pasti "positif". "Tentu, menurut keyakinan dan pengalaman saya, udara atau air atau hujan itu amat sangat bermanfaat!". Bahkan bukan cuma "positif" sekadar "positif". Melainkan "positif" dalam pengertian "kategoris". "Positif" dalam pengertian "kategoris" artinya, positif untuk siapa saja, di mana saja, kapan saja. Pertanyaan logis selanjutnya adalah: bila ada "positif" yang "kategoris", apa itu berarti ada "positif" dengan kualifikasi yang lain? Memang ada! Itu sebabnya di atas saya bertanya, bila "iman" itu kita katakan bermanfaat, kita masih harus menjelaskan, "manfaat" dalam pengertian yang bagaimana?

    DI SAMPING "manfaat" yang "kategoris", ada pula "manfaat" yang "kondisional". Apa bedanya? Kita tadi mengatakan, bahwa udara atau air atau hujan bermanfaat secara "kategoris". Artinya, siapa saja, di mana saja, kapan saja, orang menikmati serta mengakui kemanfaatannya. Tapi bagaimana bila pertanyaan kita bukanlah mengenai udara atau air atau hujan, tapi mengenai komputer atau kamera digital atau DVD-player? Saya yakin, kita akan memperoleh jawaban yang berbeda. Sebagian orang akan mengatakan, bahwa mereka tidak akan bisa "hidup" dan akan menjadi "lumpuh", tanpa benda-benda itu. Tapi bagi sebagian orang yang lain, benda-benda itu (relatif) tak ada gunanya. Seperti antena parabola atau lemari pendingin untuk rumah-rumah yang belum ada aliran listriknya. Maka kalau pun mau dimanfaatkan, antena parabola itu dipasang untuk "aksi-aksian". Dan lemari es untuk menyimpan pakaian. Komputer, kamera digital dan DVD player tentu saja "bermanfaat". Tapi bermanfaat dalam pengertian "kondisional" alias "bersyarat". Bagi Inge, tenaga eksekutif di sebuah perusahaan multi-nasional, benda-benda itu amat sangat bermanfaat. "Cannot live without it", katanya. Tapi si Cempluk, putri seorang transmigran di pedalaman Papua atau Kalimantan, malah bertanya, "Untuk apaan sih itu?" Siapakah yang benar, di antara mereka berdua? Inge atau Cempluk? Jawab saya: dalam hal yang bersifat "kondisional", tak ada soal "benar" atau "salah". "Benar" atau "salah" itu tergantung.

    "TERGANTUNG"? Tergantung apa? Ini adalah sebuah pertanyaan besar! Sebab andaikata saja benar (tapi, awas, saya tidak mengatakan begitu lho!), manfaat "iman" itu bersifat "kondisional" saja, maka pertanyaan kita adalah: bermanfaat atau tidak bermanfaat itu, tergantung dari apa? Atau, tergantung pada apa? Depends on what? Pertanyaan yang wajar, bukan? Berulang-ulang, saya kira, saya telah memperingatkan Anda, janganlah sekali-kali mempercayai propaganda bahwa seolah-olah ada obat atau jamu yang bak "obat dewa", ces pleng mampu mengobati semua penyakit. Tidak ada obat serupa itu. Cuma tabib atau dukun atau sinshe pembohong atau pembual saja, yang mengiklankan diri "mampu menyembuhkan semua penyakit baik baru maupun lama". Dokter saya, seorang profesor ternama, mengatakan, "Bahkan untuk penyakit yang sama, bagi orang yang berbeda, obat yang sama belum tentu sama manjurnya".

    KARENA itu saya tertawa geli melihat, pada suatu pagi, A Fung marah- marah. Pasalnya karena, walau telah berkutat setengah mati, ia tak juga dapat membuka pintu tokonya. "Dasar kunci brengsek! Kunci murahan!", begitu ia mengumpat. Padahal, apa penyebab sebenarnya? Karena A Fung memakai kunci yang salah. Ya mana pintu bisa terbuka, bukan?! Kemudian saya juga cuma dapat menggeleng-gelengkan kepala, mendengar Ferdinand mengumbar sumpah serapah. Penyebabnya, mobil mewah eks- impor yang baru seminggu dibelinya dengan harga hampir semilyar rupiah, tak dapat ia pakai untuk ber"lintas-alam" naik gunung di tengah-tengah musim penghujan. Malah slip, terperosok ke kubangan lumpur tanah liat. "Nyesel bener gua beli mobil ini! Masih mending jip tua gua!" demikian tak habis-habisnya ia menggerutu. Saya menggeleng-gelengkan kepala, karena agaknya Ferdinand tidak menyadari, bahwa semakin mahal harga atau semakin mewah sebuah mobil, sama sekali tidak otomatis berarti semakin serba-guna pula. Tidak! Di jalan yang mulus, mobil mewah itu memang tak tertandingi. Tapi untuk menembus kubangan lumpur tanah liat di jalan yang terjal menanjak? Sebuah jip Willys tua pasti masih jauh lebih berguna. Dengan perkataan lain, masing-masing benda ada peruntukannya sendiri- sendiri. Yang ingin saya katakan adalah, bila orang mengatakan "iman" itu bermanfaat, atau sebaliknya telah memvonisnya sebagai tidak bermanfaat, ada pertanyaan krusial yang harus dijawab terlebih dahulu. Yakni, apa harapan atau tolok ukur yang dipakai untuk mengatakan itu?

    MISTER Templeton, Anda mengatakan bahwa "iman" tak ada manfaatnya?!. Wah, wah, wah! Pada satu pihak, tentu, ini adalah hak dan kebebasan Anda sepenuhnya. Tapi, Mister, kalau Anda mau orang lain mengacuhkan dan mempertimbangkan pendapat Anda itu, maka Anda harus menjelaskan, apa sebenarnya yang Anda harapkan dari "iman", sehingga Anda tiba pada kesimpulan Anda itu? Apa ekspektasi Anda yang tak terpenuhi? Maka dari situlah nanti kami akan menilai keabsahan pernyataan Anda. Yaitu, apakah ekspektasi Anda itu wajar atau berlebih-lebihan. Sebab bila "harapan" Anda itulah yang salah, ya jangan "iman" yang Anda persalahkan atau permasalahkan. Bayangkanlah sebilah parang yang panjang dan tajam. Bermanfaatkah ia? Sebenarnya orang tidak boleh cepat-cepat menjawab "bermanfaat" atau "tidak bermanfaat". Tapi sebaiknya bertanya terlebih dahulu, "Bermanfaat untuk apa?" Bila parang itu Anda mau pakai untuk memotong bambu atau membelah kayu maka, ya, positif. Parang itu bermanfaat. Sebab memang itulah peruntukannya. Tapi jangan Anda katakan benda itu mubazir, sia-sia, atau tak ada gunanya, sebab Anda ingin memotong kuku, atau menggergaji kayu, atau menggunting kain dengannya! Sebab bukan untuk itu, bung, guna sebilah parang itu!

    YANG ingin saya katakan adalah, banyak kesimpulan yang salah mengenai apa manfaat "iman" bagi kehidupan. Ini disebabkan harapan- harapan yang salah dibubuhkan di atas bahu "iman". Bagaimana mungkin berhasil, mengobati sakit perut dengan meneteskan obat mata? Bagaimana berharap dapat memperoleh yang kita harapkan dari "iman", bila harapan kita saja sudah salah? Sebab itu betapa pentingnya kita menjernihkan serta meluruskan terlebih dahulu "pemahaman" atau "konsepsi" kita, sebelum kita menyatakan "harapan" atau "ekspektasi" kita! "Harapan" atau "ekspektasi" mungkin dapat kita katakan adalah wilayah kebebasan pribadi orang-per-orang. Si A punya harapan begini, dan si B punya harapan begitu. Tapi "pemahaman" atau "konsepsi" adalah masalah semua orang. Anda tidak mempunyai kebebasan untuk mengatakan "2x2=5", sebab bagi semua orang "2X2=4" adalah kebenaran yang bersifat kategoris, tidak kondisional. Templeton berhak mengatakan, bagi dirinya, bahwa iman itu tidak bermanfaat. Tapi kita pun berhak untuk menilai keabsahan pilihannya itu. Benarkah pemahamannya, tatkala ia mengatakan bahwa tak mungkin ada Allah yang Pengasih, ketika seorang ibu di Afrika Utara dibiarkan mati kehausan karena musim kering yang berkepanjangan? Dan apa gunanya mengimani "Allah" yang berkuasa, namun tak bersedia, menurunkan hujan, guna menyelamatkan ribuan nyawa dari kematian yang sia-sia? Benarkah "konsepsi" Templeton, bahwa Allah-lah yang berada di balik tragedi kemanusiaan tersebut? Bahwa karena itu, Ia pula yang harus bertanggungjawab sepenuhnya? Bahwa Allah, adalah Sang Pembawa Mala Petaka? Bukan hanya "konsepsi" Templeton yang negatif tentang "iman" yang harus kita telisik, tapi juga "konsepsi" orang-orang kristen semacam Tomi Blablabla, yang dengan enteng mengatakan betapa bermanfaatnya "iman" bagi keperluan hidupnya yang nyata. Benarkah pemahamannya tentang "Allah", yang bak sinterklas menebar hadiah dengan mudah dan murahnya? Karena itu, saudara, "perjalanan ziarah" kita masih jauh.

    Sumber: Sinar Harapan

    Menyadarkan Tanpa Mempermalukan

    Penulis : Eka Darmaputera

    "The ever-present Toni". Masih ingat dia? Tidak? Itu lho si Toni yang (mengaku) selalu ada "di sana", di tempat yang sedang jadi bahan pembicaraan. "Kebetulan aku persis ada di situ melihat sendiri". Toni, si "Saya-Juga-Tahu". Disebut begitu karena senantiasa mengklaim "tahu" nyaris mengenai segala sesuatu. Mengetahui semua peristiwa, obat untuk segala penyakit, jawab untuk segala pertanyaan, dan ... mengenal hampir semua orang terkenal. "Saya dengan dia dulu "kan sering main bola sama-sama". Orangnya berpembawaan ramah dan senang bergaul. Karena itu ia disukai banyak orang. Tapi biasanya tak lama. Cuma sampai orang tahu "belang"nya. Tahu siapa Toni yang sebenarnya. Dan serta-merta berubahlah ia menjadi Toni, si "Mulut Ember". "Orang seperti Toni itu memang tidak jahat, tapi "nyebelin", begitu kata mereka. Maka sungguh malanglah nasib si "Saya-Juga-Tahu" ini. Ia berbuat begitu, dengan tujuan diterima menjadi kawan sebanyak mungkin orang. Kini, orang justru satu demi satu menghindarinya.

    APAKAH Anda termasuk orang yang tak terlalu sabar menghadapi orang- orang tipe "Saya-Juga-Tahu"? Kalau "ya", maka memang tak ada yang lebih bisa memberi kepuasan batin dari pada menelanjangi dan mempermalukan mereka di depan umum. Biar nyaho dia! Biar kapok! Namun sebelum ini Anda lakukan, tolong Anda pertimbangkan baik-baik dan kemudian jawab dulu dua pertanyaan berikut. Pertama, yakinkah Anda bahwa mempermalukan orang ini benar-benar akan memuaskan batin Anda? Perkiraan saya, Anda memang berhasil membuat mereka malu besar. Hingga ia tak punya muka dan nyali lagi untuk muncul. Mengurung sambil meratapi diri. Atau pergi mencari sasaran lain. Dengan demikian, Anda memang terbebas. Tapi, pertanyaan saya, puaskah Anda? Saya mempersoalkan ini karena saya yakin, bahwa bukan ini yang menjadi tujuan akhir Anda. Yakni, membuang mereka. Malah sebaliknya, Anda ingin membuatnya menjadi oang yang lebih baik, bukan? Tentu! Sebab bila diibaratkan mesin, orang-orang itu "benar" perlu perbaikan. Tapi tak perlulah mereka sampai dibuang. Sayang.

    PERTANYAAN yang kedua adalah: apakah Anda sendiri, bahkan kita semua "dengan satu dan lain cara" tak pernah melakukan hal-hal yang mirip dengan yang mereka lakukan? Misalnya, ngotot mempertahankan suatu pendapat, yang kita sendiri sebenarnya belum yakin benar akan benar- salahnya? Atau, setelah membaca atau mendengar suatu desas-desus, segera meyakininya sebagai kebenaran, dan menyebar-luaskannya ke mana-mana, walau kemudian Anda tahu bahwa faktanya tidak begitu? Atau merasa rendah diri melihat orang lain lebih tahu ketimbang kita? Bila kita mengakui bahwa kita pun tak luput dari perbuatan-perbuatan semacam itu, lalu apa dasarnya sehingga kita merasa lebih baik, serta punya missi untuk "memperbaiki"? Saya tidak menyarankan agar kita diam saja, membiarkan orang-orang seperti Toni tanpa sadar "menggali kubur mereka sendiri". Tapi sebaliknya, kita juga tidak berhak untuk menganggap mereka kurang dari manusia, hingga boleh kita caci maki sekehendak hati. Saran saya adalah, apa pun yang kita lakukan, lakukanlah dengan tidak terburu-buru menghakimi mereka! Pahami dulu mereka lebih saksama!

    SALAH SATU cara agar kita sendiri terhindar dari godaan bersikap "reaktif" yang berlebih-lebihan, dan menjadi "over-acting", adalah menganggap apa yang mereka lakukan itu "betapa pun menyebalkan, memang";adalah sekadar "gangguan kecil" yang tak terlalu berarti. Analoginya adalah, sama seperti bila suatu ketika Anda sedang mengemudikan mobil di jalan yang ramai. Tapi, astaga, pada saat Anda membutuhkan konsentrasi penuh, eee, ada lalat yang tak tahu diri terbang, dan hinggap ke sana kemari di dalam mobil Anda. Apa reaksi Anda? Terganggu oleh tingkah si lalat itu, tentu saja. Namun Anda mesti memilih satu antara dua. Apakah Anda tetap berkonsentrasi pada kemudi Anda, dan menganggap lalat itu sebagai "gangguan kecil", yang akan Anda atasi nanti pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat? Atau Anda menganggapnya sebagai "gangguan yang tak dapat ditorerir"? Lalu sibuk mencari apa saja yang dapat Anda pakai untuk menggebuk dan melenyapkan lalat itu, dengan akibat ... Anda tahu sendiri-lah? Dengan perkataan lain, yang ingin saya katakan adalah, "gangguan" memang adalah "gangguan". Ia mengganggu. Karena itu tidak kita biarkan begitu saja. Tapi kita harus menghilangkan gangguan itu secara proporsional. Jangan membakar seluruh rumah hanya untuk mengusir nyamuk! Agar kita dapat menghadapi orang-orang bertipe "Saya-Juga-Tahu" secara proporsional, ada tiga sikap batin yang perlu kita miliki.. Pertama, memahami benar siapa mereka. Kedua, memiliki compassion. Yaitu perpaduan antara kepedulian, iba , serta dorongan untuk menolong. Dan akhirnya, ketiga, adalah kesabaran. Tanpa pemahaman yang benar, kita pasti akan salah tindak. Sebab yang kita hadapi bukanlah "mereka" yang sebenarnya, melainkan "stereotip" bikinan kita sendiri. Dengan perkataan lain, kita telah menekan nomor telepon orang lain. Lalu, kedua, compassion kita perlukan, karena motivasi inilah satu- satunya motivasi yang benar dalam menghadapi mereka. Tindakan kita tidak didasarii oleh sikap jengkel, atau ingin mempermalukan, atau agar "tau rasa lu!". Tapi oleh keinginan memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkannya. Kerinduan memberi obat kepada orang sakit yang memerlukannya. Sedang, ketiga, sikap ekstra sabar sungguh diperlukan menghadapi mereka. Atau kita akan terjebak oleh sikap reaktif kita sendiri. Sebab tak mudah menolong orang-orang semacam mereka. Mereka adalah orang-orang yang ingin dianggap "hebat". Tidak mau diperlakukan sebagai "pasien".

    AGAR tindakan kita tepat arah dan mengenai sasaran, kita mesti senantiasa sadar akan tujuan utama kita. Maksud saya, bila tujuan kita adalah Denpasar, ya ke Denpasar-lah pikiran kita pusatkan dan kaki kita langkahkan. Jangan mudah menyimpang ke obyek-obyek lain, betapa pun menariknya. Dalam menghadapi orang-orang tipe "Saya-Juga-Tahu", tujuan kita satu pula. Yakni membuat mereka jera, tanpa kehilangan muka. Menyingkap dusta mereka, tanpa membuat mereka jadi defensif. Bagaimana caranya? Pertama, jangan beri mereka perhatian yang terlalu besar. Pada satu pihak, sama sekali tidak memberi perhatian, akan membuat jalur komunikasi dengan mereka terputus. Ini tidak sesuai dengan sikap batin kita. Sebab sesungguhnyalah kita justru sangat mempedulikan mereka. Namun demikian, memberi perhatian terlalu besar, akan mengirim sinyal yang salah. Mereka merasa berhasil, dan merangsang mereka tambah bersemangat "mengarang" kisah-kisah fiktif baru. Lalu kita pun akan bertambah kesal dan sebal. Dengan akibat, mudah terprovokasi.

    KEDUA, bila Anda merasa mereka telah semakin keterlaluan, inilah saatnya Anda memberi komentar. Kejar dan desak mereka untuk melengkapi cerita-cerita mereka dengan fakta dan data yang diperlukan. "Belum berapa lama saya bertemu dan bercakap-cakap dengan Presiden SBY. Kami "kan kenalan lama". "O ya? Belum berapa lama itu kapan? Di mana? Dalam kesempatan apa?". "O, baru kemarin dulu, di Istana Merdeka. Saya diundang ke sana". "Lho, kemarin dulu "kan beliau tidak ada di Jakarta. Dan boleh saya lihat surat undangannya?" Terus lakukan demikian, sampai ia sendiri sadar akan apa yang ia lakukan, dan semakin berhati-hati dalam mengumbar cerita. Namun dalam melakukan ini, Anda sendiri hendaknya amat berhati-hati dengan "bahasa tubuh" Anda. Sorot mata Anda, nada suara Anda, gerak- gerik Anda, jangan sampai memberi kesan seolah-olah Anda adalah polisi yang sedang menyidik atau jaksa yang sedang menuntut. Kesan ini akan membuat ia semakin defensif. Baginya, Anda adalah ancaman. Ia akan menutup diri. Memutuskan jalur komunikasi. Dan kesempatan Anda untuk melakukan sesuatu yang positif pun akan lenyap. Yang terpenting adalah, Anda menyadarkan, tanpa mempermalukannya.

    Menyangkal Diri & Memikul Salib

    Penulis : Saumiman Saud

    Keputusan penting apa yang pernah anda ambil selama anda hidup sampai saat ini? Mungkin anda mempunyai jawaban yang beragam satu dengan yang lain. Ada orang mengatakan keputusan penting yang pernah diambil antara lain; memilih sekolah atau Universitas, memilih temapat kerja, Menikah , mengapply Green Card dan sebagainya. Di antara sederetan keputusan tersebut, manakah yang paling penting? Sekali lagi kita bakal mendapat jawaban yang satu dengan lainnya berbeda.

    Saat ini kita akan coba melihat keputusan penting yang pernah diambil oleh murid-murid Yesus Tuhan Yesus mengatakan kepada murid-muridNya . “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku Satu keputusan yang cukup berat tentunya, namun inilah konsekwensi bagi seorang pengikut Yesus.

    Ada tiga hal yang cukup menarik yang akan kita lihat bersama :

    Menyangkal Diri

    Apa yang dimaksud dengan menyangkal diri? Menyangkal boleh diartikan dengan tidak mengindahkan, tidak respon. Walaupun murid-murid Yesus sudah cukup lama hidup bersama-sama dan pelayanan bersama, namun rupanya konsep mereka terhadap Yesus sang Mesias ini masih salah. Konsep pemikiran mereka seperti yang dituduhkan Yesus terhadap Petrus, mereka itu masih duniawi. Bagi Yesus apa yang dilakukan Petrus terhadap dirinya adalah merupakan penghalang atau batu sandungan. Itu sebabnya pada ayat 24 Yesus dengan tegas sekali mengatakan "Setiap orang yang mau mengikut Aku ia harus menyangkal diri" "Setiap orang" di sini berarti siapapun juga, tidak ada kecuali atau yang mendapat dispensasi (prioritas). Ingat bahwa pada jaman itu mengikut Yesus berarti murid- murid Yesus harus mengiringnya menuju Yerusalem, namun pada saat ini tentu bukan lagi masalah Yerusalem.

    Syarat seorang pengikut Yesus yakni harus "Menyangkal Diri". Terjemahan lain untuk "menyangkal diri" merupakan kepentingannya sendiri (BIS) "atau" tidak lagi memikirkan kepentingannya sendiri. Tuhan Yesus tidak meminta kita hidup asketis akibat penyangkalan diri ini, misalnya tidak makan daging tertentu, menyiksa diri kita dan sebagainya. Menyangkal diri boleh dikatakan seperti kita berani berkata tidak untuk "perbuatan tertentu" yang dulunya kita tidak dapat menolaknya, padahal situasi itu kita sangat sukai.

    Ada seseorang memberikan penyataan demikian :
    Manusia pertama : Tidak dapat berbuat dosa
    Setelah Kejatuhan : Tidak dapat tidak berbuat dosa
    Jaman Anugerah : Dapat tidak berbuat dosa

    Hidup yang di dalam penyangkalan diri berarti hidup yang di dalamnya ada perubahan yang nyata. Mengingat kembali masa lalu kita, rasanya kita malu kalau saat ini kita boleh bersama dengan Tuhan. Namun orang yang menyangkal diri mengikut Tuhan ia harus tinggalkan mas lalunya. Benar dahulu hidup kita seperti seorang penjahat atau lebih kasar seperti "bajingan". Tetapi tatkala Yesus mengatakan , Ayo ikut Aku? Artinya segala-galanya yang berhubungan dengan kehidupan masa lalu yang buruk itu harus disingkirkan.

    Memikul Salib

    Dasar kata yang dipakai untuk kata "Memikul Salib" di sini dapat diterjemahkan dengan membawa atu mengangkat. Banyak terjemahan yang menerjemahkan dengan "Membawa " dan "Mengangkat" Mengapa dikatakan memikul salib? Tentu berbeda dengan jaman sekarang, salib dibuat seperti mainan, dipakai sebagai kalung, anting-anting dan yang kelewatan dipasang di pusarnya.

    Sebenarnya salib itu adalah salah satu alat yang digunakan oleh orang Romawi untuk menjalankan hukuman mati terhadap seseorang yang berbuat kejahatan. Salib dianggap sebagai lat untuk mendatangkan kematian dengan cara yang pelan namun sangt menyakitkan. Orang Romawi biasanya menggunakan salib untuk menghukum mati budak atau orang Asing. Orang yang dijatuhi hukuman diharuskan memikul salib atau balok lintang ( atau balok mendatar) ke tempat eksekusi. Pada jaman Yeus, masyarakat sering melihat orang-orang yang disalib, sehingga dijadikan lambang kehidupan orang percaya.

    Mengikut Aku

    Kata mengikut AKu ini di dalm bahasa Yunaninya dipakai kata apisw yang artinya di belakang (Matius 10 :38). Ternyata untuk mengikut Yesus ada terpasang dua syarat yang cukup berat. Tidak ada kesemptana untuk negosiasi atau KKN (sogok). Itu sebabnya walaupun pemuda yang dating itu adalah orang kaya, tetap saja pulang dengan tangan hampa. Karena bagi pemuda itu, tugas yang diberikan Tuhan Yesus itu sangat berat.

    Mengikut Yeus di dini juga boleh diartikan sebagai "Menjadi murid", "Menjadi pengikut-Nya" atu "Mereka pergi bersamanya" Jadi bisa dibayangkan apa yang segera harus lakukan seorang pengikut Yeus :

    Tinggalkan pekerjaannya
    Tinggalkan orang tua
    Tinggalkan sanak saudara
    Tinggalkan rumah
    Tinggalkan hartakekayaan
    Tinggalkan kawan-kawan
    Tinggalkan pacar
    Tinggalkan kampung halaman
    Tinggalkan segala-galanya

    Oh , tidak gampang bukan?

    Apa yang dapat kita pelajari?

    Seorang pengikut Yesus harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus. Jadi, beranikah kita mengambil konsekwensi ini? Meninggalkan apa yang kita suka dan senangi. Orang yang suka berbohong, merokok diminta supaya segera meninggalkannya. Kemudian arahkan kehidupannya menjadi seorang yang patuh pada perintah Tuhan, rajin ke gereja, baca Alkitab setiap hari, berdoa dan melakukan firman Tuhan.

    Billy Graham mengatakan :"Keselamatan itu gratis, tetapi untuk menjadi murid ada harga yang dituntut , yakni segala sesuatu yang anda miliki"

    William Borden lulus SMA tahun 1904, maka sebagai hadiah kelulusannya, ayahnya mengirimnya berkeliling dunia dengan ditemani seorang pengantar. Bapak Borden, pendiri perusahaan susu borden itu memberi putranya sebuah Alkitab untuk dibaca selam perjalanan tersebut dengan harapan agar bisa menjadi sumber inspirasi dalam persiapannya memasuki perguruan tinggi. Selama perjalanan keliling dunia itu, William mendengar panggilan Allah agar dia meninggalkan karier bisnisnya yang menjanjikan sukses itu dan memberitakan Injil. Ia menulis lima kata pada halaman depan Alkitabnya.

    - TIDAK ADA YANG DAPAT MENGHALANGI-

    William masuk Universitas Yale di maba ia sangat terpengaruh oleh Samuel Zwemmer untuk memikirkan tentang orang-orang yang belum percaya Yesus. William merasa bahwa Allah memanggil dia untuk bekerja dianatara orang-orang itu di China. Ia mengatakan kepada keluarganya bahwa ia tidak akan kembali ke bisnis keluarga setelah menyelesaikan pendidikannya di Yale, sebaliknya ia akan mengabdikan hidupnya untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi Kristus. Ia menambahkan emapat kata lagi di depan Alkitabnya

    - TIDAK ADA KATA MUNDUR

    Setelah menyelesaikan studinya di Universitas Yale dan di Seminari, William tiba di Mesir untuk belajar bahasa Arab sebagai persiapan pelayanannya. Dalam waktu setahun setelah kedatangannya ia terkena radang selaput otak dan meninggal tidak lama setelah berumaur 26 tahun. Ibunya pergi ke Mesir untuk mengumpulkan barang-barang2 pribadinya, salah satu diantaranya ialah Alkitabnya. Dan ia melihat tiga kata tambahan tertulis di depan Alkitab itu yakni :

    - TIDAK ADA PENYESALAN

    Apa yang dibutuhkan oleh dunia saat ini adalah suatu generasi orang percaya yang mempunyai motto : "Tidak ada yang dapat menghalangi, tidak ada kata mundur dan tidak ada penyesalan" Itu artinya , dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun kita tetap bersedia ikut Yesus. Sudah siapkah anda??

    Natal : Pemberian Terbesar

    Penulis : Andrias Hans

    Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu AKU buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu (Yeremia 29:7)

    Pendahuluan

    Kita paham akan latar belakang ayat di atas di mana Nabi Yeremia mengirimkan surat kepada tua-tua di antara orang buangan, kepada para imam, para nabi, dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebukadnezar raja Babel dari Yerusalem ke Babel (29:1).

    Gamblang sekali firman Tuhan memberikan petunjuk kepada umat pilihan saat itu supaya di negeri asing sekali pun mereka harus mengerjakan dua tugas panggilan yang mulia yakni: Menyejahterakan dan berdoa bagi kota atau tempat di mana mereka eksis dan mereka tidak diperkenankan untuk bersungut-sungut.

    Dua tugas ini sangat relevan dengan eksistensi umat percaya Indonesia walaupun kita bukan orang buangan di negeri asing. Indonesia adalah tanah kelahiran kita sendiri karena itu kita diminta oleh Tuhan untuk peduli terhadap berbagai situasi dan kondisi yang terjadi di tengah-tengah bangsa kita. Dan kepedulian terhadap bangsa kita merupakan perjuangan yang tak pernah usai karena terus menerus diperjuangkan oleh generasi demi generasi kristiani yang lahir di persada nusantara tercinta ini. Jelas sekali bahwa kita tidak bisa bermasa bodoh, kita harus harus peduli terhadap kekinian dan keakanan Indonesia.

    Pengantar: Peta umum situasi terkini

    Saat ini kita memasuki bukan saja era berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang baru (Era reformasi dan demokratisasi di mana semua elemen, eksekutif, legislatif, yudikatif, pers, dan masyarakat menjadi kelinci percobaan yang kalau salah mencobanya semua akan bermuara pada disintegrasi bangsa) namun juga kita sedang melintasi padang gurun yang sangat mengeringkan tenggorokan kita bahkan menghabiskan cairan dalam tubuh (baca: bangsa) kita, karena sekujur tubuh bangsa ini sedang mengalami penyakit multidimensional yang sangat berat dan payah. Sulit diobati karena hampir semua dokter yang mau mengobati juga sakit parah. Juga berpenyakit KKN kronis.

    Ekonomi

    Sejak tahun 1997 awal sampai detik ini krisis multidimensional yang kita alami tidak ada tanda-tanda akan berakhir, jangankan berakhir, berkurang saja tidak malahan semakin parah saja. Seluruh komponen bangsa ini, kecuali para elite, merasakan betapa pahitnya situasi dan kondisi ini. Para petani di perdesaan dan para buruh di perkotaan sekarang tercekik lehernya, susah bernafas karena beban yang sangat berat untuk hidup dari hari ke sehari. Mencari sesuap nasi bukan hal yang mudah lagi bagi mereka. Anak-anak mereka sakit dan mati karena tidak sanggup membawanya ke Puskesmas atau rumah sakit, karena tidak ada uang sepeserpun di tangan.

    Bapak-bapak dan ibu-ibu tani di perdesaan sebagai tiang penopang bangsa ini (Merekalah yang menyediakan makanan kepada seluruh masyarakat bangsa indonesia) semakin sulit untuk hidup (Trubus 386-Januari 2002/XXXIII halaman 41 memberikan catatan bahwa penghasilan seorang petani hanya sebesar Rp. 55.000 - 62.500 per bulan. Ini sebuah potret menyedihkan dari kehidupan petani dan keluarganya yang justru berada jauh di bawah garis kemiskinan). Sementara pemerintah juga tidak berdaya bagaimana mengangkat kesejahteraan ekonomi mereka. Fakta menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah nampak mandul bagi peningkatan kesejahteraan rumah tangga petani. Hasil tanaman mereka yang telah menelan biaya produksi tinggi tidak sebanding dengan harga yang diterima (Salah seorang misionaris yang melayani di wilayah Sumsel menyampaikan kepada saya bahwa jemaat yang ia layani saat ini sangat susah sebab harga sayur anjlok sampai ratusan rupiah per kilogram. Padahal biaya produksi yang mereka keluarkan amat begitu tinggi).

    Pendidikan

    Jangan tanya mengenai pendidikan anak-anak mereka. Menurut data dari Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (PLSP) tahun 2002, ada satu juta anak yang putus sekolah dasar setiap tahun dan ada 600.000. anak yang belum tertampung di sekolah dasar (Salah seorang misionaris yang melayani di wilayah Sumsel menyampaikan kepada saya bahwa jemaat yang ia layani saat ini sangat susah sebab harga sayur anjlok sampai ratusan rupiah per kilogram. Padahal biaya produksi begitu tinggi). Jangan lupa anak-anak kristiani baik di kota maupun desa berada dalam kategori ini.

    Keadaan yang paling menyedihkan dari semua pergumulan bangsa ini adalah

    Otak sebagian besar pemimpin, pejabat, konglomerat bangsa ini menurut Kwik Kian Gie (Kwik Kian Gie dalam Pemberantasan korupsi untuk meraih kemandirian, kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan ) sudah tidak waras lagi. Menurutnya pencuatan KKN di Indonesia sudah luar biasa dahsyatnya, dan sudah lama Jelas bahwa KKN yang berawal dari keserakahan materi berkembang menjadi kelainan-kelainan yang sifatnya bukan kebendaan. Pikiran menjadi jungkir balik walaupun pendidikannya tinggi. Itulah sebabnya ada istilah corrupted mind. KKN yang sudah merasuk ke dalam jiwa, mental, moral, akhlak menjelma kebijakan itu, terkadang perumusnya tidak menikmati uang, tetapi kebijakan yang tidak waras itu disebabkan karena keseluruhan jiwanya, cita rasanya, pikirannya sudah sakit. Kesemuanya ini sudah terlepas2 dari tingkat pendidikannya. Maka orang-orang yang masih waras, yang jiwa dan mindset-nya merumuskan kebijakan yang sangat merugikan orang banyak dan sangat tidak adil. Dalam membela kebijakannya, ilmu pengetahuan dipakai untuk berargumentasi seperti pokrol tanpa alur pikir yang jernih dan tanpa argumentasi, tetapi mengemukakan dalil-dalil yang digebrak-gebrakkan di atas meja diskusi. Gambaran yang terdistorsi ini dimuat di media massa, sehingga mayoritas masyarakat ikut bengkok persepsi dan pengetahuannya tentang hal ikhwal masyarakat, negara dan bangsa yang begitu besar pengaruhnya terhadap

    Moralitas

    Kondisi yang amat berbahaya yang mungkin tidak disadari oleh setiap anak bangsa Indonesia adalah pengrusakkan moralitas dan etika manusia Indonesia melalui narkoba, perjudian, seks bebas, dan pornografi dalam segala bentuk dan cara penyajiannya. Media massa, cetak, dan elektronik dengan gencar menyuarakan keadilan dan kebenaran tetapi pada saat yang sama mereka juga sedang mempromosikan tayangan-tayangan yang amoralistik yang memuakkan. Tayangan-tayangan hiburan,lagu-lagu, acara, quis, film, sinetron kental dengan nuansa perselingkuhan, perceraian, hedonisme, erotik, semi telanjang, dan tidak merangsang nilai-nilai kepatutan dan kebenaran hidup sebagai manusia mulia. Berbau mistis, sadis, pembalasan dendam, perampokan, dan pembunuhan. Inilah yang ditampilkan hampir setiap hari di depan mata kita. Tidak heran kini lahir banyak pemerkosa pemula cilik sebagai akibat menyaksikan tontonan-tontonan gratis ini.

    Tetapi ironisnya pemerintah tidak sepenuh hati menghalau semua ini bahkan terkesan kuat cenderung membiarkan bahkan mengizinkannya. Sementara di lain pihak upaya-upaya pembangunan sarana-sarana pembentukan karakter mental, moral, etika, dan spiritual yang sangat dibutuhkan anak bangsa ini dirasakan sangat dipersulit (Misalnya izin pembangunan rumah ibadah kristiani terlalu banyak lingkaran proseduralnya dibanding dengan meminta izin mendirikan usaha-usaha yang bernuansa demoralisasi (night club, tempat perjudian, dls). Banyak tempat di Indonesia di mana judi sudah dilegalkan dengan alasan sulit untuk mencegahnya). Pendek kata dalam bidang moral bangsa kita sang jawara. Lihat saja kita termasuk rangking dua dunia dalam cyber crime di dunia ini.

    Kini bangsa Indonesia menoreh satu prestasi besar karena telah memiliki universitas terbuka gratis yang tersebar di seluruh propinsi sampai ke desa-desa terpencil yakni sekolah demoralisasi anak bangsa Indonesia. Tayangan-tayangan TV kini sebagaian besar memberikan kurikulum yang mendukung secara langsung atau tidak langsung terhadap pemikiran dan sikap hidup yang anti etika, amoral, dan anti hal-hal rohani. Ini telah terbula lebar kepada semua masyarakat tanpa ada filter lagi. Tidak mengherankan saat ini pelaku free sex adalah anak SD dan SMP. Jangan ditanya anak SMU dan mahasiwa. Betapa mengerikan kondisi moral bangsa kita saat ini.

    Politik

    Di sisi lain kita dapat menyoroti situasi sosial dan politik terkini di mana sebentar lagi kita berhadapan muka dengan dinamika Pemilu dengan sistim yang baru. Kini terasa sekali para elite partai politik dengan segala upaya (lebih banyak menggunakan cara-cara haram) mau memenangkan pemilu. Serangan fajar (Membagi-bagikan uang kepada rakyat pada saat mereka menuju ke lokasi tempat pemungutan suara, besok Senin 5 April 2004) salah satu cara yang masih pas untuk dilakukan. Bahkan besar kemungkinannya mereka akan menyuap petugas-petugas di TPS-TPS dengan apa saja yang diperlukan. Para elite politik yang berkuasa saat ini terus mencari peluang-peluang mendapatkan dana di mana saja yang bisa dimasuki, apakah itu di lembaga-lembaga swasta atau pun di lembaga pemerintahan (BUMN terutama). Di sini nafsu korupsi, kolusi, dan nepotisme meningkat dengan tajam, dan sulit dibendung.
    484nKrisis multidimensional yang sangat dirasakan sebagian rakyat Indonesia saat ini menjadi lahan subur bagi money politic. Para elite partai saat ini sudah bergerak ke sasaran untuk mengurung rakyat miskin yang merupakan bagian terbesar rakyat Indonesia. Rakyat pun dengan lapang dada menyambut kedatangan kaki tangan partai.

    Sistim pemilihan Presiden dan wakilnya secara langsung bukan jaminan mutu kita memiliki pemilu yang demokratis. Tindak kekerasan dan anarkisme akan sulit dihindari dalam pemilu kali ini sebab merupakan pengalaman baru bagi bangsa Indonesia. Ini harus kita cermati dan waspadai dengan cara memberikan pendidikan politik yang benar mulai saat ini.

    Bagaimana posisi tawar umat Kristen dalam bidang politik? Kata yang paling tepat dipakai adalah parah! Kenapa demikian? Pengalaman menyatakannya bahwa beberapa waktu lalu ada belasan partai bernuansa Kristen dan masing-masing ketua umum partai, ingin menjadi RI 1. Masing-masing sudah punya kavling suara berdasarkan kandangnya masing-masing. Pertanyaannya, berapakah jumlah suara umat kristen (tambah Katolik) di seluruh Indonesia ? sepuluh jutakah, dua puluh jutakah? Kalau dibagi belasan partai, berapakah jumlah kursi yang akan diperoleh masing-masing partai Kristen? Nonsense! Kecuali terjadi mujizat, seluruh partai kristen yang ada boleh memenuhi doa Tuhan Yesus dalam Yohanes 17:21 yaitu : Ut Omnes Unum Sint ! partai-partai Kristen itu babak belur sebelum maupun sesudah diverifikasi KPU. Dan hanya satu yang muncul. Puji Tuhan. Namun saya cukup beralasan untuk pesimis terhadap keberhasilan partai Kristen dalam pemilu 2004? Meskipun saya tidak menentang adanya partai Kristen. Karena di dalam tubuh partai ini tidak sedikit juga yang memiliki motivasi, cara, dan tujuan berpolitik yang tidak jauh berbeda bahkan sama dengan para politisi duniawi yang sempit. Saya menduga kuat, alhasil dalam pemilu besok, Senin 5 April 2004 kita KO, dan mungkin babak belur (mudah-mudahan tidak jadi abu). Doa saya agar umat Kristen mau belajar dari ketidakbersamaan dan ketidakkebersatuan kita selama ini. Tuhan Yesus sedih melihat keterceraiberaian kita di dunia ini dalam hampir semua lini kehidupan kita. Ingat! doa Tuhan Yesus supaya kita bersatu, itu pertanda bahwa memang kelemahan utama kita adalah tidak bersatu dalam segala hal.

    Saudara, inilah potret wajah bangsa kita kekinian yang sangat amat mengenaskan sekali. Tentu situasi dan kondisi ini memberikan pengaruh bagi kehidupan anak-anak Tuhan di tanah air tercinta ini.

    Pengaruh bagi kekristenan Indonesia. Mengantisipasinya?

    Sejarah mengajarkan kepada kita bahwa kekristenan tidak pernah hidup dalam ruang hampa yang steril dari bobroknya dunia ini. Dari semula kekristenan lahir dalam dunia yang begitu jahat dan untuk itulah kekristenan eksis.

    Dorothy Sayers pernah berkata bahwa Allah telah mengambil resiko ilahi ketika memutuskan untuk menetapkan gereja untuk menjadinilai-nilai humanisme (manusia adalah fokus dari segalanya), pragmatisme (menghalalkan segala cara), relativisme (sirnanya standar kebenaran Tuhan yang mutlak), dan hedonisme (tujuan akhir hidup manusia yaitu makan, minum, bersenang-senang tanpa tanggung jawab moral apa pun). Gereja Tuhan seakan-akan lumpuh, tidak lagi berfungsi sesuai naturnya sebagai garam dunia. Sebagai representasi Allah, gereja malah semakin terisolasi dari dunia riil, dan memilih untuk hidup nyaman dalam tempurung rohani kita masing-masing.

    Ini merupakan pengaruh buruk bagi kekristenan yang setiap saat siap menerkam kita.

    Pengaruh yang signifikan bagi kekristenan di Indonesia sehubungan dengan kondisi global dan kondisi spesifik Indonesia kekinian mencakup masalahinner circlenya bahkan rakyat kecil menjadi sapi perah yang terus menerus dieksploitasi sampai kering kerontang payudaranya), akrobat hukum dan keadilan, moralitas manusia yang kacau balau. sangat mempengaruhi kehidupan siapa saja tanpa mengenal wilayah agama, suku, profesi, dan latar belakang apa pun. Pengaruh terhadap kekristenan adalah semakin banyaknya anak-anak Tuhan yang jatuh miskin. Kemiskinan yang saya maksudkan adalah kemiskinan dalam arti luas (miskin ekonomi [Menurut laporan, rakyat miskin di Indonesia sekitar 40 juta orang, saya yakin angka ini akan terus naik seiring lamanya krisis multidimensional yang terjadi], pendidikan, kesehatan, informasi dan komunikasi, dan miskin partisipasi baik di tengah masyarakat maupun dalam pemerintahan, dan yang parah miskin moralitas dan etika).

    Pengaruh yang sangat berbahaya bagi kekristenan saat ini jika tidak diantisipasi dengan hati-hati dan cerdas adalah semakin banyak orang kristen yang akan terbawa arus dalam gaya hidup korup di segala bidang kehidupan. Kita hidup dalam budaya yang sangat korup, bukan mustahil kita akan berperilaku sama dengan mayoritas yang korup itu.

    Mari kita cermati apa yang dikatakan Kwik Kian Gie terhadap orang Kristen. Dalam kondisi dan timing yang dianggapnya cocok, mereka menggunakan agama sebagai tameng. Mereka mendadak dan memberikan kesaksian. Demikian meyakinkannya, sehingga sulit dibayangkan bahwa mereka sedang berbohong kepada Tuhan. Pada tahapan yang sudah seperti emosinya, sehingga dia sudah menderita penyakit jiwa yang dinamakan make believe. Mereka berfantasi, dan lambat laun percaya bahwa fantasinya adalah asalkan tetap ke gereja dan semakin fanatik, semakin boleh melakukan apa saja. Kita menyaksikan demikian banyaknya konglomerat jahat yang mendadak menjadi pemeluk agama yang demikian fanatiknya. Maka kita juga mendengar komentar yang sama. Mereka mengatakan bahwa para konglomerat jahat yang begitu religius dan setiap hari Minggu memberikan kesaksian berbohong tujuh kali seminggu. Hari Senin sampai Sabtu berbohong kepada sesama manusia dalam melakukan KKN-nya. Pada hari Minggu di gereja, ketika memberikan kesaksian mereka juga berbohong, tetapi kali ini kepada Tuhan dan dilakukan di rumah Tuhan.

    Masih banyak tanggapan buruk dari non kristen terhadap kekristenan di Indonesia. Misalnya apa yang dikatakan oleh Namo Buddhaya : Saudara-saudaraku yang terkasih di dalam Kebenaran sejati, ternyata di dalam Agama Kristen yang satu-satunya jalan keselamatan, juga terdapat penyelewengan, terutama pada kalangan pendeta dan hamba-hamba Tuhannya, jadi tidak berbeda dengan agama-agama lainnya. (Namo Buddhaya mengutip majalah kristen sebagai berikut :Buletin Tiberias, 9 Juli 2000 (Ikut merusak perekonomian Indonesia dengan aksi memborong dollar AS. Apakah akar dari segala kejahatan ??! NARWASTU (Oktober 1995) No. 07/Th. 2 Hal : 37) apalagi panitia tsb dari dulu sampai sekarang tidak pernah membayar kembali biaya perjalanannya. Hal ini sering menjadi perbincangan dikalangan hamba-hamba Tuhan yang sering diundang ke sana. dia memempromosikan pengorbanannya yaitu pernah menjual mobilnya dalam menjadi panitia event KKR besar yang menghabiskan biaya 600 juta rupiah...WOW !!!).

    Masalahnya sekarang adalah bagaimana kita dapat hidup aneh di tengah bangsa yang korup ini? Janganlah kamu sesat ; pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik (I Korintus 15:33). Sederhana namun memiliki kebenaran yang mendasar. Meskipun kecil, orang kristen harus memulai dan mendorong serta mempromosikan paradigma dan budaya baru yang menjauh dari tindakan-tindakan korup. Misalnya, mari kita mulai berurusan sesuai aturan yang berlaku tanpa memberikan uang kopi alias sogok. Kalau saja ada sepuluh juta orang kristen bertekad melakukan hal ini maka Indonesia niscaya bersih .

    Orang Kristen bukan cuma menghindari pergaulan buruk, lebih jauh dari itu sebagaimana yang dikatakan Oswald Chambers (Pengabdianku Untuk Kemuliaannya, Penerbit : Yayasan Pekabaran Injil Immanuel, Jakarta, 2001, 10 April) bahwa dosa harus dimatikan sepenuhnya dalam diri anda, bukan sekedar dikekang, ditekan atau dilawan, melainkan disalibkan (manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubu2h dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa, Roma 6:6).

    Di sisi lain kita berada di persimpangan jalan menghadapi tahun-tahun yang semakin sulit ke depan. Ini disebabkan umat kristen umumnya masih terlalu Lugu dan polos melihat kekinian situasi bangsa. Kita enggan belajar membaca tanda-tanda zaman yang kita hidupi ini seperti yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Injil (Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat (Markus 13:28). Juga Tuhan Yesus berkata :&.. rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak (Matius 16:3b) sehingga kita sering kalah langkah dan terkebelakang. Kita bukan menerangi dan menggarami malah sebaliknya diterangi dan digarami oleh situasi (Salah satu contoh, dalam masalah UU Sisdiknas, Sistim Pendidikan Nasional) Melalui kemampuan membaca tanda-tanda zaman ini maka diperlukan komitmen yang kuat untuk memberikan kontribusi kongkrit buat bangsa kita.

    Komitmen dan kontribusi kekristenan Indonesia?

    Sebagai anak-anak Tuhan bagaimana kita harus mengambil komitmen dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap bangsa kita? Tidak ada ja la485in kecuali kembali mendengar dan menjalankan apa kata firman Tuhan. . Supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah &.. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah : Apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna (Roma 12:1-2). Sebagai anak-anak Tuhan yang hidup di tengah-tengah bangsa yang bobrok ini, kita harus bergantung total kepada pencipta kita dengan cara berpegang teguh pada kebenaran-NYA. Inilah langkah utama dan syarat mutlak yang harus kita kerjakan, tidak bisa ditawar lagi.

    Lalu kita mengejawantahkan secara kongkrit kebenaran Firman Tuhan yang berkata : .dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang (II Petrus 1:4-7).

    Firman Tuhan ini berkuasa secara negatif menghindarkan kita dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan (Ayat 4) dan secara positif mendorong terciptanya tatanan bangsa yang lebih optimis, produktif, dan kondusif ke depan. Urutannya sangat jelas yaitu : Iman, Kebajikan, Pengetahuan, Penguasaan diri, Ketekunan, Kesalehan, Kasih terhadap saudara seiman dan semua orang.

    Formula ini harus kita pakai untuk menghadapi seluruh pengaruh buruk yang terjadi pada bangsa kita. Tanpa formula ini niscaya kita terjerembab dan2 mandul fungsi sebagai garam dan terang.

    Jadi, perlu sekali komitmen dan kontribusi kita yang sungguh kongkrit terhadap kondisi bangsa yang semrawut ini yaitu :

    Pertama, iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus harus teguh tak tergoyahkan sebab DIA adalah Allah yang berkuasa atas seluruh teritori yang fenomena dan noumena. Ini dasar utama kita. Tanpa Tuhan Yesus kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15).

    Kedua, orang kristen harus terus menerus melakukan kebajikan (perbuatan yang berkualitas bagi kaum mayoritas) di dalam seluruh aspek bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tidak kompromi dengan dosa apa pun. Dengan demikian orang-orang di sekitar kita dapat merasakan manfaat yang besar atas kehadiran kita. Sebagai contoh mungkin telah tiba saatnya orang kristen Indonesia harus proaktif mendirikan lembaga-lembaga pemberi penghormatan dan penghargaan moral dan etika (Bandingkan paradigma dan sikap Tuhan Yesus dalam Kisah 10:34-36, Yohanes 10:16, Markus 9:38-41) kepada siapa saja (buruh, petani, guru, karyawan, siswa, mahasiswa, pengusaha, aparat hukum, wartawan, pejabat, wakil rakyat dls) yang melakukan kebajikan untuk kemajuan bangsa ini tanpa melihat latar belakang apa pun orang itu. Hal ini perlahan-lahan namun pasti akan mentransformasi budaya korup dan budaya hitam lainnya kepada budaya kristiani di sekujur tubuh bangsa ini.

    Juga sangat mendesak untuk dilakukan bagaimana umat kristen menggarami dunia seni budaya, dan pers Indonesia. Film-film, sinetron, dan dunia hiburan lainnya harus dirancang dan dicipta dengan nilai-nilai dan kultur kristiani yang dapat dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia (Harus dengan strategi jitu dengan melepaskan simbol-simbol kristiani tetapi kental dengan nilai-nilai alkitabiah). Saya sedih melihat tidak sedikit artis Indonesia yang bertobat dan dipaksakan menjadi pendeta atau penginjil, padahal mungkin mereka Tuhan tidak panggil menjadi seperti itu. Mereka ini sangat produktif dan efektif kalau tetap pada profesinya sebagai artis dunia entertainment yang berbaju Kristus. Kisah-kisah alkitab tidak kalah menariknya dengan sinetron-sinetron sekarang bahkan lebih tinggi kualitasnya kalau digarap dengan baik dan cerdas oleh artis-artis kristiani indonesia.

    Para jurnalis dan perusahaan pers kristiani bukan waktunya lagi malu-malu kucing untuk mengorek dan mengomunikasikan berita serta memberikan pendidikan yang benar kepada masyarakat bangsa ini. Suara kenabian pers kristiani Indonesia harus lebih berani dan unggul di atas rata-rata para jurnalis dan perusahaan pers lainnya tanpa peduli resiko apa pun yang akan diterima. Para jurnalis dan perusahaan pers kristiani Indonesia harus siap sedia menderita aniaya karena kebenaran hakiki (Matius 5:10-12). Dan masih banyak hal dari segala lini kehidupan kristiani yang dapat kita persembahkan bagi bangsa kita Indonesia.

    Ketiga, Pengetahuan kita harus terus menerus dipertajam. Gereja dan lembaga-lembaga kristiani dan para pemimpinnya harus mendorong dirinya dan umatnya berpacu dalam meningkatkan keunggulan iptek dan informasi. Karena hanya dengan kualitas pengetahuan dan skill SDI kristiani yang tangguh maka kita dapat berperan dan mengatur jalannya roda bangsa ini. Orang krsiten harus masuk dan menggelar pengaruhnya di segala bidang kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat (politik, sosial, ekonomi, hukum, lingkungan hidup, seni, birokrasi, pendidikan, pers dan lain-lain). Pendek kata segala tempat harus ada or